Kuroko terduduk diruangan kelas tempat ia biasa mengajar. Kegiatan belajar mengajar sudah usai satu jam yang lalu dan ruangan kelas pun sudah tertata rapih. Kuroko masih enggan pergi dari ruangan itu karena dirinya masih bingung harus kemana kalaupun ia pulang ia hanya kesepian.

Sudah beberapa minggu terakhir setiap akhir pekan akashi selalu sibuk dengan urusan perusahaan dan pergi ke daerah lain ataupun keluar negeri. Sekalipun akashi tidak disibukan dengan pekerjaannya seorang kise ryouta selalu saja merengek meminta ditemani banyak hal, sebagai teman kuroko merasa tidak masalah bila akashi membantu kise tapi hatinya kian lama kian merasa kosong. Hari-harinya pun sangat sepi. Menangis selalu menjadi pewarna malam sebelum matanya menutup untuk terbang ke alam mimpi. Naïf ya itu lah hal yang pas untuk menggambarkan perasaan kuroko saat ini. Satu sisi dirinya merasa bahwa kehadiran kise bagai pisau bermata dua, sisi yang satu hadir sebagai teman baiknya dan satu sisi menjadi saingannya.

Kuroko sudah jengah dengan keadaannya sekarang batinnya sudah ingin berteriak dan menarik kembali ke sisinya dan dirinya ingin egois dengan memiliki akashi seorang diri. Akhirnya kuroko memutuskan untuk menemui akashi dikantornya, setidaknya ia ingin sesekali melihat bagaimana kekasihnya bekerja karena sudah lama kuroko tidak mengunjungi akashi dikantornya.

Sebelum ke kantor akashi kuroko mampir membeli cheesecake kesukaan akashi untuk dimakan bersama. Sampai dikantor kuroko bertemu dengan sekretaris akashi yang juga merupakan sahabatnya yaitu momoi satsuki. Sudah 2 bulan momoi menjadi sekretaris akashi setidaknya kuroko dapat tenang karena sering kali sekretaris akashi menggoda akashi dan tentu berujung pemecatan oleh akashi, walaupun terlihat kejam namun kuroko senang setidaknya tidak ada wanita lain yang boleh mengganggu akashi apalagi menggodanya. Lalu bagaimana dengan kise ya kuroko menganggap kise sebagai temannya sekalipun kise juga menginginkan akashi kise akan mengisi hati akashi perlahan dengan tidak cara-cara kotor dengan menggodanya berlebihan.

"doumo seijuuro-sama."

Akashi menoleh ke asal suara dan ia tersenyum melihat kekasihnya masuk kedalam ruang kerjanya.

"apa itu seijuuro-sama."

"baiklah kalau sei bagaimana."

Akashi bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kuroko lalu memeluknya dan memberikan kuroko ciuman di kening. Tentu kuroko sangat senang dengan perlakuan akashi karena kuroko sendiri mulai merindukan hal-hal seperti ini.

"aku rindu pada mu, sei."

Akashi melepaskan pelukannya dan menatap mata kuroko dalam-dalam.

"sering menangis tetsuya. Ada apa."

"tidak apa. selesaikan dulu pekerjaan mu dan ini aku membawakan cheesecake kesukaan mu." Kuroko menunjukan bingkisan yang ia bawa.

"baiklah tunggu sebentar lagi pekerjaan ku selesai."

"baiklah."

Kuroko duduk di sofa dekat meja kerja akashi dan matanya menjelajah seluruh ruangan kerja akashi yang tidak banyak berubah sejak ia terkahir berkunjung kesini. Dan foto dirinya dan akashi masih terbingkai dengan cantik terletak di meja kerja akashi. Akashi sengaja meletakan foto itu disana dengan alasan bila ia sibuk dan merindukan kuroko dengan melihat foto itu maka ada suntikan semangat baru untuknya.

"tetsuya, aku sudah selesai."

"benarkah, bagaimana kalau kita makan cheesecakenya ditaman dekat sini sei."

"baiklah, ayo."

Ditaman kuroko menyuapi akashi cheesecake yang ia bawa dan ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Sifat manja akashi yang hanya ia tunjukan padanya, senyuman akashi, dan juga kehangatan yang akashi berikan padanya.

"kau banyak menangis tetsuya akhir-akhir ini."

"benarkah, kau selalu saja menebak ku."

"mata mu mereka sangat terlihat jelek sekali."

"hem sepertinya buruk kalau memang begitu."

"tetsuya, maaf."

"maaf untuk apa sei."

"maaf untuk semuanya. Maaf aku akhir-akhir ini sedikit mengabaikan mu tapi percayalah aku mengabaikan mu bukan karena orang lain namun pekerjaan ku."

"benarkah itu."

"sudah ku bilang dari awal, kalau kau menginginkan aku menyingkirkan ryouta. Aku akan melakukannya."

"untuk apa sei kau singkirkan, kise-kun orang baik. Aku menyukai berteman dengannya."

"lalu kau menyukai melihat dia mendekati ku."

"kau bilang aku harus percaya."

"…"

"sei. jujur saja akhir-akhir ini aku merindukan mu lebih dari apapun. Aku merindukan bagaimana kau bermanja-manja dengan ku, senyuman mu, kehangatan mu, bahkan keisengan mu aku merindukannya walau itu sebenarnya menyebalkan sangat menyebalkan tapi aku merindukan semuanya itu. Aku menangis karena aku sangat merindukan mu. Aku menangis karena rasa sepi menghantui ku dengan perlahan."

Akashi memeluk kuroko dan kuroko kembali meneteskan air matanya.

"jangan menangis tetsuya. Aku berjanji tidak akan membuat mu merindukan ku lagi. Aku akan selalu ada untuk mu. Dan menyingkirkan rasa sepi yang menghantui mu."

"janji mu akan ku pegang sei."

"ya tetsuya."

Kuroko merasa lega karena semua perasaan yang mengganggunya sudah ia sampaikan pada akashi dan kuroko sekarang hanya bisa percaya dengan janji yang akashi ucapkan. Akashi bukanlah orang yang menggumbar janji dengan murahnya tetapi akashi seijuuro adalah seseorang yang memegang teguh janjinya.

Setelah dari taman kuroko dan akashi pulang ke apartemen kuroko. akashi memasakan makan malam untuk kuroko dan juga dirinya sedangkan kuroko hanya duduk dan melihat akashi memasak. Senyuman pun kembali menghiasi wajah cantik kuroko. karena sebenarnya dalam suatu hubungan hanya perlu kejujurkan perasaan. Selesai makan malam disinilah kuroko dan akashi diatas sofa ruangan tengah sembari menonton tayangan di tv.

"menginaplah sei."

"lihat tetsuya ku sekarang sepertinya manja sekali."

"hem apa kau ingin pulang dan bertemu dengan kise-kun."

"ide bagus."

"SEI!"

"hahaha aku hanya bercanda. Ternyata ryouta bisa membuat mu cemburu ya."

"aku tidak cemburu."

"kau mau meniru sifat tsundere shintarou."

"shintarou. Apa itu orang yang waktu kita temui bersama dengan kise-kun."

"hem iya."

"dia teman mu."

"iya."

"lalu hubungannya dengan kise-kun."

"ku rasa shintarou hanya sahabatnya saja."

"seperti itu."

"sepertinya kalau kau merindukan ku, aku juga merindukan rasa cemburu mu tetsuya."

"jangan mengetes ku dengan hal yang tidak-tidak sei."

"aku hanya penasaran."

"jangan penasaran dengan hal yang tidak baik sei."

"ok. Bagaimana besok kita kencan. Sudah lama kita tidak kencan bukan."

"ide bagus. Tapi tanpa kise-kun."

"ya tentu tanpa manusia kuning itu."

.

.

.

Kise melirik jam di hp yang sedang ia pegang dan sesekali melihat pintu apartemen dan berharap pintu itu terbuka dan terlihat sosok yang ia sedang tunggu. Namun semakin lama menunggu rasanya sosok itu tidak akan datang malam ini. Kise hanya menghela nafas berat dan kemudian matanya menjelajah isi ruangan apartemennya. Kise masih penasaran dengan kamar akashi ya kise tidak pernah sekalipun masuk kekamar itu. Rasa penasaran menghampirinya namun memasuki kamar yang sedang tidak ada penghuninya bukankah itu tidak sopan. Dan akhirnya kise mengurungkan niatnya itu.

Kise pun kembali menatap hpnya dan kali ini ia mencari kontak sahabatnya dan menelfonnya.

"midorimachi."

"kise, jangan berteriak. Berisik."

"ya ya. Ah iya besok kau liburkan."

"kenapa memangnya."

"bagaimana kalau kita kencan."

"kise, bagaimana kata kencan itu dirubah menjadi menemani ku berjalan-jalan tidak jelas."

"hem tidak mau. Aku mau menggunakan kata kencan saja. Pokoknya jemput aku jam 11 siang ya."

"jangan menyuruh orang seenaknya saja."

TUT.. ..

Kise hanya tertawa karena ia tahu bila terus dilanjutkan maka sahabatnya itu akan menasehatinya dengan panjang. Setidaknya kise tahu midorima akan mengabulkan keinginannya. Walau kadang dirinya bersifat egois sekalipun midorima akan selalu menurutinya.

.

.

Sinar matahari sedang mencoba memasuki iris baby blue yang masih mengumpat. Dan si pemilik iris itu sesekali manarik selimutnya agar sinar itu tidak mengganggunya. Tetapi selimut itu pun ditarik kembali oleh seseorang bahkan terdengar kikikan kecil dari seseorang. Akhirnya si pemilik iris baby blue itu menyerah dan mencoba membuka matanya perlahan. Dan benar saja pemuda dengan surai merah sedang berada disampingnya dengan senyuman yang lebih mirip seringai itu menghiasi wajahnya.

"ohayou sei."

"ohayou tetsuya."

"sei. 5 menit lagi aku lelah. Kau membuat ku tidur pukul 2 dinihari."

"kau yang memintanya."

"yasudah izinkan aku tidur lagi 5 menit saja."

"baiklah."

5 menit kemudian akashi mencium kening kuroko yang masih tertidur di sampingnya.

"kau bilang mau ke café atushi, menonton film, ketoko buku, dan makan malam bersama di restoran yang kau suka bukan."

"5 menit lagi bagaimana."

"5 menit lagi aku kan menyerang mu. Kau menantang ku tetsuya dengan terus tertidur disamping ku tanpa-"

"iya iya aku bangun."

Kuroko bangun dari tidurnya dan menarik selimut lalu melilitkan ditubuhnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan akashi hanya terkikik kecil melihat bagaimana kekasihnya. Sambil menunggu kekasihnya mandi akashi memutuskan untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

"kau harus mentraktir ku vanilla milkshake dan juga cake vanilla ditempat murasakibara-kun, sei. aku tidak mau tahu."

"alasannya apa."

"kau mengerjai ku semalaman dan sekarang seluruh tubuh ku lelah."

"kau yang terlalu manja kemarin jadi aku tidak tahan untuk tidak mengerjai mu."

"jangan dibahas. Pokoknya semua permintaan ku hari ini harus kau turuti."

"baiklah tuan putri tetsuya. Sekarang sarapan dulu ya tetsuya-sama."

"baiklah sei-chan."

"kenapa sekarang mau mau cemburu dengan reo."

"tidak hanya saja sepertinya imut memanggil mu dengan sebutan sei-chan."

"benarkah. Lalu bagaimana dengan kurokochi. Kurasa itu juga imut."

Kuroko menggembungkan pipinya karena hari ini mungkin ia ingin berhati jahat dengan tidak ingin ada kise dalam hidupnya satu hari ini. Akashi yang melihat kuroko seperti itu mencubit pipinya lalu memberikan ciuman di pipi kuroko yang mulai memerah.

.

.

Ting nong…

Kise mengambil tasnya dan berlari keluar kamar karena ia tahu siapa yang datang pukul 11 tepat ke apartemennya dan saat dibuka pintu benar saja sosok surai hijau itu berdiri didepan pintu. Kise langsung menggandeng tangannya dan orang yang digandeng tangannya hanya menghela nafas pelan.

"mau kemana hari ini."

"bagaimana kalau kita shibuya saja, midorimachi"

"kau sudah belanja kemarin. Aku tidak mau."

"lalu, kemana lagi dong. Bagaimana dengan game center sudah lama kita tidak kesana."

"kita bukan anak SD ataupun anak SMA yang menggilai game center."

"tapi aku masih menggilai game center."

"baiklah, baiklah, baiklah."

.

.

"bagaimana pertama kita ke café murasakibara-kun untuk membeli cake vanilla lalu setelah itu kita nonton sei."

"baiklah tuan putri."

Akashi pun melajukan mobilnya ke café milik murasakibara yang juga sahabatnya saat SMA.

"selamat datang." Sambut salah satu pelayan di café itu.

Kuroko menuju etalase yang memajang kue-kue yang manis dan juga enak namun kuroko hanya jatuh cinta dengan cake vanilla saja.

"arara kuro-chin datang rupanya."

"doumo murasakibara-kun."

"kuro-chin pasti mau membeli cake vanilla ya."

"hem iya."

"baiklah. Ah halo aka-chin."

"atushi lama tidak bertemu."

"iya benar aka-chin dan kuro-chin sudah lama tidak berkunjung kesini ya."

"iya, makanya aku merindukan cake vanilla ditempat mu murasakibara-kun."

"baiklah. Akan ku siapkan dulu cake mu ya kuro-chin."

Selesai membeli cake kuroko dan akashi menuju gedung bioskop untuk membeli tiket.

.

.

Midorima lagi-lagi menahan untuk tidak melempar sosok kise ryouta yang ada dipundaknya yang sedang dengan nyamannya membuat dirinya tersiksa.

"aku tidak berat kan midorimachi."

"apa yang tidak berat, kau berat sekali kise. Dan apa itu tadi kau curang."

"kalau kalah tidak boleh mengatai orang curang. Lagian kan midorimachi sendiri yang sepakat untuk bermain suit dan yang kalah harus menggendong orang yang menang kemana pun orang itu mau pergi."

"aku menyesal."

"jangan menyesal. Nikmati saja toh aku ini tidak berat-berat amat kok."

"kau mau kemana."

"tidak tahu."

"jangan membuat ku kesal, kise."

"ah iya iya terserah kau saja deh mau kemana."

"bagaimana ke café aku mempunyai teman yang membuka café dan cake disana sangat enak-enak."

"setuju."

"bisa kau turun sekarang."

"aku mau turun kalau sudah sampai café nya."

"jangan seenaknya memutuskan."

"ingat kesepakatan midorimachi, lagian aku lelah berjalan dan ternayta enak juga di gendong ya."

"kise!"

"hussss ayo berjalan jangan berteriak nanti makin cape loh."

Midorima melanjutkan langkah dengan kise dalam gendongannya sambil merutuki diri sendiri bagaimana ia bisa terjebak dengan permainan kise dan berakhir dengan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Bagaimana tidak kise menyamar dengan rambutnya yang dikuncir serta memakai kacamata hitam besar yang berada diatas pundaknya dengan senyum-senyum sendiri.

"selamat datang." Sapa pelayan café didekat pintu.

"aomine-kun no baka."

"oi satsuki jangan asal bicara, siapa yang bodoh."

"halo momochi, aominechi."

Aomine dan momoi mencari sumber suara yang memanggil nama mereka dengan embel-embel aneh.

"KYAAAAAAAAA KI-CHAN." Teriak momoi.

"berisik." Teriak midorima dan aomine bersamaan.

"ah midorin juga ada disini juga rupanya toh."

"ah benar-benar sial kenapa aku harus bertemu dengan kalian disini."

"oi oi midorima, kenapa kau menggendong si kise itu."

"ah iya, turunkan aku mdiorimachi." Kise pun turun dari gendongan midorima.

"arara mido-chin, sat-chin, mine-chin datang toh dan siapa itu mido-chin."

"ah kenalkan nama ku kise ryouta."

"ah iya kise-chin kenalkan nama mu murasakibara atushi."

"salam kenal murasakichi."

Makhluk warna warni itu kini sedang duduk dalam satu meja menunggu pesanan mereka datang.

"mana himuro, murasakibara."

"muro-chin sedang ke amerika akan kembali lusa."

"hem seperti itu."

"mido-chin apa kise-chin itu pacar mu."

"bukan. Dia itu pengganggu saja."

"hidoi."

"hey kau model dada rata. Lepaskan kacamata aneh itu."

"tidak mau, nanti fans mu berdatangan bagaimana."

"tidak peduli. Lepaskan."

"kalian sudah saling mengenal." Tanya midorima bingung melihat interaksi aomine dengan kise.

"hem iya kami bertemu di apartemen kurokochi lalu berkenalan."

"ah iya tadi kuro-chin dan aka-chin mampir juga kesini."

"mereka sedang kencan, mukkun."

"kau tahu dari mana satsuki."

"jelas aku tahu hehe."

Kise lansung mengambil hp didalam tas nya namun setelah itu hp nya diambil oleh midorima dan midorima memasukannya kesakunya.

"jangan menganggu orang kali ini saja." Bisik midorima di telinga kise.

"ah iya minna, aku mau menyampaikan sesuatu mumpung kalian semua berada disni. Akashi-kun kemarin memberitahu ku kalau lusa kita diundang untuk ikut berlibur dipulau untuk merayakan ulang tahun tetsu-kun. Tapi kalian jangan beritahu tetsu-kun ya. Dan midorin harus ikut ya. Mukkun juga. Karena akashi-kun sekalian mau membuat reuni kecil kiseki no sedai. Dan aku sangat tidak sabar berkumpul seperti dulu lagi."

DEG. Apa yang tadi momoi bilang liburan dan perayaan ulang tahun. Oh ayolah perasaan kise mendadak buruk.

"ah iya kise-kun kau ikut juga kata akashi-kun."

"kau mengenal akashi, kise." Tanya aomine bingung.

"dia calon tunangan ku." Jawab kise dengan senyum andalan ala modelnya.

.

.

.

Selesai menonton akashi dan kise menuju toko buku untuk memperbarui koleksi novel-novel mereka. Mereka pasangan yang mempunyai hobi yang sama membaca buku. Selesai membeli beberapa novel. Mereka menuju restoran favorit kuroko untuk makan malam.

"ini bukan makan malam romantic tetsuya."

"menurut ku romantic dan menyenangkan karena disini ada sei dan juga tuan vanilla milkshake."

Bila saja vanilla milkshake itu manusia akashi akan senang hati akan membinasakannya kerana segelas vanilla milkshake bisa membuat tetsuyanya melupakan keberadaannya dengan asik menyeruput minuman favoritnya. Dan akashi benar-benar tahu kuroko makan malam romantic yang kuroko bilang adalah dengan makan malam di restoran cepat saja yang menjual vanilla milkshake yang menurut tetsuyanya itu terenak ya tempat itu adalah maji burger. Namun rasanya enggan untuk memusnakan vanilla milkshake karena dengan memusnahkan sama saja mengambil kebahagian dari tetsuyanya.

"tetsuya, aku ke supermarket dekat sini sebentar ya."

"baiklah sei. aku mau menambah vanilla milkshake."

"ini sudah gelas ketiga."

"aku janji ini pesanan terakhir."

"jangan melanggar janji mu atau mau kuberi hukuman."

"aku memegang janji ku."

Akashi bangun dari duduknya dan sebelum beranjak ia mengacak surai baby blue kekasihnya itu karena akashi tahu kuroko akan berani ingkar janjinya bila menyangkut vanilla milkshake.

.

.

"kise, kau sudah 1 jam disini. Mau sampai kapan."

"entahlah midorimachi, suasana hati ku sedang buruk."

"mengenai acara lusa nanti."

"iya."

"sudahlah, jalani saja."

"dari kemarin malam seichi menghindari ku bahkan email dan telfon ku diabaikan."

"kau jangan egois. Dia memiliki kekasih mungkin dia butuh waktu bersama kekasihnya tanpa kau ganggu."

"entahlah." Kise menundukan kepalanya dan bulir air mata mulai membasahi wajahnya.

Midorima sadar hal itu dan langsung memeluk kise dan membiarkan kise menangis untuk yang kesekian kalinya didalam pelukannya.

.

Diluar taman sosok surai merah melihat bagaimana kise menangis didalam pelukan midorima ya sudah kedua kalinya sosok surai merah itu melihat hal ini dan juga melihatnya ditempat yang sama.

.

.

"kau senang hari ini tetsuya."

"hem iya. Kenapa kau lama tadi ke supermarketnya."

"kasirnya lama sekali melayaninya."

"sei. kau jujur."

"iya. Ah ya tetsuya bisa temani aku lusa ke suatu tempat."

"kemana sei."

"ikut saja."

"baiklah, oyasuminasai seijuuro."

"oyasuminasai tetsuya."

Akashi merebahkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh kuroko yang ada disampingnya. Setidaknya ia membuat tetsuyanya bahagia hari ini namun ia merasa bodoh kenapa harus membohongi tetsuya dan kenapa ia tidak bilang bahwa dia lama karena melihat kise dan midorima berpelukan ditaman dan kise menangis dalam pelukan itu. Akashi masih tidak mengerti mengapa rasanya aneh sekali melihat pemandangan tadi padahal pertama kali ia melihat hal itu rasanya biasa saja namun sekarang berbeda.

"aku mencintai mu tetsuya."

~ bersambung ~

Yos akhrinya menyelesaikan satu chap lagi sebelum uas nanti.

Semoga cerita ini tidak membosankan, dan mohon review nya mina.