Single Parent (Chapter 5)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Story By. : Misa-Chan ©

Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)

Rated : T+

Chibi Naruto

(Fem) Dei

.

.

.

.

Summary

Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.

.

.

.

.

Deidara terkekeh geli saat melihat Naruto yang begitu manja dengan Kakashi. Naruto berkali-kali meminta Kakashi menyuapi dirinya dengan kepiting saus tiram, yang memang sulit ia makan, karena cangkang kepiting terlalu keras dan berbahaya untuk anak-anak seusianya.

"Enak cekali, Nalu cuka" Kata Naruto, sambil menyeruput jus jeruk kesukaannya. "Iya, jika Naru-chan makan yang banyak Paman akan mentraktir lagi" Ujar Kakashi. "Huwwaaaahhhhh, terimakasih paman" Ucap Naruto-memeluk pinggang Kakashi.

Kakashi melempar pandang ke arah Deidara yang sedari tadi memperhatikan mereka. Deidara terlihat sangat cantik jika dilihat dari dekat seperti ini. "Mama ndak makan?" Tanya Naruto, merusak konsentrasi sang Hatake yang memperhatikan lekuk wajah cantik Deidara.

"Hum? Naru saja yang makan, un" Jawab Deidara.

"Tapi ini enak cekali, mama mau coba?" Tanya Naruto.

Baru saja hendak menggelengkan kepalanya, tiba-tiba saja Naruto meminta Kakashi untuk menyuapi Deidara dengan kepiting tersebut. Kakashi dan Deidara saling melempar pandang, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bingung? Tentu saja. "Ayo, cuapin mama" Naruto menggerakan pelan tangan kekar Kakashi.

Deidara mengangguk pelan, memerintahkan supaya Kakashi menyodorkan daging kepiting itu ke mulutnya. Hati Kakashi bersorak senang saat melihat Deidara mengunyah daging kepiting itu. Imajinasi liar Kakashi pun memasuki pikirannya, dimana Kakashi menyuapi Deidara dengan daging kepiting melalui mulutnya, dan mereka berbagi kenikmatan daging kepiting itu dengan saling menghisap lidah satu sama lain. (Dan ohhhhh, Author pingsan membayangkannya).

"Kakashi-san, kau tak apa, un?" Tanya Deidara.

Mendengar suara Deidara, khayalan kotor mengenai janda anak satu dipikiran Kakashi pun sirna seketika. Humm, bisa ditebak bagaimana mimik wajah pria dewasa bermarga Hatake satu ini. Wajah tampannya kini terlihat layaknya seorang paman serigala berotak mesum, dan membuat si Kerudung Merah berlari ketakutan dibuatnya. Sayangnya Deidara bukanlah si Little Red Riding Hood yang hendak dijadikan mangsa oleh serigala berwajah mesum dihadapannya kini. Jadi, ibu satu anak ini hanya memamerkan senyum manisnya dan membuat air liur para pria yang ada disekeliling mereka banjir dibuatnya. Tak ada yang tahu, jika saat ini Kakashi tengah menahan mimisan akibat senyum manis calon is-, maksudku calon kekasihnya itu.

"Cuapin mama...Ayo paman, cuapin mama" Naruto menggoyangkan pelan lengan kekar Kakashi. Deidara mengangguk pelan, pertanda mengizinkan sang Hatake untuk menyuapi daging kepiting ke dalam mulutnya. Tangan Kakashi gemetar saat hendak menyuapi daging kepiting ke dalam, mantan istri Namikaze Minato ini.

"Hmmm, yummy" Puji Deidara. Daging kepiting yang lembut tak membuatnya kesulitan mengunyah. Sambil mengelap bibirnya dengan tissu, Deidara lagi-lagi harus bersikeras tidak menunjukan wajah blushing di hadapan Kakashi. 'Malu nya' batin Deidara, miris.

"Mereka keluarga kecil yang harmonis ya"

"Ya, istrinya cantik, suaminya tampan, dan putra mereka benar-benar cute, sesuai dengan kedua orang tuanya"

"Jika aku menikah nanti, aku mau punya anak satu saja"

Desas-desus terdengar dari pengunjung restoran sea food, dimana mereka kini tengah menikmati makan malam. Mereka (para pengunjung) benar-benar berpikir jika Deidara dan Kakashi adalah sepasang suami istri yang romantis dengan satu orang anak berwajah cute yang dihadiahi kami-sama untuk mereka.

"C..cepat habiskan sayang, un" Deidara sengaja menjauhi tatap muka dari pria tampan dihadapannya. Bukannya apa, hanya saja Deidara merasa malu dan canggung, kalau sampai Kakashi tahu bagaimana perasaannya sekarang ini.

.

.

.

.

Dengan berbekal pakaian ala detektif, Minato benar-benar terlihat handal guna menjadi seorang detektif. Buktinya, Deidara dan Kakashi masih belum juga menyadari kehadirannya, yang hanya terpisah dua meja dari meja mereka ber-3. Kesal, cemburu, panas, semua jadi satu. Rasanya seperti apa? Panas, butuh kipas! Kalau perlu kipas yang besar dan bisa menerbangkan seseorang hingga terpental dengan radius 4 km, jauhnya.

"Hati-hati makan nya, Kakashi-san"

Minato segera menoleh dan mendapati mantan istrinya tengah menyodorkan minuman ke tangan sang rival. Arrgghhh, Minato benar-benar berada diambang kesabaran. Cemburu? Sangat, sangat, sangat, Minato sangat cemburu melihat istrinya yang bertingkah berbaik hati seperti itu. Kenapa tidak dibiarkan tersedak, batuk, dan mati saja sekalian. Merepotkan saja.

"Biarkan saja mati" Kata Minato-seraya menutupi wajahnya dengan koran harian Konoha. Sedangkan Deidara dan Kakashi menoleh mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Minato. "Suaranya mirip sekali dengan Minato-kun" Ujar Deidara-berbisik pelan kepada Kakashi. "Benarkah? Bukannya Minato-san ada di Osaka" Kakashi berusaha menghilangkan sosok Minato dari pikiran Deidara. Cemburu ceritanya.

"Humm, mungkin hanya kebetulan, un" Kata Deidara, kembali melanjutkan makannya.

Sial..

Lagi-lagi ia diacuhkan! Minato benar-benar kesal sekarang. Dia memang seharusnya ada di Osaka sekarang, mengurus salah satu cabang perusahaan keluarganya. Tapi, Minato malah membatalkan niatnya, karena tidak ingin berada jauh dari mantan istrinya dan putra tunggalnya itu. Tak rela, jika melihat Deidara bersama orang lain.

.

.

.

.

Skip Time : 7 hari Kemudian

Naruto berlari kecil saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Dalam hati ia berharap jika itu adalah Kakashi yang datang membawakan mainan untuknya. Balita berparas imut tersebut segera membuka pintu apartemen berwarna abu-abu itu.

"Hey, Naru-chan"

Si kecil Naruto segera memeluk erat sosok tersebut. Meskipun sosok bertubuh tinggi itu bukanlah orang yang ia harapkan, melainkan sang ayah yang datang dengan banyak mainan untuk dirinya. Sudah seminggu lamanya Naruto tidak melihat sang ayah, yang katanya sedang pergi ke Osaka untuk mengurusi pekerjaannya.

"Papa, Nalu kangen papa" Ungkap Naruto.

"Papa juga, dimana mama?" Tanya Minato-sambil mengangkat tubuh mungil sang buah hati. "Mama cedang-"

"Minato, sudah pulang? Wah, banyak sekali oleh-olehnya, un" Sela Deidara, yang baru saja datang dari arah ruang tengah. Melihat suaminya yang membawa banyak bingkisan, Deidara segera membantu membawakan bingkisan tersebut dan meletakannya di atas meja. "Naru-chan, ayo turun! Kasihan papa, un" kata Deidara.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak mau turun dari gendongan sang papa. Terlalu rindu, makanya Naruto enggan untuk turun. "Tidak apa-apa.. Kalian sudah makan malam?" Tanya Minato, mengingat jika sekarang adalah waktu untuk makan malam. Deidara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tadi terlalu sibuk di tempat praktek ku, un" Lirih Deidara, merasa bersalah. "Kau pasti belum masak, kita makan di restoran terdekat" Usul Minato, seraya mendudukan Naruto di atas meja.

"Ascyik, papa baik deh! Nalu cayang papa" Naruto memeluk erat lengan kekar papanya. Siapa saja pasti akan ia anggap baik,jika orang itu mau mentraktir dirinya di restoran. Dengan mudahnya, balita bersurai pirang itu mengatakan 'sayang' pada orang yang ia anggap baik. Polos sekali dia!

"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.. Humm, Naru-chan ayo ganti baju, un" Ajak sang ibu. Naruto menggeleng pelan, rupanya ia masih rindu berada dipangkuan ayahnya. "Naru-chan masih kecil, lagipula pakai baju apa saja juga cocok kok Dei" Kata Minato. "Yasudah kalau begi-"

"Kau juga tak perlu ganti baju, kau sudah terlihat cantik dengan baju apa saja" sela Minato. Minato tidak bohong, untuk apa ia berbohong? Istrinya itu sudah cantik, berpakaian secara apa pun pasti juga akan kelihatan cantik. Wajah Deidara memanas mendengar pujian dari mantan suaminya itu. Minato sendiri merasa puas ketika tak sengaja ia melihat semburat merah di pipi sang istri (mantan).

.

.

.

.

Restoran pukul 8 malam

Dengan mobil sport berwarna biru miliknya, Minato akhirnya memutuskan membawa sang mantan istrinya dan buah hatinya ke sebuah restoran yang berada agak jauh dari apartemen mereka tinggal. Berada di dekat perbatasan, antara Konoha dengan desa Suna. Tempat itu lumayan ramai di kunjungi oleh pasangan-pasangan muda. Maklum saja, restoran tersebut memang di desain mengutamakan kesan romantisme untuk interior nya sendiri.

"Kamu tahu saja tempat-tempat seperti ini, aku saja yang sudah 1 tahun tinggal di Konoha, baru tahu ada restoran seindah ini, un" Kata Deidara, sambil berjalan di samping mantan suaminya itu. "Kau yakin tidak tahu? Ku rasa pria bersurai perak itu enggan mengajak mu kemari" Sindir Minato. "Oh, Kakashi-san? Hehehe, dia juga baru tinggal beberapa bulan lalu di Konoha, un" Timpal Deidara, tak tahukah dia? Minato benar-benar cemburu saat mengingat Deidara tengah bersama Kakashi? Atau malah Deidara pura-pura tidak mau tahu dengan keadaan mantan suaminya itu?

"Aku kemari saat bersama teman wanita ku 5 bulan lalu.. Apa kau suka?" Tanya Minato. "Tidak" Jawab Deidara. Suka? Haruskah Deidara menyukai sebuah tempat yang pernah dikunjungi mantan suaminya bersama wanita lain, selain dirinya? Tentu saja, tidak bukan.

"Kenapa kau tidak suka?" Tanya Minato. "Kenapa harus ku sukai tempat yang pernah dikunjungi sebagai ajang perselingkuhan, un" Deidara balik bertanya. Sial! Lagi-lagi, Minato salah tempat membawa Deidara untuk makan malam bersama. Niatnya yang ingin mendapat kesan romantis, harus disuguhi adegan ribut-ribut kecil sebelum disuguhi hidangan-hidangan no. 1 di restoran itu. Untungnya musik klasik mengalun lembut, sehingga suara mereka tidak terdengar jelas dan membuat para pengunjung menjadikan mereka tatapan heran, layaknya seorang ibu-ibu yang tengah menonton adegan-adegan dorama-dorama yang berkisah tentang percintaan sepasang suami istri muda dan baru dikaruniai seorang anak laki-laki berwajah imut.

"Kau mau pesan apa?" Tanya Minato. Seorang pelayan mendatangi keduanya saat mereka tiba di meja bernomor urut 4. "pasta saja, un" Deidara masih fokus dengan buku menu di tangannya. "NARU-CHAN BIAR PAPA/MAMA saja yang pesan ya, (un)" Minato dan Deidara saling pandang saat keduanya telah berhenti berbicara. Tak menyangka, jika keduanya harus berbicara bersamaan di depan orang lain. Sedangkan pelayan wanita disana tersenyum senang di dalam hati ketika melihat adegan romantis yang tercipta dari keduanya. 'Oh, tuhan andai aku juga seperti itu ketika menikah nanti' doa sang pelayan dari dalam hati.

"Nalu mau steak pa, steak caus jamul" Kata Naruto-menengok buku meno yang ada di tangan sang papa. "Nalu mau ini, nalu mau ini" Naruto menunjuk sebuah gambar daging yang dilumuri saus berbahan dasar jamur dengan irisan-irisan jamur kecil di atasnya. Sehingga dia bisa memutuskan, kalau itu adalah steak yang dilumuri saus jamur. "Ok, satu pasta dan dua steak Saus jamur nya" Pinta Minato. Sang pelayan pun segera menulis pesanan yang di pesan keluarga kecil itu. "Minumnya?" Tanya sang pelayan. "Limon tea nya satu, Orange Juice nya dua" Kini Deidara lah yang berbicara. "Ok, pesanan akan tiba beberapa menit lagi, permisi" Pamit sang pelayan.

"Kau masih ingat dengan 'Lemon tea' ya, Dei?" Tanya Minato.

"Tentu saja, 3 tahun kita bersama. Mana mungkin aku lupa, un" Jawab Deidara.

"Pasti akan lebih enak jika kau yang membuatkannya untuk ku" gumam Minato.

"Tadi kau bicara apa , un?" Tanya Deidara (yakin ia mendengar sesuatu dari bibir sang mantan suami).

.

.

.

.

Apartemen Kakashi

Hatake Kakashi, seorang pria dewasa berusia 25 tahun. Terlihat tengah bergelung manja dibawah selimut tebal. Cuaca begitu dingin malam ini. Sepi rasanya, Kakashi hendak pergi menuju apartemen milik Deidara. Akan tetapi, ia urungkan niatnya. Tidak mau ia mengganggu waktu istirahat pujaan hatinya itu. Ya, ia sendiri juga tahu jika tadi siang Deidara terlalu sibuk melayani pasien-pasiennya yang kebanyakan adalah anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ting..Tong..

Bel berbunyi..

Kakashi segera berjalan dengan gontai untuk membuka pintu. Dengan tampang malas, Kakashi menyambut tamunya. Sahabatnya, Kisame yang telah kembali dari New York terlihat membawa oleh-oleh untuk dirinya. Meskipun Kisame itu terlihat seram, akan tetapi Kisame memiliki hati yang baik dan perhatian pada teman-temannya. Itulah yang membuat Kakashi juga yang lainnya begitu care kepada pria berwajah layaknya hiu.

"Kau sudah pulang?" Tanya Kakashi, berbasa-basi.

"Begitulah, oh iya ini aku bawakan oleh-oleh untuk mu" Kisame menyerahkan bingkisan ke tangan Kakashi.

"Ayo masuk! Akan ku buatkan kopi hangat untuk mu" Kata Kakashi.

"Tidak usah, habis ini aku mau ke kantor lagi" Tolak Kisame

"Kau tidak lelah?"

"Tidak, aku pergi dulu ya" Pamit Kisame.

"Humm, hati-hati" seru Kakashi.

.

.

.

.

Minato melempar pandang ke arah Deidara yang tengah memangku putra mereka, Naruto yang sedang tidur. Tak sengaja, Deidara juga menoleh ke arah Minato. Kedua mata mereka saling bertemu. "Kau terlihat lelah, Dei" Kata Minato, melihat raut lelah di wajah mantan istrinya. "Ya, tadi siang banyak pasien yang datang ke tempat praktek ku" Sahut Deidara, sambil mengulas senyum kepada suaminya (mantan).

"Tidurlah" seru Minato, pria bersurai blonde itu melirik sang buah hati yang tengah tertidur sambil mengemut ibu jarinya. Imut, begitulah menurut Minato. "Dia sudah besar ya" Kata Minato. Deidara menoleh ke arah buah hatinya yang tengah tertidur di pangkuannya. "Ya, cepat sekali...padahal, masih teringat bagaimana rasanya ia berada di perut ku, un" Timpal Deidara, sambil menutup matanya dan tersenyum.

Perasaan sedih, miris, menyesal, kembali dirasakan pria yang genap berusia 26 tahun itu. Rasanya, ia benar-benar menjadi seorang pria brengsek yang sering menyakiti perasaan seorang wanita, terlebih wanita itu adalah istrinya sendiri. "Maaf" Ucap Minato. "Kau tak perlu minta maaf, lagi pula itu sudah berlalu, un" Tukas Deidara.

"Dei, aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu, un" jawab Deidara.

"Apa yang membuat mu tidak menikah sampai saat ini?" Tanya Minato, To the point.

"Entahlah, un" Jawab Deidara-melemparkan pandangannya ke arah lain.

"Kalau seandainya pria bersurai perak itu mengajak mu menikah, apa kau mau menerima lamarannya?" Tanya Minato.

"Kenapa itu yang kamu tanyakan sih, un" protes Deidara-menggeser pelan tubuhnya, agar putra mereka tidak terganggu. "Jawab saja!" Seru Minato (memaksa). "Iya" jawab Deidara sekenanya. "Begitu ya" lirih Minato. Sedih, siapa yang tidak sedih? Orang yang kau cintai lebih memilih orang lain dibanding diri mu. Pernahkah merasakan seperti? Ku rasa pernah, tak ada orang yang pernah bisa lari dari rasa sakit hati, guys!

.

.

.

.

1 jam kemudian, akhirnya mereka tiba di apartemen. Langsung saja, keduanya (Plus Naruto yang berada digendongan sang ayah) menaiki lift. Malam memang semakin larut, tapi Minato tetap bersikeras untuk mengantar Deidara, dia tak mau jika mantan istrinya diganggu oleh laki-laki hidung belang. Maka dari itu, malam pun ia tetap mengantar mantan istrinya menuju apartemen milik mantan istrinya itu.

«Grey Misa»

"Wajahnya damai sekali saat tidur" bisik Minato tepat di telinga sang istri. Kini mereka berdua sudah berada di kamar sang istri dan putra tunggal mereka. "Ya, wajahnya sangat mirip dengan mu" Timpal Deidara. "Tentu saja, aku kan ayahnya" kata Minato, bangga. "Kau memang ayahnya, un" Deidara berjalan meninggalkan Minato, hendak ke kamar mandi.

.

.

Kamar mandi

"Ada-ada saja, dia kan ayahnya tentu saja mirip, un" Gumam Deidara, berusaha membuka dress berwarna putih yang ia kenakan saat makan malam bersama ayah dari putra tunggalnya itu. Diperhatikan baik-baik tubuh mulusnya di depan cermin. Dalam diam Deidara berpikir, mungkinkah ia mendapatkan seorang pria yang tulus mencintai dirinya, bukan karena wajah dan bentuk tubuhnya yang bak model itu? Terkadang memang merepotkan menjadi orang cantik.

Sulit menemukan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya. (Terkadang author juga berpikir, apakah orang cantik akan dicintai karena hatinya? Mungkin saja iya, mungkin saja tida, jawaban ya, bisa jadi!). "Apa ada seorang pria yang tulus mencintai ku?" Tanya Deidara, entah pada siapa.

.

.

Minato terus mencari-cari keberadaan Deidara. Entah ada dimana wanita bertubuh sexy itu. "Dimana sih" Minato terus mencari, di dapur tidak ada, di ruang tengah juga tidak ada, di ruang tamu juga tidak ada. "Kamar mandi" Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepala Minato. Sang pewaris tunggal Namikaze itu kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia harap semoga mantan istrinya itu ada di kamar mandi.

Tak terasa akhirnya Minato tiba di depan pintu kamar mandi. Pasti tidak di kunci, Minato pun membuka kenop pintu. Dan ya, benar saja pintu tidak terkunci. Tidak menyadari dengan apa yang terjadi, Minato pun kembali menutup kenop pintu dari dalam.

Deidara terkejut saat melihat mantan suaminya memasuki kamar mandi, saat dirinya dalam keadaan Naked seperti itu. Masih belum sadar, Minato berjalan mendekati Deidara yang tengah berdiri di depan wastafel. Deidara melangkah mundur, namun keberadaan wastafel membuat ruang gerak mundurnya terhalangi.

"Mi..Minato, s..sedang a..a..apa"

"Ternyata kau disini, aku mencari mu dari tadi" Kata Minato (masih belum sadar dengan keadaan di dalam kamar mandi). Melihat raut wajah khawatir Deidara, Minato merasa heran. Apa yang terjadi? Disentuhnya pelan pipi Deidara. "Kau kenapa Dei?" Tanya Minato.

Deidara sedikit memberontak, namun sayang tenaganya jauh lebih kecil dibanding tenaga mantan suaminya. Duh, Minato kenapa tidak sadar-sadar juga sih? "Dei, jangan mundur-mundur! Memangnya aku ini kenapa?" Tanya Minato. Heran? Tentu saja, memangnya dia ini hantu apa? (Ish, bukan itu yang Dei-chan maksud).

Pria bersurai blonde itu pun memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari sang istri. Ditatapnya dalam-dalam lekuk-lekuk tubuh sang istri. Masih belum sadar..

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Juga masih belum sadar..

Kedip..

Kedip..

Ked-

"Astaga, kemana baju mu Dei?" Tanya Minato, sepertinya ia baru menyadari apa yang barusan ia lihat. Seakan menjadi seorang bocah polos, Minato malah bertanya dimana baju yang Deidara pakai. "Kau ini menyebalkan, aku kan mau mandi! Tapi kau malah masuk, un" sahut Deidara, ia hampir menangis saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi.

"Maaf-maaf, aku tidak tahu..lagian kalau mau mandi kenapa tidak ajak-ajak aku?" Tanya Minato.

"Mesum!" Pekik Deidara, hendak melemparkan botol shampo ke wajah Minato. Namun, Minato dengan gesit menghindar dan berlari keluar dari kamar mandi. "Tidak kena, blee" goda Minato. "Menyebalkan, un" Deidara menyilangkan tangannya ke dada. Wajahnya memanas saat mengingat Minato. Disentuhnya pelan pipi mulus miliknya, "aku ini kenapa" gumam Deidara.

.

.

.

Karin's Apartment

Sabtu pagi adalah hari dimana ibu dua orang anak kembar ini bisa dengan bebasnya menemani dan menjaga kedua buah hatinya. Diperhatikannya kedua buah hatinya yang sedang asyik menonton acara kartun mingguan kesukaannya sambil menikmati sereal coklat yang disajikan sang ibu.

Keduanya berteriak-teriak histeris, saling menyemangati tokoh jagoan mereka masing-masing. Tidak merasa terganggu, wanita bernama Karin itu meneruskan kembali kegiatan memasaknya. Meski hidup menjadi seorang single parent, tetapi Karin tidak pernah suka mengeluh.

Untuk apa ia mengeluh? Ia tidak mau orang-orang menertawai dirinya. Tidak, tidak akan dibiarkan hal itu terjadi. "Humm, mama jam belapa sekalang?" Tanya Kyuubi kecil. "Jam 7 pagi, kenapa memangnya nak?" Karin balik bertanya. "Kami mau ke apaltemen paman Yahiko, kan Paman Yahiko janji mau mengajak kita memancing" Kata Nagato.

"Memancing" beo Karin.

"Iya ma, kata paman Yahiko, ia mau mengajak kita memancing bersama paman Itachi, temannya paman Yahiko" Timpal Kyuubi.

"Memangnya kalian bisa memancing?" Tanya Karin-mengecilkan kompor, yang menurut dirinya menyala sedikit besar. "Kan, paman Yahiko yang mengajalkan" jawab Kyuubi.

Heran kenapa kedua putranya bisa seakrab itu dengan Yahiko, Karin sebagai ibu terus bertanya-tanya. Kenapa Yahiko mau mengajak main kedua putranya? Apa gerangan pria bersurai jingga itu? Mungkinkah, Yahiko adalah seorang pedofil? Tidak, Karin tidak mau berpikiran negatif seperti itu. Tapi apa? Perasaan penasaran dirinya terus ia rasakan.

Ting..Tong..

"Itu pasti paman Yahiko" kata Kyuubi. Kyuubi kecil segera berlari tak lupa menyambar topi berwarna biru miliknya. Diikuti oleh Nagato yang berlari kecil dibelakangnya.

Cklek..

"Hi, anak-anak" sapa seorang pria berwajah tampan dengan surai jingga dan bertubuh tinggi. Keduanya bersorak senang saat melihat orang yang mereka tunggu-tunggu telah tiba. Kyuubi dan Nagato pun segera mempersilahkan dua orang itu untuk masuk ke ruang tamu.

.

.

"Oh, Yahiko-kun ya.. Mari masuk, sebentar ya aku akan menyiapkan minuman untuk kalian" Kata Karin. Wanita berkacamata itu segera berjalan menuju dapur guna menyiapkan hidangan untuk tamunya itu. Sedangkan 2 putra kembarnya tengah bersiap-siap untuk pergi memancing bersama Yahiko.

« Grey Misa »

"Jadi, dia yang namanya Karin?" Tanya Itachi. Yahiko mengangguk pelan, menimpali pertanyaan dari sahabatnya. "Bagaimana menurut mu?". "Cantik, tapi sepertinya dua putra nya itu 'agak' nakal" Kata Itachi. Baru saja hendak menjawab pertanyaan Itachi, tiba-tiba saja kedua bocah kembar itu sudah mulai terlihat tengah berlari-larian menuju ruang tamu.

"Kita pelgi memancing, ye..ye..yee" senandung riang balita kembar terdengar begitu jelas di telinga kedua pria dewasa itu. "Kau pandai sekali merebut hati keduanya" bisik Itachi. Yahiko mendengus geli mendengar perkataan sahabatnya itu. Heheheheh, jika soal seperti ini sih, Yahiko jago nya.

.

.

.

.

Hinata's Apartment

"Hinata-Nee, nanti sepertinya aku akan pulang agak telat dari biasanya" Ujar seorang gadis bersurai coklat tua, kira-kira baru berusia 17 tahun itu. Hinata yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua, menoleh dan mendapati adik semata wayangnya sudah rapih (hendak bepergian). "Memangnya kamu ingin kemana?" Tanya Hinata.

"Ada kerja kelompok..Oh iya, tadi malam Ayah menelpon dia menanyakan keadaan Nee-chan, dan juga Cucu pertamanya" Kata gadis bernama Hanabi itu-sambil mencicipi masakan yang tengah dimasak oleh kakak sulungnya. "Benarkah? Sarapan lah sebelum berangkat, Hanabi-chan" Hinata mengingatkan sang adik untuk sarapan sebelum pergi.

"Nee, Neji-kun sudah selesai mengerjakan PR nya?" Tanya Hinata, saat melihat putra nya sudah berada di meja makan. Putranya memang pintar, jadi tak heran jika Neji bisa mengerjakan PR nya dalam waktu singkat. Bocah berusia 7 tahun itu memang terlihat pintar sekaligus sedikit pendiam. Ya, Neji jarang berbicara dengan orang lain. Tapi jika dengan keluarga sendiri, sikapnya akan berubah sangat manja. "Sudah" Jawab Neji, kalem.

"Bibi akan pergi ya? Neji boleh ikut?" Tanya bocah bermata bak bulan di malam hari itu. "Eh, tidak bisa sayang! Bibi perginya lama, kamu nanti bosan lagi" Hanabi menyamakan tingginya dengan keponakan kesayangannya. Lembut, dibelainya surai panjang berwarna coklat milik bocah yang baru berusia 7 tahun itu.

"Bagaimana jika kalau nanti pulang bibi belikan takoyaki?" Usul Hanabi. "Benarkah?" Tanya Neji. Gadis bersurai coklat itu mengangguk pelan, dikecupnya singkat kening putih susu keponakannya itu. "Cepat habiskan sarapan mu, kau tak mau kehilangan waktu bermain dengan Gaara-chan kan" Canda Hanabi.

Semburat merah mewarnai pipi nya. Bibinya memang suka sekali menggodanya, apalagi jika mengenai Gaara. Tapi, Neji akui. Neji memang menyukai balita yang berada 3 tahun dibawahnya itu. Gaara yang masih berbicara cadel, dan bertingkah polos benar-benar membuat Neji jatuh hatinya padanya, dan berjanji akan selalu melindungi balita itu.

.

.

.

.

"Ada-ada saja, masa papa meminta ku pindah ke desa sih" gerutu seorang bocah bersurai raven yang kira-kira masih berusia 7 tahun. Wajah pucat bak porselennya terlihat kusut akibat marah-marah berkepanjangan. Sejak tiba di bandara, Uchiha Sasuke memang sudah menunjukan tampang tak sukanya dengan desa yang akan ia tinggali.

Kesal..

Kesal sekali, kenapa ayahnya seenaknya saja meminta ia tinggal di desa ini? Padahal kan, Sasuke masih suka tinggal di Brazil dimana banyak tante-tante bertubuh sexy dan berparas cantik di sana. Ya, karena itulah Sasuke lebih betah tinggal di Amerika bagian Selatan, dibanding negaranya kelahiran nya dan juga orang tuanya.

Kakashi menggelengkan kepalanya pelan mendengar gerutu juga umpatan-umpatan kasar dari anak kecil yang bahkan belum boleh berkata sekasar itu. Heran, kenapa tiba-tiba keponakannya itu tumbuh menjadi seorang bocah yang suka mengumpat kasar seperti itu? Apakah di Brazil, tak ada yang mengajari sopan santun kepada nya?

"Jangan menggerutu seperti itu, kau juga akan suka tinggal di sini" kata Kakashi-memfokuskan diri mengemudikan mobil. Sasuke menoleh ke arah Kakashi, mencari tahu apakah benar yang dikatakan oleh pamannya itu? "Memangnya di sini ada banyak tante-tante cantik?" Tanya Sasuke.

Jawsdropped..

Layaknya orang-orang idiot, Kakashi hampir saja menabrak ibu-ibu bertubuh gembrot yang hendak menyeberang. Terkejut, Kakashi sangat terkejut. Terantuk apa kepala bocah satu ini? Apakah Sasuke sedang kerasukan? Apakah Sasuke habis terbentur sesuatu yang keras hingga mengakibatkan miringnya otak putra tunggal dari Uchiha Itachi ini? Atau mungkin, Sasuke adalah seorang bocah mesum? Yang mewarisi tingat kemesuman tertinggi clan Uchiha? Ku rasa 'iya' untuk jawaban ke-3.

"Kau bisa menilainya nanti" kata Kakashi, mulai membayangkan kecantikan janda sexy anak 1 bersurai blonde, yang sudah kita ketahui siapa gerangan.

.

.

.

.

Seperti kebanyakan anak-anak seusianya, Naruto memang senang sekali mengantar ayahnya yang hendak bekerja. Tentu saja, Minato harus berangkat ke Paris untuk mengurusi perusahaannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia bisa menghabisi waktunya bersama putra tunggalnya itu.

Tapi kini, Jemputan pun menunggu untuk mengantar dirinya menuju bandara. Naruto yang memakai baju terusan berwarna putih memeluk erat leher sang papa yang tengah menggendongnya itu. Diiringi sang ibu yang berjalan disamping sang ayah, dan beberapa orang butler yang mengangkut barang-barang pewaris tunggal Namikaze itu.

"Kalau cudah campai jangan lupa hubungi Nalu ya, pa" Kata Naruto.

"Tentu saja...kau jangan nakal ya, sayang" sahut Minato, mencium pipi gembil buah hatinya itu.

Deidara terkekeh pelan melihat sikap manja putranya pada sang ayah. Naruto kecil memang sangat suka bertingkah manja dihadapan Minato. Wanita bersurai blonde itu mencubit pelan pipi gembil buah hatinya. Tidak ada rontaan, Naruto kecil tertawa geli saat sang ibu mengecup singkat pipinya.

"Hati-hati ya, un" kata Deidara-mengambil tubuh mungil Naruto dari gendongan ayahnya.

Cup..

Sebelum memasuki mobil jemputan, Minato tak lupa mengecup singkat buah hatinya. "Papa, halusc cium mama juga" Pinta Naruto. "Eh?" Keduanya terpekik kaget mendengar permintaan sang buah hati. "Nalu mau liat papa cium pipi mama" kata Naruto.

Minato menatap Deidara yang sama Nervousnya seperti dirinya. Duhh, gusti.. Ada-ada saja, Naruto ini. "Tak apa?" Bisik Minato. Deidara mengangguk pelan dan membiarkan suaminya mengecup keningnya, ciuman kasih sayang yang ia berikan untuk mantan istrinya itu. "Jaa, papa!" Teriak Naruto, sambil melambai-lambaikan tangannya.

.

.

.

.

Kakashi's Apartment

Kakashi memijat pelipisnya akibat rasa pusing yang ia rasakan, saat keponakannya tiba di Konoha. Sasuke, bocah berusia 7 tahun itu tampak enggan untuk berhenti mengumpat kepada sang ayah. Itachi, memang tidak menyambut putranya itu, jadi Sasuke mengira sang ayah sudah menemukan wanita lain dan lebih memilih anak tirinya dibanding dirinya yang notabene adalah putra kandungnya.

"Sasuke, ayo makan!" Seru Kakashi.

Sasuke menoleh Kakashi dan menatap tajam pria bersurai perak itu. Melihat tatapan 'Jangan-ganggu-aku-atau-mati-kau' dari Sasuke, Kakashi pun akhirnya lebih memilih diam, dan membiarkan Uchiha Sasuke, melakukan hal yang ia sukai (membuat kamar apartemen Kakashi berantakan adalah hal yang Sasuke sukai).

'Ya tuhan, Itachi cepatlah pulang' Kakashi berdoa dalam hati.

Sasuke kecil menolehkan kepalanya ke arah jendela dimana terlihat seorang balita berparas manis tengah menyikat giginya di temani seorang wanita bersurai blonde dari apartemen yang berbeda darinya. Bocah bersurai raven itu memperhatikan tanpa berkedip. Seolah terhipnotis oleh sosok blonde mungil yang terlihat tengah menyikat giginya.

"Siapa dia?" Tanya Sasuke.

Kakashi melempar pandangannya ke arah pandangan sang raven. Terlihat olehnya, Deidara yang tengah menggendong putra tunggalnya dan mengecup singkat kening balita berusia 4 tahun itu. Kedua mata Kakashi terbelalak melihat keduanya.

"Nee, Sasuke mau berkenalan dengan anak itu?" Tanya Kakashi.

Sasuke menganggukan kepalanya, Tanpa ia sadari sosok dewasa dihadapannya itu menyeringai setan melihat tanggapannya. "Ayo kita pergi!" Ajak Kakashi. "Memangnya mau kemana?" Tanya Sasuke. 'Tentu saja kencan' batin Kakashi sweatdropped.

.

.

.

.

* Taman Bermain *

Dua orang balita berusia 4 tahun-an kelihatannya tengah menunggu seseorang sedari tadi. Mereka berdua terlihat keringatan, maklum saja sudah 1 jam lamanya ia menunggu teman polos mereka yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Menyebalkan, padahalkan mereka sudah berjanji akan bermain bola bersama hari ini.

Si balita bersurai merah bata meletakan bola plastik kesayangannya di samping kanannya. "Nalu-chan lama" Ujar nya. "Hu'um, lama" temannya yang satu membenarkan. "Hah, Nalu-chan itu kok tumben cih lama". "Iya, biacanya juga ndak" Timpal balita bersurai brunette.

Seorang pria dewasa bersurai merah maroon yang melihat dua balita tersebut (apalagi satu diantaranya adalah anak dari pujaan hatinya itu) kegirangan. Dengan berusaha payah menyembunyikan tampang mesum, Om-om satu ini pun berjalan mendekati dua balita itu.

"Hey, Gaa-chan" sapa pria itu.

Balita yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. Mendapati ada om-om bertampan mesum, balita bernama Gaara itu terlihat sedikit ketakutan (karena dikira Sasori adalah seorang pedofil). "Om Caco" Takut-takut, Gaara menyapa Sasori. "Kok, main sendiri? Mana mamanya?" Tanya Sasori-melupakan kehadiran balita bersurai brunette, Kiba.

"Mama lagi macak, Humm.. Gaala mau main cama Nalu-chan dan Kiba-chan, tapi dali tadi Nalu ndak juga datang (Mama lagi masak, humm..Gaala mau main bersama Naru-chan dan Kiba-chan, tapi dari tadi Nalu tidak juga datang)" Jelas Gaara.

Sasori menoleh ke arah balita bersurai brunette yang menatap heran dirinya. "Mungkin Naru-chan sedang sibuk, main sama Om Sasori saja ya" kata Sasori seraya mengambil bola plastik milik Gaara. Kedua balita itu mengangguk pelan dan akhirnya membolehkan Sasori ikut bermain bola bersama mereka.

Tanpa mereka sadari, seorang wanita bersurai merah jambu tersenyum saat melihat seorang pria bersurai merah maroon mau menjaga putranya selagi ia tengah berkutat di dapur. Wanita bernama Haruno Sakura itu pun mendudukan dirinya di bangku dimana tadi putra tunggalnya duduk. Diletakannya bingkisan yang ia bawa. Ada 3 bento di dalamnya. Tadinya ia berniat akan memberikannya pada si kecil Naru, tapi Sasori lah yang lebih dulu berada di sana. Ia pikir, Naruto tidak ada, jadi daripada tak ada yang makan, lebih baik Sasori yang makan.

.

.

.

.

Kemudian kita tengok seorang wanita bersurai blonde kecoklatan yang tengah kepayahan menggeret koper besar miliknya. Tak habis pikir Temari dengan stasiun TV tempat ia bekerja. Bagaimana tidak? Hari libur pun, ia sudah harus kembali berangkat bekerja untuk meliput acara pernikahan seorang model kontroversial, di Iwagakure.

Menyebalkan memang, tapi ya mau bagaimana lagi itukan pekerjaannya, karirnya, tentu saja ia harus mencintai pekerjaannya bukan?

"Aduuhh, berat sekali" gerutu wanita bersurai blonde yang kini tengah di ikat satu itu (biasanya kan ikat 4, tapi ceritanya Temari malas untuk mengikat rambutnya menjadi 4 bagian). Balutan kemeja berwarna hitam, dan rok pendek yang senada dengan kemeja nya membuat lekukan-lekukan indah ditubuhnya benar-benar terlihat begitu jelas.

Diusianya yang sudah menginjak usia 24 tahun, seharusnya memang ia sudah memiliki seorang kekasih, atau bahkan seorang suami. Akan tetapi karena pekerjaannya yang sibuk menyita banyak waktunya. Bukan cuma itu saja, Temari memang tidak handal dalam percintaan. Tentu saja, karena masa lalu cintanya yang buruk membuat dirinya enggan untuk melepas masa single nya.

Temari terus berjalan dengan tergesa-gesa tanpa melihat orang yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Keduanya tidak menyadari jika mereka akan berakhir saling terjatuh dengan bokong yang menghantam lantai dan cenat-cenut rasanya.

Dan..

Bruukk..

"Ittai.." Pekik Temari.

"Are, sakit nya"

Temari mendongakan kepalanya, dan seorang pria bersurai keperakan terlihat tengah mengusap pelan bokongnya. "KAU!" Temari menunjuk sang pria yang sudah seenaknya saja menabraknya itu. "Hah" Pria itu terkejut bukan kepalang. Seorang wanita bertubuh sexy (meskipun tetap Dei-Dei lah yang masih sexy) yang terjatuh tertabrak olehnya.

"Punya mata tidak sih" Protes Temari.

"Montok nya" Puji seorang bocah yang sedari tadi memperhatikan sosok wanita di depannya.

"EH" kedua orang dewasa itu terpekik kaget, dan secara slow motion menoleh ke arah bocah berusia 7 tahun yang tengah menatap lapar wanita itu. "Apa-apaan kau, dasar mesum!" Temari memprotes sosok bocah mesum berwajah tampan itu. Kakashi (nama pria itu) juga masih terkejut dengan sikap Sasuke. 'Sasuke, kau' Miris, Kakashi benar-benar miris, ingatkan dia untuk menegur Itachi yang telah membiarkan Sasuke tanpa pengasuhan yang baik darinya.

"Mana nya yang sakit?" Tanya Kakashi, melepaskan sepatu hak tinggi berwarna hitam milik Temari. Belum melihat luka Temari, tiba-tiba saja Temari menghantamkan kaki jenjangnya ke arah wajah Kakashi. "Dasar mesum, menyebalkan!" Temari segera beranjak dan mengambil sepatunya dari tangan Kakashi.

Kakashi sendiri masih terlihat syok. Mendapat tenangan dari seorang wanita cantik tepat di wajah mu, pernahkah kau membayangkannya?

"Ayah dan anak sama saja, menyebalkan!" Umpat Temari.

Kenapa ia selalu sial ketika berada di hadapan orang-orang ganteng? Kenapa? Tidak kah itu menyedihkan, bahkan sangat memalukan. Padahalkan, dia juga mau punya cowok ganteng, suami ganteng, eh kaya (ding) hahahaha, ganteng no. 2 saja kali ya.

Tanpa ia sadari air mata menetes dari sudut matanya. Mengingat bahwa tadi ia telah berlaku kasar pada seorang pria tampan yang hendak menolongnya itu. Bukan, Temari tak bermaksud menendang wajah pria tersebut. Itu refleks, dan tidak sengaja. Dia itu tak pernah di sentuh oleh seorang laki-laki, jadi wajar saja kan dia kaget.

Temari berbalik badan, dan melihat sang pria yang masih duduk memegangi wajahnya (dengan anak kecil menatap miris padanya). Wanita itu pun melepaskan sepatu hak tinggi milik nya, dan berlari menghampiri pria itu.

Disamakannya posisi dirinya dengan sang pria. "Maaf" Lirih Temari. Pria bersurai perak itu menatap tak percaya, wanita yang sudah bersuka hati menghadiahkan tendangan maut ke arahnya. "Hiks, maaf.. Aku gak sengaja" Ulangnya.

Temari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Biarlah ia dikata cengeng, tapi ia memang tidak sengaja melakukan itu. Kalau pun sengaja, Temari tidak akan menendang dibagian wajah, jika masih ada bagian lain. Konyol sekali, Kakashi tak tahu apa yang harus Ia lakukan. Tak pernah ia melihat seorang wanita menangis dengan jarak sedekat ini dengannya.

Tak tega..

Akhirnya Kakashi memutuskan cara lain untuk membuat tangis Temari berhenti.

Cupp..

Ciuman singkat ia berikan tepat di bibir Temari. Tangisan Temari terhenti, tak percaya dengan apa yang ia rasakan. Kakashi menciumnya, mencium dirinya tepat dibagian mulutnya. I..ini, ciuman pertamanya, dan Kakashi lah yang pikir panjang, Temari pun kembali melayangkan tendangannya dan mengenai wajah Kakashi hingga pria itu terjungkal kebelakang. Sasuke yang melihat adegan romantis itu tertawa terpingkal-pingkal, melihat orang teraniaya mungkin adalah suatu kebahagian untuk bocah prodigy itu.

" DASAR MESUM " Teriak Temari.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hi, Minna..

Apa kabar?

Maaf ya Update nya lama :'(

Soalnya, Misa akhir-akhir ini sibuk! Mau minta Naru-chan terusin, Naru-chan nya juga lagi sibuk sama Desain buatannya yang memakan waktu 1 bulan ini. Sedih deh...

Oh, iya Minna sebelumnya Misa ucapin banyak terimakasih ya udah di Review..

Kayaknya mulai besok ceritanya bakalan diperkelompokin nih. Ngerti gak maksud Misa? Maksud Misa tuh, misalnya chapter ini cerita bagiannya si Dei-Dei, terus selanjutnya si Saku, dan begitu selanjutnya, jadi bisa diperkirakan gak makan banyak Chapter. Hehehehe..

Oh iya, kemaren ada yang nanya FB Misa apa ya? Hu'um, Misa gak punya FB, (Misa Kudet banget ya?). Maaf ya.. Ada juga FB nya Naru-chan, itu pun di Privasi sama dia nya. (Humm, entah apa maksud si Amoy satu ini, menyebalkan •_•).

Dan soal Update kilat?

Huummm, Kita lihat aja nanti..^^

Jaa, Jumpa Lagi

Mind To Review?