Single Parent (Chapter 6)
Disclaimer
Naruto©Masashi Kishimoto
Story By. : Misa-Chan ©
Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)
Rated : T+
Chibi Naruto
(Fem) Dei
.
.
.
.
Dee chan - tik : Terimakasih atas Review kamu ya^^, soal lanjut sih pasti akan selalu di lanjut:)
Vipris-san. : Humm, jujur saja ya, kamu itu readers fav. Nya author. Kalo soal Pairing, kita liat aja nanti. Soalnya masih belum ditentukan pairing. Dan soal BL, tentu saja ada! Fict yang kita buat terasa hambar tanpa adegan Yaoi nya :D
Arum-san. : ItaTema atau ItaHina? Soalnya Itachi kita buat labil saja sama pilihannya sendiri, Pairing masih belum ditentukan ya, lihat kelanjutan nya saja. ^^
Yosh Mina , Silahkan dinikmati!
Summary
Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.
.
.
.
Taman bermain adalah tempat favorit anak-anak. Seperti biasa, sore ini Deidara menemani buah hatinya bermain di taman bermain. Memperhatikan putra semata wayangnya yang bermain di bak pasir sendirian. "Hey, Dei-chan" sapa seorang wanita bersurai bubble gum dengan seorang anak laki-laki yang sebaya dengan Naruto. "Sakura-chan" Deidara tersenyum sambil menggeser posisinya (memberikan tempat untuk Sakura duduk).
"Hari ini pulang siang?" Tanya Sakura.
"Iya...suasana di praktek agak sepi tadi, yasudah ku putuskan untuk pulang, un" Jawab Deidara.
"Dei-chan, aku ingin curhat kepada mu...boleh tidak?" Tanya Sakura, malu-malu. Melihat suatu hal yang jarang ia lihat pada sikap sahabatnya. Deidara sedikit heran, "aku pasti akan senang mendengarkannya" Kata Deidara, mengedipkan satu matanya.
.
.
Singkat cerita, akhirnya Sakura mengeluarkan semua yang ada di pikirannya, dengan Deidara yang setia mendengarkan dan sekali-kali ia memberikan advice untuk sahabatnya. "Kau kan masih muda, lagi pula Sasori-san itu orang nya baik, un" Kata Deidara. Wajah Sakura memerah saat mendengar kata-kata Deidara. "T...tapi, aku takut mencoba" Sakura menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Nee, Sakura-chan tak mau kan mendengar Gaa-chan yang masih sering menanyakan siapa papa nya?" Tanya Deidara.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Sakura suka sama Sasori-san kan?" Pertanyaan kedua di lontarkan. Sakura mengangkat bahunya, tanda tak tahu. Deidara menahan tawa, merasakan sahabatnya yang seperti layaknya seorang remaja yang sedang jatuh cinta. "Tapi setiap bertemu selalu ingin bersama kan, un?"
Sakura mengangguk pelan (berusaha menyembuyikan semburat merah di wajahnya). "Itu tandanya, Sakura-chan sayang sama Sasori-san" Tebak Deidara. "Kapan Sasori-san menyatakan cinta nya pada mu, un?" Tanya Deidara. "2 minggu yang lalu" jawab Sakura. "Cepat, jadian saja! Kalian kan saling menyukai, un" Usul Deidara. "Humm, aku mengerti" kata Sakura. "Terimakasih sarannya, Dei-chan" lanjutnya.
.
.
.
* Dei's Apartmen *
"Naru-chan kok tumben tidak pergi main?" Tanya seorang pria bersurai keperakan kepada seorang anak kecil yang kini dalam pangkuannya. "Kan cudah malam, lagi pula tadi cudah main belcama Gaala-chan" Jelas Naruto. Seolah menjadi seorang yang bodoh, Kakashi merutuk dalam hati atas pertanyaan bodohnya itu. "Huumm begitu" Kakashi menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal.
Kemudian sosok Deidara muncul sambil membawa sebuah nampan berisi suguhan minuman dan makanan kecil untuk Kakashi. "Silahkan di cicipi, un" Deidara mempersilahkan. "Ah, jadi repot begini.." Kata Kakashi, tidak enak pada sang pemilik apartmen. "Tidak apa-apa, un" sanggah Deidara. Iris hitam Kakashi berjumpa dengan sebuah foto seorang bayi mungil bersurai blonde yang tengah tertawa di gendongan seorang wanita yang memiliki surai sama dengannya.
"Itu Naru-chan saat berusia 4 bulan, un" Jelas Deidara, wanita ber-iris azure itu berjalan menuju dimana foto tersebut di pajang. "Lucu sekali ya" Puji Kakashi. Deidara mengambil tempat di sebelah Kakashi, yang kebetulan sekali memang masih ada sela untuk di duduki. "Itu Nalu, Nalu imut kan paman?" Tanya Naruto, telunjuk mungilnya menunjuk foto dirinya sendiri saat masih bayi. "Tentu saja" Kakashi mengusap pelan surai pirang Naruto. Naruto sendiri sih terlihat nyaman-nyaman saja, soalnya kan Naruto juga sudah mengenal dekat pria tampan bersurai perak itu.
"Hehehehe, Naru-chan kamu itu manja sekali, un" Tawa sang ibu.
.
.
.
Malam sudah semakin larut, Deidara tidak enak hati saat melihat Naruto yang terus-menerus meminta Kakashi menemani dirinya. Sejak kepergian papa nya ke Paris, Naruto jadi kesepian. Apalagi, Kakashi tak keberatan dengan hal itu. Tapi tetap saja Deidara tidak enak hati. Putranya memang manja, manja sekali. Sampai-sampai, Kakashi harus membatalkan pertemuannya dengan rekan bisnisnya. "Maaf ya, Kakashi-san.. Naru-chan memang agak manja, un" Ucap Deidara. Suka tidak suka dengan sikap Naruto, Deidara memang harus meminta maaf pada Kakashi kan?
Lihat saja sekarang, Naruto memang benar-benar berniat mengerjai Kakashi. Naruto meminta Kakashi menggendongnya di punggung sang Hatake. "Nalu ndak bica tidul kalau belum di gendong" kata Naruto. "Memangnya papa Naru sering menggendong Naru sebelum tidur?" Tanya Kakashi, penasaran. "Iya, tapi kalau papa di cini caja.. Kalau papa lagi pelgi, ya mama yang gendong" jawab Naruto.
Beberapa menit kemudian, Kakashi merasakan pegangan tangan di lehernya mulai mengendur, ditambah suara dengkuran halus tepat di telinganya. He bet, Naruto sudah terlelap di gendongannya. "Naru-", "sstt" Kakashi mengisyaratkan Deidara untuk tidak bersuara keras-keras. "Sudah tidur ya, un" bisik Deidara. "Dimana dia tidur?" Tanya Kakashi, dengan suara pelan. "Dia masih tidur bersama ku, un" jawab Deidara, berjalan menuntun Kakashi menuju kamar tidurnya.
.
.
"Tidurnya lelap sekali" Kakashi menyelimuti tubuh si kecil Naru yang tengah tertidur. "Begitulah, un" Sahut Deidara-mendudukan dirinya di samping Kakashi. "Sudah malam, kau juga harus tidur" Kakashi beranjak dari duduknya. Deidara mengangguk, "kau juga lekaslah tidur" Ujar Deidara. "Tidur bersama kalian? Kau yakin" Tanya Kakashi. Wajah Deidara memanas saat mendengar pertanyaan Kakashi. Kok, bisa-bisanya dia berkata seperti itu. "Umm, aku akan membuat kopi mungkin-", "tidak perlu repot-repot, sudah malam aku harus pulang" Sela Kakashi.
« Grey Misa »
Setelah kepulangan Kakashi, Deidara malah tidak bisa tidur. Wanita bersurai blonde itu pun memutuskan bergadang malam ini. Pikirannya, tiba-tiba melayang jauh saat dimana ia masih menjadi istri dari seorang Namikaze Minato. Tak dipedulikannya hawa dingin yang kian menusuk ke tulangnya. Menikmati malam di atas balkon apartemennya adalah hal yang sering ia lakukan saat ia tak bisa tertidur seperti sekarang.
Tiba-tiba saja, Kakashi masuk ke dalam pikirannya. Entah bagaimana caranya, Deidara bisa memikirkan pria tampan itu. Sepertinya, ada perasaan hangat saat bersama pria rupawan bermarga Hatake. Dibuyarkan pikirannya tentang Kakashi, tak tahu mengapa sosok Minato dan Kakashi bisa membuat hatinya berdegup cepat. "Kalian pilihan yang sulit untuk ku, un" gumam Deidara. Dibiarkannya angin malam menerpa kulit putih susunya. Meskipun hanya memakai dress malam, Deidara sama sekali tidak merasakan dinginnya malam.
"Kenapa kalian datang bersamaan? Kenapa? Tuhan, ku biarkan semua ini berjalan sesuai takdir mu, un" Lanjut Deidara. Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Tak banyak yang bisa ia lakukan, asal tahu saja, Jantung mu berdegup cepat ketika bersama seorang teman pria mu itu sangat mengganggu, bisa-bisa kau mati muda hanya karena serangan jantung yang sering terjadi saat bersama nya kan? Deidara masih memiliki Naru-chan, mana mau ia mati muda dan melihat putranya menangisi kepergiannya. Tidak, TIDAK, membayangkannya saja amat menyakitkan.
.
.
.
.
Nan jauh di Eropa sana, Minato terlihat tengah melamun di dalam apartemen mewah miliknya. Wajah tampannya menatap sendu sebuah foto dimana ia, istrinya, dan putra mereka yang saat itu masih berusia 5 bulan. Foto yang sangat indah, saat Minato memeluk bahu istrinya yang tengah menggendong buah hati mereka. Bersama Deidara dan Naruto adalah hal yang saat ini ingin ia lakukan. Bertemu dengan keduanya, harapan Minato hingga pria tampan itu rela menghabiskan waktunya mengurusi pekerjaannya.
Dengan sebatang rokok yang tak habis, Minato membuang putung yang masih tersisa itu ke dalam asbak. Mungkin jika Deidara melihat, ia akan menjauhi Naruto dari hidupnya. Perlu kalian tahu, di sini Deidara adalah seorang ibu yang benci dengan rokok, hingga tak rela jika putranya berada dekat dengan seorang perokok.
Tak kuat dengan rasa rindunya, akhirnya Minato memutuskan untuk menghubungi sang istri. "Semoga saja belum tidur" Gumam Minato, berharap jika istrinya belum tertidur.
"Moshi-moshi"
'Minato'
"Ya, ini aku.. Bagaimana kabar kalian?"
'Baik.. Apa kau sehat-sehat saja di sana? Naru-chan merindukan mu, un'
"Bagaimana dengan mu? Kau rindu aku atau tidak"
'Tentu saja, cepatlah pulang'
"Baiklah, kenapa kau belum tidur?"
'Tidak bisa tidur, un'
"Cepatlah tidur, aku akan pulang beberapa hari lagi"
* Pip *
Pemilik suara blonde itu segera mematikan ponselnya tanpa menunggu sang istri (mantan) menyahuti perkataannya. Terpaut waktu 7 jam dari tempatnya dan tempat di mana sang mantan istri berada. Minato melirik jam dinding yang ternyata masih menunjukan pukul 5 sore. Sebenarnya sih Minato tidak puas berbicara dengan Deidara sebentar, tapi ya gimana? Dia sendiri juga terlalu malu atau bahkan terlalu bingung akan berbicara apa. Kalau Naruto belum tidur sih, Minato bisa berbicara dengan putranya. Ingin ditelpon lagi, takutnya Deidara terganggu. Jelas saja terganggu, di Jepang kan sudah pukul 12 malam. Mana mungkin Minato mengganggu nya.
Ting..Tongg..
Hmm, rupanya ada seorang tamu yang hendak bertandang ke kamar apartemennya. Siapa? Entahlah, Lihat saja nanti kalau sudah dibuka oleh pria yang memilik banyak fans ini.
Cklek..
Minato mematung sesaat setelah mengetahui siapa dalang yang menekan tombol apartemennya itu. Oh, tuhan.. Masalah apa lagi ini..
"Mau apa kau kemari?" Tanya Minato yang sudah sembuh dari rasa kagetnya. Bukannya menjawab, sosok wanita itu malah berjalan memasuki kamar sang putra tunggal tuan Namikaze terhormat satu ini. Ck, mau apa sih dia?
"Sudah 2 tahun ini tak ada kabar" Kata wanita itu. Belum dipersilahkan duduk, wanita itu sudah mendudukan dirinya di sofa tunggal berwarna merah yang sengaja ditempatkan di kamar sang pewaris (ingat, Don't try this at your Neighbor's home). Sang Namikaze pun cuma bisa berdecak kesal, saat melihat tingkah tengil(?) Mantan kekasihnya itu.
"Apa yang kau inginkan, Konan?" Tanya Minato, tak peduli dengan wanita bersurai soft purple yang kini tengah asyik mengamati kuku nya. "Begitukah sikap mu pada ku, hah?" Konan malah balik bertanya. Bingung sih, Minato bingung sekali. Kenapa, Konan bisa tahu jika ia berada di sini? "Bingung kenapa aku bisa di sini?"
"Tidak juga" Minato bergegas meninggalkan Konan, mungkin ia ingin menyiapkan minuman untuk mantan kekasihnya itu. "Bohong, kau mau tahu kenapa aku bisa tahu?" Konan melenggang nakal menuju Minato. Disentuhnya genit tubuh kekar Minato, Binal sekali dia!
"Pemaksa" cibir Minato.
"Hehehehe, aku tahu karena apartemen ini milik ku, dear" Kata Konan.
Lagi, kedua mata Minato melotot mendengar pengakuan Konan. Apa? Bagaimana bisa? Minato mengingat-ingat, nama Apartment yang ia beli ini. "Purple's Apartmen" Konan mengingatkan mantan kekasihnya. 'Ya, tuhan kenapa aku bisa lupa' batin Minato. Ingat ya, mantannya ini adalah seorang pewaris tunggal PURPLE Corps! Dimana memiliki Usaha besar dibidang apartemen. Sampai sekarang saja, Purple's Apartment sudah banyak terbesar di seluruh penjuru mancanegara.
"Kenapa kau pergi?" Bisik Konan sensual sekali. Minato sedikit berontak mendapati perlakuan binal dari Konan. "Jangan dekat-dekat!" Seru Minato, seraya mendorong tubuh Konan. "Cih" Konan berdecih pelan. "Menolak ya? Apa karena wanita Yamanaka itu kau meninggalkan ku" Suara Konan sedikit meninggi. "Bukan urusan mu" kata Minato. Konan menarik pelan kerah baju Minato, "itu urusan ku! Kenapa kau pergi? Apa bagusnya wanita itu" cibir Konan.
Minato meraih kedua tangan Konan yang notabene lebih kecil dan halus darinya.
Grebb..
"Dia-" Minato menggantung kalimatnya. Ditatapnya wajah Konan yang terlihat begitu marah padanya. "Memang tidak seperti diri mu yang bisa diandalkan, tapi kegigihannya dan ketulusan hatinya membuat hidup ku jauh lebih berwarna saat bersamanya" sambung Minato, seraya menghempaskan pelan kedua tangan Konan dari kerahnya.
"Hahahaha" Konan tertawa mengejek. Wajahnya terlihat sinis hingga merubah wajah cantiknya. "Begitu? Lalu kenapa kau selalu menyakitinya?" Tanya Konan. Tatapan Minato menyendu seketika.
"Ku rasa mengganggu ketenangan seorang client mu sendiri adalah kelakuan yang tidak pantas untuk seorang Owner seperti anda, Nyonya Konan" seorang pria tampan bersurai merah darah mencibir kelakuan Konan, yang terbilang tak pantas untuk seorang client seperti Minato.
Kurama, sebut pria itu Kurama. Kurama berjalan mendekati keduanya sambil menenteng sebuah map di tangannya. "Pintu tak tertutup, ku rasa tak ada salahnya aku masuk" kata Kurama. "Cara mu yang main masuk benar-benar tidak menunjukan sisi Uzumaki mu, Kurama-san" Konan balik mencibir.
Kurama mengangkat bahu nya, menimpali cibiran Konan. Pria berumur 27 tahun itu menatap datar sosok yang amat sangat ia benci itu. "Tampaknya kau memang tak suka pada ku ya, Kurama-san" Kata Konan. "Menyukai orang yang telah menghancurkan rumah tangga orang lain? Pantaskah untuk disukai?" Tanya Kurama, sarkatis.
"Ku rasa kau perlu pindah apartment lagi, Minato" Usul Kurama.
"Aku pulang besok" Kata Minato, meneguk coca cola yang tengah ia pegang. Konan terkejut dengan apa yang di dengarnya, beda dengan ekpresi Konan, Kurama hanya menunjukan ekpresi biasa-biasa saja. Pria bersurai merah bak darah itu tidak terlalu tertarik atau mungkin sengaja tidak menunjukan ekpresinya.
"Aku ikut" Kata Konan.
"Ikut? Memangnya kau siapa?" Tanya Kurama, jengkel melihat sikap Konan. "Cih" Konan lagi-lagi berdecih. "Menggelikan, memangnya kau siapanya Minato" Cibir Kurama. "Aku juga akan pulang dan menetap saja di Jepang" kata Konan. "Aku tidak akan pulang bersama mu... Aku akan pulang-",
Grebb..
"O..Oi, Konan!" Minato terkejut saat tiba-tiba saja Konan memeluknya. "Izinkan aku, hiks" Pinta Konan. 'Air mata buaya' batin Kurama. "Kau kan bisa pulang sendiri, lagi pula aku akan langsung bertemu dengan Deidara" Ujar Minato. "Pokoknya aku ikut" rengek Konan. Minato melempar pandang ke arah Kurama. Yang dipandang pun cuma mengangkat bahu, tidak tahu mau berkomentar apa.
.
.
.
.
Pagi hari di desa Konoha, terlihat Naruto kecil yang sudah rapih memakai seragam taman kanak-kanak nya. Ditambah seorang pria tampan bersurai perak yang terlihat tengah menggandeng pergelangan tangan mungilnya. "Hoii, Naru-chan Kawaii sekali" seorang ibu-ibu berdada montok bersurai redhead tiba-tiba saja berlari ke arahnya dan mencubit pipi gembilnya. Bak seorang idiot, Kakashi hanya melihat segerombolan ibu-ibu yang mengerumuni balita manis (yang sudah ia claim sebagi putra nya sendiri) itu.
"Uuhh, Lucu sekali"
"Iya, astaga.. Naru-chan!"
Naruto memandang horror ibu-ibu yang tengah mengerumuni nya. Takut, Naruto benar-benar takut sekali. "Aduhhh, cakittt" Naruto meringis sembari memegangi pipinya yang kini memerah akibat cubitan oleh ibu-ibu yang tinggal di lantai 2. Mendengar suara ringisan Naruto, Kakashi tersadar dari lamunan bodohnya itu.
"Ibu-ibu, maaf... Naru-chan, harus segera berangkat sekolah" kata Kakashi, sambil tersenyum charming. Melihat senyuman tampan Kakashi, Ibu-ibu penggosip itu blushing seketika. Saking bahagianya, tanpa sadar mereka melepaskan dua orang berwajah bak malaikat itu. Tak mau kejadian terulang lagi, Kakashi memutuskan untuk menggendong si kecil Naru. Air mata bening terlihat jelas di pelupuk mata Naruto. Tak lupa juga wajah syok si kecil Naru, yang masih terlihat di wajah manisnya.
"Cakitt" Naruto mengaduh. "Yang mana yang sakit, Naru-chan?" Tanya Kakashi. "Dicini, cakit" Naruto menunjukan pipinya yang memerah, bekas jubitan.
Cupp..
Kecupan singkat mendarat di pipi gembil Naruto. "Cepat sembuh ya" Kata Kakashi. "Iya, telimakacih paman" Ucap Naruto. Wajahnya terlihat sumringah sekali. Kakashi hebat sekali ya, (pssttt, Itu resep yang diberikan Dei-Dei pada Kakashi: 'Kalau Naru-chan nangis, segera gendong dan kecup pipinya, Niscaya dia akan berhenti menangis')
.
.
.
.
* Sakura's Apartment *
"Tak ada Temari-chan, sepi ya" Kata Sakura, sambil meletakan cemilan-cemilan di atas meja. 3 orang temannya mengangguk pelan. Memang sepi kalau tak ada Temari. Soalnya kan, diantara mereka Temari adalah yang paling heboh sendiri. Apalagi, Temari akhir-akhir ini lebih sering mendapatkan Jobs, jadi berkuranglah waktu kebersamaan mereka.
"Humm, t..t..tadi K..Ka..Karin-chan m..m..mau bicara apa?" Tanya Hinata. Kayaknya gak perlu dijelaskan lagi kan, kenapa Hinata gagap? *taboken*
"Nee, iya.. Karin-chan mau bicara apa, un?" Tanya Deidara.
"I..I..itu" Tiba-tiba saja yang bersangkutan terkena serangan Virus gagap. "Ayo, ceritakan saja" Paksa Sakura.
Semburat merah tertera jelas di wajah Karin. Wajahnya pun terlihat hampir menyamai rambutnya. "K..kalian tahu Yahiko-kun?" Tanya Karin. "Kalian sudah sedekat itu, un" Deidara sedikit terkejut dengan pertanyaan Karin. Karin mengangguk pelan, malu? Tentu saja.
"Sudah sedekat apa? Bisa ceritakan pada kami?" Tanya Sakura.
"I..Iya" Timpal Hinata.
"Sebenarnya kami sudah pacaran 2 minggu yang lalu, dan kami sudah saling kenal.. Aku juga sudah tahu seluk beluknya, dan k..kemarin dia melamar ku" Jelas Karin.
Ketiga temannya lantas saja terbengong-bengong ria. Kaget, syok, bahagia, heran, jadi satu. Oh, astaga! Haruskah secepat itu? Iya sih, kalau lama-lama juga gak baik. Dilihat kan, Karin juga sudah punya anak. Masa iya, harus sampai anniv ke- 1, mereka kan bukan ABG!
"Kenapa tidak? Lagi pula, kalian juga sudah mulai kenal kan? Ku rasa tak ada salahnya di coba" Kata Sakura.
"Benar, un" Timpal Deidara.
"Tapi aku takut dia seperti mantan ku" lirih Karin.
"Terjatuh itu bukan berarti membuat Karin-chan takut untuk bangun, un" Ujar Deidara-menyeruput tea hangat nya.
Hinata dan Sakura mengangguk pelan. Tak seharusnya Karin merasa takut atau bahkan merasa tak membutuhkan laki-laki di sampingnya. Hanya karena satu pria brengsek tak harus membuatnya membenci pria lainnya kan? Ingat, tidak semua laki-laki itu sama!
"Mungkin saat ini Karin-chan bisa berpikir kalau kedua putra mu tidak butuh ayah, tapi beberapa tahun lagi pasti mereka akan mengerti... Lagipula, Yahiko itu pria baik-baik" Sakura ikut menasihati. Karin termenung sejenak, benar apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya. Kedua putranya membutuhkan sosok figur seorang ayah. Ketakutannya tidak boleh membuat dua buah hatinya tidak pernah mengenal sosok seorang ayah.
Tidak, Karin tidak mau membuat dua buah hatinya menjadi korban atas ketakutannya.
"Tapi, apa Yahiko mau menerima ku dan dua buah hati ku?" Tanya Karin. "Kalau Yahiko-san saja bisa menyayangi Naga-chan dan Kyuu-chan, kenapa kamu masih meragukannya, un?" Tanya Deidara. Karin menganggukan kepalanya pelan. "Akan ku coba" Ujar Karin.
"Kami mendoakan mu, (un)" Kata ke-3 sahabatnya serempak. Kemudian ke-4 nya pun saling memuat lingkaran dan berpelukan layaknya teletubies yang tengah bahagia. Ya, ampun childish sekali mereka..!
.
.
.
.
* Skip Time *
"Mama, tahu tidak? Tadi Nalu belmain belcama Sasu-nii, lho" Naruto memulai bercerita kepada sang ibu yang tengah memainkan ponsel touch screennya. Ponsel yang telah mengoleksi banyak foto-foto wajah imut nan manis balita bersurai pirang itu. Deidara menghentikan acara bermain ponselnya dan meletakan benda berbentuk persegi panjang, datar dan slim itu di atas meja. "Oh, iya? Lalu kamu tidak nakal kan, un?" Tanya Deidara, seraya menarik selimut agar menutupi tubuhnya.
Naruto menggelengkan kepalanya, lucu. "Sasu-nii itu anaknya paman Itachi kan ya, un" Deidara mengingat-ingat sosok pria tampan bersurai raven dengan dua garis melintang mirip keriput di sela-sela hidungnya. "Iya, kata cacu-nii.. Dia tinggal di Amelika, dan Cacu-nii bilang di cana banyak tante-tante cantik" Naruto menjelaskan secara detail pada sang ibu.
Deidara sweatdropped sendiri mendengar putra kecilnya bercerita. Siapa yang mengajarkan bocah raven itu berbicara seperti orang dewasa? Tak pantas tahu, lagian orang tua macam apa yang mendidik bocah tampan ber-iris onyx, hingga berbicara layaknya orang mesum seperti itu. Konyol!
"Nee, Naru-chan kok bicara begitu, un?" Tanya Deidara. "Kan, Cacu-nii bilang begitu ke Nalu... Oh, iya ma, Nalu lindu papa nih" celoteh Naruto. "Papa berangkat ke sini jam 6 pagi.. Mungkin jam 5 pagi lagi baru sampai, un" meminta perhatian pada buah hatinya. Naruto mengangguk mengerti.
.
.
.
.
Pukul 6 pagi, Minato sudah berada di dalam pesawat. Hatinya dongkol sekali saat melihat Konan yang juga sudah duduk di sampingnya. Enggan menanggapi, Minato pun berpura-pura tidur dengan menutupi wajahnya dengan koran. Tak peduli dengan Konan yang masih berbicara ini itu dengannya. Apaansih? Minato kan cuma cinta sama Deidara saat ini, masa iya dia berpaling cuma gara-gara kuntilanak berambut ungu ini.
"Berisik bisa diam tidak!" Kata Minato, tak suka acara tidurnya terganggu. "Eh" Tak peduli, Konan malah bernyanyi seakan suaranya itu yang paling bagus dari yang lain. "Ck, diam!" Minato akhirnya menghempaskan koran dari wajahnya. Melihat tatapan kesal Minato, Konan bergidik ngeri juga.
"Kau kalau mau nyanyi ya di panggung saja" Kata Minato. Konan tertawa canggung mendengar perkataan Minato. Bingung harus apa, lagian kan dia bosan berada di dalam pesawat bersama seseorang yang ia kenal, tapi tak ada yang bisa dibicarakan.
'Dia itu kenapa sih' Inner Konan bertanya-tanya. Perjalanan kali ini akan berlangsung panjang, dan memakan banyak waktu. Tak apa, asalkan bisa bertemu Naru-chan perjalanan panjang pun tak masalah. Rupanya, Minato benar-benar sudah merindukan putra nya.
« Grey Misa »
18 jam kemudian..
Minato lagi-lagi berdecak kesal melihat sosok Konan yang seenaknya saja bergelayut manja di lengannya. Cih, menyebalkan. Seharusnya tiba di bandara Konoha adalah hal yang paling menyenangkan untuknya. "Aku suka Konoha, pemandangannya masih alami" cerocos Konan (Psssttt, mereka satu mobil lho).
Sang supir cuma bisa diam dan menikmati pekerjaannya, dikala majikannya tengah pusing menghadapi sosok wanita bersurai ungu itu. Kasihan juga ya majikannya ini, sudah resiko sih jadi orang ganteng. "Nee, di Konoha kau tinggal dimana dan sama siapa, dear?" Tanya Konan, gak jelas banget.
"Di apartemen" jawab Minato singkat.
"Apa, Putra dan mantan istri mu juga tinggal di sa-"
"Bisa tidak kau berhenti bicara? 18 jam lamanya kau berbicara, apa kau tidak lelah" Bentak Minato. Konan terdiam seketika, takut untuk berbicara. Lagian benar adanya begitu sih, salahnya sendiri punya mulut tahan hingga 18 jam. Minato mulai meragukan, jika Konan adalah manusia sungguhan. Lagian kan 18 jam itu waktu yang lama, mana ada manusia kuat bicara selama itu? Kayaknya cuma Konan deh.
"Aku tinggal sendiri, mantan istri ku dan anak ku tinggal berbeda kamar dengan ku, PUAS" Jelas Minato. Para bodyguard Minato menahan tawa saat mendengar Minato memarahi Konan. Mereka juga capek dengar si Konan berbicara terus. Mau ditegur, takut. Bukannya apa, mereka cuma takut kalau Minato tak terima kalau Konan dimarahi.
"TURUNKAN AKU DI SINI!" Seru Konan.
Minato menepuk pelan pundak sang supir. "Berhenti tepat di sana!" Seru Minato, menunjuk sebuah makam yang terlihat sepi dan gelap, maklum kan masih jam 5 subuh. Konan melotot saat Minato benar-benar melakukannya. "Kok kamu tega sih?" Tanya Konan. Para Bodyguard sang Namikaze sudah sweatdropped gak jelas mendengar pertanyaan bodoh dari Konan. Dia yang minta diturunin dia juga yang ketakutan.
"Kan kamu yang minta diturunin, aku cuma nurutin kamu saja" Jawab Minato, menahan tawa.
.
.
.
.
* Skip Time *
"Papa, aku akan bersekolah pulang jam berapa?" Tanya Sasuke kepada sang ayah. Ayahnya sih cuma menggelengkan kepalanya pelan. "Nanti juga pulang... Mana mungkin kamu menginap di sekolah" Jawab Itachi. Di lorong apartment sederhana, tampak dua orang laki-laki berbeda usia dan berbeda tinggi badan tengah berjalan. Masih pagi sih, mungkin sekitar pukul 8. Tapi kiranya si Papa memang berniat mengantar buah hatinya pergi ke sekolah barunya.
"O..Ohaiyo, Itachi-san" sapa seorang wanita kepadanya. Ayah dan anak itu segera menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita bersurai Indigo dengan bocah bersurai coklat panjang yang sepantaran dengan sang raven.
"Eh, Hinata-san" sifat cool Uchiha Itachi pun lenyap seketika. Dia terlihat begitu ramah dengan wanita yang tengah menggandeng pergelangan tangan anak laki-laki memakai baju seragam yang sama dengan putranya. "Nee, ini p..pasti p..putra nya Itachi-san" Hinata menebak sambil terus memperhatikan bocah tampan di samping Itachi.
"Ya, Ini Sasuke putra ku" Itachi memperkenalkan putranya. "Nee, Tampan ya" Puji Hinata. "Terimakasih" Ucap Sasuke, malu-malu. "Sa..Sasuke-kun sekolah di SD Shinobi 1 ya? Ka..kalau be..begitu satu sekolah dengan Neji-kun dong" kata Hinata.
"Ya, kalau begitu biar saya saja yang mengantar Neji-kun" Itachi menawarkan jasa. "Aku mau mama juga mengantar ku" Kata Neji, kalem. "Eh.." Pekik Hinata, kaget. "Kita antarkan saja bersama" usul Itachi. "Ya..a..aku setuju" Sahut Hinata.
.
.
* Dei's Apartment *
Deidara meletakan telur mata sapi ke dalam piring yang sudah berisi nasi goreng di atas meja makan. Naruto memandang takjub sosok sang ibu yang begitu lihai memasak. Tak lupa sosok Kakashi yang juga terpesona melihat Deidara yang tengah memakai apron berenda di tubuhnya. Sudah seperti keluarga bahagia saja, seorang ibu yang memasak sarapan pagi, si kecil yang hendak bersekolah, dan sang ayah yang hendak pergi ke kantor (keluarga idaman).
"Masakannya enak sekali" puji Kakashi. Benar deh, Kakashi tidak bohong. Bukan karena Deidara itu pujaan hatinya, tapi masakan Deidara memang enak. Entah bumbu apa yang di pakai oleh Deidara. Kalau ditanya, pasti Deidara akan mengatakan 'Aku memasak dengan cinta' begitu jawabannya.
"Macakan mama memang enak (masakan mama memang enak)" kata Naruto, sambil mengangkat sendoknya. "Makan yang banyak ya, un" Deidara mengusap pelan surai pirang putranya. Naruto kecil hanya tertawa pelan mendengar perintah sang ibu. Akhir-akhir ini, Kakashi memang sering terlihat mengantar si kecil Naru untuk pergi ke sekolah.
Kayaknya dia sudah benar-benar tulus menyayangi anak ini deh. Wah, apa yang akan dikatakan Senior Hatake jika melihat Junior Hatake yang begitu menyayangi seorang balita ya? Pasti ujung-ujungnya disuruh menikah. Mau sih dia nikah, tapi cuma sama Deidara saja.
Habis cinta pertamanya Deidara sih. Dia juga telat ketemu cinta nya, jadi dia pikir kayaknya menikah dengan Deidara itu pasti akan membuatnya bahagia. Cantik, Sexy, baik, pintar, ramah, dan jago memasak, UMAMI sekali!
"Dei-chan, sudah cantik jago memasak ya" Puji Kakashi, seraya menikmati sarapan paginya. "Benarkah? Terimakasih, un" Sahut Deidara, blushing akibat pujian dari Kakashi. Hihihihihi, ternyata jadi orang cantik itu cepat blushing ya :D
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Hey, Minna..
Maaf ya, kalo lagi-lagi jelek.. Omong-omong, makasih atas review dan dorongan semangat dari kalian (hiks, aku terharu sekali). Kemarin ada yang minta supaya, Misa atau Naruko untuk membuat Fict yang berated M yang ada lemonnya (woooww,Misa Nosebleed) heheheheh, tunggu aja ya.. Misa sedang mencoba, nanti kalo sudah jadi silahkan kunjungi Blog kita aja.. Heheheh:D jaa, Sampai jumpa lagi..^^
.
.
.
.
So, Mind To Review?
