Brak bruk drak.

Akashi menghela nafas berat entah sudah berapa kali melihat makhluk kuning didepannya sibuk bolak-balik dan mengacak-ngacak apartemen. Rasanya ingin mengabaikan suara-suara itu dan kembali fokus ke novel yang sedang ia baca namun kesabaran seorang akashi seijuuro pun sampai pada batasnya.

Si makhluk kuning yang bernama kise ryouta sedang sibuk mencari sesuatu yang sudah ia lakukan lebih dari 1 jam yang lalu dan terkadang berteriak dan mengacak rambutnya. Dia sudah mencari disemua sudut namun masih belum menemukan benda yang ia cara sampai dia merasakan hawa dingin nan menusuk dibelakangnya dan dengan susah payah ia menelan ludah dan memantapkan niat untuk melihat kebelakang berharap besok masih bisa melihat matahari pagi.

"ryouta."

"hem i-iya seichi." Kise mencoba tersenyum normal.

"kau mengetes kesabaran ku hari ini."

"ti-tidak seichi."

Snip snip.

"seichi anak baik tidak bermain gunting loh."

"benarkah. Tapi sepertinya aku bukan anak baik ryouta."

"huaaaa maafkan aku seichi." Kise sembah sujud didepana akashi sebelum nyamanya terbang melayang.

"apa yang sebenarnya kau cari."

"aku mencari tiket konser ku seichi. Semalam aku pulang larut dan langsung tertidur dan lupa menaruhnya dimana. Aku takut kalau hilang akan di amuk midorimachi."

Akashi pun melangkahkan kakinya kearah dapur dan kembali dengan kertas ditangannya lalu kertas itu dilemparkan kearah kise. Kise pun mengambil kertas itu dan matanya berbinar-binar.

"huaaaaaaaa terima kasih seichi kenapa tidak bilang kalau seichi melihatnyaa."

"kau tidak bertanya."

"biasanya kan kau tahu sendiri apa yang ku lakukan."

"aku malas meladeni mu."

"dingin, kejam, tidak berprikemanusiaan—"

Snip snip

"masih ada yang mau kau katakan."

"gomen."

Brak.

Kise melompat senang didalam kamarnya dan juga merasa lega karena bisa terbebas dari amukan seorang akashi seijuuro. Sudah hampir 2 bulan ia tinggal bersama dengan akashi dan semakin lama kise semakin tahu bagaimana sikap akashi dan juga sesukaannya dengan gunting yang terbilang amat akut. Pertanyaan pun timbul dibenak kise, bagaimana seorang kuroko tetsuya bisa tenang dan bertahan dengan maniak gunting seperti akashi seijuuro.

"kurokochi. Ah iya bagaimana kalau ku ajak dia saja kan tiketnya ada 3 karna alexchi tidak ikut sayangkan tiket satunya." Ucap kise pada diri sendiri. dia pun mengambil hpnya dan mencari nomor kuroko dan menelfonnya.

"moshi-moshi."

"kurokochi, sedang sibuk tidak?"

"tidak kise-kun. Ada apa."

"ikut dengan ku nonton konser yaa. Aku mohon temani aku ya."

"tapi kise-kun—"

"jam 4 aku jemput ya."

Pip. Kise memutus telfonnya.

.

.

Pukul 3 kise sudah siap dan menunggu midorima. Kise pun keluar dari kamarnya dan melihat akashi yang sedang menelfon, kise hanya duduk di sofa dan mengganti chanel di tv.

"ryouta, aku pinjam kamar mandi mu."

"eh, memang kenapa dengan kamar mandi seichi."

"kamar mandi ku kerannya bermasalah."

"sudah menelfon reparasi untuk membenarkannya."

"sudah mereka akan datang 1 jam lagi."

"seichi jadi belum mandi dari pagi."

"hem. Ah ya kau akan kemana dengan tetsuya."

"ah ya aku lupa kasih tahu. Aku mau nonton konsernya zedd sama kurokochi dan midorimachi."

"hem gitu."

"mau ikut."

"tidak."

"yakin."

"iya."

"baiklah kau yang menolak ya. Silakan kalau mau pake kamar mandi ku."

Akashi pun masuk kekamarnya dan keluar lagi dengan peralatan mandinya. Tidak lama pun midorima datang kise pun pergi untuk menjemput kuroko diapartemennya.

"kau mengajak kuroko."

"iya, alexchi tidak bisa ikut jadi daripada sayang lebih baik ku ajak orang lain kan."

"kau makin dekat dengannya, memang kau sudah tidak ingin merebut akashi."

"hem gimana ya. Mungkin proses midorimachi. Ini urusannya hati biarkan saja mengalir lagipula sekarang aku semakin dekat dengan seichi."

"dekat bagaimana."

"kami sering mengobrol."

"lalu kau tahu bagaimana hubungan akashi dengan kuroko."

"mereka semakin baik sepertinya. Aku pernah bertemu mereka saat mereka kencan dan setelah itu mood akashi buruk pada ku 2 hari."

"kau mengacaukannya."

"aku hanya minta ikut makan malam saja dan tidak sengaja menumpahkan jus strawberry ku ke baju seichi."

"pengacau."

"hidoi."

Midorima senang setidaknya kise sekarang bisa jauh lebih ceria dan bahagia. Dan dari semua cerita kise akashi sepertinya sudah melunak ke kise dan mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda dan kalau menurut kise itu adalah hal menyebalkan namun midorima melihatnya kalau itu bentuk perhatian akashi.

Hal yang paling mngejutkan adalah saat kise datang pada midorima dan menangis karena akashi menyita semua makanannya dilamarinya dan mengancam bila kise mengemil tengah malam akan dia laporkan ke manajernya. Ya mungkin itu menyebalkan untuk kise namun itulah perhatian akashi. Karena kise akan dengan nekatnya diet mati-matian kalau sudah gemuk dan berujung sakit nantinya. Anggaplah kise ryouta itu manusia bodoh ya atau lebih tepatnya tidak berpikir panjang.

Time skip

"bagaimana konsernya kurokochi seru yaaa."

"kise-kun kau tidak perlu berteriak."

"gomen-gomen ne kurokochi aku hanya senang saja karena sudah lama tidak nonton konser lagi, iya kan midorimachi."

"hem."

"menurut ku tadi juga seru."

"lain kali kita nonton bersama lagi ya kurokochi."

"iya kise-kun."

"baiklah kuroko sudah sampai."

"terima kasih midorima-kun dan kise-kun untuk hari ini."

"iya sama-sama kurokochi."

Kuroko pun keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan mobil itu untuk masuk ke apartemennya. Kise melihat sebuah mobil sport merah memasuki parkir apartemen kuroko.

"midorimachi kau pulang saja duluan aku mau mampir ke tempat kurokochi sebentar."

"hah tapi kenapa mendadak kenapa tadi kau tidak bersama kuroko saja."

"sudah tidak apa. sampai jumpa ya."

Kise pun keluar dari mobil midorima dan mengejar kuroko. Kuroko pun kaget melihat kise berlari kearahnya yang masih menunggu pintu lift terbuka.

"ada apa kise-kun."

"ano bisa numpang pipis tidak.. aku kebelet pipis kurokochi."

"oh seperti itu. Baiklah. Mana midorima-kun tidak ikut turun."

"dia pulang duluan karena mendapat telfon harus kerumah sakit katanya dadakan."

"hem begitu."

Pintu lift pun terbuka kuroko dan kise memasuki lift itu. Sampai di kamar apartemen kuroko, kuroko menunjukan toiletnya dan kise pun segera masuk.

Ting nong..

Kuroko pun membukakan pintu apartemennya dan melihat kekasihnya datang dengan senyuman.

"sei."

Akashi pun langsung memeluk kuroko.

"aku merindukan mu, tetsuta."

"padahal kan kau kemarin bertemu dengan ku."

"aku selalu merindukan mu kalau aku tida bertemu dengan mu."

"benarkah."

"iya."

"kurokochi."

Akashi mencari asal suara itu dan melepaskan pelukannya pada kuroko dan melihat makhluk kuning itu berdiri melihatnya dan tersenyum. Sungguh akashi kesal kenapa makhluk kuning itu ada disini.

"sedang apa kau disini." Tanya akashi dingin.

"aku hanya numpang pipis saja."

"yasudah sudah kan, sana pulang."

"ini kan bukan rumah mu seichi, jangan mengusir orang sembarangan. Tidak baik tahu."

"terserah. Cepat sana pulang."

"kurokochi, lihat dia jahat sekali." Kise berlari dan memeluk kuroko.

"sei, jangan jahat pada kise-kun."

"jangan membelanya tetsuya."

"yasudah aku pulang saja deh. Makasih ya kurokochi sudah diizinkan numpang pipis."

"iya kise-kun. Kise-kun kan pulang sendiri."

"hem iya."

"sei kau antar pulang kise-kun saja."

"kau tidak ingat aku baru saja datang tetsuya."

"besok datanglah lagi, kau lihat pakaian kise-kun kalau dia pulang dengan kendaraan umum nanti akan diapa-apakan orang jahat dan ini sudah hampir tengah malam."

"salah sendiri pake baju kaya gitu kan."

"sudahlah sei."

"ah baiklah baiklah." Akashi pun mencium bibir kuroko dengan lembut.

"ayo pulang ryouta."

"ah maaf ya kurokochi, dan terima kasih sekali lagi ya."

"hati-hati ya kise-kun, sei."

Dalam hati kise senang karena misinya berhasil. Saat kise melihat mobil akashi masuk ke parkiran apartemen kuroko, kise memutuskan untuk pura-pura numpang pipis dan pasti nanti kuroko akan meminta akashi mengantarkannya pulang karena memang sudah mau tengah malam juga.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen mereka, kise melihat akashi dalam keadaan bad mood nya tapi kise tidak ambil pusing karena dirinya menang kali ini dan aksashi akan ada bersamanya mala mini. Sampai di apartemen kise turun dari mobil dan menuju lift namun poor kise dan entah orang iseng mana yang sengaja meletakan batu ditengah jalan dan akhirnya kise terjatuh dengan tidak elitnya didepan akashi.

"kau sengaja terjatuh ryouta."

"tentu tidak, hueeeee sakit."

Akashi hanya tersenyum melihat penderitaan kise yang terjatuh dan menangis.

"bantu aku seichi jangan tersenyum begitu mengerikan tahu."

Akashi pun membantu kise bangun namun ternayta kaki kise terkilir dan ujung-ujung akashi memapah kise sampai ke apartemen mereka.

"kau tahan ya."

"pelan-pelan ya seichi, aku takut."

"aku akan sepelan mungkin jadi tenanglah."

"ahhhhh seichi sakit."

"sudah ku bilang tenang ryouta."

"ahhhhh hueeeee sakit memijatnya pelan saja."

"sudah bagus ku tolong masih saja banyak permintaan."

"sakit hueeeeeee."

"jangan menangis berisik."

Kise masih terus menangis selama akashi memijat kakinya yang terkilir. setelah memijat kise akashi kembali ke kamarnya dan mengambil hpnya.

"moshi-moshi."

"belum tidur tetsuya."

"belum, kau sudah sampai sei."

"iya baru saja dank au tahu aku sudah tidak tahan dengan makhluk kuning it uterus saja membuat masalah."

"maksud mu kise-kun."

"iya."

"sei, boleh berkomentar."

"iya apa"

"sepertinya kau akan mulai menyukainya kalau kau membencinya."

"aku tidak akan menyukai pengacau seperti dia."

"benarkah. Aku percaya pada mu ko sei."

"terdengar seperti sindiran daripada kepercayaan."

"hanya perasaan mu saja sei. Besok bantu aku mengerjakan laopran bulanan ya."

"baiklah tuan putri."

"kalau begitu istirahatlah sei, oyasuminasai."

"oyasuminasai tetsuya."

Tanpa sadar air mata kuroko mulai turun membasahi pipinya. Ya kuroko sedih karena semakin lama akashi semakin dekat dengan kise walaupun kise temannya namun tetap saja kise juga menjadi saingannya dalam waktu yang bersamaan. Saat akashi pergi ke Kyoto dengan kise dan melihat kise mengunggah foto-foto bersama akashi dengan kakeknya di area pacuan kuda dan terlihat mereka sangat senang. Jujur saja perasaan cemburu mengisi hati kuroko. Akashi memang selalu jujur dengan semua kegitannya dengan kise namun entah mengapa rasa percaya bahwa akashi tidak akan berpaling semakin hari semakin menimpis. Kuroko bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Setidaknya dia tidak akan sanggup bila di akhir nanti akashi harus memilih kise karena memang perasaannya sendiri bukan karena karena permintaan orang tuanya. Kuroko berusaha tegar menghadapi semuanya namun tetap saja dia hanya manusia yang memiliki akal dan perasaan.

"aku sangat mencintai mu sei, dan aku takut kehilangan mu."

~ bersambung ~

Mohon review nya mina

Chapter depan berniat membuat full akakuro karena dua chapter sebelumnya akaki terus..

Semoga cerita abal-abal ini tidak menjenuhkan dan membuat ousing karena typo bertebaran dimana-mana ^o^