Sebelumnya saya mohon maaf karena telah membuat readers bingung apakah ff ini sudah selesai atau tidak.
Readers:" Ini Author emang cari gara-gara rupanya! Hajar diaaaa!"
AAAAAAHHHHHHH! MAAFKAN DAKUUU! Salahkan kelupaanku untuk membuat Epilog dari ff ni, soalnya rasanya ga lengkap tanpa Epilog gimana gitu x'( /Abaikan saja -_-/
Baiklah, sambil author lari)?) dari para readers sekalian, silahkan cek Epilog ini baik-baik, ok?
.
.
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'Dawn of The Real Sin'
(Season Final)
.
.
.
Boboiboy belongs to Animonsta
.
.
.
Bagian khusus: Kunci
( Sebuah Epilog)
Dunia alam bawah sadar itu masih sama seperti sebelumnya. Para pecahan BoBoiBoy tengah melakukan aktivitas masing-masing setelah sebelumnya mereka melaksanakan sholat qadha untuk mengganti sholat-sholat wajib mereka yang dilakukan dalam keadaan darurat dan nyaris terbengkalai saat mereka ditahan dan berhadapan dengan ONION beberapa hari yang lalu. Halilintar berlatih dengan pedangnya yang berwarna merah menyala di tengah lapangan rumput di alam bawah sadar. Taufan melayang-layang di udara dengan Hoverboard-nya. Gempa membaca buku di atas kursi yang dibuatnya dari bongkahan batu. Blaze berbaring di atas rerumputan sambil memain-mainkan sebuah bola api kecil di tangannya. Ice melamun di bawah pohon rindang. Thorn duduk di atas salah satu dahan pohon itu dan mengamati dedaunannya. Solar melihat-lihat aurora alam bawah sadar menggunakan teleskopnya. Ketika ketujuh pecahan elemental itu tengah asyik melakukan semua itu, Balance menghampiri mereka dengan wajah serius.
"Korang bertujuh, aku nak korang ikut aku ke suatu tempat," katanya.
"Eh? Ada perkara apa, Balance?" tanya Gempa lalu menaruh bukunya di atas pangkuan. Tiba-tiba Balance menjentikkan jarinya dan detik berikutnya, pemandangan di sekeliling tujuh pecahan elemental tersebut lenyap dan digantikan oleh sebuah ruangan kosong hitam kelabu. ketujuh pecahan BoBoiBoy itu duduk di atas tujuh buah kursi di sebuah lantai berbentuk bundar. Bukan hanya mereka bertujuh saja, karena Kelima pecahan Mila pun berada di ruangan itu. Jika dilihat dari arah jarum jam, maka urutan posisi duduk mereka saat ini adalah sebagai berikut: Halilintar, X, Taufan, Gamma, Gempa, Infra, Blaze, Longy, Ice, Versa, Thorn, kursi kosong berwarna merah, Solar dan kursi kosong berwarna ungu.
Balance berdiri di tengah-tengah lantai bundar itu, dikelilingi ketujuh pecahan elemental BoBoiBoy dan kelima pecahan gelombang Mila yang masing-masing dari mereka duduk di atas sebuah kursi yang berwarna sama dengan warna signifikan mereka, kecuali dua kursi kosong berwarna merah dan ungu yang berada selang-seling di antara Thorn dan Solar. Sang pemegang kendali alam bawah sadar BoBoiBoy itu lalu memulai pembicaraan.
"Korang semua, aku kumpulkan korang semua kerana suatu sebab. Ada beberapa perihal yang mahu aku bagi tahu dekat korang. Pertama: Alam bawah sedar BoBoiBoy dan alam bawah sedar Milyra dah terhubung. Sebabnya ialah kerana BoBoiBoy dan Milyra dah jadi kawan baik, maka terciptalah hubungan Dimensi antara kedua alam bawah sedar diorang. Jadi korang berdua belas ini boleh saling berinteraksi tiap hari tanpa penghalang antar dimensi apapun itu."
"Wuahh! Jadi maksud kau, aku dan Blaze boleh main sama-sama sepanjang hari?" tanya Longy dengan mata berbinar-binar. "Horeeee! Blaze, kita dah jadi kawan main lah!"
"Um! Um! Mesti seronok!" angguk Blaze ceria. "Nanti kita buat rancangan semua sukan yang akan kita laksanakan. Setuju tak?"
"Setuju!"
"Bagus lah kalau macam tu. Akhirnya aku punya kawan duel," sergah X seraya melirik Halilintar, membuat BoBoiBoy pengendali petir itu merasakan sebuah firasat buruk.
"Kenapa kau tengok aku guna tatapan pelik macam tu?" ujarnya kaku.
X mendengus. "Kau mesti sudah tahu maksud daripada cakap aku, Hali."
"Apa?! Tak sampai hati aku buat lawan perempuan!"
"Dengar, Halilintar. Kita ni sama-sama pecahan yang bersifat serius dan emosional daripada BoBoiBoy dan Milyra. Aku jamin kita akan lagi hebat kalau kita sering bekerjasama."
"X betul, Hali. Korang berdua mesti akan jadi rakan yang hebat," kata Gempa yakin lalu berpaling kembali ke arah Balance. "Nah, sambung balik cakap kau tadi, Balance."
Balance mengangguk. "Baik. Perihal kedua yang mahu aku bincangkan ialah: Ada yang hilang daripada kuasa gelombang Milyra."
"Huh? Hilang?" Thorn tampak bingung. "Siapa yang hilang?"
"Kau tengok dua kursi kosong merah di samping kau dan kursi kosong ungu di samping Solar tu?" tuding Balance pada dua kursi kosong yang dimaksud. "Ada dua pecahan gelombang Milyra yang takde dekat alam bawah sedar ni."
"Tunggu," timpal Versa heran. "Apa maksud kau ni, Balance? Takde yang hilang daripada kami lah."
Gamma mengangguk. "Betul tu. Kuasa gelombang Milyra cuma ada lima je. Entah siapa yang taruh dua kursi kosong tu dekat sini."
"Tahan, Gamma. Nampaknya aku rasa kalau kita memang bukan berlima," Kata Infra curiga. "Aku rasa Milyra pon ada tujuh kuasa gelombang, macam tujuh kuasa elemental BoBoiBoy. Tapi aku tak tahu kenapa diorang takde dekat sini. Aku mulai curiga kalau pecahan ke-6 dan ke-7 kuasa Milyra tue mesti ada sebab kenapa dia orang takde dekat sini."
"Maksud kau, diorang berdua dah keluar daripada tubuh Milyra?"
"Bisa jadi."
Taufan memandang kedua kursi itu. "Atau mungkin diorang berdua tak kerasan ke dekat sini?"
"Mungkin saja," kata Gamma lesu. "Sayang, Thorn dan Solar belum bisa tengok kawan perempuan diorang untuk masa kini."
Solar menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kami okey, kot. Tapi harus aku akui, Aku penasaran siapa kawan gelombang aku nanti," katanya dengan senyum simpul. "Kau juga kan, Thorn?"
"Ehh, ha'ah. Saya pon penasaran," kata Thorn gagu. "Tapi entah kenapa saya jadi takut pasal kedua pecahan gelombang misterius milik Milyra. Saya mesti gugup sangat kalau suatu saat berjumpa dengan diorang dekat masa hadapan nanti."
Longy menatap kedua pecahan terakhir elemental BoBoiBoy itu dengan cemas. "Thorn, kamu takut kah?" tanyanya cemas.
"Jangan risau, Thorn. Semuanya akan baik-baik sahaja," kata Taufan riang. "Tak payah kau bersedih macam ni. Dan kalau diorang berdua tu macam jahat dekat kau dan Solar, maka kami akan bantu korang sedarkan diorang."
"Terima kasih," balas Thorn lega. "Perasaan aku dah lagi baik."
Balance merenung. "Tidak ada yang tahu apa motif sebenar dua pecahan gelombang terakhir daripada kuasa Milyra tu. Ada baiknya kita waspada," tukasnya tegas. "Dan perihal terakhir yang nak aku bagi tahu ialah: Kuasa Elemental BoBoiBoy dan Kuasa Gelombang Milyra kena disetel ulang."
"Eih? Disetel ulang?" tanya Gempa bingung. "Maksud kau kalau nak diibaratkan semacam Restart dekat komputer kah?"
"Tepat sekali," balas Balance. "Sebabnya ialah kerana sistem tubuh Ochobot dah diperbaiki selepas dia dihancurkan Rosaline, maka nyaris semua hal yang menyangkut kuasa yang diberikannya terpaksa disetel ulang. Dan kemungkinan besar kuasa elemental BoBoiBoy dan kuasa gelombang Milyra alias korang semua kena disetel ulang jugak."
"Apa?!" Halilintar membelalakkan mata delimanya karena kaget mendengar penjelasan Balance. "Maksud kau kitorang akan kembali kepada tiga pecahan Petir, Angin dan Tanah ke? Dan kuasa Milyra kembali menjadi tiga pecahan sinar X, sinar Gamma dan sinar Infra merah?"
"Kemungkinan besar jawabannya adalah 'iya'."
"Alamak!" Blaze memekik. "Maknanya aku, Ice, Thorn, Solar dan Longy serta Versa kena dihapuskan balik?!"
Balance menggeleng. "Tak kan lah sekejam itu cara untuk menonaktifkan korang berlima," "ujarnya menenangkan. "Paling-paling korang akan tertidur hingga masanya korang aktif balik."
Tepat setelah ia menyelesaikan kata-katanya, sebuah sinar melingkupi ruangan itu. Mereka melindungi mata masing-masing karena silau, termasuk Solar. Setelah sinar itu menghilang, ketujuh pecahan BoBoiBoy mendapati warna pakaian mereka telah berubah. Balance menatap mereka dengan datar.
"Korang bertujuh dah balik ke wujud asal," katanya. "Halilintar tersetel ulang jadi Petir, Taufan menjadi Angin, Gempa menjadi Tanah, Blaze menjadi Api, Ice menjadi Air, Thorn menjadi Daun dan Solar menjadi Cahaya."
"Tapi apasal warna baju kitorang berbeda dari sebelumnya?" Tanah menelaah warna pakaiannya yang telah menjadi warna coklat susu. "Warna aku coklat, Petir kuning, Angin biru tua, Api merah, Air cyan, Daun hijau muda dan Cahaya putih."
"Dan apasal aku jadi mengantuk sangat ni? Hoaaahh-" Api menguap perlahan. "Tumben lah aku nak tido cam ni, dah macam Air yang suka tido."
"Longy pon mengantuk lah." Longy ikut menguap, disusul Cahaya sementara Air, Versa dan Daun tiba-tiba sudah tertidur lelap di kursi masing-masing. Detik berikutnya tubuh mereka berubah menjadi sinar berwarna merah, cyan, hijau, kuning muda, jingga dan hijau payau lalu melesat ke segala penjuru, meninggalkan Petir, Angin, Tanah, X, Gamma dan Infra di ruangan itu. Balance melihat itu dengan wajah datarnya.
"Balance, kenapa diorang kena dinonaktifkan?" Infra memandang ke atas dengan kasihan. Balance hanya merespon dengan desahan pasrah.
"Kan aku dah kata, kuasa BoBoiBoy dan Milyra kena disetel ulang sebab Ochobot yang baru saja diperbaiki selepas dia rosak dua kali. Apa lagi yang nak kau sanggah daripada aku?"
"Oh, baiklah. Maaf, Balance."
"Tch, kita dah balik ke tahap semula," dengus Petir. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau dia kembali ke tahap awalnya itu. "Apasal perbaikan Ochobot sampai pengaruhi kita jugak?"
"Hehehe- tak sabar lah aku tengok kau guna Keris Petir yang comel-comel tu lagi," ledek Angin geli. Petir segera menatapnya tajam.
"BERANI KAU HINA AKU LAGI, ANGIIIIIIINNNN?! JAGA KAU!"
"Huwaaaaaa! Raja Pemarah dah bangkit dah!" tukas Angin kaget lalu segera terbang begitu Petir mulai ambil ancang-ancang untuk memburunya. Gamma menyaksikan dan menanggapi itu dengan senyum jahil.
"Wahh- ini lumba lari kah? Baik aku ikut. Siapa tahu aku boleh lagi hebat dari X yang lamban macam siput tu, hehehe."
"Apa?! Lamban macam Siput?!" X langsung pasang tampang keras. "Takde seorang pon yang boleh mencarut aku macam tu! GAMMA, MARI SINI KAU!"
"Kyaaaaaaaaaa! Ratu pemarah dah muncul lagi!" Gamma segera menyusul Angin untuk menghindar dari X yang sudah melesat ke arahnya dengan gusar seperti halnya Petir terhadap Angin tadi.
"Jangan lari kau, Mulut Paprika!"
"Aaahhhh! Apasal kau kejar aku pulak?!"
Keempat pecahan dari BoBoiBoy dan Milyra itu segera terlibat dalam acara kejar mengejar. Tanah dan Infra: Kedua pecahan lainnya yang masih 'rada waras' melihat kejadian itu dengan sweatdrop tingkat akut.
"Terbalik," komentar mereka dengan air muka sengihan. Balance membalik badannya dan mulai berjalan menjauh.
"Baiklah. Tugas aku dah selesai," ucapnya tenang. "Semoga berjaya, kawan-kawan."
"Iya. Terima kasih, Balance," angguk Tanah dan Infra bersamaan. Sepeninggal Balance, kedua pecahan ketiga BoBoiBoy dan Milyra itu masih menonton kejar mengejar antara Petir dan X terhadap Angin dan Gamma yang menjadi biang keladi kemarahan mereka saat itu. Tanah langsung menepuk keningnya tanda pasrah.
"Haeh, dah nasib dah," keluhnya. "Aku tak faham kenapa diorang masih sahaja buat benda macam ni."
"Takpe, Tanah. Nasib aku pon sama sahaja dengan kau: Jadi Penengah," komentar Infra sembari ikut pasrah. Tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya, membuatnya terhenyak dalam beberapa saat. Tanah melihat reaksi teman perempuannya itu dan segera mengalihkan perhatian padanya.
"Infra? Kenapa kau?"
Infra menelan ludah. "Aku ingat sekarang," katanya kaku. "Aku... Aku ingat nama mereka berdua!"
"Ai'? Mereka siapa?" Tanah mengerutkan dahi tanda heran. "Siapa yang kau maksudkan ni?"
Sang pengendali kekuatan gelombang Infra merah itu memandang Tanah dengan cemas. "Aku dah ingat nama kedua pecahan Milyra yang takde kat alam bawah sedar ni," katanya dengan raut wajah cemas. "Nama mereka... Fragrance dan Violet."
"Ehh?"
BoBoiBoy telah tiba di depan rumah Tok Aba. Sebelum ia masuk, Jam kekuatan Elementalnya menyetrumnya sedikit, membuatnya menghentikan langkahnya.
"Eh? Apahal ni? Kenapa Jam kuasa ni setrum tangan aku tadi?" gumamnya heran sambil membolak-balikkan jam yang terpasang di tangan kanannya itu. Anak itu menghembuskan nafas.
"Baik aku tanyakan benda ni dekat Ochobot masa aku balik ke Kedai Atok nanti."
Ia lalu memasukkan duplikat kunci pintu rumah Tok Aba ke lubang kunci pintu depan, memutarnya dan masuk. Segera ia melesat melewati ruang tamu menuju lantai dua alias loteng dimana kamarnya berada dan menaruh bunga matahari pemberian gadis cilik yang ditolongnya tadi di atas meja belajarnya. Pemuda bertopi jingga Dinosaurus itu langsung menelaah setiap sudut kamar untuk mencari buku Fisikanya dan akhirnya ketemu di rak buku bagian dalam. Begitu ia hendak mengambil buku itu, sebuah kotak perekam suara yang terletak di atas rak buku menarik perhatiannya. Diraihnya kotak perekam itu dan menelitinya lamat.
"Bukannya ini kotak rekaman yang ditinggalkan Rosaline selepas dia terhapuskan dekat Halaman depan Markas ONION ke?" desis BoBoiBoy heran. Perhatiannya teralihkan sejenak ke kotak rekaman itu. "Penasaran betul apa isinya. Baik aku dengarkan apa isi daripada kotak rekaman ni."
BoBoiBoy menghampiri sebuah pemutar rekaman di atas meja belajarnya dan memasukkan kotak rekaman milik Rosaline ke dalam benda itu lalu menekan tombol Play. Tanpa menunggu lama, pemutar rekaman itu mulai menjalankan tugasnya dan memutar rekaman suara yang pemiliknya sudah tidak asing lagi bagi BoBoiBoy. Isi rekaman itu adalah sebagai berikutnya:
"Halo, Ochoboy. Ini aku, Rosaline."
"Ada beberapa hal yang nak aku bincangkan dengan kau secara empat mata."
"Kau kenal Haryan Pakpak Darwish, kan? Ketua ke-99 dari ONION?"
"Dia tidak suka dengan dunia ini, kau tahu tak?"
"Sayang, dia terlampau degil dengan kebencian dia."
"Ambisi dia dah bunuh diri dia sorang."
"Dan Penduduk Alam semesta... mereka mungkin boleh berjaya sekarang."
"Tapi bagaimanapun juga, Haryan bukan lelaki bodoh."
"Sebab dia punya banyak 'HAMBA', 'HAMBA YANG KUAT'."
"Dan Hamba-Hamba dia tu lagi kuat dari yang kau ingat selama ni."
"Aku bagi tahu kau semua benda ni agar kau boleh sedia, Ochoboy."
"Sedia untuk apa? Cari sendiri jawabannya."
"Dan satu satu soalan lagi yang nak aku tanyakan dekat kau."
"Kau sedar ke kalau Mak kau MASIH HIDUP? MWAHAHAHAHAHAHAAA!"
Buru-buru BoBoiBoy mematikan rekaman itu saat mendengar tawa jahat Rosaline yang nyaris memekakkan telinga terdengar darinya. Anak itu pasang wajah kaku. Kedua mata hazelnya masih saja membelalak.
"Hish, pelik betul lah Rosaline ni! Apasal dia gelak-gelak masa dia rekam suara dia?" ujarnya seraya geleng-geleng kepala. "Tapi tunggu, aku masih tak faham apa yang Rosaline bagi tahu lewat kotak rekaman ni. 'Hamba-Hamba' apa yang dia maksudkan tu? Siapa mereka? Dan kenapa Rosaline cakap kalau 'Mak' daripada Ochobot masih hidup? Bukannya Mak dia sudah tiada ke? Dan apasal Rosaline gelak-gelak jahat lepas dia bagi tahu semua perkara ni?"
Dikeluarkannya kotak rekaman itu dari pemutar rekaman dan menggenggamnya erat-erat.
"Mungkin lagi baik aku diskusikan semua benda ni dekat kawan-kawan aku di Kedai Atok," katanya lalu mengantongi kotak rekaman tersebut. Ia lalu beralih ke rak buku dimana Buku Fisikanya berada dan menarik buku itu dari rak. Tanpa sengaja, buku itu menyenggol sebuah kotak kayu di sebelahnya dan serta-merta menjatuhkannya, menyebabkan suara dentuman yang cukup keras. Untung saja kotak itu tidak hancur. Hanya saja isinya yang berupa beberapa liontin huruf berwarna-warni dan sebuah figura foto yang sudah sangat berdebu tumpah ruah ke lantai. BoBoiBoy mengapit buku Fisikanya di ketiak dan berlutut di hadapan liontin-liontin dan figura foto berdebu itu. Salah satu liontin berbentuk huruf B kuning dengan desain petir menarik perhatiannya.
"Aku tak ingat kalau aku simpan barang-barang elok macam ni," tukasnya heran seraya meneliti liontin B petir kuning itu. Diliriknya empat liontin lainnya yang masing-masing berbentuk huruf G berwarna hijau muda, F berwarna ungu tua, Y berwarna pink dengan aksesoris bunga mini di tengahnya dan liontin Y berwarna biru muda dengan aksesoris jam kuning mini di tengahnya. Sejenak BoBoiBoy mematung melihat liontin-liontin itu.
"Liontin B petir kuning ni macam dibuat untuk aku, sementara yang empat tu macam dibuat untuk Gopal, Fang, Yaya dan Ying. Tapi siapa yang buat semua Liontin ni? Dan kenapa Liontin-liontin ini tersimpan dekat bilik aku?"
Sekonyong-konyong BoBoiBoy merasa benaknya melihat dan mendengar sesuatu, atau lebih tepatnya dialognya dengan seseorang di masa lalu.
(Dua tahun yang lalu)
"BoBoiBoy! Tengok ni. Aku bagi kau Liontin ni sebagai kenang-kenangan sebab esok kau dah pindah ke Sekolah Rendah Pulau Rintis."
"Wuahh- cantik betul lah Liontin ni, Siti. Kau yang beli ke?"
"Hehe, mesti lah. Ah, ya. Aku juga dah buat dan bagi beberapa liontin ke Ah Meng, Mimi, Arumugam dan salah sorang kakak kelas kita: Ah Ming. Hafiz pun aku buatkan sekali."
"Kau buatkan Hafiz Liontin?!"
"Hafiz tu adik aku. Mestilah aku buatkan dia jugak. Selain itu, aku dah buatkan beberapa Liontin untuk kawan-kawan kau dekat Pulau Rintis. Tengok ni. Ada Liontin G, F dan dua Y."
"Aik? Buat Gopal, Yaya dan Ying pun ada ke?"
"Iye lah."
"Tapi Liontin yang huruf F ini punya siapa?"
"Hmm- Mimi pernah cakap kalau dia punya saudara angkat yang huruf pertamanya ialah F, jadi aku buatkan juga untuk dia tapi si F tu tak pernah datang lagi. Entah-entah kau berjumpa dengan si F itu dekat Pulau Rintis nanti. Dan kalau kau memang berjumpa dengan dia, bagi je lah liontin F ni dekat dia sebagai kenang-kenangan daripada aku. Dan jangan lupa bagi liontin G, dan dua Y ni dekat Gopal, Yaya dan Ying. Aku memang belum pernah berjumpa dengan diorang, tapi aku dah anggap diorang sebagai kawan baik aku."
"Si- Siti, kenapa pula kau repot-repot buat semua ni? Aku tak enak hati lah."
"Alahh, terima je. Lagipun kau akan selalu ingat aku, Hafiz, Mimi dan kawan-kawan kita dekat Kuala Lumpur lewat Liontin ni."
"Bukan itu masalahnya. Tapi laki-laki Muslim kan tak boleh pakai kalung?"
"Aku tak cakap kalau kau kena pakai. Liontin-liontin ni hanya kenang-kenangan daripada aku dan juga lambang persahabatan kita semua, termasuk kawan-kawan kau dekat Pulau Rintis, tapi kau tak payah langgar syari'at dengan pakai Liontin tue. Hafiz pon tak pakai. Dia cuma gantungkan Liontin dia dekat beg dia je. Kalau kau nak, kau simpan sahaja dekat kantung celana kau."
"O- Okey. Dan satu soalan lagi yang nak aku tanyakan. Apasal kau bagi aku Liontin dengan lambang petir B?"
"Hmm, sebenarnya aku bosan kau guna lambang petir di Topi oren kau tu, jadi aku buatkan kau liontin B petir ni. Aku hanya mahu sarankan kau tukar lambang petir dekat topi oren kau tu dengan huruf B desain petir. Setidaknya dengan itu kau lagi boleh dikenal, kan? Kan?"
"Eh? Betul juga apa yang kau cakap tue. Okey! Bila-bila masa aku tukar lambang petir ni dengan huruf B, tapi tetap dengan desain Petir sebab lambang tue ialah lambang favorit aku. Terima kasih banyak, Siti. Nanti lepas aku tiba dekat Pulau Rintis, aku akan bagi Liontin-liontin ni dekat Gopal, Yaya dan Ying dan juga si F misterius itu."
"Sama-sama, BoBoiBoy. Ah, ya. Kau dah catat alamat e-mail aku kan?"
"Iya. Aku dah catat kot. Kalau ada waktu, kita chat dekat media sosial ye."
"Okey!"
BoBoiBoy membuka matanya perlahan. Kilasan masa lalu itu membuat kepalanya terasa sakit. Benaknya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan bejibun seputar masa lalu itu dan juga hal-hal yang diberitahukan Rosaline lewat rekaman tadi. Setelah merasa dirinya agak tenang, ia melirik ke figura foto berdebu yang ikut jatuh dari kotak kayu bersamaan dengan liontin-liontin tadi. Diraihnya foto itu dan membersihkan debu yang menutupi figura foto hingga ia terbatuk-batuk.
"Uhuk, uhuk! Dah berapa lama foto ni tersimpan dekat sini? Tebal betul debu dia. "
Setelah dirasa cukup bersih, BoBoiBoy melihat apa yang ada di dalam foto itu. Ia melihat dirinya yang berusia 11 tahun berfoto bersama dengan enam sosok. Sayang sekali sebagian besar wajah sosok-sosok itu sudah buram, termasuk sosok berjilbab biru yang berada di sebelah kanan BoBoiBoy. Mungkin akibat terkena air hujan dari atap yang bocor. Hanya ada satu sosok yang tidak terlalu buram karena selamat dari tetesan air hujan. Sosok itu berambut coklat ikal dan memakai pakaian a la Lolita berwarna pink tua, senada dengan pita berukuran sedang yang tersemat di kepalanya.
BoBoiBoy terhenyak sendiri begitu melihat sosok itu. Sakit mulai menghinggapi kepalanya. Tapi pemuda cilik itu tidak peduli. Ia menggumam tidak percaya dengan mata melotot ke arah sosok berpita di foto itu.
"Mimi..."
Hujan gerimis membasahi seantero Sektor 456. Sebuah Pesawat Angkasa melesat di atas jalan utama menuju tiga gedung pencakar langit di arah selatan Sektor yang merupakan tempat dimana Markas Organisasi berada. Tak lama kemudian, Pesawat angkasa itu mendarat di halaman depan yang berbentuk bundar dan kedua penghuninya yang merupakan sesosok Humanoid Alien bertopi Fedora dan sesosok wanita cyborg Ultra Humanoid berambut coklat terurai dan bermata biru laut turun dan bergegas menuju pintu masuk yang terletak di gedung tengah.
"Azurian, kau pasti ke perihal maklumat kematian Tuan Ketua dan Rosaline tu? Aku macam rasa ragu je."
"Ahaha, tak payah lah kau ragu. Lagipun Kematian bukan lah benda yang boleh dijadikan bahan gurauan, Ashrlati."
"Dah tu, dekat mana seremoni pemakaman beliau berdua?"
"Lewat sini."
Keduanya pun masuk ke dalam Lift di ujung Lobi utama dan melesat turun ke Lantai di atas Lab Sfera Kuasa. Begitu sampai, mereka mendapati kerumunan manusia, Alien dan Makhluk Fantasi yang merupakan anggota ONION berkumpul di sebuah ruangan berukuran raksasa, mirip bagian dalam sebuah gedung Opera. Semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam. Melihat itu, Azurian dan Ashrlati segera menekan tombol di pakaian mereka dan serta-merta warna pakaian mereka berubah menjadi hitam dalam waktu setengah detik. Di atas panggung dengan dua buah Peti mati di atasnya berdiri Syrena, Sebastian, Mimi, Ah Meng, Ah Ming dan Arumugam. Mereka adalah anggota Supreme Diamond: Sebuah Kelompok Elite yang punya fraksi-fraksi khusus di Organisasi tersebut. Mereka bertujuh juga mengenakan pakaian berwarna hitam. Azurian dan Ashrlati bergegas menuju ke atas panggung dan menghampiri keenam anggota Supreme Diamond itu.
"Korang berdua ni memang lamban," gerutu Syrena. "Dari mana saja korang?"
"Ahh, Aku ada pasal sekejap dengan Lanun-Lanun Angkasa tu," tukas Azurian. "Kapten Sepharo paksa aku untuk bagi tahu identiti ONION. Mestilah aku tak mahu bagi tahu dia. Ashrlati pon datang dan bantu aku lawan Kapten Sepharo tue sebelum akhirnya kitorang dapatkan mesej daripada Arumugam kalau Haryan dan Rosaline sudah tiada. Dan sebelum ini aku juga baru pulangkan Bora Ra, Tengkotak dan Ejo Jo ke dimensi realiti sebenarnya diorang. Ingatkan Khabar kematian Rosaline dan Haryan ialah suatu gurauan."
"Apa? Kau ingat aku bagi kau khabar gurauan ke, Hah?!" dengus Arumugam marah, namun Ah Meng segera menahannya.
"Jangan lah kamu marah macam ni, Aru. Kita semua sedang berduka ho," kata pemuda itu. "Lagipun Uncle Azurian dan Ashrlati dah bagi tahu alasan kenapa mereka datang lamban sikit."
"Terserah!" kata Arumugam masih jengkel. Azurian membuka sedikit kedua tutup peti mati itu dan hanya mendapati sejumput abu dan beberapa kelopak Mawar di dalam keduanya. Segera ia pasang keras dan memandangi anggota Supreme Diamond satu-persatu.
"Jadi diorang dah mulakan proyek tu ke?" gumamnya pelan. Ia lalu menatap Mimi. "Nona Mimi, kau takpe?"
Mimi yang berada di sebelah Ah Ming mengangguk dengan tersedu-sedu. "Aku... Aku tak percaya kalau... Va- Vader dah tiada," isaknya. "Rosaline pon dah takde. Mau tidak mau kita mesti siasat siapa yang hapuskan mereka!"
"Tapi macam mana cara siasat tu? Hanya Tuan Ketua yang tahu siapa yang hapuskan Rosaline. Dan Tuan Ketua sendiri pon dah dihapuskan," ucap Arumugam bingung.
"Yang jelas orang-orang yang menghapuskan beliau berdua mesti hebat sangat," simpul Ah Ming. "Tidak ada yang bisa kita perbuat sekarang."
Upacara Pemakaman itu pun berlangsung dengan khidmat. Setelah semuanya selesai, para anggota ONION pun berbondong-bondong keluar dari ruang pemakaman tersebut. Arumugam, Ah Meng dan Sebastian menemui Fragrance dan Violet di bawah panggung. Sekonyong-konyong Ah Meng berlutut dan mencium punggung tangan kedua gadis itu secara bergiliran dengan halus sekali.
"Siapa gerangan kamu berdua ni? Saya baru tengok ma. Perkenalkan, saya Ah Meng, member ke-9 daripada Supreme Diamond."
"Senang berjumpa dengan kau, Ah Meng," ucap Violet dengan anggun. Fragrance pun tergugah juga melihat sikap hormat pemuda itu.
"Saya Fragrance, perempuan tercomel dekat sini," katanya malu-malu. "Selera kau bagus juga, Ah Meng. Salam kenal."
"Haiya, saya tersentuh dengan peragai kamu berdua maa," ucap Ah Meng tanpa mengubah sikap Gentlemen miliknya. "Kamu berdua akan kerasan disini. Saya janji."
"Ceh, janji konon. Ah Meng tu memang pelakon yang hebat, apalagi dekat perempuan," dengus Arumugam kesal. "Tak habis-habis lah dia tebar pesona dekat Fragrance dan Violet tu."
Sebastian tertawa kecil. "Biarkan diorang berdua kerasan dekat ONION ni," jelasnya. "Atau jangan-jangan kau juga minat dekat diorang berdua ke, Aru?"
"Dey, mana ada!" sergah Arumugam cepat-cepat. Wajah gelapnya tampak memerah sedikit. "Aku akui diorang memang cantik. Sayangnya diorang bukan tipe aku."
"Dah tu, tipe kau macam apa?"
"Apasal kau tanyakan benda tu dekat aku?!"
"Ohh, kau marah eh? Okey, okey. Aku tak kan tanyakan soalan tu dekat kau lagi."
"Dah lah! Tengok tu. Semuanya dah pergi dekat Lantai satu buat seremoni pengangkatan Mimi jadi Ketua ONION ke-100. Kau ni asyik bahas pasal romantik je, Tian."
Semua anggota ONION dan kesembilan anggota Supreme Diamond pun telah tiba di Lobi Lantai satu. Mimi duduk di atas sebuah Singgasana bergaya Victoria yang berada di atas panggung yang terletak di tengah Lobi dengan pakaian Gothic Lolita-nya yang sebelumnya ia pakai saat upacara pemakaman tadi. Wajahnya terlihat sembab karena baru selesai menangis. Tapi kali ini, ia berusaha menggantinya dengan wajah yang lebih kaku dan berwibawa. Seorang pria berjas abu-abu naik ke atas panggung kecil itu dengan gaya resmi dan membawa sebuah bantal yang diatasnya terdapat sebuah kalung Perak dengan ujung Bulat berukir sebuah lambang Bawang tajam berwarna ungu kemerahan dan sebuah tulisan di bawahnya yang bertuliskan 'Bow on me: ONION's 100th Supreme Leader'. Pria berjas keabuan itu pun bersuara lantang.
"Mulai hari ini, sesuai dengan Peraturan ke-5567 yang termaktub dalam ONION Principal list, maka dengan hormat kami mengangkat Ananda untuk menggantikan Ayahanda Ananda, Ketua ke-99 ONION: Haryan Pakpak Darwish yang telah tiada tanpa sepengetahuan kita. Dengan begitu, kita akan dengan pantas menghancurkan Galaxy dalam masa sesingkat-singkatnya. Terimalah permintaan kami untuk menjadi Ketua ke-100 daripada ONION ini, Nona Mimi."
Tepat setelah pidato singkat itu berakhir, Pria berjas abu-abu itu mengalungkan kalung perak yang sebelumnya dibawanya ke sekeliling leher Mimi, menandai pelantikan gadis berusia 13 tahun itu sebagai Ketua ONION ke-100 menggantikan Ayahnya, Haryan Pakpak Darwish. Segera Lobi raksasa itu berisi tepuk tangan yang bergemuruh. Setelah dilantik, Mimi perlahan bangkit dari Singgasana dan turun dari panggung di tengah Lobi itu.
"Saya mahu cakap terima kasih yang banyak dekat kalian semua yang sudah melantik saya hari ini selepas Vader tiada," katanya tenang. "Dan saya harap kalian semua akan dukung saya hingga rancangan 'Sapu Katharsis' milik Vader boleh terlaksana. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih yang banyak dekat kalian semua."
Lobi itu kembali bergemuruh dengan tepuk tangan setelah Mimi menyelesaikan kalimatnya. Ruangan itu tenang kembali begitu gadis itu membuka mulut untuk melanjutkan kata-katanya.
"Dan," lanjut Mimi dengan nada yang lebih tegas. "Mungkin semua yang ada disini penasaran bagaimana bentuk daripada 'Sapu Katharsis' walaupun proyek ini belum lah rampung. Mari kita tengok keadaan dia sekejap."
Setelah ia selesai berbicara, sekonyong-konyong panggung dan singgasana dimana Mimi dilantik tadi lenyap, digantikan dengan getaran yang cukup keras layaknya gempa bumi. Sebuah lubang raksasa muncul di tengah Lobi. Tak lama kemudian, sebuah mesin Teleportasi Dimensi berukuran sebesar setengah lapangan bulu tangkis dan memiliki tinggi setengah gedung Markas ONION muncul dari dalam Lubang itu. Mesin itu tampak sangat kompleks hingga orang-orang lulusan teknik mesin akan jatuh pingsan melihatnya. Di kelima sisi mesin itu terdapat tiga buah cermin besar dengan bentuk yang berbeda-beda yang berfungsi sebagai pemasok energi. Para anggota ONION ternganga hebat melihat mesin Teleportasi Dimensi terbesar yang pernah mereka lihat itu. Tidak ada yang menyangka kalau Mesin itu terlihat sangat hebat.
"Baiklah, semuanya. Sila beri salam pada 'Sapu Katharsis'," ucap Mimi dengan wajah ceria. "Dengan begini, kita akan senang buat heret wilayah-wilayah yang hendak kita musnahkan daripada Alam Semesta. Mesin ini pon boleh cegat orang-orang untuk melarikan diri selepas dia diaktifkan, kecuali buat yang punya kuasa khusus. Bukan hanya itu. Selepas kita heret suatu wilayah kemari dengan menggunakan 'Sapu Katharsis' ni, ketiga cermin yang ada di setiap sudutnya akan berpencar ke beberapa member daripada Supreme Diamond sehingga Mesin ni tidak akan berfungsi hingga kita yang aktifkan dia balik. Sayangnya dia belum lah rampung. Mungkin kurang lebih sekitar satu tahun lagi mesin ini akan selesai dibuat. Untuk masa ini kalian boleh kagumi dia dahulu."
Para anggota ONION pun bergumam-gumam, mengutarakan pendapat mereka tentang 'Sapu Katharsis' yang berdiri dengan gagahnya di hadapan mereka semua. Mereka yakin, dengan bantuan dari Mesin Teleportasi Dimensi berukuran raksasa ini, mereka dengan mudah akan memusnahkan makhluk-makhluk hidup yang menentang mereka dalam waktu singkat.
Setelah pelantikan dan pertunjukan 'Sapu Katharsis' itu berakhir, Mimi berjalan di salah satu lorong gedung menuju kamar tidur pribadinya. Namun sebelum ia sampai, Ah Ming dan Sebastian menghampirinya.
"Kejap, Mimi. Ada benda yang aku dan Tian nak bincangkan dekat kau," kata sang 'Anggrek Putih'. "Kami punya praduga sementara pasal siapa yang dah hapuskan Rosaline dan Tuan Haryan."
"Eh?" Mimi segera menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah dua Alien berwujud manusia itu. "Korang dah dapat ke maklumat tu? Siapa yang hapuskan Rosaline dan Vader?"
Sebastian mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi sebuah material berwarna hitam dan sebuah kelopak Mawar di dalamnya. "Aku jumpa ini dekat reruntuhan gerbang dekat Halaman depan dimana Bunda aku dihapuskan," katanya. "Ini sisa-sisa daripada Bunda aku. Dengan ini aku simpulkan kalau Bunda aku memang benar-benar dihapuskan. Sementara Tuan Ketua Haryan... aku hanya dapatkan sampel darah dia yang terpercik dekat jendela dan juga keping-keping detonator. Aku ada hipotesis kalau Tuan Ketua memang hapuskan diri dia sendiri. Dan aku dah dapatkan hipotesis saspek yang buat Tuan Ketua hapuskan diri dia."
"Siapa saspek itu, Tian? Orang yang sama ke?" tanya Mimi harap-harap cemas. Sebagai jawabannya, Sebastian pun mengangguk.
"Ya. Tapi mungkin kau akan terkejut masa tahu siapa orang yang dah hapuskan Bunda aku dan yang buat Tuan Ketua hapuskan diri dia sendiri."
"Tak payah kau sembunyikan pasal orang tu. Bagi tahu saja aku!"
"Baiklah kalau kau memang nak tahu," ucap Sebastian pasrah. "Diorang ialah BoBoiBoy dan kawan-kawan dia dekat Pulau Rintis. Kau puas sekarang?"
Seperti yang Sebastian duga, Mimi segera melotot begitu Sebastian memberitahunya tentang siapa yang membunuh Rosaline dan membuat Haryan membunuh dirinya sendiri hingga mata gadis itu seakan hendak melompat keluar dari rongga matanya saking kagetnya.
"A- APA?! Ka- Kau mesti bergurau, Tian!"
"Aku serius, Mimi. Aku jumpa dua helai rambut di tempat Bunda aku dihapuskan dan tempat Tuan Haryan menghapus dirinya sendiri. Dan setelah hasil DNA daripada dua helai rambut itu, sudah jelas kalau BoBoiBoy dan kawan-kawan baru dia yang buat semua malapetaka ini."
"Tak- Tak mungkin," ucap Mimi teranggap-anggap. Kedua pelupuk matanya mulai berurai airmata. Detik berikutnya, gadis pecinta desain Lolita itu berlari menuju kamarnya dengan terisak keras, meninggalkan Sebastian dan Ah Ming di lorong itu.
"Bagus, Tian. Kau dah buat Mimi depresi lagi," kata Ah Ming kesal. "Apasal kau bagi tahu dia kalau BoBoiBoy dan kawan-kawan baru dia yang buat semua ni? Tengok, Kau buat Mimi hampir kena serangan jantung tadi!"
"Ye lah, ye lah. Itu memang salah aku sebab dah bagi tahu dia," tukas Sebastian sebal. "Tapi dia pon paksa aku. Aku tak punya pilihan lain. Tak sanggup aku tengok wajah dia yang penuh tanda tanya itu. Dah lah. Sekarang kita tengok Ilmuwan-Ilmuwan kita yang sambung kerja diorang dekat 'Sapu Katharsis'."
"Hmm, Okey."
Keduanya pun membalik badan menuju lift. Tanpa mereka ketahui, Ashrlati menguping pembicaraan kedua Alien manusia itu dengan Mimi tadi. Wanita itu tersenyum getir.
"Menarik. Aku kena bagi tahu benda ni dekat Kaizo," katanya lalu mengeluarkan sebuah disket dari saku roknya. "Jangan buang masa lagi, walaupun aku harus jadi agen ganda sebab kode etik para Ultra Humanoid ialah kena taat dengan pemiliknya, dan aku milik ONION sekarang. Hanya ini yang bisa kuperbuat."
Sementara itu, Mimi masuk ke kamar tidurnya dan membanting pintu sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya sendiri ke kasur busa nomor satu di Asia Tenggara itu. Disana ia menangis terisak-isak hingga bedcover kasur itu mulai basah oleh air mata.
"Kenapa... Kenapa kau buat semua benda ni dekat aku, BoBoiBoy?" isaknya pilu. "Kau kawan baik aku, tapi kau dah tinggalkan aku dan kawan-kawan kita yang ada disini dan lagi... hiks... Kau lagi senang dekat kawan-kawan kau dan Fang di Pulau Rintis. Kau juga dah buat aku hapuskan kawan pertama aku: Siti Zubaidah hanya kerana dia lagi dekat dengan kau ketimbang aku. Dan kau... kau pun tak ingat apapun lagi tentang aku... hiks... dan sekarang... kau dah hapuskan Rosaline yang merupakan senjata ampuh dekat ONION. Kau pun... dah buat Vader aku akhiri hidup dia. Kenapa, BoBoiBoy? Kenapa kau sampai hati seksa batin aku? Kau-"
Matanya menangkap sebuah figura foto mini di atas meja di sebelah kasurnya. Dengan gemetar Mimi bangkit dari tempat tidur dan meraih figura mini tersebut. Di foto itu tampak sosok BoBoiBoy yang berumur 11 tahun dengan senyum manis yang menghiasi wajah bulatnya dan topi jingga Dinosaurus yang senantiasa menghiasi kepalanya. Mimi memandang foto itu tanpa bergerak selama lima detik sebelum akhirnya ia mulai menyeringai a la psikopat miliknya.
"Tapi kau tak payah risau. Kau masih tetap kawan baik aku," ucapnya sembari mengusap pipi BoBoiBoy di foto itu dengan jari-jemarinya yang halus. "Tenang sahaja. Kerana sebenci apapun aku terhadap engkau, tapi aku terlebih lagi cintai kau, BoBoiBoy... hihihihihiii... kita akan bersama lagi suatu masa nanti... HIHIHIHI... HIHIHIAHAHAHAAHAHAHAAAHAAAAAAAA!"
Pesawat Angkasa milik Kaizo melayang-layang di luar angkasa, tidak bergerak. Rupanya sang Kapten tengah memarkir pesawatnya disitu. Dengan hanya mengenakan kaus oblong berwarna ungu kehitaman dan celana panjang, pria muda itu menekuni Laptopnya di atas kasur tidurnya sementara Lahap tampak sibuk di dapur sambil memasak Sup Wortel dan memanggang Donat Lobak merah kesukaan Kaptennya. Kaizo memandang sebuah file baru di laptopnya itu. Ia mangut-mangut perlahan.
"Jadi ini file ONION yang dihantar Ashrlati," katanya pelan lalu membuka file itu. "Semoga isinya sesuai yang aku harapkan. Aku kena cari maklumat 'Kunci' tu sekarang juga."
File yang dikirimkam Ashrlati itu adalah video rekaman yang berdurasi kurang lebih lima menit. Kaizo menganalisa video itu dengan seksama. Begitu tiba di satu menit terakhir, sekonyong-konyong Lahap berseru dari ruang makan.
"Kapten, Sup Lobak Merah dan Donut Lobak merah dah siap. Baik dimakan sekarang. Tak sedap kalau dah sejuk nanti."
Kaizo mengangkat wajahnya dari layar laptop dan balas berseru. "Okey, Lahap. Aku kesana sekarang."
Ia pun turun dari tempat tidur dan melangkah cepat menuju ruang makan dimana Lahap sudah menunggu untuk makan malam. Sayangnya Kaizo tidak mem-pause video rekaman milik ONION yang dikirimkan Ashrlati sehingga video itu terus bermain. Di video itu tampak Haryan yang berdiri dari kursinya di Aula utama. Langit berwarna jingga lembayung. Terlihat di satu menit terakhir video itu Haryan menukas secara tiba-tiba.
"Ah, ya. Hampir aku terlupa satu pasal. Makhluk-Makhluk hidup payah tu mungkin lagi hebat dari yang kita ingat sekarang. Pantau mereka sepanjang waktu. Kebenaran itu memang benda yang bagus lagi meragukan..."
.
.
.
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
Dawn of The Real Sin
SELESAI
.
.
.
Bersambung di Fanfic sekuel 'Cermin Galaxy'
.
.
Horeeee! Alhamdulillah ff ini selesai juga hingga ke akar-akarnya(?) ^^ Lega sekali author ...
Readers:" Selesai apanya?! Itu masih ada sekuelnya tahuuuu!" x(
Huweee ... maafkan author gaje ini ... author emang salah karena udah bikin kalian semua pusing tujuh keliling dengan ff Mawar Liar ni. Tapi sebelum sekuelnya, mungkin saya akan selesaikan salah satu prekuelnya dulu. Sedikit info, ff Cermin Galaxy akan mengambil latar waktu dan tempat dari BBB Galaxy, jadi mungkin author harus menganalisa(?) cerita BBB Galaxy. Sekali lagi, semua ini hanya imajinasi dari author saja. Author akan senang sekali jika readers mau memberi review untuk bagian epilog ini. Doakan author untuk selalu bisa menulis ff lagi ^^ Terima kasih banyak atas partisipasi kalian semua selama ini, readers. See you in another fanfic ^^
