Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 7 – Terungkap

Cahaya lampu menyilaukan memenuhi ruangan itu. Suara jepretan kamera beradu dengan suara arahan fotografer professional pada model wanita bersurai indigo yang kini tengah berpose dengan berbagai gaya sejak 20 menit yang lalu.

"Ya bagus! Pertahankan posisi tanganmu dipinggang Hinata-san dan angkat sedikit dagumu."

Ckrek Ckrek

"Yap sudah cukup." Sang fotografer mengacungkan jempolnya pertanda pemotretan telah selesai.

"Wah….hasilnya luar biasa. Jadi memang benar jika Anda dijuluki 'eagle eye', Mitsuki-san." Puji Hinata takjub. Eagle eye istilah popular yang baru-baru ini muncul dikalangan fotografer dengan ketelitian tingkat tinggi menyeimbangkan porsi dalam pengambilan gambar.

"Anda terlalu berlebihan Hinata-san." Mitsuki tersenyum tipis, "terima kasih atas waktumu bekerja sama dengan manajemen kami ya? Setelah melalui proses editing, kami akan mengirimkan hasilnya ke email Anda sebelum majalah ini diterbitkan."

Hinata mengangguk. "Hai', senang bekerja sama dengan Anda juga Mitsuki-san."

Setelah berpamitan pada kru yang bertugas Hinata segera menyambar tas-nya dan berjalan menuju lift. Ia bisa bernapas lega, ini pekerjaannya yang terakhir selama dua bulan di sini. Hinata tak menyangka berita kedatangannya di Konoha begitu cepat tercium media. Niat awal dia datang kemari memang hanya ingin bertemu dengan keluarga sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahan sahabatnya – Sasuke, tapi ia merasa sangat sulit menolak tawaran bertubi yang datang dari beberapa majalah dan produk kecantikan.

Tubuhnya benar-benar lelah, tapi ia tak pernah membenci pekerjaannya. Menjadi seorang model memang impiannya sejak lama, tapi ia tak menyangka akan sanggup meninggalkan Konoha, tanah kelahirannya. Titik awal karirnya sebagai model.

Gadis beriris lavender ini tidak membenci tanah kelahirannya dan lebih memilih berkarir di luar negeri, tapi ada alasan kuat kenapa ia memilih pergi. Ya, alasannya karena pria itu. Cinta pertama dan mungkin yang terakhir. Hinata selalu berharap dengan kepergiannya ke luar negeri, ia akan dapat menata ulang hatinya. Membersihkan hatinya dari nama orang itu. Tapi nyatanya semua usahanya gagal. Terlebih saat ini dia berada di Negara yang sama dengannya.

Saat Hinata menghela napas dalam, tiba-tiba ponselnya berdering.

"Eh? Mikoto-basan…"

.

.

.

.

- oOo -

Ketika Sasuke membuka kedua netra hitamnya, senyum tipis terkembang begitu saja di bibirnya mengingat semua yang terjadi akhir-akhir ini seperti mimpi tapi ini nyata. Hubungannya dengan Sakura – istrinya – semakin membaik. Meski Sasuke tahu jika di dalam hati istrinya masih ada pria lain, tapi ia tak akan menyerah. Seperti kata Hinata, dirinya harus tetap berada disamping Sakura sampai akhirnya bisa menempati posisi satu-satunya dihati istrinya itu.

Semalam Sasuke memberanikan diri saat tidur memeluk Sakura dari belakang. Awalnya ia merasakan jika Sakura berjengit, tapi untungnya Sakura sama sekali tak menolak sentuhannya meski Sasuke merasakan bahu Sakura sedikit menegang. Dan semalaman bungsu Uchiha itu tak dapat menahan senyumnya. Senyum bahagia.

"Sakura…" Sakura berjengit mendengar panggilan Sasuke, cepat-cepat meletakkan sebuah bingkai foto yang sempat ia lihat di ruang keluarga.

"Ya, Sasuke-kun? Ah…maaf aku hanya – "

Sasuke menggeleng. "Tidak apa-apa. Itu foto keluarga kami." Sasuke tahu dari raut wajah istrinya sedikit merasa bersalah.

"Ano…boleh aku tanya sesuatu?" Sasuke mengangguk. "Ehm…anak lelaki yang disampingmu ini saudaramu?" Sakura menunjuk anak kecil berambut hitam lurus yang lebih tinggi dari Sasuke.

Sasuke terdiam cukup lama menatap sosok itu. Ia menghela napas dalam sebelum akhirnya berujar, "Iya, kau benar. Dia kakakku Sakura."

"Ta..tapi aku tak pernah melihatnya. Dia tidak tinggal di sini?" tanya Sakura takut-takut.

"Hn, dia tidak tinggal di Konoha karena menjalani terapi. Dia sedang berada di Los Angeles." Sasuke mengusap wajahnya lelah.

"Sa..Sasuke-kun, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu. Aku terlalu mencampuri urusan keluargamu." Sakura berkali-kali menundukkan kepalanya seraya mengatupkan kedua tangannya.

"Hei…kenapa kau minta maaf?" Sasuke menangkup wajah Sakura, mengusap wajahnya lembut. "Tak masalah jika kau bertanya, sekarang kau adalah anggota keluarga kami juga."

Mereka saling berpandangan cukup lama sampai tanpa Sakura sadari, Sasuke sudah semakin mendekatkan wajahnya. Sakura yang gugup hanya mampu menutup mata perlahan menanti yang terjadi selanjutnya. Kali ini ia tidak akan menolak apapun perlakuan Sasuke padanya karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mulai menerima keberadaan Sasuke dalam hidupnya.

"Ehem!"

Suara deheman itu sontak membuat Sasuke dan Sakura saling menjauhkan diri. Sakura sendiri hanya bisa menunduk salah tingkah dengan wajah memerah. Lain hal nya dengan Sasuke yang cepat menguasai situasi dengan kembali memasang wajah cool ala Uchiha.

"Anata, kita jadi mengganggu mereka berdua kan?" protes Mikoto menyikut pelan perut suaminya.

"Harusnya mereka lakukan itu di kamar." Balas Fugaku setengah berbisik. Wajahnya sedikit memerah melihat adegan 'nyaris' ciuman antara putra dan menantunya.

Meski setengah berbisik Sasuke masih dapat mendengar ucapan Ayahnya, hanya memutar bola matanya. Padahal Sasuke sendiri sering kali tanpa sengaja melihat Ayah dan Ibunya bermesraan. Ayahnya datang di saat yang tidak tepat. Secepat kilat Sasuke menggandeng tangan Sakura dan mengajaknya ke ruang makan untuk menghindari kecanggungan diantara mereka.

"Sasuke, apa kau yakin akan pindah dari sini?" tanya Mikoto setelah menyesap ocha-nya.

Empat orang anggota keluarga Uchiha itu baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Rutinitas wajib yang dilakukan oleh keluarga Uchiha. Setidaknya dalam satu hari disempatkan makan bersama di saat sarapan atau makan malam.

Sakura tersedak jus stoberinya ketika mendengar kata 'pindah' dari Sang mertua. Dengan sigap Sasuke memijat pelan tengkuk istrinya.

"Sudah lebih baik?" Sasuke masih belum menghentikan pijatannya.

"Maafkan ibu membuatmu kaget Sakura." Ucap Mikoto dengan raut wajah bersalah.

Sakura tersenyum menggeleng. "Aku…tidak apa-apa, Ibu." Sakura menahan pergerakan tangan Sasuke. "Terima kasih, aku sudah baik-baik saja Sasuke-kun."

Sasuke mengangguk dan kembali duduk di samping Sakura.

"Maaf, aku belum membicarakan hal ini denganmu. Maksudku soal kepindahan kita." Jelas Sasuke sedikit merasa bersalah.

"Pantas saja Sakura begitu terkejut saat ibu bicara soal kepindahan tadi." Timpal Mikoto. "Kenapa kau belum mengatakannya?"

Sasuke mendesah, lalu tersenyum penuh arti pada Sakura. "Aku memang berencana untuk memberinya kejutan."

"Ta..tapi kenapa harus pindah?" tanya Sakura.

"Oh…ya aku belum memberitahumu Sakura." Timpal Fugaku, membuat atensi seluruhnya berpindah padanya. "Tradisi di keluarga Uchiha, jika laki-laki dari klan Uchiha menikah, dia tidak boleh lagi tinggal dengan orang tua mereka. Seperti yang ku lakukan ketika aku menikahi ibunya Sasuke, aku sudah harus keluar dari rumah orang tuaku. Ini sebagai pembuktian bahwa laki-laki yang sudah menikah harus bisa mandiri."

Sakura mengangguk paham. Ia baru tahu jika dalam keluarga Uchiha banyak sekali tradisi yang dilakukan. Menjadi bagian keluarga ini membuat Sakura mau tidak mau menurut saja, selama yang dilakukan bukanlah hal yang salah.

Sasuke membuka tablet-nya dan menunjukkan pada Sakura rumah dengan desain kontemporer yang akan mereka tempati. Rumah mereka tidak jauh dari distrik Uchiha yang ditinggali oleh kedua orang tua Sasuke. Sakura memandang takjub beberapa gambar yang menunjukkan berberapa ruangan di rumah itu.

"Setelah ini aku akan mengajakmu ke sana untuk melihatnya secara langsung." Ucap Sasuke mengusap pelan punggung tangan Sakura.

Sakura hanya mengulum senyum tipis, tetapi dalam hatinya ia benar-benar merasa bersyukur dipertemukan dengan lelaki sebaik Sasuke.

.

.

.

.

- oOo -

Wanita bersurai merah jambu itu mengernyit ketika Sasuke malah merubah jalur tujuannya menjadi ke sebuah Rumah Sakit Bersalin besar di pusat Kota Konoha. Padahal sebelumnya dia mengatakan jika akan menunjukkan bakal rumah baru mereka yang sudah selesai didekorasi perabotannya.

"Kenapa malah melamun?" Sasuke melepas seat belt-nya, terhenti ketika melihat istrinya malah melamun.

"Harusnya aku yang tanya kan?"

Sasuke menghela napas. Ia mendekatkan diri pada Sakura untuk melepas seat belt-nya yang masih terpasang. "Hn, setelah kita memeriksakan kandunganmu baru kita pergi melihat rumah baru kita."

Melihat Sakura yang merengut malah membuat Sasuke terkekeh geli. Ia tahu istrinya itu merasa sebal karena ia memang suka sekali memberi kejutan. Sasuke keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Sakura. Setelah keluar Sasuke meminta istrinya itu mengamit lengannya. Awalnya Sakura terdiam mengerjapkan matanya lucu tapi sedetik kemudian ia mengamit lengan Sasuke malu-malu.

Sebelumnya Sasuke memang sengaja membuat janji dengan salah satu dokter kandungan yang ada di sini, yang memang kebetulan adalah teman kuliah kakaknya dulu. Saat tinggal beberapa langkah lagi memasuki ruang periksa, tiba-tiba Sakura menghentikan langkahnya dan mencengkram erat lengan Sasuke.

"Ada apa Sakura? Apa kau merasa sakit?" Sasuke cemas melihat wajah Sakura yang tiba-tiba terlihat pucat dan ketakutan.

"A..apa melahirkan sesakit itu ya?" Sakura begidik ngeri ketika mendengar teriakan dari salah ruang bersalin di sana.

"Sudahlah… jangan berpikir sejauh itu dulu. Kalau kau terlalu stress akan berpengaruh buruk pada janinmu nanti." Sasuke menenangkan Sakura dengan memeluk bahunya. "Sekarang kita temui dokter ya?" Sakura mengangguk pelan. Sasuke masih bisa merasakan tubuh Sakura sedikit bergetar.

TOK TOK

"Ya, silahkan masuk!" sahut seseorang dari dalam ruangan.

Saat Sasuke membuka pintu itu sudah disambut dengan senyuman ramah seorang wanita cantik berambut biru mengenakan jas dokternya. Uzumaki Konan – istri dari sahabat kakaknya Uzumaki Nagato.

"Perkenalkan aku dr. Konan." Wanita cantik itu mengulurkan tangannya pada Sakura. "Aku istri dari teman kakak Sasuke."

"Aku Har..eh…maksudku Uchiha Sakura." Sakura menyambut jabatan tangan Konan sambil tersenyum ramah.

"Menikah mudah eh Sasuke?" Konan mengerling pada Sasuke dan hanya dibalas dengan dengusan malas olehnya. Konan terkekeh kecil. Padahal kakaknya – Itachi – masih belum menikah sampai sekarang.

Konan mempersilahkan pasangan Uchiha itu untuk duduk. Lalu Konan mulai bertanya seputar kehamilan Sakura, seperti kondisi tubuh dan asupan nutrisi apa saja yang dikonsumsinya selama ini. Setelah dirasa cukup sesi konsultasinya, Konan membimbing Sakura untuk berpindah ke sisi ruang yang ditutup tirai berwarna putih yang dipenuhi peralatan medis.

Konan tersenyum kecil ketika merasakan jika Sakura gugup saat Konan membuka bajunya untuk mengoleskan krim dingin di perutnya yang sedikit menonjol. Lalu mulai mengarahkan transduser.

"Nah, di usia dua belas minggu tubuh janin mulai sudah terbentuk sempurna. Organ-organ tubuhnya juga sudah lengkap. Kau bisa melihat ini adalah kaki dan tangannya." Konan menunjuk gambar hitam putih membentuk seorang bayi yang sempurna.

Sakura menatap takjub sekaligus haru, melihat langsung janinnya yang sudah terbentuk sempurna. Begitu pula dengan Sasuke yang terpana, karena ini pertama kalinya ia melihat langsung janin yang sedang tumbuh.

"Dia menghisap jempolnya!" seru Sasuke tanpa sadar membuat Sakura dan Konan tersenyum.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun Sakura. Kondisi bayimu sehat dan petumbuhannya pun normal." Konan membaca sekali lagi hasil pemeriksaan Sakura sebelumnya. "Mungkin juga karena kau meminum teratur vitamin yang diberikan dokter sebelumnya."

"Jenis kelaminnya bagaimana Konan-nee?" Sasuke masih terus menatap hasil USG istrinya.

Konan tertawa kecil sebelum menjawab, "Jenis kelaminnya baru bisa dilihat saat usianya mencapai 5 bulan. Kau benar-benar antusias menyambut buah hatimu eh Sasuke?"

"Hn" jawab Sasuke cuek.

.

.

.

.

- oOo -

Sepulang dari rumah sakit, pasangan Uchiha itu langsung melesat menuju calon rumah yang akan mereka tempati. Sesuai janji Sasuke yang akan menunjukkan desain rumah mereka pada Sakura.

Saat memasuki rumah itu wanita bersurai merah jambu itu tak dapat menahan ketakjupannya melihat desain rumah yang luar biasa. Meski desain eksterior-nya terlihat modern tetapi sentuhan tradisional khas Jepang masih kental di dalamnya. Seperti misal genkan, shoji, kolam ikan yang ada pancuran dari bambu, di pinggir rumah juga terdapat roka. Perpaduan sempurna desain modern dan tradisional.

Belum puas melihat-lihat keadaan rumah, Sakura mendesah kecewa mendengar penuturan suaminya jika Sang ibu mertua memintanya segera kembali untuk makan malam di rumah. Padahal Sasuke sendiri sudah bilang jika akan makan berdua di luar saja dengan Sakura, tapi dasarnya Mikoto keras kepala seperti putra bungsunya, ia tetap ngotot agar Sasuke dan Sakura makan malam di rumah. Istri Uchiha Fugaku itu mengatakan akan ada tamu spesial yang di undangnya, karena itu Sasuke dan Sakura harus hadir.

"Tadaima"

Sasuke dan Sakura baru saja tiba di kediaman Uchiha. Tak lama kemudian mereka mendengar sahutan dari suara khas ibu Sasuke.

"Okaeri" Mikoto langsung memeluk Sakura erat.

"Jangan memeluknya terlalu erat, Bu. Anakku tidak bisa bernapas." Sakura terkekeh ketika melihat Mikoto menghadiahi Sasuke deathglare.

Sasuke yang dasarnya dingin seperti Sang ayah, melengos masuk ke dalam lebih dulu. Sedangkan Mikoto mencerca Sakura dengan berbagai pertanyaan seputar rumah baru mereka sambil berjalan beriringan menuju ruang makan.

Bungsu Uchiha itu terperanjat ketika mendapati gadis bersurai indigo sedang bersenda gurau dengan ayahnya di meja makan. Ya, Sasuke tahu jika gadis itu adalah sahabatnya yang baru saja pulang dari Paris, hanya saja ia tak menyangka jika tamu istimewa yang dimaksud ibunya bukanlah rekan kerja ayahnya melainkan sahabat kecilnya sendiri.

"Hinata?" Sasuke mulai berjalan mendekat. "Kenapa kau di sini?"

Hinata merengut, menatap Fugaku melas. "Lihat Paman… Apa itu yang seharusnya diucapkan jika bertemu teman lama? Dia seperti ingin mengusirku dari sini."

Fugaku terkekeh mendengar protes lembut Hinata. Mengelus pelan mahkota ungunya. Ia sudah menganggap Hinata seperti putrinya sendiri.

"Kalau dia mengusirmu. Aku akan menendang pantatnya keluar dari rumah ini." Ucap Fugaku sekenanya.

Sasuke mendelik. "Ayah!"

"Benar ya Paman?" Hinata tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Sasuke.

Sasuke mendengus. "Dasar kekanakan!"

Fugaku mengalihkan pandangannya pada istri dan menantunya yang berjalan mendekat lalu berkata, "Hinata, perkenalkan dia Sakura. Istri Sasuke."

Hinata bangkit dari duduknya menatap Sakura lekat. Ia tersenyum lebar lalu mengulurkan tangannya menyapa Sakura. Dan Sakura menyambutnya dengan juga balas tersenyum.

"Kau lebih cantik dari yang kukira. Pantas saja Sasuke terpesona ya?" semua yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Sakura yang menunduk malu dan tentu saja Sasuke membuang muka sambil mendengus.

"Kau terlalu berlebihan uh…nona…"

"Ah ya… Aku Hinata. Hyuuga Hinata. Sahabat Sasuke sejak kecil." Hinata mendekatkan wajahnya ketelinga Sakura. "Kuharap kau tidak salah sangka dengan hubungan kami ya?"

Sakura menggeleng cepat. "Ti-tidak kok. Sasuke-kun sudah menjelaskannya padaku."

Hinata menatap takjub pada perut Sakura yang sedikit membuncit. "Kami-sama, aku baru sadar ada calon Uchiha kecil di sini. Berapa bulan usianya Sakura-san?"

"Uhm…4 bulan jalan, Hinata-san." Jawab Sakura tersipu malu.

"Semoga dia tidak menyebalkan seperti ayahnya ya?" Hinata melirik jahil Sasuke.

Sasuke menatap datar Hinata, ia sempat melirik Sakura sesaat sebelum kembali menatap Hinata.

"Jangan bicara sembarangan padanya, Hinata!" Sasuke berusaha memperingati. "Atau…"

"Atau apa?!"

Seluruh atensi beralih pada seseorang yang baru saja muncul dari arah dapur. Sasuke mendengus melihat sosok yang sudah tak asing lagi baginya berjalan ke arahnya. Dimana ada Hinata, sudah pasti ada kakak over protektifnya – Hyuuga Neji.

Sasuke mendecak, lalu menoleh ke arah Sang ibu."Kenapa ibu mengundangnya juga?"

Mikoto balas mendelik. "Memangnya kenapa? Neji kakak Hinata kan? Sudah tidak ada protes lagi!"

"Sakura, kenalkan ini kakakku Hyuuga Neji." Hinata memperkenalkan Sakura pada kakaknya.

Sakura memberi respon yang sama saat ia berkenalan dengan Hinata. Senyum seramah mungkin dan mengulurkan tangannya. Dan Neji segera menyambut hangat uluran tangannya.

"Uchiha Sakura. Yoroshiku."

"Hyuuga Neji. Kakak Hinata. Yoroshiku."

PLAK!

Sasuke menepis kasar tangan Neji yang tidak juga melepaskan tangan istrinya hingga membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut. Sasuke memberikan deathglare andalannya, dan Neji balas menatapnya tak kalah tajam.

"Jangan menyentuh istriku terlalu lama!" Sasuke menekankan pada kata 'istriku'.

"Aku hanya berkenalan, Sas-uke! Lagipula istrimu tidak keberatan kan?" Neji mengedikkan bahu ke arah Sakura.

Sasuke menggeretakkan giginya menahan marah mendengar panggilan yang paling dibencinya dari dulu. Neji selalu mengejeknya begitu bahkan sampai sekarang. Jika sudah begini hanya perkataan Mikoto yang bisa menghentikan pertikaian mereka berdua.

"Sasuke…Neji…." Mikoto menepuk bahu keduanya seraya tersenyum lebar. Bukan senyuman lembut seorang ibu tapi senyuman mematikan yang biasa ia tampilkan jika Sasuke dan Neji mulai bertengkar. "Masih ingin meneruskan pertengkaran konyol ini?" Mikoto meremas kuat bahu keduanya hingga meringis.

"I..Ibu ini sak..sakit."

"Apa? Ibu tidak dengar Sasuke?" Mikoto masih mempertahankan senyum sadisnya.

Neji menghela napas meski masih meringis. "Bibi, kami akan hentikan ini. Kumohon lepaskan bibi. Ini sakit sekali."

Mikoto melepasnya dengan sedikit mendorong bahu keduanya. Neji masih meringis memegangi bahunya yang terasa ngilu. "Bagus! Sekarang kita lanjutkan makan malam."

Hinata terkikik melihat kakaknya yang duduk disampingnya masih menatap tajam Sasuke yang mengambil posisi duduk di sebelah Sakura.

"Kenapa malah tertawa, imouto?" tanya Neji sinis.

Hinata menggeleng masih berusaha menghilangkan tawanya. "Ubahlah sikap kalian berdua yang masih kekanakan itu."

Neji mendengus, lalu membuang muka. Tanpa sengaja kembali menatap Sakura yang masih terlihat khawatir pada Sasuke. Selama makan malam itu Neji terkadang menatap Sakura tanpa sepengatahuan yang lain.

.

.

.

.

- oOo -

"Aduh, Sasuke-kun. Itu lukisannya masih miring."

Sasuke menghela napas kasar mendengar keluhan istrinya sudah sejak sejam yang lalu. Ya, mulai hari ini kedua pasangan Uchiha itu memutuskan untuk tinggal di rumah baru mereka. Sedari pagi Sasuke sibuk mengawasi para pesuruhnya untuk menata perabotan rumah baru mereka. Tinggal satu ruangan yang belum selesai sejak satu jam yang lalu, yaitu kamar untuk calon buah hati mereka. Khusus kamar itu istrinya sendiri meminta secara khusus agar Sasuke sendiri yang mendekorasinya. Sakura terus mengeluh jika ruangan itu masih terlalu polos. Padahal menurut Sasuke dinding ruangan itu sudah cukup banyak hiasan dinding, tapi Sakura masih saja merasa kurang.

"Begini sudah belum?" tanya Sasuke menoleh kebelakang.

Sakura tersenyum puas, lalu mengangguk. "Ya. Itu sudah bagus."

Sasuke turun dari kursi yang menjadi pijakannya berdiri. Menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena sedikit debu. Lalu berjalan mendekat ke arah Sakura dan berdiri di sampingnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

"Aku baru tahu kalau kau menyukai seni." Celetuk Sasuke yang heran dengan kebiasaan baru Sakura ini. Sakura menoleh, menatap suaminya yang tak memandangnya. "Lukisan pohon Sakura itu bagus menurutku. Meski aku tak begitu mengerti tentang seni."

Sakura hanya diam menanggapi perkataan suaminya. Ia sendiri tak memahami seni, ia mengenal seni dari seseorang yang berasal dari masa lalunya – Shimura Sai. Ayah dari bayi yang dikandungnya. Sungguh, ia tak bermaksud menyakiti Sasuke dengan tetap membawa sesuatu yang berkaitan dengan Sai pada kehidupan baru mereka. Tapi tidak tahu mengapa ia sendiri tak bisa mengendalikan keinginannya untuk menghiasi kamar itu dengan berbagai lukisan. Mungkinkah ini kemauan bayinya?

"Sakura?"

Sakura tersentak. "Ah…ya Sasuke-kun?"

"Kau baik-baik saja?" Sasuke terlihat cemas.

Sakura menggeleng cepat. "Ya. Aku baik-baik saja. Oh ya, apa kau lapar? Aku akan masak sesuatu jika iya."

Sasuke mengangguk. "Hn"

"Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu untuk kita makan siang." Kata Sakura sembari berjalan keluar kamar.

Sasuke tak menanggapi. Ia terus menatap punggung Sakura yang perlahan menjauh. Lalu menggulirkan pandangannya pada lukisan-lukisan yang tertempel di dinding kamar calon anaknya.

"Apa kau sengaja menaruh lukisan-lukisan ini untuk mengingat Sai, Sakura?" Sasuke tahu jika mantan kekasih istrinya adalah lelaki penyuka seni lukis. Ia pernah melihat Sai tergabung dalam klub melukis di kampus.

Sambil menunggu Sakura yang tengah memasak. Sasuke memutuskan untuk berbaring sejenak di kamar yang akan mereka tempati berdua. Baru kali ini punggungnya terasa sekaku ini. Mungkin karena sebelumnya ia hanya bekerja di balik meja dan belum pernah melakukan pekerjaan yang menguras tenaga seperti mendekorasi kamar.

Belum ada 20 menit Sasuke terlelap dalam tidurnya, ia merasakan seseorang mengguncang bahunya lembut.

"Sasuke-kun…" Sasuke memaksakan membuka sebelah matanya ke arah orang itu.

"Sakura? Ada apa? Apa sudah matang?" tanya Sasuke memutar badannya mengahadap Sakura.

Sakura menggeleng. "Belum, maaf mengganggumu. Aku berniat meminta izin keluar ke minimarket dekat rumah untuk membeli beberapa bahan."

"Aku ikut." Sasuke bangkit dari tidurnya, tapi Sakura menahannya.

"Kau istirahat saja, Sasuke-kun. Aku hanya sebentar." Sergah Sakura.

"Tapi – "

Sakura menggeleng lagi. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagipula tempatnya hanya 150 meter dari sini kan?" Sasuke masih terlihat enggan membiarkan Sakura. Sakura menangkup pipi Sasuke seraya tersenyum. "Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu."

Sasuke mendesah. Percuma mendebat wanita hamil, pikirnya. "Baiklah, cepat kembali ya?"

"Siap, Tuan!" jawab Sakura dengan nada bercanda membuat Sasuke terkekeh.

Meski Sakura sudah meminta izin padanya tetap saja Sasuke tak bisa menghilangkan rasa khawatir di hatinya. Ia berjalan mondar-mandir sedari tadi menunggu Sakura pulang, padahal Sakura baru 15 menit yang lalu pergi. Sasuke sendiri sempat menelponnya, dan Sakura bilang sebentar lagi ia akan pulang.

TING TONG

Mendengar suara bel rumah berbunyi, sontak membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan segera membuka pintu.

"Sakura, kenapa lama – eh…siapa kau?" Sasuke terkejut salah mengira sosok dibalik pintu itu adalah istrinya.

Sosok itu mendecak kesal. "Jadi benar Sakura tinggal di sini?"

Sasuke mengernyitkan dahinya, ia menatap tak suka pada lelaki di depannya ini seolah mengenal Sakura. "Ya, benar."

BUAGH

Satu pukulan tiba-tiba dilayangkan oleh tamu lelaki tak dikenal itu pada Sasuke hingga terjungkal ke belakang dan sudut bibirnya berdarah.

"Brengsek! Jadi kau yang menghamili Sakura?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Pertama-tama mau ngucapin maaf bangeeeeettt aku lama updatenya. Kesibukan juga dilanda WB yang jadi kendalanya. Saya soalnya ngga bisa nulis kalo mood-nya lagi jelek :D hehehehe…. Mohon dimaklumin author model begini ya :D

Oh ya istilah eagle eye itu, 100% karangan author ya? jadi jangan di anggap serius :D

See u on the next chapter…

Thanks buat yang uda rev, fol, dan fav, juga yang udah baca fic yang jauh dari kata kece ini:

Williewillydoo, Hanazono yuri, Raihanah937, Sindi Kucing Pink, wowwoh geegee, Phi Hatake, kakikuda, Jamurlumutan462, echaNM, embun adja1, J Ana, Daun Ilalang Kuning.