Mohon review nya minna.

Mohon Maaf kalau masih ada review yang belum saya balas

Tapi terima kasih untuk review kalian ya

Happy reading.

.

.

True love, right !

.

.

Pukul 11 siang distasiun kereta..

"seichi gantian dong barang-barang mu berat nih."

"kau tidak membawanya tapi kau menyeretnya tadi tidak berat."

"tentu berat seichi koper ini penuh walaupun diseret tetap berat, lagian mana rasa peduli mu pada wanita sih."

"kau lupa ryouta, kau yang menginginkan ini bukan dan siapa suruh kau kalah."

"huh seichi hidoi-ssu yo."

Akashi hanya menyeriangi dan kise hanya bisa cemberut sambil menunggu kereta datang.

Flashback kejadia 2 jam sebelum kise dan akashi sampai di stasiun..

"seichi bagaimana kita bawa 1 koper saja untuk ke kyotonya. Okaa-san bilang kan kita di Kyoto 3 hari jadi banyak pakaian yang harus dibawa."

"ide bagus, lalu di koper itu mau kau taro juga barang-barang pribadi mu."

"ahhhh tentu saja itu ditempat berbeda, seichi mesum."

"jangan asal mengatai orang ryouta."

"abisnya seichi yang mulai duluan."

"yasudah lebih baik sekarang siapkan barang-barang mu."

"pakai koper ku saja yaa."

"hem ya, berikan kopernya kalau kau sudah memasukan semua baju mu."

"tidak mau, seichi saja yang memberikan bajunya pada ku nanti aku yang membereskannya."

"kenapa. Kau benar-benar akan meletakan barang pribadi mu dikoper itu."

"ihhh sudah-sudah seichi semakin mesum saja. Pokoknya berikan baju-baju mu kalau sudah kau siapkan ya."

"hem ya ya."

"ayoo kita siapkan sekarang."

"kau duluan saja, aku masih harus menelfon tetsuya."

"salam untuk kurokochi ya."

Kise pun bangun dari duduknya dan masuk ke kamarnya membereskan pakaian dan barang-barang yang akan dibawa dan memasukannya kedalam koper begitu selesai kise memutuskan untuk mandi dulu karena akashi belum datang dan memberikan baju-bajunya. Selesai mandi kise melihat dikasurnya ada baju-baju akashi dan beberapa barang bawaan akashi. Selesai berpakaian kise membereksn lagi baju-baju akashi kedalam kopernya dan begitu selesai kise keluar kamar untuk memberitahu kalau dia sudah selesai membereskan barang bawaan mereka.

"seichi, sudah selesai kapan berangkat."

"baiklah sekarang kita berangkat, mana kopernya."

"didalam nanti ku ambilkan dulu ya."

Kise pun kembali ke kamarnya dengan tas gendong dan juga koper besar ditangan satunya.

"kau membawa apa saja kenapa kopernya menggembung seperti ini."

"rahasia, dan nanti yang boleh buka koper hanya aku."

"terserah."

"yasudah lalu siapa yang akan membawa koper ini."

"sini aku saja."

"bagaimana kalau bermain gunting batu kertas yang kalah harus membawa sampai rumah kakek mu di Kyoto dan yang menang hanya melihat saja tidak usah membantu."

"ide bagus."

1 menit kemudian kise hanya terdiam dengan aura hitam disekitarnya karena dia kalah dan harus menyeret koper besar ini sampai Kyoto padahal awalnya dia ingin lenggan dengan tidak membawa apapun kecuali tas jinjingnya saja, memang kalau niat buruk hasilnya buruk.

End flashback

Kereta pun datang akashi dan kise duduk berhadapan di kereta itu dan kise masih memang wajah cemberutnya dan memang earphone ditelinganya lalu mengeluarkan tab miliknya dan tangannya dengan lincah menari diatas tab itu sedangkan akashi asik dengan smartphonenya.

Merasa sudah puas menjelajah dengan smartphonenya akashi melihat kise didepannya yang sedang asik bermain game di tabnya dengan wajah yang antusias sampai akhirnya lesu karena akhirnya dia game over. Akashi hanya melihat aneh ke arah kise, ya kise sampai sekarang masih lah orang yang sangat aneh moodnya berubah dengan cepat dalam waktu yang bersamaan. Kalau akashi orang yang paling tidak ekspresif, kise kebalikannya semua terlihat jelas diwajahnya bagaimana suasana hatinya.

Kisepun mengeluarkan semua aplikasi yang dibuka ditabnya dan melihat kearah akashi yang malah asik melihat keluar jendela kereta.

"awannya sewarna dengan kurokochi ya, seichi."

"..."

"seichi, ceritakan tentang kakek mu dong, biar aku tidak salah tingkah nantinya."

"hem kakek ya. Sudah ku bilang bukan dia agak mengerikan dan menyebalkan."

"jelaskan dengan detail seichi, lalu apa yang kakek mu tidak suka."

"dia tidak suka orang berisik."

"untunglah aku tidak berisik."

"cih, kau itu berisik sangat berisik."

"hidoi, seichi dari awal aku datang ke jepang terus saja dingin. Aku sudah sabar menghadapi seichi tapi aku lelah maka aku akan apa adanya saja ke seichi."

"jadi selama ini kau hanya berpura-pura."

"bukan berpura-pura aku hanya ingin terlihat sopan saja didepan mu."

"kenapa kau tidak apa adanya saja ke kakek nanti."

"hem baiklah."

"ku dengar paman dan bibi mu sedang berkunjung juga disana."

"hah ? jadi ada keluarga mu yang lain juga seichi."

"kenapa ?"

"ti-tidak apa-apa ko."

Kise hanya bisa pasrah setidaknya beberapa hari kedepan dia akan menghadapi keluarga akashi. Dan entah apa yang terjadi kise hanya bisa pasrah saja nanti.

Berjam-jam dikereta akhirnya kise dan akashi sampai di Kyoto dan kise masih menyeret koper mereka menuju keluar stasiun.

"bagaimana kalau kita naik taksi saja."

"aku rasa lebih baik naik bis."

"seichi. Kau mau mengerjai ku ya."

"tidak. Aku hanya menyarankan saja."

"tidak mau. Aku mau naik taksi saja."

"terserahlah ryouta."

Kise pun memberhentikan taksi dan supir taksi itu memasukan kopernya di bagasi belakang mobil dan kise dan akashi duduk di bangku penumpang. Setelah akashi menjelaskan tujuannya ke supir taksi itu akhirnya taksi itu berjalan membawa mereka ke rumah kakek akashi.

Sebenarnya bisa saja akashi meminta seorang buttler menjemput mereka namun akashi memang berniat mengerjai kise untuk menyeret koper itu sendirian dan sukses karena kise hanya cemberut saat menyeret koper besar itu sedangkan akashi hanya berlenggan jalan disampingnya.

Akhirnya taksi itu berhenti disebuh rumah dan belum jelas bagaimana rumahnya karena pagar rumah itu tinggi sekali.

"seichi ini rumah kakek mu."

"tentu. Ayo masuk."

Seorang maid mengampiri mereka berdua dan maid itu membawakan koper yang kise seret-seret.

"tuan muda seijuuro-sama dan ryouta-sama ditunggu oleh tuan besar diruangannya."

Setelah itu kise mengikuti akashi yang berjalan didepannya. Jujur saja perasaan cemas menghampiri kise karena masih bingung harus bagaimana. Begitu pintu ruangan itu terbuka didalam Nampak seorang pria tua dengan rambut hitam dan juga iris crimson memandangi mereka berdua. Dan kise pun mengikuti akashi membungkukan tubuh untuk memberi salam ke kakeknya. Setelahnya kise dan akashi duduk didepan kakek itu.

"jadi ini yang bernama kise ryouta calon tunangan mu."

"maaf, saya lupa mengenalkan diri. Saya kise ryouta."

"iya tidak apa. kau sangat mirip dengan kakek mu."

"ano maaf, kakek mengenal kakek saya."

"iya kami bersahabat dari kecil maka dari itu saat ku dengar perusahaan keluarga mu mengalami masalah aku mengusulkan pertunangan antara kau dan seijuuro agar bisnis keluarga bisa bersatu. Dan juga memlunasi janji ku dengan kakek mu untuk menjodohkan cucu kita."

"wah saya sangat senang bertemu dengan sahabat kakek saya walau sebenarnya saya sendiri belum bertemu dengan kakek saya karena saat saya lahir kakek sudah meninggal."

"kau anak yang baik. Bagaimana kalau tidak perlu tunangan kalian langsung menikah saja dan berikan aku cicit."

Kise hanya menundukan kepalanya karena wajahnya memerah.

"kakek jangan bercanda. Kakek tahu kan kalau aku sudah punya tetsuya."

"memang kenapa. Kau bisa menikah dengan mereka berdua."

"hah. Ano maaf tapi."

"lihatkan kek, ryouta sudah seperti kepiting rebus. Hentikan candaan ini."

"hahahaha baiklah baik."

Kise hanya bisa bersweetdrop ria ternyata kakeknya akashi bukan orang yang menakutkan tetapi orang yang sangat menyenangkan dan sikap akashi pun sangat santai didepan kakeknya.

"kalian istirahat saja pasti lelah dari Tokyo kesini. Nanti baru makan malam."

"baiklah."

"oh iya kakek lupa. Seijuuro dan ryouta kalian harus 1 kamar karena sebagian besar ruangan dirumah ini sedang tahap renovasi jadi hanya 2 kamar yang bisa digunakan yang satu kamar mu seijuuro dan yang satu akan digunakan untuk paman dan bibi mu yang akan tiba besok."

"APA1 KAMAR." Kise berteriak kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"maaf saya kakek. Maaf sudah berisik maaf maaf maaf."

"hahahaha kau orang yang lucu ryouta. Tidak apa-apa. toh kalau kalian 1 kamar dan membuatkan cicit untuk ku itu bagus."

"KAKEK." Ucap akashi dan kise bersamaan.

Setelah keluar dari ruangan kakeknya kise mengikuti akashi berjalan menujukamar ya kamar mereka. Kise tidak habis pikir dengan percakapan tadi. Bagaimana bisa kakek akashi menyuruh mereka membuatkan cicit.

"jangan dipikirkan, yang ada wajah mu akan seperti kepiting rebus terus."

"ah iya seichi."

Yap. Akashi melihat tingkah kise yakin bahwa kise sedang memikirkan hal-hal aneh.

Sampai dikamar ternyata kamar itu cukup luas dan hanya 1 kasur disitu. Kise melihat kopernya sudah ada di pojok ruangan itu lalu menarik kopernya dan meletakannya dimeja dekat lemari.

"hem ya seichi bisa tutup mata mu sebentar."

"untuk apa."

"aku mau membereskan isi koper."

"benarkan kau meletakan barang-barang pribadi mu disana."

"seichi lakukan saja sih jangan protes terus."

"tidak mau, mana baju ku. Aku mau mandi."

"nanti ku antarkan."

"lihat siapa yang mesum disini."

"ih jangan salah paham, maksud ku kan –"

"buka kopernya ryouta."

"tidak mau."

"buka."

"tidak mau."

"buka."

SREK. Slesting koper itu pun dibuka oleh akashi dan kise hanya bisa duduk dengan wajah cemberut karena dia menyerah akashi keras kepala sekali. Saat dibuka ternyata isi koper itu lebih banyak makanan ringan.

"koper ini menggembung karena kau membawa banyak makanan."

"hem iya."

"darimana kau dapatkan banyak makanan ini, bukankah kau tidak berbelanja tadi pagi."

"aku menstoknya di lemari ku dan ku kunci rapat kalau alexchi tahu makan matilah aku."

"kau model aneh. Ternyata kau suka mengemil malam-malam. Memang kau tidak menjaga tubuh mu."

"tentu ku jaga, aku rajin mengkonsumsi vitamin dan ikut senam seminggu sekali."

"bereskan makanan mu dan jangan buat ruangan ini berantakan atau ku suruh kau tidur di kamar mandi kalau sampai sampah-sampah bergeletakan."

"hem iya iya."

Time skip.!

kise mencoba membuka matanya karena mendengar ketukan dipintu memanggil namanya dan juga akashi yang menjadi pertanyaan kise kemana akashi kenapa tidak membukan pintu itu dan kenapa juga rasanya guling yang dipeluknya ini sangat berat dan kenapa hangat. Dan saat matanya sudah terbuka..

"HUAAAAAAAAAAAHHHHHH SEICHI MESUM !"

Akashi terbangun dari tidurnya karena teriakan kise.

"oi, jangan berteriak dan kau bilang apa mesum. Siapa yang mesum baka !"

"kau yang mesum seichi, kau memeluk ku semabrangan, mau cari-cari kesempatan ya."

Akashi melihat kise yang duduk dekat dengan posisi tidurnya dan melihat guling yang tadinya menjadi pembatas yang buat kise sudah terjatuh dilantai.

"kau lihat guling itu siapa yang menjatuhkannya dan apa kau ingat dimana posisi tidur mu awalnya."

Kise mengamati sekitar dan hanya menundukan kepalanya. Yap kali ini kise yang bodoh sudah berteriak sekarang malah malu sendiri. kise tidurnya terlalu aktif sampai membuat pembatas tempat tidur mereka terjatuh dan malah memeluk akashi yang tertidur dengan pulasnya.

"sudahlah kau memamg bodoh. Sepertinya sudah jam makan mala mayo keruang makan."

"hem iya ayo. Dan maaf ya seichi."

Kise dan akashi beriringan keruang makan dan makan malam bersama dengan kakeknya. Makan malam itu diselingi dengan kakek yang terus menjaili akashi dan kise bergantian. Kise hanya bisa menghela nafas saja dan akashi pun sama sepertinya.

Selesai makan malam kise kembali ke kamar dna tidak lama akashi memasuki kamar itu juga. Kise duduk di sofa yang ada diruangan itu sambil membolak balik majalahnya dan sembari bersenandung ria. Akashi sedang sibuk dengan hp nya. Selesai membaca majalah kise melihat akashi masih asik dengan hp nya.

"seichi, mau nonton tidak."

"nonton apa."

"hem apa yaa—"

"mau menonton film dewasa."

"berhenti meledek ku terus seichi. Bagaimana kalau kingdom of heaven. Aku punya kasetnya dan kebetulan aku membawa koleksi kaset ku."

"baiklah."

Kise mengambil kotak koleksi kasetnya dan menaruh kaset itu di dvd dan duduk kembali di sofa. Saat film mulai kise dan juga akashi menonton dengan tenang namun tidak tenang juga karena kise sibuk dengan snak-snaknya.

"aku tidak menyangka orang seperti mu suka film seperti ini."

"hem film ini bagus seichi. Aku sangat suka sikap raja yerusallemnya dan juga baliannya."

"apa yang kau suka dari mereka."

"kalau dari raja yerusallemnya itu kan waktu tahun kepemimpinan king Baldwin IV disitu raja yerusallem buat kesepakatan sama saladin untuk tidak perang dan semua umat diterima di yerusallem dan tercipta deh kedamaian di yerusallem walaupun akhirnya miris sekali raja sebaik itu harus terkena penyakit kusta dan meninggal di umurnya yang masih muda. Dan kalau untuk balian aku suka karena dia bukan orang yang haus tahta dan kuasa. Dia memegang teguh janji yang dia ucapkan pada ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Sifat kepemimpinanya juga aku suka dia mau berbaur dengan masyarakat walaupun dia termasuk salah seorang bangsawan. Dan paling aku suka saat pasukan yerusallem kalah perang dan dia bilang keseluruh pasakukan gini, bila ini kerajaan tuhan maka biar tuhan sendiri yang mengatur kerajaannya. Nah itu yang aku suka dari mereka berdua."

"ternyata kau pintar juga ryota memahami film seperti itu."

"jangan meremehkan ku makanya. Aku mengantuk aku tidur duluan ya."

"tidur mu jangan seperti tadi. Aku tidak mau diteriaki mesum oleh orang seperti mu lagi."

"huh iya iya."

.

.

Esok harinya paman dan bibi akashi datang dengan kedua anak mereka. Namun entah bagaimana ternyata paman dan bibinya akashi datang karena sedang ada urusan disekitar Kyoto mendengar akashi sedang berkunjung kerumah kakeknya paman dan bibinya meminta akashi menjaga sepupunya baik-baik selama mereka pergi dan kakek pun yang dikunjungi malah mengunjungi temannya ditempat lain. Hal hasil sekarang akashi dan kise mengurus kedua sepupu akashi yang masih berusia 10 tahun dan juga 4 tahun.

"jadi nama mu siapa." Tanya kise ke anak yang berusia 10 tahun.

"nama ku akashi miyako dan ini adik ku akashi keita." Miyako menunjuk adiknya.

"kenalkan nama mu kise ryota."

"nee-chan mau bermain dengan ku tidak." Tanya keita ke kise.

"tentu saja mau, kalau miyako bagaimana."

"aku mau bermain dengan nii-san saja."

"ryota kau jaga keita baik-baik. Aku yang akan menjaga miyako."

"baiklah. Memang kalian mau kemana."

"bermain shogi."

"ehhhhh memang miyako bisa."

"tentu bisa. Aku terbaik disekolah ku."

Kise hanya bersweetdrop ria karena sikap miyako tidak jauh beda dengan sikap akashi. Untung masih ada keita yang manis dan unyu-unyu. Akashi dan miyako pun pergi meninggalkan kise dan keita.

Kise dan keita bermain lego namun karena sudah terlalu lama bermain lego, keita meminta ganti permainannya dan meminta main petak umpet dan kise pun harus menjadi jaga pertama sedangkan keita yang mengumpat.

"baiklah nee-chan akan menghitung sampai 20 nanti keita mengumpat ya."

"baiklah nee-chan, mengumpat itu keahlian ku."

"hahaha kau ada-ada saja semua orang juga bisa mengumpat keitachi."

"tapi aku lebih jago nee-chan , aku jamin nee-chan tidak akan menemukan mu dengan cepat."

"kita lihat saja nanti seitachi."

Kise mulai menghitung mundur sambil menutup matanya dan keita mulai mencari tempat persembunyian.

"3..2..1 nee-chan membuka mata ya keita dan bersiaplah nee-chan akan menangkap mu."

Kise mencari disudut-sudut ruangan namun masih belum menemukan keita. Kise tidak menyerah dia terus mencari keita disudut-sudut ruangan bahkan sampai dikolong-kolong meja.

Time skip !

Sudah 3 jam kise mencari keita dan dia mulai frustasi karena tidak menemukan keita dimana pun, akhirnya dia mencari akashi dan miyako untuk membantunya mencari keita karena berkali-kali kise berteriak bilang dia ingin menyudahi permainan, keita tidak keluar juga dan kise mulai cemas.

"seichi, miyakochi gawat ini."

"kau kenapa ryota dan mana keita."

"iya nee-chan mana adik ku."

"keitachi hilang."

"hah. Jelaskan ryota kenapa seita bisa hilang."

Kise menjelaskan dari awal bagaimana keita bisa hilang.

"aku lupa memberitahu nee-chan kalau keita memang ahli dalam mengumpat dan susah ditemukan."

"bailah kita berpencar mencari keita."

Setelah itu akashi, kise, dan juga miyako berpencar mencari keita. Kise yang sudah frustasi mencari memutuskan untuk mencuci muka dikamar mandi kamarnya dan juga mengambil beberapa permen. Saat kise masuk ke kamarnya ia terkejud melihat ada sesosok gundukan aneh dibawah selimut kasurnya. Tubuh kise membeku sesaat rasanya enggan melihat apa yang ada disana dan pikirannya pun melayang kemana-mana mulai dari monster bahkan hantu pun memenuhi pikiran kise. Tapi tubuhnya malah berjalan mendekati kasur dan mencoba mencari tahu apa yang ada dibawa kasurnya itu. Perlahan kise membuka selimutnya itu namun belum semua terbuka yang ada dibalik selimut itu menggeliat dan bangkit kise pun sukses mundur namun terpeleset dan terjatuh dengan tidak elitnya.

"hoammm… nee-chan."

Kise pun mencari asal suara yang ia kenal itu dan ternyata itu keita yang duduk diatas kasurnya dan melihat kise bingung.

"seitaaachiiii akhirnya hueeeeeeeee." Kisepun menangis dengan tidak elitnya didepan seita dan seita hanya memasang wajah bingung.

Akashi mendengar suara tangis yang berasal dari kamarnya dia pun langsung masuk dan mengecek ternyata dikamarnya ada keita yang sedang duduk dengan wajah bingung diatas tempat tidurnya dan kise yang menangis dibawah. Akashi pun menghampiri kise.

"kenapa kau menangis memalukan saja. Lihat seita bingung melihat mu."

"huuueeee seichi hidoi-ssu yo."

Akashi berniat membantu kise berdiri namun entah air dari mana akashi terpeleset jatuh. Kise merasa sesuatu yang berat menimpahnya dan rasa sakit mulai menyerang tubuhnya namun ada hal aneh ya aneh karena bibirnya seperti tertempel sesuatu yang hangat dan lembut. Kise pun membuka matanya dan menenukan akashi diatasnya dan juga bibir mereka bertemu kise membulatkan matanya dan tangannya mendorong akashi, refleks.

"onii-san dan onee-san kenapa kalian malah berciuman disini. Kenapa tidak bilang kalau kalian sudah menemukan keita dan kaa-san tou-san sudah datang dan meminta kalian untuk keruang makan." Suara miyako mengintrupsi kegiatan kise dan akashi.

"anooo kami tidak—"

"ayo ryouta kita keruang makan." Akashi bangun dan menggendong keita dan berjalan keluar kamar.

Kise masih dalam posisinya masih mencerna apa yang terjadi dan bagaimana bisa akashi sangat biasa saja. Kise pun bangkit dan berjalan menuju ruang makan.

Sampai diruang makan paman dan bibi akashi sudah kembali juga kakek sudah kembali namun paman dan bibi akashi pamit untuk pulang dan mengucapkan terima kasih pada akashi dan kise yang sudah menemani miyako dan keita bermain hari ini.

"nee-chan jangan menangis lagi yak an sudah dicium oleh nii-chan." Ucap keita polos sembari memegangi ujung kaos kise.

"heeeeeeee. An..anoo itu keita ahh hem." Kise pun panic.

"sampai jumpa lagi nee-chan."

Keluarga paman akashi pun pulang dan menyisakan akashi, kise, dan kakek diruang makan.

"tadi kalau kakek tidak salah dengar kau mencium ryouta, benar itu seijuuro."

"anoo itu sebenarnya tidak sengaja karena seichi terpeleset."

"berarti mala mini kalian harus membuatkan ku cicit ya."

"kakek sudahlah jangan terus-terusan membicarakan itu."

"lihat muka kalian berdua memerah hahaha" kakek hanya tertawa puas melihat akashi dan kise yang salah tingkah.

Selesai makan malam dikamar akashi dan juga kise tercipta suasana canggung karena keduanya masih bingung harus apa sejak kejadian tadi dan kise hanya menggunakan eraphone dan menyetel music dengan suara yang keras serta membolak-balik majalahnya karena pikirannya sedang kacau, sedangkan akashi hanya terus menggonta-ganti chanel di tv. Dan ide konyol pun timbul dibenak akashi.

Akashi berjalan menghampiri kise yang sedang duduk asik dengan earphone dan majalahnya. Kise sadar akashi berjalan menghampirinya namun kise terkejut saat akashi membuka kancing kemejanya satu persatu dan semakin mendekat kearah kise.

"ryouta sepertinya pikiran mu masih sibuk dengan peristiwa tadi, bagaimana kalau ku tenangkan."

"seichi a-ap-apaan kau ini dan kau mau apa sih." Kise gugu karena akashi semakin dekat dengannya.

DUK. Akashi mendorong tubuh kise dan terjatuh diatas tempat tidur sedangkan semua kancing kemeja akashi sudah terbuka semua dan kise bisa melihat dada bidang akashi dan dengan susah payah ia menelan ludahnya sendiri. dan matanya terpejam namun ternyata..

"hahaha lihat diri mu ryouta. Mengharapkan sesuatu." Ledek akashi.

"kau ini mengesalkan." Kise mendorong tubuh akashi.

"hahaha kau kecewa ryouta."

"diam. Aku kesal pada mu. Huh." Kise berjalan keluar kamar meninggalkan akashi. Sedangkan akashi masih sibuk dengan tawanya sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.

Kise kedapur dan meminta salah satu maid memberinya ice creams dan setelah mendapat ice creams kisepun berjalan kembali kekamar. Dan memakan ice creamsnya dengan cepat karena kesal dengan sikap akashi yang menjahilinya tadi.

Akashi selesai mandi dan saat keluar kamar dia melihat kise yang tertidur disofa dengan bekas ice creams yang masih ada dipipi juga disekitar bibir.

"bagaimana jika fans mu melihat ini pasti mereka akan berpikir dua kali untuk menjadi fans mu lagi."

Akashi menggendong tubuh kise dan menaruhnya dengan pelan ditempat tidur kemudian mengambil tisu basah di peralatan make up kise dan mengelapkan bekas ice creams diwajah kise.

.

.

Kise membuka kedua matanya dan melihat ke sisi kanannya dan tidak menemukan akashi disana berarti akashi sudah bangun dan kise pun mengambil posisi duduk dan memandangi seluruh kamar dan akashi tidak ada disana, saat kise melihat jam menunjukan pukul 9 pagi diapun terlontak dari tempat tidur dan langsung mandi karena dia ingat semalam kakek bilang jam 10 akan mengajaknya pergi entah apa yang terjadi bila kise telat karena kesiangan dan kise kesal karena aakshi tidak membangunkannya pasti akashi sengaja untuk menjahilinya lagi. Oh ayo lah selama di Kyoto entah kenapa sikap akashi sangat menyebalkan sekali, memang tidak dingin tapi jahilnya sudah kelewatan dan membuat orang kesal.

Jam 10 pas kise melihat jam dikamarnya dia pun mengambil tasnya dan keluar kamar dengan buru-buru menuju ruang tengah. Sampai diruang tengah disana ada akashi yang sedang membaca Koran dan kakek yang sedang meminum tehnya.

"maaf kek, saya telat." Kise menundukan tubuhnya kearah kakek.

"tidak apa. kalau semua sudah siap ayo berangkat."

Time skip

Kini kise berada disebuah area pacuan kuda dan akashi sedang berbicara dengan seseorang dan kuda disebelahnya akashi pun mengelus kuda tersebut.

"aku sudah lama tidak melihat seijuuro berkuda, kau tahu ryouta seijuuro itu sangat mahir menunggangi kuda."

"benarkah, aku tidak tahu kek."

"kau benar-benar mirip dengan kakek mu ryouta."

"sepertinya kakek sangat mengenal kakek ku, aku tidak tau bagaimana kakek ku."

"dia orang yang sangat baik ya sama seperti mu."

"aku sangat senang mendengar kakek bercerita tentang kakek ku bagaimana."

"kau senang berada didekat seijuuro."

"senang kek."

"dia memang dingin bila bertemu dengan orang yang baru dia kenal namun semakin kau kenal dia maka dia akan mulai terbuka dan baik."

"ya kakek benar."

Kise melihat akashi menaiki mudanya dan memacunya keliling arena pacuan. Ya siapa yang tidak terpana dengan sosok akashi seijuuro tampan, kaya, pandai dalam segala hal ya orang perfect. Kise pun pergi ke area pacuan untuk menghampiri akashi.

"mau mencoba ryouta."

"aku taku."

"akan ku ajari."

"baiklah."

Akashi turun dari kudanya dan membantu kise menaiki kuda setelah kise memakai perlengakapan berkuda. Setelah kise berhasil naik akashi pun naik dibelakang kise. Dan kise sukse berblushing ria karena posisinya akashi sekarang seperti memeluknya dan perlahan akashi memacu kudanya berjalan dengan perlahan dan entah kenapa rasanya sangat menyenagkan.

"kau senang ryouta."

"ya. Apa kurokochi bisa berkuda juga seichi."

"tidak."

"kau pernah mengajarinya seperti ini."

"belum tapi sepertinya akan ku ajari."

"apa karena kau mengajari ku makanya kau mau mengajari kurokochi juga."

"ku rasa itu adil."

"jadi sekarang kau mencoba bersikap adil antara aku dan kurokochi."

"tidak juga karena tetsuya selalu menjadi prioritas utama ku."

"wah sepertinya menyenangkan."

"kau menyukai ku ryouta."

"aku belum tahu pasti tapi sepertinya akan."

"jangan lukai perasaan orang disekitar mu ryouta."

"maksud mu."

"kau harus peka disekeliling mu."

Kise hanya mencoba mencerna perkataan akashi apakah ini tentang kuroko atau bukan. Entah kise masih bingung dengan kata-kata itu.

.

.

"terima kasih kakek 3 hari ini sudah diizinkan untuk berkunjung disini dan sangat menyenagkan."

"tentu kau boleh kapan saja berkunjung ryouta dan juga seijuuro."

"baiklah kami pamit dulu kek."

~ bersambung ~