THE ENGINEER pt. 2

.

.

BarbieLuKai

.

.


Visualisasi Karakter

Kwon Soonyoung : rambut di one fine day tapi acak (?) seragam mv manse

Lee Seokmin : rambut dan seragam di mv mansae

~HAPPY READING~


.

.

"Hyung, bukannya ini hitungannya segini ya?"

"Loh, nanti kalau ganjil begini, bangunannya bisa miring,"

"Hyung tidak capek menghitung terus?"

"Aku lapar, Hyung,"

"Hyung.."

"Hyung.."

"Wonwoo hyung,"

Pada akhirnya, Wonwoo menatap Mingyu tajam. Sudah setengah jam siswa tengil ini mengoceh dan ia tidak habis pikir tentang tenggorokan Mingyu yang bakal kering. Energinya juga tidak habis-habis. Dasar raksasa!

Di sisi lain, Jun tertawa kecil. Lumayan hiburan.

"Hyung..?"

Namja bermarga Jeon tersebut menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, "Kau mau apa, Kim Mingyu?"

Mingyu menunjuk salah satu cetakan biru proyek, "Ini hitungannya salah, Hyung. Aku sudah menghitungnya 10 kali dan hasilnya tetap ganjil. Seharusnya jika ingin membangun sebuah gedung, hitungannya harus genap, bukan ganjil,"

"Dia benar, Won. Aku juga sudah menghitungnya. Gomawo Mingyu sudah mengoreksi," ucap Jun di sebelah meja Wonwoo. Wonwoo hanya menghela napas.

"Ne, Mingyu-ya. Karena kau sudah mengoreksinya, akan kutraktir kau makan. Kajja!"

"Jinjjayo?"

Wonwoo mengangguk. Strategi untuk mengusir Mingyu agar tidak mengganggunya bekerja.

"Jun Hyung mau ikut?" tanya Mingyu ramah.

Jun menggeleng, "Aku akan makan sendiri nanti, bersenang-senanglah kalian!"

"Annyeong!" pamit Wonwoo datar. Kemudian, mereka berdua berjalan ke parkiran. Sebelum Wonwoo benar-benar masuk, Mingyu mencegatnya.

"Chankaman, Hyung!"

"Ada apa?" tanya namja itu bingung.

Mingyu merebut kunci mobil dari tangan Wonwoo, ia menyengir, "Aku saja yang bawa ya? Tenang.. Aku sudah lulus izin mengemudi,"

Wonwoo menatapnya tak percaya, "Mana ada umur 18 tahun sepertimu lulus SIM mobil!"

Mingyu tersenyum saja, ia membuka pintu mobil. "Silakan masuk, Hyung!"

Insinyur manis tersebut masuk ke mobil tanpa basa-basi. Mingyu berlari kecil ke pintu satunya dan ikut masuk.

"Kita mau makan di mana?" tanya Mingyu menyalakan mesin. Wonwoo mengakui ia cukup handal juga meskipun masih SMA. "Wonwoo hyung?"

"Ah? Um, kau mau makan apa?"

Mingyu memundurkan mobil dan memutar stir ke jalan raya, "Ayam boleh,"

Wonwoo tampak berpikir-pikir, "Kalau begitu restoran ayam di Hongdae saja,"

"As you wish, Princess," namja berambut abu-abu itu menancap gas ke daerah tujuan tanpa menyadari Wonwoo yang sudah melting mendengar jawabannya.

"Tsk, aku namja, bodoh." sahutnya datar. Padahal jantungnya sudah loncat keluar dari mobil.

"Kau terlalu cantik untuk ukuran namja," Mingyu menyunggingkan smirk. Membuat Wonwoo tidak berkomentar apa-apa lagi. Lebih baik dia diam daripada menyahuti siswa ini. Di sisi lain, ia merasa bahagia karena dipanggil cantik oleh namja tampan.

Ingat, Jeon Wonwoo akan melting jika seorang namja tampan memujinya. Terkadang butuh selusin batu bata untuk dilempar agar menyadarkan Prince Emo ini. Duh, jangan bilang dia jatuh cinta sama Mingyu!

.

.


.

.

"Kau mau ayam apa, Gyu?" tanya Wonwoo tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu.

"Ayam goreng!"

"Tsk, dasar pecinta ayam! Araseo, ayam bumbu satu, ayam goreng satu," ucap Wonwoo pada pelayan. "Gyu, kau mau minum apa?"

"Soda.." jawab Mingyu bersemangat. Hah, baginya makan siang bersama Wonwoo adalah hal paling menyenangkan sedunia. Ditambah ayam goreng dan soda, dunianya semakin bersinar.

Wonwoo menghela napas, "Soda dua, gomawo.." ucapnya lagi seraya memberikan buku menu tersebut.

"Apa dia adik anda?"

Mingyu dan Wonwoo saling bertatapan, "Bukan," jawab Wonwoo datar.

"Mungkin teman anda?"

"Bukan, dia kekasihku," balas Mingyu tegas. Namja berambut hitam itu melototkan mata, sedangkan pelayan tadi langsung bungkam.

"Ara-seo, silakan tunggu 15 menit!" buru-buru pelayan tersebut pergi.

"Kenapa kau bilang begitu?" desis Wonwoo sebal. Padahal pelayan tadi cantik loh.

Mingyu menyengir, "Memangnya hyung tidak ingin punya kekasih sepertiku?"

"Mau sih.." gumamnya pelan, kemudian Wonwoo sadar dia sudah salah jawab, "maksudku tidak. Kau ini menyebalkan, tengil! Tidak mungkin aku mau bersamamu,"

Siswa jenius tersebut hanya tersenyum lembut, "Baiklah, aku tunggu sampai kau mau,"

"Kau ini memang tidak kenal sopan-santun ya? Dari tadi kau bicara informal terus," protes Wonwoo mengerucutkan bibir.

"Suka-sukaku dong, aku kan punya hak!" jawab Mingyu seenaknya. Bukannya ingin menggampar, Wonwoo malah menggigit bibir karena makhluk Tuhan di hadapannya ini selain tampan, tapi juga imut nggak ketolongan.

HEH, WONWOO HENTIKAN!

"Hyung?"

Wonwoo tersentak, "Ne?"

"Um.. Hyung sudah punya pacar?" tanya Mingyu pelan, Wonwoo bisa melihat rona merah yang menjalar di pipi Mingyu.

Seketika, ia mendapat ide, dan menyeringai seram. "Punya dong. Masa namja setampan aku belum punya pacar,"

Tampan? Apa kita semua salah dengar? Yang ada kau yang bakal ditembak saking manisnya.

Mingyu terdiam, ia langsung mengalihkan pandang. "Ya sudah.." jawabnya hampir tidak ada suara.

Melihat ekspresi Mingyu yang patah hati begitu, Wonwoo refleks menggenggam tangan namja yang lebih muda darinya.

"Gyu-ah, aku kan cuma bercanda, kenapa jadi murung begitu?"

Siswa tengil SMA Hanlim ini memandang tangan mereka yang bertautan, kemudian menatap Wonwoo mencari kejujuran di mata rubah tersebut.

"Jadi.. Hyung belum punya pacar?"

Namja berambut hitam itu menggeleng, "Belum, kenapa? Ada niat untuk mendaftar?"

Jeon Wonwoo, kau ini memang penggombal yang luar biasa!

"Buat jadi yang pertama dan terakhir di hidup Hyung, hehehe.."

"Dasar bocah tengil! Pikirkan sekolahmu dulu baru cinta-cintaan!" jawab Wonwoo menyentil kening Mingyu keras.

"Appo!" pekiknya kesakitan, "Hyung ini suka menyiksa orang ya?"

"Aku sih lebih suka menyiksamu, Gyu, hehehe,"

Mingyu langsung membalas Wonwoo dengan menjepit hidungnya, "Rasakan balasannya!"

"Appo! Yak! Kim Mingyu!"

Mereka menghentikan pertikaian saat makanan sudah datang. Tanpa basa-basi, keduanya langsung menyantap makan siang setelah berdoa. Tampak Mingyu sedikit berlepotan karena saus yang menempel di sekitar mulutnya.

Wonwoo gemas melihat hal ini, ia mengambil tisu dan menamparnya ke mulut Mingyu yang sedang mengunyah.

"Dasar anak kecil!"

Mingyu memicingkan mata.

"Aigoo~ neomu kyeopta!" puji Wonwoo mencubiti pipi Mingyu.

"Hyung~" rengek namja tampan tersebut kesal. Dia mengelap sisa-sisa saus di wajahnya. "Berhenti mencubitku!"

"Habisnya kau imut sekali, aku kan gemas.." jawab Wonwoo sambil tersenyum manis.

Jantung Mingyu berdetak lebih cepat, ia bisa merasakan rona merah sialan menjalar di wajahnya, "Ani. Aku ini tampan, bukan imut!"

"Nanti kalau kau sudah 20 tahun ke atas, aku akan mengakuimu tampan," balas Wonwoo mengangguk. Mingyu menatapnya tak percaya.

"Jinjja?"

"Ne, tunggu kau berumur 20 tahun.."

"Yaksok?" Mingyu menyodorkan kelingking, Wonwoo mengaitkan kelingking mereka.

"Yaksok. Kalau kita bertemu,"

"Kita pasti bertemu, Hyung. Aku akan cepat-cepat lulus dan segera melamarmu, araseo?"

Wonwoo hanya tertawa geli, malas menanggapi omongan bocah tengil di depannya ini, "Kalau kau melamarku, aku tidak akan seperti ini, kau tidak akan mengenaliku karena aku akan tua sekali,"

Mingyu menghentikan makannya, ia menatap Wonwoo dan menyisipkan jemari mereka yang ada di atas meja. Dengan serius ia berucap, "Hyung, aku sudah menyukaimu saat kau memarahiku. Aku tahu ini konyol dan Hyung pasti berpikir aku bercanda, tapi yang jelas aku akan terus mengejar Hyung sampai kita bisa bersama. Aku juga tidak peduli jika gender kita sama ataupun perbedaan umur kita yang jauh,"

Wonwoo mengigit bibir. Dia tidak tahu harus memercayai namja ini atau tidak. Tetapi, dalam hatinya yang paling dalam ia berharap yang sama pada Mingyu.

Mendengar ucapan Mingyu, Namja bermarga Jeon itu tersenyum kecil dan mengelus lembut tangan Mingyu, "Araseo, aku tunggu."

.

.


.

.

"Jun."

Jun menoleh sebentar pada Wonwoo yang tampak ogah-ogahan. Dia berhasil memasukkan Mingyu ke sekolahnya karena memang tidak ada yang peduli siswa tampan itu masuk atau tidak. Wong sudah pintar.

"Kenapa?" tanya Jun tanpa mengalihkan pandangan dari kalkulator.

"Aku jatuh cinta pada Mingyu,"

Apa?! Secepat itu? Sebegitu hebatnya efek Kim Mingyu jadi bisa membuat Prince Emo kita yang kata orang dingin dan datar ini menyukainya.

Jun melirik sahabatnya, kemudian melanjutkan pekerjaan, "Secepat itu? Bagus. Kau lanjutkan saja. Aku rasa Mingyu bocah yang baik,"

Wonwoo mengigit bibir, "Kau membolehkanku?"

"Apa masalahnya? Tentang perbedaan umur yang jauh? Atau kalian yang sesama jenis? Dunia sudah memperbolehkan hubungan sesama jenis, Won. Biarpun Korea menentangnya, kau tidak usah peduli dengan pendapat orang,"

Namja bermarga Jeon tersebut menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Dia masih berpikir keras.

"Bagaimana jika dia hanya mementingkan wajahku?"

"Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan mengganggumu dan mengerjakan semua laporan,"

"Kau benar," jawab Wonwoo melirik semua laporan yang diselesaikan Mingyu tanpa diminta sama sekali. Benar-benar terniat.

Jun tersenyum lembut, "Aku mendoakan yang terbaik, oke? Kalau ia berbuat macam-macam denganmu, just call me and I'll be there to drown him,"

Wonwoo tertawa geli mendengar perkataan Jun. Ah, dia sangat menyayangi sahabatnya ini.

.

.


.

.

"JEON JUNGKOOK!" panggil Mingyu dengan suara menggelegar di kelas A. Semua orang menatapnya, termasuk Jungkook yang mendongak. "Hah, disitu kau rupanya!"

"Aku memang di sini," jawab Jungkook mendengus, "kau mau apa?"

Siswa tampan itu masuk dan duduk di kursi depan Jungkook, "Aku ingin nomor Wonwoo, alamat rumah, jam kerjanya, alamat kantor, nomor telepon rumah, nomor telepon kantor, pokoknya semua!"

Jungkook menatap Mingyu aneh, "Kau gila ya?"

Mingyu berdecak kesal, "Yak! Kau belum pernah kena gampar sebelumnya?"

Kemudian, Jungkook merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel. Wajah Mingyu yang duduk di depannya ini langsung berseri. Berasa ketiban emas 17 karat.

"Nomor telepon Wonwoo hyung, rumah, dan kantor sudah kukirim lewat line. Kau aktif line kan?"

Mingyu mengangguk antusias, dia langsung mengecek ponselnya yang berdering karena ada notification dari Jungkook. "Alamat rumah? Kantor?"

"Kau tahu rumahku tidak?" tanya Jungkook tampak ogah-ogahan.

"Aku kan belum pernah ke rumahmu, Pabboya!" jawab Mingyu kesal.

Jungkook tampak berpikir sebentar, menyadari kebodohannya. "Oh, mian. Kau cari sajalah apartemen di daerah Gangnam. Lima rumah sesudah rumah besar,"

"Memangnya rumah besar di Gangnam hanya ada satu?" balas Mingyu jengkel.

Jungkook menghela napas, "Yang Mulia si Jenius Kim Mingyu, kalau kau pernah ke sana, kau pasti bakal tahu rumah besar di Gangnam hanya ada satu,"

"Araseo," jawab Mingyu mengalah, "jam berapa dia berangkat kerja? Berapa saudaranya? Di mana orangtuanya? Apa dia benar-benar tinggal sendiri?"

Ingin rasanya Jungkook menampar namja pintar ini dengan buku yang ia baca, tetapi diurungkannya karena dia tidak akan mendapat contekan habis itu. "Apa aku terlihat seperti narasumber bagimu? Kau cari tahu saja sendiri, dasar tidak modal!"

Mingyu mengerucutkan bibir, "Dasar kau pelit! Semoga kau langgeng dengan Taehyung!" serunya lalu kabur. Meninggalkan Jungkook yang mematung dan Taehyung yang terkejut.

Kemudian mereka saling bertatapan dan mengangkat bahu.

.

.


.

.

Seokmin menatap Mingyu yang asyik dengan ponselnya, ia bersama Soonyoung langsung menyerbu namja tampan tersebut.

"Woy, gila!"

Mingyu hampir menjatuhkan ponselnya, "Yak! Mau mati, hah?!"

Soonyoung langsung cengengesan, "Sedang apa, Prince? Dari tadi senyam-senyum mulu, gila ya?" tanyanya membuat namja berambut abu-abu tersebut menggampar kepalanya.

"Enak saja kau bilang aku gila, kau yang gila mengejar Jihoon tapi tak pernah dapat!"

Namja berambut biru itu merengut mendengarnya, "Yak! Bukan salahku kalau Jihoon tidak bisa dikejar, kau lihat saja dia begitu susah sampai butuh pengorbanan,"

Seokmin tertawa kecil, "Neo pabboya.."

Mingyu ikut tertawa dengan nyaring, membuat Soonyoung ingin menghajarnya.

"Ngomong-ngomong, kau menyukai insinyur di sebelah?" tanya Seokmin karena ia melirik kontak nama Wonwoo yang tertera di ponsel Mingyu. Belum dikunci rupanya.

"Ne," jawabanya seraya menyeringai girang, membuat kedua temannya was-was, "awas kalian berani mendekatinya! Kucincang kalian!"

Soonyoung dan Seokmin saling berpandangan.

"Aku masih punya Jihoon-baby," jawab Soonyoung sedikit menjauh. Kim Mingyu dan seringaiannya itu tidak menjanjikan kehidupan.

"Dan, aku masih mencintai Seungkwan," jawab Seokmin mengangkat tangan.

Mingyu mengangkat bahu tidak peduli, "Yang penting aku bisa mendekatinya sekarang,"

.

.


.

.

Wonwoo sangat sibuk hari ini. Setelah dia bermalas-malasan ria sepulang dari mengantar Mingyu, dia langsung dipanggil Wakil Ketua Song untuk melihat tampak belakang gedung tersebut.

"Kukira kau tidak menghitungnya," ucap Daewon seraya melihat salinan biru yang diberikan Wonwoo.

Namja bermarga Jeon tersebut menyengir, "Seseorang telah melakukannya untukku,"

"Bagaimana dengan detail taman di samping sini?" tanya si Wakil Ketua sambil menunjuk bagian di kertas. Wonwoo berpikir.

"Detailnya sudah cukup kok, kalau tidak disesuaikan, akan aneh jadinya,"

Daewon mengangguk-ngangguk, "Araseo, gomawo Wonwoo-sshi, kau bisa pergi sekarang," ujarnya sambil tersenyum.

"Ne. Panggil aku atau Jun kalau ada masalah,"

"Araseo!"

Wonwoo pergi ke kantor. Dia melihat ke arah Jun yang sedang sibuk dengan kalkulator. Pelan-pelan ia mendatangi sahabatnya.

"Junnn~"

"Hm?"

"Sibuk tidak?"

"Kau bisa melihatnya kan?"

Wonwoo mendengus, "Kau ini.. kenapa begitu?"

Jun menghadap Wonwoo yang bersungut-sungut, kemudian ia tersenyum, "Merindukan Mingyu ya?"

Sontak pipi Wonwoo bersemu merah dan ia langsung mengelak, "E-enak saja! Kan tadi sudah bertemu, kenapa aku merindukannya?"

Jun berdecak, "Tsk, sok sekali,"

"Siapa yang kau bilang sok?" tanya Wonwoo jengkel, ia melempar pulpen ke sahabatnya, "aku memang tidak merindukannya,"

"Mending kau kerja lagi sana daripada ganggu orang," usirnya tanpa melihat ke Wonwoo meskipun namja berambut hitam itu masih cemberut.

Tiba-tiba ponsel Wonwoo berdering, buru-buru ia mengangkat dan terkejut ketika mendengar suara yang familiar.

"Wonwoo hyung?"

"M-mingyu-ya?"

Jun tertawa keras. Wonwoo mendelik padanya.

"Itu suara Jun hyung?"

"Ne," jawab Wonwoo ogah-ogahan, "dari tadi dia mengejekku terus,"

"Dia merindukanmu, Ming!" celetuk Jun keras sehingga Wonwoo melempar pensil ke arahnya.

Terdengar suara Mingyu tertawa, jantung Wonwoo serasa berdetak cepat. "Kau merindukanku, Hyung?"

"A-aniya! Untuk apa aku merindukanmu? Dasar bocah tengil!"

"Hm, aku kan cuma tanya, kenapa kau jadi sewot gitu?"

"Ugh, kau tidak belajar, hah?"

"Kan sudah kubilang aku capek belajar,"

Wonwoo melunak, dia mengigit bibir, "Seharusnya kau belajar yang rajin, Mingyu-ah. Gimana kau mau masuk teknik industri kalau kau tidak disiplin begitu.."

Mingyu diam saja di seberang sana, Wonwoo hanya mendengar deru napas siswa itu pelan.

"Araseo hyung, aku akan belajar, annyeong!"

Namja bermarga Jeon tersebut menatap layar ponsel yang mati. Dia memandang Jun tidak percaya, sedangkan yang ditatap hanya mengangkat bahu.

"Kau lihat bagaimana dia menutup teleponku?"

"Kau menyuruhnya belajar, Won. Tidak ada yang salah,"

Wonwoo masih melongo. "Tapi aku merindukannya,"

Jun tersenyum kecil, "See? You miss him,"

"Huh, shut up!" cecar Wonwoo langsung menutupi dirinya dengan map, meninggalkan Jun yang menertawakan kesengsaraannya. Cih, bahagia sekali tawanya!

Seandainya Mingyu tahu kalau Jeon Wonwoo yang baru saja jatuh cinta padanya padahal baru beberapa kali bertemu, merindukan sosok bocah raksasa itu, tapi punya harga diri yang tinggi sehingga tak mau mengakuinya.

Itulah Prince Emo dan kegengsiannya.

Kim Mingyu, he miss you.

.

.

To be Continued

.

.


.

.

Thanks to : Arlequeen Kim, Guest (wan MEANIE), Iceu Doger, Guest (kookies), Ara94, Squishy Carrot, Beanienim, monwii, DevilPrince, xingmyun, , Guest (Rie Cloudsomnia), BumBumJin, kimxjeon, 11234dong, svtbae, Guest (christ)

Terima kasih buat para reader yang mau menyempatkan diri untuk membaca lanjutan ff ini. Dan terima kasih juga sudah mengoreksi tata bahasa author yang amburadul, hehehe. Lama nggak bikin ff makanya tatanannya hancur begini. Okelah, silakan direview lagi, readerdul~ HAIL TO MEANIE SHIP ~ppyong

A/n : btw, author lagi kena stroke karna dance aju nice, ya ampun hip thrust-nya hoshi , #apaansih *kabur* ~~ppyong ^^