Single Parent (Chapter 7)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Story By. : Misa-Chan ©

Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)

Rated : T+

Chibi Naruto

(Fem) Dei

.

.

.

.

Summary

Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.

.

.

.

Deidara berlari tergesa-gesa menghindari seorang pria tampan yang terus mengejarnya. Dengan berlinang air mata, Deidara terus berlari. Hatinya hancur, mungkin jika diibaratkan piring hatinya sudah pecah berkeping-keping. Tanpa mendengar orang tersebut terus memanggil namanya, Deidara terus berlari.

Bruukkk...

Tak sengaja Deidara menabrak dada bidang seseorang. Merasa bersalah, wanita bersurai pirang itu mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang Hatake Kakashi berdiri di hadapannya, sambil menatap heran dirinya. Tanpa aba-aba, Deidara segera memeluk pria tersebut. Kakashi hanya terdiam sejenak, hingga ia melihat sosok Minato yang tergesa-gesa mengejar Deidara. Bersamaan dengan itu, sosok wanita bersurai soft purple terlihat mengekorinya.

Kakashi tidak bodoh, ia tahu apa yang membuat Deidara terlihat syok seperti ini. Sedangkan Minato yang melihat Deidara berpelukan dengan pria lain, hatinya terasa bagai ditusuk ratusan anak panah. Sakit, sakit , sangat sakit. Minato cukup dewasa untuk mengakui kesalahannya. Dibiarkannya Deidara yang memeluk erat Kakashi.

" Huhuhuhu kenapa mama ninggalin nalu?" Suara tangisan seorang anak kecil terdengar dari jarak tak jauh dari tempat Deidara berada. Sosok balita berusia 4 tahun terlihat jelas, meskipun lampu di lorong tersebut kurang begitu terang. Naruto segera menghampiri sang ibu tanpa menoleh ke arah ayahnya. "Naru-chan-", "Nalu benci papa" Naruto berlari memeluk Kakashi.

Suasana malam yang dingin tak membuat Kakashi membiarkan Naruto dan Deidara berada di luar. Karena Apartment nya yang begitu dekat, akhirnya Kakashi memutuskan untuk membawa keduanya ke sana.

.

.

.

.

* Kakashi's Apartment *

Setelah dirasa Deidara sedikit tenang ditambah dengan keadaan dimana Naruto sudah terlelap di ranjang milik Kakashi. Akhirnya Kakashi memberanikan diri untuk mengajak Deidara bicara. " Maaf, sebenarnya ada apa dengan Dei-san dan Minato-san?" Tanya Kakashi, berhati-hati sekali menjaga ucapannya.

Deidara hanya diam dan menundukan kepalanya dalam-dalam. " Jika, Dei-san tak bisa menjawabnya aku mengerti" Kakashi mengalah, dan membiarkan Deidara terus menutup mulutnya. Baru saja hendak melangkah, wanita cantik itu menahan pergelangan tangan Kakashi agar pria itu tidak meninggalkan dirinya.

" Kakashi-kun" Lirih Deidara, mata Kakashi membulat lebar saat mendengar Deidara memanggilnya dengan embel-embel Kun. Ini kali pertamanya Deidara memanggilnya dengan panggilan Kakashi Kun. Kakashi merasa bahwa ia salah dengar, tidak! Pendengarnya cukup baik dan tidak pernah memiliki daftar riwayat penyakit telinga.

Pria bersurai keperakan itu akhirnya memutuskan kembali duduk di samping wanita yang telah menjadi idolanya. " Jangan pergi, un" Pinta Deidara, seraya memeluk erat tubuh Kakashi. Kakashi masih tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat. Ia membiarkan Deidara menangis di dalam dekapannya. Membiarkan dirinya menjadi sandaran ketika wanita bersurai blonde itu terlihat rapuh seperti saat ini.

Tak tega, Kakashi memberikan jarak diantara ia dan Deidara. Iris Azure Deidara tampak begitu kelam dan berkaca-kaca. Disentuhnya lembut wajah Deidara, sedikit memaksa agar wanita bermarga Yamanaka itu menatap matanya. " Jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkan mu" Kakashi membujuk Deidara agar berhenti menangis.

" Dengar! Aku tak peduli jika kau adalah seorang janda, bagi ku mencintai seseorang itu tak harus melihat dari statusnya" lanjut Kakashi. Deidara membiarkan jari-jemari Kakashi menghapus air mata di wajahnya. " Aku percaya, un" Kata Deidara, seraya menutup kelopak matanya. Bibir merah delima natural miliknya terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu.

" Kita tak bisa memperbaiki masa lalu, tapi kita bisa membuat masa depan lebih baik dibanding kelamnya masa lalu" Ujar Kakashi. Tak apa tak menjadi yang pertama, menjadi yang terakhir pun Kakashi rela. " Aku tak mau membuat mu tersakiti, un.. pergi dan carilah yang lebih baik, Kakashi-kun" Lirih Deidara, mencoba memberi pengertian terhadap Kakashi.

"Aku menunggu sampai kau bisa mencintai diri ku" kata Kakashi, seraya membawa Deidara ke dalam pelukannya.

.

.

.

.

* Minato's Apartment *

Malang benar nasib Minato, baru saja mendapatkan kepercayaan sang istri kembali. Akan tetapi hanya karena seorang wanita berada di dalam apartment nya membuat istrinya tak lagi memberi toleransi padanya. Rasanya ia ingin menyerah saja kalau begini.

Melihat Minato yang frustasi, Konan benar-benar merasa bersalah sekali. Seharusnya ia tak disini, seharusnya ia sadar, bukan dia yang diharapkan Minato. Hanya Deidara, Deidara lah yang dibutuhkan Minato saat ini. Teringat kejadian 2 jam lalu saat dimana Deidara datang ke apartemen Minato bersama putra mereka, Naruto.

Deidara sangat terkejut saat melihat Konan tengah memeluk Minato. Padahal Konan cuma bercanda, jadi apa yang dilihat Deidara itu bisa terbilang salah paham. Saking syok nya, Deidara berlari meninggalkan Naruto yang juga terkejut melihat wanita lain memeluk ayahnya.

"Mina-"

"Tinggalkan aku sendiri, Konan" Pinta Minato. Konan menghela napas nya sejenak. Wanita itu mendudukan dirinya di samping Minato yang tengah duduk di sofa. Hening sejenak, tak ada salah satu diantara mereka yang membuka suara.

" Aku bisa membantu mu" Ujar Konan, meskipun sakit mengatakannya, tapi jika yang ia perbuat bisa membuat orang yang ia cintai sepertinya ia rela. Minato melirik mantan kekasihnya itu, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Konan.

Konan tersenyum sedikit terpaksa, senyumannya terlihat sangat jelas jika ia sedang menyembunyikan rasa sakit di hatinya. " Aku bisa membantu mu, membuat Deidara mempercayai mu lagi" Konan mengulangi ucapannya. " Kau tak perlu melakukannya" sahut Minato. " Untuk melihat orang yang ku cintai bahagia, aku rela melakukannya...Minato, aku belajar bagaimana berkorban dan mengikhlaskan orang yang ku cintai pergi meninggalkan ku saat aku mencintai mu.. Dan asal kau tahu saja, aku bukan lagi seperti 3 tahun yang lalu" Ujar Konan.

"Membiarkan hati mu terluka? Cukup satu orang wanita yang ku lukai" Minato beranjak dari duduknya. "Kau tidak melukai nya saat itu, kau hanya belum percaya dengan apa yang kau lihat" Kata Konan. Minato terdiam sejenak. Kejadian 5 tahun yang lalu, saat dimana ia melihat istrinya (Deidara) tengah berpelukan dengan seorang pemuda yang ia ketahui adalah, Kurama.

" Dia sangat mencintai mu, bahkan sampai sekarang pun masih" Konan melanjutkan perkataannya. " Sama seperti mu, Deidara kesulitan untuk melupakan diri mu yang juga sulit melupakan diri nya" Ujar Konan. "Bagaimana kau tahu?" Tanya Minato. " Aku seorang wanita, Minato...Aku mengerti bagaimana sulitnya berpaling dari orang yang kita cintai" Jelas Konan.

Minato tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Konan terlihat begitu dewasa, dan bijaksana. Apa yang membuat wanita ini berubah dalam waktu 3 tahun? Hidup kesepian, ya, kesepian yang membuat Konan menyadari keegoisannya, berusaha mengerti dan belajar menjadi seorang yang lebih dewasa dalam menghadapi hidup.

"Ku mohon, biarkan aku membantu mu" Lirih Konan. Minato menganggukan kepalanya, " jangan terlalu nekad" kata Minato, pada akhirnya ia mengalah dan membiarkan Konan membantu dirinya.

.

.

.

.

5 Hari kemudian

* Taman Kanak-kanak Konoha *

Naruto terkekeh geli saat mendengar cerita kebahagian dari sahabat kembarnya, Nagato dan Kyuubi. Kedua balita kembar itu sangat antusias sekali menceritakan betapa bahagianya mereka yang akan memiliki seorang ayah. " Celamat ya, Naga-chan dan Kyuu-chan" ucap Kiba, hanya dia lah yang memiliki dua orang tua lengkap.

"Telimakacih, ya" Sahut keduanya, jarang-jarang keduanya terlihat akur seperti ini. " Hey, cemua" sapa seorang balita bersura merah bata yang baru tiba bersama pria dewasa yang hampir mirip dengannya. Ke-4 balita itu menoleh ke asal suara, salah satu teman mereka telah tiba.

" Gaa-chan" seru Mereka bersamaan. " Itu ciapa?" Tanya Kyuubi, sedikit berbisik. " Itu calon papa nya Gaa-chan" Bisik Kiba. Semua tertawa senang. Hanya Naruto kecil lah yang terus menyembuyikan kesedihannya di balik canda dan tawanya. Kasihan dia, dia hanya anak kecil!

.

.

.

.

Sepulang sekolah, Naruto terus melamun di atas balkon apartemennya. Ia masih tak percaya dengan kejadian 5 hari yang lalu, saat dimana ia melihat ayahnya sedang berpelukan dengan seorang wanita. Sakit hatinya, apalagi saat melihat ibu nya terus menangis secara diam-diam ketika malam hari tiba. Sejak kejadian itu, Naruto jadi seorang anak yang sedikit pendiam dan pemurung.

"Sasu-kun tolong bantuannya ya, un" sayup-sayup terdengar suara ibu nya yang meminta bantuan kepada seseorang. Lagi, Naruto tidak mau melihat siapa yang datang. Ia cukup merasa tenang saat berada di balkon menikmati cuaca sejuk dari atas sana.

Tak lama kemudian Naruto mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya, diiringi pintu menuju balkon yang sengaja ditutup. " Naru-chan" suara seorang bocah menyapa dirinya. Mengenali suara itu, Naruto langsung menoleh dan mendapati seorang bocah bersurai raven yang lebih tua 3 tahun darinya.

"Cacu" Lirih Naruto. Bocah bernama Uchiha Sasuke itu mendekati Naruto. Melihat iris sapphire balita yang ia sukai berkaca-kaca, membuat hati Sasuke terasa sakit. Mana senyuman manis milik Naruto? Mana tawa bahagia milik rubah kecilnya? Mana? Itu yang sangat ia rindukan.

" Jangan sedih... Aku di sini" Hibur Sasuke. Naruto segera berlari pelan dan memeluk erat tubuh yang lebih tinggi darinya 10 cm. Sasuke membiarkan Naruto memeluknya, dia senang saat melihat Naruto mulai mau berinteraksi dengannya. " Cacu di cini caja, ya" pinta Naruto. Sasuke tersenyum dan mengecup singkat kening Naruto. " Tentu saja" sahut nya.

Deidara tersenyum senang saat melihat buah hatinya mulai mau tersenyum kembali. " Terimakasih, saran mu memang manjur, un" Ucap Deidara, kepada seseorang yang sedang berdiri di sampingnya. " Tak masalah", " aku senang melihat Naru tersenyum lagi... Oh, iya Kakashi-kun nanti temani aku pergi ke toko bunga ya, un" Deidara melirik Kakashi.

Pria bernama lengkap Hatake Kakashi itu mengedipkan satu matanya mendengar permintaan Deidara. Tentu saja dia mau menemaninya, lagipula siapa yang rela kalau melihat Deidara digoda oleh laki-laki hidung belang di luar sana? TIDAK! Kakashi membayangkannya saja sudah tak rela, apa lagi kalau Deidara benar-benar digoda? Sungguh tak rela dia.

" 3 hari lagi pernikahan Yahiko dan Karin kan? Besok kau membantu mereka, Dei?" Tanya Kakashi. Deidara menganggukan kepalanya, pertanda jawaban atas pertanyaan Kakashi. " Kita berangkat bersama ya" Usul Kakashi. " Baiklah, un" sahut Deidara.

.

.

.

.

* Tempat Praktek Deidara (pukul 1 siang) *

Setelah menitipkan Naruto pada Kakashi, Deidara yang kini sudah berada di tempat prakteknya langsung mendapatkan seorang pasien kecil bersama ibu nya yang mengeluh sakit pada gigi nya yang bolong. Tak butuh waktu lama, dengan sangat handal Deidara menambal gigi bocah tersebut.

" Nah, kalau sudah diobati jangan terlalu sering makan coklat ya, un" Deidara memberi wejangan pada sang pasien. " Aku sudah tak boleh makan coklat lagi ya, dok?" Tanya sang pasien. " Bukan begitu, tapi sehabis makan yang manis-manis, jangan lupa sikat gigi mu" Jawab Deidara. Ibu dari anak kecil itu mengucapkan banyak terimakasih sehabis membayar.

Selepas ibu dan anak itu pergi, Deidara terlihat tengah sibuk membersihkan alat praktek miliknya. Dia menoleh saat mendengar suara bel (akibat pintu masuk prakteknya di buka). Seorang wanita bersurai soft purple berdiri di depan pintu sambil menundukan kepalanya.

Deidara memicingkan matanya, wanita berambut pirang itu terpaksa menghentikan kegiatannya sejenak. Dilepaskannya jas lab berwarna putih miliknya. " Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Deidara seformal mungkin. Sambil menyampirkan jas nya pada gantungan baju yang tersedia di sana. " Bisa tidak kita bicara sebentar?" Konan balik bertanya.

Ia tahu, apa yang dilakukan oleh Deidara hanya sebagai alasan agar tidak bertemu pandang dengan dirinya. " Maaf, saya sedang sibuk, un" jawab Deidara. Konan segera menahan pergelangan tangan Deidara agar wanita itu tidak pergi. " Ku mohon" Pinta Konan.

Deidara mengangguk pelan, pada akhirnya dokter gigi berparas cantik itu pun mengalah. " Silahkan duduk" Deidara mempersilahkan Konan duduk di sofa. Wanita berusia 24 tahun itu langsung bergegas menuju dapur mini, hendak menyediakan teh untuk tamunya.

Konan memperhatikan sosok Deidara. Wanita itu memang terlihat anggun sekali. Berbeda dengan dirinya, Deidara lebih dewasa menghadapi suatu masalah. " Maaf, hanya teh" kata Deidara, santun. " Kau pasti sudah tahu aku kan" tebak Konan. Deidara terlihat tak begitu peduli dengan apa yang dikatakan Konan.

" Tentu saja, un" sahut Deidara. " Jadi ku rasa-", "katakan apa yang ingin kau bicarakan! Aku tak suka basa-basi" sela Deidara. Konan berdehem pelan. "Ehem, ini tentang Minato" Ujar Konan. " Lalu?" Deidara menuangkan teh ke dalam cangkir kecil nya. " Dia sangat mencintai mu" Konan langsung ke intinya.

Untungnya Deidara belum menyeruput teh milik nya. Sudah dipastikan jika ia menyeruput teh nya pasti ia akan tersedak atau bahkan menyemburkan air teh nya ke depan wajah Konan. " Maaf?" Deidara berpura-pura tidak mendengar perkataan Konan. " Bisakah kau kembali pada Minato lagi? Mencintai dirinya seperti kau mencintainya saat dulu kala?" Air mata Konan benar-benar tak bisa terbendung lagi.

Di hadapan Deidara ia menangis. Tak apa, jika membuat Minato bahagia, apapun akan ia lakukan. " Ku mohon, hiks" isak Konan. Konan meminta belas kasihan dari wanita itu. Deidara hanya terdiam sambil menatap kosong ke depan. Tak tahu harus berbuat apa, melihat Konan yang bersimpuh meminta kebaikan hatinya, Deidara akhirnya luluh dan meminta wanita selingkuhan mantan suaminya itu untuk bangun.

" Kau tak perlu melakukan ini, un" Kata Deidara, seraya menarik pelan lengan Konan-membantunya untuk berdiri. " Apapun akan ku lakukan, jika Minato bahagia" Lirih Konan. " Aku mengerti perasaan mu... Mencintai laki-laki yang sama, dan berusaha mengikhlaskan kepergiannya memang tak mudah... Jangan seperti ini Konan-san, cukup aku saja yang mengalaminya, un" Deidara mengulas senyum pada Konan.

Deidara menggelengkan kepalanya pelan, " hati ku hancur saat melihat kalian bersama... Tapi aku selalu tersenyum dan melakukan hal sebagaimana seorang istri lakukan, aku sudah pasrah saat itu...melihat nya membawa mu ke rumah, itu sangat menyakiti ku" Jelas Deidara. "Maaf" Ucap Konan.

" Bukan itu yang ingin ku katakan... Terimakasih telah mencintai suami ku" Ujar Deidara. " Kau memang wanita yang baik hati, Dei-san" Puji Konan.

.

.

.

.

* Skip Time *

" Begitu ya" beo Kakashi. Pria bermarga Hatake itu menganggukan kepalanya, mengerti. Seorang wanita bersurai pirang terlihat menatap sendu dirinya. " Maaf membuat mu kecewa, un" kata Deidara. " Tidak apa-apa, tapi aku boleh minta kesempatan sekali saja, bolehkan?" Tanya Kakashi. " Kesempatan?" Deidara menunjukan wajah bingungnya.

" Kesempatan mencium mu" Canda Kakashi. Wajah Deidara merona seketika. Berada di apartemen Kakashi, hanya ia dan sang pemilik apartemen di dalamnya. Suasana apartemen Kakashi yang sedikit gelap dan sepi. Tanpa Kakashi sangka, Deidara menganggukan kepalanya pelan.

Deidara memiringkan kepalanya sambil menutup matanya. Memperkecil jarak antara ia dan Kakashi. Begitu pun dengan Kakashi, hatinya begitu senang saat apa yang ia impikan terlaksanakan.

3 cm

2 cm

1 cm

Habislah jarak di antara mereka. Bibir kedua nya bertemu, Kakashi sedikit mengulum bibir merah delima milik Deidara. Tak apa hanya sekali, meskipun begitu ia sudah sangat bahagia melihat Deidara juga bahagia tentu nya. Bukan nafsu yang menguasai mereka, ciuman begitu lembut karena di dominasi oleh perasaan cinta dan kasih sayang.

5 menit kemudian, mereka melepaskan ciuman mereka. Wajah keduanya tampak memerah menahan malu. Kakashi memberanikan diri mengelus pelan wajah cantik Deidara. Wanita bersurai pirang itu kembali mengecup singkat kening Kakashi.

Cupp..

" Ayo kita keluar! Naru-chan dan Sasu-kun menunggu di luar" Ajak Kakashi, sambil membantu Deidara berdiri. Deidara menganggukan kepalanya pelan. Ia tak menyesal dengan apa yang ia perbuat, memberikan ciuman perpisahan pada orang yang mencintai kita? Ku rasa tidak buruk

.

.

.

.

Naruto tampak bahagia bersama bocah Uchiha itu. Di sepanjang perjalanan menuju Kota Uzu, Naruto dan Sasuke terlihat tak henti-hentinya bercanda. Deidara yang berada di kursi penumpang depan terkekeh geli melihat keduanya tampak senang selama perjalanan. Maklum saja, Naruto itu sedikit reseh dan cepat bosan kalau perjalanannya lama. " Cacu lihat" Naruto meminta Sasuke melihat sebuah taman bunga dari kaca mobil.

"Bagusc ya" Komentar Naruto. " Begitulah" jawab Sasuke. Naruto terus memeluk erat boneka rubahnya. " Naru-chan tumben sekali tidak cerewet, un" Deidara memulai pembicaraannya dengan Kakashi. " Memang biasanya cerewet?" Tanya Kakashi, Terus memperhatikan jalan. " Dia tidak tahan berlama-lama, un" Jelas Deidara. Kedua nya melirik dua makhluk kecil yang sedang bercanda di bangku belakang.

" Naru-chan, Fine?" Tanya Deidara, kepada buah hatinya.

"Fine" Naruto menganggukan kepalanya lucu.

" Sasuke-kun?" Deidara kini bertanya pada bocah Uchiha yang duduk di samping putra nya.

"Fine" jawab Sasuke, singkat.

.

.

.

.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya keduanya sampai di Kota Uzu. Sebuah rumah besar milik Yahiko yang akan menjadi tempat pernikahan nya bersama Karin berlangsung. Semua menyambut Kakashi, Deidara, Naruto dan Sasuke yang baru tiba.

" Bagaimana perjalanan mu tanpa papa?" Tanya Itachi. Dia memang berangkat lebih dulu bersama Hinata, Hanabi, dan Neji putra tunggal wanita bermarga Hyuuga itu. Sasuke yang sudah terbiasa tanpa ayahnya hanya diam saja dan melanjutkan jalannya sambil menggandeng pergelangan tangan Naruto kecil (yang sedang menggendong erat boneka rubah miliknya).

Kakashi hampir tertawa melihat Itachi yang tampak pundung di campakan oleh buah hatinya. " Sabar Itachi-san, pasti kalau terus di coba Sasuke-kun akan menerima anda sebagai ayahnya, un" Hibur Deidara. Itachi yang tadinya merasa sedih, langsung terlihat senang kembali. Benar, ia harus berusaha lebih keras lagi. Hanya Sasuke lah yang dia punya.

" Naluto-chan" Sapa Gaara dan Kiba bersamaan. " Lho, Kiba-chan juga ikut?" Tanya Naruto. " Bibi Temari yang mengajak ku" Jawab Kiba. " Huwaaahhhh, Naruto-chan" Seru Temari, wanita itu langsung memeluk erat Naruto. " Ah, Gaara, Kiba, dan Naruto-chan memang imut ya" Puji Temari.

" Dimana Asuma dan Kurenai?" Tanya Kakashi.

" Sepertinya mereka belum datang, un" Jawab Deidara.

.

.

.

.

Konoha, ( jam 9 malam)

Minato benar-benar merasa kesepian malam ini. Ia merindukan Deidara dan Naruto, tapi apa boleh buat? Keduanya sudah memandang benci dirinya. Ia tahu ia salah, tapi apa yang harus ia lakukan supaya Deidara mau menerimanya kembali.

Konan pun juga sudah memutuskan pergi dari apartemen Minato, sore tadi mantan kekasihnya itu pamit padanya. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Minato. Sekarang ini, ia benar-benar menjadi pribadi yang pemurung. Apakah ia harus berhenti mengejar Deidara?

Tidak, tentu saja Minato tidak akan pernah berhenti mencintai Deidara. Pernah sekali ia memutuskan untuk berhenti, tapi ternyata Minato benar-benar tidak sanggup untuk berhenti mencintai mantan istrinya itu. Memang sulit pertamanya, tapi Minato harus bersabar untuk mendapatkan kepercayaan Deidara padanya kembali.

Tratatatatatata..

Ponselnya berdering, panggilan dari sang ayah tertera di layar. Minato pun segera menekan tombol berwarna hijau di ponselnya.

" Moshi..Moshi"

'...'

" Pernikahan rekan bisnis tousan?"

'...'

" Kapan?"

'...'

" Baiklah, aku akan ke Uzu untuk menghadiri acara nya"

'...'

* Pip *

Minato meletakan kembali ponsel miliknya di samping bantal. Pernikahan rekan bisnis keluarganya di Uzu beberapa hari lagi, dia akan berangkat sendiri, tanpa seorang wanita yang menemaninya. Hah, lagi-lagi dia terlihat galau malam ini.

.

.

.

Sedangkan di Uzu sana, Deidara juga terlihat sama dengan keadaan Minato yang berada di Konoha. Berulang kali Deidara melirik handphone layar sentuh miliknya, berharap jika Minato menghubungi dirinya. Sebenarnya ia masih kecewa dengan apa yang ia lihat saat di apartemen Minato. Tapi entah kenapa, sulit sekali untuk tidak memaafkan Minato.

Perasaan ini sama seperti saat dimana ia masih berstatus sebagai istri Minato. Saat tersulit baginya, memarahi, bahkan, memprotes suaminya akan sikap sang suami yang gemar mabuk dan membawa wanita lain ke rumah mereka. Deidara melirik buah hatinya yang sudah terlelap di ranjang ukuran Queen size yang tersedia di rumah besar milik Yahiko.

Wajah damai milik Naruto, mengingatkan Deidara pada wajah Minato yang tengah terlelap. Wajah yang diam-diam sering ia belai, karena tak berani jika membelainya tepat ketika Minato terjaga. Apakah yang dikatakan Konan benar, kalau Minato masih mencintainya? Sebenarnya Deidara masih meragukannya.

Teringat saat dimana seorang pria dewasa yang juga berstatus sebagai dokter memintanya menjadi istrinya. Seorang dokter kulit ternama di Jepang, bernama Kabuto itu begitu menyukai Deidara. Tapi apa boleh buat? Deidara tidak bisa menerima Kabuto menjadi suami keduanya lagi.

Juga seorang komandan kepolisian bernama Madara, pernah meminta wanita bersurai blonde ini untuk menjadi istrinya. Tapi apa? Lagi-lagi Deidara menolak lamaran pria berusia 33 tahun itu. Pria mapan itu harus menjadi pria kesekian yang ditolak oleh sang putri sulung Yamanaka.

Entah apa yang membuat Deidara menolak semua lamaran dari pria-pria mapan nan tampan seperti Madara? Bahkan mungkin Kakashi, meskipun Kakashi tak pernah melamar dirinya, tapi dengan cara Deidara meminta Kakashi untuk berhenti mencintainya, Deidara juga sudah menolak pria bermarga Hatake itu.

Deidara selalu memegang prinsip, dimana baginya pernikahan hanya terjadi satu kali dalam seumur hidupnya. Memang terlalu naif, tapi begitulah adanya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya jika ia menikah lagi. Sesuatu yang begitu besar dan sulit ia ucapkan. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, begitulah kesimpulannya.

Sesuatu yang masih menjadi pertanyaan dalam hatinya dan belum pernah memiliki jawaban sama sekali. 'Apakah aku masih mencintai, Minato?' Begitulah pertanyaan yang sering ia utarakan dalam hatinya. Tak bisakah barang sekali saja ia melupakan Minato dan berpaling ke lain hati? Apakah memang ia hanya ditakdirkan untuk mencintai Minato seorang? Tak ada yang tahu.

Deidara tertawa miris saat mengingat dirinya yang dulu. Dirinya 5 tahun yang lalu. Ketika Minato mengacuhkan keberadaan nya, dimana Minato sering pulang dalam keadaan mabuk, bahkan tak jarang membawa wanita lain pulang ke rumah mereka. Hancur, hati Deidara hancur jika harus mengingatnya lagi. Melihat Minato tak ada disamping dirinya saat melahirkan, tak ada saat Deidara dalam keadaan hidup dan mati mempertaruhkan buah hati mereka.

Pernahkah Minato berpikir sekali saja tentang dirinya? Seandainya ia hidup di negeri dongeng, sudah pasti ia bisa memiliki akhir yang bahagia dalam hidupnya. Tapi Deidara tahu, semua itu hanya palsu. Tak ada akhir dalam kehidupan, karena manusia akan selalu memulai dan berakhir ketika waktu mereka sudah habis. Deidara bukan lagi gadis kecil yang bermimpi memiliki pangeran baik hati dan juga tampan.

Mendiang Ibunya selalu berkata, tak ada akhir untuk masa depan. Karena masa depan selalu dimulai dengan usaha. Jika sudah mencapai masa depan yang indah, kita tidak akan pernah bisa berhenti di satu titik saja. Masa depan memang menanti di depan, tapi untuk indahnya hidup kita yang tentukan.

Suatu pedoman hidup yang selalu Deidara pegang. Berusaha, Deidara terus berusaha untuk masa depan yang indah bersama Naruto, buah hatinya. Karena Deidara tahu, dia tidak bisa memperbaiki masa lalu. Maka dari itu untuk sekarang, Deidara selalu berusaha menjadi yang terbaik bahkan lebih baik untuk malaikat kecilnya.

Apa yang dibutuhkan Naruto? Naruto tidak butuh banyak mainan dan uang yang banyak, Naruto hanya membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya. Memiliki mama dan juga papa, adalah impian balita yang 6 bulan lagi genap berusia 5 tahun.

Sadar akan apa yang Naruto butuhkan, Deidara tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi lagi-lagi butuh proses untuk mencapai kebahagian putranya.

" Aku harus melakukannya, un!" Gumam Deidara, optimis.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hi, Jumpa lagi, Minna..

Pertama, Misa mau mengucapkan banyak terimakasih buat para Readers yang Me-Review atau pun cuma numpang membaca, terimakasih sudah bersedia membaca FF buatan Misa. Mungkin ceritanya masih kurang bagus. Jujur saja, Misa sering kehilangan ide pas lagi nulis cerita ini:'(

Tapi berkat dukungan para Readers dan partner yg juga merangkap menjadi sahabat Misa, Naru-chan! Misa bisa lanjut buat FF ini. Naru-chan selalu memberikan inspirasi ide untuk Misa, huwwaaahhhhhhh, aku terharu:')

Lagi-lagi Misa ucapkan Terimakasih buat para Readers yang bersedia membaca cerita Misa. Maaf kalau lagi-lagi cerita ini kurang pas di hati kalian..

Jumpa lagi:)

.

.

.

.

Mind To Review?