True Love, Right !

Chap. 18

.

.

.

Mayumi melangkahkan kakinya memasuki ruang makan, biasanya ia akan disambut oleh suara khsas perempuan yang ceria namun kali ini tidak ada seorang pun diruang makan itu. Bahkan anak semata wayangnya Seijuurou tidak ada. Sungguh keadaan yang sangat aneh karena tidak biasanya anak dan calon menantunya itu telat ke ruang makan. Mayumi pun memanggil Takashima kepala pelayan dimension mewahnya itu. Takashima datang dan memberikan hormat pada nyonya besarnya keluarga Akashi itu.

"Takashima, dimana Seijuurou dan Ryouta ?"

"Tuan muda Seijuurou sedang merawat nona Ryouta yang tengah demam dikamarnya."

"Demam ? Sejak kapan ? Apa sudah menghubungi dokter ?"

"Iya demam, sejak semalam dan tuan muda belum menghubungi dokter sampai saat ini."

"Suruh pelayan membawakan sarapan untuk Seijuurou dan bubur untuk Ryouta sekarang."

"Baiklah nyonya."

Mayumi membuka pintu kamar Ryouta perlahan dan menemukan Seijuurou tengah duduk dibangku dekat tempat tidur Ryouta sembari membaca novel. Seijuurou pun menutup bukunya saat melihat ibunya memasuki kamar Ryouta.

"Aku mendengar dari Takashima kalau Ryou-chan sakit, kenapa Sei-chan tidak memberi tahu Okaa-san ?"

"Maaf Okaa-san. Setahuku Okaa-san pulang larut dan membutuhkan istirahat jadi aku berniat memberitahukan Okaa-san pagi ini namun sepertinya Okaa-san sudah tahu terlebih dahulu."

"Baiklah. Lalu bagaimana keadaan Ryou-chan, apa sudah baikan ?"

"Demamnya sudah turun dari semalam. Ryouta hanya butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya."

"Memang apa yang terjadi sampai membuat Ryou-chan sakit seperti ini ?"

"Mungkin kita bias mengobrol ditaman Okaa-san. Akan berisik dan bias mengganggu istirahat Ryouta kalau kita bicara disini."

"Baiklah. Okaa-san padahal sudah menyuruh Takashima untuk mengantar sarapan Sei-chan kesini, kalau gitu nanti biar kita sarapan bersama saja ditaman ya. Nanti kalau Ryou-chan sudah bangun, Okaa-san mau menyuapinya."

"Baiklah Okaa-san."

.

.

.

Mayumi dan Seijuurou tengah menyantap sarapan pagi mereka. Belum ada niat Seijuurou memulai pembicaraan sampai sarapannya sudah habis. Mayumi pun tidak mau mendesak putranya untuk bercerita, biar Seijuurou sendiri yang memulainya. Ah ya Mayumi sebenarnya rindu akan momen berdua dengan Sejuurou. Putra kecilnya sekarang sudah besar dan dewasa, tapi tetap saja dimata Tetsumi, Seijuurou adalah putra kecilnya. Mayumi bahkan menyesal membiarkan Seijuurou untuk tinggal di apartemen karena mansion besar itu terasa sangat sepi.

Seijuurou tidak berbeda dengan Natsumi. Ia pun merindukan momen berdua dengan ibunya. Seijuurou bahkan merasa selalu bersyukur bisa mendapatkan seorang ibu yang baik seperti Mayumi, walau sibuk Seijuurou tidak pernah merasa kesepian dimasa kecilnya. Mayumi benar-benar memerankan perannya sebagai ibu yang baik. Tidak jarang pula Seijuurou curhat dengan Mayumi mengenai permasalahannya. Bagaimana pun juga seorang ibu bisa berpikir bijaksana dan sarannya sangat baik. Maka dari itu, Seijuurou akan curhat mengenai masalahnya antara ia, Ryouta dan Testuya untuk menemukan solusi terbaik untuk mereka. Toh, bagaimana pun juga pada akhirnya ada yang tersakiti seperti saat ini, Tetsuyanya yang tersakiti.

"Okaa-san."

"Iya."

Seijuurou memulai memulai sesi curhatnya. Mayumi pun menjadi pendengar yang baik untuk semua curahan isi hati putranya yang terlihat sangat rapuh. Sangat tidak Seijuurou sekali terlihatnya.

"Menurut Okaa-san aku harus bagaimana ?"

"Ne Sei-chan, menurut hati kecil Sei-chan mana yang paling Sei-chan cintai ?"

"Tetsuya." Jawab Seijuuurou tanpa keraguan.

"Nah kalau gitu sudah jelas bukan. Okaa-san yakin, Sei-chan sadar kalau ada yang tersakiti pada akhirnya. Maafkan Okaa-san ya, kalau saja bukan permintaan Jii-samamu pasti tidak aka nada masalah serumit ini. Okaa-san menyukai Ryou-chan dan Tet-chan, mereka wanita-wanita terbaik untuk Sei-chan. Ikuti kata hati Sei-chan dan buat keputusan ya kalau Sei-chan sudah memantapkan hati Sei-chan."

"Okaa-san tidak perlu merasa bersalah. Aku sekarang mengerti, apa yang harus kulakukan."

"Okaa-san selalu bedoa untuk kebahagian Sei-chan, Ryou-chan, dan Tet-chan."

"Terima kasih Okaa-san."

Seijuurou pun izin untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena semalaman ia belum tidur untuk menjaga Ryouta yang mendadak demam tinggi. Mayumi pun menggantikan Seijuurou untuk menjaga Ryouta.

.

.

.

Seijuurou merebahkan tubuhnya diatas kasurnya. Ia lelah bukan karena belum tidur tetapi karena pikirannya. Ya ia sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan Tetsuya saat ini. Terlebih saat mengingat apa yang Ryouta katakan semalam.

Flashback.

"Kalau kau mencintaiku. Buat aku jadi milikmu seutuhnya saat ini, Seijuurouchi."

"Kenakan pakaianmu sekarang dan jangan meminta yang tidak-tidak." Seijuurou berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Ryouta yang masih mematung dibelakangnya.

GREP. Ryouta memeluk tubuh Seijuurou dari belakang. Seijuurou bisa merasakan kalau tubuh Ryouta bergetar dan ia mendengar isak tangis walau amat pelan meluncur dari mulut Ryouta.

"Kenapa Seichi menolak permintaanku ?"

"…"

"Apa hanya Kuroko Tetsuya saja yang boleh memiliki tubuh Seichi seutuhnya ?"

Seijuurou melepaskan pelukan Ryouta dan kini menatap tajam Ryouta didepannya yang tengah menunduk dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya.

"Ingatanmu sudah kembali ?"

Ryouta hanya tertawa lirih mendengar pertanyaan yang diajukan Seijuurou padanya. "Iya. Aku mengingat semuanya."

Kejutan. Satu kata itulah yang Seijuurou bisa simpulkan saat ini. Ryouta mengaku sudah mengingat semuanya. Seijuurou pun menyentuh dahi Ryouta dan merasakan kalau suhu tubuh Ryouta sangat panas.

"Kau sakit. Kenakan pakaian dan beristirahatlah, akan kusuruh maid mengantar obat untukmu."

"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN !" Bentak Ryouta.

"Hari ini aku menemui Kuroko, keadaanya sangat berantakan sekali. Aku bahkan menantangnya untuk memperhatankanmu disisiku. Apa menurutmu aku akan menang, Seichi ?"

Lagi. Seijuurou diberi kejutan oleh seorang Kise Ryouta. Seijuurou menatap semakin tajam kearah Ryouta namun tiba-tiba tubuh Ryouta kehilangan keseimbangannya dan hamper saja terjatuh kalau ia tidak cepat menangkapnya.

End Flashback

.

.

.

Mayumi tersenyum saat mendapati Ryouta yang sudah sadar dan berjalan mendekat kearah Ryouta.

"Ohayou Ryou-chan. Bagaimana keadaanmu, sudah merasa baikan ?"

"Ohayou Okaa-san. Ya aku sudah merasa baikan."

"Baguslah. Nanti akan Okaa-san beritahu Sei-chan soalnya ia terjaga semalaman menjagamu, pasti ia senang kalau tahu kau sudah merasa baikkan."

"Eh ? iya Okaa-san."

"Nah sekarang Ryou-chan harus sarapan ya, Okaa-san yang akan menyuapi."

"T-tapi Okaa-san itu sangat merepotkan, aku bisa sendiri ko Okaa-san."

"Okaa-san tidak menerima penolakan kali ini."

.

.

.

"Sei-chan, Ryou-chan sudah sadar tapi ia tidur lagi ya sepertinya efek obatnya tapi baguslah agar ia cepat pulih."

"Baguslah kalau Ryouta sudah baikkan. Aku titip Ryouta pada Okaa-san dulu yah."

"Lho memang Sei-chan mau kemana ?"

"Bertemu Tetsuya."

"Salam untuk Tet-chan ya."

"Akan kusampaikan nanti Okaa-san."

Seijuurou pun keluar dari mansionnya dan menuju apartemen Testuya. Ya ia berniat untuk meminta maaf pada Testuya dan berharap kalau Tetsuya menerimanya kembali. Karena benar kata Okaa-san, ia harus memutuskan dan walau akhirnya aka nada yang tersakiti itu lebih baik daripada menggantungkan keduanya.

.

.

.

Seijuurou menekan tombol bel apartemen Tetsuya untuk yang ketiga kalinya. Ia sebenarnya mempunyai kunci apartemen Tetsuya namun rasanya tidak pas kalau ia masuk dengan kunci itu karena mungkin saja Tetsuya memang tidak menginginkan ia untuk menemuinya saat ini.

Namun Seijuurou senang karena pintu itu dibukakan oleh Tetsuya yang sepertinya terkejut dengan kedatangannya. Ya apapun keputusan Testuya nanti ia akan menerimanya dan juga keputusan Ryouta. Yang jelas ia sudah memantapkan pilihannya.

Tetsuya terkejut saat melihat Seijuurou berdiri didepan pintu apartemennya. Bahkan biasanya Seijuurou akan masuk dengan kunci yang ia punya tapi kali ini ia menekan tombol bel. Tetsuya pun mempesilakan Seijuurou masuk kedalam apartemennya. Dan keduanya kini tengah berada diruang tengah.

"Tetsuya."

Tetsuya bahkan terkejut saat melihat Seijuurou tengah duduk bersimpuh didepannya terlihat air wajah keseriusan yang Seijuurou tampakkan. Tetsuya bahkan tidak mampu untuk sekedar menjawab panggilan Seijuurou padanya.

"Maaf. Maaf kalau aku melanggar janji yang sudah kuucapkan. Kau layak untuk memaki, menghina, bahkan memukulku sampai kau merasa puas. Aku ikhlas, asal kau mau memaafkanku."

"B-bangunlah Sei-kun. Jangan seperti itu."

"Aku layak seperti ini. Menyakiti Tetsuya dengan janji yang sudah kuucapkan sendiri, pasti sangat mnyakitimu. Aku layak menerima banyak rasa sakit untuk menggantikan semuanya."

Tetsuya luluh dan memeluk tubuh Seijuurou didepannya. Ia dia amat merasa sakit dengan semuanya tapi ia tidak bisa membohongi dirinya yang merasa sangat mencintai Seijuurou lebih dari apapun. Bahkan ia selalu bermimpi buruk setelah memutuskan untuk putus dengan Seijuurou. Keputusannya untuk putus hanya karena emosi semata.

Seijuurou merasa senang mendapat pelukan dari Tetsuya namun rasanya ia masih tidak layak mendapat pelukan itu dari Tetsuya setelah semua rasa sakit yang ia berikan pada Tetsuya.

"Sei-kun, aku mencintai Sei-kun. Sangat." Ucap Tetsuya ditengah isakkannya.

"Kenapa Tetsuya ? kenapa kau mudah memaafkanku setelah semuanya."

"Karena aku mencintai, Sei-kun hanya itu alasannyaku."

Seijuurou pun menitikkan air matanya dan memeluk tubuh Tetsuya dengan erat. Aroma vanilla yang menguar dari tubuh Tetsuya begitu ia rindukan dan juga pelukan serta suara lembut Tetsuya. Ya Seijuurou rindu semua tentang Tetsuya.

.

.

.

Seijuurou dan Tetsuya tengah duduk menyantap makan siang mereka. Tentunya Seijuurou yang memasakan masakan khusus untuk Tetsuya-nya.

"Lalu bagaimana dengan Kise-san ? Dia sama denganku, mencintaimu Sei-kun. Dia bahkan tunangan resmimu saat ini."

"Hari ini aku mengobrol dengan Okaa-san dan ada satu hal yang kudapat. Kuakui kalau aku memang menyukai Ryouta tapi dalam hati kecilku aku sangat mencintaimu, Tetsuya."

"Kise-san, akan tersakiti pada akhirnya setelah semuanya."

"Ryouta sudah mendapatkan ingatannya kembali. Saat ini ia terbaring lemah karena semalaman demam tinggi."

"Kise-san tetap sahabatku. Ne, Sei-kun bisa aku meminta sesuatu hal ?"

"Apa ?"

.

.

.

Seijuurou kembali kerumahnya dan langsung menuju kamar Ryouta. Namun sayang, ia tidak menemukan Ryouta dalam kamarnya. Ia pun bertanya pada maid yang tengah membereskan kamar Ryouta dan mengatakan kalau Ryouta ada diruang keluarga bersama ibunya.

Seijuurou memasuki ruang keluarga dan menemukan Ryouta tengah menekan tuts piano dan menghasilakan suara yang begitu indah. Okaa-sannya sendiri tengah duduk sembari menikmati teh dan juga menikmati alunan suara piano yang Ryouta mainkan. De javu. Ia ini seperti saat pertama Seijuuou bertemu Ryouta.

Ryouta menyudahi permainan musiknya dan berbalik dan menemukan Seijuurou dan juga Mayumi tengah duduk bersama menatapnya bahkan Mayumi bertepuk tangan dan memberinya selamat karena permainan pianonya. Ryouta dengan sopan tersenyum pada Mayumi.

"Okaa-san mau keruang kerja dulu ya, ada hal yang harus Okaa-san urus. Dan Sei-chan pastikan Ryou-chan meminum obatnya sebelum tidur."

"Baiklah Okaa-san."

Suasana menjadi begitu sangat canggung diantara Ryouta dan Seijuurou. Keduanya hanya duduk terdiam dengan sibuk bersama pikirannya masing-masing.

"Apa sudah merasa baikkan ?" Tanya Seijuurou memecah keheningan.

"Sudah Seichi."

"Sudah makan malam ?"

"Tentu sudah, Okaa-san terus menyuapiku katanya biar aku cepat sembuh."

"Kau harus banyak istirahat dan cepatlah pulih."

"Iya iya. Oh iya Seichi darimana ?"

"Kantor."

"Maaf untuk kejadian kemarin malam. Aku diluar kendali."

"Apa benar kau sudah mengingat semuanya ?"

"Tentu. Sepertinya aku terlalu keras berusaha dan voila membuahkan hasil."

"Besok kita akan menemui Shintarou untuk memeriksa keadaanmu lebih lanjut."

"Ok."

"Kalau kau sehat, aku mau mengajakmu kesuatu tempat."

"Liburankah ? berdua ?"

"Iya kau bisa menyebutnya liburan dan iya berdua."

"Akan ku nantikan."

.

.

.

Ryouta sudah pulih dan kini tengah berkemas untuk acara berlibur yang Seijuurou katakan dua hari yang lalu. Ryouta bahkan menolak untuk memeriksakan diri ke Midorima dengan alasan mau memberi kejutan untuk Midorima kalau ingatannya sudah pulih.

Seijuurou dan Ryouta tengah menikmati perjalanan liburan mereka. Seijuurou focus menyetir dan Ryouta ikut mengalunkan lagu yang tengah diputar. Perjalanan yang damai. Ya baik Ryouta dan Seijuuurou enggan membahas permasalahan yang ada untuk sementara waktu, toh keduanya sudah memiliki keputusan masing-masing.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari empat jam, Ryouta dan Seijuurou tiba disebuah villa dengan taman yang sangat luas. Ryouta yang pertama kali turun dan memperhatikan sekitar. Seijuurou sendiri tengah mengobrol dengan seseorang yang sepertinya salah satu pelayan divilla itu.

Tidak asing.

Begitulah yang ada dipikiran Ryouta saat ini. Suasana villa dan taman itu terasa tidak asing. Rasanya ia pernah berkunjung kesini namun entah ia tidak mengingat kapan pastinya.

"Mengingat sesuatu, Ryouta ?"

"Maksud Seichi apa ?"

"Apa kau merasa tidak asing dengan tempat ini ?"

"Heh ? kenapa Seichi tahu aku berpikir seperti itu ?"

"Karena disini tempat kita pertama kali bertemu."

"Heh ?"

-T.B.C-

Maaf mina-san karena saya updatenya kelamaan -_-

Detik-detik menghadapi uas, saya ga janji bisa update cepet. Tapi 2 sampai 3 chap lagi akan selesai fic ini

Untuk semua yang sudah mereview, TERIMA KASIH

Ditunggu review'an kalian untuk chap ini. Walaupun saya belum bisa bales review'an kalian satu persatu. Sekali lagi maaf ya

Baiklah selesai cuap-cuapnya.

Terima kasih dan silakan mereview

Jaa-na…