Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC, TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa

Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku

# Dewa 19 – Risalah Hati


Chapter 6 – Memahamimu

Ia tersenyum puas menatap hasil kerja kerasnya sedari pagi buta. Ia tahu meski ia tak terlalu ahli dalam urusan dapur setidaknya ia juga tidak payah. Sejak kehilangan kedua orang tuanya membuatnya mandiri dalam banyak hal, salah satunya memasak. Sakura bukanlah wanita yang awam memasuki dapur. Dalam hati ia berharap masakannya ini bisa membuat suaminya merasa puas. Yah, meski ini bukan pernikahan yang di dasari oleh cinta, tetapi tetap saja Sakura menghormati ikatan suci ini. Ia menghargai posisi Sasuke sebagai suaminya, untuk itulah ia akan berusaha menerima kehadiran Sasuke diantara dirinya dan calon buah hatinya. Ia akan berusaha keras menjadi istri yang baik.

Dengan pelan wanita bersuari merah jambu itu membuka pintu kamarnya, sebisa mungkin ia tak membuat suara gaduh yang bisa membuat kaget Sang suami yang tengah tidur dengan lelapnya. Sakura tahu suaminya pasti sangat lelah karena pesta pernikahan mereka kemarin. Bahkan saat Sakura mulai mengantuk pukul setengah sebelas malam, Sasuke tak kunjung memasuki kamar mereka. Entah jam berapa Sasuke masuk, saat pagi membuka mata, Sakura sudah melihat suaminya itu tidur lelap memunggunginya.

"Sasuke"

Sakura menggoyang pelang bahu suaminya itu. ia berniat membangunkan Sasuke agar segera membersihkan diri dan sarapan bersama dengannya. Tapi Sasuke malah semakin meringkuk, mengeratkan selimutnya. Membuat Sakura mendengus kesal.

"Sasuke, kau bisa terlambat ke kantor nanti." Celetuk Sakura. Sekarang Sasuke malah mengganti posisinya memunggungi Sakura.

"SASU- Kyaaa...!"

Sakura terkejut saat Sasuke malah menariknya ke tempat tidur, memeluknya erat sampai Sakura tak diberi kesempatan untuk melepaskan diri.

"Diamlah." Titahnya, "Pagi-pagi sudah berisik sekali!"

"Nanti kau ter-"

"Tidak akan ada yang berani menegurku, Sakura." Potong Sasuke cepat. Sasuke menghirup aroma cerry yang menguar di leher Sakura, membuat Sakura menggeliat geli. "kau wangi sekali..."

Mendengar pujian itu sontak membuat wajah Sakura memerah, ditambah lagi posisi mereka berdua terlalu dekat. Bahkan bisa dikatakan intim.

"Sa-sasuke, ce..cepat mandi. Sudah kusiapkan sarapan." Sakura masih tidak berhenti meronta minta dilepaskan.

"Hn... biarkan seperti ini dulu sebentar."

"Tapi..."

Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura. "Diam atau kucium?"

Warna merah pada wajah Sakura semakin menjadi, dan Sakura tak punya pilihan lain selain menurut. Sasuke tipikal orang yang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Meski ia tak memiliki perasaan apapun terhadap lelaki ini, tapi tetap saja tubuhnya tak bisa mengingkari pesona Sasuke di matanya. Menunduknya wajah Sakura membuat Sasuke menyeringai puas. Dalam hati ia merasa puas bisa menggoda istrinya ini. Anggaplah ini hukuman karena meninggalkannya tidur di saat malam pengantinnya.

"Jadi, kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Sakura sembari meletakkan lemon tea tanpa gula pesanan Sasuke di meja makan.

Setelah lebih dari setengah jam Sasuke baru mau melepaskan Sakura dari pelukannya dan beranjak ke kamar mandi. Membuat Sakura menggerutu kesal karena harus menghangatkan kembali masakannya.

Sasuke menggeleng. "Tidak. Lagipula kita baru saja menikah kan? Aku akan menemanimu ke rumah sakit."

Alis Sakura mengernyit. "Rumah sakit? Untuk apa? Aku tidak merasa sakit."

Sasuke memutar bola matanya. "Memangnya kalau ke rumah sakit sudah pasti sakit? Tidak kan? Memangnya kau tidak ingin tahu perkembangan janinmu?"

"...setelah ini kita pergi ke rumah sakit memeriksakan kandunganmu. Aku ingin tahu berapa usia pastinya dan juga ingin tahu keadaannya..."

Kata-kata Sasuke barusan membuat Sakura teringat akan kenangannya bersama Sai sebelum akhirnya ia harus mendengar berita menyakitkan tentang kematiannya. Sakura berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.

Melihat Sakura yang tak kunjung memberikan tanggapan membuat Sasuke bertanya sekali lagi, "kau tidak keberatan kan?"

Sakura menggeleng pelan. "Kurasa itu belum perlu, Sasuke. Aku sudah memeriksakannya bersama Sai belum lama ini. Dan lagipula vitamin dan obat dari dokter masih ada jadi-"

Sakura bisa melihat Sasuke langsung menghentikan acara makan sup tomatnya, dan beranjak dari duduknya. "Eh...kau mau kemana? Sup mu belum habis."

"Aku sudah kenyang. Kurasa ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan. Aku baru ingat." Ujar Sasuke dingin. Ia langsung pergi ke kamar meninggalkan Sakura yang menatapnya heran.

"Ada apa dengannya? Apa aku salah bicara?" gumam Sakura menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh.

.

.

.

.

- oOo -

Angin yang berhembus membuat rambut indigo-nya mengayun indah. Banyak pasang mata (terutama pria) yang menatapnya penuh damba di bandara itu. Meski sebagian wajahnya tertutupi oleh kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, tak mengurangi pesona kecantikannya. Tubuh tinggi semampai, kulit putih bersih, bentuk badan yang proporsional, cara berjalannya yang anggun, membuatnya pantas mendapat pandangan terpukau dari banyak orang.

Ia kembali.

Setelah sekian lama pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencapai impiannya menjadi seorang model international. Ia kembali bukan tanpa alasan. Di Konoha inilah ia dilahirkan, semua keluarga dan orang terdekatnya ada di sini. Juga sekaligus lelaki yang ia cintai – hingga saat ini. Ia ingin menemui mereka setelah sekian lama tak bertemu.

Tangan kanannya terulur, memanggil taksi. Supir taksi itu pun berhenti, keluar dari taksi untuk membantunya memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Supir taksi itu menoleh ke arah tempat duduk penumpang dan tersenyum padanya seraya bertanya, "Tujuan Nona kemana?"

Ia tersenyum lembut. "Kantor Uchiha Corp."

Sang supir mengangguk paham. "Baiklah nona..."

Seharusnya tempat pertama yang harus ia singgahi adalah kediaman keluarganya, tapi ia sudah berjanji pada pemilik Uchiha Corp. Itu, jika ia kembali maka pemilik Uchiha Corp. Itu adalah orang pertama yang akan ia temui.

Sepanjang perjalanan ia menikmati pemandangan kota Konoha ini. Hanya beberapa tempat yang berubah. Sebelum ke kantor Uchiha Corp. Ia sempat membeli sebuket bunga mawar putih di sebuah toko bunga.

Dan kini ia telah sampai di depan sebuah ruangan di lantai teratas gedung Uchiha Corp. Senyum diwajahnya terkembang, ia tak sabar melihat bagaimana ekspresi terkejut Sang pemilik perusahaan saat melihatnya. Ia sengaja tak memberikan kabar untuk memberikannya kejutan.

TOK! TOK!

"Ya, masuk."

KLEK!

"Hinata?!"

.

.

.

.

- oOo -

"Jadi, bagaimana awal kau bisa mengenal Uchiha Sasuke?"

Pertanyaan menyebalkan yang baru saja dilontarkan sahabat Sakura. Padahal ia baru saja duduk di cafe tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk mengobrol saat masih kuliah bersama dulu. Sakura hanya mendengus menanggapinya.

"Bisakah aku memesan minuman dulu?" tanya Sakura mengangkat buku menu. Ino terkikik mengangguk.

Ino memang tipikal orang yang tidak sabaran dan punya sifat ingin tahu tingkat akut. Apalagi ini soal kehidupan percintaan Sakura, sahabatnya. Ia harus tahu semuanya secara lengkap sebelum ia kembali lagi ke Hokkaido.

Sakura menyesap strawberry milkshake pesanannya yang baru saja di antarkan salah satu pelayan di cafe itu. Ia melempar pandangannya sesaat ke luar jendela sebelum kembali fokus menatap Ino di depannya. Sebelum menceritakan pertemuannya dengan Sasuke, Sakura mau tidak mau kembali mengingat pertemuannya dengan Sai. Ia harus memulainya dari itu.

"Ji..jidat? kenapa menangis? Hei..ada apa?" tanya Ino panik saat melihat cairan bening itu lolos dari emerald Sakura.

"Aku...a..ada hal ingin aku ceritakan sejak lama." Sakura berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak, menghapus air matanya. "Ini mengenai Sai."

Kedua netra biru Ino melebar. "Shimura Sai yang kau maksud?"

Sakura mengangguk. Dan Ino makin terlihat bingung. Yang ia tanyakan mengenai bagaimana Sakura bisa saling mengenal dengan Sasuke, lalu dimana letak hubungannya dengan pemuda bernama Sai itu? Ino lebih memilih diam dan menunggu penjelasan dari sahat tercintanya itu.

Sakura menceritakan semuanya berawal dari kedekatannya dengan Sai sejak pertemuannya di perpustakaan. Lalu kejadian setelah ulang tahun kampus, sampai akhirnya Sakura mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak Sai. Ino membekap mulutnya untuk mmenahan teriakan keterkejutannya. Ia tak menyangka bahwa Sakura sedang mengandung anak orang lain bukannya anak dari suaminya saat ini, Uchiha Sasuke.

Air mata yang sejak tadi ditahan Sakura akhirnya jatuh kembali, membuat Ino pindah posisi duduk di dekat Sakura dan mendekapnya dalam pelukan. Ino berusaha menenangkan sahabatnya itu. Sedikit banyak ia jadi merasa bersalah meninggalkan Sakura saat itu, tetapi Sakura mengatakan sekali lagi bahwa ia tidak ingin Ino merasa terbebani. Itu adalah keputusannya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Kau beruntung, kau tahu?" kata Ino menyunggingkan senyum tulus.

Alis Sakura mengerut. "beruntung?"

Ino mengangguk. "Ya. Uchiha Sasuke tulus mencintaimu."

Sakura menggeleng kuat. "Tidak Ino. Kau salah, dia hanya ingin –"

"Balas budi?" potong Ino cepat. Sakura mengangguk. "Dasar jidat bodoh! Mana ada hal yang seperti itu? bagaimana bisa kau tidak menyadarinya?"

Menyadari? Menyadari apa maksud Ino?

Ino tak bisa menahan senyumnya melihat ekspresi bingung Sakura. "Balas budi itu hanya alibi agar perasaannya padamu tidak terlihat."

Sakura membisu. Perasaannya kini tengah berkecamuk. Benarkah Sasuke menaruh hati padanya? Benarkah alasan balas budi itu hanya alibi?

"Aku rasa kau salah paham. Jika dia mencintaiku, dia tidak akan bersikap dingin padaku seperti tadi pagi." Ujar Sakura tertunduk lesu.

Ino bersidekap. "Oh ya? ceritakan padaku kenapa dia bersikap dingin padamu tadi pagi?"

"Dia berniat mengajakku ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku. Tapi aku menolaknya, karena belum lama ini aku sudah memeriksakannya dengan Sai."

"SAI?!" pekik Ino, Sakura mengangguk polos. "Kau menyebut nama lelaki itu di depan suamimu?"

Sakura mengangguk lagi. "Memangnya kenapa? Aku kan hanya berkata jujur." Sahut Sakura kesal.

Ino menepuk jidatnya. "Duh...jidat lebarmu itu hanya pajangan ternyata!" Sakura melotot tajam pada Ino, "pantas saja jika Sasuke bersikap begitu padamu! DIA CEMBURU, JIDAT ?!"

"Ce..cemburu?" suara Sakura tercekat. Rona merah tipis menghiasi pipinya.

Ino tertawa keras sesaat sebelum kembali berujar, "Aku tahu bukan hal yang mudah melupakan orang yang kau cintai. Tapi, setidaknya kau harus belajar untuk tidak membandingkan keduanya. Itu bisa membuat Sasuke terluka." Sakura menatap Ino serius, "Belajarlah menerima Sasuke diantara kau dan anakmu, bagaimana pun kelak ia yang akan bertanggung jawab pada hidup kalian berdua."

Sakura tercenung mendengar penjelasan Ino. Memang benar, inilah saatnya ia harus belajar menerima Sasuke dan melupakan Sai. Ia tahu itu tidak mudah tapi ia harus berusaha. Meski Sakura belum tahu pasti apa benar Sasuke menaruh hati padanya.

"Temui suamimu, minta maaf lah padanya."

Sakura menatap aquamarine Ino, lalu tersenyum mengangguk. "Baiklah, kurasa kau benar. Terima kasih Ino."

"Hei tunggu dulu!" cegah Ino.

Sakura menoleh menghentikan langkahnya. "ada apa lagi?"

"Bayar dulu tagihannya. Kau yang mengajakku bertemu kan? Jadi kau yang harus bayar." Kata Ino nyengir.

Sakura memutar bola matanya, lalu meletakkan sejumlah uang di meja. Meninggalkan Ino yang yang terkekeh.

.

.

.

.

- oOo -

"Selamat atas pernikahanmu! Maaf aku hanya membawa ini."

Gadis cantik bermata lavender itu meletakkan sebuket bunga mawar putih tepat di atas meja. Uchiha Sasuke hanya diam terus menatap gadis di depannya dengan pandangan sulit percaya.

"Hei...kenapa diam saja, Sasuke-kun?" tanyanya terkekeh pelan.

"Hi-Hinata? Ini...benar kau?" tanya Sasuke ragu.

Hinata mengangguk. "Hm, tentu saja. Apa karena lama tidak bertemu kau melupakanku?"

Sasuke berjalan cepat mendekat pada Hinata dan memeluknya erat.

"Sasuke-kun?" cicitnya. "Ja-jangan begini. Nanti pegawaimu bisa salah paham."

Sasuke tertawa pelan seraya melepas pelukannya. "Ternyata benar ini kau, adik si pengidap sister complex."

Hinata hanya mendengus kesal ketika Sasuke kembali menyebutnya begitu. Hinata dan Sasuke adalah sahabat sejak kecil. Kakak Sasuke dan kakak Hinata juga bersahabat baik. Bagi Sasuke, Hinata itu gadis yang menyenangkan. Ia berbeda dengan kebanyakan gadis yang memujanya, yang sering kali membuatnya terganggu. Hinata itu pemalu tapi ia pendengar yang baik bagi Sasuke. Nasehat darinya selalu bisa membuat Sasuke tenang. Orang tua Sasuke bahkan sempat mengira jika keduanya tengah menjalin hubungan, tetapi Sasuke membantahnya dengan mengatakan kalau Hinata hanya sahabat. Jujur saja, saat Hinata memutuskan untuk pergi ke Paris 7 tahun yang lalu, Sasuke merasa kehilangan sebagian jiwanya.

"Maaf ya Sasuke-kun, aku baru bisa datang sekarang. Aku tidak menyangka kau sudah menikah." Katanya terkekeh, "jadi gadis mana yang tidak beruntung itu?" tanya Hinata dengan nada bercanda.

Keduanya kini duduk bersebelahan di sofa yang berada di sudut ruang kerja Sasuke.

Senyum di wajah Sasuke mendadak luntur mendengar Hinata menanyakan perihal istrinya. "Hn, dia teman kuliahku."

Sebelah alis Hinata terangkat. "hanya itu?"

"Apanya?"

Hinata mendecak. "Kau seperti tidak sedang membicarakan istrimu, Sasuke-kun. Kalian ini pengantin baru kan? Apa...kau ada masalah?"

Sasuke tak menyahut, malah kembali menekuri dokumennya.

"Hei, kau bisa menceritakannya padaku. Aku masih sahabatmu kan?" kata Hinata tersenyum lembut seraya menahan tangan Sasuke yang sedari tadi sibuk dengan dokumennya.

Sasuke mendesah. "Pernikahanku terjadi bukan karena kami saling mencintai." Manik lavender Hinata melebar, "tapi karena janin yang dikandungnya."

Sebaris kalimat itu cukup membuat Hinata terkejut sekaligus memahami permasalahan Sasuke. Married by accident. Hinata yakin Sasuke mengalami masa yang sulit nantinya. Ia masih diam menunggu Sasuke melanjutkan ceritanya.

"Hinata, maukah kau berjanji padaku? Jangan ceritakan hal yang akan kukatakan ini pada siapapun." Sasuke menatap serius Hinata sambil menggenggam erat jemarinya. Hinata menelan ludah sebelum akhirnya mengangguk yakin. "Bayi yang dikandungnya bukan darah dagingku, tapi anak dari mantan kekasihnya."

"APA?" Hinata melepaskan genggaman tangan Sasuke.

Sasuke mengangguk, memasang senyum pahit di wajahnya. "Kekasihnya meninggal dunia sebelum sempat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan aku..." Sasuke merasa seperti ada duri di tenggorokannya, "Aku yang menawarkan diri untuk menjadi ayah penggantinya."

Hinata tersenyum lembut. "Kau sangat mencintai istrimu kan? Itu alasan kau menikahinya."

Onyx Sasuke membulat. "Entahlah...rasanya tidak akan mudah menjalani semua ini."

"Sasuke-kun, saat seorang gadis jatuh cinta pada laki-laki, ia tidak kan dengan mudah menghilangkan perasaan itu. Istrimu butuh waktu untuk melupakan mantan kekasihnya." Hinata menepuk pelan pundak Sasuke, "yang perlu kau lakukan adalah tetap berada disisinya. Buktikan dengan kesungguhanmu hingga akhirnya perasaannya bisa beralih padamu secara perlahan."

Sasuke menorehkan senyum lega, ia merengkuh Hinata seraya mengucapkan terima kasih. Sasuke bersyukur Hinata datang kembali di saat ia benar-benar butuh teman berbagi perasaannya.

"Aku akan mentraktirmu anmitsu sebagai rasa terima kasih. Kau kangen masakah jepang kan?"

Hinata tertawa. "Hm, sangat kangen."

.

.

.

.

- oOo -

Sasuke berjengit saat menatap jam digital yang ada di meja kerja. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia segera membereskan dokumen yang ada di mejanya dan bersiap pulang. Harusnya hari ini ia masih menikmati masa 'bulan madu'-nya, tapi karena kesal ia melampiaskannya dengan meninggalkan Sakura begitu saja. Ia menyesal bersikap seperti tadi pagi. Setelah mendengar nasehat dari Hinata, ia berjanji akan menjadi seseorang yang bisa diandalkan istrinya. Sasuke tak peduli meski sulit mendapatkan hati istrinya, ia tak akan pernah meninggalkannya. Tidak akan.

"Ah...maaf Tuan Sasuke" Sasuke menoleh ke arah tempat resepsionis.

"Ada apa?" tanya Sasuke datar.

"Ini bento yang tadi siang dikirimkan istri Anda."

Bento? Istriku? Sakura tadi kemari?

"Istriku kemari?! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Dan kenapa ia tidak langsung mengantarnya ke ruanganku?" cerca Sasuke dengan nada marah.

"Ta..tadi nyonya su..sudah ke ruangan Anda, Tuan. Tapi nyonya bilang Anda sedang ada tamu, jadi tidak ingin mengganggu. Lalu Nyonya menitipkan bento ini pada saya, Tuan." Jelas gadis berambut cokalt itu dengan wajah tertunduk serta suara gemetar ketakutan.

"Lalu kenapa tidak kau berikan padaku? Kenapa baru sekarang?!" tanya Sasuke lagi. Suaranya makin meninggi.

"Tadi saya sudah mengatakan pada Tuan jika ada titipan untuk Anda. Tapi Tuan bilang nanti saja, karena Anda sedang ada urusan keluar." Jawabnya masih dengan wajah tertunduk.

Sial! Jangan-jangan Sakura datang saat Hinata ada di dalam

Sasuke langsung merebut bento yang ada pada pegawainya itu. Tanpa berkata apapun, Sasuke meninggalkan pegawainya yang masih terlihat takut.

Sasuke tak peduli lagi meski harus tertangkap polisi karena melanggar lampu merah. Yang ada di pikirannya saat ini hanya secepatnya bertemu istrinya dan menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin Sakura salah paham terhadap Hinata.

KLEK!

"Tadaima"

Tak ada sahutan dari dalam rumah membuat Sasuke panik luar biasa. Ruang tamunya gelap gulita. Ia takut jika Sakura marah dan meninggalkannya. Tidak. Sasuke bisa gila jika hal itu sampai terjadi. Saat Sasuke menyalakan lampu ruang tamu, ia menghembuskan napas lega. Istrinya tertidur di sofa. Mungkin ia sengaja menunggu Sasuke pulang.

Sasuke mendudukkan diri disamping istrinya, memandangi wajah cantik Sakura. Mengusap lembut pipinya. Benar kata Hinata, ia mencintai wanita ini. Tak peduli meski bayi yang dikandungnya bukanlah dari dagingnya, ia menerimanya. Menerima dengan semua masa lalunya. Ia lebih memilih hidup bersama Sakura meski terasa sakit daripada harus melihat wanita itu pergi dari sisinya.

"Ngh...Sasuke?" Sakura mengerjapkan matanya, "Kau sudah pulang?"

Sentuhan lembutnya tanpa sengaja membuat Sakura terbangun dari tidur nyenyaknya. Sasuke mengangguk memberikan jawaban. "Maaf mengganggu tidurmu. Apa tadi siang kau ke kantor?"

Sakura mengucek matanya mengurangi kantuk yang masih melandanya, "Ya, tapi kau sedang ada tamu. Jadi –"

"Hinata. Hyuuga Hinata. Dia sahabatku dari kecil yang baru datang dari Paris." Potong Sasuke cepat.

"O-oh...begitu..." Sakura merasa Sasuke seperti menyadari kesalahpahamannya. Meski sejujurnya Sakura tidak merasa cemburu.

"Kenapa kau tidak mengantarnya langsung ke ruanganku?" tanya Sasuke menunjuk bento yang ia letakkan di meja ruang tamu.

"Itu...aku takut mengganggumu."

Sasuke tersenyum lembut, mengacak rambut Sakura, "kau tidak pernah menggangguku, Sakura. Dan aku harap kau tidak salah paham dengan apapun yang kau lihat di sana. Hinata hanya sahabat, tidak lebih."

Pipi Sakura merona mendapat perlakuan seperti ini dari Sasuke, memalingkan wajahnya seraya berkata, "Aku tidak salah paham. Hanya terkejut saja." kilahnya.

Sasuke tertawa pelan. "Ya, baiklah..."

Sasuke membuka serbet linen yang membungkus kotak bento. Lalu membuka kotak bento itu, lalu mengambil sumpit.

"Apa yang kau lakukan?" cegah Sakura saat melihat Sasuke menyuapkan rolade ke dalam mulutnya.

"Apa lagi? Memakannya tentu saja." jawab Sasuke sekenanya.

Sakura menggeleng. "Jangan! Itu sudah dingin, Sasuke. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Sakura beranjak dari duduknya tapi Sasuke mencegahnya.

"Tidak usah. Bantu aku menghabiskan ini. Lagipula ini masih enak kok, sayang kalau dibuang."

"Sasuke..." Sakura menatap haru suaminya.

Sasuke tersenyum seraya menyuapkan rolade ke dalam mulutnya. Ia menikmati tiap suapan dari bento yang dibuat Sakura. Sesekali Sasuke menyuapkannya pada istrinya. Hingga akhrinya bento yang Sakura buat bersih tak tersisa.

"Sakura" panggil Sasuke saat Sakura berjalan meninggalkannya menyiapkan air hangat untuk mandi.

"Ya?" Sakura menoleh ke arah Sasuke.

"Besok buatkan bento yang enak seperti ini lagi ya?" pinta Sasuke.

Sakura mengedipkan matanya lucu mendengar permintaan suaminya, lalu mengangguk. Ia tersenyum tersipu malu. Sasuke berharap hubungannya dengan Sakura setelah ini bisa semakin membaik.

Semoga...

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued


Author Note's:

Embun adja1: Saya usahakan happy ending. Semoga ya :D

Willielillydoo: lama-lama saya yakin saku terpesona kok *ngedipin Sakura

Hanazono yuri: udah Up

Jamurlumutan462: udah Up

Bang kise ganteng: saya ngga ahli dalam pendalaman karakter :D hehehe makanya di warning pasti saya tulis OOC. Alasan Sasuke terjawab di chap ini.

Febri: muncul ngga ya? :D hahaha...

Daun momoji: Kalau saya jadi Sasori pasti udah kujewer tuh si Sakura *Ups

SasuSakuBro: gitu ya? apa bagian yang ini terlalu dipaksakan juga. pendapatnya bisa disampein lewat riview lagi ya *kedipin reader

Desypramitha26: sudah Up makasih loh udah bilang fic Abal ini keren hehehe...

Kucing genduttidur: Ini udah lanjut :D

Makasih atas review, fav, follow dan reader yang udah nyempetin baca Fic Abal ini :D thank u so much