Uncontrolled Love
(Meanie Version)
Cast:
Jeon Wonwoo as Shu Nian
Kim Mingyu as Xie Yan
Genre: Romance, Boys Love
Rate: T-M
Disclaime:
Wonwoo dan Mingyu milik keluarga mereka dan milik Pledis Ent. Shu Nian milik Xie Yan, dan Wang Bowen milik Meng Rui. Dan aku hanyalah seseorang yang sangat mencintai mereka semua.
Author Note's:
Uncontrolled Love adalah sebuah Boys Love Movie Series dari China yang merupakan adaptasi dari Novel berjudul Force Majeure karya Lan Lin. Karena aku sangat menyukai kisah dan cast-nya, jadi aku tertarik membuatnya ke dalam Meanie Version dengan beberapa penyesuaian. Hope you like it.
Summary:
Jeon Wonwoo menyimpan cinta untuk Masternya, Kim Mingyu, selama lebih 20 tahun. Saat Mingyu mengetahuinya, ia malah menjauhkan Wonwoo dan mengirimnya ke luar negeri. Hidup keduanya berubah mulai saat itu.
Happy Reading
- Uncontrolled Love –
Previous Chap...
"Aaa, siapa kau?" Teriakku pada seseorang yang mendorongku dari belakang hingga terjatuh ke atas meja makan, orang itu menindih tubuhku.
"Siapa lagi memangnya?"
Deg! Suara itu...
Chapter 2
"Mingyu?" Tanyaku lebih untuk meyakinkan diriku sendiri. Aku mengerjapkan mataku, mencoba menstabilkan detak jantung dan nafas yang menderu kasar.
"Aku merindukanmu, Jeon Wonwoo." Ujarnya seraya mengelus pipiku dengan lembut. Lagi-lagi aku memejamkan mataku sekejap, seharusnya ia tidak bersikap seperti ini.
"Wonwoo, aku merindukanmu, sangat." Lanjutnya saat tidak ada balasan dariku. Suara rendahnya berbisik persis di telingaku, membuatku merinding.
"Kau tidak berubah sama sekali, Wonwoo-ya. Masih sama seperti dirimu yang dulu." Bibirnya sedikit menyentuh puncak telingaku, aku mati-matian menahan diriku untuk tidak bersikap aneh di depannya. Tapi sialnya jantungku masih belum bisa berdetak dengan normal.
Aku masih belum berbicara. Suara ku pasti akan bergetar karena aku sangat gugup sekarang. Sudah sangat lama kami tidak bertemu dan pertemuan ini benar-benar membuatku tidak siap, ditambah posisi kami sekarang yang sangat menyudutkanku. Wajahku berbantalkan lenganku sehingga pipiku tidak merasakan dinginnya meja, sementara Master menindihku dengan jarinya yang masih sangat senang bermain dengan pipi tirusku.
"Aku kembali seminggu lebih cepat dari jadwal sebelumnya. Aku sudah tidak sabar untuk pulang. Aku bahkan tidak mau membuang waktuku barang sedetikpun untuk menunggu taksi. Jadi aku menaiki kereta cepat dari bandara dan bergegas ke sini."
Aku masih tidak percaya ia melakukan semua itu, kenapa juga ia harus begitu terburu-buru. Aku mencoba mengenyahkan pemikiran bodohku jika ia melakukan ini karenaku.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk memberikanmu kejutan ini. Aku tidak sabar bertemu denganmu. Dan sepertinya aku berhasil." Mataku melebar, ia melakukannya benar-benar karenaku.
"Tapi sepertinya kau tidak senang dengan kepulanganku, kau sangat dingin." Ia menekan kuat pipiku dengan jarinya sebelum bangkit dengan cepat, sedikit membuat tubuhku tersentak.
Mingyu membalikkan badannya, aku segera berdiri dan merapikan pakaianku. Perlahan aku melihat ke arahnya. Mataku menelusuri tubuh tingginya mulai dari kaki dan perlahan naik menuju ke wajahnya. Dagunya, bibirnya, rahang tegasnya, tahi lalat di pipi kirinya, lalu hidung bangirnya. Pandanganku mengarah ke matanya yang bersinar cerah lalu dahinya yang indah serta rambut hitam kelamnya. Mingyu benar-benar sempurna. Satu detakan kuat menerkam jantungku, membuatku gugup dan merasakan sesak.
Aku masih memandangnya dengan penuh kekaguman. Entah apa yang ia pikirkan tentangku, aku tidak peduli untuk saat ni. Ia begitu sayang untuk ku lewatkan.
Sebuah senyum terlukis dari sudut bibirnya, menampakkan taringnya yang memanjang tidak normal. Ia lalu tersenyum penuh dan menarik pundakku mendekat kepadanya.
"Wonwoo-ya, apakah kau merindukanku? Katakan padaku."
Aku kelagapan, rasa gugup kembali menyerangku. Aku melihat ke arahnya dengan ragu-ragu.
"Tentu saja aku merindukanmu, Master." Jari tangannya yang berada di tengkukku mengusap-usap bagian tersebut, aku merinding kembali.
"Tapi kau tidak terlihat seperti itu."
"Aku, umm..." Aku bingung harus menjawab apa.
"Ah, tentu saja." Jawabnya terkekeh. "Kau adalah Wonwoo ku. Aku akan mempercayai semua ucapanmu." Master kembali merangkul pundakku. Aku gelisah, tidak berhenti menatap lantai, aku gugup.
"Baiklah, ayo berangkat. Aku akan mengantar mu ke kantor."
Mingyu menarik tubuhku merapat padanya. Lalu ia membawa ku tanpa menunggu jawaban dariku. Kami pun pergi bersama menuju kantor.
- Uncontrolled Love –
Pintu kaca berukuran lebar itu terbuka dengan sempurna. Barisan karyawan lelaki dan perempuan terlihat di kiri kanan membentuk sebuah koridor khusus. Sesaat begitu Mingyu melangkah masuk, semua orang di sana membungkukkan badannya dengan hormat. Mingyu melangkah memasuki gedung perusahaan dengan angkuh, dilengkapi kaca mata hitam dan baju turtle neck yang menutupi leher kecoklatannya. Ia benar-benar arogan dan penuh intimidasi tapi juga tampan, khas seorang tuan muda.
"Apa kabar, Master Kim?" Seru para karyawan.
"Tidak ada Master Kim lagi, tapi Presiden Kim." Seru Mingyu seraya memberikan senyum kepada para pegawainya.
Mingyu sangat berkharisma dan aura kepemimpinannya benar-benar terasa. Ditambah dengan tubuh tinggi nan tegap disertai wajah yang sangat tampan, menjadi seorang presiden perusahaan sebesar ini sangatlah cocok untuknya. Sementara itu aku hanya mengikutinya dari belakang. Menjadi pengawalnya seperti biasanya.
"Appa!"
Panggil Mingyu lalu memeluk Tuan Besar, ayahnya. Lelaki yang menjelang 60 tahunan itu tertawa kecil dan menyambut anak kesayangannya, memeluk Mingyu disertai dengan beberapa tepukan sayang di punggung bidangnya. Mereka berpelukan, sangat hangat. Aku hanya melihat mereka dari kejauhan, ikut berbahagia untuk mereka.
"Baru datang sudah membuat masalah, eum?" Mingyu hanya terkekeh mendengar teguran ayahnya. "Aku menyuruhmu untuk langsung ke kantor, semua orang menunggumu." Mingyu hanya tersenyum mendapatkan ceramah singkat dari ayahnya.
Pandangan Tuan Kim mengarah kepadaku, membuatku sedikit takut.
"Kenapa kalian bisa bersama-sama?"
"Ah, kami tidak sengaja bertemu di luar. Manajer Jeon terlihat sedang memerlukan bantuan tadi, jadi aku menghampirinya." Aku mengangguk kecil dan memberikan senyum simpul kepada Tuan Kim. Setidaknya jawaban Mingyu membuatku terselamatkan. Tidak mungkin mengatakan jika ia menjemputku ke rumah terlebih dahulu.
"Haha, baiklah. Kau sudah belajar dengan baik."
"Tentu saja, appa. Aku bahkan sudah sangat paham dengan bisnis perusahaan ini." Jawab Mingyu dengan sedikit menyombongkan dirinya.
"Kau terlalu banyak bicara. Ayo ke ruanganmu."
Sepanjang perjalanan menuju ke ruangannya, semua karyawan menyambut kedua orang penting di perusahaan ini. Mereka membungkuk dengan hormat. Aku hanya mengiringi dari belakang bersama manajer Lee. Mingyu sangat gagah.
"Ah, Manajer Lee." Panggilan tiba-tiba Mingyu membuatku dan manajer Lee berhenti mendadak.
"Minta semua orang berkumpul di ruang konferensi dalam waktu 10 menit, oke?! Terima kasih sebelumnya." Setelah memberikan perintah pertamanya, Mingyu melenggang begitu saja ke dalam ruangannya. Manajer Lee yang terlihat tidak senang, ia mendapatkan perintah bahkan disaat Mingyu belum memasuki ruangannya.
"Hari-hari baik kita sepertinya akan berakhir." Ujar Manajer Lee. Aku hanya memandangnya, tidak berniat berkomentar apapun. "Nasibmu benar-benar buruk, Jeon Wonwoo." Sambungnya seraya menepuk pundakku dan berbalik menghilang ke ruangannya.
Aku terdiam dan melihat ke ruangan Mingyu. Aku memikirkan ucapan Manajer Lee. Tapi bagiku kepulangan Mingyu bukanlah hal buruk, itu justru membuatku bahagia. Kehadiarannya membuatku senang dan aku menyunggingkan senyum manisku karena memikirkannya.
- Uncontrolled Love –
Malam semakin larut, Jam kerja sudah berakhir beberapa jam yang lalu, bahkan para karyawan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Perusahaan besar ini jadi sangat sepi dan mencekam. Meskipun begitu aku yakin masih ada beberapa karyawan yang masih berada di meja kerjanya, lembur. Sama halnya seperti diriku yang masih bergelut dengan kertas-kertas yang masih harus aku periksa. Jabatan sebagai manajer keuangan sedikit membuat pekerjaanku menumpuk.
Suara dentingan pesan masuk ke ponselku membuatku melepaskan pena yang sedang ku gunakan. Ku raih ponsel putihku dan mengecek pengirimnya. Aku tersenyum saat membaca namanya. Langsung saja aku ketikkan balasan dari pesannya sebelum suara Mingyu mengagetkanku.
"Berapa lama lagi?" Aku menoleh ke arahnya, ia membuatku kaget.
"Ah, eum, hampir selesai." Mingyu mengerlingkan matanya malas.
"Aku harus segera memisahkan dokumen-dokumen ini." Ia terlihat tidak senang dengan jawabanku. Ia berjalan ke arah mejaku dan menduduki ujungnya.
"Cepatlah, aku sudah lapar."
"Iya." Aku menjawabnya dengan sangat pelan.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku sambil sesekali melirik ke arahnya. Ayolah, ia terus memandangiku. Bagaimana aku bisa berkonsentrasi dengan kertas-kertas ini? Yang ada aku malah semakin gugup dan berdebar-debar. Membuat gerakanku menjadi melambat. Mingyu terlihat semakin tidak sabar dengan kerjaku.
"Master, kenapa kau tidak pulang saja terlebih dulu? Ini akan memakan waktu sebelum aku menyelesaikannya. Master tidak perlu menungguku." Aku tahu Mingyu akan merasa kesal dengan jawabanku. Tapi diperhatikan sedalam ini olehnya juga menyulitkanku. Lagi-lagi aku meliriknya dengan gugup.
"Diamlah dan lanjutkan pekerjaanmu." Tegasnya.
""Iya." Hanya itu yang bisa ku jawab.
Mingyu masih berada pada posisi yang sama beberapa saat, ia masih memandangiku. Sementara aku mencoba untuk berkonsentrasi seraya menormalkan detak jantungku. Aku mendengar Mingyu menghela nafasnya dengan berat sebelum iya menyuruhku untuk bangun dari kursiku.
"Kau tidak akan bisa menyelesaikannya dengan cepat jika seperti itu. Sana bangun." Iya memerintahkanku lagi, akhirnya dengan ragu-ragu aku bangkit dari kursiku dan berdiri di sebelahnya. Tanpa bicara apapun lagi ia mulai mengambil alih perkerjaanku. Membaca deretan-deretan huruf dan angka di dalam kertas-kertas putih itu. Ia melakukannya dengan gesit.
Aku memandang Mingyu. Ia selalu seperti ini, tidak enggan untuk membantu pekerjaanku. Sedari kecil, ia akan memperlakukanku dengan sangat baik. Terkadang aku merasa seperti seorang pangeran meskipun pada kenyataannya aku hanyalah seorang 'peliharaannya'. Aku tersenyum menerima perlakuan manis Mingyu. Mataku tidak berhenti menatapnya barang sekejappun, sampai akhirnya ia menyelesaikan pekerjaanku.
Setelah pekerjaanku beres, kami pun meninggalkan kantor. Mingyu akan pergi makan malam dengan seseorang, aku tidak tahu dengan siapa. Aku mengantarnya ke tempat janjiannya. Terkadang aku juga merangkap sebagai sopirnya di saat yang dibutuhkan, bagaimanapun aku adalah pelayannya. Sepanjang perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan, Mingyu cenderung sibuk dengan ponselnya. Sementara aku terlalu segan dan gugup untuk banyak bicara.
Kecepatan mobil kulambatkan, kami sudah sampai di tempat Mingyu janjian, sebuah restoran China. Mingyu langsung keluar dari mobil bahkan disaat mesin mobil belum mati dengan sempurnya. Ia begitu tergesa-gesa.
"Baby, kau merindukanku?"
"Mingyu-ya, aku sangat merindukanmu sayang."
Aku keluar dari mobil, melihatnya memeluk dan mencium bibir seorang wanita. Begitu mesra dan intim. Mereka bahkan tidak peduli jika itu di tempat umum. Melihat itu membuatku terdiam, sesuatu di dalam tubuhku terasa nyeri. Aku tidak menyukai ini tapi aku tidak bisa melarangnya. Aku hanya menatap mereka tanpa bergerak, mematung di tempatku berdiri. Mingyu bercengkrama dengan wanita itu.
- TBC –
Note Again:
Thanks buat respon kalian yang sangat baik untuk fanfic ini. Aku senang membaca komentar kalian, membuatku bersemangat. Buat yang nanyain link filmnya, udah aku balas kan? Kalian bisa searching di Youtube juga, udah ada engsubnya juga.
Ah iya, Voting dong untuk karakter wanita nya itu bagusnya siapa. Aku kebingungan.
Ada yang nanyain umurnya Wonwoo dan Mingyu.
Cerita ini terjadi di saat Wonwoo berumur 32 tahun dan Mingyu berumur 31 tahun. Sebenarnya kalau di novelnya umur Mingyu itu 27 tahun, tapi itu terlalu jauh menurutku, jadi aku membayangkan Mingyu berumur 31 saja, hehe. Jadi Mingyu kembali ke Korea setelah menyelesaikan S3 nya, kan dia sekolah ke Inggris.
Eumm, ada beberapa hal yang ingin aku luruskan.
Pertama, aku tidak menyuruh atau mewajibkan kalian untuk menonton film ini, feel free aja buat siapa yang tertarik ^^
Kedua, dari awal aku mengatakan ini Boys Love lalu saat di review muncul Guest dengan kritikan bahkan sedikit 'hujatan' sampai bawa-bawa orang tua, agama dan tuhan, itu benar-benar sangat menyebalkan. Come on guys, be a smart reader. Kalau sudah tau ini fiksi/film gay, lalu kamu anti boys love, ngapain masih di baca? Bukankah itu terlihat sangat bodoh? Maaf jika aku berkata kasar, tapi lain kali berkomentarlah dengan sesuai atau close your tab. Gampang kan?
Ketiga, buat yang mikir semua film boys love itu selalu identik dengan adegan ranjang/sex, itu kurang tepat. Ada banyak film yang BL yang memberikan edukasi dan pengalaman tentang kehidupan, hanya saja terkadang kita perlu melihatnya dari sisi yang berbeda. Uncontrolled Love ini bahkan tidak ada adegan boys kissingnya sama sekali. Nikmati karya seninya,abaikan keburukan di dalamnya.
Di chapter depan akan dijelaskan tentang perasaan Wonwoo terhadap Mingyu. Karena mereka tidak hanya sebatas Master and his 'pets'.
Sekali lagi makasih banyak buat responnya yah, kalau ga ada halangan aku akan ngepost ff ini 2-3 kali seminggu. Semoga mood ku tidak memburuk, makanya tetap review yah buat nyemangatin. Bay bay bay. Muach.
