Single Parent 8

Pairing : Mina(Fem)Dei/Kaka(Fem)Dei

Warning : Typo(s), OOC Chara, AU,Gender Bend (sedikit Yaoi) No Flame

ALL Chara Belong (c) To Masashi Kishimoto

Rating : T+

Story By MISA Anaru

.

.

.

.

.

special untuk chapter yang ini, mungkin isi nya bisa dikatakan Flashback masa lalu nya Mina sama si Dei-chan. Jadi, mohon maaf kalau mengecewakan :(

.

.

.

.

.

Flashback On

Di mulai dari seorang gadis bersurai pirang pucat yang sedang berteriak di depan seorang laki-laki paruh baya yang kita ketahui adalah ayah dari sang gadis tersebut. "apa? dijodohkan, tousan tidak bisa seenaknya saja bertindak" kata gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu.

"ino, dengarkan Tousan dulu!"Seru sang ayah, mencoba memberi pengertian pada gadis berusia 17 tahun ini. "untuk apa mendengarkan tousan?"tanya gadis itu, sarkatis. "tapi ini untuk kebaikan keluarga ki-"

"aku tidak peduli" sela Ino. Ia benci dikekang, ini zaman modern kan? Apakah masih ada yang namanya perjodohan. "jika kau tak mau mengikuti perintah ku, pergi dan jangan pernah kembali" Seru Inoichi. Ino membulatkan matanya. "baiklah... Lebih baik aku pergi daripada harus menikah dengan bangsawan brengsek itu" tantang Ino.

tanpa mereka sadari, seorang gadis yang memiliki perawakan yang hampir sama dengan gadis bernama Ino itu sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

BRRAakKK~

Ino terkejut ketika melihat sang kakak, Deidara yang tengah berdiri tepat di depan pintu, saat ia membuka pintu ruang kerja ayah mereka. Kedua anak piatu itu terkejut. "G..gomen"ucap Deidara, terbata-bata. Ino hanya mendengus dan berjalan menjauhi sang kakak.

.

.

.

.

.

_Skip Time_

"tousan, biarkan Dei saja yang menggantikan Ino-chan"pinta Deidara pada sang ayah. Inoichi terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putri sulung nya. "Apa maksud mu?"tanya Inoichi, berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Deidara.

Deidara berjalan mendekati sang ayah yang tengah berdiri di depan jendela kamar. Gadis berbakti kepada orang tua itu adalah gadis yang patuh, begitu lah menurut Deidara. Gadis itu berdiri tepat di samping sang ayah.

"jangan berpura-pura, Tousan"Deidara tersenyum dan memandang kosong ke arah luar jendela. "Perjodohan dengan Namikaze Minato, Tousan memaksa Ino-chan untuk menerima lamaran dari keluarga bangsawan Namikaze kan"Tebak Deidara.

Inoichi tersenyum miris mendengar ucapan sang putri sulung. "kau mengetahuinya ya" kata Inoichi. Deidara menganggukan kepalanya. "izinkan aku yang menikah dengan nya, Tousan" pinta Deidara.

Inoichi langsung merengkuh tubuh Deidara. Tuhan, sebenarnya Inoichi juga tak mau, memberikan salah satu putrinya untuk tunggal Namikaze itu. Tapi keadaan terlalu mendesak, sehingga ia terpaksa melakukannya.

"hutang kita terlalu banyak, nak"ujar sang ayah, mengusap pelan surai pirang putri pertamanya itu. Deidara terkejut mendengar nya. "tousan, berhutang pada keluarga Namikaze?" tanya Deidara, curiga.

"tuan Jiraya meminjamkan uang yang cukup besar saat perusahaan kita hampir bangkrut, jika tousan tak sanggup membayar, Tuan Jiraya meminta salah satu dari kalian menikahi putra nya "jelas Inoichi.

" Ino-chan masih terlalu muda untuk menikah, Tousan" kata Deidara. "tousan tahu" sahut Inoichi. Deidara memberikan jarak diantara mereka berdua. Deidara lagi-lagi tersenyum mencoba menyembunyikan raut kesedihannya. "kalau begitu biar Dei saja yang menikah dengan tuan muda itu, tousan" usul Deidara.

seorang gadis muda bersurai blonde pucat yang tanpa sengaja mendengar perkataan kakak dan ayah nya terkejut bukan main. Ino mengepalkan tangannya erat-erat, "hiks, Nee-chan bodoh" Gumam Ino. Gadis itu berlari menjauhi kamar sang ayah, sambil menghapus air mata yang menetes di sela-sela ekor matanya.

.

.

.

.

.

_ Acara Pernikahan_

Singkat cerita, akhirnya pun pernikahan Deidara dan seorang tuan muda Namikaze pun tiba. Deidara menatap dirinya di depan cermin besar di hadapannya. Dengan memakai gaun berwarna putih gading dan sebuah tiara berbahan dasar berlian pemberian keluarga Namikaze, Deidara tampak cantik sekali.

Krrriiettt...

Deidara menoleh ke arah pintu dan mendapati adik perempuannya tengah menutup pintu berwarna coklat muda itu. gadis berusia 19 tahun itu mencoba menyembunyikan raut kesedihannya di depan sang adik.

"sudahlah Nee-chan! Jangan bermain drama lagi"ujar Ino. Ino tahu apa yang dirasakan kakaknya. Ino tahu apa yang hendak disembunyikan kakaknya. Mereka bersaudara, ingat? Darah mereka sama, bahkan mereka terlahir dari rahim yang sama. Ikatan batin itu pasti ada. Deidara menundukan kepalanya dalam-dalam. "jangan menyakiti hati mu untuk ku, DEI-NEE"

Lagi-lagi Deidara terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang adik. "aku melakukan ini demi keluarga kita, un" dusta Deidara. "bohong! Aku benci pembohong! Nee-chan bohong.. Hikss, kenapa.." Ino tak bisa menahan rasa sedihnya lagi.

Sudah cukup ia menahannya dari saat pertama kali Deidara mengatakan bahwa ia yang akan menggantikan Ino menikah dengan Minato. "aku menyayangi mu, Ino.. Sangat, kau tak boleh menikah dengan pemuda playboy seperti Minato.. Kau harus memiliki pemuda yang mencintai mu dan menyayangi mu, Imouto"Aku Deidara.

GREBB...

"aku sangat menyayangi, Nee-chan" Ino memeluk erat sang kakak. "hey, kau bisa merusak gaun ku tahu" canda Ino. "kau ini, masih saja bisa bercanda"protes Ino. Deidara menghentikan tawa nya saat mendengar suara ketukan pintu. "itu pasti si Namikaze muda"kata Ino.

Deidara pun segera berjalan menuju pintu tersebut. Matanya terkejut saat pintu tersebut terbuka dan menunjukan sosok sang calon suami berdiri tepat dihadapannya. "aku ada perlu dengan mu"ujar Minato. Ino yang entah dari kapan ia sudah tak lagi terlihat di kamar tersebut. (sebenarnya sih sudah pergi dari tadi saat melihat Minato masuk ke kamar itu)

.

.

.

.

.

.

_Malam Hari_ At Konoha

acara pernikahan antara Putri sulung Yamanaka dan putra tunggal dari keluarga Namikaze pun berlangsung meriah. Banyak para tamu yang heran dengan ketidak hadiran pengantin baru itu di hadapan mereka. Dengan alasan 'lelah' Minato meminta kedua orang tua nya untuk membolehkan mereka berdua untuk tidak hadir ke sesi acara berikutnya.

Kini, disinilah mereka berada. Di sebuah kamar hotel mewah yang sengaja disewa untuk mereka berdua.

"arrgghh"Deidara meringis kesakitan saat punggungnya berbenturan dengan permukaan kasur. Sakit, ini sakit sekali. 'tuhan, kuatkan hati ku untuk bersama nya' Deidara memandang takut pemuda yang kini resmi menjadi suami nya.

"kau takut? "tanya Minato. Minato segera menindih tubuh sintal Deidara. "tolong jangan sakiti aku, un"pinta Deidara.

Minato beranjak dari tubuh sang istri dan merebahkan tubuhnya di samping Deidara yang tengah terisak. Melihat wajah kesedihan Deidara, Minato memegang dada nya yang terasa sesak. 'apa ini?' batin Minato.

"kau terlihat lelah, sebaiknya lekaslah tidur!"seru Minato. Dengan pipi yang sembab dan wajah yang memerah, Deidara menatap Minato. "atau kau mau mandi? Akan aku sediakan air hangat untuk mu" Lanjut Minato.

Sikap kasar Minato tiba-tiba hilang berganti dengan sikapnya yang menjadi lebih perhatian. Deidara menggelengkan kepalanya pelan dan beranjak dari ranjang. Kaki-kaki jenjangnya melangkah mendekati suaminya. "aku biasa menyiapkan air hangat untuk tousan, Minato-san silahkan istirahat" kata Deidara.

Senyuman Deidara, cantik.. Senyuman cantik yang mungkin bisa Minato katakan, jika senyuman Deidara adalah yang tercantik bagi nya. Ya, cantik... Cantik sekali, hingga tanpa sadar Minato mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri.

Deidara terkejut saat bibir Minato menempel tepat di bibirnya. Ini, ciuman pertama bagi Deidara. Minato mencium nya, mencuri ciuman pertama nya (lebih tepatnya). Sebuah janji yang pernah Deidara ikrarkan, siapa yang mencium nya untuk pertama kali, Deidara akan menyerahkan seluruh hati nya, hidupnya, bahkan mati nya untuk pria itu.

Bagaikan terbius dengan ketampanan sang Namikaze, Deidara bahkan membiarkan saat Minato mengangkat tubuh nya dengan sangat mudah menuju ranjang berukuran king size itu.

Suara desahan dan ranjang yang berderit, mungkin sudah hal yang biasa untuk pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri.

.

.

.

.

.

3 Bulan Kemudian..

"wajah mu pucat, apa kau cukup makan, Dei?"tanya Minato pada sang istri yang tengah mencuci piring. Deidara menggelengkan kepalanya pelan. Memang akhir-akhir ini ia sering sekali pusing dan mual, makanya dia kelihatan pucat dari biasanya.

Minato meletakan koran di atas meja makan. Ya, memang sekarang mereka sudah tinggal di rumah mereka, setelah 1 bulan lamanya tinggal di apartemen. Rumah sederhana namun tampak kelihatan mewah yang di beli oleh Minato khusus untuk mereka tempati.

pria bersurai pirang itu berjalan mendekati sang istri dan memeluk nya dari belakang. "atau jangan-jangan kau-"

"huummpp" Deidara menutup mulut nya dan berjalan terburu-buru menuju wastafel. "hooeekkk"wanita yang kini sudah resmi menjadi istri pewaris tunggal Namikaze itu memuntahkan seluruh makanan yang baru ia makan pagi ini.

Bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dada Minato. Bangga, ya tentu saja ia bangga. Entah, bagaimana meng-ekpresikannya, yang jelas Minato bahagia sekali. "kau hamil, Dei"Celetuk Minato. "b..benarkah?" tanya Deidara, tak percaya.

.

.

.

.

.

- MISA Chan-

Sejak kehamilan Deidara, Minato memang lebih sering berada di rumah, dibandingkan pergi menikmati dunia hiburan malam, seperti hobi nya dulu. Bahkan, Minato cenderung sangat protektif pada sang istri. Ia lebih mementingkan Deidara dibanding yang lainnya.

Menemani Deidara belanja sayur-mayur. Bahkan, menemani sang istri bepergian kemana pun. Meskipun terlihat perhatian, Minato masih tak mengerti dengan perasaan nya terhadap Deidara. Deidara sendiri pun juga tidak mengerti dengan sikap Minato..

Terkadang jutek, terkadang kasar, dan terkadang perhatian. Sebenarnya mana sifat asli Minato?

"apa nama makanan in?"tanya Minato. kedua nya kini tengah berada di ruang makan, menikmati makan malam bersama. Deidara tertawa geli mendengar pertanyaan sang suami. Sudah 10 tahun tinggal di Jepang, Minato masih belum tahu nama-nama masakan Jepang. Aduhh, menggelikan sekali...

"itu ramen, un"jawab Deidara, memasukan potongan apel ke mulutnya. "kau tak pernah memasak makanan ini untuk ku" kata Minato, kalem. "maaf, aku kira Minato lebih suka makanan barat dibanding makanan Jepang" ucap Deidara.

"ini pertama kali nya seseorang memasak makanan khas Jepang untuk ku"Aku Minato. Deidara terkejut mendengar perkataan Minato. tak heran sih, Minato lahir di Jerman, besar pun juga di Jerman. Maklum saja, ibu dari Minato ini keturunan Jerman.

"mulai sekarang aku akan mengenalkan masakan khas Jepang pada mu, un"Deidara mengulas senyum nya pada sang suami. Minato menganggukan kepalanya pelan. "hey, apa ini?" tanya Minato-menunjukan sesuatu berbentuk seperti bunga dengan pola berwarna pink di permukaannya. sesuatu yang menjadi hiasan unik bagi masakan tersebut. "itu Naruto namanya" jawab Deidara

"Naruto"beo Minato. "hu'um, cobalah" sahut Deidara. Minato terdiam sejenak, berpikir, apakah ia harus memakannya? Sebelum pada akhirnya, Deidara menyumpitkan Naruto tersebut dan menyuapi Minato dengan makanan itu.

"enakan?"tanya Deidara. "hey, aku punya ide nama untuk anak kita"kata Minato. "jangan bilang kamu mau memberi nama anak kita dengan nama-"

"Naruto"potong Minato. Deidara sweatdropped mendengar perkataan Minato. "nama yang indah" puji Deidara, meskipun nama itu terdengar aneh di telinga nya.

MISA Anaru

.

.

.

Dalam rumah tangga, sebuah konflik itu pasti akan selalu hadir. Mencoba untuk menguji kesetiaan di antara mereka. Seperti dalam ujian. Apakah kalian akan lulus test tanpa mengikuti ujian? Tentu saja tidak, bukan?

Ada kebahagian, tentu saja ada kesedihan. Hari ini, Deidara tersenyum senang melihat sebuah kalender yang menunjukan, jika hari ini kandungannya genap berusia 5 bulan. Tinggal 4 bulan lagi, ia melahirkan.

Rasanya tak sabar untuk bertemu dengan calon buah hati nya itu. Diraihnya sebuah bento berisi makanan khas jepang (seperti onigiri, teriyaki, dan chicken katsu) buatan dirinya untuk sang suami.

"Naru-chan, kita akan mengantar ini ke kantor papa, un"Deidara mengelus pelan perutnya yang kini sudah terlihat membuncit itu.

Tinn...tinn...tinnn

"ah, itu pasti paman Kurama"gumam Deidara. Ia lekas berjalan sambil menenteng sebuah bento di tangannya.

Di luar terlihat sosok pria tampan bersurai jingga tua tengah menatap diri nya. Kurama nama pria itu. Pria yang baru berusia 21 tahun itu tersenyum ketika melihat saudara sepupu nya mulai berjalan mendekati nya.

"apa kabar, Dei-chan?"tanya Kurama

"baik, Nii-chan sendiri bagaimana?"Deidara bertanya balik. "seperti kelihatannya.. Ayo masuk!" seru Kurama.

.

.

.

.

.

_Kantor Namikaze_

"nyonya saya mohon nyonya pulang saja, biar saya yang memberikan ini pada tuan muda"Ujar salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan milik keluarga Namikaze. Lantas saja Kurama tidak tinggal diam mendengarnya, pria tampan ini sangat kesal ketika adik sepupu nya di tolak di kantor suami nya sendiri. "kenapa aku tidak boleh masuk, un?"tanya Deidara. karyawan ber-name tag Morino Ibiki itu terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh nyonya muda nya itu.

Tak ada jawaban dari Ibiki. Sang Nyonya muda pun langsung melenggangkan kaki nya menuju ruang kerja suami nya. "nyonya"seru Ibiki. Deidara hanya menoleh saja dan tidak menyahuti panggilan Ibiki. Kurama mendengus pelan dan berjalan mengekori Deidara. "aneh, masak aku tidak boleh mengunjungi suami ku sih, un"umpat Deidara. Kurama mengusap pelan surai blonde sang adik sepupu. "ngomong-ngomong, kenapa Kurama-nii tidak datang saat pernikahan ku?" tanya Deidara.

"aku? Hmm, ada pekerjaan mendadak"jawab Kurama. "uhh, dasar tukang sibuk"sindir Deidara. Kurama mencubit pipi tembam Deidara, gemas. Ya, sejak kematian kedua orang tua nya. Kurama memang lebih dekat dengan keluarga adik dari mendiang ibu kandung nya. Apalagi dulu saat mereka masih sama-sama kecil, Inoichi sudah menganggap Kurama sebagai putra nya sendiri.

Lift yang mereka naiki pun akhir nya tiba di lantai di mana ruang kerja Minato berada. Kurama yang tak bisa mengantar Deidara ke ruangan tersebut karena pria itu harus mengangkat panggilan di ponselnya. Padahal, Deidara akan mengenalkan Kurama pada Minato.

"dengar ya, kau harus hati-hati! Ingat dengan kandungan mu itu"ujar Kurama (sebelum berbicara dengan seseorang yang menelpon diri nya).

Deidara mengangguk pelan dan berjalan santai mencari ruang kerja Minato.

MISA Anaru

.

.

.

Suhu ruangan dingin menyambut kedatangan Deidara. Wanita bersurai blonde itu sedikit heran ketika tak melihat kehadiran sang suami yang biasa duduk di kursi kerja nya. Padahal, Ibiki bilang Minato tengah sibuk di ruangan nya, tapi kenapa ruangan Minato terlihat kosong?

Dilangkahkannya kedua kaki jenjang milik nya memasuki lorong yang menghubungkan ruang istirahat di ruangan tersebut.

Mata nya membulat saat melihat dua orang yang sedang berpelukan. dada nya sesak, apalagi orang tersebut adalah suami nya dengan seorang model yang disinyalir adalah mantan kekasih dari suami nya itu.

Namun biar begitu, Deidara mencoba menguatkan hati nya agar kaki-kaki nya yang lemas bisa digerakan kembali. Supaya ia cepat keluar dari ruangan itu.

.

.

.

.

Ruangan Minato

"Konan, bisa tidak kau lepaskan! Ini terasa sesak" kata Minato. "tidak mau, sudah lama kan kita tidak berpelukan" sahut Konan, semakin mengeratkan pelukannya. Minato mencoba melonggarkan pelukan Konan. Duh, bagaimana jika istri nya melihat, pikir Minato.

"aku tak mau Deidara melihat kita seperti ini"ujar Minato, seraya mendorong pelan tubuh Konan. "huhh"

MISA anaru

.

.

.

.

Kurama heran melihat adik sepupu nya yang terlihat tengah menyembunyikan sesuatu ketika sesudah mengunjungi suami nya. "bagaimana?"tanya Kurama "e..eto, d..dia sedang sibuk.. Ya, dia sibuk.."dusta Deidara. Kurama menyipitkan mata nya, mencoba menerima ucapan Deidara.

"ayo pulang!"ajak Deidara. Kurama menggandeng pergelangan tangan Deidara. 'dingin' pikir Kurama. Ini tak beres, sebenarnya ada apa dengan Deidara? Kurama bertanya-tanya dalam hati.

.

.

.

.

_Kediaman Yamanaka_

"kenapa kau tidak menceraikan nya saja?"tanya Kurama. Sebenarnya, Kurama sangat geram begitu mendengar cerita Deidara mengenai apa yang ia lihat di ruangan sang suami. Itu pun karena Kurama memaksa nya, kalau tidak, Deidara enggan untuk bercerita.

Deidara menggelengkan lemah kepala nya. Wajah manis nya terlihat sembab, membuktikan jika ia habis menangis. "kenapa?" Kurama bertanya lagi. "aku tak mau mempermalukan tousan" jawab Deidara.

"tousan memaksa mu lagi? Biar aku yang bicara pada-"

"t..tidak perlu"Deidara menahan pergelangan tangan Kurama. "nii-chan, biarkan aku berbakti pada tousan"kata Deidara.

"aku mau membalas semua budi yang telah tousan berikan pada ku.. Merawat ku, membiayai hidup ku, menjaga ku, membesarkan ku, dan menyayangi ku.. Tousan sudah banyak berkorban demi kami.. "lanjut Deidara.

Kurama speechless, tak tahu harus berkata apa. Jantungnya terasa sesak. Tak terasa air mata mulai merembes di mata nya. Kenapa adik nya harus memiliki kisah hidup yang perih seperti ini?

Dipeluknya sang adik. Pelukan penuh kasih sayang, karena Kurama memang sangat menyayangi Deidara. Adik perempuanya.

"kau sangat mirip kaasan"puji Kurama, saat mengingat mendiang bibi nya, yang sangat menyayangi dirinya dan juga Deidara.

Tanpa mereka sadari, seorang pria mengintip Apa yang tengah mereka lakukan. pria itu mengepalkan tangannya erat-erat. "jadi, demi tousan mu ya"lirih pria itu. Dada nya sesak saat mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Deidara.

"kenapa ini menyakitkan, Dei"pria itu tersenyum miris.

.

.

.

.

Sejak kejadian itu. Sikap Minato dan Deidara benar-benar berubah. Minato lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan istri nya Deidara. Deidara sendiri lebih memilih diam dan sabar dengan semua perlakuan yang ia dapat dari Minato.

'sabar Dei, tuhan tidak akan memberi cobaan yang berat pada umatnya.. Karena tuhan tahu kau bisa melalui nya' Deidara terus menyemangati diri nya dengan kata-kata yang selalu sang ibu katakan.

Malam ini, adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Kue ulang tahun dan beberapa makanan lezat tertata rapih di atas meja. Deidara melirik jam di dinding.

"huft"Deidara menghela napas. sudah pukul 9 malam, tapi suami nya belum juga terlihat. Deidara menidurkan kepalanya di atas meja. Mungkin karena terlalu lelah, wanita bermarga Namikaze-Yamanaka ini akhirnya terlelap sambil duduk di bangku dengan kepala yang berada di atas meja makan.

.

.

.

.

"kau masuk ke kamar tamu!"seru Minato, kepada wanita bersurai soft purple yang bergelayut manja pada nya. "nee, kenapa di sana?"tanya wanita itu. "ini sudah malam, Deidara pasti tidur di kamar itu"jawab Minato.

Konan mengangguk pelan dan berjalan santai menuju kamar tamu. Sedangkan, Minato berjalan gontai menuju kamar ia dan Deidara tempati.

.

.

.

.

Sesampainya di kamar mereka. Minato segera menyalakan lampu untuk menerangi kamar mereka. Tak perlu susah payah, Minato menemukan saklar lampu. Ini kamarnya, tentu saja dia sudah hafal betul letak dan posisi kamar nya.

Minato terkejut ketika tak melihat Deidara berada di kasur. Diliriknya arloji di tangan kiri nya. Pukul 3 pagi, seharusnya Deidara sudah tidur di kamar mereka. Dengan perasaan was-was, Minato keluar kamar hendak mencari sang istri. Yuki, mungkin saja, Yuki dan Yuko (dua maid kembar) yang menemani sang istri tahu keberadaan Deidara.

Tapi tak mungkin, jika harus mengganggu dua maid itu. Ini sudah malam, Yuki dan Yuko pasti sudah tidur. iris biru pewaris tunggal Namikaze itu terbelalak lebar saat melihat sosok Deidara yang tertidur di ruang makan. Rasa hangat menjalar ketika melihat wajah polos sang istri yang tampak damai dalam tidur.

Tapi perasaan miris terasa ketika melihat banyak makanan dan kue bertuliskan 'selamat hari ulang tahun pernikahan' yang teronggok begitu saja di atas meja. Dipotongnya kue tersebut. Kue yang lezat, ya, sangat lezat. Apalagi ketika mata Minato menangkap sebuah secarik kertas berisi resep membuat kue tart. dan tunggal Namikaze pun tahu betapa lelah nya Deidara, menyiapkan semua ini untuk dirinya.

Diangkatnya tubuh sang istri dan membawa nya ke kamar mereka. tubuh Deidara yang sedikit lebih berat, tapi tentu saja bukan Minato jika mengangkat tubuh istrinya saja tidak bisa.

.

.

.

.

Beberapa Bulan Kemudian..

Tak terasa kandungan Deidara kini sudah genap 9 bulan. Tinggal menghitung hari saja, kapan sang jabang bayi lahir. Senin pagi yang cerah, membuat Deidara merasa bahagia dengan kedatangan ayah nya di rumah nya. Mengingat jika beberapa hari lagi ia mungkin akan melahirkan. Apalagi Minato sedang berada di luar negeri, tidak mungkin bagi Deidara jika melahirkan tanpa ada yang menemani nya.

Beserta 3 orang butler dan 3 orang maid, Inoichi pergi mengunjungi putri sulung nya.

"nona Dei sekarang tambah cantik ya"puji salah satu maid.

Deidara tertawa kecil mendengar pujian sang maid. Hey, lucu kan. Jika kau dalam keadaan gendut, tiba-tiba saja ada yang memuji mu CANTIK. Tapi maid itu tidak bohong, Deidara memang lebih cantik dari terakhir kali sang maid lihat.

"nee, tousan kenapa Ino-chan tidak ke sini?" tanya Deidara. "entah lah, anak itu memang aneh sejak kau menikah"jawab Inoichi. Deidara menganggukan kepalanya menanggapi ucapan sang ayah. "kau sangat mirip kaasan mu"kata Inoichi.

"benarkah?"tanya Deidara.

"tentu saja"jawab Inoichi.

.

.

.

.

"tousan, sakit... Ahhhhhhhh... Sakitttt"Jerit Deidara. Inoichi mengusap pelan surai pirang sang putri yang tengah menahan sakit di perut nya. Beberapa suster mendorong ranjang di mana Deidara terlihat tak berdaya dengan darah yang mengalir dari selangkangannya.

"tahan, nak.. tahan.."Hibur Inoichi. Baru sekitar 11 jam bertemu, tiba-tiba saja Deidara merasakan nyeri di perut nya. "apa aku akan mati, tousan?"tanya Deidara. "kau tidak akan mati, nak"kata Inoichi. Genggaman di tangan Deidara pada tangan Inoichi pun terlepas, seiring suster meminta sang ayah untuk menunggu di luar.

.

.

.

.

AT BAR 00.00 malam...

Seorang gadis cantik bersurai blonde pucat menitikan air mata haru, ketika sebuah pesan multimedia terkirim untuk nya. Sebuah foto bayi mungil bersurai blonde terlihat jelas di layar ponsel milik nya. "wahh, kawaii sekali.. Anak siapa itu, Ino-chan?"tanya seorang pemuda tampan bersurai raven pada nya.

"dia putra Aneeki ku"jawab Ino, bangga. Pemuda bernama Sai itu merengkuh tubuh sang kekasih. "dia sangat lucu.. aneeki mu pasti bahagia sekarang"Kata Sai. Ino menganggukan kepala nya, mengerti.

Iris aquamarine nya tak sengaja melihat sosok yang ia kenal dan sangat ia kenali adalah kakak ipar nya tengah berciuman dengan wanita lain. Ino mengepalkan tangannya. Dilepaskannya tubuhnya dari rengkuhan kekasihnya.

"ada apa?"tanya Sai, heran. "tunggu di sini!"titah Ino. Sai hanya memperhatikan Ino yang berjalan menuju seorang pria muda di seberang sana. Gadis itu tak peduli dengan orang-orang yang tengah menari, diterobosnya orang-orang itu. amarah tampak jelas di mata nya.

"bersenang-senang kakak ipar?"tanya Ino. Laki-laki itu terkejut melihat kehadiran Ino tepat di hadapannya. "bersenang-senang saat istri mu mempertaruhkan nyawa untuk bayi mu? Eh, Ironis sekali"sinis Ino.

"apa yang terjadi?"tanya Minato. Ino malah tertawa bagaikan penyihir mendengar pertanyaan Minato. Entah sejak kapan, alunan musik berhenti. Semua menatap dua orang yang seperti nya hendak bertengkar itu.

"aku tidak tahu, kakak ku itu terlalu bodoh atau apa.. Hingga bersedia melahirkan putra dari orang brengsek seperti mu"sindir Ino.

Jantung Minato terasa tertohok mendengar sindiran Ino. Sebrengsek itu kah dia? Ya, sangat. "kenapa diam? Cepat temui Dei-nee di rumah sakit Konoha Internesional sekarang!"seru Ino. Minato pun segera beranjak dari duduk nya. Pikirannya berkecamuk sekarang. Dia takut dengan keadaan sang istri.

"semoga kalian baik-baik saja"gumam Minato.

.

.

.

.

Rumah Sakit, Konoha jam 1 malam..

Deidara terus memandangi sang buah hati yang terlelap di gendongannya. Wajah imut nya disertai tanda lahir di pipi nya tembam nya seperti kumis kucing menambah kesan imut bagi Naruto kecil. "benar-benar mirip Minato"bisik Inoichi, mengusap surai pirang bayi yang 1 baru lahir beberapa jam itu.

Rasa sakit yang Deidara rasa terobati saat melihat wajah polos putra nya. "hu'um, mirip sekali"sahut Deidara. "apa Minato sudah mengetahui nya?"tanya Inoichi. Deidara menggelengkan pelan kepalanya.

"begitu ya"

CKLEKk..

Inoichi dan Deidara menoleh ke arah pintu. Dimana sosok Minato terlihat bersimpuh dan mencoba mengatur napas. Wajah tampan nya terlihat sangat lelah. kaos pollo yang ia kenakan juga sedikit basah dengan keringat di tubuh nya.

"Minato"

Minato menoleh saat mendengar panggilan dari suara lembut milik istri nya. Dengan langkah gontai ia mendekati ranjang, dimana Deidara tengah menimang buah hati mereka. Minato menyentuh lembut bahu sang istri. "laki-laki atau perempuan?"tanya laki-laki yang kini resmi menjadi seorang ayah.

"laki-laki"jawab Deidara. "tampan dan imut"bisik Minato. "ya, tampan seperti papa nya"kata Deidara.

Mereka berdua terus memperhatikan buah hati mereka. Hingga tak ada satu pun yang sadar, jika Inoichi sudah keluar dari kamar inap putri nya. "Naruto"Deidara terkejut saat melihat kelopak mata buah hati nya terbuka lebar dan menunjukan dua manik sapphire yang indah.

"Naruto"beo Minato.

"nama yang kau berikan untuk nya"kata Deidara dengan senyuman manis nya. Minato terus menatap mata bayi mereka. "apa kau tak mau menggendong nya?" tanya Deidara. "apa aku pantas menggendong nya?"tanya Minato, terdengar lirih. "tentu saja, kau kan ayah nya"

Flashback OFF

.

.

.

.

Kota Uzu (pukul 9 malam)

Kembali ke masa sekarang, dimana terlihat seorang wanita cantik bersurai blonde tengah duduk menyendiri di ayunan tunggal. terus mengayun, meskipun ayunan tersebut tidak mengayun kencang. Tampak nya, wanita ini enggan untuk mengayun ayunan nya dengan kencang.

Wajah nya yang tertutup setengah oleh surai blonde miliknya terlihat sedikit berantakan diterpa angin malam.

Deidara menolehkan kepalanya ke belakang saat ayunan yang ia naiki berayun cepat. Pria bersurai keperakan tersenyum ke arah nya. "tidak menjaga Naru-chan?"tanya pria bermarga Hatake itu. Deidara menggelengkan kepalanya pelan. "dia menginap di kamar Itachi-san" jawab Deidara.

Kakashi mendorong ayunan itu ketika ayunan yang dinaiki Deidara mendekat ke arah nya. "kau terlihat kacau"komentar Kakashi. "memang nya kenapa?"Deidara bertanya. "aneh saja"jawab Kakashi. Deidara mengangkat bahu nya. Setelah ayunan benar-benar berhenti, Deidara segera beranjak dari posisi nya.

"hanya mengenang masa lalu"Ujar Deidara. Bawahan dress malam yang ia kenakan melambai pelan di terpa angin. Tatapannya sayu, apalagi saat berjumpa pandang dengan Kakashi. "flashback, eh?"goda Kakashi. "begitulah"sahut Deidara, tak niat.

"sudah terlambat untuk diperbaiki"gumam Deidara.

"begitu ya? Tapi belum terlambat untuk mengulang"sahut Kakashi.

Deidara membalikan badan nya dan menatap Kakashi. "kenapa?" tanya Deidara. Deidara melangkah gontai mendekati Kakashi. "kenapa Kakashi memilih ku?"

Kakashi terdiam, rasa nya pertanyaan Deidara tak perlu di jawab. Karena begitu sulit untuk menjawab nya. Bodoh, kenapa Deidara malah bertanya seperti itu? Sudah jelas kan, kalau Kakashi menyukai nya. "meskipun banyak yang lebih sempurna... Aku hanya akan membuat Kakashi sakit hati saja.."Kata Deidara.

"ini sulit, tapi aku tak mau menyakiti mu lebih dari ini... Cukup! Aku hanya seorang single parent, kau bisa mendapatkan wanita bahkan gadis yang lebih pantas untuk mu" lanjut Deidara.

Ini egois, ya, sangat egois. Biarlah seperti ini.. Cukup sudah, Deidara tak mau menyakiti Kakashi. Memberinya harapan, hanya akan membuat nya merasa berdosa jika ia terus-menerus memberi harapan pada Kakashi.

"aku percaya-"

"kau meminta ku untuk berhenti?"tanya Kakashi, datar. Disentuhnya pelan rahang tirus Kakashi. Melihat wajah Kakashi, membuat Deidara terasa sesak. Menangis..

Deidara menangis..

Disentuhnya pelan dada nya..

Berusaha menahan sakit di sana. Sakit... Ini sakit sekali..

"aku sulit menentukan.. kau.. Minato.. Dua-dua nya, seandainya memiliki dua orang laki-laki itu bukan sebuah pantangan di keluarga ku, pasti tidak akan seperti ini, hiks"isak Deidara.

"kau tahu? Terkadang cinta itu memang egois"ujar Kakashi.

Deidara mendongakan kepalanya dan menatap Kakashi. "memilih dan dipilih, mencintai dan dicintai.. Aku berharap kau dapatkan yang terbaik" lanjut nya. Deidara tersenyum mendengar perkataan Kakashi. "tersenyumlah, karena aku suka melihat mu tersenyum?" kata Kakashi. "hehehe, terimakasih"Ucap Deidara.

ini menyakitkan..

Sakit, sangat sakit. Tapi, Kakashi juga tahu bagaimana rasanya memiliki dua orang yang disayangi. Berbagi, bukan suatu hal yang bagus dalam sebuah hubungan. Bukankah sebuah hubungan itu hanya ada dua orang? berhenti di sini.. ya, Kakashi tak bisa melanjutkannya. Melanjutkan, sama saja membuat Deidara terlihat menjadi wanita yang egois.

Angin berhembus semakin kencang. Seperti nya akan hujan..

Dan benar saja, hujan pun turun membasahi Kota Uzu. Kedua nya pun berlari memasuki mansion milik Yahiko. "jadi, bagaimana jika aku membantu mu mendapatkan suami mu lagi"tawar Kakashi. Deidara menoleh ke samping kanannya. Tertawa, Deidara tertawa pelan mendengar tawaran Kakashi. "kau ini"kata Deidara, seraya berjalan mendahului Kakashi.

"aku serius"Sahut Kakashi. Pria bermarga Hatake ini berjalan mengejar Deidara.

Grebb..

"anggap saja sebagai hadiah"Kakashi menahan pergelangan tangan Deidara. "hadiah?"tanya Deidara, bingung. "karena kau telah bersedia menjadi orang yang ku cintai"kata Kakashi.

Cupp..

"…"

Kakashi terdiam sambil memegang pipi sebelah kiri nya. Wajah nya memerah layak nya udang rebus. Mungkin, jika teman-temannya melihat, mereka akan menggoda Kakashi yang terkenal jarang memiliki ekpresi. Humm, ya, mungkin ini lucu.. Karena wajah tampan nya kini lebih terlihat seperti udang rebus dibanding dengan datar nya jalan tol..

"terimakasih telah mencintai ku.. Tapi aku tidak bisa, berikan cinta mu pada orang yang lebih layak dibanding aku.. Kau bisa, pasti bisa"Deidara memutar kenop pintu kamar nya..

"resepsi pernikahan Karin-chan besok akan diselenggarakan, selamat malam"Ucap Deidara, sebelum menutup pintu kamar tersebut.

"malam"sahut Kakashi.

.

.

.

.

Dei's Room

Bagaikan jelly, tubuh Deidara merosot begitu saja. Dengan tubuh yang bersandar tepat di pintu berbahan dasar kayu mahoni. Deidara memeluk lutut nya, menangis menyesali apa yang ia perbuat pada pria bermarga Hatake itu.

"maaf, maaf, maaf Kakashi.. Maaf, aku tak bisa.."Ucap Deidara. Runtuh sudah semua yang selama ini ia pertahan kan. Wanita tegar itu kini tak lebih dari seorang wanita cengeng yang selalu menangisi kepergian kekasihnya.

Deidara memegang leher nya.. Tidak, lebih tepat nya sebuah kalung yang melingkar persis di leher jenjang nya. Diputar nya sebuah pengait kalung tersebut, hingga kalung berwarna silver itu terlepas dari leher nya.

Kalung berbandul cincin. cincin yang menjadi saksi bisu pernikahannya dengan Minato, masih disimpan oleh nya tanpa sepengetahuan orang lain. Air mata menganak sungai di mata nya. Wajah cantik nya sembab, mengisyaratkan jika ia benar-benar tak sanggup saat ini.

.

.

.

.

Apartment's Minato

Minato memperhatikan cincin yang terpasang indah di jari manis nya. Wajah tampan nya terlihat sendu menatap cincin pernikahannya dengan seorang wanita yang resmi menjadi mantan istri nya dan resmi menjadi ibu dari putra tunggal nya, Naruto.

cincin yang selalu ia kenakan, meskipun pernikahannya sudah tak lagi berjalan lancar. Bukannya Minato tidak tahu, sebenarnya Minato tahu alasan mengapa Deidara masih menyimpan cincin pernikahan mereka.

Mereka masih saling mencintai. Ya, mencintai.. Minato tahu, jika Deidara masih mencintai diri nya. Jika tidak, kenapa Deidara menangis dan cemburu ketika melihat Minato yang tak sengaja berpelukan dengan Konan?

Kalau Minato sih, ya jangan ditanya. Pria tampan yang sebentar lagi berusia 27 tahun ini sangat dan sangat mencintai mantan istri nya itu. Itu lah sebabnya, kenapa Minato tidak menikah sejak perceraiannya dengan istri nya, Deidara.

itu kah cinta? Siapa yang tahu, karena cinta tak akan bisa dimengerti dengan kata-kata saja kan? Belajar mencintai, juga harus belajar membenci kan... Lagi-lagi, siapa yang tahu...

Cinta itu rumit, ya..

TBC

.

.

.

Hi, Minna..

Jumpa lagi, hiks.. gomen kalo pada akhirnya kecewa sama pairing yang gak sesuai.. Maaf juga soal update yang lumayan lama... Pokoknya, bener-bener minta maaf deh..

Kalo gitu, see you next chapter ya..

.

.

.

Mind To Review?