Single Parent (Chapter 2)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Story By. : Misa-Chan ©

Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)

Rated : T+

Chibi Naruto

(Fem) Dei

.

.

.

.

Summary

Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.

.

.

.

.

Senin pagi, adalah awal Deidara menjalani hari-harinya. Sebagai seorang ibu yang juga merangkap menjadi seorang ayah, dalam artian Deidara turut mencari nafkah, selain mengurusi kebutuhan buah hatinya. Seperti hari senin yang lalu, Naruto masih sering ngambek jika Deidara, hendak meninggalkan dirinya. Sebenarnya Deidara juga tidak tega meninggalkan buah hatinya. Tapi mau apalagi? Deidara harus melakukan untuk mencukupi kebutuhan mereka.

"Mama janji akan membawakan Naru-chan mainan deh, un" Bujuk Deidara. Naruto menghentikan tangisnya, dan menatap dalam sang ibu. "Mama boong" Kata Naruto. "Mama janji, un!" Deidara berusaha mencoba meyakinkan buah hatinya. Tak berapa lama kemudian, Naruto sudah menghentikan tangisannya.

"Yaudah deh, Nalu dicini caja" Naruto akhirnya menuruti permintaan Deidara. "Pintar! Mama berangkat dulu, un" pamit Deidara. "Hati-hati, Dei-san" Seru Ayame. "Titip Naru-chan ya, Un" Deidara melambaikan tangannya pada kedua orang itu (Naruto dan Ayame).

.

.

.

.

"Kakashi, aku sangat suka teman-teman mu memutuskan untuk menyewa kamar di apartemen milik ku. Ah, kau memang hebat ya" Puji seorang pria dewasa dengan brewok di wajahnya. Ia adalah Sarutobi Asuma. Wajahnya yang baru berusia 25 tahun itu terlihat lebih tua, karena ia sangat suka wajahnya di tumbuhi brewok-brewok tebal. Ia adalah pemilik apartemen dimana Kakashi tinggal.

'Seandainya kau tahu alasan mereka, asuma' Batin Kakashi. Kakashi sendiri sweatdropped mendengar ucapan Asuma, mengenai teman-temannya. Tunggal Hatake ini, hanya berpikir apa yang akan terjadi jika Asuma mengetahui alasan teman-temannya yang menyewa kamar di apartemen Asuma. "Sama-sama" Sahut Kakashi, menahan tawanya.

"Jadi, sekarang mereka akan kemari?" Tanya Asuma.

"Ya, begitulah" jawab Kakashi, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kau tahu Deidara?" Asuma bertanya sekali lagi.

Kakashi hampir saja memuncratkan air teh yang ada di dalam mulutnya. Bagaimana tidak? Asuma tiba-tiba saja membicarakan si sexy Deidara saat istri dari Asuma meninggalkan mereka (pergi ke pasar). Kakashi tersedak air minumnya sendiri, dalam hati ia merutuki Asuma yang sudah seenaknya saja membicarakan calon is- tidak calon kekasihnya itu.

"Ya" Jawab Kakashi begitu singkat.

"Bagaimana menurut mu?" Tanya Asuma.

"Cantik, sexy dan juga ramah" Jawab Kakashi.

"Ia dia sangat sexy" gumam Asuma dengan air liurnya yang menetes.

'Menjijikan' batin Kakashi.

"Asuma kau tak sadar jika kau sudah memiliki Kurenai?" Kakashi mengingatkan teman lamanya itu.

Cepat-cepat, Asuma segera mengelap air liur yang menetes dari bibirnya itu. Takut, jika nantinya istrinya, Kurenai akan menyuruhnya tidur di luar. Asuma masih sangat ingat, ketika pertama kali ia menyapa Deidara, dan Deidara balas menyapa dirinya. Tak terasa air liurnya menetes, dan membuat sang istri yang tengah berdiri di sampingnya itu murka, dan menendang bokongnya. Saat itu, Asuma sampai tidak bisa duduk selama 1 minggu lamanya. Dan, terimakasih kepada istri tercintanya yang dengan suka rela nya menghadiahkan itu padanya.

.

.

.

.

Deidara hampir saja terjungkal (saking kagetnya) saat melihat seorang pria dengan raut wajah aneh tengah berdiri tegap di depan pintu masuk. Aneh? Ya, aneh! Bagaimana tidak? Wajahnya yang berwarna biru, serta senyuman yang menghiasi wajah birunya itu membuat wajah Deidara memerah. Bukan memerah karena Blushing. Melainkan, Deidara menahan mual melihat senyuman bak malaikat maut dihadapannya kini.

"Selamat d..datang, un" sapa Deidara ramah.

Yang disapa pun, tampak blushing dibuatnya. Blushingnya pun cukup berbeda dari kebanyakan orang-orang yang pernah Deidara temui sebelumnya. Jika orang-orang yang tengah blushing, wajahnya berwarna merah. Akan tetapi, berbeda dengan pria biru ini. Wajahnya yang biru, dicampur rona merah (akibat blushing) menghasilkan warna ungu yang begitu kontras diwajahnya. Ingat, Biru+merah = Ungu!

"Silahkan duduk, un" Deidara mempersilahkan pria itu duduk. Tanpa, malu-malu pria itu segera duduk dibangku yang Deidara sering pakai untuk menangani pasiennya. "Akhir-akhir ini gigi ku sering sakit" jelas pria itu. "Akan aku periksa. Tolong buka mu- astaga!" Pekik Deidara yang baru saja melupakan 'Un' nya ketika melihat gigi-gigi runcing milik pria biru ini.

"Bawgaimana? (Bagaimana" tanya Pria itu yang tengah membuka mulutnya lebar-lebar.

Kriinncinng..

Deidara menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati seorang pemuda bersurai merah maroon berdiri tepat di depan pintu masuk. Si pirang cantik ini tersenyum ke arah pemuda ber-iris hazel itu. Senyumannya membuat pemuda tersebut blushing dibuatnya.

Hoh, tak lupa jika pemuda tersebut harus mendongakan kepalanya ke atas berusaha menahan darah yang hampir menetes melihat dokter cantik itu. "Adik kecil cari siapa, un?"

Ngekkk..

Persimpangan kecil muncul di keningnya. Entah darimana ia menemukan ranting pohon, pemuda itu mulai menggigit-gigiti ranting pohon tersebut. Miris! Sungguh miris sekali, pemuda oh tidak lebih tepatnya pria dewasa berusia 24 tahun itu harus menahan kemirisan hatinya saat Deidara menyangka nya jika ia adalah seorang anak kecil.

"Maaf usia ku sudah 24 tahun" Sasori menjelaskan tentang umurnya pada Deidara.

"Masa sih, un?" Deidara memperhatikan Sasori yang lebih tinggi 8 cm darinya itu.

"Lho, Sasori"

"Kisame!"

Deidara sontak saja terkejut mendengar bahwa kedua tamunya itu saling mengenal. "Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Sasori.

"Aku tadi sakit gigi, jadi aku kesini deh" jawab Kisame, mengedipkan sebelah matanya ke arah Deidara. Deidara sendiri pun, merinding melihat Kisame yang mengedipkan matanya ke arah dirinya. 'Menakutkan' batin Deidara.

.

.

.

.

Kini, Kakashi lagi-lagi harus mendengus kesal melihat ke-4 teman-temannya asyik bermain-main di kamar apartemen miliknya. Kemarin hanya Sasori dan Itachi saja yang berkunjung kemari, dan berniat akan menyewa kamar di sini. Akan tetapi, sekarang 2 teman lainnya pun ikut-ikutan, akan tinggal di sini. Yahiko dan Kisame terpana, saat dimana Itachi menunjukan foto Deidara kepadanya.

'Bertambah sudah saingan ku' batin Kakashi.

Miriskah? Ya, tentu saja. Menyesal, Kakashi sangat menyesal telah memberitahukan tentang Deidara kepada teman-temannya.

"Dia cantik sekali" gumam Yahiko. Ke-4 teman-temannya pun segera melempar pandang ke arah jendela, dimana Deidara terlihat tengah mengeringkan rambut pirangnya dengan hair dryer. Mereka (minus Kisame) semua benar-benar sudah Nosebleed sekarang. "Sepertinya makhluk-makhluk tampan seperti kalian benar-benar memiliki anatomi tubuh yang berbeda ya dengan ku" Kata Kisame. Tapi, ke-3 nya cuek bebek tidak menanggapi teman mereka.

.

.

.

.

"Mama, Nalu main belcama Gaa-"

"Tidak boleh, un!" Sela Deidara. Mata bulat Naruto berair saat mendengar ucapan sang ibu. Ia ingin bermain bersama teman-temannya, akan tetapi ibunya melarang dirinya untuk pergi bermain. Deidara menatap kedua iris sapphire yang sebentar lagi akan meneteskan air matanya. Tak tega rasanya, tapi Deidara terlalu takut jika nantinya anaknya menjadi korban 'gigit' ibu-ibu lantai 2 yang memang sering berkumpul untuk bersilaturahmi (alias bergosip).

"Kenapa?,hiks" Isakan kecil mulai terdengar dari bibir mungil Naruto.

Deidara pun segera membawa si kecil,Naru ke dalam pelukannya. Deidara memang tidak bisa melihat buah hatinya menangis. Wajah Naruto terlalu manis jika ia menangis, itulah sebabnya ibu-ibu lantai 2 itu sering 'menggigit' Naruto, demi mendapatkan tangisan malaikat putra semata wayang Deidara dan Minato, suaminya.

"Mama rindu Naru, un" kata Deidara-Berbohong supaya Naruto tidak pergi bermain.

"Mama lindu Nalu? Yacudah, Nalu di luma caja" Ujar Naruto, saat mengetahui alasan mengapa Deidara melarang dirinya bermain.

Naruto mengecup kening ibunya yang memang sedang menyamakan tinggi nya dengan Naruto. "Muuuahh, Nalu cayang mama" Ucap Naruto. Ciuman basah tepat di kening Deidara hadiah dari buah hatinya. Deidara tertawa geli mendapatkan kecupan tersebut.

"Mama juga, un" Balas Deidara.

.

.

.

.

* Mansion Namikaze *

Kita beralih ke sebuah kamar milik seorang pria tampan yang terlihat begitu sepi. Kamar itu adalah milik sang pewaris tunggal Namikaze. Sang putra bangsawan yang memiliki paras tampan. Hingga tak satupun wanita-wanita, bahkan gadis-gadis muda menolak pesonanya. Namun hanya satu yang kurang darinya, Ia kurang setia pada seorang wanita yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Tak pernah sekalipun, Minato melirik sang istri yang telah memberikan seorang anak padanya.

Ia gemar bergonta-ganti pacar, hingga suatu hari kesabaran wanita itu habis. Deidara pun akhirnya menggugat cerai dirinya. Awalnya, hidup tanpa Deidara memang menyenangkan, namun setelah ia sadari mansion Namikaze yang luas nan megah itu tampak sepi tanpa Deidara dan putra semata wayang mereka, yang saat itu baru berusia 2 tahun setengah.

Asal tahu saja, meskipun begitu Deidara tidak pernah membiarkan Naruto kecil melupakan ayah kandungnya. Deidara yakin, ia sama egoisnya jika ia memisahkan Minato dari putranya. Tapi dengan begitu, ternyata Minato malah menyelewengkan kepercayaan Deidara. Minato tertangkap basah oleh Deidara tengah mengajak Naruto menemui kekasihnya. Dan saat itu lah, Deidara memutuskan untuk pergi dan menjauh dari mantan suaminya.

"Dei" gumam Minato.

Diraihnya sebuah bingkai foto yang terpajang indah di atas meja disamping tempat tidur. Foto dirinya dan sang istri saat putra mereka baru berusia 5 bulan. Deidara yang tengah tersenyum sambil menggendong Naruto yang saat itu genap berusia 5 bulan. Tubuhnya yang gemuk, membuat siapa saja yang melihatnya enggan untuk tidak mencubit pipi gembil Naruto.

Minato memeluk erat bingkai foto tersebut. Ia menyesal pernah menyakiti hati Deidara. Ia mengaku, jika ia cukup brengsek sehingga membuat wanita yang cukup kuat seperti Deidara, pergi meninggalkan dirinya. Sekarang lihat! Apa yang tersisa? Kasur yang sama terasa begitu luas saat Deidara tidak berada bersamanya. Sapaan-sapaan yang selalu Deidara ucapkan seperti 'Selamat pagi', 'selamat datang', 'selamat malam', sudah tidak terdengar lagi.

"Aku merindukan mu juga putra kita" Gumam Minato. Sekali lagi hanya angin yang menyahuti perkataannya. Karena memang hanya ada dia di dalam kamar luas yang dulu pernah ia tempati bersama istrinya. Minato sadar, jika selama ini hanya Deidara lah yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupnya.

.

.

.

.

Beda Minato, beda juga dengan Kakashi. Bujang 24 tahun ini, memikirkan cara jitu untuk mendapatkan hati Deidara. Sudah saatnya ia memerangi kawan-kawannya itu. Bagaimana tidak? Kawan-kawannya yang sempat menghina dirinya karena tertarik dengan janda pun, kini tak jauh berbeda dengan dirinya.

Persetan dengan teman-temannya, mereka memang tidak konsisten dengan kata-kata mereka. Menghina sesuatu yang belum mereka temui memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat jaman sekarang. Mau dibilang apa sih? Gaul? Cih, cuma bisa jadi makhluk karbitan saja bangga.

Memang tanpa sengaja teman-temannya sudah mengibarkan bendera perang untuknya. Kakashi sendiri juga siap akan hal itu, mana peduli dia. Mau teman, mau saudara, mau pacar sekalipun, kalau sudah menyangkut 'janda' bahenol macam Deidara, ya sudah jadi lawan baginya.

* kamar Sasori *

Tak jauh beda sih dari Kakashi, cowok berusia 24 tahun yang masih terlihat imut macem marmut ini juga memikirkan hal yang sama dengan Kakashi. Memperebutkan Deidara, janda bahenol anak satu yang jadi Janda kembang di apartemen yang ia tempati.

Bukan cuma dia saja.

Tapi ternyata banyak yang terpikat dengan kecantikan dan kesemokan Deidara. Wow! Bahkan, ada anak SMP yang sering mengunjungi tempat praktek milik Deidara. Dan setelah diketahui, ternyata siswa bau kencur itu rela mencabut giginya satu persatu hanya untuk menemui idolanya. Deidara memang cantik sih, mungkin bisa dikatakan jika Deidara itu 11/12 sama Angelina Jolie. Hoh, mungkinkah? Kan cuma mungkin, mungkin saja tidak, mungkin saja iya.

Akhirnya pun ide Sasori dapatkan. Tak sabar ia menunggu hari esok, hari dimana peperangan akan berlangsung.

* Kamar Itachi *

Itachi memperhatikan foto Deidara, ya meskipun mereka tidak saling kenal tapi mereka akan saling mengenal di pelaminan nanti (chi, ngarep?). "Wahai bidadari ku" Itachi mulai mendramatiskan suasana. Lupakan fakta jika Uchiha itu memiliki sikap yang diam dan jaim. Tapi lihatlah Itachi! Apakah dia jaim? Orang yang mempunyai cita-cita menjadi seorang aktor 'gak' kesampaian seperti Itachi, apa bisa disebut Jaim? Konyol!

"Aku akan mendekati si janda cakep itu!"

"Harus!"

"Sasuke-kun, sebentar lagi kau akan punya mama baru"

Itachi menyeringai iblis saat mengatakan hal itu. Optimis sekali dia, ya tapi aku benar-benar suka sikapnya yang pantang mundur! Uchiha putus asa? Apa kata Dunia?

* Kamar Yahiko *

Pria tampan berusia 25 tahun ini benar-benar telah tergila-gila oleh kecantikan Deidara. Bagaimana tidak? Sejak 2 jam yang lalu, Yahiko mengedit foto-foto Deidara yang ia ambil secara diam-diam, dan ia buat seolah-olah Deidara adalah bintang porno yang selalu menjadi bintang panas di dalam mimpinya. Woh, tampan-tampan kok bokep si mas? Jowkow wow sekali!

* Kamar Kisame *

Mungkin hanya dia lah makhluk (jelek) yang tahu diri dengan rupanya. Lihat saja sekarang! Disaat teman-temannya tengah memikirkan cara untuk mendapatkan Deidara, Kisame malah asyik 'mengobok-obok' akuarium miliknya yang berisi ikan mas koki (?) Pemberian mantan kekasihnya, Ariel. Cewe sexy yang menjadi pemain di sebuah film berjudul The Little Mermaid, dan diherankan kenapa si Ariel mau-maunya pacaran sama si Kisame? Mungkin Hanya tuhanlah yang tahu.

"Aku cukup tahu diri untuk itu" Kata Kisame kepada si Ikan.

Si ikan yang diangkat ke udara oleh Kisame hanya megap-megap kekurangan oksigen. Mungkin jika si ikan bisa ngomong, sudah pasti si ikan bakalan mengeluarkan sumpah serapah miliknya seperti 'Kisame idiot! Lepaskan aku dasar hiu buluk!' Begitulah rupanya.

"Kalau aku bersama Dei-chan, sudah pasti kami akan terlihat seperti pasangan di dalam film Beauty and the Beast" Kisame dengan pedenya berkata seperti itu.

Kisame menjadi beast? Apa? Wow!

Jika, si pangeran Beast dicium sama si Belle bakalan jadi pangeran tampan. Apakah Kisame akan mengikuti jejak sang pangeran? Apakah Kisame akan memiliki wajah yang topless seperti itu? Atau jangan-jangan Kisame akan berubah berwajah Toples dari yang sekarang? Entahlah, hanya tuhan yang tahu.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari dimana Naruto untuk pertama kalinya pergi ke sekolah. Deidara berpikir jika Naruto hanya menghabiskan waktunya dengan bermain saat sang ibu tengah bekerja, lebih baik Deidara mendaftarkan putra masuk Taman bermain. Usia Naruto yang baru berusia 4 tahun, memang belum cukup. Tapi, mendaftarkan Naruto ke Playgroup terlebih dahulu tak jadi masalah untuk sang ibu.

"Cenin, celaca, labu, kamisc, jumat, cabtu, minggu itu nama-nama hali. Capa lajin ke cekolah cali ilmu campai dapat" Naruto menyanyikan lagu nama-nama hari yang sering author nyanyikan saat author di Taman kanak-kanak dulu.

"Naru-chan sudah siap, un?" Tanya sang ibu.

Naruto pun berlari pelan menuju ibunya yang tengah menyiapkan bekal makan siang untuknya. "Nalu ndak bica buka bento mama" Kata Naruto. "Nanti minta tolong saja pada sensei disana, un" Timpal Deidara. "Mama, kata Paman Iluka. Bibi Ayame itu cedang punya adik bayi di pelutnya ma. Kenapa begitu?" Tanya Naruto, polos.

Deidara bingung hendak menjelaskan apa pada buah hatinya. Jujur, pertanyaan sederhana Naruto memang selalu berhasil membuat Deidara pusing 7 keliling. Kepolosan buah hatinya, memang sering menjadi bumerang untuk dirinya.

"I..itu-"

"Yacudah nanti Nalu tanya cama cencei caja" Potong Naruto.

"Ya, hahahahahah" Deidara tertawa canggung mendengar ucapan yang keluar dari bibir Naruto.

"Naru-chan gak boleh jajan sembarang! Makanlah bento yang sudah mama siapkan, un" Seru Deidara.

"Ciap, ma!" Sahut Naruto.

Melihat Deidara yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya bersama Naruto, Itachi tersenyum senang. Inilah saatnya, ia memperkenalkan dirinya pada sang pujaan hati.

"Permisi, apa anda tahu dimana tempat praktek dokter gigi yang tak jauh dari sini?" Tanya Itachi, berpura-pura tidak tahu tentang biografi Deidara, yang memang pada dasarnya adalah seorang dokter gigi. "Tentu saja. Tapi prakteknya hari ini tutup, un" jawab Deidara, tak lupa mengulas senyum. Coba lihat Itachi! Ayah satu anak ini tampak menahan sesuatu yang hendak keluar dari hidungnya. Inguskah? Hoh, tentu saja bukan. Mana ada ingus berwarna nyentrik seperti itu.

"Kenapa anda bisa tahu?" Tanya Itachi, menaikan satu alisnya. 'Sok' keren sekali kamu! Untungnya ya, untungnya, si Itachi ini parasnya tampan.( Author gak bisa bayangin, kalau Itachi ini punya muka yang 11/12 sama tukang bakso di pinggir jalan. Apa jadinya?-_-)

"Oh, perkenalkan saya Yamanaka Deidara. Saya dokter gigi yang membuka praktek disana, un" Deidara memperkenalkan dirinya.

Itachi pun menyambut tangan Deidara. Itachi tak mungkin menolaknya kan? 'Ukh, lembut sekali' batin Itachi. "A..aku Uchiha Itachi" Itachi juga memperkenalkan dirinya. "Tapi jika anda benar-benar membutuhkan saya, anda bisa datang nanti jam 2 siang"

'Aku memang membutuhkan mu, Dei' batin Itachi (lagi?)

"Anda perlu apa? Tambal?"

'Ya, aku butuh diri mu untuk menambal lubang di hati ku'

"Atau cabut gigi?"

'Tidak semuanya, aku hanya perlu kamu'

"Mama, Ayo nanti Nalu telambat" Ocehan Naruto pun berhasil menyadarkan Itachi dari khayalannya yang tidak-tidak. Ingin rasanya ia men-deathglare si kecil Naru. Tapi melihat Naruto adalah putra dari incarannya itu, dibatalkanlah niatnya tersebut. "Oh iya. Kami permisi dulu, un" Pamit Deidara.

Itachi memandangi punggung Deidara dan Naruto, dirasa keduanya sudah tak terlihat lagi. Itachi pun menunjukan kepribadian narsisnya di depan umum. "Yahoo...Gotcha, My blondie!" Sorak Itachi, tanpa sadar dirinya tengah di pandangi oleh seorang balita bersurai brunette yang hendak pergi ke sekolah bersama kakaknya. "Kakek-kakek itu kenapa, Nee-chan?" Tanya balita tersebut.

Ngekk..

Persimpangan kecil muncul di dahi Itachi. 'Kakek' ya 'kakek', Usianya masih cukup dibilang muda untuk disebut kakek. "Enak saja, ganteng-ganteng gini dibilang kakek" Kata Itachi kelewat Narsis. Balita bernama Kiba itu merinding mendengarnya.

.

.

.

.

"Mama, paman tadi itu menyelamkan ya" celoteh Naruto. Deidara yang tengah menggandeng pergelangan tangan mungil buah hatinya, sweatdropped mendengar ocehan si kecil Naru. Iya sih, Itachi itu tampan. Tapi sikapnya itu benar-benar aneh, dan bisa dikatakan menakutkan. "Heh, Naru-chan gak boleh gitu, Un" dusta Deidara. Padahal sih, hatinya juga mengatakan kalau Itachi itu menakutkan. Ya, mau bagaimana lagi? Deidara seorang ibu, ia tidak mau mengajarkan yang 'tidak-tidak' pada putra semata wayangnya.

.

.

« Misa Anaru »

Di sebuah kedai ramen, terlihat 5 pria tampan, errr-maksud ku hanya ada 4 (satu diantaranya mungkin tidak dihitung) tengah asyik menikmati hidangan ramen yang sangat terkenal di desa ini. Rasanya yang begitu nikmat, dan juga menggugah selera membuat para pengunjung tampak penasaran dengan cita rasa masakan khas jepang itu. Kedai Ichiraku namanya.

"Aku tidak menyangka jika pagi ini aku bisa bertemu dengannya" Itachi memulai pembicaraan.

"Siapa yang tanya?" Tanya Yahiko, Sasori, dan Kakashi yang tampak jealous mendengarnya.

"Benarkah? Apa dia masih terlihat cantik?" Kini Kisame lah yang bertanya.

"Tentu saja" jawab Itachi.

Yahiko dan Sasori menahan rasa cemburunya mendengar Ocehan Itachi mengenai Deidara. Sedangkan Kakashi dan Kisame tampak menikmati hidangan ramen disana. Masa bodo amat, Itachi terus bicara. Memangnya mereka peduli? Itachi mau bicara sampai mulut berbusa pun juga mereka tidak peduli. Kan mereka rival sekarang.

"Kakek Teuchi, Nalu pecan lamennya ya" Suara bocah kecil pun berhasil menghentikan ocehan Itachi. Mendengar suara yang amat familiar itu mereka segera menoleh ke arah balita bersurai blonde yang tengah menaiki bangku pelanggan di sebelah kiri mereka. 'Anak ku' Batin mereka bersamaan.

"Naru-chan jangan naik-naik, un!" Dan kini hati mereka berbunga-bunga saat melihat sosok Deidara yang menyembul dari tirai yang menutupi kedai tersebut. Nosebleed berjamaah. 'Uugh, manisnya' batin mereka bersamaan.

"Eh, Naru-chan. Kakek punya menu ramen terbaru untuk mu" Kata pria gendut, bernama Teuchi. Teuchi sendiri juga sudah menganggap Deidara adalah anaknya, dan Naruto adalah cucunya. "Nee, Dei-chan ayo masuk!" Seru Teuchi, sang pemilik kedai.

"Eh, ada Kakashi-san dan Itachi-san juga ya, un" Deidara sedikit terkejut melihat tetangga-tetangga nya yang juga berada di warung ramen milik Teuchi. Sedangkan Sasori, Yahiko, dan Kisame yang namanya tidak terdaftar dalam sapaan Deidara pun, terlihat pundung dipojokan.

"Nee, Dei-san kenalkan Itu Sasori, Yahiko, dan Kisame. Teman-teman ku" Kakashi memperkenalkan ke-3 nya pada Deidara.

"Hey, senang bertemu kalian" Ujar Deidara.

"Senang juga bertemu dengan mu, Dei-san" Sahut Sasori, Yahiko, dan Kisame bersamaan.

.

.

.

.

"Mama" Naruto terlihat tengah bersusah payah menaiki kasur ukuran queen size dimana ia dan sang ibu tempati saat tertidur. Mata bulatnya menatap sang ibu yang sedang berkutat dengan tab miliknya. "Apa sayang, un?" Tanya Sang Ibu. "Nalu cudah gocok gigi" Kata Naruto.

Sang ibu pun meletakan tab di atas meja disamping tempat tidur. Iris azure nya memperhatikan putra semata wayangnya yang dibalut baju piyama terusan berwarna putih. Balita imut itu segera merebahkan tubuh kecilnya di samping sang ibu. "Mama, paman-paman tadi itu cangat celam ya"

Deidara terkekeh pelan mendengar perkataan polos Naruto. Sudah kesekian kalinya Naruto mengatakan jika ke-5 pria yang menjadi tetangga barunya itu sangat menyeramkan. Lantas apanya yang menyeramkan, Naru-chan?

"Maca tadi Nalu liat hidung meleka beladalah" Oceh Naruto.

"Begita ya? Yasudah Naru bobo ya? Sudah malam, un" Deidara mengecup singkat kening buah hatinya.

.

.

.

.

* Kantor Namikaze *

Sekitar pukul 7 pagi, Minato sudah berada di ruangan kerjanya. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang ia harus lakukan. Ia cuma terlalu bosan berada di mansion miliknya yang terlihat begitu sepi. Ingin rasanya ia meminta supaya istri dan putra semata wayang mereka kembali ke mansion.

Tokk..Tokk..Tokk..

"Masuk"

Pintu ruangan berwarna abu-abu itu pun terbuka dan menyembulkan sosok sang asisten. "Ada apa, Genma-san?" Tanya Minato.

"Tuan besar sudah kembali dari Austria, Tuan muda" Jawab sang asisten, Genma.

"Suruh ia masuk!" Seru Minato.

Genma pun membungkukan badannya, dan segera berlalu dari pandangan tuan muda nya itu.

Misa Anaru

"Apa yang ingin Tou-san bicarakan pada ku?" Tanya Minato kepada seorang pria paruh baya berbadan tegap dengan rambut putih miliknya. Pria paruh baya yang masih terlihat tegap itu menggelengkan kepalanya pelan, menghadapi sikap putranya yang keras kepala itu.

"Aku sudah mendengar semuanya" Tukas Jiraya.

Mata Minato mendelik mendengar perkataan ayahnya. "Lalu bagaimana menurut Tou-san?" Minato bertanya lagi.

"Tentu saja, aku mau kau dan istri mu rujuk kembali" Jawab sang ayah.

"Bagaimana bisa?"

"Kejar dia, dapatkan dia, dan miliki dia!" Kata Jiraya-Beranjak dari duduknya dan segera berlalu dari ruangan putra semata wayangnya itu.

Minato tampak uring-uringan saat ini. Ia sendiri juga mau memiliki istrinya lagi, tapi ya mau bagaimana lagi? Deidara sudah terlanjur sakit hati padanya. "Brengsek!" Minato menjatuhkan. Berkas-berkas di meja kerjanya.

.

.

.

.

"Hoaamm"

"Oi, Kisame! Kalau nguap itu di tutup!" Umpat Yahiko. Melihat Kisame yang menguap layaknya kuda nil, mungkin Yahiko jadi Ilfil sendiri. "Kalau ngantuk tidur sana!" Usul Sasori. Sasori terus memperhatikan permainan Catur Yahiko Vs Kakashi. Mungkin melihat Kisame yang menguap ngantuk membuat Yahiko tidak bisa konsentrasi bermain.

"Krauukk..Kisame kebiasaan..krauukk" Kata Itachi yang tengah mengunyah camilan di mulutnya.

Meskipun jam sudah menunjukan pukul 00.00 malam, tetapi tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk segera tidur. Mereka malah asyik bermain catur di apartemen Sasori. Istri saja tidak punya, siapa yang mau menasehati mereka untuk segera tidur? (Kayaknya enggak ada deh)

"Eh, menurut mu bagaimana dengan mantan suaminya Dei-chan?" Tanya Kakashi.

"Dia tampan" Jawab Sasori.

"Playboy" tambah Itachi

"Ya, mungkin dua-duanya" Yahiko menimpali.

"Tapi sekarang si Minato sudah tidak pernah kelihatan jalan dengan wanita lain" Kata Kisame.

"Iya juga sih" Gumam Kakashi, seraya menyeruput secangkir kopi miliknya.

"Sh*t, siapa yang meminum kopi ku?" Tanya Kakashi, kesal. Bagaimana tidak? Kopi yang ia buat sudah habis tinggal ampasnya saja. Menyebalkan!

Kisame tertawa Innocent melihat tampang kesal Kakashi. "Kopi yang enak lho" Puji Kisame. "Kisame kurang ajar!" Umpat Kakashi.

.

.

.

.

Tingg..Tongg..

Mendengar suara bel yang berbunyi, Deidara pun segera menghentikan kegiatan masak paginya sejenak. Wanita bersurai blonde itu segera bergegas menuju pintu depan. Setibanya disana, mata Deidara terbelalak lebar saat mendapati sosok mantan suaminya di depan pintu yang sudah terbuka. "Mama, papa cudah datang" Seru Naruto. Ya, Naruto lah yang membukakan pintu nya. Dan Naruto juga yang pertama kali melihat tamu nya.

"Naru, cepat masuk ke kamar!" Seru Deidara.

"Tapi ma-"

"Tidak ada tapi-tapi'an" sela Deidara.

Buah hatinya pun segera berlari memasuki kamar, dan meninggalkan kedua orang tuanya di ruang depan. "Mau apa kamu, un?" Tanya Deidara. Alih-alih menjawab pertanyaan mantan istrinya, Minato malah menutup pintu apartemen milik Deidara.

Blamm..

"H..hey" pekik Deidara.

Minato menghempaskan tubuh Deidara, hingga wanita berparas cantik itu harus terjatuh ke atas sofa dengan mantan suaminya di atas tubuh indahnya. "K..kau mau apa, un?" Tanya Deidara-seraya mendorong dada bidang suaminya. Namun apa daya, kekuatan Deidara terlalu lemah untuk menjauhkan mantan suaminya yang tengah menindih dirinya.

"Kenapa kau menolak ku?" Minato bertanya dengan nada datar.

"Apa yang harus ku terima dari mu? Kau pergi dengan wanita lain, haruskah aku menerimanya? Haruskah Minato, un?"

"Maafkan aku" Lirih Minato.

"Apa arti maaf bagi mu, Minato?" Tanya Deidara.

"Maaf"

"Pergilah, un!"

"Tapi-"

"Jika kau tidak ingin mendengar berita kematian mantan istri mu dan putra semata wayang mu lebih cepat dari yang kau duga, un" Sela Deidara.

Minato pun segera beranjak dan meninggalkan apartemen Deidara. Sedangkan Deidara tampak syok dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu. Kenapa Minato baru datang saat ia telah pergi? Kenapa? Hatinya sakit, ia terlalu lama memendam semuanya.

"Mama" Naruto memegang wajah sang ibu. Balita blonde ini tahu apa yang saat ini dirasakan sang ibu. Ibunya menangis saat ayahnya datang, pastilah ia tahu jika ibunya tidak ingin bertemu sang ayah. "Nalu ndak akan mau beltemu papa lagi kalau itu bica membuat mama nangisc" Kata Naruto. Deidara membawa tubuh mungil Naruto ke dalam pelukannya. 'Maafkan mama, sayang. Karena keegoisan mama kamu harus berpisah dengan papa mu' batin Deidara. Biarlah saat ini Deidara egois, Deidara hanya belum siap bertemu mantan suaminya dan kembali tersakiti seperti dulu.

.

.

.

.

Kakashi yang baru saja pulang dari apartemen Sasori, tak sengaja berpas-pas'an dengan seseorang yang sangat ia kenali. Sosok pria bersurai blonde, bertubuh tinggi dan memiliki paras tampan. Mereka saling melempar pandang. Tak ada raut tegang diantara mereka. Kakashi sendiri pun tidak mempedulikan sosok pewaris tunggal Namikaze yang berlawanan arah dengannya. Kakashi pun segera mempercepat langkahnya menuju apartemen miliknya.

.

.

Blamm..

Kakashi segera menutup rapat pintu apartemennya. Ia sendiri pun juga masih memikirkan pertemuan dirinya dengan Minato. Iris sapphire Minato benar-benar sangat mirip dengan milik Naruto. Wajahnya pun juga begitu mirip, Kakashi tidak heran kenapa Naruto memiliki paras yang imut seperti itu. Coba saja lihat kedua orang tuanya! Ayahnya yang tampan, juga ibunya yang cantik. Benar-benar menghasilkan keturunan yang terbilang sempurna.

"Sepertinya aku memang harus bergerak cepat" Gumam Kakashi, entah pada siapa.

Kakashi bisa memastikan, pasti besok Deidara akan dibuat bingung oleh sikap nya dan juga teman-temannya yang berebut perhatian wanita bertampang buleWannaBe itu. Meskipun, Deidara sering menghadapi Fansboy-fansboy nya. Tapi bisa dipastikan, Ke-5 pria ini pastilah sangat sulit dihadapi. Hehehehe, Kita lihat saja besok.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yosh, Hehehe bagaimana Minna? Jelek ya? Huum maaf:( . Oh, iya sedikit bocoran ya, Untuk chapter besok itu menceritakan tentang Usaha nya Kakashi untuk mencuri perhatiannya Dei-chan, hehehehe. Semoga kalian suka.. Maaf nya, Jika FF yang Misa buat kurang berkenan di hati para readers. Ok, See You Next Chapter:D

.

.

.

Mind To Review?