Single Parent (Chapter 3)
Disclaimer
Naruto©Masashi Kishimoto
Story By. : Misa-Chan ©
Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)
Rated : T+
Chibi Naruto
(Fem) Dei
.
.
.
.
Summary
Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.
.
.
.
.
"Naru-chan, dengarkan mama sekali lagi. Kalau nanti ada yang mengajak mu berbicara jangan ditanggapi ya, un" Deidara terlihat memberikan wejangan untuk putra semata wayangnya. Mengingatkan buah hati nya untuk mencegah terjadinya penculikan pada sang buah. Deidara tidak mau kalau buah hatinya menjadi korban penculikan yang marak terjadi. Berlebihan? Tidak, dia seorang ibu! Ibu mana yang mau melihat buah hatinya menjadi korban penculikan, dimasukan ke dalam karung, lalu menjadi korban sandera, lalu dipotong-potong, dibuang ke laut lalu dijadikan santapan ikan hiu. Big No! Deidara tidak bisa membayangkan, buah hatinya yang manis dimakan ikan hiu.
"S..selamat pagi, Dei-chan" sapa seorang wanita bersurai indigo. Deidara segera menoleh ke belakang, dan menemukan sosok tetangganya yang ia tahu adalah seorang guru les privat.
"Eh, Hinata-chan. Hendak pergi kemana, un?" Tanya Deidara.
"H..hendak pergi ke rumah Temari-chan" Jawab wanita bermarga Hyuuga itu.
Kau tahu? Hyuuga Hinata itu juga seorang janda yang tinggal bersama anak tunggalnya dan seorang adik perempuan yang baru bersekolah di sekolah menengah atas ternama di Konoha, Hanabi namanya.
Dia adalah wanita yang sangat baik dan menjadi sahabat dari sang Yamanaka ini. Dikarenakan sikapnya yang ramah, Deidara mudah beradaptasi dan memiliki banyak teman, seperti Haruno Sakura seorang guru Sekolah Dasar yang juga seorang janda anak 1, Temari kakak tiri Sakura dan Karin seorang janda yang hidup bersama kedua anak kembarnya, Kyuubi dan Nagato.
"Hey, Bibi Dei" sapa seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun yang menyembul dari balik badan sang wanita Hyuuga.
Sebut saja, Hyuuga Neji. Dia adalah anak dari sang wanita Hyuuga itu. Usianya baru 7 tahun, duduk di bangku sekolah dasar. "Lho, Neji-kun gak sekolah, un?" Tanya Deidara. "Libur, kakak kelas 6 sedang ada Study Tour" Jawab Siswa kelas 1 SD itu. "M..Maaf Dei-chan, kami pamit dulu ya" Pamit Hinata seraya menggandeng pergelangan tangan anak tunggalnya itu.
"Oh, iya. Hati-hati, un" Deidara melambaikan tangannya membalas lambaian Hinata.
"Mama, Kapan Nalu bica cekowlah di cewkolah yang cama dengan Neji-nii?" Tanya Naruto.
"Nanti kalau Naru sudah berusia 7 tahun, un" Jawab Deidara.
"Nalu gak cabal"
"Belajar yang rajin ya, un"
"Huum" Naruto menganggukan kepalanya, lucu.
.
.
.
.
*Apartemen Kakashi*
"Dengar-dengar sih, Dei-chan itu bukan satu-satunya janda yang tinggal di lantai 4" Kisame memulai pembicaraannya, begitu mengingat gosip dari ibu-ibu yang ia dengar saat melewati lantai dua kemarin malam (ketika sedang mencari makan untuk makan malam).
Ke-4 temannya terkejut, bagaimana tidak? Setahu mereka Deidara adalah satu-satunya single parent yang tinggal di apartemen ini.
"Benarkah?" Tanya Sasori (kepo)
"Benar"
"Kau tahu darimana?" Tanya Itachi
"Dari ibu-ibu lantai 2" Kisame membenarkan posisinya duduknya di sofa milik Kakashi.
"Benarkah itu, Kakashi?" Sekarang giliran Yahiko yang mengintrograsi temannya.
"Entahlah, tapi bisa jadi" Jawab Kakashi.
"Apa mereka cantik?" Itachi benar-benar sangat penasaran.
"Kita selidiki saja nanti" Usul Yahiko.
"Kalau begitu aku berpaling saja dengan salah satu dari mereka" Celetuk Itachi.
'Tidak masalah, yang penting rival ku berkurang satu' batin Kakashi.
.
.
.
.
*Apartemen Sakura*
"Gaa-chan, kerjakan PR-Astaga, Gaa-chan" pekik Sakura, saat melihat buah hatinya, Gaara pingsan dengan darah segar di kepalanya, serta sebuah boneka panda yang tergelatak di sampingnya. Sakura yakin, pasti buah hatinya terjatuh saat tengah mengambil boneka kesayangannya itu.
Sakura terlihat begitu cemas, ini sudah malam. Mau mencari bantuan pada siapa lagi? Deidara? Pasti sudah tidur. Hinata? Tentu saja, Temari? Dia sedang bertugas di desa Iwagakure (meliput bencana alam yang baru terjadi disana) Karin? Tidak, Karin tidak bisa meninggalkan dua buah hatinya sendiri di rumah.
Saking paniknya, akhirnya Sakura berlari keluar kamar apartemennya menuju tetangga yang tinggal di depan apartemennya.
.
.
.
.
Ting..Tongg..
"Please, buka" Lirih Sakura.
Baru saja hendak menekan tombol bel kembali, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dan menyembul sosok pria tampan yang tengah topless dengan surai merah maroon miliknya yang meneteskan tetesan air, (baru mandi ceritanya).
Tatap..
Tatap..
Tatap..
Tat-
"Tuan, tolong saya tuan.. Putra saya, hiks" Sakura begitu panik dan segera menarik pria yang baru memaki celana boxer itu ke kamar apartemennya. Pria tersebut masih terkesima melihat wanita cantik yang hanya dibaluti gaun tidur malam menarik pergelangan tangannya.
"Astaga" akhirnya pria itu sadar, begitu melihat sosok bocah kecil yang tergeletak di lantai dengan darah di kepalanya.
"Kita harus membawa nya ke rumah sakit" Pria tersebut segera bergegas menuju kamar apartemennya kembali.
Sakura sendiri tak mengerti dengan tingkah pria itu.
.
.
.
.
*Apartemen Sasori*
Sasori memegang dadanya. Wanita tadi, wanita tadi begitu membuatnya terpesona. 'Oh, mimpi apa aku tadi malam' Tanya Sasori dalam hati.
"Aku harus cepat, sebelum bocah itu kenapa-kenapa" Sasori segera memakai baju kemeja miliknya dan celana panjang hitam secara terburu-buru. Tak berapa lama, akhirnya pria bersurai maroon itu kembali menuju apartemen wanita bersurai bubble gum tadi.
.
.
.
.
* Skip Time *
Minggu pagi Deidara, dikejutkan dengan kabar putra tunggal sahabatnya yang masuk rumah sakit akibat luka bocor di bagian pelipis nya. Setelah sarapan pagi, Deidara dan malaikat kecilnya bergegas menuju apartemen Sakura untuk melihat keadaan si kecil Gaara.
"Gaala cakit ya? Ini Nalu bawain buah" Kata Naruto, seraya mendekati ranjang dimana Gaara tengah bersandar disandaran kasur.
"Telimakacih, Nalu" Ucap Gaara.
"Gaara-chan, kenapa bisa begini?" Tanya Neji, kepada balita yang berada 3 tahun dibawahnya itu.
"Kan Gaala mau ambil Panda-chan, eh tiba-tiba caja Gaala gak ceimbang ya cudah Gaala jatuh. Lalu, Gaala gak ingat apa-apa lagi" Jelas Gaara.
"Kacian, cepat cembuh ya, Gaala" Ucap Naruto, sambil memberikan sebuah kartu ucapan yang ia buatkan untuk sahabatnya.
Gaara menerima kartu bergambar 3 anak laki-laki yang dibuat memakai sebuah krayon. Gaara membuka kartu tersebut, sebuah gambar bocah laki-laki bersurai merah tengah tertidur di atas tempat tidur dan dengan kalimat bertuliskan Good Well Soon dibawah gambar tersebut.
"Telimakacih, Nalu"
"Cama-cama"
"Bagaimana, keadaan Gaara-chan, Sakura-san?" Seorang pria bersurai merah maroon tiba-tiba saja datang memasuki kamar apartemen Sakura yang terbuka lebar.
"Lho, Sasori-san, un" Deidara sedikit terkejut melihat kedatangan Sasori di apartemen Sakura.
"Eh, ada Dei-san"
"Kalian saling kenal?" Tanya Sakura, mengintrupsi keterkejutan mereka berdua.
Keduanya pun menganggukan kepalanya pelan. "Nah, Sasori-san ini yang mengantar Gaa-chan tadi malam" jelas Sakura. "Huumm, Syukurlah" Ucap Deidara. "I..I..Iya, terimakasih ya Sasori-san"
"Tidak masalah" Balas Sasori.
.
.
.
.
Seorang ibu muda berjalan tergesa-gesa sambil menggandeng pergelangan tangan kedua buah hatinya. Dua bocah laki-laki bersurai merah tersebut hanya bisa mendengus kesal, melihat sang ibu yang selalu terburu-buru itu. Prinsip sang ibu 'Time Is Money' itu juga digunakan sang ibu saat mereka berjalan bersama. ' Jika, kau lambat rezeki mu juga akan sendat ' itulah perkataan ibu berkacamata tersebut.
"Kyaaaa" teriak Wanita berusia 25 tahun tersebut saat bertabrakan dengan seorang pria bertubuh bak model yang sepertinya juga berjalan terburu-buru.
"Mama, jangan bulu-bulu dong!" Protes balita bersurai jingga kemerah-merahan. "Benal, mama jalan telalu cepat" kata si balita bersurai merah. "M..Maaf, tuan kami buru-buru" Ucap Wanita tersebut-terbata-bata rupanya.
Si pria bersurai jingga itu hanya terpaku saat melihat wajah wanita yang barusan menabraknya. 'Cantik' batin nya. Saking terpesonanya, ia tak menyadari jika wanita dan dua balita tersebut sudah berjalan jauh di depannya.
"Nyonya" seru Yahiko.
Wanita bersurai merah tersebut segera menoleh. "Ya?"
"Ada sesuatu yang ketinggalan" Kata Yahiko, seraya memberikan sebuah bross berbentuk matahari ke tangan wanita itu.
"Ne, itukan bloss mama" celetuk salah satu balita kembar itu.
"Terimakasih, tuan" Ucap wanita tersebut, dan berjalan meninggalkan Yahiko sendiri.
"Mungkin aku akan berpaling dari Deidara-san" Gumam Yahiko.
.
.
.
.
Ayo kita lihat sosok wanita bersurai blonde ikat empat yang tengah berjalan tergesa-gesa sambil menggeret koper besar miliknya. Mendengar, keponakannya sakit ia begitu panik dan segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke Konoha demi melihat keponakan kesayangannya.
Rei Temari, 24 tahun adalah seorang wartawan yang bekerja di salah satu stasiun tv ternama di Jepang. Wanita yang selalu patah hati, dan tidak menjalin hubungan dengan laki-laki, dalam artian Temari jomblo hingga usianya yang cukup terbilang dewasa.
Jangan tanya kenapa!
Temari sangat payah dalam percintaan.
Bruugghh..
"Aduuhh" ringis Temari-saat bokongnya terbentur lantai.
"Sh*t, sakit sekali" seorang pria tampan bersurai raven tampak tak berbeda dengan keadaan Temari, dalam artian: Pria tersebut juga merasakan bagaimana Bokong mu berbenturan dengan dinginnya lantai.
"Kau punya ma-Astaga" Itachi (nama pria itu) terdiam sejenak saat mendapati wanita manis tengah berusaha berdiri dari posisinya.
"KAU! SAKIT TAHU" Omel Temari.
'Ya tuhan, cantik sekali'
"Sakit..sakit..sakit..kau itu punya mata tidak sih"
'Seperti bidadari'
"Hey, kau punya telingakan?"
Lagi-lagi, Itachi terdiam menyaksikan wajah cantik milik wanita dihadapannya kini.
"O..oi" Temari terkejut saat Itachi langsung menjabat tangannya.
"Aku Uchiha Itachi, dan kau?"
Glekk..
Temari menelan ludah saat melihat seorang laki-laki menjabat langsung tangannya. Apalagi laki-laki itu memiliki paras yang...
"Kyyyaaaaaaa, lepaskan!" Teriak Temari layaknya wanita yang hendak diperkosa.
Temari pun segera melanjutkan jalannya, meninggalkan Itachi yang menjadi objek pandang orang-orang di lantai 1.
.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 11 siang, Naruto kecil terus memperhatikan sang ibu yang tengah membuat kue tart beraneka buah kesukaannya. Setiap seminggu sekali, Deidara memang selalu membuat kue untuk buah hatinya. Meskipun begitu, Naruto tidak pernah bosan merasakan kelezatan kue buatan sang ibu.
Ia memperhatikan begitu khusyuk sang bunda yang tengah mengaduk adonan kue dengan Mixed. Bingung, karena sang ibu membuat kue dengan cara sama dengan ibu-ibu kebanyakan. Tapi, kenapa buatan kue sang ibu lebih enak, dibanding Kue yang sering dibawakan kakeknya dari kota? Mungkin sang ibu memiliki resep rahasia tersendiri.
"Mama, nanti kue nya halusc dikacih Jeluk"
"Iya, mama ngerti, un"
"Mama, ini namanya apa?"
"Itu namanya Whipped Cream "
Naruto terus bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Dengan sabar, Deidara menjawab. Ia suka dengan sikap putranya yang memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar.
1 jam kemudian, Naruto memandangi kue cantik nan menggoda buatan sang ibu. Tak sabar rasanya ia memakannya. Masih beberapa buah yang belum di letakan di atasnya. Hmmmm, enak.. (Ok,Author ngiler bayanginnya)
"Kau tak sabar ya, un?" Tanya Deidara, yakin jika putranya tidak sabar mencicipi kue buatannya.
Ting..Tong..
"Naru-chan, tolong bukakan pintu dulu, un!" Pinta Deidara.
"Hu'um"
«Misa Anaru»
"Naru-chan, mama nya ada?" Tanya tamu tersebut. Naruto mengangguk pelan menjawab pertanyaan pria bersurai perak itu. "Bisa dipanggilkan?" Tanya Kakashi. "Bica, tunggu cebental ya paman!" Naruto segera berlari ke ruang tengah.
"Ada Paman Kakachi di luang tamu" Kata Naruto.
Deidara pun segera menemui tamunya di ruang tamu. Melihat sang tamu, Deidara mengulas Charming Smile andalannya. Tanpa ia sadari, jika Kakashi lagi-lagi harus menahan nosebleed yang selalu terjadi saat Deidara tersenyum kepadanya.
"Eh, Kakashi-san. Ada apa,un?" Tanya Deidara, seraya duduk di sofa yang terletak di hadapan sofa dimana Kakashi duduk.
"Tadi ada surat untuk anda yang nyasar ke apartemen ku, Dei-san" Jawab Kakashi, memberikan sepucuk surat pada Deidara.
"Dari siapa ya, un" gumam Deidara.
"Dari Fans mungkin" jawab Kakashi, dengan menyembunyikan semburat merah diwajahnya.
"Ah, Kakashi-san bisa aja, un" Kata Deidara.
"Hehehehe" Kakashi tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mengingat barusan ia membuat kue, Deidara pun segera meminta tamunya untuk menunggu sementara ia pergi ke dapur, menyiapkan hidangan untuk Kakashi.
"Mama, Nalu ndak cabal nih" Rengek Naruto, seraya menunjuk kue buatan ibunya.
Deidara pun memotong kue tersebut dan meletakannya di piring untuk buah hatinya. "Yummy" Kata Naruto. Sang ibu tertawa pelan mendengar kata-kata buah hatinya. "Itu untuk ciapa?" Tanya Naruto.
"Untuk paman Kakashi" Jawab Deidara-bergegas menuju ruang tamu.
.
.
.
.
* Skip Time *
Kakashi's Pov
Mimpi tidak? Aku ini bermimpi ya? Kenapa rasanya seperti mimpi? Teman-teman ku mengatakan jika mereka sudah berpaling dari wanita cantik itu, itu benaran kan? Apa yang membuat mereka berpaling? Apa mereka sudah tahu, kalau mereka tidak akan pernah menang dariku?
Ternyata setelah ku tanya, mereka berpaling karena mereka sudah menemukan wanita yang membuat mereka terpesona. Mereka juga mengatakan, jika mereka tidak mau merebutkan satu wanita seperti tak ada lagi wanita di dunia ini. Ya, terserah. Aku tak peduli, lagipula bukannya itu akan membuat ku mudah mendapatkan si Sexy Deidara? Haha, tentu saja iya.
Tadi siang aku ke rumahnya, dia cantik seperti biasanya. Memakai apron berwarna merah jambu (dengan hiasan rombe-rombe) sangat indah di tubuhnya. Tuhan, dia tampak sexy sekali. Aku seperti seorang suami yang melihat istri ku memakai apron saat aku habis pulang kerja.
Hummm...
Khayalan ku semakin menjadi..
Apalagi ia menyajikan ku kue buatannya yang begitu LEZAT. Sekali lagi, LEZAT. LEZAT sekali, mengalahkan kue-kue yang pernah ku cicipi sebelumnya. Sudah cantik, pintar, ramah, pandai memasak lagi. Benar-benar, tipe istri idaman. Heheheheh, Ayah ku rasa aku memutuskan untuk menikah.
End Of Kakashi's Pov
.
.
.
.
* Mansion Namikaze *
See, kita kembali lagi ke sebuah mansion megah dengan pemiliknya yang memiliki wajah tampan bagaikan seorang boyband. What? Boyband? Ku katakan sekali, Boyband. Kenapa? Ada yang salah? Berlebihan ya? Mungkin, lagipula Namikaze Minato memang memiliki wajah yang tampan, dan postur tubuh yang ideal. (Author pun rela jadi istri keduanya *Plakk*)
Malam ini, Namikaze Minato tampak kesepian. Sudah, tak terhitung lagi berapa gelas Wine yang ia minum (minuman orang kaya Wine, masa iya Teh Tubruk yang benar aja?). Ia lelah seperti ini terus, sepertinya ia memang sudah putus asa mendapatkan kepercayaan sang istri kembali.
"Butuh Nasehat, nak?" Tanya seorang pria paruh baya berjalan mendekati pria berusia 26 tahun itu.
"Aku kurang apa Tou-san?" Tanya Minato begitu lirih.
"Dalam fisik kau sempurna, begitupun dengan materi. Tapi ada dua yang kurang dari mu"
"Apa itu?"
"Kau kurang setia dan kurang bersungguh-sungguh meyakinkan istri mu jika kau sudah berubah" Jelas Jiraya.
"Begitukah" beo Minato.
"Kau hanya perlu bersungguh-sungguh dalam mendapatkan istri mu kembali, nak" Ujar Jiraya, seraya menepuk pelan bahu putra tunggalnya itu.
Minato menidurkan kepalanya di atas meja. Memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh ayahnya. Benarkah selama ini iya kurang bersungguh-sungguh? Ia terus bertanya akan hal itu. Jadi, selama ini Deidara melihat dirinya yang kurang sungguh-sungguh? 'Cih, menyedihkan sekali' batin Minato.
.
.
.
.
Naruto kecil memandang langit malam melalui jendela kamarnya. Ia berharap pada bintang-bintang yang bertabur indah malam ini, dalam diam Naruto berdoa, ia ingin melihat papanya, bermain bersama papanya, serta memperkenalkan papanya kepada teman-temannya.
Sang ibu berjalan mendekati tubuh kecil Naruto, dengan lembut Deidara menyentuh bahu buah hatinya itu. "Belum bobo, un?" Tanya Sang ibu. "Nalu ndak bica bobo" jawab Naruto. Disentuhnya lembut surai pirang malaikat kecilnya itu, "kamu memikirkan papa ya, un" tebak Naruto.
Takut-takut Naruto mengangguk. Ia takut jika sang ibu memarahinya, memintanya untuk berhenti membicarakan papanya.
"Tidak usah takut! Naru-chan kan anaknya papa. Naru-chan rindu papa, un?" Deidara menegaskan. "Hu'um" Naruto menganggukan kepalanya pelan. "Hiks" isakan kecil terdengar dari bibir kecil nya. Direngkuhnya tubuh Naruto, Deidara tahu apa yang dirasakan Naruto. Hidup tanpa orang tua yang lengkap, memang bukan pilihan balita imut ini.
"Besok kita bertemu papa ya, un" Hibur Deidara.
"Hiks, Nalu lindu papa, lindu cekali" Kata Naruto.
"Cup..cup..cup, besok ya. Mama janji, un" Deidara terus membujuk Naruto untuk berhenti menangis.
"Janji ya, ma"
"mama janji, un"
.
.
.
.
Setelah buah hatinya terlelap, Deidara segera meraih ponselnya dan bergegas menuju balkon. Ditekannya beberapa tuts screen yang ada di ponsel layar sentuh miliknya. Meskipun ragu, Deidara berharap jika orang yang ia hubungi masih terjaga dan mengangkat telepon darinya.
'Hallo'
"Hallo, M..Mina-"
'D..Dei, k..kau kah itu?'
"Kau mabuk, un?" Tanya Deidara.
'Maaf'
"Jangan mabuk lagi, un" Deidara berusaha untuk tidak menangis.
'Iya, mabuk sedikit malam ini'
"Minato, aku boleh datang kesana?"
'Kenapa?'
"Naru-chan merindukan mu, un"
'Aku yang akan datang kesana'
"Un"
*Pippp..*
Deidara menghela napas saat ia memutuskan untuk mengakhiri sambungan secara sepihak. Ia pun segera masuk ke dalam saat dirasakan dinginnya angin malam semakin menusuk tulang-tulangnya. Besok, ia harus siap-siap untuk menyambut kedatangan mantan suaminya itu.
Deidara pun merebahkan tubuhnya disamping putra semata wayangnya yang sudah terlelap. Dikecupnya kening Naruto kecil, kegiatan yang selalu Deidara lakukan saat hendak tidur. Putranya adalah segalanya untuk Deidara. Tak dipungkiri lagi, Jika Naruto lah yang sering mengisi kesepian dalam hidupnya.
.
.
.
.
* Esok Pagi *
Minato berjalan memasuki apartemen dimana Deidara tinggal bersama putra mereka. Banyak yang memandang kagum sosoknya. Bahkan, dilantai dua pun Minato sempat dimintai tanda tangan oleh ibu-ibu yang sering dijuluki kerajaan gosip oleh Deidara dan kawan-kawannya.
Dengan membawa bingkisan dan sebuket bunga untuk Deidara yang memang sangat menyukai bunga.
Lagi-lagi, Minato bertemu pandang dengan pria bersurai perak yang ia temui saat pertama kali ia berkunjung ke apartemen Deidara. Minato merasa jika pria tersebut adalah rival untuknya. Entah benar atau tidak, Minato merasa jika pria tersebut juga berambisi memiliki Deidara.
Tak peduli, akhirnya Minato mempercepat langkahnya menuju apartemen mantan istrinya.
.
.
.
.
Pukul 8 pagi, Naruto menyaksikan acara kartun kesukaannya sebelum berangkat ke sekolah sambil menikmati serealnya. "Mama, kue yang kemalin dibuat bekal kan?" Tanya Naruto. "Tentu saja, un" jawab Deidara. Naruto berlari menuju meja makan dan meraih tas bergambar rubah ekor 9 miliknya. Naruto tampak imut memakai seragam sekolahnya.
Ting..tong..
"Itu pasti papa" Beo Naruto.
Naruto segera berlari dan mendahului sang ibu yang hendak membuka pintu.
Cklek..
"Papa.." Seru Naruto, berlari memeluk pinggang sang ayah dengan menjinjitkan kakinya.
Minato terkekeh geli dan menggendong tubuh Naruto kecil. Naruto mencium pipi sang ayah, seperti yang sering ia lakukan pada sang ibu. Deidara lagi-lagi cuma mengulas senyumannya dan meminta Minato untuk segera masuk.
"Mama, hali ini Nalu libul dulu ya"
"Enggak bisa, un"
Minato hampir saja tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah buah hatinya yang tampak manja pada mantan istrinya itu. Sekilas mereka memang terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Tapi, ku rasa itu dulu. Dulu, saat Deidara masih mempercayai suaminya dan bersabar mengerti akan sikap Minato.
"Nanti papa antar Naru-chan ke sekolah, asalkan Naru mau sekolah" Ujar Minato.
"Tapi Minato-"
"Tidak apa-apa, Dei" Sela Minato.
"Boleh ya, ma" Pinta Naruto.
"Lalu bagaimana dengan Kyuubi dan Nagato? Kalian kan akan pergi ke sekolah di antar Paman Kakashi, un"
"Nalu mau diantal papa, Paman Kakachi pascti juga ngelti"
Ting..Tong..
"Itu pasti Kakashi-san" Gumam Deidara.
Wanita bersurai blonde itu segera bergegas menuju pintu, akan tetapi Minato sudah lebih dulu membuka pintu apartemen mantan istrinya itu.
"Selamat pa-"
"Anda siapa?" Tanya Minato, menyela ucapan pria bersurai perak dihadapannya.
"Oh, ku kira Dei-san."
"Eh, K..Kakashi-san, un" sapa Deidara.
Minato benar-benar cemburu saat melihat Deidara tampak akrab dengan pria yang ia ketahui bernama,Kakashi. Bagaimana tidak? Deidara bahkan mengulas senyuman charming nya dihadapan pria tersebut. Cih, jika Minato tidak sedang menjalani misi mendapatkan hati mantan istrinya, sudah dipastikan Minato akan memukul wajah pokerface milik pria 'sok' keren itu (menurutnya).
"Oh, yasudah kami berangkat dulu ya" pamit Kakashi.
"Kami belangkat dulu, bi" Diikuti oleh si kembar, Kyuubi dan Nagato.
Deidara melambaikan tangannya membalas lambaian ketiga orang itu. "Hati-hati ya, un"
"Siapa Kakashi itu?" Tanya Minato.
Deidara yang sudah menutup pintu apartemennya merasa heran dengan pertanyaan Minato. Jarang sekali Minato mau ikut campur urusan Deidara, bahkan saat mereka masih terikat pernikahan pun Minato tak pernah mau repot-repot mengurusi urusan istrinya (mantan) itu.
"Dia tetangga kami, sering mengantar Naru-"
"Aku akan pindah ke sini!" Sela Minato.
"Pardon, un" Pinta Deidara.
Deidara menatap Minato dengan tatapan 'apa-aku-tidak-salah-dengar'
"Aku akan pindah ke sini!" Tegas Minato.
"U..untuk apa, un?" Tanya Deidara.
"Papa akan pindah ke cini? Holleeeee" sorak Naruto.
"Kau tidak bersunggung-sungguh kan, un?" Tanya Deidara.
"Tentu saja, aku bersungguh-sungguh!" Jawab Minato.
"Ayo Naru-chan, kita berangkat!" Ajak Minato-sambil mengangkat tubuh mungil buah hatinya.
Deidara terpaku saat mendengar perkataan Minato. Apa yang harus ia lakukan? Sedangkan ia sengaja pindah ke Konoha, untuk menghindari kejaran-kejaran wartawan yang memburu berita tentang hubungannya dengan sang pemilik tunggal, Namikaze itu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hi, Minna.. Kayaknya, Jalan cerita chapter yang Misa janjikan benar-benar diubah. Berbagai saran Misa terima, Naru-chan bilang kalau Deidara diperebutkan ke-5 predator (ciyye, emangnya buaya) itu bakalan lama. Ada salah satu readers yang bilang begitu (selain Naru-chan). Jadi, cerita benar-benar diubah dari yang Misa pikirkan. Soal, Minato kenapa gak sama Kushina? Hehehe, Namanya juga Fict! Apasih yang gak terjadi? Naruto hamil aja terjadi kan? Sebelumnya, maaf kalau fict Misa mengecewakan kalian. Hihihihi, Makasih atas Review dan sarannya,
See you latter
So, Mind To Review?
