"ryouta apa kau menyukai makanannya. Okaa-san tidak tahu makanan kesukaan mu jadi okaa-san hanya memasak makanan kesukaan seijuuro saja."
"tidak apa okaa-san, aku suka dengan makanan ini."
"wah baguslah kalo memang begitu." Okaa-san bangun dari duduknya dan meninggalkan meja makan.
"seijuuro, bagaimana dengan laporannya sudah kau selesaikan."
"sudah otou-san hari ini sudah menyelesaikannya. Besok pagi bisa otou-san periksa kembali."
"baguslah. Dan ini pertemuan pertama mu dengan ryouta ya."
"iya otou-san."
Kise masih sibuk dengan makanan yang ada dipiringnya dan berpikir bagaimana menghabiskannya karena kise harus menjaga berat badannya. Kemarin malam kise sudah makan burger dan sekarang dia makan daging oh tentu untuk seorang model ini adalah hal buruk.
"apa kau sudah kenyang ryouta."
"ah sedikit otou-san tapi akan ku habiskan." Kise tersenyum dengan indahnya kearah otou-san.
"bagaimana dengan karir mu apakah sudah mulai berjalan ?"
"aku akan menjalani pemotretan untuk beberapa majalah otou-san 2 hari dari sekarang di Kyoto dan sepertinya akan menginap disana 2 malam."
"kau dengar sei, bila senggan lebih baik kau temani ryouta."
"aku tidak senggan banyak hal yang harus ku kerjakan otou-san."
Mendengar jawaban dingin keluar dari mulut akashi seijuuro membuat kise ryouta menahan kesalnya.
"siapa dia dan siapa yang mau ditemani." Batin kise.
"SELAMAT ULANG TAHU SEIJUURO." Okaa-san datang dengan kue ulang tahun ukuran besar ditangannya.
Kise hanya tersenyum melihat okaa-san memberikan kejutan ulang tahun untuk putra sulunya tersebut.
"make a wish darl."
Akashi pun menutup matanya untuk sesaat sampai kembali membuka matanya dan meniup lilin diatas kue itu.
"selamat ulang tahun seijuuro."
"terima kasih otou-san, okaa-san."
"an..anoo… selamat ulang tahun seichi."
Akashi menatap orang yang baru saja memberinya selamat ulang tahun.
"seichi. Maksud mu apa ?" Tanya akashi dingin.
"ano aku menambahkan kata chi untuk orang yang aku hormati."
"hem. Terima kasih."
"wah ryouta kau manis sekali yaa." Puji okaa-san.
"baiklah ini hadiah untu mu." Otou-san memberikan kotak kecil ke akashi dan akashi pun membuka kotak itu dan menemukan kunci mobil.
"terima kasih otou-san."
"sama-sama kau bilang kau ingin punya mobil sport kan. Jadi itu hadiah ulang tahun untuk mu dan kau harus merawatnya baik-baik."
"sekali lagi terima kasih otou-san."
"dan ini hadiah dari okaa-san." Kali ini okaa-san memberikan amplop berwarna merah ke akashi dan saat akashi membukanya
"ini tiket liburan okaa-san ?"
"hem. Itu 2 tiket liburan untuk mu dan ryouta dan kalian akan berangkat besok."
"aku tidak mau." Akashi menyerahkan tiket itu ke okaa-san.
"kenapa ?" okaa-san memasang wajah sedihnya dan akashi tidak tega dan menarik kembali tiket itu.
"hanya 1 hari sei dan tidak ada salahnya mengajak ryouta jalan-jalan kan."
"terserah okaa-san saja."
"an..anoo maaf ini untuk mu seichi." Kise memberikan bingkisan berwarna kuning ke akashi dan akashi dengan ragu mengambilnya.
"apa ini?" lagi-lagi tanyanya dengan dingin.
"kau buka saja dan mudah-mudahan kau suka." Kise tersenyum dengan indah namun hanya mendapat tatapan dingin dari akashi.
Akashii membuka kado yang diberikan kise dan menemukan sebuah scraft berwarna putih dengan ukiran yang khas dengan salah satu brand terkenal.
"wah bukan kah itu model terbaru keluaran salah satu brand terkenal ya dan bukan kah itu hanya ada 5 diproduksinya."
"wah okaa-san mengetahuinya ya." Kise dengan sopan menjawab pertanyaan okaa-san.
"kau memang model yang tahu fasion ryouta dan sepertinya sangat cocok dengan sei. Apa kau sengaja menyiapkan ini dari amerika?"
"nee-chan menyuruh ku membelikan sesuatu untuk seichi dan kuputuskan membeli itu dan tak kusangka kalau seichi berulang tahun jadi itu menjadi kado saja."
Acara makan malampun berlanjut dengan obrolan ringan namun akashi sama sekali tidak bersuara dan sesekali ia mengecek dan membalas email dari seseorang.
"okaa-san, otou-san aku izin untuk pulang karena sudah malam."
"iya. Kau bareng saja dengan ryouta kalian kan 1 apartemen."
"tidak usah okaa-san saya bisa naik taksi."
"hahahahaha kau memang lucu ryouta. Toh kalau bareng dengan sei pun lebih baikan kalian bisa saling berbincang karena okaa-san perhatikan kalian dari tadi tidak saling mengobrol."
"apa tidak apa-apa seichi ?" kise bertanya dengan sopannya ke akashi.
"hem."
Akashi bangkit dan memberikan salam untuk kedua orang tuanya lalu pergi meninggalkan ruang makan dan kise pun melakukan hal yang sama namun ia harus berlari kecil mengejar akashi yang jalan didepannya.
Disinilah mereka berada dalam satu mobil namun tidak sama sekali memulai pembicaraan dan lagi-lagi akashi mengecek dan membals email dengan seseorang. Kise hanya menatap lurus kedepan jalan yang bertaburan dengan salju yang mulai turun.
"ryouta bisa kau pulang sendiri saja."
"hah."
"kau pulanglah duluan ada urusan yang harus ku selesaikan dulu."
"hem iya tidak apa-apa."
Lalu akashi menurunkan kise disebuah halte dan menunggu taksi datang saat kise sudah naik kedalam taksi itu akashi pun masuk kemobilnya dan melanjutkan perjalannya.
.
.
Didalam taksi kise merasa kesal dengan sikap akashi. Kalau memang tidak bisa pulang bersama kenapa tidak bilang dari awal saja kan tidak perlu kise harus terjebak dengan suasana hening dalam mobil itu dengan akashi didalamnya.
"dingin, cuek, dan menyebalkan sekali akashi seijuuro. Lihat saja akan ku buat kau menyukai ku."
.
.
Akashi menghentikan laju mobilnya didepan rumah kekasihnya dan berdirilah kekasihnya didepan pintu rumah dengan wajah cemasnya. Akashi turun dari mobil dan menghampiri kekashinya itu.
"sei, nenek demam tinggi sekali. Bagaimana ini ?" kuroko langsung memeluk akashi dan menangis.
"kita bawa saja kerumah sakit."
"baiklah."
Kuroko melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar neneknya disusul akashi yang berjalan dibelakangnya lalu setelah itu akashi menggendong nenek kuroko. Sampai didepan mobil kuroko membukan pintunya dan akashi perlahan merebahkan tubuh nenek kekashihnya itu didalam mobil lalu dengan sigap ia masuk begitu juga kuroko yang duduk dibelakang menemani neneknya dan akashi langsung menjalankan mobilnya.
Sampai dirumah sakit akashi menemani kuroko menunggu hasil pemeriksaan dokter mengenai keadaan neneknya. Dan hasil pemeriksaan pun keluar dan nenek kuroko harus dirawat sampai demamnya turun. Lalu kuroko menyetujuinya dan neneknya pun dipindahkan keruang perawatan.
Kuroko duduk didepan ruang perawatan neneknya sembari menelfon kedua orang tuanya memberitahukan keadaan neneknya. Setelah selesai menelfon kuroko menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"ini untuk mu." Akashi menyodorkan roti dan vanilla milkshake ke kuroko.
"sei, kau dari mana saja."
"membelikan mu makanan karena aku tahu kau belum makan malam."
"terima kasih sei dan maaf merepotkan mu."
"tidak apa-apa. Bagaimana dengan keadaan nenek ?"
"nenek sudah tertidur dan malam ini aku akan menemani nenek dirumah sakit."
"aku akan menemani mu juga disini."
"tapi sei."
"tidak apa-apa." Akashi memeluk kuroko dan mendaratkan ciuman hangat dikening kuroko.
"terima kasih sei." Kuroko pun mengeratkan pelukannya.
.
.
.
Matahari sudah muncul dan meninggi dan memaksa masuk kedalam ruangan yang didalamnya ada seorang wanita dengan surai kuning tertidur dengan damainya sampai akhirnya dia terbangun Karena silau cahaya matahari.
"ohayou." Ucap kise untuk dirinya sendiri.
Kise pun duduk dan melihat sekitar dan mencoba mengingat kejadia kemarin malam. Ya kemarin malam ia tidak tertidur sampai dengan jam 4 dan tidak menemukan akashi kembali ke apartemennya. Sampai rasa kantuk menyerang tubuh kise dan kise pun kalah dan marebahkan dirinya dikasur dalam kamarnya.
"lagi-lagi dia tidak pulang. Aku penasaran sebenarnya kemana seichi pergi." Kise berbicara dengan dirinya sendiri. Lalu ia memutuskan untuk keluar kamar.
Baru dia membuka pintu kamarnya, pintu apartemen terbuka dan Nampak sosok seorang akashi seijuuro masuk kedalam apartemen. Kise hanya mematung melihat akashi yang baru saja pulang.
"ohayou seichi."
"ohayou." Jawab akashi dengan nada dinginnya.
Bersambung -
