True Love, Right !

.

.

Chap. 17

.

.

Terima kasih untuk semua yang sudah mereview di chap kemarin yaaaaa, review kalian membuat saya jadi semangat untuk melanjutkan fic ini ^-^

.

.

So, Happy Reading Mina-san ~(^o^)~

Um.. jangan lupa Reviewnya di akhir ya….

.

.

.


Cardigan coklat dengan kaos polos berwarna putih serta celana jens hitam melekat pada tubuh sang model dengan surai pirangnya, jangan lupakan topi serta kacamata. Ya, Kise Ryouta tengah dalam mode penyamarannya. Restoran cepat saja menjadi pilihan sang model untuk menunggu seseorang. Cheese burger dan cola menjadi menu pilihannya sembari menunggu seseorang. Senyuman manis pun di umbar sang model, saat melihat orang yang di tunggunya kini berjalan ke arahnya.

"Maaf menunggu lama Ryoua-sama."

"Tidak apa-apa Takada-san, silakan duduk."

Pria paruh baya dengan setelah jas formal yang tengah di tunggu Kise pun mengambil bangku di depan Kise. Pria yang di panggil dengan nama Takada itu pun, mengeluarkan beberapa tumpukan kertas dari tas yang dibawanya.

"Ini data tentang Kuroko Tetsuya yang Ryouta-sama minta dan bila ada yang kurang jelas, saya bisa mencarikannya lagi untuk anda Ryouta-sama."

"Terima kasih Takada-san, mungkin aku akan jadi sering membutuhkan bantuan mu kedepannya dan ingat perjanjian kita rahasiakan ini dari siapapun termasuk Onee-chan ku yang sangat kepo itu, Oke ?"

"Baiklah Ryouta-sama."

Kise pun memasukan lembaran kertas itu kedalam tas ransel yang dibawanya.

"Baiklah kalau gitu aku pergi dulu ya Takada-san."

"Hati-hati dijalan Ryouta-sama."

"Ha'i"

.

.

.


Di dalam ruangan pribadinya kini Kise tengah membuka setiap lembar kertas yang diberikan Takada kepadanya siang tadi. Kise memang sengaja meminta salah satu buttler kepercayaannya dan juga tentunya keluarganya untuk mencari tahu mengenai Kuroko Tetsuya. Alasan Kise melakukan itu sangat simpel yaitu penasaran. Siapa sebenarnya Kuroko Tetsuya itu dan ada hubungan apa dengan Akashi Seijuuro yang sekarang resmi menjadi tunangannya.

Kise sendiri masih sangat terkejut dengan sikap Akashi yang meninggalkan acara pesta pertunangan mereka dengan membawa Kuroko Tetsuya bersamanya. Bahkan sampai sekarang Kise masih enggan untuk berbicara dengan Akashi. Merasa kecewa karena Akashi meninggalkan pesta mereka begitu saja dengan wanita lain.

Akashi sendiri terlihat sangat baik-baik saja dengan tidak saling berkomunikasinya mereka. Setiap sarapan Kise dan Akashi hanya sibuk dengan menu makanan mereka tanpa ada satu pun komunikasi diantaranya mereka. Yang sangat peka dengan keadaan ini tentu saja ibu Akashi, beberapa kali ibu Akashi menasehatinya untuk memaafkan Akashi tanpa rasanya sangat tidak lengkap kalau bukan Akashi sendiri yang meminta maaf padanya.

Kening Kise berkerut melihat informasi yang ada di lembaran kertas itu, intinya Kuroko Tetsuya adalah kekasih Akashi Seijuuro. Kise bahkan tidak tahu mengenai hal ini, ah atau mungkin sudah mengetahui hanya saja karena kecelakaan ingatan akan hal itu masih belum pulih.

Kise pun mencatat alamat tempat dimana Kuroko bekerja, mungkin dengan datang dan berbicara langsung dengan Kuroko lebih baik untuk memastikan bagaimana hubungannya dengan Akashi saat ini. Tentu saja Kise sangat tidak rela untuk diduakan. Usai mencatat, Kise pun mengambil kunci mobil pribadinya dan keluar dari ruangan pribadinya itu. Tentu saja masih dengan mode penyamaran, namun kali ini Kise mengenakan dress selutut berwarna pink dengan gardigan putih serta kacamata tentunya.

.

.

.


Kise yang masih di dalam mobil pribadinya kini sudah berada didepan sebuah gedung Taman Kanak-kanak yang di catat Kise sebagai tempat kerja Kuroko Tetsuya. Kise pun memutuskan menunggu Kuroko keluar dari gedung itu karena bila ia masuk dan mencari Kuroko kemungkinan penyamarannya terbongkar akan sangat besar dan tentu saja itu bukanlah hal yang baik.

Tiga puluh menit menunggu Kuroko pun keluar gedung Taman kanak-kanak itu, Kise pun langsung keluar dari dalam mobilnya dan berjalan mendekati Kuroko.

"Kuroko-san." Panggil Kise.

Kuroko pun menoleh dan menemukan Kise yang kini berjalan mendekat kerahnya. Kuroko sebenarnya sangat terkejut dengan kehadiran Kise di lingkungan tempat kerjanya. Bahkan terbesit kalau ingatan Kise sudah pulih dan mengingat semua tentang dirinya dan semua kejadian di antara mereka.

"Ano.. kau benar Kuroko Tetsuya bukan ?" Tanya Kise memastikan.

"Iya."

"Ah iya apa kau ingat aku ?"

"Kise Ryouta seorang model papan atas tentu saja aku tahu."

"Hum.. kau teman Midorimachi kan ? kau datang bukan ke acara pertunangan ku ?"

"Ya." Sungguh itu menyakitkan hati Kuroko, saat Kise menyebutkan acara pertunangan yang berarti pertunangan antara Kise dan Akashi.

"Apa kau ada waktu ? bisa mengobrol sebentar ?"

Anggukan pun menjadi jawaban Kuroko. Setelahnya Kuroko dan Kise mencari restoran atau café yang bisa menjadi tempat mereka untuk berbicang.

Restoran Ramen pun menjadi pilihan Kise. Kuroko sendiri hanya bisa mengiyakan permintaan Kise yang minta untuk mengobrol di restoran ramen karena yang bersangkutan sedang ingin makan ramen.

Usai memesan ramen. Keadaan Kise dan Kuroko saat ini sangat canggung. Keduanya sama-sama berdiam untuk menunggu masing-masing untuk memulai pembicaraan. Yang pasti, Kuroko tahu kalau ingatan Kise belum pulih karena Kise sebelumnya memastikan identitas dirinya dan menganggapnya sebagai teman Midorima.

"Ano Kuroko-san apa kau sudah lama berteman dengan Midorimachi ?"

"Baru. Aku baru akhir-akhir ini kenal dengan Midorima-kun."

"Hem… kalau begitu apa kau juga teman Seichi ?" Tanya Kise to the point.

"Ya bisa kau bilang seperti itu Kise-san."

"Apa hanya teman ?"

Kuroko tidak langsung menjawab. Kini Kuroko tengah memperhatikan Kise. Sepertinya Kuroko mulai paham kemana alur pembicraan ini, sebenarnya Kuroko sangat enggan untuk membicarakan hal itu sekarang karena perasaannya masih sangat sakit dan berantakan. Tapi ya seperti ini waktunya untuk membiacarakan semuanya pada Kise. Mengenai hubungannya yang sudah kandas sengan Sei-kunnya.

"Kau bisa menganggap ku sebagai mantan kekasih Akashi-kun, Kise-san."

Kuroko bisa melihat bagaimana Kise kini tengah menggigit bibir bawahnya.

"Aku tahu kemana alur pembicaraan ini Kise-san, tapi maaf aku sedang sangat tidak ingin membahasnya sekarang, bagaimana kalau kita bicara lagi setelah ingatan Kise-san pulih."

Kise pun menutup matanya, semuanya Kise sudah tahu walau ia masih belum mengingatnya untuk bisa membenarkan semua informasi yang tercetak dilembar kertas yang ia minta dari Takada.

"Jadi apa benar kalau kepulangan ku ke Amerika sebelum kecelakaan itu karena melihat mu dan Seichi berdua dengan hanya sehelai handuk ?" Kise sangat menahan emosinya. Air matanya sungguh sangat ingin keluar.

"Apa Kise-san sudah mengingat semuanya ?"

"Belum, hanya mencari tahu mengenai curahatan ku ke beberapa rekan dekat ku mengenai Seichi dan kau, sungguh informasi yang menyakitkan bila itu benar tapi sayangnya kau kini sudah menjadi mantan kekasihnya Seichi jadi lebih baik menjauh dari apa yang sudah menjadi milik ku."

Acara saling memandang dengan tajam pun terjadi, Kuroko sangat terkejut dengan to the point nya Kise mengenai permasalahan mereka dan bahkan menjadi kejutan tersendiri saat Kise meminta dirinya untuk menjauh dari Akashi. Memang sempat terlintas untuk meninggalkan Akashi dan melupakannya, namun rasanya hal itu enggan ia lakukan sekarang.

"Mungkin aku bisa menjauh dari Akashi-kun tapi sepertinya Akashi-kun yang tidak bisa menjauh dari ku. Ku rasa Kise-san sangat paham dengan maksud ku dan untuk status ku yang mantan kekasih, mungkin bisa ku pikirkan kembali menjadikanya kekasih."

"Cukup! Hentikan semua omong kosong mu! Seichi hanya akan jadi milik ku, camkan itu Kuroko Tetsuya!"

Kise pun beranjak meninggalkan Kuroko didalam restoran. Kuroko sendiri memutuskan untuk ikut beranjak dari restoran itu walau pesanan mereka berdua belum datang.

.

.

.


Menyakitkan. Kecewa. Mungkin dua kata itu mewakili semua rasa sedih Kise saat ini. Kenyataan bodoh yang memuakan. Kenapa rasanya sangat menyakitkan, bukankah harusnya seorang yang habis bertunangan itu bahagia. Tapi kenapa seperti ini.

Sepanjang perjalanan Kise hanya bisa menangis sembari mengendari mobilnya. Sungguh kalau bisa ia tidak ingin bertemu dengan Akashi saat ini karena hanya akan membuat luka di hatinya semakin sakit. Namun rasanya mustahil karena malam ini di kediaman Akashi akan ada jamuan makan malam dengan beberapa rekan bisnis keluarga Akashi, sebagai tunangan tuan muda keluarga Akashi, Kise harus menemani tunangannya itu dalam jamuan makan malam.

.

.

.


Tidak jauh berbeda dengan Kise, Kuroko hanya bisa menangis di dalam kamarnya bahkan rasanya sangat enggan untuk menyalahkan lampu kamarnya. Hatinya sangat sakit. Kenapa semuanya harus menjadi serumit ini. Kenapa rasanya sangat perih. Terlebih pembicaraannya dengan Kise yang menambah luka di hatinya yang memang sudah terluka.

Kuroko bisa berkesimpulan mengenai genderang perang yang dikibarkan oleh Kise untuk yang kedua kalinya. Yang pertama tentu saat mereka liburan bersama dulu. Kenyataannya kini Akashi memang mencintai merek berdua, dan bila melihat kenyataan maka Kuroko lah yang harus menelan kekalahan karena kini status Kise adalah tunangan resmi Akashi Seijuuro.

"Techan ?"

Kuroko sangat kenal dengan panggilan itu, suara itu milik Momoi Satsuki yang kini memanggil namanya. Kuroko tidak menyauti panggilan itu dan masih terisak menangis dalam kamarnya yang gelap.

"Techan apa kau di kamar ?"

Momoi pun menghidupkan lampu kamar Kuroko dan menemukan Kuroko yang sedang menangis terisak.

"Ya Tuhan, Techan kau kenapa ?" Momoi pun mendekat dan memeluk Kuroko yang gemetar dan masih menangis terisak.

"M-mo-moi-chan ke-kenapa hiks rasanya hiks sangat menyakitkan."

"Tenanglah Techan.. aku dan Daichan akan selalu ada untuk Techan ya."

.

.

.


Kise pun sampai di kediaman keluarga Akashi yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Tanpa mematikan mesin mobilnya Kise pun keluar dari mobil dengan air mata yang masih kelur dari kedua iris madunya dan mengabaikan sapaan dari buttler yang menghampirinya dan langsung berlari memasuki mansion besar itu menuju kamar pribadinya.

Sikap Kise yang sangat aneh dengan pulang dalam keadaan menangis menjadi perhatian Akashi yang memang datang bersamaan dengan Kise. Akashi bahkan tadinya ingin memarahi Kise yang seenaknya parkir dan keluar dari mobil dengan mesin yang masih menyalah, namun dibatalkan karena melihat kondisi Kise yang sangat buruk. Menghampiri Kise saat ini dan menanyakan keadaanya jelas bukan pilihan baik.

.

.

.


Acara jamuan makan malam pun usia dengan absennya Kise yang beralasan tidak enak badan. Akashi pun berniat untuk menghampiri Kise ke kamar pribadinya. Sudah empat jam berselang mungkin keadaan Kise sudah lebih tenang.

Drrrt…Drrt…

Akashi pun mengecek ponselnya dan ternyata email dari ayahnya yang kini tengah di laur negeri dan memintanya untuk mengirimkan beberapa berkas yang dibutuhkan ayahnya. Rencana menghampiri Kise dibatalkan atau mungkin bisa dikatakan ditunda setelah ia menyelesaikan permintaan ayahnya.

.

.


Kise hanya memandang malas makanan yang dikirimkan maid ke kamarnya. Nafsu makannya hilang dengan sempurna karena suasana hatinya yang kacau. Lembaran kertas mengenai Kuroko pun berserakan di lantai kamarnya.

Mungkin berendam air panas akan sedikit menyegarkannya untuk bisa beripikir lebih dewasa menghadapi masalahnya saat ini. Kise pun beranjak dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.

Berendam air panas sungguh pilihan yang baik, Kise bisa merasakan semua rasa pegal dan letih di tubuhnya berkurang sedikit demi sedikit walau hatinya masih sangat sakit. Harum sabun mawar kesukaannya mengisi indra menciumannya. Kise pun memejamkan kedua matanya.

.

.


Dua jam berlalu dan Akashi sudah selesai mengirim berkas yang diminta ayahnya. Melihat jam sudah menunjukan hampir tengah malam rasanya tidak mungkin untuk mengunjungi kamar Kise. Tapi Akashi tetap memutuskan untuk berkunjung ke kamar Kise untuk memastikan keadaannya.

Ketukan ketiga, tidak ada respon sama sekali. Akashi pun memutar knop pintu kamar Kise yang ternyata tidak dikunci. Akashi pun masuk dan hanya menyeritkan dahinya melihat kondisi kamar yang amat sangat berantakan.

Satu hal yang menjadi perhatian Akashi dari semua barang yang berserakan di lantai kamar Kise yaitu sebuah lembaran kertas dengan foto wanita dengan surai baby blue yang amat sangat dikenalnya. Akashi pun mengambil lembaran kertas itu dan dahinya semakin mengerut dan memunguti lembaran kertas yang berserakan itu dan membacanya.

KLIK.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka menarik perhatian Akashi dari kertas-kertas yang ada ditanganya.

Kise sendiri sangat terkejut melihat Akashi berada didalam kamarnya dan dengan kertas-kertas yang kenalnya ada ditangan Akashi. Sungguh Kise sangat menyesal karena tidak kembali mengunci pintu kamarnya setelah menerima makanan yang diantarkan ke kamarnya bahkan ia pun tertidur saat berendam.

"Aku terkejut melihat Seichi ada didalam kamar ku saat ini."

"Ryouta-"

"Seichi terkejut dengan kertas-kertas itu ? aku pun sama. Ah mungkin aku bisa bertanya pada Seichi langsung, apakah kau mencintai ku atau kau mencintai Kuroko Tetsuya ?" Tanya Kise dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.

"Ryouta-"

"Tentu saja Kuroko Tetsuya, siapa Kise Ryouta ? hanya tunangan mu karena perjodohan konyol bukan ? Seichi apa aku dimata mu saat ini ? mainan ?"

"Kau dia-"

CUP. Kecupan kasar mendarat di bibir Kise. Akashi menciumnya dengan kasar. Air matanya Kise terus mengalir tapi kedua tangannya melingkar di tengkuk Akashi.

"Aku mencintai mu… kau bukan mainan ku, kau Kise Ryouta dan aku mencintai mu." Bisik Akashi ditelinga Kise setelah memutuskan ciuman kasarnya dari bibir Kise.

"Kalau kau mencintai ku, buat aku jadi milik mu seutuhnya saat ini, Seijuurochi."

-T.B.C-


MAAF ! MAAF ! sudah membuat Tet-chan disini jadi yang sangat errrrr –tersakiti—

YOSH. Berikan pendapat kalian ya mina-san dengan isi kolom review

Jaa-na ~(^o^)~