True Love, Right!
.
.
Chap. 12
.
.
Happy Reading Mina..
Jangan lupa review nya...
Terima kasih untuk review di chap. Sebelumnya :)
Maaf bila masih banyak typo dimana-mana.
.
.
.
.
"Akashi."
"Shintarou, ku rasa disini bukan arah menuju kamar mu."
"Benar dan setahu ku juga, disini bukan arah menuju kamar mu."
"Benar."
"Arah ini hanya menuju dua kamar yaitu kamar Aomine dan kamar Kise, jadi kau ada urusan dengan siapa ? Bila dengan Kise sayang sekali kau harus kembali esok karena ia tidak bisa kau temui sekarang."
"Sejak kapan kau jadi suka mengurusi urusan orang ?"
"Ku rasa kau sudah mendengar percakapan Kuroko dan Kise tadi, jadi ku rasa kau harus lebih tahu diri, dan jangan memberi harapan pada Kise."
"Aku akan tetap menemui Ryouta malam ini. Oyasumi Shintarou."
Akashi berjalan melewati Midorima. Sayangnya belum jauh Akashi melangkah, Midorima menarik tangan Akashi.
"Ku harap kali ini kau mendengarkan perkataan ku, jangan temui Kise sekarang."
Midorima melepaskan pegangannya. Akashi hanya memandang Midorima dengan tatapan tidak suka.
"Kembali ke kamar mu Shintarou. Ingat perkataan aku absolut."
Akashi kembali berjalan meninggalkan Midorima. Sungguh Midorima tidak suka dengan sikap Akashi. Kenapa dia begitu egois. Midorima pun menyusul Akashi.
Akashi mengetuk pintu kamar Kise. Namun tidak kunjung juga di buka. Saat Akashi memutar knop pintu kamar Kise ternyata tidak terkunci. Akashi masuk dan melihat Kise tengah menangis.
"Ryouta."
Kise melihat Akashi ada di dalam kamarnya lalu Kise bangun dan memeluk Akashi. Akashi pun membalas pelukan Kise.
"Ryouta, bisa aku meminta sesuatu." Bisik Akashi di telinga Kise.
Kise hanya mengangguk.
"Aku minta kau jauhi Shintarou, apa kau bisa mengabulkannya untuk ku ?"
Bagai sihir, Kise kembali menganggukan kepalanya. Akashi hanya menyeriangi. Setelah itu Akashi melepas pelukan itu dan pergi dari kamar Kise.
Akashi melihat Midorima yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Akashi pun menghampiri Midorima.
"Shintarou kau harus tahu dimana tempat mu."
"Dan kau harus tahu kalau Kuroko itu yang milik mu, bukan Kise."
.
.
.
Kise membuka matanya dan menyesuaikan matanya dengan cahaya didalam kamarnya. Ia melirik jam yang ada di meja kecil dekat kasurnya, ternyata sudah pukul sepuluh pagi. Kise pun memutuskan untuk mandi karena semalam Momoi memberitahunya kalau mereka akan bermain di pantai dan kumpul jam 11 siang ini di aula. Begitu melihat pantulan dirinya di cermin, Kise tersenyum getir. Mata sembab, rambut berantakan. Ah iya sudah menangis semalaman. Bagaimana bisa ia tidak menangis setelah percakapan dengan Kuroko semalam.
Kise menemui yang lain di aula dan ternyata sudah berkumpul semua. Kise pun melihat Kuroko yang sama sepertinya, mengenakan kacamata. Kise bisa menebak kenapa Kuroko memakai kacamata. Alasan yang sama dengannya. Menyamarkan mata yang sembab.
"Ki-chan, kau tidak sarapan ya. Ini kau makan saja roti dulu ya. Soalnya sarapannya di habiskan semua oleh Dai-chan dan Mukkun." Momoi menyerahkan roti ke Kise.
"Terima kasih Momochi."
"Baiklah ayo kita main ke pantai, minna."
Semua pun berjalan ke pantai. Sampai di pantai kegiatan pertama yang dilakukan oleh Momoi adalah menyiapkan area volly pantai.
"Kise-kun." Panggil Kuroko.
"Iya Kurokochi, ah iya selamat ulang tahun ya Kurokochi." Kise memeluk Kuroko.
"Terima kasih Kise-kun."
"Iya sama-sama Kurokochi. Oh iya ada apa Kurokochi memanggil ku, ada yang mau kau bicarakan dengan ku ?"
"Iya ada, bisa ikut dengan ku."
"Baiklah."
Kuroko dan Kise berjalan menjauh dari yang lainnya. Merasa sudah jauh dari yang lain, Kuroko pun menghentikan langkahnya. Kise pun mengikuti Kuroko.
"Kise-kun, maaf."
"Untuk apa, Kurokochi ?"
"Aku berpikir salah, Kise-kun berhak menyukai siapa pun sekali pun itu Seijuuro-kun, yang harus ku lakukan hanya mempertahankan Seijuuro-kun untuk tetap di sisi ku, jadi bila Kise-kun mau membuat Seijuuro-kun menyukai Kise-kun silakan saja."
"Kurokoc-"
"Tidak apa Kise-kun. Asal kita melakukan hal yang wajar dan tidak melakukan kecurangan. Aku tidak keberatan."
"Jadi Kurokochi menantang ku nih ?"
"Mungkin bisa di bilang seperti itu, karena aku yakin kalau Seijuuro-kun itu tidak akan berpaling."
"Baiklah, aku terima dan kita tidak boleh curang ya."
"Iya."
"Maaf ya Kurokochi."
"Tidak apa Kise-kun dan ayo kita kembali ku rasa Momoi-san mencari kita."
"Baiklah ayo."
Momoi sudah selesai menyiapkan area volly pantainya dan meminta semua untuk berkumpul untuk membagi kelompok. Seperti biasa Akashi dengan embel-embel absolutnya menentukan tim untuknya seenak jidatnya. Kise tentu protes dan meminta cara yang adil. Sampai akhirnya Momoi menengahi dan menyarankan untuk hompimpa. Akashi pun menyetujuinya.
Setelah melakukan hompimpa kelompok pun terbentuk.
Tim satu : Akashi, Kuroko, dan Murasakibara.
Tim dua : Kise, Aomine, dan Midorima.
Sedangkan Momoi sebagai wasit dalam permainan itu.
"Baiklah ayo kita mulai." Seru Momoi.
Skip time !
"Ini semua gara-gara Ahominechi kita jadi kalah."
"Apa-apaan kau menyelahkan orang seenaknya. Kau juga sama tidak becus mainnya."
"Ih Aominechi menyebalkan, sana kau saja yang menjalani hukamannya."
"Heh... Enak aja kita bareng-bareng lah."
"Mana sudi aku melakukannya, masa aku harus jadi pelayan ya walau hanya sampai malam ini sih."
"Kau kira aku sudi, huh ?"
...
"Ryouta, Daiki apa kalian sudah berbincangnya ?" Tanya Akashi dengan nada mengancamnya.
Gluk. Kise dan Aomine dengan susah payah menelan ludah mereka.
"Baiklah karena Tetsuya berulang tahun hari ini maka Tetsuya yang akan menentukan siapa tuan untuk Daiki, Ryouta, dan Shintarou."
"Oi Akashi kata-kata mu itu tidak enak didengar tahu." Protes Aomine.
"Apa itu bentuk Protes Daiki." CKRIS. Akashi memainkan guntingnya.
"Tidak. Tetsu cepat tentukan."
Kuroko mengambil sedotan yang berjumlah enam buah.
"Jadi di masing-masing ujung sedotan ini memiliki warna yang sama dengan sedotan yang akan dipegang oleh ku, Sei, dan Murasakibara-kun, semua silakan mengambil sedotannya dan bila mendapatkan warna yang sama dengan sedotan yang aku, Sei, dan Murasakibara-kun pegang maka orang itu yang akan menjadi tuan kalian."
Kuroko pun menyodorkan tiga buah ke arah Kise. Midorima, dan Aomine. Begitu mereka sudah mengambil sedotan yang menjadi pilihannya. Sekarang giliran Kuroko, Akashi. Dan Murasakibara yang mengambil sedotan sesuai dengan pilihannya.
"Baiklah karena semua sudah mengambil sedotan jadi ayo kita tunjukan bersama, ku rasa ini cara yang adil."
Semua menunjukan warna ujung sedotan yang mereka pilih dan hasilnya adalah...
Ujung sedotan warna merah : Aomine dan Kuroko.
Ujung sedotan warna ungu : Midorima dan Murasakibara.
Ujung sedotan warna biru : Kise dan Akashi.
Aomine menghela nafas lega karena tidak berpasangan dengan Akashi. Aomine pun menatap Kise dengan tatapan "sial sekali kau, Kise."
Sungguh Kise merasakan firasat buruk. Kise menyesal menyetujui hukuman untuk tim yang kalah menjadi babu sampai malam hari.
"Ryouta untuk pekerjaan pertama mu adalah buat aku dua jus jeruk untuk ku dan Tetsuya dan jangan coba-coba menyuruh pelayan yang ada. Kau ke dapur dan buat sendiri."
"H-hai." Jawab kise dengan lesu.
Acara suruh menyuruh pun berlangsung. Murasakibara memanfaatkan Midorima untuk mencarikan makanan yang banyak untuknya. Akashi menyuruh hal yang menurut Kise menyebalkan seperti membuat Jus sendiri di dapur, mengambilkan baju ganti, sampai di suruh untuk mengipasinya. Yang beruntung hanya Aomine karena Kuroko hanya menyuruhnya untuk mencarikan vanila milkshake. Momoi sendiri hanya bersantai sembari menikmati pantai yang indah di depannya.
.
.
.
Acara bermain di pantai usai, semua tengah bersiap untuk acara pesta perayaan ulang tahun Kuroko.
Kise mengenakan gaun selutut dengan warna hijau toska, walau sederhana tentu Kise terlihat anggun dan cantik. Selesai berdandan, Kise mengecek kado yang akan dia berikan pada Kuroko nanti.
Tok...Tok...Tok...
Kise membuka pintu kamarnya dan melihat sosok Midorima berdiri didepan pintu kamarnya. Kise sangat terkagum dengan penampilan Midorima, dengan kemeja hijau lengan panjang dan juga celana hitam. Tampan. Itulah yang ada di pikiran Kise.
"Mau ke aula bersama nona Ryouta ?"
"Tentu aku mau tuan Shintarou."
Kise dan Midorima pun berjalan bergandengan menuju Aula.
"Kau sangat cantik malam ini, Ryouta."
"Kau juga sangat tampan malan ini. Shintarouchi."
"Jadi bagaimana dengan kencan sehari dengan ku nanti sebagai bayaran karena telah memuji mu ?"
"Heeehh jadi kau meminta bayaran Shintarouchi tapi aku setuju."
Kise dan Midorima sampai di aula. Kise dan Midorima pun menghampiri Kuroko untuk memberikan kado mereka.
"Selamat ulang tahun Kuroko." Ucap Midorima sembari memberikan kado pada Kuroko.
"Terima kasih Midorima-kun."
"Selamat ulang tahun Kurokochi, ini kado mu, dan malam ini kau benar-benar seperti putri dari dunia dongeng. Cantik sekali."
"Terima kasih Kise-kun. Kise-kun juga cantik dan cocok sekali dengan Midorima-kun."
"Benarkah."
"Iya."
Akashi hanya menatap tidak suka ke arah Kise. Yang tengah mengobrol dengan Kuroko. Begitu obrolan Kise dan Kuroko selesai, Akashi menarik Kise keluar aula.
"Aduh ada apa Seichi ?"
"Ryouta, apa kau ingat permintaan ku tadi malam ?"
"Permintaan ? Memang permintaan apa Seichi."
Akashi tidak menjawab dan terus menatap tajam pada Kise. Kise sendiri sedang berusaha mengingat permintaan Akashi. Begitu ia ingat dia pun melihat ke arah Akashi dengan tatapan penuh tanya.
"Tapi Seichi, jujur saja aku tidak begitu sadar saat aku menyetujui untuk menjauhi Midorimachi. Bagaimana bisa menjauhi sahabat kecil ku."
"Kau sudah setuju, kau harus meminta persetujuan ku kalau mau berdua dengannya."
"Tapi-"
"Perkataan aku absolut, Ryouta."
Setelah mengatakan itu Akashi pergi. Kise masih tidak paham dengan jalan pikiran Akashi. Memang ada dengan sahabatnya, sampai harus ia jauhi. Malas berpikir terlalu rumit, Kise pun kembali masuk ke dalam aula.
Acara pesta berlangsung sederhana tapi meriah. Acara pun di tutup dengan acara kembang api saat semua berkumpul di pinggir kolam renang. Warna-warni kembang api menghiasi langit malam. Wajah semua orang terlihat bahagia.
"Mido-chin aku mau kue lagi."
"Ambil sendiri Murasakibara."
"Tapi kan kau masih-"
"Hukuman selesai sejak satu jam yang lalu."
"Hehhh kalau gitu tolong antar aku yaa."
Murasakibara menarik Midorima namun karena Midorima kaget, ia menyenggol Momoi dan menyebabkan...
BYUR...
Kuroko dan Kise jatuh ke dalam kolam renang. Untuk Kuroko tentu ia tidak panik karena ia bisa berenang namun tidak dengan Kise. Kise panik karena tidak bisa berenang. Melihat itu Midorima dan Akashi bersama-sama terjun ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan Kise.
Kuroko sendiri di bantu oleh Aomien untuk naik ke atas. Kuroko hanya menatap Midorima dan Akashi yang sedang menyelamatkan Kise. Dan Midorima lah yang terlebih dahulu menggapai tubuh Kise. Akashi sendiri hanya diam dan menepi untuk naik ke atas.
"Uhuk..uhuk..." Kise terbatuk saat sudah sampai di atas karena ia sempat menelan air saat tercebur di kolam renang tadi.
"Kise kau tidak apa ?" Tanya Midorima khawatir.
"Terima kasih Midorimachi dan maaf membuat mu jadi basah juga."
"Tidak apa, ayo ku antar ke kamar."
"Aku yang akan mengantar Ryouta ke kamar."
Semua menengok ke arah Akashi. Akashi sendiri mendekati Kise dan membantu Kise berdiri.
"Kau tidak lihat Kuroko juga terjatuh di kolam renang tadi dan kenapa kau tidak mengantar Kuroko ke kamarnya saja, biar Kise aku yang mengantar." Ucap Midorima.
"Sei, antar aku ke kamar." Pinta Kuroko.
Akashi seperti orang bodoh. Ia tidak suka melihat Kise terus dekat dengan Midorima. Bahkan ia sampai lupa kalau kekasihnya pun mengalami yang sama dengan Kise. Bahkan ia tidak ingat bila tadi ia telah menolong kekasihnya. Melihat tatapan Kuroko. Jelas Kuroko sangat kecewa dengan sikap Akashi. Akashi benar-benar merasa bersalah.
Akashi pun menggendong Kuroko dan pergi meninggalkan yang lain tanpa sepatah kata pun. Begitu pun Kise dan Midorima.
"Oi Satsuki jujur aku tidak suka atmosfir tadi, sepertinya si Akashi cemburu pada si Midorima."
"Aku juga berpikir hal yang sama Mine-chin."
"Tumben Dai-chan peka."
"Ah sudahlah, tapi awas saja kalo si Akashi mengecewakan Tetsu. Akan ku beri dia pelajaran."
.
.
Akashi mengambilkan handuk untuk Kuroko yang tengah menunggu diruang tengah kamarnya. Setelah mengambil handuk, Akashi memberikan pada Kuroko. Namun Akashi melihat kesedihan di wajah Kuroko. Akashi pun memeluk Kuroko. Karena ia sendiri merasa bodoh dan bersalah untuk peristiwa tadi.
"Maaf Tetsuya, maaf."
Kuroko pun menangis dalam pelukan Akashi. Sungguh suasana hatinya sangat kacau. Ketakutan kehilangan Akashi kini benar-benar menghantuinya. Jelas tindakan Akashi tadi menunjukan kalau ia cemburu pada Midorima. Bahkan Akashi mengabaikannya tadi.
"Ap-apa kau mulai menyukai Kise-kun, Sei ?"
"Tidak, tidak, tidak. Maaf ku mohon maafkan aku."
"Tapi-"
Akashi mencium bibir Kuroko dengan lembut. Kuroko sendiri masih menangis. Akashi pun menyudahi ciuman itu dan memandang mata Kuroko. Jelas sekali Kuroko sangat kecewa pada dirinya.
"Tetsuya, apa yang harus ku lalukan ?"
"Berjanjilah jangan pernah berpaling dari ku."
"Aku berjanji Tetsuya."
Setelah itu Akashi memeluk Kuroko untuk menenangkannya.
.
.
Kise sudah berganti pakaian. Ia pun memikirkan peristiwa tadi. Ia mengurutkan pertiwa yang terjadi. Pertama, Akashi memintanya untuk menjauhi Midorima, Kedua, Akashi tadi malah memilih mengantarkannya ke kamar padahal disitu Kuroko mengalami hal yang sama dengannya.
BLUSH. Wajah Kise memerah. Suasana hati pun senang.
'Apa Seichi cemburu pada Midorimachi dan kini ia mulai menyukai ku.' Batin Kise.
"KYAAAAAAAAA." Teriak Kise.
Kise membaringkan tubuhnya di atas kasur. Suasana hatinya sangat senang sekali. Bahkan kalau ia tidak salah ingat, kemarin Akashi juga memeluknya.
"Ah bagaimana kalau aku sekarang ke kamar Seichi dan tanya kenapa harus menjauhi Midorimachi." Ucap Kise, seorang diri.
Kise pun keluar kamar dan menuju kamar Akashi.
Sampai didepan kamar Akashi. Kise mengetuk pintu kamarnya dan Akashi pun tidak lama membukakan pintunya.
"Ryouta."
"Malam Seichi."
Kise pun langsung masuk ke dalam kamar Akashi tanpa Akashi izinkan sebelumnya.
"Siapa yang mengizinkan mu masuk, Ryouta ?"
"Ah maaf... Kyaaa kenapa kau pakai handuk doang Seichi." Kise menutup muka nya dengan kedua telapak tangannya.
"Siapa itu Sei ?"
Kise pun berbalik badan dan melihat Kuroko hanya memakai handuk saja menutupi tubuhnya. Seperti tersambar petir, Kise hanya bisa mematung dan tubuhnya gemetar.
"Keluar dari kamar ku sekarang Ryouta."
"Kurokochi kenapa disini dan kenapa kau hanya mengenakan handuk ?"
"Ki-"
"Ryouta kau tidak dengar perkataan ku, keluar lah."
"Ku mohon jawab pertanyaan ku." Pinta Kise dengan suara parau.
"Apa pun yang ku lalukan dengan Tetsuya bukan urusan mu, keluarlah sekarang."
Kise menangis dan berlari keluar dari kamar Akashi. Pikirannya kacau. Semua kesimpulan negatif, memenuhi pikirannya. Kecewa tentu saja. Melihat orang yang kau sukai berdua dengan wanita bahkan mereka tidak berbusana sama sekali, hanya mengenakan handuk saja.
Kise benar-benar kecewa dengan Kuroko dan Akashi. Kuroko memintanya untuk tidak berbuat curang tapi apa tadi Kuroko bahkan melakukan hal yang menurut Kise curang, tidur bersama dengan Akashi. Apa itu perbuatan yang bisa di bilang tidak curang. Bahkan Akashi memintanya untuk menjauhi Midorima yang merupakan sahabatnya, sedangkan Akashi sendiri mengabaikan dirinya bahkan tidak menganggapnya.
.
.
.
Liburan selesai. Semua berkumpul di bandara untuk bersiap kembali pulang. Kise sendiri memilih menyendiri dan menyibukan dirinya dengan hpnya. Midorima pun bahkan di abaikan.
Akashi memperhatikan perilaku Kise yang berubah. Dari cara bicaranya, Kise sangat dingin. Menanggapi semua pertanyaan yang di ajukan pada dirinya.
Kuroko hanya duduk dan bersender di bahu Momoi. Rasanya sangat lelah dengan semua kejadian kemarin malam. Rasa bersalah tentu saja menyertainya. Mencoba mengobrol dengan Kise sekarang, pilihan buruk. Karena Kise sendiri terlihat begitu bersikap dingin pada yang lainnya.
Pengumuman di bandara bahwa pesawat mereka sudah siap pun mengalihkan perhatian mereka semua dan semua pun bergegas menaiki pesawat. Di dalam pesawat Kise memilih duduk disamping Murasakibara. Sepanjang berjalan Kise hanya tertidur atau bahkan mendengarkan Musik dari .
"Huah lelah sekali ya tapi akhirnya kita sampai di Jepang lagi." Ucap Momoi.
"Saccin aku lapar, ayo cari cafe untuk makan dulu sebelum pulang."
"Huh, Mukkun tuh ya makan mulu."
"Aku lapar Saccin."
"Iya iya. Minaa, ada yang bergabung dengan ku ?"
"Maaf Momochi aku tidak bisa karena manajer ku sudah menjemput ku."
Semua pun mengalihkan pandangannya ke Kise. Kise sendiri mencoba tersenyum walau terlihat sangat di paksakan.
"Kau ada pemotretan Kise ?" Tanya Midorima.
"Iya ada." Jawab Kise.
"Dimana Ki-chan, apa tidak cape ?"
"Ini pekerjaan ku, Momochi. Aku ada pemotretan di Amerika selama sebulan."
"Hah ? Sebulan ? Memang kau mau pemotretan apa Kise ?" Kali ini tanya Aomine.
"Aku ada pemotretan untuk dua majalah, lalu ada syuting iklan, dan fasion show di Amerika. Ah iya pesawat ku akan berangkat tiga puluh menit lagi, kalau gitu sampai jumpa lagi minna." Setelah itu Kise pun pergi.
.
.
.
Seminggu setelah kepergian Kise ke Amerika..
Akashi duduk diruang tengah apartemennya. Menggonta-ganti channel televisi didepannya. Kenapa ia ada di apartemen, karena Ibunya bilang akan mengunjunginya di apartemen. Jadi Akashi sedang menunggu Ibunya datang.
Sudah satu jam Akashi menunggu. Kabar terakhir lima belas menit yang lalu, kalau Ibunya terjabak macet di jalan.
Ting nong...
Suara bel apartemen Akashi berbunyi. Seorang maid membukakan pintu. Karena hari ini Akashi meminta beberapa maid untuk membersihkan apartemennya.
"Sei-chan."
"Kaa-san."
"Sei-chan, Kaa-san merindukan mu."
Ibu Akashi pun langsung memeluk putra satu-satunya itu. Akashi sendiri hanya bisa pasrah. Setelah peluk-pelukan. Akashi dan ibunya duduk dan melihat maid menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka.
"Jadi ada apa Kaa-san berkunjung kemari ?"
"Heh, selalu saja to the point. Baiklah-baiklah Kaa-san langsung saja ya." Jeda sejenak "Ryouta meminta pembatalan acara pertunangan."
- T.B.C -
