Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC (?), TYPO(s), GAJE, ABAL, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 9 – Pertemuan Tak terduga

Seluruh arah pandang orang yang ada di ruangan itu terfokus pada layar LCD yang menunjukkan kinerja perusahaan. Sang manajer pemasaran dengan penuh antusias menjelaskan tentang peningkatan pemasaran produk mobil terbaru mereka, mengundang senyuman bangga dari masing-masing kepala divisi atas keberhasilan yang cukup signifikan itu. Tapi tidak dengan Sang pemilik perusahaan sendiri. Sedari awal ia memang menatap layar LCD, tapi tidak dengan fokus pikirannya. Tatapan matanya cenderung kosong dan terlihat lelah.

"Benar kan Tuan Danzo?"

Tidak mendapatkan tanggapan dari pemilik perusahaan, Sang manajer pemasaran saling berpandangan bingung dengan kepala divisi lain di ruang rapat itu.

Kagami – Manajer Pemasaran – berdeham untuk mendapatkan perhatian Danzo. "Tuan Danzo, Anda baik-baik saja?"

Danzo terkesiap. Ia baru menyadari seluruh bawahannya di ruangan itu menatapnya bingung. Ia berdeham untuk mengurangi kecanggungan.

"Maaf, aku rasa rapat kita akhiri sampai di sini saja. Kita akan lanjutkan pembicaraan ini lain kali." Tukas Danzo dan beranjak pergi dari ruangan itu menyisakan tatapan iba dari para pegawainya.

Belum sempat menjangkau pintu ruang rapat, Danzo mendadak jatuh pingsan. Membuat semua orang yang ada di situ terkejut dan berusaha membantu menahan tubuh Sang pemilik Shimura Corp. yang nyaris membentur lantai. Daichi – sekertaris pribadi Danzo – langsung membawanya kembali ke kediaman Shimura dan tak lupa menelepon dokter keluarga.

"Aku yakin kesehatannya masih belum membaik sejak kejadian itu." Ucap Kagami menatap prihatin Sang bos.

"Siapapun yang kehilangan anggota keluarga mereka, pasti ia akan menunjukkan kelemahannya setangguh apapun dia." Timpal yang lain. Kagami mengangguk setuju.

Yang mereka katakan tentang Danzo itu memang benar adanya. Ini kali pertama mereka melihat sosok Danzo terlihat begitu rapuh. Sepuluh tahun lalu Danzo pernah mengalami kehilangan yang sama, ketika Sang istri meninggal dikarenakan tumor otak yang di deritanya. Dan baru beberapa bulan yang lalu ia kembali merasakan kehilangan. Kali ini ia tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya, tidak seperti saat kehilangan Sang istri. Kehilangan Sai, salah seorang putranya membuatnya cukup terpukul.

Sai mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menjemputnya di bandara. Awalnya pria paruh baya itu tidak mempercayai berita yang di dengar dari orang kepercayaannya, karena saat itu setengah jam sebelum terjadi kecelakaan Sai sempat meneleponnya mengatakan tidak lama lagi akan sampai. Daichi – tangan kanannya – meyakinkan sekali lagi jika Sang tuan muda memang meninggal di tempat saat kecelakaan.

Saat Danzo melihat sendiri jasad putranya di kamar mayat di salah satu rumah sakit Konoha, barulah ia mempercayainya. Pria paruh baya itu memeluk erat jasad putra bungsunya sambil menitikkan air mata. Semasa hidup Danzo memang tidak begitu memperhatikan kedua putranya, ia hanya fokus pada bisnisnya semenjak Sang istri meninggal dunia. Ia baru menyesalinya setelah kepergian Sai.

Sai lebih penurut dibandingkan kakaknya. Apapun yang diminta Sang ayah lakukan, pasti ia lakukan meski itu bertentangan dengan keinginannya. Seperti jurusan kuliah yang dipilihnya. Sai mencintai seni yang diturunkan dari ibunya. Ia sangat menyukai melukis dan berniat masuk jurusan seni saat kuliah, tapi Danzo melarangnya dan memaksanya untuk masuk kedokteran. Alasannya tidak menyetujui pilihan Sai, karena menurutnya seni tidak akan mempunyai masa depan di zaman sekarang. Dan Sai dengan senyum yang menjadi ciri khasnya menyetujui pilihan ayahnya.

Danzo menyesali semuanya. Perlakuan tidak adil terhadap putra bungsunya. Dan sekarang ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri.

"Tekanan darah beliau sangat rendah dan lambungnya juga bermasalah."

"Ayah memang semakin gila kerja semenjak kematian Sai."

"Aku turut berduka cita. Maaf aku baru tahu jika Sai meninggal dunia belum lama ini. Aku sedang ada di luar negeri saat Sai mengalami kecelakaan."

"Hm…tidak apa-apa. Dan terima kasih."

"Lalu bagaimana dengan gadis itu?"

Sebenarnya sudah sejak 10 menit yang lalu Danzo siuman. Tapi ia sengaja tidak membuka mata karena merasa lelah. Lelah fisik dan lelah batin. Tapi mendengar percakapan samar antara putra sulungnya dengan seorang dokter keluarga yang sudah ia hafal betul suaranya, memaksanya membuka mata dan berusaha bangun.

"Siapa gadis yang kau maksud?" celetuk Danzo yang terdengar terkejut.

Shin – anak sulung Danzo – dan Kabuto juga ikut terkejut. Keduanya berjalan mendekat dan membantu Danzo bersandar di ranjang.

"Ayah, aku tidak tahu kau sudah sadar."

"Aku tanya siapa gadis yang kau maksud?" ulang Danzo sambil menatap penuh selidik pada Kabuto. Ia tidak yakin jika gadis yang dimaksud Kabuto ada kaitannya dengan putranya.

Kabuto sedikit salah tingkah. Sebenarnya ia merasa tidak enak harus menjelaskan hal ini. Karena ia sudah berjanji pada Sai tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Ia benar-benar tidak tahu jika Sai sepertinya belum menjelaskan hal itu pada ayahnya.

"Eh…sebenarnya Sai melarangku mengatakannya, karena dia bilang dia sendiri yang akan mengatakan soal ini pada Anda, Tuan Danzo. Tapi aku pikir Anda berhak tahu soal kekasih Sai."

"Apa?" mata kelam Danzo dan Shin membelalak mendengar kata 'kekasih'.

"Apa maksudmu dengan kekasih, Kabuto-san? Dan…kenapa Sai malah menceritakan hal ini padamu?" sela Shin yang tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya.

Danzo diam mendengarkan dengan seksama cerita Kabuto. Lalu ingatannya terlempar kembali saat terakhir ia bisa mendengar suara buah hatinya, yang mengatakan bahwa ada hal penting ingin Sai bicarakan dengan dirinya. Dan sekarang ia paham yang dimaksud Sai dengan hal penting itu.

"Lalu bagaimana dengan nasib gadis itu sekarang? Sebelumnya aku mengira Sai pasti sudah menikahinya." Ucap Kabuto dengan nada getir. Ia yakin gadis itu sedang mengalami masa sulit saat ini.

Shin menggretakkan giginya keras sambil memijat pelipisnya. Ia tidak menyangka jika adiknya yang polos dan pendiam itu sampai menghamili anak orang. Bahkan Sai tidak pernah mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih. Apa mungkin adiknya itu tertimpa sial karena one night stand dengan seorang gadis? Atau Sai sengaja tidak menceritakan jika ia sudah memiliki kekasih karena takut akan reaksi ayahnya? Pertanyaan – pertanyaan itu mengusik pikirannya.

"Em…untuk masalah itu biar kami yang mengurusnya. Aku sangat berterima kasih atas informasinya Kabuto-san." Ucap Shin sambil mengantar Kabuto ke ruang depan.

Danzo masih diam, tapi bukan berarti dia mengabaikan fakta bahwa ada seorang wanita di luar sana yang sedang mengandung calon cucunya. Ia tidak peduli lagi dengan kesalahan yang dibuat Sai. Ia tidak memikirkan dari mana asal keluarga gadis itu atau tentang pendidikannya, Danzo tidak lagi memikirkan hal itu. Sekarang yang ada dipikirannya adalah bagaimana menemukan kekasih Sai itu dengan sedikit informasi.

Ayah dari Sai dan Shin ini merogoh ponsel dari saku jas yang masih di pakainya. Dan men-dial nomor seseorang.

"Juugo, aku mau malam ini juga informasi mengenai Haruno Sakura. Dia kuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan putraku Sai."

"Baik Tuan. Saya akan segera mendapatkan informasinya."

"Ayah…" Danzo menoleh ke arah pintu dimana putra sulungnya baru saja kembali dari mengantar dokter Kabuto. Shin menarik kursi untuk duduk di dekat ranjang. "Jangan memikirkan apapun dulu, yang terpenting adalah kesehatan ayah. Masalah kekasih Sai"

"Shin, bisa tinggalkan aku sendiri? aku ingin istirahat." Potong Danzo cepat. Shin tersenyum mengangguk, membantu membaringkan ayahnya kembali di ranjang.

.

.

.

.

- oOo -

Kepalanya terasa berputar – putar saat Sakura berusaha bangun dari tidurnya. Tengkuknya masih terasa sakit akibat pukulan seseorang yang tidak dikenalnya. Ia mengerjap sesaat mengenali dimana dia berada sekarang.

Sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah kamar mewah yang di dominasi warna hitam dan putih. Semua barang – barang di sini tertata dengan rapi. Dan juga banyak lukisan yang tertempel di dinding kamar.

Mendadak Sakura merasa perutnya sedikit kram. Ia yakin ini efek terlalu tegang akibat kejadian tadi.

Sakura mendesis. "Tenang sayang… ibu dan kau baik-baik saja. Jangan takut, ibu akan melindungimu nak." Ucapnya sambil mengusap lembut perutnya yang mulai membesar.

Istri dari Uchiha Sasuke itu berjengit ketika mendengar suara pintu kamar yang di buka. Seorang pria paruh baya mendekat dengan raut wajah datar. Sakura sontak memundurkan tubuhnya sampai punggungnya menyentuh sandaran ranjang. Ia juga langsung melingkarkan kedua tangannya melindungi Sang buah hati yang tengah bergelung nyaman di dalam perutnya.

"Ja-jangan mendekat!" desis Sakura mulai gemetaran. Jika tidak dalam keadaan hamil, sudah pasti Sakura akan menggunakan kemampuan bela diri yang diajarkan Sang kakak.

Pria paruh baya itu menghela napas berat. Ia tidak mempedulikan larangan Sakura dan duduk di kursi dekat ranjang.

"Jadi kau kekasih Sai?" tanya Danzo to the point.

Sakura terbelalak. Dalam pikirannya muncul tanda tanya besar, bagaimana pria di depannya ini tahu jika dia dulunya adalah kekasih Sai?

Danzo mendesah pendek tidak mendapati jawaban dari Sakura. "Bayi yang kau kandung ini benar anak Sai?"

"Memangnya Anda siapa?" tanya Sakura takut-takut.

"Kau tidak bisa mengenali ayah dari kekasihmu sendiri?"

Emerald Sakura melebar. "Ja-jadi Anda…"

Danzo mengangguk. "Aku tanya sekali lagi, benar kau sedang mengandung anaknya?"

Sakura mengangguk lemas. Ia tidak menyangka akan dipertemukan dengan ayah Sai dalam keadaan seperti ini. Meski disisi lain ia merasa lega, ternyata yang menculiknya bukanlah orang jahat.

"Lalu kenapa kau menikah dengan orang lain?" tanya Danzo lagi dengan nada tajam.

"I..itu… Aku harus menyelamatkan masa depanku. Aku tidak mau menggugurkan anak ini, tapi aku juga tidak mungkin menyembunyikannya dari kampus. Kalau kampus tahu aku hamil di luar nikah, sudah pasti beasiswaku akan dicabut. Karena itu aku menikah dengan orang lain." Jelas Sakura panjang lebar disertai rasa sesak. Ia tidak bisa menahan air matanya manakala mengingat kejadian saat kepergian Sai.

"Anak itu bukan hanya anakmu, tapi juga anak Sai. Darah dagingku juga. Bagaimana kau bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu?!" bentak Danzo. Ia tidak terima dengan keputusan Sakura yang terkesan mengabaikannya, padahal dia jelas punya hak juga terhadap anak yang dikandung Sakura.

"Harusnya kau katakan itu padaku. Aku bisa menyelamatkan beasiswamu dengan menikahkanmu dengan anakku yang lain." Sambungnya lagi.

"Ayah!"

Danzo dan Sakura terkejut mendengar teriakan dari arah pintu. Di sana berdiri sosok yang mirip dengan Sai hanya saja memiliki warna rambut abu-abu. Ia berjalan mendekat dengan raut wajah emosi.

"Kami-sama, aku tidak menyangka ayah akan melakukan hal ini." Keluh Shin tidak habis pikir. "Ayah bahkan menculik pacar Sai dan malah menyalahkannya."

"Jangan ikut campur Shin!" hardik Danzo menatap nyalang putra sulungnya itu.

Shin menggeleng kuat. "Untuk Sai aku memang diam saja, tapi tidak lagi kali ini. Ayah tidak berhak mengatur hidupnya meski anak Sakura adalah anak Sai."

Shin baru saja pulang dari kantornya. Ia sengaja pulang cepat setelah mendapat informasi dari orang kepercayaannya mengenai kekasih Sai yang bernama Sakura, berniat segera melaporkannya pada ayahnya. Tapi ia tak menduga jika ayahnya sudah mengambil satu langkah lebih cepat darinya dalam mendapat informasi. Bukan hal yang mengejutkan memang, mengingat koneksi yang dimiliki Danzo.

"Aku mohon ayah, jangan bersikap seperti ini. Sakura memiliki hak penuh atas anak yang dikandungnya. Termasuk pernikahannya dengan Uchiha itu." Lanjut Shin.

Danzo menghela napas berat. Peringai keras kepalanya memang menurun pada anak pertamanya ini. Ini bukan kali pertama perdebatan mereka. Sebelumnya Danzo juga tidak bisa membuat Shin menuruti keinginannya untuk masuk jurusan kedokteran dan tetap bersikeras mempertahankan pilihannya masuk jurusan hukum. Dan Shin membuktikan bahwa pilihannya memang tepat, terbukti kini ia menjadi pengacara yang cukup terkenal.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Danzo meninggalkan Shin dan Sakura begitu saja. Jujur, dalam hati Shin selalu berakhir merasa bersalah jika ayahnya sudah diam seperti itu. Tapi di sisi lain ia juga tidak bisa membenarkan perbuatan ayahnya terhadap Sakura.

Shin mendekat ke arah Sakura, dan mengambil posisi duduk di sisi ranjang. Ia memasang senyum lebar di wajahnya. "Jadi namamu Sakura ya? Hm…cantik seperti namanya."

Sakura hanya mampu memaksakan senyum di wajahnya menanggapi ucapan Shin.

"Em…baiklah aku ingin minta maaf atas ulah ayahku yang menculikmu. Dan perkenalkan aku adalah Shin, kakak Sai. Yoroshiku ne.."

Sakura menggeleng tersenyum. "Tidak apa-apa, yoroshiku."

"Aku juga minta maaf atas kelakuan Sai padamu. Dia sudah berani menghamilimu dan pergi tanpa bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya." Shin memijat pelipisnya, "Tapi tenang saja, aku tidak akan pernah setuju ide ayah yang ingin menikahkanmu denganku."

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengantarmu pulang. Ayah tidak akan berani menyakitmu lagi, aku janji."

"Terima kasih." Ucap Sakura tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Sedikit banyak ia merasa lega, kakak Shin ini berbeda dengan ayahnya yang bersikap seenaknya dan tidak mau tahu.

"Aku akan mengantarmu pulang. Aku yakin keluargamu pasti sudah sangat panik mencarimu." Shin membantu Sakura berdiri, tapi Sakura menahan uluran tangannya.

"A..ano…boleh aku meminjam telfonmu untuk menghubungi keluargaku? Sepertinya ponselku jatuh saat Danzo-san…" cicit Sakura dengan suara yang makin lama makin mengecil.

Shin terkekeh. " Aku minta maaf sekali lagi ya? Karena ulah ayahku ponselmu jadi hilang." Shin megeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menyerahkannya pada Sakura, "Tenang saja, aku akan menggantinya."

Sakura buru-buru menggeleng. "Tidak perlu Shin-san. Tidak apa-apa."

Bibir Shin melengkung membentuk senyuman. "Jangan sungkan padaku, Sakura. Meski kau sudah bukan lagi kekasih adikku, tapi aku ingin kau tetap menganggapku sebagai kakakmu. Ehm…apa kau keberatan kalau aku memintamu memanggilku 'kakak'?"

Emerald Sakura terasa memanas. Dalam hati kecilnya ia merasa senang sekaligus sedih disaat yang bersamaan. Ia senang karena dipertemukan dengan kakak Sai yang begitu baik dan menyayanginya. Sedih karena Shin seharusnya jadi kakak iparnya sekarang jika saja Sai masih hidup.

Sakura mengangguk mantap. "Um…tentu, kakak."

.

.

.

.

- oOo -

Sepulangnya Sakura dari rumah Danzo, ia langsung disambut dengan pelukan erat dan ciuman di dahi dan pipinya bertubi-tubi Mikoto, ibu mertuanya. Wajah Mikoto terlihat pucat dan kedua matanya sembab karena terlalu banyak menangisi Sakura. Ibu dari Sasuke itu merasa lega saat beberapa saat lalu mendapat panggilan telfon dari nomor yang tidak dikenalnya ternyata dari menantunya dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, akan segera pulang. Sakura sengaja mengarang cerita jika dia berhasil kabur dari Sang penculik. Ia tidak ingin Shin dan ayah Sai sampai terlibat masalah dengan keluarga Sasuke.

"Maafkan kami yang lalai menjagamu Sakura." Mikoto membelai wajah menantunya itu dengan penuh kasih sayang.

Sakura menggeleng cepat. "Ini bukan salah ibu. Sudah…ibu jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja kan?"

Meski tidak menampakkan ekspresi senang, Fugaku tetap merasa lega luar biasa Sakura sudah bisa kembali dengan selamat. Meski sebenarnya ia merasa agak aneh dengan cerita Sakura soal kronologi kabur dari penculikan itu.

"Ibu, Sasuke-kun tidak tahu mengenai hal ini kan?" Sakura takut jika kejadian ini membuat Sasuke akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

Mikoto menggeleng. "Sebelum aku sempat memberitahunya, kau sudah ditemukan."

Sakura menghela napas lega. "Syukurlah, aku tidak ingin membuatnya panik."

"Tsuma, biarkan dia istirahat dulu. Besok baru kalian lanjutkan lagi mengobrolnya." Ucap Fugaku.

"Hn, kau benar anata. Istirahatlah Sakura…"

Seperginya Fugaku dan Mikoto keluar kamar, Sakura segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di atas ranjang. Bukan lelah lebih tepatnya tegang. Ia masih saja sulit percaya akan bertemu dengan ayah Sai. Ia bahkan sampai lupa menanyakan darimana ayah Sai dan kakaknya tahu jika dia sedang mengandung anak Sai. Sakura yakin Sai belum sempat mengatakan hal itu pada keluarganya.

Sedikit banyak ia merasa bersalah juga pada Danzo. Memang benar apa yang dikatakan pria paruh baya itu, ia juga berhak atas anak yang dikandung Sakura. Bagaimanapun darah Sai mengalir dalam janinnya. Lalu apa yang seharusnya ia lakukan? Tidak mungkin kan jika dia meninggalkan Sasuke dan keluarganya begitu saja?

DUG

Sakura mengerang merasakan tendakan cukup kuat diperutnya. Tidak biasanya anak dalam kandungannya itu menendang sekeras ini.

"Apa kau marah atas pemikiran ibu nak?" Sakura mengelus perut buncitnya. Ia kembali merasakan pergerakan samar itu lagi, tapi kali ini tak sekeras tadi. "Maaf, ibu janji tidak akan meninggalkan Papa Sasuke."

Setelah mendengar penjelasan itu, entah mengapa Sakura janinnya mulai kembali tenang. Sakura merasa bahwa bayi dalam perutnya juga bisa merasakan kesungguhan Sasuke padanya.

.

.

.

.

- oOo -

Istri dari Uchiha Sasuke itu tengah mematut diri di depan cermin. Ia menyunggingkan senyum melihat penampilannya yang sudah 'ok' menurutnya. Hari ini Ibu Sasuke mengajaknya pergi ke mall untuk berbelanja baju hamil dan juga baju bayi. Sebenarnya Sakura merasa itu masih belum perlu, lagipula usia kandungannya baru menginjak 4 bulan dan perutnya belum begitu membesar. Tapi dasarnya Uchiha memang keras kepala, dengan berbagai argument akhirnya Sakura hanya bisa menuruti permintaan mertuanya itu.

Drrrt drrrtt drrrttt

"Eh…ibu menelepon?" gumam Sakura dengan segera menjawab panggilan telepon dari Mikoto. "Ya bu?"

"Sakura, ibu benar-benar minta maaf hari ini ibu tidak bisa menemanimu berbelanja karena ada urusan yang mendesak." Ucap Mikoto penuh penyesalan.

"Ah…ya tidak apa-apa ibu. Aku bisa diantar sup-"

"Tidak. Tidak. Aku tidak percaya jika kau pergi hanya dengan supir. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa lagi denganmu nak." Mikoto menjeda sesaat, "Aku sudah menyuruh seseorang yang pastinya bisa lebih dipercaya menemanimu."

Sakura mengernyit. "Eh? Siapa dia bu?"

Mikoto terkekeh diseberang sana. "Nanti kau juga akan tahu. Aku rasa tidak akan lama lagi dia akan datang."

TING TONG

"Dia sudah datang sepertinya bu. Baiklah, sampai nanti bu."

"Ya, Sakura. Bersenang – senanglah…" Sakura terkekeh mendengar ucapan ibu mertuanya.

Setelah menyampirkan tas dibahunya, Sakura segera turun. Dalam hati ia penasaran siapa sosok yang dipercaya oleh ibu mertuanya lebih dari supir dan bodyguard-nya sendiri.

Emerald Sakura melebar melihat sosok itu.

"K-Kau?"

"Konichiwa, Sakura-san." Sosok itu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman.

"N-Neji-san? Jadi kau yang" Neji mengangguk cepat.

"Aku tidak pernah bisa menolak permintaan bibi."

Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Maaf jadi merepotkan."

Neji tertawa kecil. "Aku tidak merasa direpotkan. Lagipula aku sedang tidak ada pekerjaan saat ini. Em…bisa kita berangkat sekarang?" Sakura mengangguk.

Sebenarnya Sakura merasa canggung harus satu mobil berdua dengan Neji. Ia baru bertemu satu kali beberapa waktu lalu saat makan malam bersama keluarga. Ia belum begitu mengenal Neji.

"Kapan Sasuke pulang?" Neji membuka suara setelah sekian menit dihabiskan dengan keheningan. Ia menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berganti warna merah.

"Kenapa memangnya?" Dahi Sakura mengernyit.

Neji terkekeh, iris peraknya menatap mata hijau Sakura. "Dia bisa membunuhku jika tahu istrinya berkencan denganku." Neji menekankan pada kata 'istri' dan 'berkencan'

Wajah Sakura sontak memerah, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "I-itu… mungkin lusa atau besok paling cepat."

"Ah…baguslah. Hari ini tidak akan terjadi pertumpahan darah." Desah Neji lega diiringi tawa dari keduanya.

"Ehm…bagaimana kabar Hinata?" Sakura membuka pembicaraan kembali.

Neji memutar setir-nya ke kiri. Ia mulai mengurangi kecepatan saat berada dibelokan. "Hm…baik. Jika pekerjaannya selesai, dia akan segera kembali ke Konoha."

"Hm…begitu." Neji hanya mengangguk. "Lalu bagaimana dengan eh…hubungannya dengan Naruto?"

Neji mendecak pelan. Lagi-lagi terjebak macet di jalan utama. Perjalanan yang harusnya hanya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit, jadi molor.

"Ayah sudah memberikan restunya." Jawabnya singkat.

"Eh? Memang Neji-san tidak merestui mereka juga?" tanya Sakura heran.

"Aku tidak bisa membayangkan kalau keponakanku nanti berambut kuning Sakura." Geram Neji memasang ekspresi frustasi. Sakura dibuat tertawa lagi.

Neji kembali terpaku melihat senyum dan tawa itu lagi. "Teruslah tersenyum Sakura."

Perlahan tawa Sakura mereda. "Kenapa?" Sakura sudah bersiap mendengar candaan Neji lagi.

"Itu membuatmu semakin cantik." Amethyst Neji menatap lurus Sakura.

Sakura tercekat. Mulutnya membuka menutup, ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana pujian Neji barusan. Ia hanya mampu mengalihkan pandangannya ke depan.

Neji berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. "Kita sudah sampai." Sakura hanya menanggapi dengan anggukan.

Neji dan Sakura memasuki stand khusus baju ibu hamil dan baju bayi. Sakura mulai memilih beberapa dress baju ibu hamil. Setelahnya keduanya menuju bagian baju bayi.

"Hm…Sakura, apa kau sudah tahu jenis kelamin bayimu?" Neji berinisiatif bertanya karena Sakura terlihat bingung memilih warna baju yang pas.

Sakura menggeleng. "Setelah usianya 5 bulan baru bisa dilihat kata dokter."

"Hm…begitu. Kalau begitu pilih saja beberapa warna baju dengan warna pastel." Neji mulai memilih beberapa baju bayi. "Bagaimana menurutmu?"

Sakura menatap satu per satu baju yang dipilih Neji. Kemudian mengulum senyum, pilihannya memang tepat. "Aku suka ini semua."

"Baiklah, kau tunggu aku disini," Neji menunjuk sofa yang disediakan pemilik toko, "Aku akan ke kasir dulu untuk membayarnya."

Sakura mengangguk. Ia menatap punggung Neji yang perlahan menjauh. Antrian yang lumayan panjang.

"Maaf, permisi boleh kami duduk disini?"

Ada dua orang calon ibu seperti Sakura yang sepertinya juga sedang menunggu suami mereka mengantri di kasir, menghampiri Sakura.

"Ah, tentu saja silahkan." Sakura sedikit menggeser tubuhnya.

"Apa pria barusan itu suami Anda Nona?" Sakura berjengit tiba-tiba salah satu dari perempuan yang duduk disebelahnya menanyakan hal itu. Dan temannya nampak begitu bersemangat menyimak obrolan keduanya.

"Eh…itu bukan"

Wanita berambut biru itu tertawa sambil menutup mulutnya. Ia mengibaskan tangannya, "Ah…jangan bercanda Nona. Tidak mungkin kan pria setampan dia supir Anda."

"Hm…benar itu. Pasangan muda. Penganti baru memang romantis ya? Aku jadi iri." Timpal teman wanita berambut biru.

Sakura tertawa hambar. Ia tidak habis pikir apa yang membuat kedua wanita ini iri? Padahal keduanya juga sedang menunggu suami mereka kan?

"Kau salah menduga jika pria yang tadi bersama kami itu adalah suami-suami kami." Wanita berambut biru berucap lagi, ia seolah bisa membaca pikiran Sakura, "mereka hanya assistant saja. Sejak kelahiran anak pertamaku, suamiku tidak pernah menemaniku pergi berbelanja, bahkan untuk pergi ke dokter dia selalu mewakilkan pada assistant kami."

Teman wanita itu berkomentar lagi. Ia mengangguk setuju. "Selalu saja alasan suamiku sama. Bekerja keras untuk persiapan kelahiran. Tapi kita sebagai wanita tetap butuh perhatian kan?"

Sekali lagi Sakura hanya bisa memaksakan senyum. Dalam hati ia tidak setuju dengan pendapat kedua perempuan disebelahnya ini. Meski saat ini Sasuke tidak menemaninya, bukan berarti dia tidak perhatian padanya, tapi memang keadaan yang tidak memungkinkan. Lagipula ide berbelanja ini adalah ide mertuanya, jika Sasuke tahu pun Sakura yakin suaminya itu tidak akan membiarkannya pergi sendirian.

"Sakura, aku sudah selesai. Ayo kita pulang." Neji berjalan mendekat sambil membawa dua kantung berisi belanjaan tadi.

Sakura mengangguk. Lalu berpamitan pada dua wanita yang tadi sempat mengajaknya mengobrol. Lebih tepatnya curhat padanya.

"Kalian pasangan yang serasi. Kau harus menjaga istrimu dengan baik Tuan." Goda wanita berambut biru itu sambil menatap Neji.

Neji mengangkat sebelah alisnya. Istri? Jadi wanita ini mengira Sakura adalah istrinya? Entah mengapa hatinya terasa menghangat. Diliriknya Sakura untuk melihat bagaimana reaksinya atas ucapan wanita tadi. Dan Neji hanya bisa kecewa saat Sakura tidak terlihat salah tingkah atau merona malu. Ia malah sibuk mengecek kembali isi kantung belanjaan.

Neji membungkuk sopan. "Ya, pasti kulakukan. Kami pamit undur diri dulu."

Mereka tidak langsung pulang, karena Sakura meminta untuk membeli kue terlebih dulu. Dia bilang sangat ingin makan pie tomat. Dan Neji sendiri tidak punya alasan untuk menolaknya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Mikoto sudah beberapa kali menelepon Neji agar segera 'memulangkan' menantunya. Tapi lagi-lagi terjebak macet saat berada di jalan besar.

"Hh….akhirnya sampai juga." Neji sedikit melakukan pergangan pada otot-ototnya yang terasa kaku, "Sakura, kau masuk duluan saj"

Neji menghentikan perkataanya saat menoleh ke arah Sakura. Ia tidak menyadari jika Sakura tertidur di mobil. Wanita bersurai merah jambu itu terlihat begitu lelah, membuat Neji tidak tega membangunkannya.

Neji keluar dari mobil dan berjalan memutar lalu membuka pintu Sakura dan melepas seatbelt-nya.

"Astaga…kenapa melepas seatbelt pun terasa menjengkelkan!" gerutunya.

Dengan jarak sedekat ini Neji bisa mencium aroma cerry blossom menguar dari tubuh Sakura. Ia mulai mengalihkan konsentrasinya, memandang wajah Sakura yang tertutupi beberapa helai rambut pink-nya. Ia memberanikan diri menyingkirkan rambut yang mengganggu menurutnya.

Dalam diam Neji mengamati wajah ayu Sakura. Bulu mata yang lentik, hidung yang mungil, juga kulit putih bersih, dan bagian yang tidak terlewatkan adalah bibir tipis Sakura yang hanya berlapiskan lipgloss tipis beraroma buah. Entah mengapa sangat memancingnya untuk lebih mendekat.

Tangan kanan Neji terulur mengelus lembut pipi dan rahang Sakura. Wajahnya semakin mendekat, bibir tipis itu seakan menghipnotisnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin merasakan bibir tipis milik Sakura.

Sedikit lagi.

"Ngh…"

Suara lenguhan Sakura sontak membuatnya memundurkan diri. Ia pikir Sakura terbangun, ternyata ia hanya merubah posisi tidurnya. Neji menghela napas lega.

Ia mengusap wajahnya kasar. "Kuso! Apa yang baru saja aku lakukan." Geramnya kesal.

Ia tidak tahu kenapa tadi bisa lepas kendali seperti itu. Berada di dekat Sakura bisa sangat berbahaya untuknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued

Author's Note:

Yang nyulik Sakura ngga terduga kan? Hehehe…cz beliau (Danzo) memang belum muncul sama sekali dari chapter awal. Tapi saya pastikan dia akan muncul terus sampai chapter terakhir.

Nah…yang kemarin request adegan NejiSaku, telah rilis di chapter ini. Chapter ini minus Sasuke ya? Tapi chapter depan Sasuke udah balik lagi kok :D

Jadi ikutin terus ya? Bagi yang masih tertarik dengan jalan ceritanya, yang engga juga ngga papa. Author ndak maksa loh hehehe :D

Makasih yang udah review chapter lalu : williewillydoo, Uchiha Cerry 286, Phi Hatake, killer, hanazono yuri, zarachan, guest, sindi kucing pink, Rein Riekho Kei, lacus clyne, sqchn, xiuka 07.

Juga yang udah fav n follow. And also silent reader yang masih setia menunggu update

Tengkyuuuu so much :*