Uncontrolled Love

(Meanie Version)

Cast:

Jeon Wonwoo as Shu Nian

Kim Mingyu as Xie Yan

Genre: Romance, Boys Love

Rate: T-M

Disclaime:

Wonwoo dan Mingyu milik keluarga mereka dan milik Pledis Ent. Shu Nian milik Xie Yan, dan Wang Bowen milik Meng Rui. Dan aku hanyalah seseorang yang sangat mencintai mereka semua.

Author Note's:

Uncontrolled Love adalah sebuah Boys Love Movie Series dari China yang merupakan adaptasi dari Novel berjudul Force Majeure karya Lan Lin. Karena aku sangat menyukai kisah dan cast-nya, jadi aku tertarik membuatnya ke dalam Meanie Version dengan beberapa penyesuaian. Hope you like it.

Summary:

Jeon Wonwoo menyimpan cinta untuk Masternya, Kim Mingyu, selama lebih 20 tahun. Saat Mingyu mengetahuinya, ia malah menjauhkan Wonwoo dan mengirimnya ke luar negeri. Hidup keduanya berubah mulai saat itu.

Happy Reading

- Uncontrolled Love –

Previous Chap...

Aku keluar dari mobil, melihatnya memeluk dan mencium bibir seorang wanita. Begitu mesra dan intim. Mereka bahkan tidak peduli jika itu di tempat umum. Melihat itu membuatku terdiam, sesuatu di dalam tubuhku terasa nyeri. Aku tidak menyukai ini tapi aku tidak bisa melarangnya. Aku hanya menatap mereka tanpa bergerak, mematung di tempatku berdiri. Mingyu bercengkrama dengan wanita itu.

Chapter 3

"Wonwoo-ya, kemarilah."

Panggilan Mingyu membuat Wonwoo tersadar. Ia menarik nafas sebentar, mencoba menenangkan diri dan detakan jantungnya yang sekejap lalu berirama lebih cepat. Wonwoo melangkah mendekati Mingyu dan wanita yang tidak Wonwoo tahu siapa itu. Sempat terbersit dalam hatinya, mungkinkah itu kekasih Mingyu? Namun ia tidak mau terlalu memikirkannya sekarang.

"Kemarilah, aku akan memperkenalkannya padamu. Dia adalah..."

"Hello, namaku Chou Tzuyu, pacar Mingyu." Potong sang wanita, Mingyu tersenyum samar mendengar ucapan Tzuyu. "Kau pasti Jeon Wonwoo, kan? Mingyu sangat banyak menceritakan tentangmu."

Wonwoo memperhatikan senyum Tzuyu, dia adalah wanita yang sangat cantik. Bertubuh ramping, berambut panjang, kulit putih bersih, ditambah paras yang cantik dilengkapi selera fashion yang bagus. Wonwoo pikir, Tzuyu sangat cocok dengan Mingyu.

"Senang berkenalan tenganmu, Nona Chou." Jawab Wonwoo dengan penuh kesopanan.

"Kamu tidak terlihat seperti seorang pelayan. Kau sangat imut." Wonwoo menundukkan pandangannya mendengar ucapan Tzuyu.

"Hentikan itu." Ujar Mingyu dengan malas.

"Master, nikmati makan malammu dengan Nona Chou." Tzuyu tersenyum sinis mendengar ucapan Wonwoo. "Saya tidak akan mengganggu kalian. Kabari saja jika kalian sudah selesai, saya akan menjemput Master." Wonwoo membungkuk kecil dan hendak segera berbalik ke mobil.

"Hei, Kau mau kemana, huh? Kau tidak boleh pergi." Mingyu menarik Wonwoo dan merangkulnya.

"Aku yang akan memilih apa yang akan kita makan, ayo masuk."

Mingyu mengajak kedua orang berlainan jenis ini masuk ke dalam restoran. Seorang lelaki manis di sisi kirinya, yang ia rangkul dengan erat. Lalu seorang wanita cantik di sisi kanannya, dengan pelukan mesra di pinggang ramping sang wanita.

Mingyu lebih memilih duduk bersebelahan dengan Wonwoo dan berhadapan dengan Tzuyu. Semenjak duduk di meja yang sudah dipesankan oleh Miss Jung, sekretarisnya di kantor, suasana begitu canggung. Tzuyu sibuk dengan handphonenya, memotret Mingyu berulang kali dengan fitur kamera dari ponsel terbarunya itu. Sementara Wonwoo hanya duduk dengan kikuk, ia merasa tidak seharusnya ia berada di sini. Tetapi siapa yang bisa menolak perintah Kim Mingyu? Bahkan Wonwoo terlalu takut untuk hanya mengatakan 'tidak'.

"Selamat malam tuan, apakah anda sudah siap untuk memesan?" Seorang pelayan wanita menghampiri meja mereka, menyerahkan buku menu untuk dipilih oleh Mingyu.

Mingyu membolak balik daftar menu tersebut beberapa waktu untuk memilihkan menu yang akan mereka makan.

"Tolong tiga paket deluxe pasta seafood, ah yang satunya diganti dengan daging saja. Untuk minumnya tiga jus mangga."

"Baiklah, mohon tunggu sebentar, tuan." Sang pelayan mengambil buku menu dan beralih dari meja mereka.

Wonwoo memerhatikan wajah Tzuyu yang sedikit merengut.

"Sayang, aku sedang tidak ingin sesuatu yang manis. Aku sedang diet." Tzuyu merengek kepada Mingyu. Wonwoo menunduk, merasa pemikirannya tentang Tzuyu benar.

"Tapi Wonwoo menyukainya, iya kan?" Jawab Mingyu seraya bertanya dengan senyuman kepada Wonwoo.

Wonwoo kelagapan, ia merasa sangat-sangat tidak enak dengan Tzuyu. Ia jadi bingung harus menjawab apa.

Tzuyu mendengus, "Jangan-jangan pasta daging juga untuk Wonwoo?"

"Tentu saja, ia alergi dengan seafood." Wonwoo menunduk mendengar jawaban Mingyu. Di lain sisi, rona tidak senang semakin terlihat di wajah Tzuyu.

"Aku tidak pernah tahu jika Master Mingyu bisa sangat perhatian seperti itu." Serunya dengan sinis. "Orang yang tidak mengenal kita mungkin akan berpikir jika ..." Tzuyu melambatkan ucapannya di sini, seolah memancing Mingyu untuk bertanya.

"Berpikir apa?" Berhasil, Mingyu tertarik dengan ucapannya.

"Berpikir jika ia adalah kekasihmu dan aku hanya lah orang ketiga di sini." Jawab Tzuyu santai tapi matanya melirik tajam ke arah Wonwoo.

Mendengar itu membuat Wonwoo terkesiap.

"Ah, kau sungguh lucu, Nona Chou. Aku adalah pelayannya semenjak aku kecil." Jawab Wonwoo mencoba untuk menghentikan pemikiran Tzuyu.

"Karena itulah hal itu bisa terjadi seiring berjalannya waktu." Wonwoo terbelalak mendengar argumen dari Tzuyu.

"Sebaiknya kau memerhatikannya, ia mungkin saja mempunyai gairah seperti seorang gay." Sinis Tzuyu.

"Kau sudah selesai?" Geram Mingyu membuat yang lain terkaget.

"Aku mengatakannya bukan tanpa alasan." Seru Tzuyu tidak mau kalah.

"Dia sangat mirip dengan teman dari teman lelaki British yang aku temui beberapa waktu yang lalu. Penampilannya sangat feminim." Entah kenapa Wonwoo merasa was-was mendengar cerita Tzuyu.

"Coba tebak, mereka tinggal bersama setiap hari, bahkan pergi shopping dengan berpegangan tangan."

Brakkk

"Tutup mulutmu, Chou Tzuyu!" Mingyu menggeprak meja. Ia melotot dan terlihat sangat marah.

"Aku sangat benci dengan semua hal itu." Entah kenapa Wonwoo merasa tidak nyaman, mungkin lebih tepatnya sedih mendengar ucapan Mingyu.

"Aku tidak peduli dengan orang lain, tapi jika kau berani mengaitkanku pada hal-hal seperti itu, jangan salahkan aku jika mencampakkanmu." Hardik Mingyu seraya membuka dompetnya dan melemparkan sebuah kartu kredit ke atas meja.

Tzuyu terbelalak, sementara Wonwoo hanya dapat menunguk, tidak bisa berkata apapun, lagi pula ia tidak mempunyai hak untuk berbicara.

Mingyu segera berlalu dan meninggalkan mereka berdua dengan emosi yang membuncah. Ia sangat marah, kesal, dan benci dengan segala tuduhan Tzuyu.

"Mingyu-ya, aku hanya bercanda. Kim Mingyu!" Panggil Tzuyu saat Mingyu sudah pergi. Wonwoo pun segera bangkit dan mengejar masternya tersebut. Mereka kembali kerumah dengan keadaan buruk.

- Uncontrolled Love –

Mingyu membanting pintu rumah dengan kasar. Amarahnya masih memuncak. Ia melepaskan coatnya dengan terburu-buru dan melemparkannya asal. Di belakangnya Wonwoo mengikuti, menutup pintu dengan pelan dan membereskan kekacauan yang dilakukan tuan mudanya.. Wonwoo mendekat, mencoba untuk berbicara dengan Mingyu.

"Master, Nona Tzuyu pasti tidak bermaksud seperti itu, ia hanya bercanda mengenai temannya itu."

"Bercanda juga ada batasannya." Sergahnya dengan cepat.

"Lelaki dan lelaki, itu penyakit." Seru Mingyu lagi dengan tajam. Ucapan Mingyu melukai hati Wonwoo.

"Aku tidak akan terganggu jika ia mengatakan itu dihari yang lain, tapi hari ini? Di depanmu? Itu sangat menggangguku." Lagi-lagi Wonwoo menunduk prihatin.

"Ia pasti melakukan itu dengan sengaja."

"Tuan Muda, perasaan itu tidak dibatasi oleh jenis kelamin."

"Aku lapar, dimana Jaera? Tidak adakah yang membuat makanan?" Mingyu mengabaikan ucapan Wonwoo, dan Wonwoo sangat memakluminya.

"Nona Jaera pulang ke rumah untuk menjenguk anaknya. Aku tidak tahu jika Master akan pulang ke rumah untuk makan malam." Pandangan Mingyu tidak terlepas dari Wonwoo, suasana ini sedikit terasa canggung.

"Mungkin sebaiknya Master pulang ke rumah orang tuamu, mereka pasti sudah memasak banyak makanan kesukaanmu." Tambah Wonwoo lagi.

"Tidak." Bantah Mingyu dengan cepat.

"Eum, kalau begitu saya akan mengantarkan Master ke restoran terdekat saja, bagaimana?" Tawar Wonwoo lagi.

"Aku lelah." Tukas Mingyu.

"Bagaimana kalau delivery order?" Wonwoo hampir kehabisan ide jika ini juga di tolak.

"Itu tidak bersih, tidak mau." Tolak Mingyu dengan raut keberatan yang sangat kentara. Ia pecinta kebersihan dan kenyamanan.

Mendapatkan penolakan kesekian kalinya membuat Wonwoo mendesah kasar. Tuan mudanya ini memang terlalu pemilih dan sangat pemaksa.

"Mungkin ada sesuatu di dalam kulkas, aku bisa memasak jika anda bersedia menunggu." Wonwoo menawarkan dengan ragu-ragu. Kadang ia menyesali kenapa tuan mudanya ini sangatlah keras ketika menginginkan sesuatu.

Mingyu merebahkan tubuh tegapnya di sandaran sofa, kedua tangannya ia naikkan ke atas. Ia merasa nyaman seketika. Mungkin juga ia merasa senang karena berhasil membuat seorang Jeon Wonwoo memasak untuknya.

"OK."

Hanya itu balasan dari Mingyu. Wonwoo tersenyum kecil. Entah ia merasa senang atau kesal dengan tingkah sang tuan muda.

Sementara itu, Mingyu tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya semua anjuran Wonwoo tadi ia tolak hanya sebagai alasan saja. Ia begitu merindukan masakan Wonwoo dan terlalu malas untuk menyuruh Wonwoo memasak untuknya secara gamblang. Lagipula sedikit mempermainkan Wonwoo jelas menjadi hiburan tersendiri bagi Mingyu.

Wonwoo mulai berkutat dengan bahan-bahan yang ia temukan di kulkas. Mungkin ia akan membuat daging tumis dan telur dadar, mengingat hanya itu yang tersisa. Salahkan Mingyu yang muncul tiba-tiba tadi pagi, jadi ia dan Jaera -koki di rumah Mingyu- belum sempat berbelanja. Mereka baru berencana akan ke pasar hari sabtu nanti. Wonwoo jadi berdecak kesal mengingat hal itu.

Dengan telaten Wonwoo mengiris daging menjadi bagian yang tipis-tipis. Ia cukup mahir melakukan hal ini, karena selama ini ia memasak untuk dirinya sendiri. Jaera tidak banyak membantu karena Wonwoo tidak ingin merepotkan sang koki. Ia hanya merasa tidak pantas mendapatkan layanan, sementara ia sendiri adalah seorang pelayan.

Sepertinya Wonwoo terlalu terlarut dalam suasana memasaknya, hingga ia sesekali tersenyum dengan manis. Tumis daging hampir matang , ia tinggal memotong paprika dan mencampurkannya dengan daging. Lalu Wonwoo memecahkan dua butir telur untuk ia bikin telur dadar. Ia baru saja selesai mengiris paprika saat Mingyu berteriak dari ruang makan.

"Wonwoo-ya, makanannya belum siap?"

"Iya, hampir selesai, sebentar." Jawab Wonwoo.

Tangannya terus bergerak dengan lincah, namun gerakannya terhenti saat Mingyu datang dan menubrukkan dirinya pada punggung kecil Wonwoo.

"Wonwoo-ya, aku lapar." Seru Mingyu sangat dekat dengan telinga Wonwoo. Tangannya melingkar erat di pinggang Wonwoo.

"Hampir selesai, satu menit lagi." Jawab Wonwoo. Dengan gerakan cepat Wonwoo memasukkan paprika ke dalam tumisan lalu mengaduknya dengan cekatan.

"Masih harus menunggu?" Mingyu dapat melihat telur yang masih berada di dalam mangkuk kecil itu. Mingyu merengut karena hal itu, ia meletakkan dagunya pada pundak Wonwoo.

"Eumm."

"Jika tidak ada yang bisa segera aku makan, maka aku akan memakanmu, aeungh." Mingyu mengulum dan menggigit telinga Wonwoo.

"Aah, Master ini akan selesai dalam beberapa detik." Tubuh Wonwoo langsung bergetar hebat. Nafas hangat Mingyu menerpa kulit tipisnya menciptakan sensasi hangat di sana. Ia menarik pundaknya menjauh tapi Mingyu menahannya. Jantung Wonwoo berdebar-debar. Ia berusaha menahan kewarasannya.

"Aku sudah selesai memakan telinganya, selanjutnya apakah wajah?" Bisik Mingyu yang terdengar begitu sensual di telinga Wonwoo.

"Aaa, selesai." Teriak Wonwoo. Tangan putihnya bergerak semakin cepat, lalu menyerahkan sepiring daging tumis ke hadapan Mingyu.

Setelah menerima makan malamnya, Mingyu segera meninggalkan dapur tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sementara Wonwoo, ia merasa lemas seolah-oleh baru saja dikejutkan sesuatu yang sangat hebat. Nafasnya menderu-deru, membuat dadanya naik turun dengan ritme yang cepat. Wonwoo ketakutan sekaligus merasa senang. Perasaannya campur aduk, tapi ia harus segera menormalkan keadaan dirinya untuk bisa berhadapan dengan Mingyu lagi.

Mingyu makan dengan sangat lahap saat Wonwoo datang dengan sepiring telur dadar.

"Jeon Wonwoo memang yang terbaik. Kau sangat tahu seleraku." Wonwoo mendudukkan dirinya di samping Mingyu, mencoba untuk mulai makan dengan tenang.

"Nah, coba ini, buka mulutmu." Mingyu menyodorkan sepotong daging ke arahnya. Wonwoo membuka mulutnya perlahan, menerima suapan daging hasil masakannya sendiri. Rasa dagingnya jadi berubah.

"Bagaimana, enak kan?" Wonwoo mengangguk.

"Aku ingin makan sup rumput laut sebelum tidur nanti."

"Err, apakah kau akan menginap di sini?" Wonwoo mengarahkan pandangannya ke wajah Mingyu.

Mingyu pun melihat Wonwoo, "Aku sudah sangat lama tidur tanpa memeluk Wonwoo ku." Mingyu tersenyum dengan sangat tampan, Wonwoo mengalihkan pandangannya, semburat merah muda mewarnai wajah Wonwoo sekarang.

"Master, itu terjadi saat kita masih kecil. Tapi sekarang sepertinya itu tidak pantas." Mingyu melirik tidak mengerti ke arah Wonwoo. Wonwoo jadi salah tingkah, sepertinya ia salah biscara.

"Aku akan membereskankan ruang tidurmu."

Mingyu menarik tangan Wonwoo yang hendak bangun.

"Tidak, aku akan tetap tidur denganmu, seperti waktu kita masih kecil."

Wonwoo tahu tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, ia hanya harus mendengarkan ucapan Mingyu.

"Bergegaslah, aku akan menunggumu di tempat tidur." Selanjutnya Mingyu bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke kamar Wonwoo.

Wonwoo masih belum bergeming, ia merasa ragu dengan tindakannya kali ini.

Mngyu sedang Mandi saat Wonwoo masuk ke kamarnya dan membereskan tempat tidur. Wonwoo teringat dengan kotak rahasianya, ia meraih kotak itu dan melihat isi di dalamnya. Foto-foto Mingyu semenjak kecil sampai sebelum ia berangkat ke Inggris. Semuanya Wonwoo simpan dengan dengan sangat baik. Wonwoo melihatnya satu-persatu, hatinya kembali diliputi perasaan cemas.

Terlebih dengan yang baru saja terjadi tadi, ia merasa takut. Takut perasaan yang ada di dalam hatinya semakin besar, takut Mingyu mengetahui hal besar yang ia sembunyikan dengan rapat-rapat itu.

Pintu kamar mandi terbuka. Wonwoo dengan sembarangan menutup kotak rahasianya dan mendorongnya ke bawah tempat tidur.

"Apa yang kau sembunyikan?" Tanya Mingyu.

"Bukan apa-apa, hanya barang-barang kecil." Jawab Wonwoo dengan gugup.

"Lalu kenapa tidak meletakkannya di dalam laci saja?" Mingyu masih penasaran.

"Tidak ada tempat kosong lagi di dalam laci. Itu jauh lebih nyaman buatku jika meletakkannya di sana."

"Benarkah? Biarkan aku melihatnya." Pinta Mingyu, ia berjongkok tapi keburu di tahan Wonwoo.

"Jangan!"

"Kenapa tidak boleh?" Suara mingyu mulai meninggi. Ia begitu penasaran.

"Aaa, jangan-jangan itu pakaian dalam perumpuan ya?" Mingyu menyeringai dengan wajah yang menggoda.

"Master."

"Lepaskan." Mingyu kembali berusaha meraih kotak itu.

"Master!" Tanpa sengaja Wonwoo mendorong Mingyu ke kasur dengan sangat kuat. Mingyu kaget, Wonwoo tidak pernah seperti ini kepadanya.

Sementara itu Wonwoo jadi merasa bersalah. Ia terus menunduk, tidak ingin bertatapan dengan tuan mudanya.

"Master, setiap orang punya privasi. Ku harap anda bisa menghargainya." Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu. Sang master tercengang mendengar penuturan pelayannya. Ini tidak seperti Wonwoo-nya.

"Aku akan mandi. Tidurlah terlebih dahulu. Selamat malam." Setelah mengucapkan itu Wonwoo segera keluar kamar. Mingyu hanya memandang kepergian Wonwoo dengan penuh keingintahuan.

- Uncontrolled Love –

Wonwoo memperhatikan wajahnya di pantulan cermin.

"Aku tidak peduli dengan orang lain, tapi jika kau berani mengaitkanku pada hal-hal seperti itu, jangan salahkanku jika membuangmu."

Ucapan Mingyu di restoran tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Wonwoo sadar, tidak seharusnya ia memiliki perasaan bahkan berharap banyak pada tuan Mudanya. Mingyu membenci segala hal tentang gay, seharusnya ia tahu semua itu.

Namun yang lebih menakutkan untuk Wonwoo adalah jika Mingyu membuangnya. Dari kecil Wonwoo akan melakukan apapun supaya Mingyu mengakui keberadaannya. Ia tidak ingin di buang lagi seperti ia diwaktu bayi. Wonwoo hanya membutuhkan dan menginginkan seseorang menerimanya, bahkan jika hanya sebagai 'peliharaan'.

Wonwoo kira Mingyu sudah tertidur, jadi ia brniat akan tidur di kamar tamu saja. Namun langkahnya terhenti saat Mingyu berbicara.

"Kau mau pergi kemana? Naik ke tempat tidur." Mingyu memerintah tanpa bisa ditolak oleh Wonwoo. ia yang berkuasa.

Perlahan Wonwoo membaringkan tubuhnya di ranjang. Mingyu dengan segera berbalik dan memeluknya. Posisi ini tidak pernah terganti sedari mereka keci, Mingyu akan memeluk Wonwoo dengan sebelah kaki yang melingkar di pinggang Wonwoo, memperlakukannya seperti boneka. Memeluknya dengan begitu posesif.

"Wonwoo-ya, kau sangat ramping." Mingyu berbisik. Wonwoo menatap langit-langit kamar dengan nafas tertahan.

"Kulitmu sangat lembut." Jari-jari panjang Mingyu mengelus leher jenjang Wonwoo, mengusapnya berulang kali.

"Rambutmu juga sangat halus." Kini jemari itu mengusak rambut kelam Wonwoo, Mingyu memainkan helaian rambut itu dengan penuh kasih sayang. "Seperti kau disaat masih kecil dulu." Suara Mingyu terdengar serau, Wonwoo masih sulit bernafas.

"Bagaiamana itu mungkin Master, aku hampir tiga puluh tahun." Jawab Wonwoo.

"Besok pindahlah ke rumah utama." Tangan Mingyu masih betah mengelus-elus pipi dan leher Wonwoo.

"tapi Tuan Besar menyuruhku untuk tetap berada di sini."

"Aku tidak peduli apapun yang ia katakan, kamu hanya perlu menurutiku. Katakan itu keinginganku." Mingyu benar-benar keras kepala.

"Master, aku tidak akan bisa membantu banyak jika pun pindah ke sana."

"Yang perlu kamu lakukan hanyalah membiarkanku memlukmu ketika aku mengantuk." Wonwoo masih tidak bergeming sama sekali.

"Apa yang sangat aku inginkan selama di Inggris adalah memelukmu ketika tidur." Wonwoo memjamkan matanya. Tidak ia pungkiri jika hatinya merasa senang mendengar seberapa Mingyu menginginkan dirinya.

"Wonwoo-ya, jangan pernah berpacaran dengan gadis manapun. Jangan biarkan mereka mengetahui seberapa indahnya dirimu. Kau adalah milikku. Tidak ada siapapun yang bisa mengambilmu dariku."

Wonwoo meresapi semua perkataan Mingyu. Tanpa diminta atau dirusuhpun Wonwoo tidak akan mengencari gadis manapun, ia tidak akan menjadi milik siapapun, karena ia hanya untuk Master Mingyu saja. Ia membuka matanya dan terus memandang langit-langit putih kamarnya.

"Master." Panggil Wonwoo. tidak ada sahutan dari Mingyu.

"Master." Panggil Wonwoo lagi seraya membalikkan kepalanya ke arah Mingyu. Sang master sudah tertidur dengan tenang, mengistirahatkan wajah tampannya yang membuat Wonwoo merasa nyaman.

Wonwoo menelusuri lekuk wajah tampan Mingyu lewat pandangannya. Ingin rasanya memberikan sebuah kecupan hangat d dahi Mingyu. tapi Wonwoo masih sangat sadar diri untuk tidak di lakukannya. Perlahan seulas senyum tertarik dari bibir Wonwoo.

Wonwoo berbalik dan mengambil ponsel putihnya. Dibukanya fitur kamera, memposisikan sudut yang bagus kemudian memotret kebersamaannya dengan tuan muda Mingyu. ia akan menyimpan foto ini dengan penuh kebahagiaan. Jeon Wonwoo benar-benar mencintai Kim Mingyu.

- TBC –

Thanks buat semua dukungan kalian ya. Maaf ga bisa balas review nya satu persatu. Membaca komentar2 kalian adalah kesenangan tersendiri, membuatku semakin bersemangat. Terus dukung fanfic ini yah. Terima kasih readernim ^^

Boleh nambahin BTS Movie ga? Sebagai Bonus chap mungkin?