Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Keep my glass full until morning light,

cause I'm just holding on for tonight

on for tonight

Sun is up, I'm a mess

Gotta get out now, Gotta run from this

Here comes the shame, here comes the shame

# Sia – Chandelier


Chapter 3 – Sebuah Kesalahan

Gadis musim semi ini kini tengah bahagia. Tersenyum tanpa sebab yang pasti. Yang jelas keberadaan pemuda berkulit pucat dengan senyum palsu – menurut kebanyakan orang, Sai, yang membuat Sakura bahagia. Pertemuannya dengan pemuda itu diperpustakaan beberapa waktu lalu membuat hubungan keduanya semakin dekat. Meski hubungan mereka tak lebih dari teman, tapi Sakura mengakui bahwa Sai satu-satunya teman lelakinya yang bisa membuatnya nyaman.

Disatu sisi ia merasa nyaman tapi disisi lain ia juga merasa takut, jika perasaan nyaman ini akan berkembang menjadi perasaan yang lain. Sakura masih mengingat dengan jelas peringatan kakaknya bahwa ia mengijinkan Sakura pergi jauh dari kotanya hanya untuk kuliah, tidak ada menjalin hubungan spesial dengan laki-laki untuk alasan apapun.

Sakura mendesah, memandangi lukisan pohon Sakura berukuran 50 x 50 cm yang terpajang didekat meja belajarnya. Tangannya tergerak menyentuh lukisan itu. ia kembali menyunggingkan senyum. Sai memberikan lukisan itu padanya beberapa hari lalu. Yang membuat hati Sakura menghangat saat mengingat alasan Sai membuatkan lukisan pohon Sakura karena pohon itu mengingatkan Sai padanya. Menurut Sai, bunga Sakura menggambarkan musim yang indah.

Gadis gulali itu kembali berkosentrasi pada laptop-nya. Sesekali ia memicing melihat sahabatnya, Ino, sedang asyik dengan kegiatan lain selain mengerjakan tugas. Sakura mengernyitkan dahinya, "Apa yang kau lakukan, Pig?!" protes Sakura, "Kenapa isi lemariku kau muntahkan semua keluar?"

Bukannya langsung menanggapi, Ino malah berkacak pinggang sambil memasang ekspresi kesal yang seharusnya Sakura lah yang memasang ekspresi begitu. "Apa-apaan ini jidat? Kau tidak punya gaun?"

Sakura mengernyit, "Gaun? Untuk apa? Lagipula aku tidak butuh gaun untuk kuliah."

Ekspresi Ino yang semula kesal berubah marah mendengar jawaban Sakura yang terkesan menyepelekan soal gaun. Ino mendekat ke arah Sakura, menutup laptop Sakura agak kasar. Belum sempat Sakura memprotes Ino sudah menyeretnya keluar kamar.

"Ino! Kita mau kemana? Kau ini kenapa sih?" protes Sakura kesal.

Ino menatap tajam Sakura, "Ke mall." Sakura hendak melayangkan protes lagi tapi Ino keburu memotongnya, "Kau akan tahu betapa pentingnya gaun untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun kampus, jidat. Semua mahasiswa diwajibkan hadir."

Sakura berhenti meronta, ia melongo mendengar penjelasan Ino. Ia benar-benar tidak tahu mengenai ulang tahun kampus. Sakura memang tak terlalu mempedulikan hal-hal yang berbau pesta atau having fun dalam hal apapun. Tapi kali ini ia rasa harus membuat sebuah pengecualian jika memang hadir ke pesta ulang tahun kampus merupakan kewajiban setiap mahasiswa.

.

.

.

.

- oOo -

Sakura menggerutu karena Ino meninggalkannya begitu saja. Pamitnya ke toilet tapi hingga setengah jam ia tak kembali juga. Sakura menghentakkan kakinya kesal. Dengan langkah gusar Sakura lebih memilih mencari Ino yang katanya pergi ke toilet.

BRUK!

"Aduh!"

Sakura tak sengaja menabrak seorang pria hingga membuat minuman yang dibawanya tumpah ke kemejanya. Sakura membekap mulutnya sendiri, ia benar-benar merasa bersalah sudah menumpahkan minuman di kemeja pria itu.

Sakura membungkukkan badannya, seraya berkata "Maafkan aku...sungguh maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja, Tuan." Sakura mendengar pemuda itu mendecak kesal.

"Hanya minta maaf?" tanyanya mengangat sebelah alisnya, "Kalau minta maaf menyelesaikan masalah, tidak perlu ada hukum di dunia ini." lanjutnya sambil membersihkan sisa noda minuman dengan sapu tangan dari sakunya.

Sakura mengepalkan tangannya, ia tak menyangka pemuda didepannya ini begitu sombong. Wajahnya boleh saja tampan tanpa cela, tapi sikap dan peringainya minus sekali. "Lalu kau mau aku bagaimana?" tanya Sakura kesal.

Dia menghela napas. "Selain meminta maaf, kau pasti paham dengan istilah tanggung jawab kan?" Sakura mendecih pelan,"Kau harus ganti rugi, nona." Sakura melotot mendengarnya, "Aku hanya meminta 200.000 ryo saja."

"APA?!" Sakura menjatuhkan tas belanjaannya. "Apa-apaan itu? kau pasti sengaja ingin memerasku kan?" Sembur Sakura sembari menunjuk-nunjuk. Pemuda itu tertawa licik. "Kemeja mana mungkin harganya sama mahalnya dengan handphone?"

Pemuda itu memegang bahu Sakura dengan kedua tangannya, "Dengar ya 'nona ceroboh'..." Sakura mendelik pemuda itu menyebutnya ceroboh, "Aku bahkan tidak meminta gantinya dengan harga asli kemejaku ini. Aku masih berbaik hati hanya memintamu setengahnya."

Sakura menyentakkan tangan pemuda itu dari bahunya, lalu merogoh sakunya, "Ini 10.000 ryo." Pemuda itu mengernyit, saat akan memprotes Sakura memotongnya, "Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang. Barang belanjaan ini saja, temanku yang belikan. Ini kartu mahasiswaku." Sakura menyerahkannya pada pemuda itu, "Sisanya akan kubayar kalau aku sudah punya uang. Dan kartu mahasiswaku itu sebagai jaminan kalau aku tidak akan kabur."

Pemuda itu nampak tak terlalu fokus pada ucapan terakhir Sakura. Ia malah lebih tertarik membaca identitas Sakura, sampai-sampai tak menyadari bahwa gadis musim semi itu sudah pergi meninggalkannya.

"Teme!"

Sosok yang baru saja datang mendekat itu terengah, mencoba mengatur nafasnya. Setelah dirasa cukup ia menampilkan cengiran lebarnya – senjata andalannya, untuk meredakan kemarahan sahabatnya. "Maaf, Sasuke. Tadi aku terjebak macet dijalan –" belum sampai ia menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.

"Oi Teme! Jangan tinggalkan aku!" teriak Naruto, tak digubris sama sekali oleh Sasuke. Naruto hafal betul jika Sasuke sudah tak mengindahkan panggilannya, itu artinya ia marah besar. Itulah akibatnya jika membuat seorang Uchiha menunggu lama.

.

.

.

.

- oOo -

Sakura mematut dirinya di depan cermin. Dahi Sakura mengernyit, entah sudah berapa kali ia menghela napas kasar melihat penampilannya ini. Gaun pesta dengan warna merah menyala yang beberapa hari lalu dibelikan Ino. Sakura benar-benar merasa tak nyaman dengan gaun yang dikenakannya, menurutnya terlalu terbuka apalagi belahan dadanya sedikit rendah. Kalau bukan karena acara kampus, Sakura sudah pasti tidak mau memakainya.

Saat Sakura tiba di aula kampus, sudah ada banyak mahasiswa yang berkumpul. Sakura berusaha memfokuskan matanya mencari sahabat blonde-nya itu. Sejak pagi ia tak bisa dihubungi. Sepertinya Sakura harus menelan kekecewaan karena tak menemukan sahabatnya itu hingga acara sambutan telah dimulai.

Acara dimulai dengan sambutan oleh rektor dan para dekan kampus, lalu dilanjutkan dengan pemotongan kue tart berukuran besar, seperti acara ulang tahun pada umumnya. Sakura yang sejak awal sama sekali tak bisa menikmati pesta lebih memilih duduk di salah satu sofa disudut ruangan. Sakura sedikit kesal pada Ino yang mengajaknya ke pesta ini tapi malah tidak hadir.

Sejujurnya Sakura merasa sedikit khawatir karena sejak pagi Ino sama sekali tak bisa dihubungi, entah mengapa ada perasaan tidak enak menyergap dirinya. Tidak biasanya Ino mengingkari janji tanpa pemberitahuan lebih dulu.

"Ah...aku haus sekali." Keluh Sakura memegangi tenggorokannya yang terasa kering. Ia melirik dimeja telah disediakan beberapa minuman, dan ia mengambil salah satu gelas yang tersedia dimeja.

Sakura mengerutkan hidungya saat minuman yang diminumnya mencapai tenggorokannya. "Euh...apa air soda memang seperti ini ya? Rasanya sedikit pahit." Sakura meletakkan gelas kosongnya dimeja.

Tak selang beberapa lama kemudian Sakura merasakan ada yang aneh pada dirinya. Kepalanya terasa berdenyut. Ia menundukkan wajahnya dan memijat pelipisnya berharap pusing yang dirasakannya sedikit berkurang.

"Sakura..."

Mendengar ada yang memanggilnya Sakura mendongakkan kepalanya. "Sai? Kau disini..hik..juga?"

Sai mendudukkan diri disebelah Sakura, ia mencium bau alkohol dari mulut Sakura. "Astaga! Apa kau menghabiskan ini Sakura?" Sai menunjuk gelas kosong yang ada dimeja.

Sakura mengangguk. "Hm..rasa air sodanya aneh..hik...Sai. Dan sekarang...hik...kepalaku jadi pusing."

Sai menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Sakura tidak bisa membedakan mana air bersoda dengan wine. "Aku antar kau pulang ya? Kau sudah mabuk Sakura." Sai melingkarkan lengan kiri Sakura dibahunya tapi ditepis Sakura, ia menggeleng. "Kenapa? Kau tidak bisa bertahan dengan kondisi seperti itu Sakura."

Sakura mempoutkan bibirnya, lalu berujar "Kakakku bisa...hik...marah Sai. Dia tidak pernah mengijinkan...hik..aku datang ke pesta." Sai menghela napas, sebenarnya ia sedikit terkejut ternyata Sakura mempunyai kakak, ia tak pernah menceritakannya sebelumnya. "Ketempatmu saja Sai. Kau punya obat pusing kan?"

Sakura masih tidak memahami bahwa dirinya kini tengah hangover. Sai tidak punya pilihan lain selain membawa Sakura kerumahnya untuk meredakan mabuknya itu. Sai kembali merangkul bahu Sakura membantunya berjalan, kemudian mereka berdua pergi meninggalkan acara.

DUG!

Sakura nyaris jatuh kalau saja pria didepannya menahannya. Sai sendiri terkejut pegangannya dibahu Sakura terlepas begitu saja.

"Ah...terima kasih. Maaf dia sedang mabuk, dia tak sengaja menabrakmu." Sai melingkarkan lengan kanan Sakura dibahunya, dan melingkarkan lengan kirinya dipinggang Sakura.

"Kau? Nona ceroboh itu kan? Jadi benar kau kuliah ditempat yang sama denganku?" Sakura mendongak menatap Sasuke. "Ck...memalukan sekali, mabuk di acara seperti ini."

Sai mendengar perkataan Sasuke tapi memilih tak menggubrisnya. Sakura sendiri yang dalam keadaan hangover juga tak berkomentar apa-apa untuk menanggapinya. Kepalanya terlalu pusing untuk menanggapi ejekan Sasuke. Mereka berdua pun segera pergi menuju tempat parkir mobil.

Sai mendudukkan Sakura dikursi depan dengan hati-hati, memasangkan sabuk pengaman. Dengan jarak sedekat ini Sai bisa mencium aroma cerry bercampur alkohol dari tubuh Sakura. Ia menatap sejenak wajah Sakura, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Sai menelan ludah, merasakan darahnya berdesir. Sai menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran anehnya, lalu menutup pintu mobil.

Sesampainya dirumah Sai memapah Sakura ke kamar tamu, merebahkan tubuh Sakura ke tempat tidur dengan perlahan. Saat Sai berbalik hendak meninggalkan Sakura sejenak, tangan Sakura menahannya, seraya menggumamkan "Jangan pergi, Sai."

Sai menyunggingkan senyum tipis. "Aku hanya akan pergi sebentar membuatkanmu lemon hangat." Sakura malah semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Sai. "Jangan pergi...jangan tinggalkan aku..."

Sai menghela napas. Ia tahu Sakura masih dibawah pengaruh alkohol karena itu ia bertingkah seperti ini. Sai memilih mendudukan diri ditepi ranjang untuk menenangkan Sakura sejenak.

"Kau perlu minum sesuatu untuk meredakan pusingmu, Sakura." Ujar Sai mengengusap bahu Sakura.

Sakura diam tak menanggapi, tapi kedua emeraldnya menatap dalam onyx Sai. Mereka berdua terdiam cukup lama. "Apa kau tahu, Sai? Kedua matamu itu indah sekali." Kata Sakura menyunggingkan senyum.

Sai berjengit mendengarnya. Lidahnya mendadak kelu mendengar pujian dari Sakura yang tak biasa itu.

"Dan...aku suka senyum mu, Sai. Menurutku itu senyuman yang sangat manis, sama sekali bukan senyuman palsu seperti yang dikatakan orang-orang." lanjutnya.

Sai benar-benar dibuat terkejut dengan perkataan Sakura. Gejolak aneh dalam dirinya kembali berteriak. Dalam jarak sedekat ini, Sakura juga mengucapkan berbagai pujian yang membuat hati Sai meleleh.

Apa Sakura? Ah tidak..tidak.. dia sedang mabuk

"Sakura, kau sedang mab-..."

Ucapan Sai terpotong begitu saja karena tiba-tiba Sakura mencium bibirnya. Sai membelalakkan matanya, berusaha mendorong Sakura tapi ia malah melingkarkan kedua tangannya dileher Sai. Sai tidak menyerah ia tetap berusaha melepaskan Sakura. Ia tahu Sakura sedang mabuk dan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Sai berusaha agar Sakura melepaskannya, kalau tidak Sai tidak berjanji akan bisa menahan dirinya lebih lama lagi.

"Hh...hh...Sakura...hh...ini tidak benar. Kau sedang mabuk, kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan, Sakura." Sergah Sai setelah berhasil lepas dari Sakura. Napasnya masih terengah karena ciuman tadi. Ia berdiri menjauh dari Sakura.

Sakura menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya tangisnya pun pecah. Sakura menundukkan wajahnya yang penuh derai air mata. "Maaf...maafkan aku. Aku memang bodoh mengatakan ini padamu, Sai." Sakura memeluk kedua kakinya yang ditekuk. "Aku harusnya tidak membiarkan perasaan ini berkembang. Tapi aku...aku...memang jatuh cinta padamu. Aku...tidak bisa menyangkalnya lagi."

Sai bingung harus berkata apa. Disatu sisi hatinya merasa senang mendengar pernyataan Sakura, tapi disisi lain ia menyangkalnya. Sakura sedang mabuk, tentu orang mabuk bisa mengatakan apa saja kan?

Sai berjalan perlahan mendekat pada Sakura. Mendudukkan dirinya disisi ranjang. Tangan kanannya terulur mengangkat wajah Sakura dan menghapus air matanya. "Maaf...aku..sebenarnya..." Sakura menatap penuh harap Sai. "Aku sendiri suka berada didekatmu, Sakura. Mungkin aku juga-..."

Ucapan Sai lagi-lagi terpotong karena Sakura kembali menciumnya. Kali ini bukan ciuman sepihak, awalnya Sai ragu tapi setelah mendengar pernyataan Sakura Sai tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia pun membalas ciuman Sakura.

Tanpa disadari Sai mendorong Sakura perlahan hingga posisi Sai berada di atas Sakura. Mereka berdua melepas pagutan mereka. Dengan wajah memerah dan nafas yang masih tersengal, mereka saling bertatapan. Sakura mengusap pipi Sai lembut dengan tangan kanannya, Sai membalasnya dengan senyuman.

"Aku tidak akan menahan diri lagi, Sakura." Sai menyeringai, Sakura masih menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu jangan menahannya..."

.

.

.

.

- oOo -

Tidur nyenyak Sakura terusik kala ia merasakan sinar hangat mentari pagi menerpa wajahnya. Dengan berat hati, ia membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa lengket. Kepalanya pun masih terasa pusing. Dahinya berkerut ketika menyadari ada yang berbeda dari kamarnya. Sakura yakin kalau ini bukan kamar tidurnya.

Sakura berusaha bangkit dari tempat tidur, ia merintih merasakan sakit pada tubuh bagian bawahnya. Sakura terkejut setengah mati ketika ia baru menyadari jika dirinya kini tanpa sehelai benang pun. Rasa panik mulai melingkupi hatinya. Ia menolehkan kepalanya kesamping, betapa terkejutnya ia mendapati seorang pria tengah tidur membelakanginya. Apalagi pria itu bertelanjang dada.

"KYAAAAA?!"

Suara teriakan itu membuat Sai terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendudukkan diri diranjang. Sai sudah menduga hal ini pasti terjadi. Sakura tidak menyadari apa yang terjadi semalam.

"Sai?! Apa...apa yang terjadi? Kenapa kita berdua tidur bersama? Ini dimana? Jawab Sai! Jawab aku!" teriak Sakura gusar sambil mengeratkan pegangannya pada bed cover-nya.

Sai meneguk ludahnya susah payah. "Sa..sakura, ini dirumahku."

"Rumahmu? Kau membawaku kerumahmu?!" potong Sakura tak sabaran. Nafasnya memburu.

"Sakura tenanglah sebentar. Biar aku jelaskan dulu." Sakura diam memberikan tanda agar Sai segera memberinya penjelasan. "Semalam saat kau mabuk di acara ulang tahun kampus aku mau membawamu pulang kerumahmu. Tapi kau menolaknya dengan alasan tidak ingin kakakmu tahu kalau kau baru saja dari pesta."

Sakura melebarkan matanya. ia mencoba mengingat kembali bagaimana bisa mabuk, sedangkan yang diminumnya hanya air soda. Sakura tersentak... jangan-jangan air soda itu

Sai merasa tegang menunggu tanggapan Sakura yang sedari tadi diam, nampak berpikir. "Sakura" panggil Sai lirih.

Sakura menundukkan wajahnya, dan bulir air mata pun mulai mengaliri pipinya. "Apa yang terjadi semalam, Sai? Apa yang terjadi diantara kita berdua?" tanya Sakura lirih.

Sai mengepalkan tangannya. Seharusnya hal ini tidak terjadi seandainya saja ia tak mengikuti nafsu sesaatnya hanya pernyataan cinta Sakura. Seharusnya ia menyadari Sakura memang dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya, ia masih dibawah pengaruh alkohol. Dan sekarang tidak ada gunanya lagi menyesalinya.

"Aku akan bertanggung jawab, Sakura. Apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab." Ujar Sai meyakinkan.

Dari jawaban Sai, Sakura sudah tahu jika semalam memang telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.

"Bertanggung jawab katamu?!" suara Sakura meninggi, ia menatap nyalang Sai, "Kau sengaja memanfaatkan keadaanku untuk mendapatkan yang kau mau kan? Kau jahat Sai! Kau brengsek!"

"Kau terus menyerangku, Sakura. Kau bahkan menyatakan perasaanmu padaku. Aku hanya lelaki normal, sedangkan kau terus menyerangku." elak Sai.

"Seharusnya kau tahu apa yang aku katakan tidak atas kesadaran, Sai. Seharusnya, kau mendorongku menjauh, memukulku kalau perlu! Bukannya malah..." Sakura terisak hebat, tangan kanan Sakura memukul-mukul dada Sai. "Aku membencimu! Aku membencimu, Sai!"

Sai merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Sakura mencoba memberontak tapi Sai tak bergeming. "Aku mencintaimu, Sakura." Tubuh Sakura berhenti meronta. "Aku mencintaimu. Aku tidak bisa menahannya lagi ketika kau menyatakan perasaanmu, Sakura. Dan aku tidak peduli jika kau marah nantinya, yang jelas aku siap mempertanggung jawabkan perbuatanku."

Sakura tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya terasa beku. Perasaan yang bercokol dihatinya campur aduk. Antara marah, senang, sedih dan juga takut. Ia takut jika kakaknya sampai mengetahui hal ini, kakaknya pasti sangat marah dan kecewa pada Sakura. Ia telah menghianati kepercayaan kakaknya.

.

.

.

.

To Be Continued

Author's Note:

Jamurlumutan462: Ceritanya memang abal nan gaje :D tapi terima kasih udah review yak...

ChiweSakura: Sasuke udah mulai muncul, meski porsinya belum besar. thanks udah review

Uchihaliaharuno: Sasuke udah mulai muncul, meski porsinya belum besar. thanks udah review

Embunadja1: ini udah lanjut, thanks udah review