True Love, Right !

.

.

.

Chap. 16

.

.

.

Warming : KiseFem, KuroFem / Gaje / Typo !

.

.

Happy Reading Mina-san :)

.

.

.

Kuroko Tetsuya PoV...

Inilah hal yang paling aku takutkan. Takut ketika kau berpaling dari ku. Sekarang mungkin kau belum sepenuhnya berpaling dari ku tapi cepat atau lambat kau akan berpaling seutuhnya dari ku. Lalu apa yang harus ku lakukan kalau kau berpaling?.

Aku tahu semua yang terjadi. Aku tidak benar-benar pergi menemani ayah untuk perjalanan bisnis. Aku ada dan melihat mu bersamanya. Melihat mu dengannya menautkan bibir kalian di pinggir pantai. Rasanya dunia ku sudah benar-benar berakhir. Aku menyesal, saat dulu aku membiarkan mu untuk dekat dengannya. Naïf. Itulah diri ku. Sekarang apa yang bisa aku lakukan. Pertunangan mu akan berlangsung esok hari. Bahkan kau belum memberitahu ku. Apa kau sengaja melakukan itu pada ku. Sengaja untuk membohongi ku dengan terus meminta ku percaya pada mu. Jahat. Itulah diri mu bila benar kau melakukan itu pada ku. Pada orang yang sudah amat percaya dan mencintai mu ini.

Kau tahu aku sekarang sudah mengenal dan terbiasa dengan wine. Menghabiskan dua botol wine dengan kualitas terbaik yang biasa kau minum ternyata tidak begitu buruk untuk menghibur keadaan ku yang menyedihkan. Kau tahu, sekarang aku beranggapan kalau kau itu salah. Kau salah kalau menganggap diri mu tahu semuanya dan selalu benar. Karena kau tidak tahu mengenai keberadaan ku di dekat mu selama ini dan kau tidak tahu kalau aku sekarang sedang amat terpuruk. Atau memang kau sudah tidak mau tahu mengenai keadaan ku sekarang.

Lihatlah bahkan aku sudah menyiapkan sebuah gaun yang aku beli dengan desain terbaik untuk menghadiri acara bahagia mu dengannya. Aku tahu kalau matahari kedua mu itu sedang menalami hilang ingatan. Apa dia akan membatalkan acara pertunangan itu kalau ia ingat mengenai kejadian saat itu atau dia tetap melangsungkan acaranya pertunangan itu karena ia mau memonopoli mu. Entahlah, aku bahkan sudah tidak tahu mana yang benar dan tidak. Aku sudah buta dengan rasa sakit yang menumpuk di dada ini.

Sekarang aku sedang berjalan dengan langkah yang tidak tahu kemana arahnya. Berjalan-jalan mungkin bisa menjernihkan pikiran ku tapi nyatanya aku malah terlihat seperti zombie yang berjalan dengan tatapan kosong dan tanpa arah. Ku lihat sebuah toko yang menjual cheese cake, aku amat merindukan saat dulu kita berbagi cheese cake bersama. Aku pun melangkahkan kaki ku untuk membeli cheese cake itu. Setelah cheese cake sudah ku dapatnya, aku memutuskan untuk kembali ke apartemen karena awan sudah menghitam dan siap menurunkan tetes demi tetes air yang akan membahasi bumi ini.

End PoV.

Akashi sedang fokus mengemudikan mobil sport kebanggaannya menelusuri jalanan kota Tokyo yang ramai pada sore hari karena waktu jam kerja usai dan para pekerja kini tengah memenuhi jalanan untuk kembali kerumah mereka. Sosok wanita dengan surai baby blue menarik perhatiannya, surai itu amat sangat ia hafal dan ia tahu kalau pemilik surai baby blue itu adalah kekasihnya, Kuroko Tetsuya. Akashi menautkan kedua alisnya, ia menyakinkan dirinya kalau itu benar Kuroko Tetsuya. Tapi kenapa, ia berada di Jepang, bukankah harusnya ia masih dalam perjalanan bisnis dengan ayahnya. Akashi pun memutuskan untuk memastikan kebenaran itu dengan memutar jalan menuju apartemen kekasihnya.

Sampai di apartemen kekasihnya, Akashi terkejut karena apartemen itu kini amat sangat kacau. Tentu saja menjadi hal yang tidak biasa. Akashi bahkan mendapat kejutan tambahan saat melihat tumpukan bekas botol wine. Sekarang Akashi yakin kalau kekasihnya memang berada di Jepang dan orang yang dilihatnya tadi benar-benar kekasihnya. Akashi memutuskan untuk menunggu Kuroko kembali tanpa menghidupan penerangan diruangan yang ada di apartemen itu.

Sekitar tiga puluh menit menunggu. Pintu apartemen itu terbuka. Kuroko pun melangkahkan kakinya memasuki apartemennya dan menghidupkan penerangan diruangan apartemennya itu. Setelahnya ia masuk ke dapur tanpa menyadari seseorang yang memperhatikannya dari sofa ruang tengah. Memasukan cake itu ke kulkas dan meminum air putih lalu Kuroko pun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok Akashi yang sedang duduk di sofanya dengan tatapan tajam dan menusuk.

"Okaeri Tetsuya…"

"T-tadaima…" Tubuh Kuroko sekarang bergetar hebat bahkan air matanya mengalir dengan mulus membasahi pipi mulusnya itu.

Akashi yang melihat sosok rapuh kekasihnya itu pun mendekat dan mendekapnya dengan erat. Kuroko bahkan menumpahkan semua air matanya dalam dekapan Akashi. Isakannya pun tidak ia tahan. Ia sungguh ingin mengeluarkan air matanya itu sekarang. Mengeluarkan semua beban dalam hatinya yang amat berat itu. Akashi pun hanya bisa mendekat Kuroko dengan erat dan mengelus surai baby blue kakasihnya itu untuk menenangkannya. Walau sebenarnya banyak hal yang ia ingin tanyakan pada Kuroko menganai banyak kejanggalan yang ia temukan saai ini.

Merasa sudah cukup puas menangis Kuroko pun melepaskan dekapan Akashi. Akashi pun menuntun Kuroko untuk duduk di sofa dan mengambilkan Kuroko air putih.

"Terima kasih Sei."

"Sudah merasa baikan?"

"Sedikit."

"Jadi bisa menjelaskan semuanya Tetsuya?"

"Biasa kau akan lebih tahu daripada aku tahu, Sei."

"Menebak Tetsuya bukanlah hal mudah. Jadi bisa menjelaskan semuanya?"

"Aku tidak jadi ikut Otou-san karena ada urusan dadakan yang harus ku selesaikan di TK."

"Lalu semua botol wine itu milik siapa?"

"Milik ku."

"…."

"Mereka teman ku….. Teman untuk membuat keadaan ku lebih baik…. Sei, apa kau sungguh-sungguh menyukai Kise-chan? Jujurlah… Aku tahu… Aku tahu semuanya… Tahu kalau selama ini kau selalu mengunjungi Kise-chan pada malam hari dan bermalam bersamanya saat ia masih dalam keadaan koma… Tahu kalau kemarin kau berlibur dengannya dan menautkan bibir kalian… Tahu kalau kau esok akan bertunangan dengannya… Tahu kalau sekarang aku bukanlah satu-satunya yang ada di hati mu… Tahu bagaimana rasa berbagi… Tahu rasa perih dari yang namanya penyesalan… Tahu betapa naifnya aku." Ucap Kuroko dengan nada dingin dan tatapan kosongnya.

Keheningan kini menyelimuti keduanya. Masing-masing larut dalam pemikiran mereka sendiri. larut untuk menyelami keadaan mereka saat ini. Sampai getaran handphone milik Akashi memecah kehaningan di antara mereka. Akashi pun melihat panggilan layar handphonenya dan ternyata panggilan dari ibunya.

"Pulanglah, Oba-san sudah menghubungi mu, mungkin ada urusan penting yang mau beliau sampaikan." Kuroko pun berjalan meninggalkan Akashi dan masuk kedalam kamar tidurnya dan mengunci pintunya. Tangisnya kini kembali pecah. Rasa sakitnya kini menjadi sensasi baru untuknya yang sudah terbiasa di rasakannya.

Dengan langkah gontai Akashi meninggalkan apartemen Kuroko. Akashi kini tahu yang namanya rasa sakit dan bingung secara bersamaan. Bahkan kini air matanya menemani perjalanannya untuk pulang ke rumah.

'Maaf Tetsuya.'

.

.

.

Berbeda dengan Akash. Kise tengah menemani Midorima untuk bekerja dirumah sakit. Alasannya karena Kise meminta Midorima untuk menemaninya jalan-jalan dan dengan cepat Midorima memberi respon kalau ia sibuk dan tidak bisa. Jangan sebut Kise Ryouta kalau dia tidak berusaha dengan keras, salah satu usahanya adalah menunggu Midorima di tempat kerjanya.

"Baiklah kita pergi ke tempat yang kau suka." Ucap Midorima sembari melepas jas dokter miliknya.

"Yap."

Usaha itu tidaklah sia-sia karena Midorima akhirnya setuju. Midorima pun mengemudikan mobilnya dengan perlahan karena Kise sama sekali tidak menyebut kemana tujuan mereka.

"Kise, Jadi kemana kit a sekarang?"

"Kemana pun tempat yang di sukai Midorimachi, aku mau mengunjungi tempat kesukaan Midorimachi."

Karena Kise meminta Midorima membawanya ke tempat yang di sukainya. Maka Midorima membawa Kise ke sebuah taman bermain, dan Kise sangat ingat kalau taman itu adalah taman yang sering ia kunjungi bersama Midorima saat mereka kecil dulu. Senyum bahagia menghiasi wajah cantik Kise, begitu pun Midorima yang tersenyum karena melihat Kise sangat senang.

Mereka pun duduk di ayunan yang bersisian. Keduanya larut dalam memori indah mereka yang mereka lewati semasa kecil dulu. Mulai dari Midorima yang mendorong ayunan untuk Kise. Membangun istana pasir dan akhirnya di hancurkan Kise. Bermain kejar-kejaran. Ah terlalu banyak kenangan manis di taman ini.

"Aku tidak sangka Midorimachi membawa ku, ke taman ini."

"Apa kau senang ?"

"Sangat. Aku merindukan taman ini."

"Baguslah kalau kau senang. Bagaimana persiapan pertunangan mu ?"

"Semuanya beres kok."

"Lalu bagaimana kondisi mu ? Apa kepalanya masih suka mengalami sakit ?"

"Sudah amat sangat membaik ko. Aku masih suka merasa pusing hanya saja itu karena kurangnya aku istirahat saja kok."

"Apa sudah teringat suatu hal?"

"Memang apa yang harus ku ingat? Aku masih mengingat Midorimachi, Okaa-san, Otou-san, dan Onee-chan serta beberapa rekan kerja ku dengan baik. Apa ada hal yang harus ku ingat lagi Midorimachi? Apa itu tentang Seichi kah?"

"Tidak. Ku rasa kau sudah sangat baik mengingat semua. Aku hanya khawatir kau melupakan keluarga atau rekan kerja mu saja kok."

"Hem."

"Lalu apa kau ingat dengan Kuroko Tetsuya?"

'Kuroko Tetsuya' Gumam Kise dalam hati.

Mendengar nama itu, entah kenapa rasanya sangat sakit di hati. Kenapa dengan nama itu?. Siapa Kuroko Tetsuya?.

"Siapa dia?"

"Dia orang yang menurut mu adalah teman mu."

"Benarkah? Kenapa aku melupakan dia? Kau tahu kenapa Midorimachi?"

"Tidak. Aku tidak tahu."

Kise pun tidak menanggapi lagi pembicaraannya tentang seseorang yang bernama Kuroko Tetsuya. Kini Kise tengah asik mengayun ayunan yang di dudukinya. Pikirannya memang belum sepenuhnya teralihkan dari nama Kuroko Tetsuya. Tapi rasanya, Kise enggan untuk mengingatnya karena sepertinya ada kenangan buruk yang terjadi.

"Eh." Kise terkejut saat kini Midorima sudah ada didepannya. Lebih tepatnya Midorima menopang tubuh dengan kedua lututnya dan mensejajarkan dirinya dengan Kise yang masih duduk manis di ayunan. Midorima pun tanpa segan, menyentuh kedua pipi Kise dan Kini irisnya dan juga iris Kise berpandangan lurus. Jelas sekali, kalau Kise masih amat terkejut dan juga tersirat kebingungan disana.

"Kalau kau berusaha menapik rasa sayangnya mu untuk ku agar tidak berkembang lebih dari rasa sayang seseorang untuk sahabatnya, maka aku sebaliknya. Rasa sayang ku pada mu, sudah berkembang lebih dari seorang sahabat. Kau suka atau tidak mendengarnya tapi aku tidak mau menyesal dengan tidak mengungkapkannya. Aku tidak menuntut jawaban apapun karena kau akan menjadi milik orang lain. Aku rela itu. Jadi dengar apa yang akan ku ucapkan setelah ini dengan baik-baik ya Ryouta-chan." Memejamkan matanya sesaat, Midorima pun menghela nafas untuk mengucapkan...

"Ich liebe dich."

Kedua mata Kise membulat sempurna. Midorima pun menghapus jarak di antara mereka. Menyesap rasa manis dari bibir Seorang Kise Ryouta. Kecupan manis dan memabukan untuk Midorima. Kise pun kini mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Midorima, dan membalas ciuman itu. Midorima sendiri cukup terkejut dengan reaksi Kise yang membalas bahkan memperdalam ciuman mereka. Tentu saja Midorima masih sangat normal, untuk tidak menyia-yiakan kesempatan itu.

Dua menit berlangsung. Karena desakan kebutuhan paru-paru kedua bibir itu terpisah. Wajah Kise dan Midorima memerah dengan sempurna. Midorima pun menghapus jejak saliva yang ada didekat bibir Kise dengan ibu jarinya. Kise pun akhirnya mendorong tubuh Midorima untuk menjauh darinya dan setelahnya Kise meninggalkan Midorima sendiri di dalam taman.

.

.

.

Kise kini tengah menikmati teh hangat beraroma mawar di taman mawar yang ada di belakang kediaman keluarga Akashi. Tempat favoritnya dan juga Akashi untuk menenangkan pikiran. Kise tentu saja berusaha untuk menenangkan pikiran dari semua memori yang terekam dengan apik di ingatannya atas peristiwa di taman tadi bersama Midorima. Kise bahkan tidak sadar kalau ia membalas ciuman itu dan memperdalam ciuman itu. Kise tidak mengerti kenapa dengan dirinya. Mendengar Midorima menyatakan perasaannya, bukanlah hal yang membuatnya resah. Tapi kenapa setelah mendengar pertanyaan itu saat di taman membuat hatinya merasa aman dan nyaman. Merasa ia pantas menerima perasaan itu.

Sebisa dan sebagus apapun rencana manusia, tetap saja Tuhan punya caranya sendiri untuk jalan yang terbaik. Mungkin Kise memang selalu menekankan pada Midorima mengenai bagaimana seharunya hubungan mereka yang hanya sebatas 'sahabat' saja. Tapi yang namanya perasaan memang tidaklah bisa untuk di rencanakan agar tetap pada keinginannya yang ingin dan hanya ingin sebatas 'sahabat' saja.

"Ryouta."

Kise pun mengalihkan perhatiannya pada sosok yang memanggilnya, yang kini sudah duduk dibangku depan di hadapannya. Kise pun mengertukan dahinya saat melihat sesuatu yang aneh pada diri calon tunangannya itu.

"Kau kenapa Seichi?"

"Aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

"Ya."

Kise yakin kalau ada dusta dari semua jawaban yang keluar dari mulut Akashi. Tapi Kise tidak mau untuk memakasa Akashi bercerita, biarlah nanti Akashi yang akan menceritakannya -bila Akashi berminat-.

"Kau terlihat gelisah? Apa ini karena acara esok?"

"Tidak Seichi. Hanya tengah mencoba mengumpulkan kepingan ingatan yang hilang."

"Jangan terlalu keras dan jangan berlama-lama di luar ruangan. Bila sudah selesai, kembalikah ke ruangan mu dan istirahat."

Akashi pun beranjak dan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Kise. Namun belum jauh melangkah, Kise kini tengah menggenggam tangannya dan setelahnya Kise langsung mencium Akashi.

Ciuman itu hanya berlangsung singkat. Kise menundukan kepalanya saat ia melepas ciuman itu.

"Oyasuminasai Ryouta." Ucap Akashi dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

"Baka ! Kenapa kau bisa sebodoh itu Kise Ryouta... Ahhhhh." Teriak Kise sembari mengacak surainya.

.

.

Sampai di kamar Akashi mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau saat ini. Niatnya untuk ke taman mawar agar dapat menjernihkan pikiran, ternyata kurang tepat karena taman itu sudah di tempati Kise yang sepertinya tengah menjernihkan pikirannya juga. Berniat langsung beranjak pun gagal karena Akashi melihat tatapan Kise yang tengah kosong. Tentu aja itu menarik rasa ingin tahu Akashi. Tapi sekali lagi niatnya itu justru membuat pikirannya semakin kacau. Kise menciumannya tanpa alasan yang jelas.

Kuroko dan Kise. Dua nama yang sukses membuat seorang sang emperor sekali pun merasa pusing dan tidak tahu harus berbuat apa. Lelehan air itu kembali menetes dari matanya, saat teringat bagaimana tatapan Kuroko yang amat terluka. Akashi benci melihatnya tapi tidak ada hal yang dapat Akashi lakukan saat ini.

.

.

.

Acara Pertunangan Akashi Seijuuro & Kise Ryouta…

Semua tamu sudah memenuhi ruangan hall sebuah hotel yang memang sengaja di pesan untuk acara pertunangan Akashi dan Kise. Dekorasi sederhana namun mewah menghiasi ruangan itu. Berbagai macam makanan dan minuman terbaik berjejer dengan manis. Nuansa berwarna emas mendominasi ruangan itu. Akashi sendiri kini tengah menemui beberapa undangan yang datang ke acaranya. Kise sendiri masih berada diruang rias. Tentu saja ia akan keluar pada saat acara utama.

"Apa Ryouta bahagia sekarang?"

"Sepertinya iya nee-chan."

"Baguslah… Sekarang ayo bersiap acara utamanya akan segera di mulai."

Acara utama dimulai dengan Akashi dan Kise yang berada di atas sebuah altar dan bertukar cincin. Tepukan pun menjadi pengiring setelah kedua cincin itu melingkar dengan manis di jari Akashi dan Kise. Kuroko dan Midorima yang berada di salah satu sudut ruangan pun ikut bertepuk tangan walau Kuroko terlihat seperti mayat hidup dengan wajah dingin dan tatapan kosongnya. Setelahnya Akashi dan Kise pun menerima berbagai macam ucapan selamat dari semua tamu hadir.

"Midorimachi."

Mendengar Kise memanggil nama sahabatnya itu Akashi pun ikut menoleh dan melihat Kuroko berada disebelah Midorima. Kise pun menghampiri sahabatnya itu dan Akashi pun mengikutinya.

"Midorimachi…. Siapa dia? Kekasih mu?"

"Kuroko Tetsuya… aku teman Midorima-kun."

"Ah ku kira kekasih Midorimachi… Kise Ryouta, salam kenal Kuroko-chan."

"Iya salam kenal Kise-san."

"Seichi.. kenalkan dia Kuroko Tetsuya, teman Midorimachi."

"Kuroko Tetsuya." Kuroko pun mengulurkan tangannya pada Akashi.

Akashi hanya menatap uluran tangan Kuroko tanpa ada respon akan membalas uluran tangan itu. Akashi benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ini. Bagaimana bisa ia bersikap seolah tidak kenal dengan kekasihnya didepan tunanganya ini. Akashi sudah amat muak dengan keadaan saai ini. Ia masih amat sangat mencintai Kuroko, hanya saja kini Akashi merasakan hal yang sama juga pada Kise.

"Seichi." Panggil Kise dan menatap Akashi dengan bingung karena tatapannya pada Kuroko sangat berbeda.

Mengabaikan panggilan Kise, Akashi pun menarik tangan Kuroko. Tindakan Akashi jelas menjadi kejutan tersendiri untuk Kuroko. Dan juga untuk Kise pastinya.

Akashi dan Kuroko kini tengah berada di sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.

"Tetsuya."

"Jangan mempermainkan Kise-chan, Sei."

"Maksud mu ?"

"Tindakan mu jelas akan membuat Kise-chan bertanya-tanya kenapa kau bertingkah seperti ini."

"Lalu aku harus bertindak seolah-olah tidak mengenal kekasih ku ?"

"Bersikaplah seperti itu Sei di hadapan tunangan mu."

Sekali lagi. Akashi benci saat ia tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Akashi maupun Kuroko. Keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Kuroko pun akhirnya memutuskan untuk mengecap bibir manis yang amat dia rindukan itu. Ciuman itu singkat dan Akashi dibuat benar-benar bungkam dengan tindakan Kuroko.

"Kita sudahi semuanya disini Seijuurou-kun. Aku mencintai mu."

T.B.C

Bagaimana, bagaimana ?

Semakin aneh kah ?

Oke, di tunggu Reviewnyannya yaa minna-san :)

Jaa na...