Single Parent 9
Genre : Romance/drama
Pairing : Mina(fem)Dei/Kaka(Fem)Dei
Rated : T+
Warning : Au, OOC Chara, GENDER BEND, Typo(S), No Flame
All chara belong to Masashi Kishimoto (c)
Misa Anaru(c)
.
.
.
.
At Konoha pukul 1 pagi
"apa yang akan kau bicarakan?" tanya seorang pria bersurai blonde. Pria bersurai perak yang berada dihadapannya, segera mencari kata-kata yang hendak ia lontarkan pada pria blonde itu. "ini soal mantan istri mu"kata pria bermarga Hatake tersebut.
Pria bernama lengkap Namikaze Minato itu tercengang mendengarnya. Pria yang disinyalir adalah orang yang dekat dengan mantan istri nya itu baru saja menyebut nama Deidara, mantan istri, sekaligus ibu dari anak semata wayang nya.
"beberapa jam yang lalu, aku berbicara padanya"Kakashi memulai bercerita. "Lalu?"Tanya Minato. Suasana cafe di pagi hari memang tidak ramai, bisa dikatakan terlalu sepi untuk di sebut cafe. Maklum saja, ini baru pukul 1 pagi. "dia masih mencintai mu"kata Kakashi.
"kau bohong"
"untuk apa aku bohong? Kau tak tahu kan perasaannya saat melihat mu bersama wanita lain? Jika kau mencintai nya juga, seharusnya kau percaya"Ujar Kakashi.
Minato terdiam sejenak. Benarkan dia masih mencintai mantan istri nya, mendengar penuturan Kakashi, kenapa Minato malah tidak percaya? Lucu sekali, kan. "aku juga mencintai nya"Lanjut Kakashi. "hm, aku tahu"sahut Minato. "tapi aku sadar, siapa yang lebih dicintai oleh nya... Maka dari itu cukup sampai di sini, aku cukup tahu diri untuk itu"Kata Kakashi.
"kenapa kau tidak berusaha mendapatkannya?"tanya Minato. Kakashi tertawa geli mendengar pertanyaan Minato. Oh, lupakan.. Lupakan soal Image Minato yang tampan dan pintar, semua jatuh di mata Kakashi saat mendengar pertanyaan bodoh dari bibir sang Namikaze.
"percuma kan kalau dia tetap mencintai yang lain.. Aku bukan tipe yang pemaksa.. Sudah ya, aku harus kembali ke Uzu, karena besok pernikahan Yahiko akan diselenggarakan.." pamit Kakashi, seraya menggeser kursi dan beranjak pergi dari cafe tersebut.
.
.
Gereja Uzu (Pukul 9 pagi)
Naruto kecil memandang kolam ikan yang tampak jernih di pekarangan Gereja. Tuxedo hitam yang ia kenakan, menambah kesan imut untuk nya. Wajah imut nya terlihat sendu memperhatikan ikan-ikan koi yang berenang di dalam kolam.
"papa"lirih Naruto. Ia rindu papa nya, ia sangat rindu. Rindu akan pelukan sang papa, rindu akan diri nya yang selalu di gendong papa nya. Pokok nya Naru rindu papa nya.
"Naru-chan"sapa seorang bocah bersurai raven pada nya. Naruto menoleh dan mendapati Sasuke tengah mendudukan diri nya di samping sang blonde. "cacu-nii"Lirih Naruto. Sasuke merangkum wajah Naruto. "Naru-chan kenapa?"tanya Sasuke.
"Nalu lindu papa"jawab Naruto. "hn, begitu"Sahut Sasuke, sok dewasa. "hiks"isak Naruto. Sasuke menoleh saat mendengar suara tangisan Naruto. Dengan lembut, direngkuhnya tubuh kecil Naruto ke dalam pelukan nya.
.
.
"Saku-chan melihat Naru-chan tidak, un?"tanya Deidara. Sakura menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Wanita yang tengah di rangkul pria bersurai merah maroon itu memang sedari tadi tidak melihat balita imut bersurai blonde.
"memang tadi dia main dengan Gaa-chan, tapi karena Gaa-chan lelah, aku segera menggendong Gaa-chan.. Mungkin di taman, Dei-chan"kata Sasori. Wanita berbalut dress berwarna putih selutut dengan lengan pendek itu pun menganggukan kepala nya, mengerti.
Dilangkahkannya kedua kaki jenjang nya menuju taman. Ini gereja memang besar, bahkan diisukan adalah gereja terbesar di kota Uzu. Maka dari itu, sudah pasti Deidara tidak mau kehilangan malaikat kesayangannya.
Kedua iris azure nya menangkap sosok Naruto kecil yang tengah digendong di punggung oleh seorang bocah raven yang sangat ia kenali. Sasuke dengan susah payah menggendong tubuh kecil Naruto yang tertidur di gendongannya.
"Sasuke-kun"
Sasuke menoleh dan berjalan mendekati Deidara. "bibi Dei"sahut Sasuke. "Naru-chan kenapa?" tanya Deidara. "tidur"Jawab Sasuke, singkat. "biar bibi Dei saja yang gendong.. yuk kita masuk.. acara nya mau di mulai, lho"
.
.
sosok Minato yang menjadi tontonan para tamu undangan, memang bukan hal yang aneh lagi. Dia memang tampan, memiliki bentuk badan layak nya model profesional. Dan bukan hal yang baru untuk seorang Minato.
Iris biru bak lautan lepas itu tak sengaja melihat sosok wanita bersurai blonde tengah berbicara dengan seorang pria bersurai raven. Tapi tak lama kemudian, sang raven segera pergi menggandeng bocah yang memiliki rupa yang sama dengannya.
"Dei"gumam Minato. Tanpa sadar, Minato mendekati sosok ibu muda yang sedang menggendong buah hati nya itu.
Dekat..
Dekat..
Dek..
"D..Dei"
Sosok yang dipanggil Dei oleh nya itu menoleh dan terkejut melihat kehadiran nya. "Mi..Mi..Minato"Ucap Deidara, kikuk. "ini kau kan? Astaga"Minato hendak memeluk sang mantan istri jika saja si kecil Naru tidak terbangun akibat suara bass milik nya. "Papa"Naruto merentangkan tangannya, menanti pelukan dari sang papa.
"Naru-chan"Seru Minato. Minato langsung mengangkat tubuh mungil Naruto dan membawa nya ke dalam pelukan nya. "Nalu lindu papa"kata Naruto. Deidara mengulas senyum bahagia saat melihat interaksi antara putra nya dan papa nya.
"Papa juga"Sahut Minato, memberi kecupan di pipi sang buah hati. Minato melirik Deidara yang hanya memperhatikan mereka berdua. "kau tak rindu aku ya?"tanya Minato.
Terlihat jelas sekali raut kebahagian di antara mereka. Minato, Deidara, dan Naruto kecil tampak Sangat bahagia. "aku mencintai mu"Ucap Minato, mengecup pipi Deidara sekilas.
"Tidak"
"begitu ya"sahut Minato
"bagaimana mungkin aku tidak merindukan mu?"tanya Deidara. Minato tersenyum dan meminta Deidara untuk bergabung dengan mereka berdua. Rasanya ini seperti mimpi. Tapi kau tahu? Deidara bukan wanita yang bodoh untuk mengira jika ini adalah mimpi.
Minato mengecup singkat pucuk rambut sang istri. Aroma bunga mawar bercampur milk terasa begitu soft bagi penciuman sang Namikaze. Aroma yang sangat ia rindukan. "aku mencintai mu"Ucap Minato. "aku juga"bisik Deidara.
Mimpi kah? Tidak, karena pelukan dan kecupan di pipi Minato begitu nyata. Dia bisa merasakan nya, merasakan darah yang mengalir, detak jantung yang tak menentu, dan cubitan mesra dari sang istri ketika Minato hendak mengecup bibir sang istri tepat di hadapan putra mereka.
.
.
Pesta pun berlangsung meriah. Dimana Karin dan Yahiko tampak bahagia beserta kedua putra mereka. Nagato dan Kyuubi pun juga tampak lebih akur dari biasa nya. Sakura dan Sasori? Mereka juga kelihatan bahagia, karena berhasil mendapatkan bunga pengantin dari pengantin wanita.
Hinata dan Itachi? mereka juga terlihat bahagia. Kelihatan sekali, jika Itachi tengah melancarkan jurus gombalnya pada ibu satu anak ini. Dengan blushing yang menambah kesan manis di pipi rupawan wanita Hyuuga ini. Kisame? Dengar-dengar dia juga sudah balikan dengan mantan kekasih nya, Ariel.
Hanya satu wanita yang terlihat biasa-biasa saja. Temari, wanita ini terlihat tengah memperhatikan gerak-gerik seorang pria yang tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita lain.
"Shukaku brengsek"Gumam wanita bersurai pirang kecoklatan itu.
.
.
Temari's Pov
Dia bukan sih? Dia? Ya, si Shukaku. Bos ku dan juga kekasih ku. Kekasih? Hehehehe, kami jadian juga baru 2 bulan. Ah, lupakan saja itu.
Rambut redhead nya cek!
Tinggi badannya cek!
Wajah tampan nya cek!
Warna mata nya cek!
Tunggu sebentar, kenapa Shukaku bergandengan tangan dengan wanita itu? Cih, menyebalkan. Aku kesal... Arrggghhh...
"Temari-nee ini minumannya, segar lho"Sakura memberikan ku segelas minuman yang terlihat menyegarkan. "terimakasih"Ucap ku. Setelah menerima air tersebut, aku pun segera berjalan mendekati kekasih ku itu.
"Lho, Shukaku"Sapa ku, pura-pura tidak tahu. Shukaku terkejut dan menoleh ke arah ku. Wajah tampan nya memucat ketika melihat senyuman (lebih tepat nya lagi seringaian) di wajah ku. "kau pasti haus.. Selamat minum"Ku guyur saja kepalanya, habis aku gemas.
Shukaku terkejut bukan kepalang. "brengsek, mulai sekarang kita putus!"Bentak ku. Aku segera berjalan tanpa mempedulikan panggilan pria play boy macam Shukaku itu.
Lagi-lagi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ku ke jenjang berikut nya. Aku benci, benci sekali. Apakah aku tak layak untuk dicintai? Kenapa? Kenapa aku sial sekali. Ibu ku dulu mengidam apa sih? Menyebalkan saja.
End Of Temari's Pov
.
.
.
Wajah cantik yang biasa terlihat ceria dan cerewet itu kini terlihat begitu lesu memandang hamparan taman bunga di hadapannya itu. Sudah berapa jam dia di sini? Kira-kira dari jam 2 siang dia di sini. Lalu sekarang jam berapa?
"jam 7 malam"gumam wanita bernama Temari itu. Ah, 5 jam lama nya dia duduk di sini. Teringat dimana saat ia memergoki kekasih nya yang bermesraan dengan wanita lain, menyebalkan. "tadi nya bahagia sekali waktu si Shu itu menembak ku"Kata Temari, entah pada siapa.
Didongakannya kepalanya (memandang langit yang malam ini penuh dengan bintang). Ck, menyebalkan. Padahal tadi nya dia mengira Shukaku itu benar-benar serius pada nya. Eh, tidak tahu nya ditikung juga. "laki-laki brengsek.. Semua nya brengsek"teriak Temari.
"hiks.."
Temari menangis..
Wanita mana sih yang tidak galau sehabis melihat kekasih nya selingkuh? Iya sih, Temari tadi nya terlihat biasa-biasa saja. Tapi sekarang! Lihat saja (jika kalian bisa) wanita ini tampak tak lebih dari gelas yang mudah rapuh.
"terkadang cinta itu memang merepotkan"
Temari menolehkan kepalanya dan mendapati seorang pria tak jauh dari posisi nya. "aku lihat lho"lanjut pria itu-mendudukan dirinya di sebelah Temari. "lihat saat kamu mengguyur nya dan berakhir di sini"Kata pria itu (lagi).
"aku memang selalu berakhir seperti ini"lirih Temari. "tanpa ada rasa sakit, rasa cinta itu juga tidak akan pernah ada"Ujar pria bersurai keperakan itu. "Kakashi-san"
Kakashi melirik wanita cantik di sebelahnya. "ya?"sahut Kakashi. "kalau akhir cinta itu selalu menyakitkan, kenapa tuhan masih membiarkan aku untuk merasakan cinta?" tanya Temari. "Karena tuhan masih menyayangi mu"Jawab Kakashi.
"aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai.. tapi dengan itu kita bisa belajar mengerti mengapa kita mencintai dan dicintai.. Karena kita layak dicintai"Lanjut Kakashi.
"wah, ternyata kau juga sama seperti ku"kata Temari. "ya, begitulah"sahut Kakashi.
Hening sejenak..
Lalu..
"bagaimana jika kita bersatu dan membuat perkumpulan korban cinta"canda Kakashi. Temari menggembungkan pipi nya. "itu terdengar mengerikan.. Tapi, bagaimana jika kita mencoba memenangkan permainan maho semalaman suntuk"usul Temari.
Kakashi bangkit dari duduknya seraya membersihkan debu yang menempel dibagian belakangnya. "aku tidak tahu jika kau punya hobi seperti itu"goda Kakashi. "daripada berakhir di bar, mabuk, dan-"
"dan mendapati diri mu diranjang bersama orang lain"sambung Kakashi.
Temari memukul pelan bahu Kakashi. "dasar mesum"protes Temari. Kakashi tertawa seraya menghindari pukulan Temari. "bagaimana jika kita coba"usul Kakashi.
Temari mengambil sepatu high heels nya hendak menimpukan nya ke arah Kakashi. "dasar pervert!"teriak Temari. Hilang sudah semua imej baik-baik tentang Kakashi di mata Temari. Ternyata oh ternyata, Kakashi tak lebih dari pria mesum di bar-bar.
"aku serius"kata Kakashi.
.
.
.
.
Perjalanan Menuju Konoha..
Minato menoleh ke samping, dimana sang istri yang tengah terlelap sambil memangku buah hati mereka. Deidara tampak kelelahan. Begitu pun dengan si kecil Naruto. Maklum saja, mereka kan membantu mempersiapkan acara pernikahan Yahiko dan Karin selama 5 hari penuh.
"Genma-san, tolong foto kami jika aku sudah tertidur"bisik Minato. Genma selaku asisten Minato menganggukan kepala nya pelan. "terimakasih"ucap Minato.
Minato dengan hati-hati menarik tubuh Deidara agar mendekat dengan nya. Deidara yang sempat bergerak malah menyamankan kepala nya di bahu mantan suami nya itu. Minato tersenyum dan mulai mencoba menutup mata nya.
5 menit kemudian, Genma sudah melihat majikannya terlelap. Dengan sangat berhati-hati ia mengambil gambar keluarga kecil yang terlihat bahagia itu. "mereka tampak bahagia ya, Kuro"bisik Genma. Sang sopir menganggukan kepala nya setuju. "akhirnya Tuan Minato bisa mendapatkan kembali Nyonya Dei dan tuan muda Naruto"sahut Kuro.
.
.
.
.
1 tahun kemudian..
Ingat kejadian 1 tahun sebelum nya? Kini semua para single parent sudah memiliki pasangan mereka masing-masing. Pasangan yang masih tinggal di apartemen yang sama, tapi tentu saja mereka sudah tinggal satu atap tentu nya.
Yahiko dan Karin yang tengah berbahagia dengan putra kecil mereka. Pernikahan Sasori dan Sakura di suna beberapa bulan yang lalu. Pernikahan Hinata dan Itachi satu bulan yang lalu. Temari dan Kakashi yang kini tengah membuka usaha biro jodoh.
Lalu bagaimana dengan Minato dan Dei? sejak kejadian 1 tahun yang lalu, Minato dan Deidara sudah rujuk kembali dan hidup bersama di apartemen milik Minato. Minato lebih memilih tinggal di desa dibandingkan di kota besar. Alasannya sih mudah saja, Minato maupun Deidara sudah betah tinggal di Konoha.
Hubungan kedua nya pun juga sudah akrab dengan adik perempuan Deidara. Yamanaka Ino pun juga sering mengunjungi apartemen sang kakak dengan suaminya, Shimura Sai, seorang pemilik sanggar lukis terbesar di Jepang.
Semua hidup bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Apartemen milik Asuma pun kini semakin di perbesar, karena banyak nya orang yang memilih tinggal di apartemen miliknya itu. terasa seperti di negeri dongeng memang, bukan kah tak ada pelangi jika tak ada hujan?
"sedang apa di sini?"suara bass milik Minato berhasil mengejutkan sang istri. Apalagi dua lengan kekar yang memeluk pinggang wanita berusia 25 tahun ini, terasa begitu hangat untuk Deidara.
"hanya memandang langit saja, un"jawab Deidara. Minato menenggelamkan kepalanya di perpotongan bahu Deidara. "terkadang aku masih berpikir"kata Deidara. "tentang apa?"tanya Minato. "semua ini bukan mimpi kan?" tanya Deidara.
"menurut ku bukan"kata Minato, semakin menenggelamkan kepalanya di perpotongan bahu sang istri. Deidara membiarkan saja sang suami yang menghirup aroma di tubuh nya. "citrus, eh"beo Minato.
Deidara terkekeh geli mendengar ungkapan sang suami mengenai aroma tubuhnya. "masih hafal saja"Sahut Deidara. Minato mengecup pipi tembam sang istri, "tentu saja"kata Minato.
"aku juga masih berpikir"Ujar Minato-mengarahkan pandangannya pada langit malam bertabur bintang. "tentang apa?"tanya Deidara-membalikan badannya sehingga kini ia berhadapan dengan suami nya.
Minato menempelkan keningnya pada kening sang istri. "kau ingat permintaan Naru-chan kan?"tanya Minato. Deidara berusaha mengingat-ingat mengenai permintaan malaikat kecil nya itu.
Wajah nya bersemu seketika, saat mengingat soal permintaan si kecil, Naru.
Flashback On
"mama, ayo kita jenguk bibi Karin.. Nalu tidak sabal mau melihat adik bayi nya"Kata Naruto. Meskipun usia nya sudah menginjak usia ke 5, tapi sepertinya Naruto masih enggan menolak jika sang papa menggendongnya tepat di bahu nya.
Deidara yang sedang membuatkan kopi hangat untuk suami nya, menggelengkan kepala nya pelan. "sudah tidak sabar ya?"tanya Deidara. Naruto menganggukan kepalanya. "papa, tulun"pinta Naruto. Minato menurunkan tubuh Naruto dengan sangat hati-hati.
Si kecil segera berlari kamar tidur nya, meninggalkan sang ayah dan sang ibu di ruang makan. "anak mu itu"gumam Deidara. "anak mu juga kan" sahut Minato. "Iya juga sih"
.
.
Yahiko and Karin's Apartment
Deidara memandang kagum kepada bayi bersurai jingga yang berada di gendongan sahabat karib nya, Karin. Bayi laki-laki itu tampak begitu nyaman di dalam tidur nya. Polos, nama nya juga bayi. Tentu polos kan..
"adik bayi nya lucu"bisik Naruto pada sang ayah. "Naru-chan masih suka sekali digendong ya"ujar Karin. "iya, manja, un"sahut Deidara. "nanti kalau sudah punya adik bagaimana itu"kata Sakura.
"memangnya Nalu juga mau punya adik ya, pa?"tanya Naruto. Minato dan Deidara tertawa canggung mendengar pertanyaan sang buah hati.
"apa kami terlambat?"tanya dua orang dewasa yang baru saja hadir di antara mereka.
"ah, Kakashi-kun dan Temari-chan"sahut Sakura. "sudah lama sekali ya.. Kita tidak berkumpul seperti ini"Ujar Temari. "benar"timpal Kakashi. "dan kalian sudah semakin akrabsaja"canda Itachi.
"Paman Kakashi"Sapa Naruto. Kakashi menoleh ke arah Naruto yang tengah digendong oleh sang ayah. "wah, ada Naru-chan ya"Kakashi berjalan menuju Minato dan Naruto. "Paman kok sekalang jalang keliatan sih "Ujar Naruto.
"paman mu itu sibuk, sayang" Kata Deidara. Kakashi mengulas senyum melihat Deidara yang berjalan mendekati mereka ber-3. Sebenarnya, Kakashi masih sedikit canggung jika mengobrol bersama Deidara dihadapan Minato. Tapi kan mereka saling kenal, tidak enak dong kalau tidak menyapa.
"hahahah, iya"tawa Kakashi, menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "hooamm"Naruto menguap lebar, pertanda jika ia sudah mengantuk. "sudah jam 9 malam"Kata Minato, yang sedari tadi hanya diam.
"papa, mama, Gaala ngantuk"rengek si kecil Gaara. Sakura dan Sasori pun akhirnya pamitan untuk segera pulang ke apartemen mereka. "Nalu masih mau liat adik bayi"kata Naruto, ketika Minato mengajak nya pulang.
.
.
.
Skip Time
Hujan turun deras disertai petir dan angin yang berhembus kencang. Malam pun semakin dingin dan mencekam, membuat si kecil Naru bergelung manja ditengah-tengah sang papa dan juga mama nya yang memeluk erat diri nya.
"mama, tadi adik nya Naga-chan dan Kyuu-chan lucu ya, ma"Celoteh Naruto. Naruto kecil masih belum bisa tidur, meskipun ayah dan ibu nya meminta diri nya untuk segera tidur. "humm, Naru-chan waktu kecil juga lucu"kata Deidara. "nee, papa bahagia tidak waktu Nalu lahil?"tanya Naruto.
Minato mencubit pelan pipi gembil sang buah hati. "tentu saja"jawab Minato, memeluk erat malaikat kecil nya. "Nalu juga mau punya adik"gumam Naruto. "oh, iya?"tanya Minato dan Deidara bersamaan.
"boleh ya, pa?"Pinta Naruto.
"tentu saja, awww... Dei!"Minato terkejut ketika pinggangnya terasa tersengat listrik dengan begitu cepat. Cubitan Deidara, Deidara memang sengaja mencubit Minato agar si kecil tidak mendengar ucapan sang ayah yang berbahaya bagi pendengaran polos nya.
"Naru bobo ya"bujuk Deidara, mengecup singkat kening Naruto. "Tapi Nalu boleh punya adik kan?"tanya Naruto. "i..itu"Deidara tergagap mendengar permintaan aneh sang buah hati.
"tentu-awwww"pekik Minato
"jangan macam-macam, Minato!"
Flashback Off
.
.
.
"bagaimana?"tanya Minato-merangkum wajah sang istri. Gaun malam Deidara sedikit melambai seiring angin malam yang menerpa nya. Apalagi, posisi mereka yang berada di balkon itu. Ya, mau tidak mau pasti diterpa angin.
"apa tidak apa-apa?"Deidara balik bertanya. Minato menganggukan kepalanya, yakin. "Naru-chan seperti nya memang sudah harus memiliki adik, Dei-koi"Kata Minato. "lalu bagaimana dengan pekerjaan ku?"
"kau masih bisa buka praktek di apartemen kita kan"usul Minato. Deidara berpikir sejenak. benar kata suami nya, putra mereka memang seharusnya sudah memiliki seorang adik. Lagi pula, sepertinya Naruto juga sudah ngebet punya adik. Terlihat jelas, saat melihat putra Yahiko-Karin.
"Kapan?"tanya Deidara, malu-malu. Mengerti dengan pertanyaan istri nya itu. Minato pun segera membungkam bibir ranum sang istri. "hmmppp"Desah Deidara dalam ciumannya.
5 menit kemudian, mereka pun mencoba menghirup udara setelah 5 menit ciuman mereka berlangsung. Rona merah di pipi Deidara, semakin membuat Minato ingin menghabiskan istri nya itu dalam waktu sesingkat mungkin.
"sekarang.. Mumpung Naru-chan menginap di rumah Itachi"Minato langsung menggendong tubuh sintal istri nya memasuki kamar mereka. Sesampainya di kasur, dengan sangat mesra Minato merebahkan tubuh Deidara di atas kasur ukuran king size itu. "kau yakin?"sekali lagi Minato memastikan kesiapan sang istri. Deidara menganggukan kepalanya.
"baik lah.."
Dengan sangat bernafsu si tampan Namikaze ini memberikan tanda di ceruk leher sang istri. dan setelah itu terdengar desahan-desahan saling meneriaki nama pasangan mereka masing-masing..
4 jam lamanya mereka bercinta. Hingga menyisakan Minato yang masih enggan untuk segera menyusul istri nya melarung mimpi indah yang siap menanti. Dipeluknya tubuh ramping Deidara penuh rasa posesif. Tersenyum bangga dengan karya nya yang terlihat di setiap lekuk tubuh Deidara.
dielusnya dengan lembut perut sang istri. Berharap jika nantinya, ia berhasil menciptakan sesuatu yang hidup di dalam sana seperti sebelum nya. Jagoan-jagoan kecil yang akan menggantikan posisi nya kelak bersama malaikat kecil mereka, Naruto.
.
.
.
2 Bulan Kemudian..
"hoekk..hoekk"
akhir-akhir ini, Minato dan Naruto sering sekali memergoki Deidara yang selalu memuntahkan isi perutnya setiap pagi. si kecil Naruto merasa khawatir jika sang ibu sakit. ia bahkan menangis ketika melihat wajah Deidara yang tampak pucat dari biasa nya.
"bagaimana?"tanya Deidara, menunjukan sesuatu kepada sang suami. Minato tersenyum senang membaca hasil test yang ditunjukan oleh istri nya. "kita akan berikan kejutan untuk Naru-chan"kata Minato.
"mulai sekarang kau tidak bisa menjadi dokter lagi, sayang"goda Minato. Deidara memalingkan wajahnya dari sang suami. "kau pikir karena siapa aku begini?"tanya Deidara.
Minato pun memeluk istri nya dari belakang. Diusapnya pelan perut Deidara yang rata itu. "tapi kau suka kan? Hehehehe"tawa Minato. "sepertinya aku akan lebih sering menyiksa dan menghajar mu habis-habisan, Minato"kata Deidara.
"taddaima"
Minato dan Deidara segera berjalan menuju ruang tamu. Dimana terlihat si kecil Naruto dengan seragam taman kanak-kanak nya berlari kecil hendak memeluk kedua orang tua nya. "Okaeri, Naru-chan"sahut kedua orang tua nya. Senyuman 5 jari terlihat jelas di wajah nya. "huupp, tidak boleh memeluk mama dulu"Ujar Minato-mengangkat tubuh kecil putra sulung nya itu.
"lepas, pa! Nalu mau peluk mama"ronta Naruto.
"nanti kalau adik bayi nya sudah lahir"kata Minato. Cukup protektif sekali rupa nya calon ayah dua anak ini. "adik bayi"beo Naruto.
"Naru-chan mau kan jadi aniki seperti Naga-chan dan Kyuu-chan?"tanya Deidara. Minato menurunkan tubuh Naruto, si kecil ini rupa nya masih tak mengerti dengan pertanyaan sang ibu. "Nalu sih mau punya adik, tapi-"
"tapi kata papa jadi Aniki itu harus kuat supaya bisa melindungi adik nya"kata Naruto.
Deidara menyamakan tinggi nya dengan sang buah hati. "papa memang benar...tapi kalau kami-sama memberikan adik nya sekarang, Naru-chan mau apa?"tanya sang Ibu.
"Nalu akan punya adik?"Naruto malah balik bertanya. Deidara menganggukan kepalanya pelan. "Yaatttaa, Nalu akan punya adik"sorak Naruto.
.
.
.
Sesuai kesepakatan, Naruto pun akhirnya mau tidur di kamar nya sendiri. Dan kini, Deidara terlihat tengah berada di kamar sang buah hati. Ibu bersurai pirang ini tampak nya bahagia sekali dengan apa yang Kami-sama berikan pada nya.
Keluarga yang bahagia, suami yang penyayang dan perhatian, juga anak yang lucu dan penurut. Semua yang terjadi sebelumnya, benar-benar terasa mimpi bagi nya.
"oyasumi, Naru-chan"Ucap Deidara.
Selimut berwarna orange itu menutupi hampir sebagian tubuh bocah berusia 5 tahun yang sedang mengarungi mimpi indah masa kecil nya. Dikecupnya kening sang buah hati.
Setelah dirasa Naruto sudah tertidur pulas. Deidara langsung keluar dari kamar buah hatinya itu. Terlihat sang suami yang berdiri tepat di depan kamar si kecil, menunggui istri nya untuk kembali ke kamar mereka.
"sudah tidur?"tanya Minato. "sudah"jawab Deidara. Wajah nya merona merah saat tubuh nya terangkat ke udara. Pelaku nya siapa lagi kalau bukan Minato, yang selalu saja menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka.
"aku mencintai mu, un"ucap Deidara..
"aku juga mencintai mu"balas Minato..
Kedua nya pun menutup jarak diantara mereka dengan ciuman penuh kasih sayang meskipun sedikit menuntut. Minato benar-benar sangat bersyukur pada Kami-sama yang memberikan kesempatan kedua pada nya untuk membangun keluarga bersama Deidara kembali. Ternyata benar kata Tousan nya. Untuk mendapatkan apa yang kau ingin kan, kau memang harus berusaha dan memiliki tekad yang kuat. Sedikit nekad pun mungkin tak jadi masalah..
Terjatuh dan terpuruk itu bukan berarti membuat mu takut mencoba. Anggap saja pengalaman buruk mu itu sebuah pelajaran. Pelajaran yang membuat ke depan nya tidak lagi jatuh ke dalam lubang yang sama. Memang terlambat untuk memperbaiki, tapi tidak kah selalu ada kata 'Coba Lagi' di dalam sebuah permainan? Tidak ada kata terlambat untuk mencoba kan...
.
.
.
FIN
.
.
.
Huwwooww, akhir nya selesai juga.. Soal pairing, maaf yang minta KakaDei:(
Soalnya yang minta MinaDei juga lumayan banyak..
terimakasih banyak buat para readers yang mau menyumbangkan review nya buat fic ini.. gak bisa di balas satu persatu ya..
semoga aja, Naru-chan bersedia membuat sequel dari fic ini..
sekian dulu dari Misa, Jumpa lagi di Next Story ya:)
Mind To Review?
