THE ENGINEER pt. 5

.

.

BarbieLuKai

.

.

A/n : Choi Seunghee = Oh Seunghee di CLC bagi yang mau tahu. Itu loh leader CLC yang cantiknya nggak ketulungan. Author aja kalah *yaiyalah*

.

.


~Happy Reading~


.

.

.

Namja yang sedang dipikirkan Wonwoo tengah sibuk bermain bola. Namun, matanya terus menatap bangunan sebelah dimana para pekerja hilir-mudik tanpa ada Wonwoo di antara mereka.

"Kau kenapa, Ming?" tanya Jisoo heran melihat kelakuan Mingyu.

Dia menggeleng, lalu menatap teman mainnya, "Aniyo, kajja! Jangan sampai kita kalah dari Jaebum,"

Jisoo bersiap untuk mendapat bola dari Seungkwan tetapi Doyoung berhasil menepisnya. Mereka bermain lagi tanpa peduli berapa jam pelajaran yang sudah mereka lewati.

"Sudah, sudah!" Jaebum mengangkat tangan, tanda menyerah. Permainan dihentikan dan mereka pergi ke luar gerbang untuk membeli minuman.

Mingyu mengintip ke bangunan sebelah. Dia bisa melihat Jun yang sedang berdiskusi tetapi tidak ada batang hidung Wonwoo sekalipun. Padahal hidung gebetannya (?) itu mancung seperti pinokio.

Eh, apa mereka masih berstatus gebetan? Terkadang, ia masih bingung dengan status antara dirinya dan Wonwoo sekarang. Dibilang pacaran, lah Mingyu belum nembak. Dibilang gebetan, tapi mesranya sudah kayak suami istri.

Sebuah tangan menyolek seragamnya, dia menoleh pada Jisoo yang menyodorkan minuman bersoda. "Gomawo, Jisoo-ya.."

Si rambut oranye tersenyum lembut, ia mengisyaratkan Mingyu untuk mendatangi teman-teman mereka, "Kajja!"

Akhirnya, Mingyu berhenti mencuri pandang ke bangunan setengah jadi itu. Dia asyik bercanda bersama teman-temannya tanpa memikirkan waktu yang berputar cepat.

.

.


.

.

"Yeoboseyo, Soonyoung-ah, apa kau ada di rumah?"

Terdengar suara Soonyoung yang serak, "Kau mau apa?"

"Bantu aku membuat surat lamaran kerja.." pinta Mingyu setengah membujuk. Kwon Soonyoung di seberang sana mendengus jengkel. Acaranya tidurnya terganggu karena permintaan bodoh sahabatnya ini.

"Kau payah sekali! Araseo, aku akan ke sana!"

"Jinjjaro?"

"Ne, siapkan makan malam untukku!"

Mingyu menjerit kesenangan, "SARANGHAE, SOONYOUNG-AH!"

"Aish, berisik!" akhirnya, Soonyoung memutuskan sambungan duluan. Sedangkan Mingyu bergegas menyiapkan makan malam.

"Kau mau apa?" tanya kakak laki-laki Mingyu saat ia sudah turun dari lantai dua.

"Masak." jawab namja tampan itu pendek seraya berjalan ke dapur.

Kim Taeyong, kakak laki-laki Mingyu yang lebih tua darinya 2 tahun hanya mendengus, kemudian mengalihkan pandang ke arah televisi kembali.

"Hyung!"

"Hm?"

"Bisa tidak beli ramen di supermarket?"

"Kenapa menyuruhku, pemalas?!" balas Taeyong kesal. Dia memang tidak pernah akur dengan adiknya.

"Kau tidak ada kerjaan kan? Siapa tahu kau bisa menggoda kasir di sana!"

"Yak!"

Mingyu tidak membalas perkataan kakaknya karena sibuk memanaskan makanan yang ada di kulkas.

"Hyung!"

"MWO?!"

"PPALI-WA!"

"AISH, NEO!" Taeyong menyerah dan beranjak dari sofa untuk pergi ke supermarket.

Mendengar pintu rumah tertutup, Mingyu langsung menyiapkan makan malam untuknya, Taeyong, dan Soonyoung.

Taeyong kembali lima belas menit kemudian, ia menaruh plastik belanjaannya di atas meja. "Sudah?"

Mingyu berdecak puas seraya mengangguk-ngangguk, "Ah, hyung, jeongmal saranghae,"

Namja berambut putih tersebut hanya menatapnya malas dan pergi ke ruang keluarga lagi.

Saat Mingyu tengah memasak ramen, Soonyoung datang. Namja bermarga Kwon itu menyapa Taeyong sopan dan berjalan ke arah Mingyu.

"Kau ingin aku makan ramen?"

Mingyu mengangguk pelan. "Aku tidak punya apa-apa lagi selain ini,"

Soonyoung menghela napas, ia menarik kursi dan langsung saja duduk, "Araseo, gomawo.."

Mereka menyempatkan diri makan malam sebelum masuk ke tujuan yang sebenarnya.

Mingyu membawa laptop ke ruang tamu dengan Soonyoung yang sudah kekenyangan.

"Aku sudah melihat website-nya, mereka menawarkan tiga pekerjaan. Bagian mesin sebagai buruh, bagian administrasi sebagai akuntansi, bagian kebersihan sebagai office boy,"

"Kau pilih bagian mesin saja," jawab Soonyoung mencermati isi website, "coba masukkan nilai raport-mu yang kemarin, siapa tahu mereka menyetujuinya,"

"Ide yang bagus!"

Hampir dua jam mereka berkutat dengan surat lamaran, dan akhirnya mengirimnya lewat email.

"Mingyu-ah, apa Soonyoung ingin menginap?" tanya Taeyong dari arah ruang keluarga.

Soonyoung mengangguk, "Aku menginap sajalah, ini sudah jam 10, kau tidak mau kan sahabatmu yang tampan dan rupawan serta menggoda hati setiap pria maupun wanita ini diculik orang?"

Mingyu mencebik, tampan apaan, kalau makhluk seperti Soonyoung tampan, lalu Mingyu apa? "Araseo. NE HYUNG!"

"Kunci pintu ya! Aku mau tidur duluan!"

"NE!"

"Aku tidak pernah melihat kalian akur," ucap sahabatnya itu. Mingyu menghela napas.

"Taeyong hyung terlalu dingin, berbeda denganku,"

"Tsk, setidaknya kau punya saudara, pabbo! Kau harus mensyukurinya,"

TING

Pemberitahuan email baru mengacaukan pembicaraan mereka. Keduanya menatap notif tersebut bingung.

"Dari siapa?"

Mingyu langsung membukanya dan membelalakkan mata ketika email kantor yang tadi membalas suratnya.

"Dengan ini kami beritahukan bahwa, Kim Mingyu, berumur 18 tahun diterima sebagai salah satu pekerja di bagian mesin Jeon Trade Inc. Besok diharapkan datang ke perusahaan dengan pakaian kemeja putih dan surat lamaran yang sudah terketik rapi. Catatan : kami terkesan melihat nilai-nilai anda yang maksimal, dan kami harus mendiskusikannya bersama anda. Terima kasih atas perhatian anda," baca Soonyoung, namja tampan di sebelahnya masih tidak percaya. "Daebak.."

"Apa ini nyata?"

Namja bermarga Kwon itu menampar kuat pipi Mingyu hingga terjengkal, "Sayangnya, iya.."

"Brengsek!" umpat si jangkung seraya memiting leher Soonyoung.

"Yak! Seharusnya kau berterima kasih, idiot!"

Mingyu menghentikan aksinya, ia menatap sahabatnya, "Benar juga, araseo, izinkan aku ya besok!"

"Tsk," Soonyoung berdecak, "kau tidak hadir sekalipun, tidak akan dimarahi guru, Kim.."

Mingyu hanya cengengesan, ia berniat akan merahasiakan ini dari Wonwoo.

.

.


.

.

Wonwoo memandang layar televisi yang menayangkan drama roman picisan, helaan napas keluar dari mulutnya begitu saja.

"Mingyu-yaaaa! Bogoshippo!"

Tok tok tok

Namja bermarga Jeon itu menoleh, "Masuk.."

Jungkook masuk ke kamar kakak sepupunya dan duduk di sebelahnya.

"Oh Kook, ada apa?"

"Paman mengajakku makan malam besok bersama Junyeon, katanya penting,"

Dahi Wonwoo menyeringit, "Makan malam? Besok? Aku tidak tahu,"

"Iya makanya aku beri tahu hyung," jawab Jungkook seraya memutar mata. Ya ampun, hyungnya ini…

"Oh, baiklah, dalam rangka apa?"

Jungkook mengangkat bahu, "Entahlah,"

"Hm, oh iya, apa kau melihat Mingyu di sekolah?" tanya namja yang lebih tua itu. Jungkook mengangkat alis.

"Bukannya seharian dia main bola?"

"Dia tidak belajar?"

"Mingyu dan beberapa temannya sedang asyik main bola sampai pulangan, yang dari kelasku juga, si Jaebum, Doyoung, Jisoo, ah banyaklah pokoknya,"

Wonwoo mengangguk paham, "Memangnya yang bolos, mereka sepintar Mingyu?"

"Hanya Mingyu satu-satunya yang paling jenius di sekolahku," jawab Jungkook lagi, "waeyo? Hyung tidak bertemu dengannya?"

Yang ditanya malah menggeleng muram, "Saat jam makan siang, Pamanmu menyuruhku pulang,"

"Oh, telepon saja dia.."

"Aku sudah meneleponnya," balas Wonwoo gemas, "tapi dia tidak mengangkat sama sekali,"

"Entahlah, mungkin dia butuh waktu?"

"Untuk apa?"

"Tanyakan saja padanya kalau kalian bertemu,"

Wonwoo melempar bantal padanya, "Jeon Jungkook kau tidak membantu sama sekali, huh."

.

.


.

.

Di sinilah Mingyu, berdiri di depan gedung yang menjulang. Dengan kepercayaan diri yang tipis, ia hampir meremas amplop yang ada tangannya.

"Hwaiting, Kim Mingyu!"

Kemudian, ia melangkahkan kakinya mantap memasuki gedung tersebut. Seorang penjaga tersenyum padanya dan menyuruhnya ke meja resepsionis.

"Chogiyo.."

Seorang yeoja mendongak dari komputer, dia tersenyum manis, "Ne, ada yang bisa dibantu?"

"Di mana aku bisa menaruh surat lamaran ini?" tanyanya sopan sambil menyodorkan amplop cokelat di tangan.

Yeoja bername-tag Park Jeongyeon tersebut mengambil dan melihat ke nama yang tertera. "Ah, kau Kim Mingyu yang mengirim email tadi malam?"

Mingyu mengangguk antusias, "Ne, ne, aku disuruh ke sini untuk membawa yang asli,"

Jeongyeon tersenyum, "Tunggu sebentar," yeoja itu meraih ganggang telepon dan menekan tombol.

Siswa SMA yang sedang membolos ini diam menunggu respon.

"Ne, sajangnim, Kim Mingyu sudah ada di sini. Araseo, araseo, ne.." Jeongyeon menutup telepon lalu memandang Mingyu ramah. "Kau bisa ke ruangan Presdir Jeon sekarang, tepatnya di lantai paling atas,"

"S-sekarang?" tanya Mingyu terbata. Pasalnya, ia sudah membayangkan dirinya diwawancarai oleh staf lain, bukan presdirnya sendiri. Duh.

"Sebentar, Jaesoon!"

Mingyu menoleh ke namja yang baru datang. Posturnya tegap dengan kemeja putih membalut rapi di tubuhnya.

"Ne?"

"Kau ingin ke ruangan Presdir kan? Ajak dia bersamamu," suruh yeoja berambut cokelat tersebut. Jaesoon tersenyum tipis.

"Araseo, kajja!"

Mau tak mau, siswa ini harus mengikuti si Jaesoon atau siapalah namanya. Saat pintu lift terbuka, beberapa karyawan membungkukkan badan pada Jaesoon dan menatap aneh Mingyu. Sedangkan Mingyu hanya menundukkan kepala.

"Jangan tundukkan kepala, kalau kau ingin dianggap sama, jangan pernah tundukkan kepala ataupun bersikap rendah," tegur Jaesoon membuat siswa itu mematung.

"A..raseo.."

Perjalanan ke ruangan Presdir memakan waktu yang cukup lama. Salahkan gedungnya yang mencapai 15 lantai, Mingyu harus nge-stuck dengan namja dingin di sebelahnya.

Saat lift sudah mencapai lantai 15, Jaesoon mengiring Mingyu menuju ruangan Presdir.

"Kau bisa masuk sekarang," suruh namja dingin tersebut membuka pintu ruangan. Sedangkan ia pergi ke ruangan lain.

"Chogiyo.." ucap Mingyu sopan, ketika matanya memandang sosok pria yang mungkin sudah memasuki 50-an, ia menundukkan badan. "Annyeong haseyo, choneun Kim Mingyu imnida,"

Presdir Jeon tersenyum, "Silakan duduk, Mingyu-sshi!"

Namja bermarga Kim itu duduk di depan Presdir Jeon.

"Aku terkesan melihat nilai-nilai rapormu, apalagi kau seorang siswa dari SMA Hanlim, tingkat berapa kau sekarang?"

"Tingkat tiga, Sajangnim.." jawab Mingyu sopan.

"Hm, keponakanku juga bersekolah di sana, apa kau mengenal Jeon Jungkook?"

Tentu saja Mingyu kenal, kan dia sepupunya Wonwoo. Tunggu dulu! Kalau dia sepupu Wonwoo, berarti Wonwoo termasuk keluarga Jeon? Mingyu menelan salivanya susah payah.

Kau seharusnya menyadari hal itu, Kim Mingyu.

"Dia teman saya tapi beda kelas," jawabnya takut-takut.

Presdir Jeon tertawa kecil, "Tidak usah takut, Mingyu-sshi, aku tidak memakan orang kok, hahaha,"

Sedang Mingyu hanya tertawa canggung. Atasannya ini punya selera humor yang aneh.

"Kau mulai bekerja besok setelah pulang sekolah sampai jam 8 malam. Masalah gaji, aku akan memberikanmu 20000 won/jam karena kau masih part-time. Bagaimana?"

Siswa tampan tersebut mengangguk pelan, "Araseo,"

Kemudian, pria paruh baya itu langsung menjelaskan pekerjaan yang sebenarnya. Mingyu mengangguk-ngangguk mengerti dan akhirnya, mereka sepakat dalam hal ini.

"Sampai jumpa besok, Kim Mingyu. Aku harap aku bisa bergantung padamu,"

.

.


.

.

"Kalian temannya Mingyu, kan?"

"Oh, Insinyur manis.."

Wonwoo tersenyum lembut, "Apa kalian melihat Mingyu?"

Soonyoung dan Seokmin menggeleng, padahal sebenarnya mereka tahu dimana Mingyu sekarang.

"Mungkin dia membolos," jawab Seokmin mengangguk. Wonwoo menaikkan alis.

"Begitu ya? Araseo, gomawo.." kemudian dia pergi begitu saja dengan perasaan kecewa.

Soonyoung dan Seokmin saling berpandangan.

"Sampai kapan dia merahasiakan ini?" kedua sahabatnya saja sedikit khawatir ketika melihat raut wajah Wonwoo yang begitu sedih. Mingyu benar-benar keterlaluan.

.

.


.

.

Mingyu cepat-cepat berlari mengitari lorong sekolahnya saat pandangannya menelusuri tiap kelas yang sedang ada gurunya.

BRAK

Semua tatapan mengarah. Mingyu menyengir. "Annyeong haseyo!"

Han seongsaenim menghela napas, "Darimana kau, Kim Mingyu?"

Siswa jenius berambut abu-abu itu tidak nampak seperti orang yang bersalah, "Tadi pagi aku ada urusan, Saem,"

Karena tidak ingin berbelit-belit, Han seongsaenim langsung menyuruhnya duduk dan kembali mengajar.

"Bagaimana wawancaramu?" tanya Seokmin seraya berbisik. Mingyu mendengus.

"Lancar kok, aku harus mulai kerja besok sehabis pulang sekolah,"

"Yah.." Seokmin terlihat kecewa, dia kira akan terjadi apa selama Mingyu wawancara tadi. "tidak asyik sekali,"

"Kau mau aku tidak lulus apa?" cecar namja berambut abu-abu tersebut. Seokmin menyengir.

"Aniya, aku kan hanya ingin traktiran,"

"Tsk, araseo, besok akan kutraktir kau dan Soonyoung makan," jawab Mingyu pada akhirnya.

Seokmin berdeham, "Tadi Wonwoo hyung mencarimu,"

Sejenak namja bermarga Kim tersebut mematung mendengar ucapan temannya, ia diam saja tidak menjawab.

"Sampai kapan kau merahasiakannya, Gyu?"

Mingyu hanya mengangkat bahu, "Aku tidak mau dianggap remeh hanya karena aku masih SMA,"

Seokmin menghela napas, lalu menepuk simpati pundak Mingyu, "Araseo, aku mengerti kok keadaan kalian,"

.

.


.

.

Wonwoo menatap pakaian yang tersusun rapi di lemari. Beberapa kemeja sudah berserak di atas kasurnya, dan ia belum bisa memastikan baju apa yang bakal ia kenakan. Ah, ini kan bukan peristiwa penting, kenapa dia harus repot memikirkan baju? Untuk apa juga dia mengacak isi lemarinya? Ingatkan Wonwoo untuk membereskannya nanti.

Akhirnya, ia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans hitam. Dia tersenyum sendiri melihat pantulannya di cermin, sangat emo, apalagi kalau rambut hitamnya ia susun di depan wajah, pasti kedua orangtuanya akan memangkasnya habis-habisan. Tapi, ia tak begitu peduli karena ini cuma makan malam kan?

Sudah Wonwoo duga kalau ini makan malam antara keluarganya dan keluarga Choi. Dia bisa melihat sosok Choi Seungcheol yang sedang bermain ponsel, tetapi mengalihkan pandangan pada Wonwoo yang memutar mata jengah.

"Annyeong haseyo!" Tn. Jeon dan Ny. Jeon membungkuk pada Tn. dan Ny. Choi, mereka saling bersalaman dan duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Wonwoo sudah besar ya sekarang, tampan pula," puji Ny. Choi ketika melihat namja berambut hitam tersebut duduk di sebelah sang Ibu.

Wonwoo tersenyum manis, "Gamsahamnida.." padahal niatnya nggak mau senyum.

"Seungcheol, kau tidak ingin menyapa Wonwoo? Kalian sudah lama loh tidak bertemu," ucap Tn. Jeon mengangguk.

Namja tampan tersebut hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis, "Annyeong Wonwoo-ya! Lama tak berjumpa," kemudian menatap ponselnya lagi.

Sedang Wonwoo menatap tajam pada musuh bebuyutan dengan bibir setebal batu bata itu bengis. Sialan! Kalau dia beneran dijodohkan dengan namja brengsek kayak Seungcheol, bagaimana nasibnya nanti di masa depan?

"Aku membawa keponakanku, sebagai ganti Woori dan Bohyuk karena mereka masih menetap di Mokpo mengurus kepindahan mereka. Yang ini namanya Jeon Jungkook dan di sebelah Jeon Junyeon,"

"Jeon Jungkook dan Jeon Junyeon, anaknya Jeon Junghoon bukan? Kemarin ketika aku dan Kibum pergi berlibur ke Maldives, kami menginap di hotelnya," Siwon bercerita, Jungkook diam saja tidak mendengarkan, ia tidak begitu peduli dengan orang-orang yang mengagumi usaha perhotelan milik sang ayah. "Ah, dan ini putri bungsu kami, Choi Seunghee, tingkat tiga di SMA Hanlim,"

"Oh.." Jungseok berhenti menyesap air putihnya, "Jungkook dan Junyeon juga bersekolah di sana. Jungkook tingkat 3 sementara Junyeon tingkat 1,"

Hani ikut tersenyum, "Berarti Seunghee teman sekelasnya Jungkook ya?"

"Mantannya Kim Mingyu." gumam namja berambut cepak tersebut seraya merapikan kemejanya. Tanpa ia sadari Jeon Wonwoo sudah terbatuk-batuk hebat.

"Wonwoo-ya, kau tidak apa?"

Wonwoo hanya melambaikan tangan tanda ia baik-baik saja, di saat perhatian tidak menaruh kepadanya, ia berbisik pada Jungkook, "Apa maksudmu, Kook?"

Jungkook hanya mengangkat bahu, "Dia mantannya Mingyu kalau hyung mau tahu, mereka pacaran sejak MOS, kudengar Mingyu berusaha untuk mengajaknya balikan, tapi Seunghee tidak mau karena kakaknya yang protektif,"

Namja berambut hitam itu tetap menganga, ia melirik Seunghee yang sibuk tersenyum manis. Kemudian, ia berubah menjadi sosok penyihir jahat.

Lihat saja kau Choi Seunghee, kau tidak bisa mendapatkan Mingyu! Karena dia itu milik-ku! Aku akan terus berbuat hal-hal yang merugikan orang lain demi menjaga Mingyu dari tangan nistamu!

Meskipun kuakui kau cantik, sangat cantik malahan, bahkan kau yang mungkin cocok bersanding bersamanya, dan tangan lentikmu itu menang banyak dari tangan kuli-ku T.T

Hey, Jeon Wonwoo! Jangan putus asa! Kau pasti akan terus bersama Mingyu!

Saking sibuknya Wonwoo merencanakan perbuatan jahat kepada adik Seungcheol, ia tidak menyadari kalau orang tua mereka membahas kegiatan yang lebih menyeramkan daripada Valak.

"Nah, bagaimana dengan perjodohan Wonwoo dan Seungcheol?"

.

.


To be Continued


.

.

Thanks to :

Arlequen Kim; xingmyun; Karuhi Hatsune; blxcklily; Ara94; Rie Cloudsomnia; jeonbeaniewoo; monwii jeonwii; aestas7; XiayuweLiu; 11234dong; kimxjeon; BumBumJin; Beanienim

Terima kasih buat reader yang sudah menjadi pembaca setia, mereview, memfave dan follow :D. Semoga masih mau baca dan penasaran sama cerita ini. Maaf ya kali ini author mau menistakan meanie dulu biar konfliknya dapet. Hehe *dihantam mingyu ke bulan* XD

Okelah, mohon review kalau ada yang menjanggal di hati ya, readerdul~~

HAIL TO MEANIE SHIP ~ppyong~