Angin berhembus menghempaskan helaian emas milik seorang anak kecil yang tengah sibuk mengamati bunga-bunga didepannya. Senyuman menghiasi wajah anak itu. Matanya berbinar kagum. Bahkan udara dingin di sekitarnya terbaikan.

Di sisi lain ada seorang anak dengan surai merahnya, tengah memperhatikan anak bersurai emas itu. Lama memperhatikan si surai emas, si surai merah kini tersenyum dan berjalan menghampiri si surai emas itu.

"Apa bunganya telalu indah campai kau tidak kedinginan ?" Tanya si surai merah.

Si surai emas pun menengok dan tersenyum ke arah si surai merah.

"Dingin, hanya caja bunga ini cantik ya... Walna walni." Jawab si surai emas.

"Ciapa nama mu ?"

"Kise Lyouta.. Kau cendili ciapa nama mu ?" Jawab si surai emas dengan riangnya.

"Akashi Seijuulo." Balas si surai merah yang tak kalah riangnya.

Kedua anak itu kini sedang duduk disebuah ayunan. Tidak ada percakapan di antara mereka. Si surai emas hanya mengadahkan kepalanya ke atas dan si surai merah memperhatikan si surai emas.

"Kenapa Sei-chan celalu mempelhatikan ku ?"

"Kau... Kenapa melihat ke atas telus ?"

"Awannya indah... Sei-chan apa sedang belibul juga di cini ?"

"Hem, kau cendili ?"

"Aku juga cedang belibul belsama Tou-san, Kaa-san, dan Nee-chan... Ah juga Tou-san mau ketemu cama temannya."

"Tou-san juga cama mau ketemu cama temannya."

"Apa jangan-jangan Tou-san kita belteman ya.. Bagaimana kalau kita belteman juga."

"Baiklah."

.

.

Akashi si bocah surai merah itu kini tengah duduk bersama kedua orang tuanya. Dengan tatapan bosan ia melihat ke sekelilingnya berharap menemukan sesuatu yang menarik. Akashi di ajak oleh kedua orang tuanya untuk menghadiri acara pesta pernikahan rekan kerjanya, sebagai anak yang baik jelas Akashi menyetujuinya.

"Sei-chan."

"Lyou-chan."

Akashi turun dari bangku yang di dudukinya dan berlari ke arah Kise yang baru saja tiba bersama dengan kedua orang tuanya.

"Sei-chan datang juga ya ? Sudah lama kita tidak beltemu ya sejak libulan kemalin."

"Iya.. Hem baju Lyou-chan cantik cekali cama cepelti kaka pengantin wanita itu." Akashi menunjuk seorang pengantin wanita.

"Telima kacih Sei-chan.. Kau juga tampan cepelti kaka itu." Kise menunjuk sorang pengantin pria.

"Hem bagaimana kalo nanti aku dan Lyou-chan menikah caja." Pinta Seijuuro kecil dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.

"Aku mau.. Aku mau." Jawab Ryouta kecil dengan antusias.

Akashi dan Kise kecil pun tersenyum bersama.

.

.

.

True Love, Right !

Chap. 13

.

.

.

Drrt...Drrt...Drrt...Drrt...

Akashi terbangun dari tidurnya karena suara getaran handphone. Dia pun melihat siapa yang menelfonnya pagi-pagi. Ternyata yang menelfonnya adalah sang kekasih.

"Ohayou Tetsuya."

"Sei, aku didepan Apartemen mu."

Akashi pun menutup telfonnya dan berjalan menuju pintu apartemennya dan melihat Kuroko berdiri disana sambil mengangkat sekantung belanjaan.

"Sarapan bersama pagi ini bagaimana Sei ?"

"Ide bagus, masuklah."

Kuroko memasuki apartemen Akashi ya walau ini bukan pertama kalinya hanya saja terasa asing karena sudah sangat lama ia tidak penah berkunjung. Terlebih ketika Kise pun tinggal di apartemen itu. Kuroko pun beranjak ke dapur dan Akashi mengikuti di belakangnya.

"Tumben sekali kau bangun siang Sei ?"

"Siang ? Ini masih jam 9 pagi, Tetsuya sayang."

"Ini sudah siang Sei, biasanya kau bangun pukul 6 pagi."

"Itu di hari kerja, seingat ku ini weekend."

"Aku hanya mengetes saja, apa kau ingat ini hari apa."

"Baiklah terserah Tetsuya saja, aku lapar."

"Mandilah selagi aku memasak untuk mu."

"Morning kiss ku ?" Goda Akashi sambil memeluk Kuroko dari belakang.

CUP.

"Sudah sana mandi."

"Terima kasih Tetsuya untuk kecupan singkatnya di pipi ku."

"Sama-sama."

Akashi pun melangkah ke kamar mandi. Kuroko sendiri kembali menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan. Kuroko pun membuka kulkas di dapur apartemen Akashi dan tersenyum tipis karena di kulkas itu terbilang lengkap bahkan disana ada saus pasta dan pasta. Seingatnya Akashi tidak terlalu menyukai pasta, pasti pasta ini milik Kise. Kuroko pun ingat kalau ini sudah lebih dari sebulan sejak kepergian Kise sepulang liburan ke Amerika untuk pekerjaannya namun ia sama sekali belum pernah bertemu Kise sejak saat itu.

Akashi menghidupkan shower dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Ingatannya kembali pada mimpinya tadi. Sosok anak kecil dengan surai emas dan surai merah. Sosok surai emas itu adalah Kise Ryouta. Kini Akashi ingat kalau dulu ia dan Kise memang pernah bertemu namun mereka saat ini masih sangat kecil. Kemungkinan Kise lupa pun besar karena dirinya sendiri memang lupa namun entah karena apa ia sering bermimpi hal yang sama mengenai sosok anak surai emas itu, sampai akhirnya ia ingat teman kecilnya itu. Akashi bahkan tahu kalau Kise sudah pergi lebih dari satu bulan dan tidak kembali. Bahkan kabar terakhir yang ia tahu mengenai Kise adalah saat ibu nya datang dan memberitahu mengenai pembatalan pertunangan antara Kise dan dirinya.

Kuroko sudah selesai memasak. Dia menyusun makanan dan piring-piring di meja makan. Dia pun memutuskan untuk menyusul Akashi ke kamar karena Akashi tidak juga selesai dengan acara mandinya itu namun batal karena Akashi datang.

"Tumben sekali Sei mandinya lama ?"

"Benarkah ?"

"Iya."

"Maaf kalau gitu, ayo sarapan aku lapar."

"Baiklah ayo."

Selesai sarapan kedua pasangan itu sekarang tengah duduk diruang tengah sembari menonton siaran televisi. Kuroko sendiri sebenarnya tidaklah menonton namun sedang melihat ke semua sudut ruangan itu.

"Tetsuya sedang mencari apa ?"

"Hem...Ano kalau aku tidak salah seharusnya ada foto aku dan Sei di dekat tv itu harusnya."

"Ah itu, foto itu ada di kamar ku."

"Benarkah ? Apa karena Kise-kun jadi di pindahkan ?"

"Apa Tetsuya ingin aku memasang foto kita di semua sudut ruangan ini ?"

"Ah tidak perlu Sei. Lagi pula apa Kise-kun sudah kembali ? Ini sudah sebulan sejak Kise-kun pergi bukan ?"

"Dia tidak akan kembali lagi kesini."

Kuroko menautkan kedua alisnya. Jelas bingung. Kenapa Kise tidak akan kembali lagi. Bukankah Kise tinggal bersama dengan Akashi. Bukankah Kise itu calon tunangan Akashi. Lalu ada apa sekarang.

"Ryouta meminta pembatalan pertunangan ke orang tua ku."

"Kenapa ? Kenapa Kise-kun melakukan hal itu ?"

"Aku tidak tahu Tetsuya sayang... Lagi pula sudahlah itu keputusannya, lagi pula bukankah aku memang sejak awal tidak menyetujui hal itu, jadi bukan masalah berarti."

Kuroko berjalan pulang menuju apartemennya. Kuroko menolak Akashi yang akan mengantarkannya karena pikirannya masih melayang pada banyak kemungkinan mengenai Kise. Rasa bersalah jelas tersirat di benaknya. Bahkan saat terakhir mereka bertemu, Kise benar-benar mengabaikannya. Yang pasti Kuroko hanya bisa berharap bisa bertemu sekali lagi dengan Kise.

Pembicaraan mengenai batalnya pertunangan dengan Kise membuat mood Akashi buruk. Akashi pun memasuki kamar Kise dan harus strawberry yang menjadi wangi khas Kise memanjakan indra penciumannya. Kamar itu tertata dengan rapi. Pandangan Akashi tertuju pada foto yang ada di meja baca Kise. Didalam foto itu ada dua orang anak dengan surai emas dan surai hijau tersenyum bersama. Beberapa menit Akashi terus memperhatikan foto itu sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar itu. Akashi mengambil kunci mobilnya untuk menyegarkan pikirannya berjalan keliling kota mungkin efektif.

Akashi pun memutusakn untuk mampir ke cafe milik Murasakibara. Belum sampai Akashi ke cafe itu, ia melihat Midorima keluar dari sebuah toko bunga bersama dengan seorang wanita dan kalau Akashi tidak salah, wanita itu adalah manajer Kise. Tanpa ambil pusing Akashi melanjutkan perjalanannya ke cafe.

"Akachin tumben mampir sendiri, mana Kurochin ?"

"Tetsuya sedang ada urusan... Atushi apa Shintarou mampir kesini ?"

"Ah Mido-chin mampir kesini sebelum Akachin, memang ada apa Akachin ?"

"Tidak apa. Lalu apa dia bicara sesuatu pada mu ?"

"Hanya menanyakan kabar ku lalu membeli cake dan ia pergi...Ah iya dia datang dengan Alexchin."

"Siapa Alex ?"

"Alex itu manajer Kise-chin."

"Kau tahu kenapa Shintarou bersama Alex ?"

"Hemmmm kalau tidak salah, mereka mau mencari bunga untuk Kisechin."

Akashi tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Murasakibara. Akashi memilih menikmati cake pesanannya dan juga coffe. Tujuannya keluar adalah menyegarkan pikiran.

"Akachi apa kau sudah tau kalau Kisechin itu sedang koma saat ini di rumah sakit."

Akashi menghentikan acara menikmati cake dan coffenya. Ia memandang tajam ke arah Murasakibara. Pandangan menuntut penjelasan mengenai hal yang baru saja ia katakan.

"Kisechin mengalami kecelakaan saat perjalanan dari bandara ke hotel. Saat ini Kisechin belum sadar. Sebenarnya Midochin meminta ku untuk tidak memberitahu siapa pun tapi ku rasa Akachin perlu tahu."

"Untuk apa aku perlu tahu ?"

"Bukankah Akachin itu-"

"Atushi... Terima kasih untuk cake dan coffe nya, aku pulang dulu ya."

Akashi melangkah keluar cafe Murasakibara. Pikirannya bukan semakin membaik kini semakin rumit. Bila harus jujur Akashi sendiri tidak mengerti kenapa dengan dirinya sendiri. Begitu Kise pergi dari hidupnya, ia merasa ada hal yang hilang.

.

.

.

Midorima membuka pintu ruang rawat sahabatnya itu dengan perlahan. Bukan karena ia takut akan mengganggu sahabatnya beristirahat namun karena ia sendiri masih sangat tidak bisa menerima kenyataan kalau sahabatnya itu kini tengah mengalami koma karena kecelakaan yang di alaminya. Sosok pirang yang biasanya riang dan cendrung berisik itu kini tengah terbaring lemah bahkan dengan bantuan beberapa alat medis untuk menopang keberlangsungan hidupnya.

Midorima sendiri menyesal tidak bisa menjemput Kise di bandara dan membiarkannya menaiki taksi. Taksi yang di tumpangi Kise mengalami kacelakaan beruntun karena sebuah truk yang hilang kendali dan menabrak beberapa mobil di sekitarnya. Terlebih Midorima mendengar mengenai pembatalan pertunangan sahabatnya itu dengan Akashi. Entah harus senang atau bagaimana yang jelas sejak Midorima mengetahui itu, Kakak Kise yaitu Kyoko banyak bercerita padanya mengenai perubahan sikap Kise yang menjadi pendiam bahkan lebih sering menyendiri di kamar. Midorima sebenarnya tidak tahu mengenai penyebab kenapa Kise memutuskan hal itu, walau di hari terakhir dirinya bertemu dengan Kise, Midorima menyimpan banyak pertanyaan mengenai sikap Kise yang berubah menjadi sangat dingin pada orang lain.

"Permisi."

Midorima melihat ke arah pintu dan ternyata dokter dan juga perawat yang menangani Kise datang untuk mengecek keadaan Kise. Midorima sendiri menunggu di luar.

"Bagaimana keadaan Kise, Tanaka-san ?" Tanya Midorima pada dokter itu setelah keluar ruangan.

"Belum ada kemajuan yang berarti bahkan keadaannya cendrung semakin memburuk."

Mendengar keadaan Kise yang semakin memburuk jelas membuat Midorima hanya bisa pasrah. Menangis ? Tentu sudah ia lakukan. Hanya satu keinganannya yaitu melihat sahabatnya itu kembali ceria.

.

.

.

Sudah seminggu sejak Akashi mengetahui mengenai keadaan Kise. Namun Akashi enggan untuk mencari tahu dimana Kise di rawat dan melihatnya. Akashi sadar kalau sebenarnya Kise mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Karena itu pula Akashi memutuskan untuk menghindari bertemu dengan Kise karena bila tempat itu semakin luas maka itu sama saja ia menghianati Kuroko. Khawatir ? Tentu Akashi sangat khawatir. Bahkan ia pernah memutuskan untuk mencari tahu tentang Kise tapi ia urungkan karena ia tahu bila ia nekat maka sama saja dia menyakiti hati orang yang di cintainya.

"Sei."

"Tetsuya."

"Sei, apa kau tahu kalau Kise-kun mengalami kecelakaan dan kini tengah koma di rumah sakit ?"

"Kau tahu dari mana, Tetsuya ?"

"Pemberitaan di media cetak dan elektronik ramai memberitakan hal itu. Apa kau sudah menjenguk Kise-kun ?"

"Belum dan aku tidak berminat menjenguknya."

Kuroko sudah berulang kali meminta Akashi untuk menjenguk Kise. Namun Akashi tetap tidak ingin menjenguk Kise. Kuroko sendiri sudah putus asa mengajak Akashi maka ia memutuskan untuk menjenguk Kise seorang diri.

Sampai dirumah sakit Kuroko bertemu dengan Midorima yang tengah duduk didepan ruang rawat Kise dengan raut wajah yang cukup berantakan.

"Konichiwa Midorima-kun." Sapa Kuroko.

"Kuroko...Kau sedang apa disini ?"

"Aku ingin menjenguk Kise-kun."

"Ah seperti itu, kau tahu dari mana ?"

"Pemberitaan di media cetak dan eletronik."

"Lalu apa Akashi tahu ?"

"Sei tahu dan sudah ku ajak kemari tapi dia menolak dan bagaimana keadaan Kise-kun sekarang ?"

"Keadaan Kise sekarang semakin hari, semakin memburuk. Dia tidak punya semangat untuk sembuh dan hidup. Si bodoh itu mungkin mengharapkan dirinya bisa sesegera mungkin meninggal."

"..."

"Kuroko apa kau mau membantu ku ?"

"Membantu apa Midorima-kun ?"

"Apa kau bisa membujuk Akashi menemui Kise ? Ku rasa yang bisa memberi keajaiban untuk Kise adalah Akashi karena kau sendiri pasti tahu bagaimana perasaan Kise pada Akashi, mungkin dengan ada seseorang yang di sukainya di sampingnya akan menjadi kekuatan sendiri untuk Kise agar lebih semangat mempertahankan hidupnya."

"Aku tidak bisa membujuk Sei. Midorima-kun bisa mencobanya sendiri. Aku sendiri merasa bersalah pada Kise-kun dan berharap Kise-kun sadar dan meminta maaf langsung padanya. Aku tidak menyangka kalau Kise-kun akan mengalami hal seperti ini."

Kuroko pun menangis. Terlebih ketika melihat tubuh pucat Kise terbaring lemah.

'Bila karena aku Kise-kun seperti ini maka aku rela melepas Sei jika itu bisa membuat Kise-kun sembuh dan kembali ceria.' Batin Kuroko.

.

.

.

Midorima berkali-kali memencet bel apartemen Akashi bahkan sampai mengetuknya dengan keras namun si pemilik apartemen tidak kunjung membukakan. Habis kesabaran maka hal yang terkahir bisa ia lalukan adalah mendobrak pintu itu dan menyeret si pemilik apartemen keluar. Belum sempat pintu itu di dobrak, si pemilik Apartemen muncul di belakang Midorima.

"Jadi kau tidak ada di dalam sedari tadi ?"

"Iya. Ada urusan apa kau kesini, Shintarou ?"

"Kau tahu keadaan Kise ?"

"Tahu."

"Lalu ?"

"Apa ? Kau mengharapkan ku datang menemuinya ?" Tanya Akashi dengan nada mengejek.

"Akashi...Ku mohon temui dia." Midorima mengepalkan tangannya kuat-kuat. Midorima sendiri enggan untuk melakukan itu tapi mungkin ini cara terakhir dan berharap keajaiban datang.

"Kau memohon ?"

"Terserah kau menganggap itu apa, aku tidak masalah yang jelas aku mau kau menemui Kise."

"Maaf aku tidak bisa."

BRAK. "Akashi teme !" Teriak Midorima sambil memukul meja didepannya."Kau keterlaluan Akashi." Setelah itu Midorima pergi meninggalkan Akashi.

Akashi memejamkan kedua matanya. Menghirup banyak udara. Baru pertama kali dalam hidupnya ia mengalami hal serumit ini. Walau ia mencoba untuk tidak menerima mengenai kondisinya yang kacau karena satu orang tapi tetap saja pada kenyataannya dia memang sedang sangat kacau. Pekerjaan di perusahaan tidak fokus, hubungannya dengan Kuroko bahkan merenggang dan ia pun tidak mencoba memperbaiki itu. Rasanya hidup sekacau ini adalah hal yang tidak pernah ada dalam pemikiran Akashi.

.

.

.

Kuroko menemani Kise di ruang rawatnya. Kuroko bahkan membacakan dongeng anak-anak untuk Kise. Berharap dengan begini Kise akan sadar dan tahu kalau banyak teman-teman di sekitarnya yang peduli dan mengkhawatirkannya. Terlebih Midorima. Kuroko jelas melihat Midorima sangat kacau. Bahkan kantung mata itu terpampang jelas di wajah Midorima. Yang Kuroko dengar dari beberapa perawat kalau sering kali Midorima tidur di ruang rawat Kise untuk menemaninya.

"Kise-kun apa kau sadar kalau kau itu orang paling beruntung karena memiliki sahabat seperti Midorima-kun yang selalu ada di sisi mu setiap saat."

Midorima masuk kedalam ruang rawat Kise dan melihat Kuroko duduk sambil membaca novel.

"Pulanglah Kuroko, kau bisa berkunjung kembali esok."

"Midorima-kun yang harusnya pulang dan beristirahat. Kau harus bisa menjaga kondisi mu sendiri Midorima-kun."

"Baiklah. Kuroko, kau benar tentang Akashi. Dia keras kepala."

"Sei akan datang kemari, aku percaya itu."

"Kenapa kau bisa seyakin itu ?"

"Tidak apa, hanya merasa seperti itu saja."

"Baiklah ayo kau ku antar pulang, sekalian aku pulang juga."

"Iya."

Kuroko dan Midorima berjalan bersama menuju parkiran untuk kembali ke apartemen mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Tanpa mereka sadari, Akashi memperhatikan mereka dari kejauhan. Setelah memastikan Midorima dan Kuroko pergi dari lingkungan rumah Sakit, Akashi berjalan menuju ruang rawat Kise.

Sampai diruang rawat Kise. Akashi memandangi tubuh Kise. Akashi hanya tersenyum miris. Kise Ryouta yang biasa menganggunya kini terlihat begitu rapuh. Bahkan hidupnya di topang oleh alat-alat medis.

"Ryouta kau masih ingat kalau perkataan ku absolut ?"

"Kau kenapa serapuh ini ? Ryouta yang ku tahu ini adalah orang yang berisik."

"Bangunlah, bangun dan kembali ke apartemen kita. Bukankah kau suka pasta ? Di kulkas banyak sekali bumbu pasta dan pasta, kau bisa memasaknya untuk ku dan kau. Ah atau kau ingin coklat dari paris itu ? Aku bisa ke paris dan membelikan itu untuk mu asalkan kau sekarang buka mata mu."

Akashi memegang tangan Kise. Dingin. Itulah yang di rasakan Akashi, tangan Kise kini begitu dingin.

'Kau menang Ryouta... Kau memenangkan hati ku... Aku menyukai mu... Ku mohon sadarlah.' Ucap Akashi dalam hati.

Akashi pun mencium kening Kise. Berharap Kise bisa mendengar apa yang di ucapkan hatinya. Akashi ingin egois karena Akashi ingin Kise ada di sisinya, ada di hidupnya.

Kuroko melihat semuanya. Tubuhnya gemetar, air matanya mengalir. Dadanya sesak. Bahkan kakinya tidak bisa menopang tubuhnya untuk tetap berdiri. Kenyataan pahit itu benar-benar terjadi. Akashi Seijuuro kekasih Kuroko Tetsuya, memiliki perasaan pada orang lain. Orang yang selalu Akashi tolak keberadaannya bahkan Akashi coba abaikan, nyatanya orang itu bisa membuat tempat sendiri di hati Akashi.

Antara menyesal dan bersyukur Kuroko meninggalkan novelnya karena ia bisa melihat kenyataan ini dengan kedua matanya sendiri. Kenyataan kekasihnya mengecup kening wanita lain. Kenyataan bahwa di hati kekasihnya kini bukan lagi hanya ada Kuroko Tetsuya seorang namun ada Kise Ryouta di hati itu.

-T.B.C-