Unconditional Love
DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto
WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.
.
.
.
.
.
.
.
Just enjoy the story ^.^
Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
But now I'll go sit on the floor, Wearing your clothes
All that I know is, I don't know how to be something you missed
Never thought we'd have last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lips
# Taylor Swift – Last Kiss
Chapter 4 – Langit Berselimut Kelabu
Meski sudah seminggu kejadian memalukan itu berlalu, Sakura tak bisa melupakannya begitu saja. Malam itu Sakura resmi telah menanggalkan statusnya sebagai seorang gadis, memberikan harta berharganya sebagai seorang wanita pada seseorang yang belum berhak mendapatkannya. Sakura merasa dirinya kotor dan sudah rusak, ia berdosa, mengecewakan kakaknya juga.
Sakura memang menyukai Sai, ia mengakui itu. Tapi kejadian malam itu, membuatnya marah dan mengubah rasa suka itu menjadi benci. Meski Sai mengatakan berkali-kali bahwa ia akan bertanggung jawab, Sakura tetap tak bisa menerimanya begitu saja. Sai tahu kalau Sakura mabuk malam itu, tetapi dia tetap menuruti kemauannya yang ia minta tanpa kesadaran penuh. Pemuda berkulit pucat itu pun mengakui jika ia mencintai Sakura, itu hanya bualan menurut Sakura. Jika memang seorang pria mencintai wanita itu tulus, ia tidak akan merusaknya, ia akan menjaga kehormatan wanita yang dicintainya.
Sakura menghela napas berat, sedari tadi ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk melamun. Bahkan ia tak berniat menyentuh makanan yang mulai mendingin di meja kantin, meski sebenarnya perutnya benar-benar lapar. Masalahnya membuatnya tak berselera makan akhir-akhir ini. Tak hanya itu, bahkan Sakura juga sering ditegur para dosen karena beberapa tugas kuliah terbengkalai. Ia tahu jika keadaan ini terus berlanjut, ia tidak hanya akan kehilangan kegadisannya, tapi juga beasiswa yang sudah didapatkannya susah payah.
"Sakura..."
Mendengar suara yang begitu familiar, Sakura segera saja mengalihkan pandangannya, menoleh ke asal suara itu. Emerald Sakura membulat sempurna, sosok yang seminggu terakhir ini ia rindukan kehadirannya, sahabat dekatnya, Yamanaka Ino. Tengah berdiri dihadapannya, wajahnya nampak pucat tak seperti biasanya yang sarat akan sentuhan make-up, lingkar mata hitam terlihat jelas di matanya. Apa yang terjadi pada sahabatnya ini?
"Ino..." Sakura lantas berdiri dan memeluk Ino erat, melepaskan kerinduan yang membuncah dihatinya. "Kau kemana saja sih? Aku telepon tidak dijawab, sms juga tidak kau balas, apa yang terjadi? Kenapa kau pucat begini Ino?" cecar Sakura.
Ino memaksakan sebuah senyuman diringi air mata yang menetes dari sudut mata aquamarine-nya. Sakura terkejut melihat isakan kecil dari mulut sahabatnya itu, ia kembali merengkuhnya dalam sebuah pelukan dan berusaha menenangkannya, "Ssh...ada apa Ino?" desisnya.
"Ayahku meninggal Sakura. Kecelakaan pesawat. Tepat saat malam pesta ulang tahun kampus itu. Karena itu, aku tidak datang malam itu, maaf..." jelas Ino seraya menghapus air matanya.
Sakura menggeleng. "Tidak apa-apa. Justru aku yang harusnya minta maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau ayahmu meninggal karena kecelakaan. Sahabat macam apa aku ini? aku malah sibuk berpikir yang tidak-tidak mengenai dirimu. Maafkan aku Ino...maafkan aku... Aku turut berduka cita."
Sakura menitikkan air mata, ia ikut sedih karena sahabatnya harus mengalami hal yang sama seperti dirinya. Ino telah kehilangan ibunya ketika masih berusia 1 tahun. Ibunya meninggal dikarenakan kanker darah yang dideritanya. Sekarang ia harus mengalami kehilangan untuk kedua kalinya.
"Jidat, aku kemari juga ingin menyampaikan sesuatu yang penting." Ucap Ino dengan mimik wajah serius. Sakura menatap lurus aquamarine Ino, bersiap mendengarkan hal yang akan disampaikan. "Aku akan pindah dari Konoha." Mata Sakura membelalak, "Aku akan melanjutkan studiku di Hokkaido, tinggal disana bersama nenekku, Sakura. Juga sambil meneruskan salah satu bisnis ayahku."
Sakura nyaris menganga, ia merasa kenyataan baru saja menamparnya. Baru saja ia merasa lega karena sahabatnya, tempatnya berkeluh kesah dan berbagi banyak hal selama ini kembali, mengatakan bahwa Ino akan pergi meninggalkannya – lagi. Dan kali ini, tak akan kembali.
"Jadi kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Sakura dengan suara tercekat. Ino menggigit bibirnya, ia sendiri juga sangat sedih harus berpisah dengan sahabat pink-nya ini. Meski belum lama saling mengenal, Ino sudah merasa klop berbagi banyak hal dengan Sakura.
Ino kembali memeluk erat Sakura, "Maafkan aku, Saki. Kalau bukan karena permintaan nenekku, aku pasti tak akan pergi dari Konoha." Perlahan Ino melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Sakura. "Kita masih bisa berhubungan lewat email atau media sosial lainnya kan? Kita tidak akan benar-benar berpisah. Kita masih bisa tetap terus berkomunikasi." Tukasnya.
Sakura mengangguk, memaksakan senyum diwajahnya, "Iya, kita masih bisa terus berkomunikasi." Sakura harus menelan kekecewaan sekali lagi, padahal sebelumnya ia sudah berencana menceritakan kejadian yang menimpa antara dirinya dan Sai malam itu.
.
.
.
.
- oOo -
Sakura mulai kembali berkutat dengan aktivitas kuliahnya. Sejujurnya ia masih merasa kehilangan sosok sahabat yang selama ini menemani harinya. Ino memang cerewet, tapi ia selalu bisa menjadi pendengar dan penasehat yang baik untuk Sakura. Entah mengapa akhir-akhir ini kondisi tubuhnya menurun. Ia sering merasa pusing dan juga mual. Ia yakin ada yang salah dengan pencernaannya. Sakura memang sering melupakan sarapannya, jadwal makannya sangat berantakan, ditambah semakin padatnya kegiatan kuliah. Dan mungkin faktor utamanya adalah pikiran. Ya, ia masih tidak bisa melupakan masalahnya dengan Sai. Kalau kakaknya sampai tahu, ia yakin saat ini juga Sasori akan membawanya pulang ke Suna.
"Haruno-san, silahkan presentasikan tugas Anda ke depan." Kata Sarutobi Asuma, dosen mata kuliah ilmu gizi. Sakura beranjak dari tempat duduknya, sambil membawa laptop dan tentunya tugas makalahnya.
Semua mata kini tertuju pada Sakura yang tengah mempresentasikan hasil kerjanya. Sesekali Sakura menyapukan pandangannya ke arah mahasiswa lain, dan berhenti pada sosok pemuda pucat yang tengah menatapnya lekat. Iris gelapnya seolah mengatakan ingin membicarakan kembali permasalahan malam itu. Dan Sakura kembali mengalihkan pandangannya, kembali fokus pada penjelasannya.
"...di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, prinsip Gizi Seimbang divisualisasikan berupa 'piramida' Gizi Seimbang. Tetapi tidak semua negara menggunakan piramida tersebut, karena disesuaikan dengan budaya dan-" Sakura merasakan ada yang bergolak diperutnya, tetapi mencoba kembali meneruskan, "dan pola makan setempat. Misalnya-" Sakura membekap mulutnya sendiri, ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia harus ke toilet sekarang.
Sarutobi Asuma dan mahasiswa merasa ada yang tidak beres dengan Sakura. Menyadari tatapan bingung itu, Sakura berinisiatif mohon izin ke toliet dan terpaksa menunda presentasinya. Untungnya Asuma tidak marah karena Sakura tak mempersiapkan diri dengan baik, ia mengizinkan Sakura untuk mengulang presentasinya di pertemuan yang akan datang.
Sesampainya di toilet, Sakura tidak menunda-nunda lagi. Ia langsung menundukkan wajahnya pada wastafel, dan memuntahkan banyak cairan bening ke sana. Sambil berusaha mengatur napas yang terengah, Sakura membasuh wajahnya. Lalu mengambil obat sakit mag yang ada di saku kemejanya, kemudian meminumnya.
Sakura menghela napas. "Kenapa disaat seperti ini sih?"
Betapa terkejutnya Sakura mendapati pemuda berkulit pucat yang begitu dikenalnya tengah menunggunya dengan raut wajah cemas di depan toilet.
"Sai? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura tak habis pikir.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sakura, Sai lebih memilih mengajukan pertanyaan lain "Kau sakit? Wajahmu pucat sekali, Sakura."
Sakura menggeleng. "Aku baik-baik saja, Sai. Hanya masalah pencernaan. Makanku akhir-akhir ini kurang teratur dan mungkin kelelahan karena kegiatan kuliah."
Tidak terlihat kelegaan diwajah Sai mendengar jawaban Sakura. Sai memang selalu mengawasinya saat di kampus. Bahkan Sakura merasa Sai seperti seorang penguntit yang mengikutinya kemana pun, ke kantin, ke perpustakaan, ke laboraturium. Bahkan saat berada di dalam kelas, Sai enggan melepaskan pandangannya pada Sakura. Terkadang perhatian Sai ini membuatnya iba, Sakura merasa seperti orang yang tak peduli pada perasaan orang lain. Tapi semua itu bukan tanpa alasan yang jelas. Sakura hanya ingin menormalkan kembali kehidupannya, tanpa melibatkan cinta di dalamnya.
"Begitu..." Sai membalikkan badannya, "jaga dirimu baik-baik, Sakura. Jangan sampai kau sakit." Tukasnya.
Seolah tahu bagaimana reaksi Sakura, Sai lebih memilih segera menjauh darinya. Ia masih menyesali perbuatannya di malam itu, hingga membuat Sakura dingin terhadapnya. Bahkan kata maaf dan tanggung jawab pun tak bisa meluluhkan hati Sakura. Sai menyadari, perlakuan Sakura terhadapnya memang adalah hal setimpal yang pantas didapatkan akibat perbuatannya.
Maafkan aku, Sai
.
.
.
.
- oOo -
Beberapa benda berwarna putih dan berbentuk persegi panjang pipih itu, berserakan di lantai kamar mandi yang basah. Suara isak tangis memenuhi ruangan itu. Gadis – wanita lebih tepatnya, yang mengeluarkan suara isak tangis itu. Sakura menyandarkan punggungnya pada dinding kamar mandi yang dingin dan lembab, memeluk kedua lututnya yang tertekut sembari menenggelamkan wajah cantiknya di antara lututnya itu.
Menangis. Ia hanya ingin menangis. Menangisi nasibnya yang begitu buruk. Kejadian yang menimpa keluarganya, lalu sekarang kejadian yang menimpa dirinya sendiri. Entah berapa banyak lagi masalah yang akan datang kepadanya lagi. Ia hanya bisa menyimpan masalahnya pada dirinya sendiri. Sebenarnya dalam hati Sakura menjerit ingin memberitahukan hal ini pada sahabatnya, Ino, tetapi ia urungkan niatnya itu. Ia tak ingin membuat sahabatnya yang nan jauh di sana khawatir padanya.
Sakura mendongakkan wajahnya yang memerah, emeraldnya tak lagi berbinar seperti biasanya. Sekali lagi ia mengambil salah satu benda pipih yang berserakan di lantai kamar mandi. Melihat dua garis merah yang tertera membuat Sakura menggigit bibir untuk menahan tangisnya keluar lagi.
Sakura memberanikan diri membeli benda putih pipih yang biasa disebut tespack itu, setelah kekhawatirannya memuncak mengingat tamu bulanannya datang terlambat. Ia belum pernah mengalami hal itu sebelumnya, tapi berbeda dengan kali ini. Ia kembali mengingat kejadian malam itu yang membuatnya takut jika memang hal itu berhubungan dengan yang dia alami saat ini. Dan benar saja, semua tespack yang ia beli menunjukkan hasil yang sama. Ia positif hamil. Tidak perlu dipertanyakan lagi siapa ayah dari janin yang tengah dikandungnya saat ini. Dia Shimura Sai.
Sakura kini tengah menyandarkan punggungnya pada tepian ranjang, setelah menghabiskan waktu hampir satu jam menangis di dalam kamar mandi. Tubuhnya terasa lemas, pikirannya benar-benar kacau, ia bingung harus melakukan apa.
Drrt...drrrt...drrrtt...
Mendengar ponselnya bergetar, Sakura mengulurkan tangannya mengambil ponsel yang terletak di nakas dekat tempat tidurnya. Ia melebarkan matanya melihat nama yang tertera di ponselnya, Sasori, kakaknya. Seketika tangannya gemetaran, ia merasakan takut yang luar biasa. Ia terkejut mengapa seolah kakaknya menelepon di saat ia memang membutuhkan teman bicara. Dengan perasaan takut yang masih menyelimuti, Sakura memberanikan diri mengangkat telepon dari kakaknya itu.
"Kenapa lama sekali sih?" suaranya terdengar kesal.
"Ah...ano maaf tadi aku di kamar mandi, niisan." Kilah Sakura. Ia berusaha menormalkan nada bicaranya agar tak terdengar gugup.
"Ada apa dengan suaramu? Kenapa terdengar parau? Apa kau habis menangis?"
"A..apa? aku tidak apa-apa."
Sasori mendecak. "Mau membohongi kakakmu sendiri, huh? Kau butuh keahlian lebih untuk itu." Sasori menghela napas. "Ceritakan masalahmu. Aku siap mendengarkan."
Sakura menggigit bibir bawahnya sedikit keras. Berusaha menahan dirinya untuk tidak mengatakan yang sedang dialaminya saat ini. Ia terlalu takut akan reaksi kakaknya jika sampai mengetahui hal ini. Sakura tak mau mengecewakan kakaknya, ia harus bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Eh...itu sebenarnya...apa niisan ingat sahabatku Ino yang pernah aku ceritakan padamu?" diseberang sana Sasori menjawab 'ya', "ayahnya baru saja meninggal kecelakaan pesawat di Hokkaido. Dan setelah kejadian itu, Ino diminta neneknya untuk kembali ke Hokkaido, mengurus bisnis ayahnya di sana, sekaligus meneruskan kuliahnya di sana juga." jelas Sakura panjang lebar. Ia harap Sasori tidak akan kembali menaruh curiga padanya.
Sasori menghela napas lega. "Aku mulai paham dari sini. Kau merasa kesepian karena sahabat terdekatmu harus pergi darimu? Dan karena kau merindukan sahabatmu itu, kau jadi menangis?"
Sasori mendengar kekehan kecil Sakura. "Iya, niisan. Aku ini cengeng ya?"
Sasori tertawa keras. "Iya kau sangat cengeng dari dulu, imoutou. Maafkan kakak yang belum bisa mendampingimu saat ini."
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Hening sesaat menyelimuti pembicaraan mereka berdua, sampai akhirnya Sasori kembali membuka suara, "Oh...ya aku meneleponmu karena ingin memberikan kabar bagus. Bagus untukku sih, hehehe..."
"Wah...apa itu?" tanya Sakura antusias.
"Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan mainan anak-anak. Dengan gajinya yang besar, aku yakin dalam waktu dekat aku bisa segera melunasi hutang-hutang kita. Dan aku akan segera mengunjungimu, imoutou."
"Wah...itu juga kabar bagus untukku, niisan. Aku senang mendengarnya. Bekerjalah yang baik, jangan suka bangun kesiangan." Canda Sakura diiringi kekehan kecilnya.
Selama hampir setengah jam mereka berdua menghabiskan waktu bercanda ria, melepas rindu antar saudara. Setelah mengakhiri percakapan dengan kakaknya, Sakura kembali teringat dengan permasalahannya. Soal kehamilannya. Ia harus mengambil langkah untuk masalah itu.
Jari-jari tangannya mencari kontak seseorang di ponselnya. Orang pertama yang memang berhak tahu soal kehamilannya, Shimura Sai.
"Ya, Sakura?"
Mendengar suara Sai, membuat nyali Sakura kembali menciut. Ia takut Sai akan mengacuhkannya meski mengetahui hal ini. Mengingat selama ini Sakura tidak pernah peduli padanya.
"Sakura?" Sai terdengar tidak sabaran.
"Sai...aku..." Sakura menggantungkan kalimatnya, "aku...hamil." akhirnya kata itu pun keluar dari mulut Sakura.
Hening.
Sama sekali tak ada tanggapan dari Sai. Berulang kali Sakura memanggil namanya, sama sekali tak ada sahutan. Air mata kembali mengalir deras di pipinya. Seharusnya ia tahu jika Sai marah dan sekarang tak peduli lagi padanya. Karena kesal, Sakura langsung membanting ponselnya.
.
.
.
.
- oOo -
Sakura tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Sebelumnya ia berharap Sai akan mengatakan hal yang akan membuatnya tenang, setidaknya Sakura tak perlu merasa menghadapi maslah ini sendirian. Tapi sekarang apa? Bahkan saat di telepon, Sai tidak mengatakan sepatah kata pun. Dan hal itu sangat melukai Sakura. Ia terus memaki Sai, mengatainya pembohong besar. Sai mengingkari janjinya yang mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab.
Wanita bersurai pink itu membuka kedua kelopak matanya ketika mendengar suara bel yang berulang kali dipencet. Sakura sejujurnya merasa enggan menemui tamunya itu, ia butuh waktu untuk sendiri. Tetapi suara bel yang berisik itu bisa memancing kemarahan tetangga sekitarnya.
Dengan langkah gontai dan wajah pucat, Sakura melangkahkan kakinya menuju pintu flat-nya. Betapa terkejutnya Sakura mendapati sosok Sai dengan penampilan sedikit berantakan, napasnya tersengal, dan meneteng 2 kantong kresek berisi penuh. Belum sempat Sai mengatakan sesuatu, Sakura dengan kasar menutup pintu. Tetapi dengan sigap Sai menahannya sekuat tenaga.
"Sakura, dengarkan aku dulu!"
"Tidak ada yang perlu aku dengarkan! Pergi!"
Sai mendorong pintu sekuat tenaga hingga membuat Sakura nyaris jatuh jika saja Sai tidak langsung menahan tubuhnya. Sakura terus berteriak meminta dilepaskan, tetapi Sai malah merengkuhnya dalam pelukannya begitu erat.
"Kumohon dengarkan aku dulu, Sakura." Sakura mulai menghentikan gerakan melawannya, "saat kau mengatakan bahwa kau hamil. Aku merasa sangat senang, saking senangnya aku langsung lari menuju ke sini. Bahkan aku sampai tak menyadari jika ponselku jatuh di jalan."
Sakura masih diam dan mendengarkan.
"Dalam perjalanan menuju kemari, aku mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa barang yang mungkin dibutuhkan untuk ibu hamil." Sai perlahan melepaskan pelukannya pada Sakura, lalu mengambil kantong kresek yang sempat ia jatuhkan di depan pintu tadi. "Aku beli susu untuk ibu hamil, beberapa vitamin, buah-buahan. Yah, aku pikir wanita hamil perlu-"
Sai tak sempat melanjutkan bicaranya karena Sakura menerjangnya, memeluknya dengan erat dan menggumamkan 'maaf' berkali-kali. Sai mengulum senyum dan membalas pelukan Sakura.
"Jangan berpikir lagi jika aku akan meninggalkanmu, Sakura. Meski kau memintaku pergi sekali pun, aku akan tetap berada di sisimu."
"Arigatou, Sai." Gumam Sakura lirih.
Sakura sekarang bisa bernapas lega. Pasalnya, Sai memenuhi janjinya untuk bertanggung jawab padanya. Tidak meninggalkan dia dan calon buah hati mereka. Tetapi raut wajah Sakura kembali murung mengingat kehamilannya. Bagaimana ia akan melanjutkan kuliah kalau begini?
"Sakura ada apa?" tanya Sai cemas.
Mereka berdua kini tengah berada di meja makan. Sai dengan telaten menuangkan susu ibu hamil yang tadi di belinya di supermarket.
Emerald Sakura bertemu dengan iris gelap Sai. "Bagaimana dengan kuliahku, Sai? Aku pasti kehilangan beasiswaku jika ketahuan kampus bahwa aku hamil di luar pernikahan."
Sai terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara "jangan khawatir soal itu, Sakura. Jika kita menikah, kampus tidak akan mencabut beasiswamu. Kau bisa ambil cuti selama kehamilanmu."
Menikah? Sai baru saja mengatakan menikah?
"Sakura?"
Panggilan Sai menyadarkan Sakura dari lamunannya, "Ah...kau serius soal pernikahan, Sai?"
Sai mengangguk cepat. "Tentu, Sakura. Aku ingin saat anak itu lahir ia sudah dalam ikatan pernikahan yang sah." Sai menyodorkan susu yang baru saja dibuatnya, "Minumlah, setelah ini kita pergi ke rumah sakit."
"Apa?" Sakura melebarkan matanya. "untuk apa, Sai?"
Sai tertawa pelan. "Memeriksakan kandunganmu tentu saja. Aku ingin tahu berapa usia pastinya dan juga ingin tahu keadaannya."
Sontak wajah Sakura menghangat, merasakan perhatian Sai padanya. Ia merasa seperti jatuh cinta berkali-kali setiap Sai menunjukkan perasaan dan keseriusannya. Sakura tak menyesali jatuh cinta pada sosok tampan berkulit pucat itu. Sakura berharap, ia bisa hidup berbahagia dengannya.
.
.
.
.
- oOo -
Beberapa hari ini Sakura merasa beban hidupnya terangkat. Ia bisa tenang kembali pada aktivitas kuliahnya, meski terkadang morning sickness masih ia alami. Tetapi menurut dokter yang memeriksa kandungan Sakura kemarin, mengatakan bahwa hal itu wajar dialami ibu hamil di awal trimester kehamilan. Dokter tersebut sudah memberikan beberapa vitamin dan juga obat pengurang rasa mual padanya. Mengingat hari itu, mood Sakura jadi semakin membaik. Perhatian Sai padanya begitu terasa. Sai begitu antusias mendengar penjelasan dokter yang mengatakan bahwa kandungan Sakura sangat sehat dan usianya 3 minggu. Sakura dan Sang dokter bahkan sempat tertawa ketika Sai sudah tidak sabaran menanyakan jenis kelamin bayinya.
Sejak hari itu, Sai begitu protektif pada Sakura. Mengantar dan menjemputnya ke kampus, meneleponnya hampir setiap jam hanya untuk memastikan Sakura makan dengan benar dan mengkonsumsi vitamin yang diberikan dokter.
"Sai" panggil Sakura manja, Sai menolehkan kepalanya.
"Ya Sakura?"
"Aku ingin Sushi." Pinta sakura dengan puppy eyes-nya.
Satu fakta lagi yang baru diketahui oleh Sai dua hari ini. Ibu hamil biasanya mengidamkan sesuatu, dan hal itu juga dialami oleh Sakura. Sai tidak pernah keberatan menuruti permintaan seaneh apapun itu, kecuali yang diminta Sakura adalah hal yang tidak disarankan oleh dokter.
Sai menggeleng. "Tidak boleh, Sakura." Sakura mengerucutkan bibirnya, membuat Sai menahan tawa. "kau dengar sendiri kan yang dikatakan dokter? Sebaiknya ibu hamil menghindari konsumsi makanan mentah, apalagi Sushi."
Sakura masih mengerucutkan bibirnya, memalingkan wajahnya dari Sai. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa ia sangat ingin makan Sushi. Sai melihat ekspresi marah kekasihnya itu, kalau sudah begini, Sakura pasti akan merajuk seharian. Efeknya ia tidak akan mau minum atau makan apapun seharian.
Sai mendesah. "Sebagai gantinya kau boleh menghajarku dengan pukulanmu seperti biasanya." Sakura menatapnya tajam, Sai hanya meringis dibuatnya. Saat di flat, jika Sakura sedang merajuk, ia sering kali memukuli Sai dengan bantal hingga ia merasa puas. Kejam memang. Tapi itu diluar kendali Sakura. Sai sendiri tak keberatan dengan perlakuan Sakura itu, ia menganggap hal itu sebagai bentuk romantisme diantara mereka berdua. Aneh memang...
Terlaru larut dalam percakapan, membuat Sai dan Sakura tak menyadari jika ada sepasang mata gelap yang sedari tadi mengamati mereka dari meja kantin yang tak jauh dari mereka. Sebuah pandangan tanpa ekspresi, hanya menatap tanpa melibatkan emosi tertentu.
"Teme, aku tahu kau jomblo, tapi bukan berarti kau melihat orang pacaran seperti itu dong!"
Teguran dari sahabat blonde-nya itu, tak membuat Sasuke bergeming. Ia masih terus menatap pada pasangan di lain meja itu. "Mereka pacaran?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.
Naruto mengangguk. "Sepertinya begitu. Aku sering kali melihat mereka datang dan pulang dari kampus bersama. Dan coba lihat-ttebayou, mereka seperti perangko. Lengket terus!"
Naruto terdiam sesaat lalu menyadari sesuatu, "Tu..tunggu dulu. Apa kau suka pada Sakura-chan? Lalu kau berniat merebutnya dari kekasihnya kan?"
Naruto meringis ketika mendapatkan jitakan yang dilayangkan Sasuke padanya. "Jangan bicara sembarangan, dobe!"
Sasuke lebih memilih segera pergi dari tempat itu. Ia mengurungkan niatnya menagih hutang gadis merah jambu itu. Entah mengapa melihat pasangan itu membuat Sasuke muak.
.
.
.
.
- oOo -
Hari ini matahari tak menampakkan sinarnya. Langit jadi terlihat lebih gelap dibanding biasanya. Sakura sendiri mengurungkan niatnya untuk pergi kuliah. Entah mengapa badannya sedikit lemas hari ini. Jadi ia putuskan untuk istirahat seharian penuh untuk memulihkan tenaganya. Untungnya hari ini tidak akan menjadi hari yang membosankan, Sai akan menemaninya. Sai bolos kuliah sehari karena ingin menjaga Sakura, meski Sakura sudah melarangnya, Sai bersikeras ingin menemaninya.
Sakura sedang duduk menonton TV sambil menikmati buah apel yang baru di kupaskan Sai untuknya. Sebenarnya, Sakura sedang tidak ingin makan apel, tapi Sai bersikeras dengan mengatakan bahwa ibu hamil butuh nutrisi lebih dari orang biasa. Dan lagi-lagi sakura hanya bisa menurutinya.
"Bagaimana kabar Si kecil hari ini?"
Sai menyandarkan kepalanya di pangkuan Sakura, wajahnya menghadap perut Sakura yang masih rata itu, seraya mengusapnya pelan.
Sakura terkikik. "Dia baik-baik saja, Sai." Sakura mengusap lembut kepala Sai.
"Ayah, ingin segera bertemu denganmu nak." Gumam Sai sambil terus mengusap perut Sakura, lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura. "Ah...iya, aku sudah menyiapkan nama untuknya, Sakura."
Sakura menelan potongan apel yang baru saja dikunyahnya, "Secepat ini? kau terlalu terburu-buru, Sai."
Sai menggeleng. "Sama sekali tidak. Nama itu penting disiapkan sedini mungkin." Sakura tertawa pelan, mengusap lagi puncak kepala Sai. "Kalau laki-laki, aku akan memberinya nama Sanosuke. Kalau perempuan, Sachiko. Bagaimana Sakura? Bagus kan?" Sakura mengangguk antusias.
Sai beranjak dari posisinya ketika mendengar ponselnya berdering. Wajahnya nampak sangat senang ketika berbicara dengan seseorang di telponnya. Sai menatap Sakura dengan senyum lebarnya, seraya menggenggam erat tangan Sakura.
"Sai, ada apa?" tanya Sakura penasaran. "Siapa yang baru saja meneleponmu?"
"Ayahku baru pulang dari perjalanan bisnisnya, dia memintaku menjemputnya di bandara." Sakura ikut senang mendengarnya. "Dan...aku akan segera mengatakan rencana kita soal pernikahan lalu aku akan mengenalkanmu pada ayahku."
Perkataan terakhir Sai membuat senyum Sakura memudar seketika. Perasaan takut juga ragu memenuhi batinnya. Ia belum siap bertemu dengan ayah Sai. Ia takut ayah Sai akan kecewa mendengar kehamilan Sakura yang notabene diluar nikah.
Menyadari perubahan ekspresi wajah Sakura, Sai mengusap lembut pipi Sakura, "Jangan takut, kita akan hadapi bersama. Apapun yang akan dikatakan ayahku, aku akan tetap menikahimu. Kau bisa pegang janjiku."
Sakura menitikkan air mata bahagia. Ia bersyukur, Sai selalu bisa menguatkannya disaat rapuh dan selalu menjaganya dari apapun. Sakura tak tahu sejak kapan wajah Sai sudah begitu dekat dengannya. Perlahan Sai mengikis jarak diantara mereka. Sakura yang gugup hanya bisa memejamkan mata. Dan yang bisa ia rasakan selanjutnya adalah sapuan lembut nan hangat dibibir ranumnya. Kali ini Sakura tak menampik, bahwa ia menikmati sentuhan Sai ini. Menuntut tapi lembut. Ia membiarkan Sai mengeksplorasi mulutnya, membiarkan Sai memperdalam ciumannya.
.
.
.
.
- oOo -
Semalam Sakura bermimpi, melihat Sai tengah menggendong sesosok bayi mungil berkulit putih langsat seperti Sakura dan mempunyai warna rambut sewarna dengan Sai. Sakura tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Sai perlahan mendekat dan menyerahkan bayi mungil itu pada Sakura. Bayi itu menggeliat dalam tidurnya, lucu sekali. Setelah Sai mengatakan 'terima kasih', Sakura tak bisa menemukan sosoknya. Ia sudah memanggil-manggil, tapi tak ada sahutan dari Sai. Ia menghilang dari hadapannya begitu saja.
Suara kilatan petir dan hujan yang turun dengan derasnya, membuat udara menjadi lebih dingin dari biasanya. Jadi, Sakura memutuskan untuk bergelung dengan selimutnya. Untungnya disaat cuaca seperti ini, Sakura libur kuliah hari ini.
Ada perasaan khawatir saat Sakura kesulitan menghubungi Sai. Padahal Sai berjanji, setelahnya pulang dari menjemput ayahnya, ia akan menghubungi Sakura. Tapi nyatanya hingga saat ini, Sai tidak menghubunginya, bahkan ponselnya tidak aktif saat Sakura mencoba menghubunginya.
Sakura takut terjadi sesuatu yang buruk saat Sai mengatakan niatnya menikahi Sakura pada ayahnya. Apa mungkin ayahnya marah dan melarang Sai berhubungan lagi dengan Sakura? Atau lebih parahnya lagi, ayah Sai akan membawanya pergi ke tempat yang jauh sehingga Sakura tidak bisa lagi bertemu dengan Sai?
Sakura meneteskan air mata saat memikirkan itu. Ia pasti akan merasa sangat terluka jika sampai hal itu terjadi. Sakura tak menampik, ia mulai menerima Sai dalam hatinya lagi. Ia mencintai Sai. Sai adalah sosok penting dalam hidupnya saat ini, selain kakaknya. Apalagi Sai adalah ayah dari janin yang dikandungnya.
Sakura tak mendapatkan kabar apapun dari Sai hingga hari esok.
Sakura memulai hari ini dengan perasaan gundah. Ada hal aneh saat ia berada dikampus. Tak biasanya semua mahasiswa dikumpulkan di lapangan untuk berkumpul tidak di hari senin. Sakura menengadahkan wajahnya, ia melihat langit kelabu. Sejak kemarin memang hujan turun dengan derasnya, bahkan hari ini pun matahari masih enggan menampakkan wujudnya.
"Saya ingin menyampaikan berita duka pada kalian semua..." rektor Kampus mulai berbicara. "Kita telah kehilangan salah satu mahasiswa kita, yang merupakan salah satu anak dari donatur kampus kita. Telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang dialaminya. Dia adalah mahasiswa dari jurusan kedokteran, Shimura Sai..."
DEG!
Sakura tak lagi mendengar penjelasan rektor kampus, setelah menyebutkan nama itu. Sakura merasa kehilangan kemampuannya untuk bernapas. Ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja rektor itu ucapkan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sakura tak percaya dengan apa yang baru saja rektor itu ucapkan. Air matanya jatuh, dadanya terasa begitu sesak. Bagaimana bisa hal ini terjadi lagi pada dirinya? Kehilangan untuk kesekian kalinya?
Sakura langsung meninggalkan lapangan upacara itu begitu saja. Ia tak mempedulikan tatapan kesal orang-orang yang ditabraknya. Ia terus lari, pergi ke pemakaman yang baru saja rektor itu katakan. Sakura tak menyadari ada sepasang netra obsidian yang menatapnya, dan berusaha mengikutinya.
Rintik hujan yang terus jatuh membasahi bumi tak lagi dipedulikan Sakura. Meski pakaiannya nyaris basah kuyup. Ia tak peduli. Ia hanya peduli pada ukiran nama pada sebuah nisan yang masih terlihat baru. Ukiran nama lelaki yang dicintainya, ayah dari janin yang dikandungnya. Sakura jatuh terduduk, air mata terus mengalir deras di pipinya. Tangannya terulur mengusap nisan itu. Tak ada kata yang terlontar dari bibir mungilnya.
Tangis Sakura menjadi-jadi, ia memeluk batu nisan itu. Ia terus memanggil-manggil Sai. Dan hanya keheningan yang menyahut.
"Ini pasti bukan kau kan? Sai kekasihku, sudah berjanji padaku akan menemuiku dan membicarakan soal pernikahan kita. Kau bukan Sai! Sai tidak akan meninggalkanku!" teriak Sakura putus asa.
Takdir macam apa ini? Sakura merasa Kami-sama tidak adil padanya. Baru saja ada harapan dan kebahagiaan yang diberikan padanya. Lalu sekarang dirampas begitu saja. Dan menyisakan luka yang teramat dalam, yang membuat Sakura tak tahu akan bisa bertahan lagi atau tidak.
Menangis dan menangis. Sampai tak ada air mata lagi yang tersisa. Ia berharap bahwa air matanya bisa membawa serta kesedihan yang tengah dipikulnya. Ia ingin sekali menyangkal bahwa apa yang dialaminya hari ini hanyalah mimpi buruk.
Gelap.
Sakura merasa tubuhnya melemas. Pandangan matanya menjadi buram. Setelahnya, ia tak tahu apa yang terjadi. Hal terakhir yang dia ingat hanya ada sepasang lengan memeluknya dari belakang.
.
.
.
.
- oOo -
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Ia tolehkan kepalanya ke kiri, dan mendapati gorden jendela yang berkibar ditiup angin yang masuk yang berasal dari jendela yang dibuka lebar. Sakura merasakan kepalanya berdenyut, badannya masih terasa sangat lemas untuk hanya sekedar bangun. Ia tak tahu tengah berada dimana saat ini, yang jelas bau obat-obatan ini memberinya kesimpulan bahwa dirinya sedang di ruang perawatan rumah sakit.
KREK!
Suara pintu yang terbuka sontak membuat Sakura memusatkan pandangannya pada sosok yang masuk di pintu itu. Ada dua orang yang masuk, yang satu seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan satu lagi seorang pemuda dengan rambut gelap mencuatnya. Sakura mengenal sosok berambut mencuat itu. Pria yang tanpa sengaja ia tumpahi kemejanya dengan minuman.
Sakura masih terdiam, hanya memandang dua sosok itu yang berjalan mendekat padanya.
"Ah...dia sudah sadar rupanya, Sasuke." Ujar wanita paruh baya.
Oh...jadi pria menyebalkan itu namanya Sasuke?
"Kau yang membawaku kemari?" tanya Sakura to the point, suaranya masih terdengar serak.
Sasuke mengangguk. "Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik. Terima kasih sudah menolongku. Sekarang aku mau pulang." Sasuke menahan Sakura yang hendak bangkit dari tempat tidur.
"Kondisi badanmu masih lemah, istirahatlah sebentar, Nona." kata wanita dengan pakaian dokternya, disana tersemat nametag Tsunade Senju. "Sasuke aku tinggal dulu, ada pasien yang harus aku urus." Sasuke mengangguk.
Suasana hening kembali menyelimuti ruangan itu setelah kepergian Tsunade. Sakura lebih memilih memandang ke arah matahari yang mulai nampak dari jendela, daripada menatap sosok menyebalkan dihadapannya. Sejujurnya, banyak hal yang ia tanyakan pada pemuda yang bernama Sasuke itu.
Bagaimana bisa ia membawanya kemari? Apa ia mengikutinya saat ke pemakaman? Apa dia satu kampus denganku?
Sakura mendengar Sasuke menghela napas berat. "Hei, nona ceroboh. Mau sampai kapan kau bersikap seolah tidak ada aku di sini?"
"Karena aku tidak punya urusan lagi denganmu. Bukankah aku sudah berterima kasih?" kata Sakura sarkastik. Ia masih keukeuh dengan posisinya membelakangi Sasuke yang duduk di dekat ranjangnya.
Sasuke menyeringai tipis. "Oh...begitu? kalau dengan Shimura Sai, kau masih punya urusan?"
Sakura langsung membalikkan badannya sedari tadi membelakangi Sasuke, menatap nyalang padanya "Aku tidak perlu membahas masalah pribadiku dengan orang asing sepertimu!"
"Masalah? Masalah seperti...kehamilan yang kau maksud?" Sakura membulatkan matanya, menatap Sasuke dengan pandangan amat terkejut, Sasuke mendenguskan tawa "kau mau tahu darimana aku tahu bahwa kau sedang hamil?"
Sakura kehilangan kata-kata untuk membalas Sasuke.
Sasuke menyunggingkan senyum tipis khasnya. "apa bayi yang kau kandung itu...anak Sai?"
"CUKUP!" bentak Sakura dengan napas yang mulai memburu. "Kubilang cukup! Jangan campuri urusanku lagi, Sasuke! Apa sebenarnya maumu?"
Sasuke melipat kedua lengannya di depan dada. "Aku bersedia membantumu."
"Apa maksudmu? Bantuan apa?" potong Sakura tak sabaran.
"Aku bersedia menjadi ayah dari bayi yang kau kandung." Sakura melebarkan matanya, "Menikahlah denganku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
Author's Note:
Eksistensi Sai cuma sampai di chapter ini. Di chap selanjutnya, Sasuke mulai memegang peranan utamanya :D
