True Love, Right !
Chap. 19
.
.
.
"Karena disini tempat kita pertama kali bertemu." Kata-kata itu masih berputar dalam kepala Ryouta. Ryouta yakin pertemuannya dengan Akashi adalah saat mereka ditunangkan oleh keluarga mereka. Atau mungkin memang ada satu kenangan lagi yang hilang, hanya itu yang dapat Ryouta simpulkan untuk saat ini. Ryouta pun kembali membereskan barang-barang yang ia bawa dikamar tidurnya. Usai membereskan barang-barang, Ryouta keluar kamar dan berkeliling vila. Ryouta pun menemukan Akashi di taman samping vila yang tengah menikmati sebuah teh dan beberapa kudpan.
GREB. Ryouta memeluk tubuh Akashi dari belakang. "Curang, masa menikmati teh seorang diri." Gumam Ryouta sembari menggembungkan pipinya, tentunya masih memeluk Akashi dengan manja.
"Kau terlalu lama untuk sekedar membereskan barang-barangmu, Ryouta."
"Huh, pasti itu alasan."
"Tidak. Kau menghabiskan waktu 40 menit hanya untuk membereskan barang-barangmu. Apa karena kau terlalu pusing mau menempatkan snack-snackmu dimana, agar tidak bisa aku sita ?"
"A-aku tidak membawa banyak snack kok sekarang ini."
"Akan aku periksa nanti."
"Tidak boleh, Seichi dilarang masuk ke kamarku pokoknya."
"Benarkah ? sayang sekali kalau begitu."
"Ambigu. Ucapanmu ambigu, Seichi."
"Mau sampai kapan bergelayut manja dibelakangku ? duduklah dan kau bisa menikmati tehmu."
"Ya baiklah."
Rasa hangat dan sesak mengisi hati Ryouta. Hangat karena senang dengan semua sikap Akashi padanya dan sesak karena mungkin ini jadi yang terakhir untuk mereka. Ryouta memang sangat mencintai pemuda yang didepannya ini, iris scarlet-goldnya begitu menghipnotisnya untuk selalu jatuh cinta kepada sang pemiliknya. Cintanya pun, bukan cinta bertepuk sebelah tangan. Si pemuda tampan itu pun mencintanya. Bahkan sudah ada ikatan yang mengikat dikedua jari manis mereka. Hanya menunggu waktu saja, untuk keduanya mengikatkan diri secara resmi didepan altar untuk hidup bersama selamanya dalam sebuah rumah tangga. Tapi rasanya membayangkan untuk berumah tangga dengan pemuda bernama Akashi Seijuurou, sangat jauh untuk bisa dibayangkan oleh Kise Ryouta. Walau cintanya terbalas dan mereka sudah mengikatkan diri dalam sebuah pertunangan tapi ada sebuah tembok besar diantara dirinya dengan Akashi yang membuat keduanya tidak mungkin untuk bersama.
Akashi bukannya tidak menyadari tatapan sakit yang dipancarkan kedua iris madu Ryouta. Akashi tahu rasa sakit apa yang sedang bergelayut manja didalam diri wanita cantik didepannya itu. Takdir, memang kejam bukan. Mempertemukan dirinya dengan Ryouta yang jelas-jelas sudah memiliki ikatan dengan wanita lain. Hasilnya, mereka bertiga sama-sama tersakiti. Tapi yang Akashi benci dari wanita didepannya adalah ia sangat ahli memasang topeng 'aku tidak apa-apa'. Karena topengnya itu membuatnya semakin bersalah Karena sudah egois ingin memilikinya tanpa melepas Tetsuya-nya.
.
.
.
Ryouta kembali menguap dan merapatkan jaketnya pada tubuhnya karena udara pagi hari sangatlah dingin, ditambah dirinya dibangunkan paksa oleh Akashi yang menyeretnya kebalkon atas vila. Akashi sendiri hanya terkekeh melihat wajah sebal dan mengantuk milik Ryouta. Tapi memang ia sengaja, karena ia ingin mengajak Ryouta untuk menyaksikan matahari terbit.
"Kau akan menyesal kalau liburan ini hanya tidur, disini pemandangan matahari terbitnya sangat indah." Ucap Seijuurou sembari menarik Ryouta kedalam pelukannya.
"Kenapa tidak bilang dari semalam ? jadi aku kan gak perlu tidur tengah malam."
"Kau tidur tengah malam ?"
"Ya, aku tidak bisa tidur."
"Kenapa ?"
"Entahlah, Seichi."
Kedua pun menikmati pemandangan matahari terbit. Wajah Ryouta yang tadinya mengantuk saat ini berbinar takjub. Usai menikmati pemandangan matahari terbit, keduanya bersiap untuk berkeliling vila.
Sepanjang perjalanan berkeliling vila, Ryouta terus berucap dalam hatinya 'tidak asing'. Ryouta sudah meminta Akashi untuk menceritakan kenapa ia berkata ini tempat pertema kali mereka bertemu tapi tetap saja ia bahkan tidak bisa mengingat. Ya Ryouta ingat mengenai teman masa kecil hanya Midorima saja yang ada diingatkannya.
"Sudah masuk jam makan siang, bagaimana kalau kita kembali ke vila ?"
"Ya baiklah, Seichi."
Sampai di villa keduanya sudah disuguhkan berbagai macam makanan untuk makan siang mereka. Ryouta sangat bersemangat untuk menghabiskan makanannya. Ya walaupun model, ia sangat sulit mengontrol porsi makan dan juga cemilannya. Tapi ya selalu ada Alex manajenya dan juga Midorima yang siap kapan saja untuk berceramah tentang porsi makan dan cemilannya yang berlebihan.
Drrt…Drrt…Drrt… Ryouta mengalihkan pandangannya pada ponsel Akashi yang bergetar dan ia melihat nama 'Tetsuya' pada layar ponsel Akashi. Akashi mengambil ponselnya dan pergi meninggalkan meja makan. Ryouta tersenyum pahit "Padahal sudah memutuskan tapi kenapa masih begitu sakit yah." Gumamnya.
.
.
.
Akashi kembali keruang makan dan tidak menemukan Ryouta disana. Akashi pun melangkahkan kakinya ke taman samping vila karena yang ia tahu kemarin, Ryouta menyukai taman itu. Benar saja, Ryouta tengah duduk disana. Akashi pun mendekati Ryouta dan duduk dibangku yang bersebrangan dengan Ryouta.
"Apa makanannya tidak enak ?"
"Enak kok."
"Lalu kenapa tidak kau habiskan, Ryouta ?"
"Aku gak mau diceramahin sama Alexchi dan Midorimachi kalau makan kebanyakan."
"Ryouta, kau kenapa ?"
"Seichi, bagaimana kalau kita selesaikan saja drama ini. Aku tahu kalau kau mencintaiku, tapi masih besar rasa cinta Seichi untuk Kurokochi bukan ?"
"…."
"Aku sebenarnya mau egois dengan terus berpura-pura tidak tahu tentang perasaan Seichi terhadap Kurokochi. Tapi aku juga tidak mau menyakiti diriku sendiri, Seichi dan Kurokochi. Aku lelah, sangat lelah dengan semuanya. Nyatanya sampai diakhirpun aku adalah orang yang lemah dan tidak mampu mempertahankan kebahagianku sendiri." Air mata Ryouta tumpah membasahi pipinya, isakan mulai keluar dari mulutnya. Wajah yang menampakkan dengan jelas rasa lelah, kecewa, sakit, dan juga lega. Akashi tidak sama sekali menjawab semua perkataan Ryouta, ia merengkuh tubuh Ryouta yang mulai gemetar karena tangisnya. Rasa bersalah tertanam jelas dihatinya karena tangis Ryouta begitu pilu dihatinya.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu ? aku mencintaimu, Ryouta. Kau tahu itu dan aku bersedia bertunangan denganmu bukan karena perjodohan tapi karena aku memang mencintaimu."
"Aku tahu. Aku tahu kalau Seichi mencintaiku, tapi hanya Kurokochi bukan yang sangat Seichi cintai ? aku, aku tidak mau terlalu jauh menutup mata dengan menyakitimu dan Kurokochi yang sama-sama mencintai. Aku, aku yakin dengan semua keputusanku."
"Lalu apa kau akan pergi meninggalkanku dengan Tetsuya setelah ini ?"
"Aku perlu waktu, Seichi. Perlu waktu untuk bisa ikhlas sepenuhnya meninggalkan Seichi. Setelah itu aku akan kembali dan tentunya kembali untuk berteman dengan Seichi dan Kurokochi."
Pelukan Akashi mengerat, air matanya turut keluar. Ryouta mengeratkan pelukannya pada tubuh orang yang dicintainya. Mencintai tidak harus memiliki itu bohong, karena semua pasti ingin memiliki. Tapi percuma memiliki tapi hanya bisa menyakiti orang lain yang begitu berharga untuk kita.
.
.
.
Akashi membagi fokusnya pada mobil yang dikendarainya dan juga ponsel ditangannya. Beberapa kali rutukan ia ucapkan karena jalan yang begitu macet. Beberapa kali juga ia melirik jam tangan. Ya tinggal satu jam lagi sebelum pesawat yang membawa Ryouta akan terbang menuju Amerika. Setelah memutuskan pertunangan mereka, Ryouta memutuskan untuk kembali ke Amerika. Kembalinya Ryouta ke Amerika sangat berbentrokan dengan jadwal rapat penting di Akashi Corp. sehingga Akashi harus bisa membagi waktunya untuk bisa menghadiri rapat dan mengantar Ryouta pergi.
Kuroko Tetsuya yang berada disamping Akashi, hanya tersenyum melihat kekasihnya itu nampak sangat panik. Sungguh bukan seorang Akashi sekali. Senyuman Kuroko pun tidak luput dari pandangan Akashi.
"Kenapa tersenyum, Tetsuya ?"
"Entahlah. Lucu saja melihat Sei-kun sangat panik seperti itu."
"Ahhhh… bagaimana tidak panik, si bodoh Ryouta itu mematikan ponselnya dan jalan ini macet. Mengesalkan."
"Sei-kun bisa menghubungi Midorima-kun. Kise-san pasti bersama Midorima-kun saat ini."
"Ide bagus, Tetsuya."
Flashback ( Kuroko PoV)
"Kise-san tetap sahabatku. Ne, Sei-kun bisa aku meminta sesuatu hal ?"
"Apa ?"
"Semua tergantung pada keputusan Kise-san. Aku akan menerima kembali Sei-kun, kalau Kise-san melepaskan Sei-kun. Tapi kalau Kise-san memutuskan untuk tetap bersama Sei-kun, maka Sei-kun harus menjaga Kise-san untukku. Setidaknya aku akan bahagia dengan begitu. Rasa sakit memang aka nada, tapi akan terbayar dengan semua kebahagian kita kelak." Setelah mengucapkan itu, aku melihat wajah terkejut Sei-kun. Aku tahu ini permintaan konyol, tapi untuk apa harus menyakiti Kise-san berkali-kali karena keegoisanku untuk bisa bersama Sei-kun. Nyatanya pun Sei-kun mencintai Kise-san saat ini.
"Aku akan ikuti permintaanmu, Tetsuya. Apa pun keputusan Ryouta nanti, itu yang akan menjadi penentu bagaimana kita pada akhirnya kan."
"Iya."
End Flashback
Mengingat permintaanya pada Akashi dulu membuat Tetsuya kembali tersenyum. Dengan permintaan itu sungguh ia sudah siap untuk melepas Akashi sepenuhnya. Tapi nyatanya Akashi datang padanya dan menyampaikan mengenai pembatalan pertunangannya dengan Ryouta. Terkejut. Tentu saja, Kuroko sangat tahu bagaimana Ryouta mencintai Akashi, tapi Ryouta yang melepas Akashi untuk bisa bersama dengannya. Menganggap Ryouta sebagai sahabat tentunya adalah pilihan terbaik. "Terima kasih, Kise-san." Gumam Kuroko pelan.
.
.
.
Sampai dibandara Akashi langsung berlari menerobos orang yang berlalu lalang untuk masuk ke dalam bandara, Kuroko bahkan sampai tertinggal dibelakang Akashi. Sekali lagi Kuroko tersenyum karena jarang-jarang mendapati ekspresi panik dari seorang Akashi, yang biasanya sangat stay cool dan tenang.
Akashi tersenyum saat mencari orang dicarinya kini berada didepannya. Bahkan Ryouta melambaikan tangannya kearahnya.
Pletak. Satu jitakan mendarat di kepala Ryouta. Yang dijitak hanya bisa mengaduh sembari memegangi kepalanya yang terkena jitakan.
"Jangan mematikan ponselmu, Ryouta."
"Batreainya habis, Seichi."
"Doumo." Sapa Kuroko.
"Wah Kurokochi juga datang ya untuk mengantarku."
"Tentu, kita kan sahabat, Kise-san."
Ryouta memeluk tubuh Kuroko. Masih ada rasa tidak rela untuk melepas Akashi untuk Kuroko. Tapi kalau bayaran melepas Akashi adalah senyum indah diwajah Akashi dan Kuroko, kenapa tidak. "Tentu saja kita sahabat, Kurokochi." Ucap Kise. Kuroko pu membalas pelukan Ryouta. Akashi dan Midorima hanya bisa tersenyum melihat kedua wanita itu saling berpelukan.
Keempatnya kini tengah duduk bersama disalah satu café didalam bandara. Akashi terus memperhatikan wajah Ryouta yang kini terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Senyumannya bukan lagi senyuman yang dipaksakan tapi senyuman tulus. Dalam hati Akashi terus merapalkan doa agar Ryouta akan mendapat orang yang lebih baik darinya.
"Jadi kapan kalian akan menikah, Seichi ?"
"Menikah ?"
"Iya menikah. Seichi menikah dengan Kurokochi."
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu,Ryouta ?"
"Tidak ada apa-apa. Kalau kalian menikah jangan lupa mengundangku yah dan harus mengantarkan sendiri undangannya ke Amerika ya. Aku menunggu."
"Lalu kapan Kise-san dan Midorima-kun akan menikah juga ?"
BYUR. Midorima menyemburkan minumannya setelah mendengar pertanyaan Kuroko. Wajah Kise bahkan memerah. Kuroko hanya tersenyum melihat Ryouta dan Midorima yang salah tingkah. Akashi pun bahkan ikut tersenyum.
"K-kami sahabat, Kurokochi." Jawab Kise dengan masih wajah yang memerah.
"Benarkah ? aku rasa Shintarou punya perasaan khusus pada mu, Ryouta."
"Jangan sok tahu, Akashi." Jawab Midorima dengan malu-malu.
"Aku mau langsung masuk pesawat aja ahhh."
"Lho kenapa terburu-buru, Ryouta ?"
"T-tidak ada apa-apa."
.
.
.
Pesawat Ryouta sudah lepas landas. Midorima, Akashi dan Kuroko masih berada dibandara, melihat pesawat yang dinaiki Ryouta terbang. Wajah Midorima terlihat murung, kecewa karena respon Ryouta.
"Bila kau menyukainya, kenapa tidak mengerjarnya, Shintarou ?"
"Iya, Midorima-kun kenapa tidak pergi menyusul Kise-san ? aku yakin sebenarnya Kise-san menyukai Midorima-kun. Midorima-kun hanya perlu meyakinkan Kise-san saja."
"Tidak akan mudah. Kise hanya menganggapku sebagai sahabatnya."
"Kau pesimis Shintarou. Tidak akan ada yang tahu hasilnya kalau belum mencobanya. Penerbangan berikutnya aku rasa masih bisa menampung satu orang untuk pergi ke Amerika."
"Tap-"
"Aku yang mengurus tiketnya. Kau duduk manislah dengan Tetsuya menunggu."
"Akashi."
"Aku tidak menerima penolakkan, Shintarou."
"Ya baiklah. Terima kasih, Akashi."
-T.B.C-
Huhah selesai juga. Chap depan akan menjadi chap terakhir.
Maaf karena update lama karena test dan ujian masuk univ, memusingkan. Jadi baru bisa bernafas sekarang untuk bisa mengupdate cerita ini.
Baiklah akhir kata, silakan berikan pendapat reader-san untuk cerita ini.
Kecepatan ? yak arena saya ingin cepat menyelesaikan fic ini.
Kalau masih ada typo, mohon maaf yaaaaaahhh…
Sankyu ^-^
