True Love, Right !
Chap. 14
Di chap. ini alur cerita berdasarkan point of view Kise.
Terima kasih buat semua yang sudah membaca dan mereview. Maaf belum bisa membalas satu-satu karena saya online akhir-akhir ini menggunakan hp.
Selamat membaca dan jangan lupa review. Review kalian menjadi dukungan tersendiri untuk author :)
Sankyu...
.
.
.
.
Kise Ryouta PoV...
Kau tahu Seichi bagaimana rasanya patah hati dan putus asa ? Ku rasa kau tidak akan pernah tahu akan kedua rasa itu. Karena kau tidak tahu rasanya, maka apa bisa aku memberitahu mu rasanya. Rasanya amat pahit dan menyesakan dada bahkan air mata mu rasanya tidak akan pernah habis untuk keluar. Banyak orang bilang kalau menangis itu bisa membuat perasaan membaik, tapi nyatanya sudah banyak air mata yang ku keluarkan tetapi perasaan ku tidak kunjung membaik justru semakin lama semakin ingin aku menangis lebih banyak lagi.
Mungkin kau bisa bilang aku adalah orang bodoh yang mengharapkan kau menoleh pada ku dan melihat ku, serta memberi tempat untuk ku di hati mu itu. Aku tahu di mata, hati, dan pikiran mu penuh dengan satu nama, Kuroko Tetsuya. Tapi sekali lagi bisa kah aku menempati sudut terkecil di hati mu itu, dan bisakah kau melihat ku sebagaimana kau melihat Tetsuya mu itu. Memanggil ku sebagaimana kau memanggil Tetsuya mu itu dengan penuh rasa kasih sayang dan kelembutan.
Sepertinya tanpa aku tanya pun, aku sudah dapat jawabannya. Jawabannya adalah kau tidak akan pernah melakukan itu. Eksistensi ku di dunia mu bagaikan angin yang hanya datang dan pergi.
Sejak awal aku melihat mu, ya aku jatuh dalam pesona mu. Bohong kalau aku tidak mengharapkan pertunangan itu. Bohong kalau aku tidak ingin memiliki mu. Aku ingin sekali memonopoli mu. Tapi sekali lagi, aku tidaklah seperti itu karena satu yang amat ku pegang yaitu suatu hubungan butuh rasa suka, kasih sayang, dan cinta. Maka aku akan membuat mu merasakan itu dulu terhadap ku dan kau akan memilih siapa yang akan menjadi pendamping mu. Tapi sekali lagi, aku tahu jawabannya. Jawabannya adalah Kuroko Tetsuya yang akan menjadi pendamping mu. Sebagaimana pun aku berusaha sepertinya percuma.
Kau tahu semua perlakuan mu terhadap ku benar-benar memberi harapan pada ku. Meminta ku untuk menjauhi Midorimachi dan ku rasa kau cemburu padanya. Bahkan kau ingin mengantarkan aku ke kamar setelah kejadian aku tercebur di kolam renang. Kau tahu aku merasa amat senang karena baru pertama kali aku mengalahkan eksistensi seorang Kuroko Tetsuya di dalam pikiran mu. Walau tidak terlaksana namun tetap saja aku amat senang sekali.
Setelah semua harapan itu kau berikan, di malam yang sama juga kau menghancurkannya. Kau berada di dalam ruangan yang sama dengan Tetsuya mu dengan hanya mengenakan handuk. Kau tahu aku seperti tersambar petir. Rasanya amat sesak bahkan air mata ku saja tidak bisa menetes malam itu. Keputusan terakhir ku hanya satu, aku akan melepas mu Akashi Seijuuro. Menghentikan permainan gila ini. Karena dari awal sang pemenang hanya satu, hanya Kuroko Tetsuya bukan Kise Ryouta.
Sudah lima hari aku di Amerika. Tanpa kegiatan berarti karena aku akan ada pekerjaan di Amerika pada pertengahan bulan dan berarti masih sekitar dua minggu lagi. Lima hari ku habiskan untuk memikirkan berbagai macam cara agar aku bisa membatalkan pertunangan itu.
"Ryou-chan."
"Okaa-san."
"Ryou-chan kalau Okaa-san perhatikan sejak pulang hanya merenung bahkan malam Okaa-san mendengar isak tangis. Jadi apa ada masalah yang mau Ryou-chan ceritakan pada Okaa-san, ya mungkin bisa membuat Ryou-chan lega tapi Okaa-san tidak akan memaksa."
"Okaa-san apa tidak apa kalau aku membatalkan pertunangan ku ?" Air mata ku kembali menetes. Okaa-san memeluk ku. Okaa-san tidak bicara apapun, Okaa-san hanya memeluk dan mengelus rambut ku dengan lembut. Aku tahu ini konyol karena bagaimana pun juga tujuan dari pertunangan itu adalah untuk perjanjian bisnis. Bila karena pertunanga batal dan Perusahaan keluarga Akashi tidak bersedia menjadi investor maka Perusahaan Keluarga ku di ambang kepalilitan. Egois memang bila hanya karena perasaan mengorbankan hal sebesar itu.
"Okaa-san tidak akan bertanya alasan kenapa Ryou-chan meminta itu, Okaa-san akan membicarakannya dengan Kyoko-chan dan juga Otou-san."
"Maaf Okaa-san, Maaf...Maaf...Maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untuk keluarga."
"Tidak apa Ryou-chan, Okaa-san mengerti."
Setelah pembicaraan aku dan Okaa-san. Aku mendengar percakapan keluarga ku. Nee-chan dari suaranya terdengar sangat kecewa walau akhirnya menyetujuinya. Entah harus bahagia atau tidak. Yang pasti hal besar sudah ku pertaruhkan karena aku egois dengan perasaan ku sendiri.
Besoknya keluarga Akashi datang ke Amerika. Aku ikut dalam pertemuan itu, bahkan Kakek Seichi datang. Aku amat teramat malu untuk menyampaikan niatan ku untuk membatalkan pertunangan. Niat ku goyah. Tapi akhirnya aku menyampaikan niat ku pada keluarga Akashi. Rasanya aku sangat susah untuk bernafas untuk mengetahui respon mereka.
"Ryouta... Kalau memang itu keputusan Ryouta, Okaa-san tidak akan keberatan, tapi Okaa-san minta Ryouta beri Sei-chan kesempatan, bagaimana ? Bila memang pada kesempatan kedua itu Sei-chan masih bersikap acuh pada Ryouta maka Okaa-san sendiri yang akan membatalkan pertunangan ini...Jujur Okaa-san amat sangat berharap Ryouta dan Sei-chan bisa bersatu... Semua sikap Sei-chan memang keterlaluan hanya saja Okaa-san punya keyakinan kalau Sei-chan itu menyukai Ryouta, bahkan lebih dari suka pada Ryouta."
"Kakek juga setuju dengan apa yang di katakan oleh Mayumi, kau bisa membatalkan pertunangan bila Seijuuro di kesempatan kedua ini masih juga bersikap acuh."
Aku amat terkejut. Bahkan Ibu dan Kakek Seichi meminta ku memberi kesempatan untuk Seichi. Aku ragu namun percaya mereka mengetahui permasalahan sebenarnya antara aku, Seichi, dan Tetsuya.
Aku pun menyetujui hal itu. Tapi yang membuat aku amat terkejut adalah saat Ibu Seichi meminta ku untuk menjaga jarak dengan Seichi, ia meminta ku untuk tinggal terpisah dengan Seichi dan ia juga bilang akan mengatakan bahwa pertunangan itu batal. Tujuannya hanya satu, melihat respon Seichi. Aku sendiri amat penasaran dengan respon yang akan Seichi berikan. Tapi aku sungguh tidak ingin menaruh banyak harapan kembali karena aku tidak mau jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Bila memang di kesempatan kedua ini Seichi masih bersikap acuh pada ku, maka pertunangan itu batal namun Keluarga Akashi tetap akan menjadi investor untuk perusahaan keluarga ku agar perusahaan keluarga ku tidak mengalami pailit.
Semua pekerjaan ku di Amerika usai. Aku harus kembali ke Jepang. Pekerjaan ku di Jepang masih amat banyak. Kepergian ku ke Amerika, jelas saja membuat jadwal pekerjaan ku di Jepang amat padat. Sebenarnya masih amat enggan tapi aku harus bertanggung jawab atas karir ku dan juga kesepakatan ku dengan keluarga Akashi.
Sebelum Aku menaiki pesawat aku menghubungi Midorimachi untuk memintanya menjemput ku karena Alex sudah terlebih dulu kembali ke Jepang tapi Midorimachi tidak bisa karena pekerjaannya di rumah sakit sedang amat padat. Ya mungkin aku bisa menemui Midorimachi di rumah sakit setelah sampai di Jepang dan tentu meminta maaf karena sejak aku kembali ke Amerika, aku mengabaikannya. Rasanya aku bersalah dengan sahabat ku itu, ia amat baik dan selalu ada di sisi ku. Sekali lagi andai dia bukan sahabat ku mungkin aku sudah amat jatuh cinta padanya tapi aku masih mememegang prinsip ku "Tidak ada cinta dalam artian lebih untuk Seorang Sahabat, Karena cinta kadang bisa membuat kedua Sahabat berpisah bila cinta itu kandas."
sampai di Bandara Narita aku kembali mengubungi Midorimachi tapi ia tetap tidak bisa menjemput ku karena akan melakukan operasi. Aku pun memutusakan untuk naik taksi dan mencari sebuah hotel untuk tempat tinggal ku sementara saat di Jepang karena tidak mungkin aku kembali ke Apartemen Seichi setelah Okaa-san Seichi menyampaikan pembatalan pertunangan itu. Di dalam Taksi aku memang hearphone dan mendengarkan musik dari Ipod ku. Sampai aku terkejut karena Truk didepan taksi ku kehilangan kendali dan setelahnya semua menjadi hitam...
Semuanya hitam dan dingin, entah aku berada dimana. Disini amat teramat sepi. Aku berteriak pun tidak ada yang menjawab dan menyauti. Aku terus menangis karena takut.
Dari semua keheningan ini aku dapat mendengar suara, suara itu suara tangisan Okaa-san, Otou-san, bahkan Onee-chan. Mereka menangis memanggil nama ku. Aku mencoba memanggil nama mereka kembali tapi nihil karena tidak ada sautan.
Setelah keluarga ku, aku mendengar tangisan Midorimachi. Bahkan Tetsuya, ya itu suara Tetsuya dia menangis ? Untuk apa ? Kenapa dia menangis ?
Yang tidak ku sangka adalah suara Seichi. Dia bahkan terdengar seperti menangis. Dan tubuh yang dingin ini kenapa menghangat. Apa karena Seichi ada di sisi ku. Kami-sama tolong...tolong kembalikan aku kepada mereka. Kembali ke tengah-tengah orang-orang yang ku cintai.
End Kise Ryouta PoV.
.
.
- T.B.C -
