True Love, Right !
.
.
.
Chap. 15
.
.
.
Warming : KiseFem, KuroFem / Gaje / Typo !
.
.
Happy Reading Mina-san :)
.
.
.
.
Ruangan bercat putih dan berbau antibiotik serta obat-obatan lainnya menjadi saksi bisu saat Akashi Seijuuro tengah dengan lembut membelai helaian halus surai emas milik Kise Ryouta. Bahkan senyum manis sang emperor menghiasi wajah nan tampan itu. Pandangannya begitu lembut memandang sosok yang masih terbaring lemah didepannya. Tidak ada guratan lelah di wajah tampan Akashi padahal sudah seharian ini ia mengurusi perusahaannya dengan berbagai macam rapat dan juga membaca laporan-laporan perusahaannya. Menjadi rutinitas baru seorang Akashi Seijuuro pada saat malam datang, ia akan berkunjung menemui Kise Ryouta yang masih belum tersadar dari komanya. Menghabiskan waktu semalaman untuk menemani Kise dirumah sakit sampai fajar tiba, dan ia akan kembali ke apartemennya untuk bersiap kembali beraktifitas di kantornya. Berbagai macam alasan pun sudah ia berikan pada sang kekasih akhir-akhir ini karena ia tidak berada di apartemen kekasihnya untuk menghabiskan waktu bersama. Akashi sadar, cepat atau lambat kekasihnya akan tahu kebohongan itu tapi ia juga enggan untuk meninggalkan sosok Kise Ryouta sendirian didalam gelapnya malam.
"Cepat buka mata mu Ryouta, di kamar mu sudah banyak coklat kesukaan mu ah ku rasa kita perlu berlibur bersama." Ucap Akashi yang masih memainkan helaian emas milik Kise.
Rasa kantuk mulai menyerang Akashi, ia pun terlelap dengan memenang tangan Kise, berharap bisa menyalurkan kehangat pada tubuh Kise yang menurutnya dingin itu. Dengan kecupan ringan di kening Kise sebelum kedua matanya itu terpejam.
Sekali lagi tanpa Akashi sadari di balik pintu ruang rawat Kise tengah berdiri Kuroko Tetsuya yang dari awal selalu mengamati aktifitasnya. Tatapan matanya amat sarat dengan kesedihan, tubuhnya gemetar, isakannya tertahan. Menjadi rutinitas rutin juga bagi Kuroko untuk datang pada malam hari dan mengamati ruang rawat temannya itu. Tangisnya selalu pecah setiap malam, melihat aktifitas diruangan itu dan anehnya air matanya tidak pernah kunjung habis dan hatinya tidak kunjung juga untuk menerima kenyataan pahit itu. Kenyataan bahwa Kuroko harus mulai terbiasa dan berdamai dengan kata 'berbagi'. 'Berbagi' kasih sayang dari orang yang di cintainya untuk orang yang juga di sukai oleh orang yang di cintainya itu. Kenyataan bahwa hubungan dengan seorang Akashi Seijuuro sedang dalam tahap kehancuran dengan perlahan.
Bukan hanya Akashi dan Kuroko tapi juga Midorima yang selalu berada di samping Kuroko untuk menemaninya mengamati aktifitas di ruang rawat Kise Ryouta. Midorima tidak harus berbuat apa, menghibur Kuroko pun percuma kalau pada kenyataannya memang Akashi menyukai Kise saat ini.
"Ku antar pulang Kuroko, bukankah besok kau harus mengajar."
"Besok aku akan ke Inggris Midorima-kun."
"Apa ada urusan ?"
"Iya, aku akan membantu Otou-san selama perjalanan bisnisnya ke Inggris."
"Berapa lama ?"
"Satu bulan ah mungkin lebih karena aku sepertinya butuh liburan juga... Kabari aku kalau Kise-kun sudah sadar ya."
"Baiklah, jaga diri mu disana ya."
"Apa tawaran untuk mengantarkan ku pulang itu masih berlaku ?"
"Tentu saja."
Kuroko melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Perihal kepergiannya ke Inggris belum sama sekali ia bicarakan pada Akashi. Air mata kuroko pun kembali membasahi pipinya. Midorima yang melihat Kuroko akhir-akhirnya banyak sekali menangis tentu saja merasa khawatir. Rasanya ia ingin sekali mengatakan pada Akashi mengenai kondisi kekasihnya saat ini tapi tentu saja ia urungkan karena permintaan Kuroko itu sendiri.
Matahari mulai muncul dan menggelitik kelopak mata Akashi yang masih terpejam dengan damainya. Perlahan kedua iris dwi warna itu pun menampakan keindahannya. Saat kedua iris itu sudah menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya, yang pertama ia lihat adalah kedua iris madu itu menampakan kembali keindahannya.
"R-ryouta." Akashi bahkan tidak bisa menyembunyikan senyun bahagianya karena penantiannya selama ini terjawab, kedua iris madu itu kembali terbuka. Kise Ryouta sadar dari tidur panjangnya, Akashi pun dengan segera memanggil perawat dan dokter untuk memeriksa keadaan matahari kedua dalam hidupnya itu.
Dengan segera perawat dan juga dokter masuk kedalam ruang rawat Kise. Akashi sendiri menunggu di luar. Akashi sudah banyak merafalkan rasa syukur dalam hatinya pada Kami-sama karena menjawab semua inginannya.
"Ak-akashi ?" Midorima pun muncul didepan Akashi dengan deru nafas yang tidak teratur, bisa di pastikan kalau Midorima baru saja berlari.
Srak...
Pintu ruang rawat Kise pun terbuka, dokter yang memeriksa Kise pun keluar dengan beberapa perawat. Midorima pun menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaanya Kise. Akashi sendiri memasuki ruang rawat Kise. Kise sendiri masih terbaring lemah namun kini tidak lagi mengenakan masker oksigen.
"Bagaimana keadaan mu Ryouta ?"
"Kau siapa ?"
Sontak pertanyaan Kise membuat Akashi terdiam. Akashi sendiri mencerna kata-kata yang Kise katakan padanya.
"Kise." Midorima yang baru memasuki ruangan itu pun sama terkejutnya dengan Akashi.
"Midorimachi." Kise pun memanggil Midorima dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Istirahatlah lagi, kondisi mu setelah ini kita akan memeriksa ulang keadaan mu ya." Ucap Midorima pada Kise. Kise pun mengangguk. Setelah itu Midorima meminta Akashi untuk keluar ruangan dan membicarakan kondisi Kise.
Akashi dan Midorima kini tengah duduk disebuah cafe di kantin rumah sakit. Akashi masih mencoba menenangkan perasaannya. Perasaannya sendiri cukup kacau saat mendengar pertanyaan Kise 'kau siapa ?'.
"Sepertinya Kise mengalami trauma sehingga sebagian ingatannya hilang tapi itu bersifat sementara." Midorima memulai pembicaraan.
"Apa ia bisa kembali mendapatkan ingatannya itu."
"Tentu saja tapi ku rasa kalau pun ingatannya harus kembali hanya membuatnya terluka kembali, hilangnya ingatan Kise ku rasa adalah hal terbaik."
"..."
"Kuroko akan ke Inggris dan ku dengar darinya pesawatnya akan lepas landas jam sepuluh pagi ini."
"Dari mana kau tahu itu Shintarou ? Tetsuya tidak sama sekali membicarakan mengenai Inggris kepada ku."
"Benarkah ? Kalau gitu kau bisa tanyakan padanya sekarang. Kalau benar ucapan ku itu berarti pesawatnya akan berangkat dua jam lagi karena ini sudah pukul delapan pagi." Midorima pun meminum kembali kopi pesanannya dan bangkit dari duduknya "Aku pergi dulu Akashi."
Akashi mengambil handphonenya dan ternyata ada banyak email masuk dari Kuroko. Secara keseluruhan emailnya meminta Akashi untuk datang ke bandara Narita pukul sembilan pagi ini. Akashi pun bergegas untuk menuju bandara Narita.
Sesampainya di bandara Akashi mencari sosok kekasihnya dan ia pun menemukannya tengah duduk diruang tunggu keberangkatan bersama dengan ayah dan juga beberapa orang yang bisa dibilang bawahan ayah Kuroko. Akashi pun menghampiri mereka. Setelah mengucapkan salam pada ayah Kuroko, Akashi meminta izin pada ayah Kuroko untuk berbicara berdua dengan putrinya itu, ayah Kuroko pun mengizinkannya.
"Bisa menjelaskan ini semua Tetsuya ?"
"Hum... Bukankah ini bukan hal pertama Sei, aku sudah beberapa kali menemani Otou-san untuk perjalanan bisnisnya."
"Iya hanya saja kau tidak bercerita sebelumnya pada ku, sekalipun kau menemani Otou-san mu untuk perjalanan bisnisnya kau akan menceritakan dulu pada ku mengenai rencana perjalanan itu."
"Ini semua sangat mendadak Sei, kau sendiri bukankah sedang sibuk ? Ku rasa aku bisa menceritakannya melalui telfon atau nanti saat aku kembali."
"Baiklah, jaga diri selama kau pergi. Aku percaya pada mu." Akashi pun memeluk dengan erat kekasihnya itu.
"Iya, kau juga harus jaga diri mu selama aku pergi... Aku juga percaya pada mu. Sangat." Kuroko pun membalas pelukan erat Akashi. Akashi sendiri merasa Kuroko menekankan kata 'Aku juga percaya pada mu."
Setelah Kuroko berangkat. Akashi memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Akashi melihat kalau ibunya berada didalam ruang rawat Kise. Oh tentu saja informan keluarga Akashi pasti sudah memberitahu mengenai kondisi Kise pada ibunya. Tapi bukan hanya ada ibunya saja tapi ada Midorima, dan juga keluarga Kise.
"Sei-chan." Panggil sang ibu saat melihat Akashi memasuki ruangan. "Sei-chan, ayo perkenalkan diri mu pada keluarga Kise." Perintah sang ibu pada Akashi.
"Perkenalkan saya Akashi Seijuuro." Akashi pun memperkenalkan dirinya namun matanya masih tidak lepas pada sosok Kise yang terlihat sudah lebih segar dibanding saat ia baru sadar pagi tadi.
"Perkenalkan aku Kise Kyoko kakaknya Ryouta." Kyoko pun mengulurkan tangannya pada Akashi. Akashi pun menjabat tangan itu.
Setelah itu Akashi pun berbincang bersama dengan keluarga Kise. Perbincangan itu pun tidak berlangsung lama karena keluarga Kise di ajak oleh ibunya untuk beristirahat di rumah keluarga Akashi karena mereka memang baru saja tiba di jepang beberapa jam yang lalu. Setelah keluarga Kise pergi, diruangan itu pun menyisakan Ryouta, Kyoko, Akashi, dan Midorima.
"Ryouta sepertinya kau memang tahu ya kalau aku mau ke Jepang makanya kau sadar." Ledek Kyoko.
"Hummm... Kalau seperti itu harusnya nee-chan bersyukur kalau adik mu yang cantik ini sudah sadar dan bisa kembali kau 'bully'." Ryouta pun sengaja menekankan kata 'bully' sambil menggembungkan pipinya.
"Hahahaha... Kau tidak malu bertingkah kekanakan seperti didepan calon tunangan mu itu Ryouta ?"
Blush. Wajah Ryouta pun memerah karena ledekan terakhir kakaknya. Akashi sendiri yang berada diruangan itu terlihat cukup bingung, karena setahunya pertunangannya sudah dibatalkan.
"Huh.. Nee-chan pergi keluar saja sana, aku males terus-terusan ngomong sama nee-chan. Aku mau curhat sama Midorimachi aja.. Sana-sana pergi." Usir Ryouta ke Kyoko.
"Heeh.. Tidak baik mengusir orang seperti itu tapi baiklah aku akan pergi tapi pinjam calon tunangan mu yaaa." Kyoko pun menarik keluar Akashi. Kyoko pun mengajak Akashi ke taman dirumah sakit itu.
"Bisa saya bertanya sesuatu Kyoko-san ?"
"Ah iya silakan saja Seijuuro-kun. Ah tidak apa kan kalau ku panggil seperti itu ?"
"Tidak masalah. Saya hanya ingin bertanya, setahu saya pertunangan saya dan Ryouta sudah di batalkan tapi kenapa tadi Kyoko-san bilang ke Ryouta kalau saya calon tunangannya ?"
"Oh masalah itu. Harusnya memang di batalkan atas permintaan si Ryouta, tapi ibu mu tidak menerimanya dan saat mengetahui kondisi Ryouta yang sedang hilang ingatan maka ibu mu memutuskan untuk melanjutkan pertunangan itu dan ku rasa pertunangan mu dengan Ryouta akan berlangsung dua minggu depan setelah kondisi Ryouta pulih. Apa kau keberatan atas hal itu Seijuuro-kun ?"
"Tidak, dan terima kasih atas informasinya."
"Ah iya Seijuuro-kun bisa meminta tolong sesuatu pada mu ?"
"Silakan saja Kyoko-san."
"Tolong jaga baik-baik Ryouta setelah ini. Apapun keputusan mu nantinya ku harap itu terbaik untuk mu dan juga Ryouta."
"Baiklah."
Lima hari setelahnya Kise sudah diperbolehkan untuk keluar rumah sakit. Karena kondisi Kise yang masih belum sepenuhnya pulih maka Kise pun tinggal di kediaman utama keluarga Akashi. Lagi dan lagi itu adalah permintaan ibu Akashi, dengan alasan untuk mengawasi keadaan Kise sampai Kise pulih sepenuhnya.
"Baiklah Ryouta kau akan di antar ke kamar mu dengan Sei-chan." Ucap ibu Akashi pada Kise.
"Baiklah terima kasih Okaa-san dan maaf merepotkan mu."
"Tidak apa-apa, lagi pula ibu mu sudah mempercayakan pada ku untuk menjaga mu dan merawat mu sampai pulih."
"Sekali lagi terima kasih Okaa-san."
Akashi pun mengantarkan Kise ke kamarnya. Sampai di kamar Kise, Akashi hanya menghela nafas panjang karena ibunya benar-benar melakukan apa yang dinyatakannya dua hari yang lalu sebelum Kise keluar dari rumah sakit yaitu menyediakan kamar khusus untuk Kise. Kamar Kise sendiri benar-benar seperti kamar remaja karena semua serba pink dan juga banyak boneka-boneka khas wanita remaja pada umumnya bahkan kamar itu di cat dengan warna pink soft.
"Hum... Kamar ini sangat unik ya Seichi."
"Ya sepertinya Okaa-san sangat menginginkan anak perempuan sampai ia mendekor kamar mu seperti ini, kau bisa meminta buttler yang ada untuk mengganti dekor ruangan ini jika kau tidak suka."
"Tidak perlu. Aku menyukainya ko."
Setelah mengantar Kise ke kamarnya. Akashi pun menghampiri sang ibu diruangannya.
"Okaa-san."
"Sei-chan... Kemarilah nak." Akashi pu menghampiri ibunya yang sedang duduk dibangku kerjanya.
"Ku rasa Okaa-san amat sangat mengerti mengenai keadaan sekarang dan alasan kedatangan ku kesini."
"Ya baiklah... Okaa-san memang tidak terlalu dekat lagi dengan Sei-chan beberapa tahun terakhir sejak Sei-chan memutuskan untuk tinggal di luar rumah, tapi Okaa-san tahu apa yang ada di hati kecil Sei-chan... Sei-chan menyukai Ryouta dan Okaa-san rasa untuk apa membatalkan pertunangan toh pada akhirnya semua sesuai dengan perkataan mu kan Sei-chan. Menunggu kau menyukai Ryouta dan kini semua sudah terjadi, ku rasa bukan seorang Akashi kalau tidak menepati perkataannya."
Akashi memejamkan matanya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak kata-kata yang akan diucapkan ibunya, semuanya memang benar. Benar soal perasaannya dan juga benar mengenai ucapannya saat itu mengenai pertunangan. Tapi rasanya amat berat untuk mengakui semuanya sekarang.
"Aku melakukannya karena aku seorang Akashi."
"Tambahkan kata 'karena kau menyukai Ryouta' juga, sepertinya lebih baik."
"Benarkah ? Kalau begitu sayang sekali, Okaa-san hanya akan mendengar aku mengatakan kalau aku melakukannya karena aku Seorang Akashi dan tidak lebih dari itu."
"Ya ya ya Tsundare-san." Balas sang ibu sembari tertawa. Akashi sendiri sudah cukup bersabar kalau berbicara dengan ibunya karena ibunya amat hobi untuk menjahilinya.
Sejak kepulangan Kise dari rumah sakit, Akashi sama sekali tidak menemuinya. Bukan tidak ingin hanya saja ia merasa amat tidak suka karena sejak kepulangan Kise, Midorima selalu berkunjung ke mansion keluarga Akashi dengan alasan atas permintaan Kise. Seperti sekarang. Akashi melihat Kise dan Midorima tengah mengobrol asik di taman yang ada di samping mansion itu. Wajah Kise terlihat amat senang dan Akashi beberapa kali melihat Kise tertawa saat berbincang bersama Midorima.
"Apa Sei-chan cemburu melihat Ryouta dan Shintarou dekat ?" Goda yang ibu saat melihat Akashi tengah memperhatikan Midorima dan Kise.
"Tidak."
"Benarkah ? Okaa-san menemukan sebuah kebohongan di kata-kata 'Tidak' mu itu Sei-chan."
"..."
"Malam ini kau akan dinner bersama Ryouta, semoga menyenangkan yaaa."
"Maksudnya ? Keadaan Ryouta belum pulih sepenuhnya, ku rasa tidak baik keluar rumah saat keadaannya masih belum pulih. Jadi aku menolak."
"Kalian akan dinner di ruang makan rumah ini, Okaa-san akan ke Amerika malam ini untuk membicarakan pertunangan kalian minggu depan sayang."
Malam pun tiba. Akashi berjalan dengan santai ke ruang makan. Saat sampai diruang makan, Kise sudah duduk di salah satu bangku di meja makan itu. Akashi pun duduk ditempat dimana ia biasa duduk.
"Itadakimasu." Seru Akashi.
"Itadakimasu." Seru Kise juga.
Mereka makan dalam keheningan. Suasana canggung terasa sekali diruang makan itu. Karena Kise hilang ingatan, Akashi sama sekali belum pernah mengajaknya mengobrol ya karena alasan yang sama karena kehadiran Midorima akhir-akhir ini. Akashi amat sadar ketika Kise mencuri pandang kearahnya. Untuk pribadi seperti Kise memang amat tidak nyaman dengan suasana seperti ini tapi untuk Akashi suasana seperti ini amat biasa.
"Apa kau tidak suka hidangan makan malam ini ? Kau bisa meminta maid untuk mengantinya hidangannya kalau kau mau."
"Eh..hem..ano tidak aku suka ko."
"Kalau gitu kau habiskan makanan yang ada di piring mu Ryouta."
"Eh iya iya."
"Ada yang mau kau tanya kan pada ku ?"
Kise langsung tersenyum mendengar pertanyaan Akashi. Ia memang amat penasaran dengan pemuda didepannya ini. Kise sudah berusaha mengingat apa pun yang berkaitan dengan pertunangannya dan calon tunangannya itu hanya saja hasilnya nihil.
"Apa sebelum aku mengalami kecelakaan, aku dan Seichi sudah saling mengenal ?"
"Ya. Kau bahkan tinggal bersama dengan ku di apartemen ku."
"Benarkah ?"
"Ya."
"Ahhhh aku benar-benar tidak bisa mengingat apa pun tentang mu loh Seichi, aneh bukan ?"
"Kau akan ingat dengan sendirinya, jangan berusaha terlalu keras nanti kondisi mu memburuk. Bagaimana apa kau sudah bisa berjalan sekarang ?"
"Hum ya.. Kaki ku sudah tidak kaku lagi, karena koma dalam waktu yang lama kaki ku jadi kaku dan sulit berjalan tapi semua berkat Midorimachi, dia selalu membantu ku untuk berjalan."
"Bagus kalau gitu."
"Bagaimana kalau kita ke apartemen mu, mungkin dengan kesana aku bisa mengingat sesuatu."
"Ya, besok kita akan kesana."
"Bagaimana kalau malam ini saja ?"
"Ya."
Mood Akashi cukup buruk malam ini karena ia mendengar nama Midorima meluncur dengan mulus dari mulut Kise. Tapi seperti biasa Kise mengeluarkan jurus puppy eyes saat meminta untuk ke apartemennya malam ini. Setelah makan malam, Akashi dan Kise pun langsung menuju apartemen tempat mereka tinggal bersama.
Sampai di apartemen, Akashi menunjukan kamar tidur Kise. Kise sendiri terlihat amat antusias untuk menjelajah isi apartemen itu. Akashi sendiri hanya duduk di sofa untuk mengawasi Kise. Puas menjelajah, Kise ikut duduk dengan Akashi di sofa.
"Aku tidak mengingat apapun." Ucap Kise dengan lemasnya.
"Tidak perlu terburu-buru."
"Tapi banyak sekali coklat di kamar ku loh."
"Yang ku tahu, kau memang menyukai coklat-coklat itu."
"Ah ya benar."
Kise pun menghela nafas panjang. Akashi sendiri tanpa Kise sadar tengah tersenyum. Tingkah Kise amat tidak berubah, selalu bersemangat. Akashi pun mengacar surai emas Kise sembari bangun untuk ke kamarnya.
"Eh ? Seichi mau kemana ?"
"Kamar ku, mau ikut ?"
"Eh ? Boleh kah ?" Tanya Kise dengan suara yang hampir sama seperti bisikan dan semburat merah yang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Ya."
Kise pun langsung bangkit dan mengikuti Akashi dari belakang. Saat memasuki kamar Akashi, sebenarnya tidak jauh beda dengan kamarnya yang membedakan hanya dikamar Akashi amat banyak koleksi buku disebuah rak di sudut kamar. Ah bahkan harum ruangan itu benar-benar Akashi sekali, mint. Akashi pun mengambil salah satu koleksi bukunya dan duduk di atas tempat tidurnya dengan mambaca buku itu. Kise sendiri hanya berdiri mematung didekat pintu.
"Menemukan yang menarik disini ?"
"Tidak banyak."
"Istirahat lah besok kita akan berlibur."
"Eh ? Kemana ? Kenapa dadakan ?"
"Tidak mau ?"
"Aku mau."
Kise pun langsung berjalan dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Akashi. Akashi sendiri amat sangat terkejut. Kise sendiri langsung memejamkan matanya.
"Aku tidak tahu kenapa kalau kau bertanya, hanya saja aku merasa kalau aku ingin melakukan ini." Gumam Kise dan setelah itu Kise terlelap. Akashi menutup bukunya dan memperhatikan wajah tidur Kise. Dielusnya surai emas itu perlahan agar tidak membangunkan Kise. Sebelum ikut terlelap bersama Kise, ponsel Akashi berdering dengan malas Akashi pun mengecek ponselnya.
From : Okaa-san.
To : Akashi Seijuuro
Subject : none
Teks : Apanya yang kondisi Ryouta belum pulih dan tidak boleh keluar rumah. Sekarang kau dan Ryouta bahkan tidak berada dirumah. Tapi tidak apa-apa, Okaa-san sayang Mr. Tsundare.
Tiga kata terakhir di email dari ibunya membuat Akashi sedikit jengkel. Akhir-akhir ini ibunya semakin sering menjahilinya, bahkan panggilan Mr. Tsundare pun menjadi panggilan baru untuknya dari sang ibu.
Pagi harinya Kise membuka kedua matanya. Melihat ke sampingnya dan tidak menemukan Akashi. Kise sungguh masih ingat kalau ia tertidur di kamar Akashi. Harum dalam ruangan itu benar-benar menjadi candu untuk Kise.
"Bangun nona pemalas."
Kise pun melihat Akashi tengah berdiri di pintu kamarnya dengan sebuah cangkir di tangannya. Kise pun melihat jam digital yang ada di samping tempat tidur dan menunjukan waktu pukul enam pagi. Untuk seorang Kise Ryouta itu masih terlalu pagi untuk bangun darti tidur cantiknya.
"Masih terlalu pagi." Gumam Kise.
"Yasudah akan ku tinggal kau disini."
"Eh ? Tunggu." Kise ingat kalau Akashi mengajaknya berlibut hari ini. Kise pun langsung masuk ke kamarnya dan bersiap-siap.
Pantai. Menjadi pilihan Akashi untuk berlibur bersama Kise. Kise sendiri merasa amat familiar dan de javu. Merasa kalau berlibur ke pantai bersama Akashi, bukanlah hal pertama kalinya.
"Apa kau nyaman ?"
"Nyaman, apa sebelumnya kita pernah berlibur bersama ke pantai Seichi ?"
"Ya."
Kise sendiri berusaha sebisa mungkin untuk mengingat semuanya tapi malah membuatnya pusing. Akashi menyadari hal itu. Sekali pun Kise harus mengingat mengenai liburan mereka dulu, yang ada hanya sebuah rasa sakit untuknya.
"Jangan terlalu memaksakan." Ucap Akashi sembari kembali mengelus surai emas Kise. Setiap sentuhan Akashi di kepalanya, benar-benar membuat Kise merasa lebih baik. Memaksakan apapun jelas tidak baik, toh akan ada waktunya ingatan itu akan kembali, begitulah pikiran Kise saat ini. Setelah itu, Akashi dan Kise menikmati liburan mereka dengan bermain ke pantai. Bermain dengan pasir pantai, ombak, dan juga berfoto bersama. Kise pun tidak canggung untuk bermanja-manja dengan Akashi. Akashi sendiri tidak keberatan, dia sendiri amat sangat nyaman dengan semua perlakuan Kise.
"Seichi... Terima kasih untuk hari ini... Aku sangat senang sekali." Ucap Kise sembari menyenderkan kepalanya ke pundak Akashi.
"Sama-sama Ryouta." Akashi pun menggenggam tangan Kise dengan erat. Kecupan ringan pun diberikan Akashi ke kening Kise. Kise sendiri benar-benar merasa bahagia.
'Apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting untuk ku sekarang, aku tidak akan melepaskan Seichi, aku merasa sudah mencintainya sejak lama, jadi aku tidak akan melepas apa yang sudah menjadi milik ku.' Batin Kise.
'Maaf kalau aku pernah membuat mu menangis. Sekarang aku tidak akan membuat mu menangis lagi Ryouta.' Batin Akashi.
Matahari terbanam menjadi latar dan saksi saat Akashi dan Kise menikmati sebuah ciuman manis.
-T.B.C-
Huff chap ini bisa selesai juga :)
Sekali lagi terima kasih untuk semua reviewnya dari awal cerita sampai chap. 13 lalu :)
Noir-Alvarez, xxx, Kagamine lizzy, May, .5, YuuRein, dee-mocchan, myadorabletetsuya, , BakPaoDaging, Kuroslayer, lupapassword, Guest, Keburuager, MogiMogi, Kaname, Marsha13, Nekonyaan3004, , ABNORMALholic.
Pokoknya minta review kalian lagi ya untuk chap ini :)
Jaa na...
