TENGOK KE DALAM
Chapter 3
Kohan44
"Apa aku perlu mengeceknya?"
"Tidak. Tidak perlu. Bahkan kalau Levi tak keluar dari kamar Eren sampai lewat jam 10, biarkan saja. Kita lihat besok pagi." Grisha beringsut dari kursi tanpa sekalipun menyentuh atau melirik teh buatan Mikasa yang masih mengepul. Tapi Mikasa pun tidak mempermasalahkannya. Kepalanya mendongak memperhatikan langit-langit dan lampu yang seolah bergetar merasakan dua makhluk hidup di atasnya. "Apa kau ingin kuliah seperti Eren, Mikasa?"
Mikasa berpaling, menatap wajah Grisha yang baru disadarinya memiliki banyak keriput di wajah.
TENGOK KE DALAM
Chapter 3
Kohan44
"Eren, aku masuk."
Eren terperanjat jatuh berguling dari sofa. Laptop di mejanya menyala, bungkus makanan dan remah-remahnya berdesakan saling berebut tempat di meja, kertas-kertas berserakan hampir di seluruh sudut lantai kamar, dan ranjangnya tertutupi buku-buku pelajaran sampai tak ada ruang untuk siapapun tidur di atasnya. Levi mengira-ngira, dengan keadaan seperti ini, bagaimana bisa Grisha mengkhawatirkan nilai ujian Eren.
"Le-eh- Sensei, kenapa ada di sini?" Eren mendongak dengan rambut acak-acakan, entah dia sudah mandi atau belum, yang jelas kemungkinan besar dia baru bangun tidur.
Levi menutup pintu seraya berjalan mendekat. "Akhirnya kau bic-"
"TIDAK, SENSEI! TIDAK! STOP! BERHENTI!" Eren mengibas-ngibas kedua tangannya, berusaha keras menghentikan tiap langkah Levi yang tanpa merasa berdosa menginjak lembar demi lembar kertas berisi penuh tulisan. "Kau menginjak referensi skripsiku!"
"Apa? Skripsi? Kau kan masih semester muda."
"I-iya sih.. tapi kan.. SENSEI! BERHENTI!"
Levi berdiri di atas satu kaki, kakinya yang lain melayang-layang di atas lembaran kertas, mencari setidaknya satu inci ruang kosong yang begitu sulit ditemukan.
"Aku harus kemana?!"
"Tunggu! Tunggu! Tunggu!" Eren meraup beberapa lembar di dekat meja, merapikannya terburu-buru.
"Cepat! Kakiku pegal!"
Eren semakin dekat dengan Levi, mengumpulkan kertas demi kertas, dan membuka jalan untuk Levi. Saat jarak semakin menepis, Eren hendak meraup gumpalan kertas terakhir yang menghalangi Levi, namun Levi tak bisa bertahan lagi dan kehilangan keseimbangan, jatuh di atas Eren, dan mereka meniduri kertas-kertas yang Eren harap tidak pernah disentuh siapapun selain dirinya sendiri.
"Kau harus membersihkan kamarmu, E-ren."
Pada akhirnya, satu jam pertama berlalu untuk membersihkan kamar. Eren tahu, bersih-bersih selalu menjadi kegiatan favorit Levi dan itu menjadi tugas utama Levi ketika mereka masih tinggal satu atap. Tapi, kali ini Eren tidak bisa tidak merasa enak membiarkan Levi melakukan bersih-bersih.
"Kau pasti haus, akan kuambilkan minum."
"Tidak usah." Levi menarik tangan Eren sampai anak itu kembali menghadapnya. "Aku ingin membuat ini cepat. Ada apa denganmu?"
"Ha? Apa?" Eren termangu dibuat-buat, matanya bergantian menatap mata Levi dari kiri ke kanan dan sebaliknya.
"Sebenarnya aku senang kau sempat berhenti mengunjungi sekolah minggu lalu." Levi melepas tangan Eren. "Tapi itu membuatku berpikir kau diculik alien. Apalagi kau tidak pernah mengirimiku pesan lagi."
"Buat apa?" Eren membalas dengan nada datar, membuat Levi mendongak ke arahnya.
"Jika kau ingin pergi, setidaknya kau harus ucapkan salam perpisahan yang benar."
"Jadi, kau tidak apa-apa kalau tak pernah bertemu denganku lagi?"
Levi tidak lekas menjawab, karena dia tahu kata-kata selanjutnya yang keluar tidak mungkin baik diucapkan di kediaman pemilik sekolah tempatnya bekerja. "Sini, duduk," Levi menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya tapi, Eren masih membeku seperti patung.
"Sensei.." Levi mendongak lagi, menunggu Eren melanjutkan kalimatnya. "Aku punya pacar."
"Bagus kalau begitu," Levi menyahut cepat. "Apa kau bisul sampai tidak mau duduk?"
"Kau benar-benar tidak ada rasa untukku ya?"
"Ha?" Levi mengernyit. "Rasa?" dan Levi memikirkan sejenis beri, coklat, dan gula-gula.
"Sensei, kau sudah tua. Kenapa tidak cepat menikah?"
"Astaga," Levi mendecak membuang tatapan. Mulutnya bergerak-gerak membisikkan sumpah serapah. "Ini pasti lama."
"Sensei, kenapa?" Eren mengulangi pertanyaannya.
"Kemari, duduk dulu. Kalau tidak, aku tidak akan menjawabnya." Dengan itu, Eren pun patuh. Kemudian Levi menjawab, "aku akan menikah pada waktunya nanti. Hei, apa pacarmu cantik?"
"Dia bukan perempuan."
"Oh, apa dia ganteng?"
"Emm.. kenapa kau bertanya?"
"Apa aku tidak boleh tahu?"
"Kau kan tidak peduli."
"Apa kau benar-benar punya pacar, Eren?"
"Tentu saja aku punya! Memangnya Cuma kau yang bisa pacaran?!"
Lalu hening. "E-eh.." Eren terbata, menyadari dirinya mengeluarkan suara terlalu keras.
Ayahmu memaksaku melakukan ini. Levi mengerlingkan mata. "Aku dan Erwin tidak pacaran."
"Eh?" Eren memiringkan kepalanya.
"Apa? Kau tidak senang mendengarnya? Bukankah itu yang membuatmu berhenti datang ke TK?"
Kernyit di kening Eren berangsur-angsur menghilang dan berubah sumringah oleh gelak tawa. "HAHAHAHA Siapa bilang? Ya Tuhan," Eren berguling-guling menahan perutnya. "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA—" ada yang aneh dengan tawa itu, pikir Levi. Apa yang dikatakannya sangat lucu? Oh, tunggu..
Astaga, aku dipermainkan.. ditertawai.. aku.. malu sekali. "DASAR BOCAH TENGIK!" Levi melayangkan serangan, menggerayangi titik-titik yang tidak pernah Levi lupa itu adalah bagian yang selalu sukses membuatnya menang dalam perang gelitikan.
"BWAAAHAHAHA— ampun, sensei! Ampun!" tapi Levi tidak berhenti. "Iya! Iya! Aku bohong! Kau benar! Tolong berhenti!"
Permainan itu berhenti dengan keringat dan nafas yang menderu, juga sisa tawa Eren.
"Jadi, apa hubungannya dengan kau berhenti bicara pada keluargamu?" seketika Eren hening. "Dan kau juga mengurangi porsi makanmu." Sekalipun kelihatannya porsi itu tidak berpengaruh ke berat badanmu.
"Levi, darimana kau tahu semua itu?"
Ah, sial. "Ayahmu."
"APA?!" Eren menutup wajahnya sendiri dengan bantal sofa, berguling ke kiri lalu ke kanan, menahan teriakan di balik bantal empuk.
"Kenapa? Merasa seperti anak perempuan, hah?" Levi mendengus. Hal terbaik mengenal putra Jaeger adalah Eren masih muda dan sangat menghibur, seperti memiliki seorang perawan.
"Aku tidak percaya padamu, Levi."
"Siapa yang memintamu percaya padaku? Oh, kemana panggilan sensei-ku?"
"Diam kau!" Eren melempar bantalnya ke muka Levi, dan Levi membiarkan bantal itu mengenainya. "Mengecewakan." Desisnya yang langsung merolot di sandaran sofa.
"Kau berharap apa dari pria tua ini, hah?" Levi mengacak-acak rambut Eren, lalu ikut bersandar di sofa yang sama.
Mendengar pernyataan Levi tentang hubungannya dengan Erwin, Eren merasa itu apa yang ditunggu-tunggunya. Tawanya yang meledak tadi, Eren sadar betul bukan karena ada sesuatu hal yang lucu. Perasaan resah, kecemasan tiap kali melihat Levi bersama polisi itu, yang tentu saja Eren tahu polisi itu bukan kebetulan lewat TK Jaeger, itu mengganggu hari-harinya. Tawanya meledak tak henti seperti kegelisahannya yang terlepas dengan tenang, melegakan dada. Bahkan duduk diam di sisi Levi seperti ini, rasa khawatir pun tak mau hinggap. Ini membuat tubuh dan pikirannya benar-benar beristirahat. Dua hari lalu Eren tak tidur sama sekali gara-gara sibuk menimbang apa dia harus membalas pesan Levi atau tidak, dan mendengar Levi menunggu-nunggu balasan darinya, Eren merasa hatinya berbunga-bunga.
"Sensei, Kalau kau tidak pacaran dengan Erwin, lalu alasanmu menolak jadi pacarku apa karena... umm.." Eren menggantungkan kalimatnya.
"Aku menyukaimu," Levi meneruskan.
"Berarti mulai saat ini kita pacaran!" Eren bangkit menyahut cepat.
"Kau kan sudah punya pacar."
"Eh? Ehehehe.." Eren menyeringai mengakui kebohongannya.
Levi berdecak, menarik leher Eren, memaksanya kembali bersandar. "Apa semua perawan muda di muka bumi ini sepertimu?"
"Apa? Aku bukan perawan, Sensei. Aku bujang. Perawan cuma buat perempuan. Kalau kita sama-sama suka, kenapa kita tidak bersama?"
Tunggu. Levi tertegun teringat sesuatu yang pernah dikatakan Erwin. Eren benar. Erwin mengataiku perawan, dan aku diam saja. SIAL! Levi mendesis kecil.
"Jawabannya sederhana kan? Kau bujang polos yang bahkan tidak tahu cara masturbasi."
Eren berjenggit, menatap pria yang pernah sering tidur satu ranjang dengannya di hari-hari suci dimana tidur bersama berarti memejamkan mata sambil menelantangkan tubuh berdampingan, dan bermimpi bersama sekalipun tak memimpikan hal yang sama, hanya itu. Tidak lebih. Eren tak mempercayai kata-kata macam itu bisa keluar dari guru yang Hange bilang adalah guru favorit anak-anak. Seolah kata masturbasi adalah hal lumrah bagai mengatakan 'oh, kau bisa mengendarai sepeda?'
"Apa?" Levi balik bertanya saat tatapan Eren terlalu lama bertengger di matanya.
"Kau mau mengajariku?" Eren lebih tak mempercayai mulutnya yang lancang berkata. Mengajarinya masturbasi. Masturbasi. Masturbasi. Masturbasi bersama sensei. Tiba-tiba isi kepalanya dipenuhi satu hal paling jorok.
Levi mendesis beringsut dari sofa. "Ah, sudah malam. Aku harus pulang."
"Sensei!" Eren menahan lengan Levi. "Kalau aku tahu cara masturbasi, apa kau mau jadi pacarku?"
Levi mengerlingkan mata, tak lekas menjawab. Reaksi Eren, seperti yang diduganya, walaupun sekarang Eren menjadi anak kuliahan, masih seperti anak-anak. Apa Eren belum pernah masturbasi sekali pun? Levi menebak dan mengira-ngira, apa mungkin Eren tidak pernah punya majalah porno?
"Tergantung. Kalau kau cukup memuaskan..." Levi membiarkan Eren termakan kalimatnya yang berhenti di tengah, cengkraman Eren mengendur seiring dirinya dikejutkan oleh jawaban Levi dan itu kesempatan yang tepat bagi Levi untuk melarikan diri.
"Selamat malam, Eren." Levi menutup pintu kamar Eren, berpura-pura tak tahu bahwa sebelum pintu tertutup rapat, Eren menoleh ke arahnya, memohon untuk kembali karena baginya pembicaraan ini belum selesai.
Permasalahan orang dewasa tidak pernah selesai, Levi membatin meyakinkan dirinya sendiri atas keputusan yang diambil. Ketika berbalik, seseorang telah menunggu Levi, dan dari cara orang itu berdiri, nampak dia telah menunggu lama.
"Bersenang-senang di dalam?" kata orang itu bernada sarkastis.
"Di dalam yang mana maksudmu?" Levi menyeringai, membuat gadis itu menahan geram di rahang. "Aku merasa fantastik di dalamnya, jika kau ingin tahu. Selamat malam, Mik-ass-a." Kemudian Levi berlalu sambil bersyukur mereka berada di kediamann Jaeger. Jika tidak, mungkin Levi dan Mikasa sudah adu jotos.
Levi membuka ponselnya untuk mengecek jam di ponselnya bergerak dengan baik. Dia tidak seharusnya membuka ponselnya semenit sekali. Ponselnya memang bukan smartphone, tapi tentu saja ponselnya cukup canggih untuk menunjukan waktu, bahkan waktu di belahan bumi yang lain.
"Papa, kapan Daddy pulang?"
Levi mengangkat kedua bahu tanpa menatap Armin. Matanya masih berfokus pada layar ponsel yang tak menunjukan tanda-tanda sebuah pesan atau panggilan datang, sementara di salah satu sudut atas, kotak baterai mulai memberinya tanda peringatan. Jempolnya bergerak menekan-nekan beberapa tombol sampai layar flip-nya maju-mundur seakan mau menutup tapi terbuka lagi.
"Papa?" Armin memanggilnya lagi, tapi Levi mengabaikan.
"Sialan. Sialan. Sialan. Sialan. Sialan." Mulutnya mengumpat mengulangi satu-satunya kata yang menurutnya itu cukup aman dikeluarkan di TK di jam semua murid seharusnya sudah berada di rumah dan makan malam.
"Pap-eh, Sensei..."
Kali ini, suara imut itu bergetar. Levi meliriknya, menemukan sepasang mata bulat basah berlinangan air mata. Nafasnya tersedu-sedu menahan isak. Anak ini cengeng, Levi selalu berpikir begitu.
"Daddy-mu akan pulang. Tenang saja. Cuma terlambat seperti biasa."
Armin menundukan kepala lagi. Punggungnya melengkung memeluk lutut. Suaranya mencicit menahan isak. Levi menarik bahunya mendekat, membuatnya menggeser mendekat.
"Papa, dingin..."
Sesaat, Levi menonton bocah berambut pirang itu. Hidung dan pipinya kemerahan, entah karena dia menangis atau suhu memang benar-benar membuatnya menderita. Erwin berkali-kali mengatakan Armin sensitif terhadap suhu, tapi Levi tidak pernah melihat Armin sakit gara-gara kepanasan atau kedinginan. Levi merangkul Armin, membiarkan tangannya bertengger di bahu Armin seperti sayap induk burung yang melindungi telur-telurnya. Tangannya menepuk-nepuk pelan. Apapun yang sedang terjadi dengan Armin, itu bukan karena suhu. Isak Armin tak mereda. Air matanya bergulir cepat.
Sudah jam 6 lewat. Masih tak ada kabar dari Erwin Smith. Entah apa yang menahannya dari jam pulang. Ini bukan yang pertama kalinya. Pekerjaan mengabdi kepada negara selalu memberi Erwin macam-macam tugas yang mengejutkan dan terkadang di luar jam kerja. Kalau sudah begini, Levi harus membawa Armin ke apartemennya, memasak makan malam untuknya, memandikannya, dan meninabobokannya. Selama itu, butir-butir air turun melintasi pipi Armin, bibirnya mengeluarkan isak bisu. Mereka tak saling bertukar kata. Levi memangkunya, membiarkan Armin bersandar di bahu sampai pundaknya basah dibanjiri air mata. Lama-lama Armin kelelahan, lalu jatuh tidur.
Levi tahu perasaan sesak menunggu sambil merindu bersama perasaan cemas kalau-kalau orang yang ditunggu tak pernah datang. Isi kepalanya berlarian, apa dia akan pulang? Apa dia melupakanku? Apa aku dibuang? Dia tidak menyayangiku? Aku... dibuang. Dan jika Erwin benar-benar membuang Armin, sekalipun pada kenyataannya Erwin tidak mungkin melakukan itu, Levi bersumpah tidak akan membiarkan anak ini sendirian. Entah mengapa dia bersumpah. Yang diketahuinya hanyalah... dibuang dan sendirian itu... mengerikan.
Bel apartemen Levi berbunyi pada jam 11 malam lewat 30 menit. Levi langsung tahu siapa tamu yang berkunjung di jam selarut ini.
"Maaf, aku pulang terlambat," kata tamu tersebut sebagai kalimat pertamanya saat pintu terbuka memperlihat wajah masam Levi. Tanpa mempersilahkan masuk, Levi meninggalkan pintu dan membiarkan tamu itu mengganti sandal dan menggantungkan mantelnya seolah-olah berada di apartemen sendiri.
"Aku bertemu perampokan di jalan pulang." Erwin mengendurkan dasinya sambil berkeliling apartemen. "Mereka kabur dengan motor, lalu menabrak mobil." Katanya menjelaskan. "Oh, Armin sudah tidur." Katanya setelah menemukan Armin di kamar Levi. Erwin merunduk, mencium wajah tidur Armin. Kemudian dia kembali ke ruang tengah dimana Levi duduk menyalakan tv.
"Bisa kau buka?"
Erwin menarik-narik simpul dasinya di hadapan Levi, tepat berdiri menghalangi pandangan dari tv. Itu, tentu saja, membuat kening Levi berkedut. Sebelah kakinya terangkat, mendorong dada Erwin sampai laki-laki berambut pirang itu jatuh terduduk.
Sekarang, setelah Levi berkerja di TK Jaeger, mengurus satu anak, apalagi Armin, bukanlah masalah besar. Levi bisa mengatasinya seolah-olah membersihkan noda hujan di jendela. Tapi, satu tendangan yang tak menyakitkan tidak cukup untuk bayarannya.
"Kenapa?" Suara ramah Erwin hilang sekalipun Levi menarik dasinya, mengotak-atik dasi yang entah bagaimana bisa terikat simpul mati. Levi tak menjawab pertanyaan itu, membiarkan bising tv menyela percakapan mereka, mengaung jelas.
"Oh," Erwin membenarkan posisi duduknya, membiarkan Levi melepas dasi dengan leluasa. "Maaf jika Armin berbuat nakal dan merepotkanmu hari ini." Suara ramah itu terdengar lagi, menarik kesimpulan sendiri. "Apa aku boleh bermalam di sini?"
Bibir Levi menekuk dan kedua alisnya tegak lurus.
"Levi, jika kau tak bicara, aku tak tahu apa yang terjadi padamu."
Diam kau, brengsek. Aku sedang menahan diri supaya tidak menghajarmu. "Sebenarnya aku tidak perlu meneleponmu sampai 36 kali dan mengetik 10 pesan. Karena aku tahu kau tak akan membalas."
"Oahahaha—" Erwin tertawa sembari, akhirnya, mengendurkan dasinya sendiri. "Aku sudah mengetik pesan balasan. Aku baru sadar ketika aku sudah di dekat apartemenmu, ternyata aku tidak menekan tombol 'kirim'."
Persetan. Aku tidak butuh penjelasanmu. "Bukan itu. Armin.."
"Dia meminta susu?"
Levi mengerling untuk kemudian kembali menatap Erwin. "Kau bisa hentikan leluconmu membuat Armin memanggilku Papa." Sudah berapa lama Armin memanggilnya Papa? Dan tiap kali Armin memanggilnya begitu, Levi bersyukur Armin tak melakukan itu di luar apartemen. Sore tadi adalah yang pertama kali.
Sesaat, Erwin kehilangan ekspresinya. Dia mendekat, menepuk paha Levi, menatapnya langsung di mata, dan berbicara tanpa berkedip, "aku tidak membuat lelucon soal itu."
"Papa? Buat apa? Aku bahkan tidak menyumbang sperma di rahim istrimu."
"Bhaahahahaha—" jawaban Erwin, tertawa terbahak-bahak, tak peduli suaranya mungkin bisa membangunkan Armin, dan dia tak berhenti dalam lima menit. Levi tahu polisi ini tidak akan memberi jawaban serius kepadanya sekalipun sedang mengenakan seragam kepolisian.
"Brengsek."
Kenapa laki-laki homo ini menikahi seorang perempuan dan bahkan memiliki anak? Levi masih mengira-mengira.
.
.
Hai!
Kohan di sini, terimakasih sudah membaca TKD Chapter 3!
Sebenarnya, I stand with Ereri, tapi Eruri itu susah sekali ditolak ^^"
Masing-masing chapter sejauh ini memuat 3 halaman A4. Tadinya ingin bikin yang lebih panjang, tapi... mungkin itu bakal mengurangi daya tarik? ^^"
Sewaktu saya baca doujin Ereri, saya tidak pernah tidak jatuh cinta kepada karakter guru TK Levi /lovelove/ aura tsunderenya kuat sekali!
Terimakasih untuk yang sudah membaca dari awal sampai akhir! Untuk selanjutnya, TKD akan diupdate dua minggu sekali atau lebih jarang dari itu. Karena jadwal semakin padat.
Oh iya, saya akan mengadakan challange di grup fb FFN. Nantikan ya.. ^^
Salam,
Kohan
