Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Aku lah yang tetap memelukmu erat

Saat kau berpikir mungkinkah berpaling

Aku lah yang akan menenangkan badai

Agar tetap tegar kau berjalan nanti

# Virzha – Aku Lelakimu


Chapter 5 – Hidup Yang Baru

Badai pasti berlalu. Hal itu memang benar, tapi bukan berarti tidak akan ada lagi badai yang datang bukan?

Ketika kau merasa di puncak keputusasaan, ada seseorang yang menawarkan pertolongan padamu, apa yang akan kau lakukan? Hal itu yang tengah dipikirkan oleh Haruno Sakura. Baru saja ia merasa nyawanya seakan tercabut, saat mendengar berita kematian lelaki yang ia cintai. Lalu ada orang lain yang tak pernah ia duga menawarkan diri sebagai pengganti ayah dari bayi yang tengah dikandungnya. Laki-laki yang menurutnya sombong dan selalu berkata kasar padanya, yang menilai seolah uang bisa menyelesaikan segalanya. Laki-laki tampan bernama Uchiha Sasuke.

"Aku bersedia menjadi ayah dari bayi yang kau kandung." Sakura melebarkan matanya, "Menikahlah denganku..."

Sakura hanya bisa melongo mendengarnya. Lelaki yang bahkan meninggalkan kesan jelek di matanya ini malah menawarkan sebuah pernikahan?

"A..apa?! kau sudah gila, Sasuke!" teriak Sakura dibalas seringaian oleh Sasuke, "dengar...aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku tidak membutuhkan bantuan dari orang sepertimu!"

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. "Oh ya? Lalu apa yang akan kau lakukan? Menggugurkan bayi itu? kau tega membunuh darah dagingmu sendiri?"

Sakura terdiam menggigit bibir bawahnya keras. Tangan kanannya terulur mengelus perutnya yang masih rata. Air matanya kembali mengalir, ia benar-benar merasa bersalah sempat berpikir untuk melenyapkan janin yang dikandungnya. Darah dagingnya. Peninggalan Sai yang berharga. Tegakah?

"Kenapa diam? Apa benar dugaanku bahwa kau-"

"CUKUP!"Sakura memejamkan mata seraya menutup kedua telinganya, "Kenapa?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa kau peduli padaku?! Kenapa kau merasa harus menolongku, hah?" Sakura menekankan pada kata 'harus'.

Sasuke mendesah pelan, sebelum akhirnya menjawab "karena aku ingin membuat ibuku bahagia. Aku ingin mengalihkan kesedihannya karena kepergian kakakku. Apa itu cukup memberimu jawaban?"

Emerald Sakura yang berkaca-kaca menatap onyx Sasuke dalam. Jujur, alasan Sasuke sedikit menyentuh hati Sakura. Membahagiakan orang tua adalah hal yang tidak akan pernah bisa dilakukannya, karena sebelum bisa melakukannya Sakura sudah kehilangan mereka berdua.

"Lalu kenapa harus aku, Sasuke? Aku yakin kau bisa dengan mudah mendapatkan gadis di luar sana dengan apa yang kau punya. Perempuan yang lebih sempurna dibanding aku." Ucap Sakura tak habis pikir.

"Karena kau pernah menyelamatkan nyawa ibuku." Ujar Sasuke singkat.

Emerald Sakura melebar lagi. Bertemu Sasuke hanya terjadi dua kali dalam hidupnya, lalu bagaimana bisa ia bertemu dengan ibu Sasuke? Kapan? Dimana?

Sasuke tersenyum tipis melihat ekspresi Sakura yang terlihat bingung. "Kau pernah menyelamatkan wanita korban tabrak lari bukan?"

Sakura menerawang, mencoba mengingat kejadian yang telah ia lewati di Konoha. Ia tersentak ketika ia mengingat kejadian yang memang cukup lama. Saat Sakura baru 3 minggu berada di Konoha. Waktu itu ia baru saja pulang berbelanja barang kebutuhan sehari-hari di minimarket perempatan jalan dekat tempat tinggalnya. Ia melihat sosok wanita tergeletak di seberang jalan, tak jauh dari minimarket. Sakura yang melihat itu bergegas mengeceknya, ternyata dugaannya benar. Wanita yang tengah tak sadarkan diri itu terlihat seperti korban kecelakaan. Tanpa pikir panjang, Sakura langsung menelepon ambulance lalu membawanya ke rumah sakit.

Betapa paniknya Sakura saat dokter yang menangani wanita itu mengatakan bahwa wanita itu kehilangan banyak darah karena luka di beberapa bagian tubuhnya, terutama kepala. Sakura langsung berinisiatif mendonorkan darahnya, karena kebetulan golongan darah Sakura sama dengan wanita itu.

"Ja...jadi kau..."

Sasuke mengangguk. "Aku putra dari wanita yang kau selamatkan. Aku belum sempat berterima kasih padamu, tapi untungnya aku cukup mengingatmu saat kau baru keluar dari ruangan ibuku."

Sakura tak menyangka jika kejadian itu bisa menghubungkannya dengan Sasuke. Saat menolong wanita itu, Sakura tak pernah berpikir akan mendapat balasan seperti ini. Ia hanya melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan, menolong orang lain yang membutuhkan bantuan tanpa pamrih.

Tatapan Sakura meredup. "Kau tidak perlu melakukan hal ini hanya karena aku pernah menolong ibumu, Sasuke. Sebuah pernikahan tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan di masa lalu."

Sasuke mengeraskan rahangnya, kedua tangannya terkepal erat "aku tidak suka berhutang budi pada orang lain, Nona ceroboh!" celetuk Sasuke.

Saat Sakura hendak membalas, Sasuke berkata lagi "saat kau tengah berbadan dua, kau tidak boleh memikirkan dirimu sendiri. Kau juga harus memikirkan kehidupannya di masa datang, Sakura. Bagaimana dia akan menghadapi cemoohan karena dia lahir di luar nikah? Dia juga butuh sosok ayah dalam hidupnya bukan?"

Pernyataan Sasuke itu membuat Sakura mencelos. Hatinya seakan tercubit. Sakura tak pernah memikirkannya sejauh itu. Ia hanya berpikir akan berusaha keras menjaga dan membesarkannya seorang diri tanpa berpikir bagaimana kelak ia di pandang oleh orang lain.

Sakura menangkup wajahnya yang basah karena air mata. Perkataan Sasuke waktu itu memang benar, tidak seharusnya Sakura bersikap egois tanpa berpikir akibat yang akan ditanggung calon buah hatinya. Sakura mengelus pelan lagi perutnya yang masih rata seraya mengucapkan kata 'maaf' berkali-kali.

Sakura mengusap air matanya, lalu mengambil ponsel yang ada di meja. "Halo...Sasuke? aku...aku mau menikah denganmu."

.

.

.

.

- oOo -

Sepanjang perjalanan mereka hanya ada keheningan. Sasuke fokus dengan menyetirnya, sedangkan Sakura yang duduk di sebelahnya hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Terlihat seolah hanya raganya yang ada di sini tapi tidak dengan jiwanya. Sasuke memahami perasaan Sakura yang kacau, bukan salahnya jika Sakura bersikap seperti sekarang. Kehilangan orang yang dicintai memang sangat menyakitkan bahkan jika seseorang tak sanggup memikulnya, ia bisa saja mengakhiri hidupnya. Tapi Sasuke bersyukur, ia datang di saat yang tepat. Di saat Sakura merasa dipuncak keputusasaannya, di saat ia tak punya seseorang untuk menopang hidupnya.

Sakura mulai terlihat tegang saat mobil Sasuke mulai memasuki pelataran Mansion Uchiha. Rumah bergaya Eropa klasik itu terlihat sangat luas hanya dengan melihatnya dari bagian luar saja. Di depan rumah itu juga terdapat kolam ikan, dan juga taman bunga yang terlihat sangat terawat. Saat Sakura dan Sasuke berjalan beriringan, ada beberapa orang yang Sakura duga adalah pelayan Sasuke, menunduk hormat pada Sasuke.

"Kau siap?"

Pertanyaan itu meluncur dari bibir Sasuke saat mereka berdua telah berada tepat di depan pintu rumah. Dengan sedikit ragu Sakura tetap mengangguk. Tanpa di duga, Sasuke langsung meraih tangan Sakura, menggenggamnya erat. Sasuke memberikan senyum tipis yang seolah mengatakan 'percayalah padaku'.

Atmosfir ketegangan mulai melanda sejak ke dua orang tua Sasuke sudah duduk di hadapan keduanya. Sakura hanya memilin ujung bajunya, menundukkan wajahnya yang terlihat sangat takut. Sasuke sendiri yang sudah terbiasa menghadapi situasi menegangkan saat menghadapi ayahnya, hanya menampilkan wajah datar dan tenang yang menjadi khasnya.

"Siapa gadis cantik ini, Sasuke?" tanya Mikoto sambil tersenyum lembut.

"Ibu ingat saat ibu mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu?" Mikoto mengangguk langsung, "dia gadis yang menolong ibu waktu itu."

Mata Mikoto langsung berbinar, ia menutup mulut dengan salah satu tangannya, "Ja...jadi kau gadis yang menolongku waktu itu?" Sakura mengangguk malu-malu, "Ya...Tuhan! bagaimana kau bisa bertemu dengannya Sasuke? Ibu bahkan belum sempat berterima kasih padanya."

"Saat ibu masih belum sadarkan diri, aku melihat dia keluar dari ruangan ibu." Mikoto mengangguk paham, "aku sendiri tak menyangka ternyata dia satu kampus denganku."

"Jadi kau yang menyelamatkan istriku?" Fugaku, ayah Sasuke mulai angkat bicara, Sakura mengangguk sekali lagi. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawa istriku." Ucap Fugaku tersenyum tipis.

Sakura mengangguk kaku. "Ah...ano sama-sama. Aku hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan."

Mikoto tertawa pelan, sedangkan Fugaku hanya menampilkan senyum tipis khas Uchiha. Mata Mikoto memicing saat melihat sesuatu yang menarik antara putranya dengan Sang gadis.

"Apa kalian berdua pacaran, hm?" tanya Mikoto mengerling jahil.

Sakura tercekat, ia melirik Sasuke yang terlihat tidak tegang sama sekali dari awal pembicaraan. Sakura cukup salut, Sasuke bisa tenang menghadai situasi seperti ini.

"Hn...seperti yang kalian lihat. Dan aku ingin mengatakan sesuatu mengenai hubungan kami." Jawab Sasuke datar.

Fugaku menangkat sebelah alisnya. "Tentang apa itu?"

Sakura menarik napas dalam-dalam, jari-jarinya mulai terlihat tidak tenang lagi. Ini saat-saat yang paling menegangkan.

"Aku ingin menikahinya, Ayah...Ibu..." ujar Sasuke tanpa keraguan

"Wah...ibu senang mendengarnya, Sasuke. Kau tidak perlu ragu, ayah dan ibumu pasti merestui kalian berdua. Ya kan anata?" kata Mikoto antusias sembari menepuk pelan lengan suaminya.

Berbeda dengan Mikoto yang terlihat begitu antusias dengan pernyataan Sasuke, Fugaku terlihat sebaliknya. "Apa tidak terlalu terburu-buru? Kau masih kuliah, Sasuke."

Sasuke menggeleng. "Tidak jika dilihat dari situasi kami sekarang ini."

Fugaku megernyit. "Situasi apa yang kau maksud?"

Genggaman Sasuke pada Sakura terlepas, lalu mengulurkan tangannya ke arah perut datar Sakura. "Dia sedang hamil, ayah. Karena itu aku ingin segera menikah."

Hening.

Fugaku dan Mikoto terlihat membelalakkan matanya. Ia cukup terkejut mendengar perkataan Sasuke mengenai kehamilan. Mereka tak menyangka jika putra kebanggan mereka akan melakukan hal itu.

"Kau menghamilinya?!" teriak Fugaku beranjak dari duduknya. Mikoto berusaha menenangkan suaminya dan memintanya kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan Sasuke lebih lanjut.

Sasuke mengangguk.

Salah. Ini salah. Tidak seharusnya Sasuke berbohong kepada kedua orang tuanya. Sasuke bukan orang yang menghamilinya, bukan ayah dari janin yang dikandungnya. Lalu mengapa Sasuke mengatakan hal itu?

Sakura yang merasa situasi ini semakin runyam berinisiatif angkat bicara, "Ah...itu sebenarnya..."

"Diamlah Sakura!" cegah Sasuke tegas, "biar aku yang bicara dengan mereka. Ini salahku dan ini tanggung jawabku."

Tidak! Ini salah, Sasuke! Tidak seharusnya kau sampai berbohong seperti itu! Hentikan!

Fugaku terperangah ketika melihat putra bungsunya itu tiba-tiba berlutut di hadapannya. Mikoto sendiri tak menyangka putranya sampai berbuat sejauh ini demi menyatakan kesungguhannya menikahi Sakura.

"SASUKE! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Fugaku cukup keras. Ini pertama kalinya ia berteriak saat marah pada putranya. Biasanya ia lebih memilih meredam emosinya lalu memberikan nasehat. Menurut Fugaku, kali ini perbuatan Sasuke sudah melebihi batas kesabarannya.

"Aku mohon restui Kami berdua. Aku tahu aku salah sudah melakukannya, tapi tidak dengan bayi itu. Dia berhak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya." Pinta Sasuke seraya menundukkan wajahnya.

Memohon adalah hal yang tidak pernah Sasuke lakukan selama ini. Jika ia sangat menginginkan sesuatu, ia kan berusaha dengan kemampuannya sendiri. Sejak kecil Sasuke memang di didik untuk mandiri meski segala kebutuhan hidupnya masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab kedua orang tua Sasuke. Tapi, demi Sakura, Sasuke rela memohon seperti ini pada orang tuanya.

Fugaku berusaha mengatur napasnya yang memburu. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Putranya bahkan memohon padanya sampai seperti ini.

"Fugaku, biarkan Sasuke menikahinya." Fugaku menatap tajam istrinya. "semua sudah terjadi, dan bagaimana pun bayi itu calon cucu kita kan? Jadi tidak akan berpengaruh pada nama baik Uchiha, jika Sasuke menikahinya." Tukas Mikoto.

Fugaku termenung. Yang dikatakan istrinya memang benar juga. bagaimana pun bayi yang tengah dikandung kekasih Sasuke itu adalah cucunya. Darah Uchiha mengalir dalam darahnya. Itu berarti bayi itu juga tanggung jawabnya, sebagai calon kakeknya kelak.

Fugaku menghela napas, lalu menyuruh Sasuke untuk duduk kembali. "Baiklah, nikahi dia. Aku tidak ingin calon cucuku kekurangan kasih sayang keluarga."

Sasuke tersenyum lega. "Terima kasih, Ayah...Ibu..."

.

.

.

.

- oOo -

Senyuman puas dari wanita cantik berambut merah itu berbanding terbalik dengan senyuman paksa yang terpatri di wajah cantik Sakura. Ia tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin yang berukuran cukup besar itu. Calon istri Uchiha Sasuke itu tengah melakukan fitting gaun pengantin yang akan dikenakannya ketika acara resepsi pernikahan nanti. Gaun berwarna putih tanpa lengan terlihat begitu elegan dan pas di tubuh Sakura.

Masih sulit rasanya bagi Sakura untuk mempercayai bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dari Uchiha Sasuke. Mengingat beberapa hari lalu ia dan Sasuke sempat bertengkar hebat sesaat setelah pulang dari Mansion Uchiha. Kebohongan Sasuke lah yang membuat Sakura marah besar. Tetapi Sasuke berusaha meyakinkan bahwa tidak akan terjadi hal buruk ke depannya, orang tua Sasuke tidak perlu tahu bahwa janin yang dikandung Sakura bukan lah darah dagingnya. Dan pada akhirnya Sakura hanya bisa pasrah dengan keputusan Sasuke, ia juga tak mungkin membatalkan pernikahan ini begitu saja setelah perjuangan yang Sasuke lewati demi mendapat restu orang tuanya.

"Oi, Sasuke... bagaimana gaun rancanganku? Bagus kan?" seru Karin sembari memegang bahu Sakura, mereka berdua baru saja keluar dari ruang ganti.

Sasuke yang sedari sibuk membaca majalah bisnis yang ada di butik Karin, mendongakkan wajahnya dan menatap Sakura dari ujung kaki hingga wajahnya. Ia nampak terkejut, beranjak dari duduknya dan tanpa sadar menjatuhkan majalah yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. Sasuke tak mengeluarkan sepatah kata pun, tetapi wajahnya yang terlihat seperti orang bodoh membuat tawa Karin meledak.

"Coba lihat tampangmu itu Sasuke! Kau seperti tidak pernah melihat gadis cantik saja. kau bahkan terlihat lebih bodoh dari sepupuku Naruto." ejek Karin setelahnya suara tawanya kembali menggema.

Sasuke mendengus, memilih tidak membalas ejekan Karin dan berjalan mendekat pada Sakura. Mata gelapnya kembali menatap wajah cantik Sakura. Tidak ada emosi apapun, tapi ia merasakan seperti kedua emerald Sakura itu tengah memancarkan kesedihan. Melihatnya membuat keinginan Sasuke untuk segera menikahi Sakura semakin kuat. Ia akan menjaga dan membahagiakan Sakura meski pernikahan ini tidak di dasari perasaan cinta.

Karin memutar bola matanya. "Lanjutkan kemesraan kalian di rumah" sindir Karin, lalu menatap malas Sasuke, "Jadi bagaimana Sasuke? Apa kau mau ambil gaun ini?"

"Kau menyukainya?" tanya Sasuke pada Sakura.

"Aku tidak paham soal fashion. Terserah kau saja."

Komentar dingin Sakura membuat hati Sasuke kembali mencelos. Tapi ia tak membalas dengan kata-kata pedas yang biasa ia ucapkan, ia cukup tahu bagaimana harus menghadapi Sakura. Ia mencoba memahami keadaan Sakura yang sedang hamil. Emosi wanita hamil memang labil, anggap saja seperti itu.

Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke memutuskan untuk membeli gaun yang baru saja dicoba Sakura. Menurutnya, Sakura tetap cantik meski mengenakan piyama sekalipun.

Setelah fitting baju pengantin, mereka berdua mencari cincin pernikahan, dan lagi-lagi pendapat Sasuke hanya mendapat komentar dingin dari Sakura. Sasuke mencoba memperbanyak stok kesabarannya, karena ia lah yang menginginkan pernikahan ini. Ia sendiri yang bertekad menjadi ayah pengganti dari bayi yang dikandung Sakura, meski sejujurnya ia tak tahu apa ia akan sanggup mengemban tugas sebagai seorang ayah.

.

.

.

.

- oOo -

Pagi ini, Sakura disibukkan dengan kegiatan administrasi cuti dari perkuliahan. Sebenarnya Sakura merasa masih sanggup menjalankan perkuliahan tetapi Sasuke tidak mengizinkannya, ia hanya ingin Sakura fokus pada kehamilannya. Alasan Sasuke itu cukup masuk akal, mengingat kegiatan perkuliahan tidaklah ringan. Memakan banyak tenaga fisik juga mental. Sasuke takut jika sampai terjadi apa-apa dengan Sakura. Sedangkan Sasuke sendiri masih melanjutkan perkuliahannya, karena ia mengambil kelas karyawan yang hanya masuk di hari jumat dan sabtu.

Sedih. Hal itulah yang kini tengah menyelimuti benak Sakura. Demi kehamilan ini, ia pada akhirnya harus menunda perkuliahannya yang baru berjalan 2 semester. Sakura tak menyalahkan janinnya. Tidak sama sekali. Ia justru menyalahkan dirinya sendiri, semua ini terjadi karena kecerobohannya. Tidak mengindahkan larangan kakaknya untuk berada jauh darinya. Kalau saja Sakura tidak ngotot minta kuliah di Konoha mungkin ini tidak akan terjadi.

Semua sudah terjadi, itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri begitu saja. Bayi yang tengah dikandungnya adalah tanggung jawabnya bagaimana pun juga. Dan Sakura sudah berjanji akan menjaga benih dari lelaki yang ia cintai. Ia sudah kehilangan Sai, dan ia tidak ingin kehilangan bayinya juga. Sakura tidak ingin bersikap egois, hanya karena impiannya menjadi dokter tertunda, pertumbuhan janinnya terganggu.

Sakura menyesap susu ibu hamil kemasan kotak yang baru saja ia beli di Supermarket. Saat ini ia sedang butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, memantapkan hatinya soal pernikahan dengan Sasuke. Duduk di arel taman menurut Sakura adalah pilihan yang bagus. Udara yang bersih dan didukung dengan lingkungan yang nyaman, membuat Sakura bisa rileks.

Tanpa Sakura sadari ia tersenyum tipis melihat beberapa anak berumur sekitar 5 tahunan sedang bermain di depannya, bernyanyi dengan ceria, tertawa cekikikan, saling berkejar-kejaran. Hanya dalam waktu beberapa bulan ia akan resmi menjadi seorang ibu. Hal yang belum terpikirkan olehnya selama ini. Ia hanya sibuk memikirkan bagaimana bisa membantu Sang kakak untuk melunasi hutang dan mencapai impiannya, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi seperti sekarang ini. Ia masih sangat labil untuk menjadi orang tua, masih sangat awam. Bahkan Sakura sama sekali tak memiliki pengetahuan yang cukup bagaimana menjadi ibu yang baik. Ia takut jika kelak ia tidak mendidik buah hatinya dengan benar.

Sakura menatap perut dan mengelusnya. Meski ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai orang tua yang baik, dalam hati ia berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya kelak, bahkan mengorbankan nyawa sekali pun akan Sakura lakukan. Pernikahannya dengan Sasuke juga termasuk langkah awal Sakura membahagiakan anaknya, ia tak mau jika nantinya anaknya akan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terlebih, perkataan miring orang lain jika sampai Sakura melahirkan tanpa seorang suami di sisinya. Ia tak sanggup membayangkan hidup berat yang akan dilalui buah hatinya.

Drrrt...Drrrtt...Drrrtt...

Mata Sakura melebar menatap nama kontak yang tertera, senyumnya terkembang begitu saja. Ia merasa sangat senang, orang yang begitu dirindukannya menelepon di saat yang tepat.

"Halo-..."

"SAKURAAA?!"

Suara panggilan yang lebih mirip teriakan itu sontak membuat Sakura menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara yang Sakura yakini cukup membuat gendang telinganya pecah. Siapa lagi yang punya suara itu selain...

"INO?! Jangan berteriak ditelepon! Kau mau membuat telingaku tuli, Hah?!" protes Sakura kesal.

"Kau sendiri mau membuat jantungku lepas?! Tolooooong katakan padaku sekarang juga bahwa berita yang kubaca saat ini hanya hoax!"

Sakura mengernyit. "Berita apa yang kau maksud?"

"Uchiha Sasuke pebisnis tampan nan kaya raya akan segera menikahi kekasihnya, Haruno Sakura. Apa maksudnya ini?!" jerit Ino frustasi.

Kami-sama...Sakura benar-benar tak menyangka berita mengenai perikahannya sudah tersebar luas di media massa. Pantas saja saat Sakura mengurus administrasi cuti di kampusnya, semua sorot mata yang di arahkan padanya terlihat seperti ingin membunuh (terutama wanita). Ternyata semua sudah tahu kalau Sakura akan menikah dengan Sasuke.

"Yah...itu benar, Ino." Jawab Sakura datar.

"Bunuh aku sekarang juga, Sakura!" Sakura melongo mendengarnya, "Bagaimana kau bisa menikah dengan Sasuke? Kapan kau pacaran dengannya, hah? Kenapa tidak menceritakannya padaku?!"

Sakura menghela napas pasrah. "Ceritanya panjang, Ino-pig. Saat kau ke Konoha aku akan menceritakan semuanya. Lagipula hanya menikah dengan Sasuke mengapa kau heboh begitu sih?"

"Apa katamu?! Tentu saja aku heboh! Memangnya kau tidak tahu Sasuke? Dia pebisnis sukses termuda di jepang, otaknya yang terkenal jenius, wajahnya yang...ah...aku rela kalau dia mau menjadikanku istri kedua. Hahahaha..."

Sakura melotot. "Dasar!" Sakura mengambil jeda sesaat, kemudian berkata, "aku sudah mengirimkan undangan untukmu, Ino. Seharusnya hari ini sudah sampai."

"Mungkin nanti sore sampai. Yang jelas saat aku di sana nanti kau harus menceritakan semuanya, Sakura. Se-mu-a-nya! Mengerti?"

Sakura tertawa mendengarnya, lalu meng-iya-kan. Ino tidak akan mengampuninya kali ini kalau sampai ada lagi hal yang dirahasiakan Sakura. Memang sudah seharusnya Ino tahu mengenai kejadian yang dialaminya beberapa kali ini.

Sementara itu di tempat lain...

BRAK!

Suara gebrakan pintu yang cukup keras itu mengagetkan Sasuke yang tengah sibuk memeriksa dokumen di meja kerjanya. Ia ingin sekali melempar asbak di mejanya kalau saja orang yang masuk seenaknya sendiri itu orang lain, tetapi...

"TEMEEEEEE?!"

Sasuke hanya menatap datar sahabat blonde-nya yang terlihat kesulitan mengatur napas, wajahnya memerah menahan marah, tangannya terkepal kuat.

"Ada apa? Kenapa buat keributan di kantorku, hm?" tanya Sasuke santai.

Naruto menggebrak meja. "Yang 'ada apa' itu kau, Teme!" Naruto menunjuk wajah Sasuke, "kudengar dari sepupuku, kau akan menikah. Kau memesan gaun pengantin padanya. Apa itu benar?!"

Sasuke mengangguk. "Hn, kenapa?"

"Kenapa katamu?! Kenapa aku tahu malah dari sepupuku hah? Kau anggap apa aku, Sasuke?" ekspresi Naruto dibuat sedih, membuat Sasuke memutar bola matanya. "Siapa gadis itu? siapa yang akan kau nikahi?!"

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Haruno Sakura, mantan kekasih Shimura Sai."

Jawaban Sasuke sukses membuat Naruto melongo. Ia benar-benar tak menyangka bahwa sahabatnya itu bisa mendapatkan Sakura kekasih Sai. Padahal Sai baru saja meninggal, tetapi secepat itu Sakura mendapat penggantinya.

"K-kau...tidak membunuhnya kan, Sasuke?" Sasuke mendelik, "a..aku tidak menuduhmu dattebayou, aku hanya merasa aneh. Semua seperti sebuah kebetulan." Ujar Naruto gelagapan.

"Aku bukan orang sejahat itu, Dobe. Semua itu takdir." Sasuke kembali menekuri dokumennya, "kalau tidak ada urusan lagi, keluarlah dari kantorku. Aku sibuk."

Naruto mendengus. "Kenapa kau tidak jujur padaku?" Sasuke mendongak, kembali menatap tajam Naruto, "kau menyukai Sakura-chan kan? Dasar tsundere!" Naruto menjulurkan lidahnya, sembari mengambil langkah seribu sebelum mendapat amukan dari Sasuke.

.

.

.

.

- oOo -

Dan hari pernikahan itu pun tiba.

Hanya butuh waktu 2 minggu bagi keluarga Uchiha itu untuk membuat persiapan pernikahan yang bisa dikategorikan mewah ini. Tentunya ini semua tak lepas dari campur tangan Fugaku dan Mikoto selaku orang tua Sasuke. Semua berjalan lancar, kecuali kesiapan hati pasangan pengantin baru itu. Pernikahan ini tidak di dasari cinta, hanya karena rasa tanggung jawab. Sasuke sendiri masih sulit memahami mengapa dirinya begitu bersikeras untuk menikahi Sakura. Ia hanya tidak suka melihat air mata Sakura. Entah mengapa ekspresi wajah sendu Sakura begitu mengganggunya. Apa mungkin yang dikatakan Naruto soal perasaannya itu benar, bahwa ia jatuh cinta pada Sakura? Atau semua hanya karena balas budi, karena Sakura telah menyelamatkan nyawa ibunya?

Apapun itu yang jelas Sasuke tidak akan mundur lagi, lebih tepatnya tidak bisa. Harga dirinya tidak membiarkan hal itu terjadi, setelah perjuangannya mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Meski mereka berdua tidak mengetahui bahwa bayi yang dikandung Sakura bukanlah anak Sasuke.

Sakura mulai berjalan memasuki altar, ia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang dipesannya pada Karin hingga membuat para tamu undangan menatap kagum padanya. Begitu pula dengan Sasuke, yang terlihat tampan dengan tuxedo yang dikenakannya. Keduanya mengucap janji setia di hadapan pendeta dan juga para tamu undangan. Tidak ada keraguan dalam mereka berdua mengucap sumpah itu, mereka sudah yakin tidak akan mundur lagi. Ini pilihan keduanya.

"Pengantin pria dipersilahkan mencium pengantin wanita." Ucap Sang pendeta.

"CIUM YANG MESRA, TEME?!"

Teriakan memalukan itu berasal dari sahabat blonde-nya, siapa lagi kalau bukan Naruto. Ia memang tak pernah melewatkan kesempatan untuk mempermalukan Sasuke. Sasuke hanya menatap tajam Naruto yang cekikikan menahan tawa. Sasuke kembali menatap Sakura yang terlihat tegang, ia menelan ludah. Ia tahu Sakura terlihat tidak siap harus melakukan ini.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura, menangkupkan tangan kanannya di wajah Sakura. Dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di dahinya. Sasuke tersenyum setelahnya pada Sakura yang sedari tadi menutup mata karena gugup setengah mati. Jujur saja, Ia tak menyangka Sasuke akan menciumnya di dahi. Sakura balas tersenyum, dan tak lama kemudian terdengarlah riuh tepuk tangan dari para tamu undangan.

Perempuan cantik berambut blonde itu memeluk Sakura erat. Ia terlihat cantik dengan balutan dress malam berwarna biru dongker. "Selamat Sakura... Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu."

"Terima kasih, Ino-pig." Kata Sakura seraya melepaskan pelukannya. "Kau terlihat cantik sekali malam ini." Sakura mengedipkan sebelah matanya.

Ino tertawa pelan. "Pengantin wanita yang paling canting dong!" gantian Sakura tertawa, Ino membisikkan sesuatu ke telinga Sakura, "kau berhutang penjelasan padaku, jidat."

Sakura tersenyum kecut. Sudah ia duga bahwa Ino tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengorek kebenaran soal pernikahan ini. "Aku akan menceritakan semuanya besok. Tunggu aku di cafe biasanya jam 3 sore." Ino mengangguk antusias, membuat Sakura tertawa melihatnya.

"Oh...dan jangan lupa bonus cerita malam pertama." Ino mengedip jahil, dibalas pukulan pelan di lengan Ino.

Malam pertama.

Sakura hampir melupakan hal itu. Meski pernikahannya tidak di dasari cinta, tapi tetap saja ini adalah sebuah pernikahan. Dimana Sang suami punya hak terhadap Sang istri begitu pula sebaliknya. Sebelumnya diantara Sakura dan Sasuke juga tidak membahas mengenai apa saja yangb boleh dan tidak boleh dilakukan. Sakura merutuk dalam hati, ia benar-benar lupa akan hal sensitif semacam ini.

Tapi semua sudah terlambat, sekarang Sakura sedang duduk di ranjang yang nantinya akan ditempati berdua dengan Sasuke. Sakura sudah mengganti baju pengantinnya dan juga sudah membersihkan wajahnya dari make up. Kegiatan pernikahan yang begitu melelahkan, setelah resepsi pernikahan acara tak lantas selesai, Sakura dan Sasuke masih harus menemui tetua dari keluarga Sasuke. Tenaganya benar-benar terkuras habis. Sasuke yang menyadari wajah letih Sakura, menyuruhnya masuk kamar terlebih dahulu karena Sasuke masih harus menemui relasi bisnisnya.

Sakura duduk bersandar di ranjang, jemarinya memainkan ujung piyamanya. Hatinya benar-benar gelisah. Ia merasa belum siap mengenai malam pertama. Ia takut jika Sasuke menuntut hak-nya, dan Sakura tidak punya alasan untuk menolak.

Tunggu...aku kan sedang hamil? itu bisa jadi alasan yang bagus untuk menolak Sasuke

Sakura tersenyum puas saat menemukan solusi malam pertama-nya. Ia yakin Sasuke tidak akan memaksa Sakura melakukan tugasnya sebagai seorang istri.

Malam mulai larut. Sasuke berjalan menuju kamarnya dengan wajah kusut, ia sangat lelah melewati serangkaian ritual pernikahan dengan Sakura, belum lagi harus menemui rekan bisnisnya yang tidak bisa dibilang sedikit. Sasuke melirik jam tangannya, waktu menunjukkan 23.00. Ia yakin Sakura pasti sudah lelap dalam tidurnya.

KLEK!

Saat masuk ke dalam kamarnya, Sasuke mendapati ruang kamarnya begitu gelap. Ia berinisiatif menyalakan lampu, ia terkejut melihat Sakura tidur sambil duduk bersandar di ujung ranjang. Sasuke mengulum senyum melihatnya. Setelah mengganti bajunya dengan piyama, Sasuke membetulkan posisi tidur Sakura agar lebih nyaman. Menaikan selimut sebatas dada. Lalu Sasuke naik ke sisi ranjang yang lain.

Sejujurnya ia sedikit kecewa karena belum sempat bicara dengan Sakura di malam pernikahan mereka. Banyak hal yang perlu mereka bicarakan untuk ke depannya. Tapi apa mau di kata, Sakura terlihat sangat lelah hingga ketiduran menunggu Sasuke. Masih dengan senyum tipis di wajah tampannya, Sasuke enggan mengalihkan onyx-nya dari wajah tidur damai Sakura. Tangannya tergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi kelopak matanya, Sasuke menundukkan wajahnya perlahan.

"Sai..."

Igauan Sakura membuat Sasuke mengurungkan niatnya mencium dahi Sakura.

"...Sai...kumohon jangan pergi..."

Sasuke mengeraskan rahangnya. Ia tak menyangka bahkan dalam tidur Sakura pun, pemuda berkulit pucat itu masih menguasainya. Sasuke merasakan batinnya teriris, entah berapa lama Sasuke dapat bertahan dengan Sakura yang masih mencintai Sai, lelaki yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued


Author's Note:

Saya ngga tahu ini sudah hurt apa belum :D saya ngga pandai membuat dialog yang bisa ngiris bawang eh maksudnya ngiris hati :D

Thanks For Reviewing:

Jamurlumutan462, hanazono yuri, tessatarigan, Bang Kise Ganteng, zehakazama, embun adja1, ryouta sakura, Daun Momiji, Young Lee, williewillydoo


Q: Sasuke suka saku?
A : Keliatan ya? :D

Q: Sakura ada hutang apa dengan Sasuke?
A: Hutang kemeja yang ngga sengaja ditumpahi minuman sama Saku. Lebih lengkapnya di chap 3

Q: Apa jangan2 nanti Sakura juga keguguran?
A: Ngga kok, tenang aja :D

Q: Akan banyak chapter kah?
A: beberapa chapter lagi. Ngga bisa mastiin berapa chapter.