THE ENGINEER pt. 5

.

.

BarbieLuKai

.

.

A/n : apa woncoups termasuk warning? Author harus menistakan meanie terlebih dahulu. Mention of jeongcheol.

.

.


~Happy Reading~


.

.

.

Satu kata yang dibenci Wonwoo tapi ia tidak bisa menggagalkan begitu saja. Perjodohan.

KENAPA DI DUNIA MODERN GINI MASIH ADA YANG NAMANYA PERJODOHAN?!

Wonwoo menegak air mineral yang kelima kalinya karena ia tahu air tidak bisa buat mabuk. Dia saja tidak sempat mencicipi wine mahal pesanan Tn. Choi saking shock-nya mendengar keputusan yang dibuat orangtuanya.

Sialan. Sialan. Sialan.

Selama negosiasi berlangsung, yang dilakukannya hanyalah menyantap makan malam yang sudah hambar di lidah sambil memikirkan Mingyu, kekasih atau gebetan? Ah, anggap saja mereka sudah berpacaran, yang tak ada kabar sampai sekarang.

Apa ini akhir dari hubungan mereka? Ya ampun, mereka belum genap dua bulan bersama sudah ada saja masalah. Tapi dia juga tidak bisa mempermalukan orangtuanya kalau ternyata ia mengencani anak SMA, temannya Jungkook, mantannya Seunghee pula. Aduh, bisa dicoret dari daftar keluarga Jeon kalau tak menyanggupi. Di sisi lain, dia tidak mau meninggalkan Mingyu karena terlampau mencintainya. Kan serba salah!

Wajah siswa berambut abu-abu itu tiba-tiba muncul di benak Wonwoo, sedang murung menatapnya sedih jikalau ia menyetujui perjodohan ini. Tapi mau bagaimana lagi, bukan dia yang memutuskan, melainkan kedua orangtuanya.

"Kami sangat senang menerima Wonwoo sebagai menantu kami,"

"Uhuk, uhuk," baiklah, ini gelas yang ke-enam.

"Wonwoo-ya, apa kau tidak merasa gembung?" tanya Hani pada anaknya. Wonwoo menggeleng pelan, ia melirik Seungcheol sadis.

"Setidaknya aku tidak akan mabuk sampai di rumah nanti," sindirnya karena namja tampan tersebut sudah menghabiskan tujuh gelas anggur merah berturut-turut. Yang disindir masih tidak peduli, hingga Wonwoo keki sendiri.

Siwon mendelik pada anak sulungnya, "Maafkan kelakuan Seungcheol, Won. Nanti kalau kalian sudah menikah, akan kupastikan dia berubah menjadi lebih baik,"

Agar tidak membuat suasana menjadi canggung kembali, Jungseok membawa obrolan mereka ke arah pertunangan kedua namja yang saling benci tersebut. Wonwoo masih saja menatapi Seungcheol dan namja berbadan kekar meskipun pendek beberapa senti darinya tak ambil pusing melihat mata Wonwoo.

"Pertunangannya bulan depan saja!"

"APA?!"

Semua pelanggan restoran mengarah ke Wonwoo. Ditatapin banyak orang, namja cantik itu mengigit bibir karena malu sekaligus marah. "Appa, tapi kan aku belum mau menikah,"

Jungseok menatap putra sulungnya malas, "Jeon Wonwoo, kau sudah berumur 26, sudah seharusnya kau punya pendamping,"

"Tapi kan bukan sama Seungcheol juga," gerutu Wonwoo pelan agar keluarga Choi tidak mendengarnya. Hani yang mendengar gerutuannya langsung mencubit punggungnya sadis. "Appo, Eomma!"

Siwon tersenyum memaklumi melihat sifat Wonwoo yang ogah-ogahan, "Maaf Wonwoo, hanya kau orang yang tepat menjadi pendamping Seungcheol,"

"Aku kan namja!"

"Seungcheol tidak menyukai yeoja sejak SMA, kau tahu itu kan Wonwoo?" Kibum angkat suara dengan lembut dan perlahan.

Wonwoo meniup poninya, ya iyalah dia tahu, sangat tahu malahan. Bahkan saat itu Seungcheol dijuluki playboy. Huh, mengingatnya, namja bermata rubah itu hampir meledak. Akhirnya, ia tidak menjawab apa-apa. Ditambah tatapan memohon dari sang Appa dan pelototan sadis dari sang Eomma, mau tak mau Wonwoo menyetujuinya.

Kalian tidak tahu rasanya ketika melihat empat orang dewasa yang merencanakan hal laknat ini girangnya bukan main.

"Baiklah, kalau begitu rencanakan saja kencan antara Seungcheol dan Wonwoo,"

MWO?!

Namja bermarga Jeon itu menoleh ke arah orang tuanya. K-kencan?!

"Kapanpun Wonwoo bisa, Siwon-sshi. Aku akan bicara pada boss-nya kalau Seungcheol ingin mengajak kencan,"

Oh tidak. Bagaimana kalau Mingyu melihat? Wonwoo tak habis pikir apa yang harus dilakukannya. Dia meneguk kembali air yang ada di depannya. Sudah dipastikan sampai di rumah ia akan kembung.

Tapi, rasa kembung itu dapat dikalahkan dengan rasa bersalah yang luar biasa.

.

.


.

.

Mingyu mengusap peluh yang membasahi keningnya. Sudah 3 jam ia bekerja di ruangan mesin ini. Memakai pakaian super terlindungi karena asap yang meruak.

"Mingyu-sshi, apa kau sudah selesai?" tanya seorang senior, namja berambut abu-abu tersebut mengangguk lalu mematikan beberapa daya mesin yang mengatur pembuatan mesin yang lain. "Ayo kita pulang!"

"Ne, sunbae.." jawabnya sopan, kemudian memeriksa kembali apa ada mesin yang masih hidup. Setelah memastikan benar-benar padam maupun tidak bergerak kembali, ia menghampiri sunbae yang menunggunya.

"Apa kau lapar?" tanya Sukjin padanya. Mingyu mengangguk pelan.

"Ne, tapi aku akan pulang habis ini,"

"Aish, nanti dulu. Kajja! Kau akan kutraktir bubur ayam di seberang perusahaan, malam ini sangat dingin," dia berkata sambil merangkul Mingyu, sedangkan namja tampan tersebut hanya tersenyum senang dan mengikuti langkah sunbae-nya.

Mereka mengobrol seraya menunggu bubur, Mingyu menceritakan kalau ia masih sekolah dan sebentar lagi akan melaksanakan ujian.

"Bukankah seharusnya kau pulang jam 10? Kau tidak mengikuti bimbel apa?" tanya Sukjin lagi.

"Tidak, Sunbae. Kakakku tidak mau, seongsaenim juga tidak begitu mewajibkanku untuk ikut,"

"Aaah, kau enak sudah jenius, bersyukurlah dengan hal itu, Kim Mingyu,"

"Hehe, ne sunbaenim,"

"Jangan panggil sunbaenim, aku masih berumur 20 tahun, tsk. Panggil aku hyung!"

Mingyu tertawa kecil, "Ne, hyung!"

Bubur pesanan mereka datang, karena kelaparan mereka langsung saja melahap habis sampai tandas tak bersisa.

Ponsel Mingyu bergetar, ia menatap layarnya yang berkelap-kelip dengan nama Wonwoo tertera di sana.

"Yeoboseyo?"

"Ugh, Mingyu-ya? Kau di mana sekarang?"

"Aku.. sedang di luar bersama hyung-ku, Hyung.. ada apa?"

"Oh, aniya, aku hanya merindukanmu saja,"

Mendengar suara lembut Wonwoo, Mingyu tersenyum lebar, kau tidak bisa membayangkan rasa rindu namja tersebut karena beberapa hari tidak bertemu.

"Apa aku mengganggu acara kalian?" suara Wonwoo terdengar lagi.

"Aniya, apa kau sibuk sekarang?" tanya Mingyu lagi.

Wonwoo menghela napas, "Tidak juga, maaf baru mengabarimu sekarang,"

"Ne, gwaenchana, aku mengerti kok,"

"Kalau begitu, aku pergi dulu.." pamit namja cantik tersebut, Mingyu mengangguk tapi ia tahu kekasihnya tidak bisa melihat jadi ia mengguman pelan.

Dia memutuskan sambungan telepon dan mulai menyantap bubur ayamnya.

"Dari kekasihmu, eoh?" tanya Sukjin tersenyum. Mingyu mengangguk, sedikit tertegun karena seniornya bisa menebak siapa yang meneleponnya.

"Ne, hyung, dia seorang insinyur, sudah pasti dia sibuk,"

"Kau menyimpang?"

Entah itu pertanyaan mengejek atau kasihan, Mingyu hanya mengangguk, tidak ingin mengambil hati, Sukjin mengangguk-angguk paham. "Jangan dengarkan apa kata orang ya, Gyu."

"Ne, hyung.."

"Kalau kau sungguh mencintainya, lakukan baik-baik, jangan lepaskan dia. Kurasa dia cukup baik,"

Siswa SMA itu menyunggingkan senyum kecil seraya mengingat Wonwoo, "Sangat baik malahan," kemudian ia menatap keluar jendela restoran dan melihat langit malam yang begitu terang.

Sukjin yang melihat tatapan menerawang Mingyu, hanya tersenyum. Benar-benar dimabuk cinta, rupanya.

.

.


.

.

Hari demi hari berlalu, bulan apalagi. Wonwoo dan Mingyu sering menyempatkan diri untuk bertemu meskipun siswa tampan itu harus mempersiapkan ujian kelulusannya tetapi demi langit dan bumi, demi laut dan darat, Mingyu tetap menemui Wonwoo yang notabene sedang sibuk-sibuknya.

"Aku tidak melihat Mingyu hari ini," celetuk Jun saat mereka di dalam ruangan. Wonwoo melepaskan pulpen dan langsung menyandarkan diri pada kursi kerjanya, "dih segitunya.."

"Aku merindukannya.."

"Baru dua hari yang lalu kalian bertemu,"

"Hari ini sama kemarin kan beda!"

Jun menghela napas tetapi tidak berkata apa-apa. Dia melanjutkan memeriksa cetakan biru yang baru masuk tadi pagi.

Pintu ruangan mereka terbuka, dan Wonwoo dengan semangat mendongakkan wajah, siapa tahu itu Mingyu.

Dan ternyata bukan.

Cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam ruangan lewat pintu yang terbuka karena dihalangi oleh sosok namja ia benci. Choi Seungcheol.

"Mau apa kau kemari?" tanya namja berambut hitam tersebut galak. Seungcheol mendengus.

"Kau tidak diberitahu Eomma ya kalau hari ini kita kencan,"

Namja sahabatnya Wonwoo itu mengalihkan pandangan dari cetakan biru. Mendengar suara yang tak asing dengan pertanyaan yang mengejutkan juga, ia penasaran siapa orang yang baru masuk ke ruangan mereka, "Choi Seungcheol?"

Seungcheol menoleh padanya, tersenyum meremehkan, "Oh, kau masih menjadi babunya?"

Jun hampir memiting leher namja bodoh itu kalau saja mereka masih berumur 18 tahun.

Wonwoo menghembuskan napas kasar, ia beranjak berdiri dan mengambil ponsel dan dompet. "Kalau bukan karena Eomma, aku pasti nggak sudi meninggalkan ruangan yang sumpek ini,"

Seungcheol mendengus kembali, "Terserah kau sajalah," kemudian dia pergi begitu saja.

"Kenapa kau bisa dengannya?" tanya Jun masih kesal karena dijuluki babu oleh musuh bebuyutan mereka.

"Kau ini punya short term-memories ya?" tanya Wonwoo tampak menyala-nyala sedangkan Jun langsung teringat.

"Ah ya, perjodohan itu. Maaf aku sering lupa, hehe.."

"Jaga kantor ya.."

"Ne, kalau Seungcheol macam-macam telepon saja aku!"

Wonwoo hanya tersenyum seraya menutup pintu. Choi Seungcheol dan badannya yang besar! Ah, jangan lupakan bibirnya yang setebal batu bata itu, huh!

.

.


.

.

Perjalanan Wonwoo dan Seungcheol cukup menegangkan karena dua rival sejak SMA ini tidak berniat membuka percakapan sama sekali.

"Kau kan bisa bilang pada Nyonya Choi kalau kita berkencan, daripada membuang waktuku seperti ini," gerutu namja berambut hitam tersebut gusar, kemudian ia mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil yang ramai.

Seungcheol membuang napas kasar, "Bisa saja, tapi kau yang harus membayar semua mata-mata Eomma agar mau berbohong padanya,"

Wonwoo menoleh kaget, "Mata-mata? Nyonya Choi punya mata-mata?"

"Hm, kalau kau tidak mau terlibat atau membayar mereka semua, tidak usah protes,"

Mobil Seungcheol berhenti di sebuah kafe, namja tampan itu keuar tanpa ingin menunggu Wonwoo yang kesulitan melepas seatbelt. Ini memang seatbelt-nya kayak sabuk taekwondo ya? Kenapa sesak sekali sih?

"Begini saja," namja berambut hitam itu menawar ketika mereka sudah berada di depan kafe, sedang Seungcheol memutar bola matanya malas, "kita berpisah di sini, dan kau boleh pergi ke mana pun kau mau,"

"Jeon Wonwoo dan otakmu yang dangkal. Bukankah sudah kubilang banyak mata-mata di sini?" ujar namja dengan softlens biru tersebut terdengar jengkel.

Wonwoo berpikir sejenak, lalu menggerutu pelan. Akhirnya ia mengikuti langkah panjang Seungcheol memasuki kafe yang nyaman itu.

"Sejak kapan makan siang kita jadi manis-manis begini?" keluh namja cantik tersebut ketika pelayan menyuguhkan beberapa kudapan kue, "ini kan seharusnya dessert,"

"Yah." tegur Seungcheol menyeringitkan dahi, "kau memang cerewet seperti ini ya?"

Wonwoo menyunggingkan senyum kecut, "Bear with it, please!"

"Tsk."

"Ngomong-ngomong, adikmu cantik ya," Wonwoo membuka obrolan dengan memuji adik musuh bebuyutanya itu. Siapa tahu Seungcheol membeberkan kelemahan adiknya, jadi ia siap siaga untuk mengambil langkah. Tangannya memotong chocolate lava yang dipesan Seungcheol. Entah darimana namja sombong di depannya ini tahu kue kesukaannya.

"Kau penyuka anak SMA ya?" tanya namja tampan itu seraya mendengus. Wonwoo terbatuk-batuk mendengar pertanyaannya, sehingga ia harus menepuk dadanya kuat agar tidak tersedak. Demi apa Choi Seungcheol?! Nyaris saja rahasianya terbongkar!

Tapi, bukan Wonwoo namanya kalau tidak punya muka dua. Dia hanya menatap calon tunangannya yang terpaksa itu datar dan melesakkan kue coklat ke mulut lagi, "Memangnya aku tidak boleh memuji calon adik iparku sendiri?" tekannya pada kata-kata adik ipar.

Seungcheol hanya menghembuskan napas kasar, "Mana mungkin dia mau punya kakak ipar sepertimu, dasar emo."

Hampir saja milkshake vanilla yang ia pesan membasahi Seungcheol jikalau tidak ada sosok familiar yang baru saja masuk ke dalam kafe.

Wonwoo membelalakkan mata, "JEONGHAN?!"

Seungcheol yang notabene sedang minum, menyemprot cepat ke Wonwoo sesaat mendengar nama yang paling sakral di hidupnya.

"YAK!" teriak namja itu bersiap menyiram calon tunangannya itu. Tetapi diurungkan niat karena seorang namja berambut bob sudah menghampiri meja mereka.

"Wonwoo?" panggilnya tak yakin. Wonwoo malah menyeringai gembira. Seungcheol yang melihatnya langsung merinding. Mereka berpelukan seperti dua sahabat yang terpisah selama bertahun-tahun. Wonwoo menatap kagum sahabat SMA-nya yang begitu cantik dan anggun. Sedang Seungcheol mengalihkan wajah.

"Akhirnya kau kembali juga!"

Jeonghan tersenyum lembut, "Sebenarnya, orangtuaku menyuruh ke Cali lagi karena harus mempersiapkan sesuatu,"

Mata Wonwoo berbinar-binar, "Kau akan menikah ya?"

"Uhuk. Uhuk."

Kedua sekawan itu menoleh pada Seungcheol yang tersedak kue. Jeonghan tertawa geli sementara Wonwoo memutar bola matanya kesal.

"Ne, kau benar,"

Seungcheol tambah batuk.

"Aish, cepat minum!" pekik Wonwoo emosi karena tunangan yang ia benci itu masih tersedak mendengar pernyataan Jeonghan. Lalu, ia berbalik menatap sahabatnya, "kalau begitu selamat! Semoga kau langgeng dengannya? Who is this lucky guy?"

"Guy?!" teriak namja bermarga Choi yang telah selesai dari acara tersedaknya. Jeonghan tertawa geli.

"Jackson Wang."

"Tsk," Seungcheol berdecak sehingga Wonwoo menginjak kakinya keras, "sakit brengsek!"

"Kau yang brengsek!" balas Wonwoo tak mau kalah. Ia meminum milkshake-nya sekali lagi lalu menarik Jeonghan pergi menjauhi Seungcheol. "kita pergi saja, Jeonghan-ah!"

"Kalian berpacaran?" tanya Jeonghan menyempatkan diri melihat Seungcheol yang memanggil-manggil nama Wonwoo. Namun, namja bermarga Jeon tersebut tidak mengindahkan.

"More than that!" sahutnya.

Namja berambut bob tersebut menaikkan satu alis, "Kau menikah dengannya?"

"Ugh, aku harap tidak,"

"Lalu?"

"Aku dijodohkan dengannya," balas Wonwoo bersungut-sungut. Jeonghan tertawa geli.

"Chukkae!"

Wonwoo hanya menatap sahabatnya, "Seriously Jeonghan? Chukkae?"

Sedang Jeonghan hanya mengangkat bahu, "Apa yang harus kulakukan selain mengucapkan selamat?"

"Apa kau masih mencintainya?" tanya Wonwoo straight to the point.

Tiba-tiba pandangan Jeonghan tampak murung dan sedih, sehingga tanpa menjawab pun Wonwoo sudah paham dengan situasinya. Untuk itu ia memeluk sahabatnya tersebut.

"Araseo, aku mengerti.. Semoga kau bahagia dengan seseorang bernama Jackson Wang,"

Jeonghan malah menyengir, "Sebenarnya itu cuma akal-akalanku saja, Jackson Wang itu teman kuliahku, sekarang dia sudah menikah,"

Entah seperti apa wajah Wonwoo sekarang karena dia benar-benar tidak percaya apa yang sudah dia dengar dari temannya.

"Kau membohongiku!"

"More like lied to him," namja cantik itu mengangkat bahu. "tapi kau jangan bilang siapapun kalau aku masih mencintai namja brengsek sepertinya, huft.."

Namja bermarga Jeon tersebut mengangguk sambil mengusap bahu Jeonghan pelan. "Tenang, kawan. Rahasiamu akan selalu aman bersamaku,"

"Haha, bagaimana kalau kita mengajak Jun makan siang? Yah, hitung-hitung reunian,"

"Ide yang bagus! Kajja, kita cari bus!" Wonwoo menarik Jeonghan ke arah halte terdekat, mereka saling bertukar cerita dan pengalaman selama mereka tidak bertemu.

.

.


.

.

Mereka berjalan sekitar beberapa blok untuk mencapai kantor Wonwoo. Ketika mobil yang ia kendarai tadi pagi sudah nampak di depan mata, mereka bergegas mempercepat langkah.

"Jun-sayaaaannggg~~"

Jun menaikkan alis sembari mengalihkan pandang dari berkas, ia membelalakkan mata saat melihat sosok yang sangat dikenalnya. "ASTAGA JEONGHAN!"

Jeonghan menyengir dan berlari memeluk sahabat lamanya, "Bogoshippo, Junnie!"

"Ne!" Jun tampak bersemangat membalas pelukan Jeonghan erat, "astaga, astaga, kupikir kau sudah menghilang,"

Wonwoo mengerucutkan bibir, ia berdeham sedikit, menyadarkan kedua sahabat, "Kalian jangan bermesraan di depanku dong!"

Jun mengacak surai hitam Wonwoo gemas, "Dasar emo! Gitu aja ngiri!"

"Apa kau bilang?!"

Namja berambut bob itu segera melerai perang mulut sebelum berdampak negatif. Masih terlihat gurat-gurat kekesalan Wonwoo meskipun Jeonghan sudah mengakhiri. "Kajja, kita makan siang di restoran ayam," ajaknya.

Si Cina mengangguk setuju, "Boleh juga, pakai mobilmu saja ya, Mo!"

"JUNHUI!" Wonwoo ingin mencekik teman sekantornya, kapan sih Jun sekali saja jangan menyebutkan julukan laknat-nya!

Jeonghan menarik kedua sekawan, "Ayo! Ayo! Aku sudah lapar nih!"

Akhirnya, ketiga namja yang merupakan sahabat SMA tersebut keluar dari bangunan dan Jun menyetir mobil Wonwoo ke restoran ayam langganan mereka.

Melewati SMA Hanlim, Wonwoo mengigit bibir sembari memikirkan sedang apa Mingyu saat ini. Kapan ya mereka bisa kencan, walaupun dia sudah menyakiti bocah itu?

.

.


tobecontinued


.

.

Terima kasih buat semua reader yang sudah menyempatkan baca. Mohon maaf kalau ada adegan yang membuat kalian tidak enak, atau benci, atau ga suka, atau terserah, haha. Ditunggu reviewnya^^ hail to meanie ship ~ppyong~