Naruto-kun selamanya milikku!
Genre : Romance, Friendship, Drama and School
Author : Retsuya02
Dikediaman milik keluarga Hyuuga yang mewah, Ino duduk disofa ruang tamu dengan lesu, jari telujuk dan jempolnya ia gunakan untuk memijat keningnya sendiri, sementrara Hinata hanya bisa duduk dan tertunduk diam dengan perasaan was-was. Ino menggeleng kepalanya pelan, ia tak menyangka bahwa Hinata akan terlibat perkelahian disekolah pagi tadi, padahal Hinata sudah berjanji pada Naruto dan dirinya untuk tidak berkelahi lagi.
"Ano, t-tolong jangan bilang ini pada Naruto-kun, aku mohon!" ucap Hinata memelas berharap agar Ino mau mengabulkan permintaannya. Ino hanya mendesah pelan "Hhhaahh.. tidak bisa aku harus mengatakan ini pada kakakku!"
"Aku mohon..aku mohon.. maafkan aku, aku janji tidak akan mengulangnya lagi!" Pinta Hinata panik ia tak berhenti memelas meminta belas kasihan dari adik kekasihnya itu. Menghiraukan permohonan hinata, Ino malah mengambil ponsel dari sakunya dan mencoba menghubungi Naruto. Hinata semakin panik dan ketakutan, dengan terpaksa Hinata berdiri dan langsung menyambar ponsel milik Ino.
"Hei, apa yang kau lakukan, kembalikan ponselku!" Ucap Ino serius sambil ikut berdiri mencoba merebut kembali ponselnya. namun Hinata tak mau menurut, ino malah terkejut karena Hinata tanpa basa-basi lagi langsung bersujud dihadapannya "Aku mohon, sekali ini saja jangan katakan pada Naruto-kun, aku bersungguh-sungguh tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Hinata hampir menangis.
Melihat Hinata memohon seperti itu luluh juga hati Ino, dengan hembusan nafas pendek Ino kembali duduk. "Ya sudah, aku kali ini kumaafkan dan ingat, ini Cuma sekali, jika mengulanginya lagi aku tak mau dengar lagi!" kata Ino mengingatkan "Nah sekarang bangunlan jangan berpose seperti itu terus!" lanjutnya sambil melipat tangannya didada.
Dengan perasaan senang dan lega Hinata bangun dari posisinya dan duduk disofa "Terima kasih, aku janji dengan sungguh-sunggguh!"
"Ya aku tahu..aku tahu!" sahut Ino malas dan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan nyaman, "Hhh..!" untuk kesekian kalinya Ino menghembuskan nafas pendek guna menghilangkan penatnya. Melirik sedikit Hinata disampingnya Ino hanya bisa melihat wajah lega dari Hinata.
Ino sebenarnya bisa memaklumi tingkah Hinata barusan karena ia tahu bahwa Hinata sangat takut kehilangan Naruto, Hinata bahkan mau melakukan apa saja agar tetap bisa bersama dengan Naruto, karena itu saat Naruto memintanya berjanji untuk tidak berkelahi lagi ataupun memukuli orang, Hinata langsung meng-iyakan. Jadi wajarkan jika Hinata takut jika Naruto tahu.
Ino bahkan tidak tahu harus apa lagi dengan perasaan cinta yang besar Hinata terhadap kakaknya,yang bisa ia lakukan hanyalah mendukung hubungan Kakaknya dengan Hinata meskipun usia mereka lumayan berbeda jauh. Jika dipikir-pikir, dua tahun menjalin hubungan memang bukan hal yang mudah, namun entah kenapa keduanya malah jarang sekali bertengkar, kalaupun bertengkar paling 3-5 jam kemudian langsung mersa-mesraan lagi. Cih... memikirkannya saja membuat Ino mulai malas.
Oh ya.. jangan lupakan sifat Hinata yang masih perlu dibenahi yaitu, Hinata mudah sekali terbakar cemburu, Ino bahkan pernah memergoki Hinata diam-diam tengah mengancam seorang wanita dengan pisau yang ia curigai tengah mengincar Naruto. Bisa dikatakan sifat Hinata akan berubah derastis jika ada yang berani meyentuh Naruto terutama wanita, mengingat wajah Naruto memang terbilang cukup tampan. Berlebihan memang, namun itulah yang masih dikhawatirkan Ino sampai sekarang dan hebatnya lagi Naruto tidak pernah menyadari bahwa masih ada sisi gelap Hinata yang belum sepenuhnya hilang. Apa boleh buat kan? Hinata mantan ketua geng yang dulunya sering berbuat onar dan bawa pisau kesana-kemari, malakin orang, kalo gak dikasih..ya digebukin rame-rame dah tuh targetnya XD. Dan si polisi kurang peka bernama Naruto yang selalu gagal paham kalau Hinata sudah siap meledak jika bersama dengan wanita lain. Sungguh pasangan yang kelewat normal dimata Ino.
"Katakan padaku, kenapa kau sampai segitunya tidak mau terpisah dari kakakku selain perasaanmu itu!" Tanya Ino setelah cukup dengan flasback laknatnya.
Untuk beberapa saat Hinata hanya tertunduk diam namun kemudian menjawab "Karena selama ini aku tak punya siapa-siapa lagi yang mau peduli terhadapku, orang tuaku bahkan tak pernah peduli padaku, mereka selalu saja sibuk diluar negeri seolah melupakan fakta bahwa mereka masih punya seorang anak yang butuh kasih sayang, aku... kesepian meskipun tinggal dirumah sebesar ini, dan Naruto-kun satu-satunya orang yang menjanjikan kebahagiaan untukku dan juga selalu bisa membuatku terasa damai... hiks..hiks..!" Hinata mulai mneteskan air matanya kemudian melanjutkan lagi "karena itu...karena itu ...akan kulakukan apapun agar tetap bisa bersama Naruto-kun, Cuma Naruto-kun yang aku inginkan... dan tanpa Naruto-kun aku sama saja sudah mati!"
Ino kali ini tertegun dengan emosi yang ditumpahkan Hinata, ia tak menyangka bahwa nama kakakknya benar-benar telah mendarah daging dalam tubuh Hinata sehingga sudah tidak mungkin lagi dilepaskan.
"Jadi begitu, hahh.. sudahlah, setidaknya perasaan yang kau miliki tidaklah dibuat-buat dan memang tulus apa adanya, aku hanya bisa berpesan padamu, jadilah pacar yang baik untuk kakakku karena kakakku juga sangat mencintaimu!" Ucap Ino bijaksana sambil tersenyum, sedangkan Hinata hanya bisa merona mendengar jika Naruto juga sangat mencintai dirinya. Dengan demikian Hinata pun sudah bertekad apapun yang terjadi ia ingin tetap bersama Naruto-nya, miliknya seorang.
"dan satu hal lagi, kau jangan khawatir kakakku itu, meskipun tampak bodoh tapi dia tak akan pernah menarik kata-katanya lagi!" Tambah Ino kemudian bangkit berdiri dari tempatnya duduk. Hinata senang mendengarnya "Nah, karena sudah sore aku pulang dulu, Kakakku mungkin juga sudah pulang!" Lanjut Ino permisi.
SKIP
"Tadaima..!" Teriak Ino pelan ketika sampai dirumahnya dan langsung membuka pintu setelah itu ia melepas sepatunya.
"Okaeri.. kau baru pulang ya? Bagaimana sekolahmu?" Tanya Naruto yang menyambut kedatangan Ino .
"Yah.. sperti biasa, membosankan dan hal yang tak terduga terjadi tadi!" Jawab Ino sekenanya sambil menaiki tangga menuju kamarnya diatas lantai dua, Naruto mengikuti langkah Ino "Tak terduga? Apa itu?" Tanya Naruto
"Cih, penyakit gagal paham kakak lagi kambuh ya?" ledek Ino.
"Hei, jangan begitu kalau aku sering gagal paham mana mungkin aku bisa jadi polisi yang sehebat ini!" Ucap Naruto membela diri dengan sedikit narsis.
"Entahlah.. mungkin gagal paham ditempat yang lain!" Naruto sweetdrop karena benar-benar tak mengerti arah pembicaraan adiknya, padahal sudah jelaskan Ino menyinggung soal Hinata.
"ah.. hampir lupa, apa Hin-..!"
"Ya ya.. aku sudah mengantarnya pulang sesuai permintaan Kakak!" Sahut Ino memotong kalimat Naruto yang sudah cengar-cengir tanpa dosa.
"Hehehe arigatou dan Masih ada satu lagi adikku, tadi aku tak sengaja memenangkan sebuah hadiah utama loh!" Kata Naruto sambil berpose keren walaupun maksa.
"Heh? Kakak ini, memangnya ada orang yang memenangkan hadiah utama dengan cara disengaja? Bodoh!" Sahut Ino pedas membuat Naruto lagi-lagi sweetdrop. "lagi pula hadiah apa yang kakak menangkan?" lanjut Ino penasaran. Naruto langsung merogoh kantong celananya dengan cengiran lebar.
"tadaaaa... kakakmu yang hebat ini telah memenangkan tiket golden bermain sepuasnya di arena taman bermain konoha hari minggu besok kau, aku dan hinata-chan bisa kesana dan kau boleh mengajak Sakura jika mau!" Jawab Naruto dengan bangga sambil memamerkan selembar tiket berwarna emas ditangannya.
Ino mendengus kesal "Tapi itu Cuma selembar kak berarti hanya untuk satu orang!"
"Hohoho... makanya dengar dulu, percuma ini disebut golden tiket kalau setara dengan tiket biasa, tiket ini aku dapatkan ketika makan ra-..!"
"LANGSUNG KE INTINYA SAJA!" teriak Ino kesal. Nyali Naruto menciut, bagaimanapun juga kebuasan Ino diwarisi dari ibunya aka Kushina yang galak. Dan itu menakutkan, sumpah!
"Etto.. meski Cuma selembar tapi bisa mengajak sampai 4 orang. Dan semua wahana yang dipilih gratis!"
"HEEEHHH..sungguh? wah... kakak hebat!" Teriak Ino kegirangan dan langsung merebut tiket emas itu. Naruto malah besar kepala.
"Hohoho.. apa kubilang tadi, kakakmu ini hebat kan?"
"Hu'um kakak memang hebat!" angguk Ino antusias "meskipun begonya lebih sering sih!" Lanjutnya datar diiringi kalimat pedasnya lagi. Naruto pundung sendiri diujung ruangan.
"Baiklah tiket itu kau simpan saja sampai hari minggu nanti, sekarang ayo kita makan dulu!" Ucap Naruto berjalan keluar kamar Ino dan untuk turun keruang makan dilantai dasar.
Ino buru-buru berganti pakaian sekolahnya.
"Kakak malam ini masak apa?" Tanya Ino tidak sabaran karena memang sudah kelaparan.
"Umm.. tentunya memasak nasi dan beberapa lauk seperti ikan dan beberapa telur dadar!" Jawab Naruto santai. Ino langsung duduk dimeja makan dengan perasaan lesu "Heeh.. biasa sekali apa tidak ada sup atau semacamnya?"
"Hehehe.. maaf ya adikku, hari ini aku terlalu sibuk di pos jaga sampai-sampai lupa membeli bahan-bahan masakan, maaf ya!" senyum Naruto dan membawakan hasil masakannya keatas meja serta ikut duduk. Apa boleh buat ayah dan ibu mereka sedang tugas diluar daerah dan mungkin untuk beberapa bulan jadi selama itu Naruto-lah yang akan memasak, karena prestasi Ino dalam hal memasak sama saja seperti kau dikejar-kejar dinosaurus ganas dalam film JURASSIC WORLD. Ino hanya mendengus pasrah "Sudahlah.. begini juga tak apa dari pada tidak makan sama sekali!"
Naruto kembali tersenyum dan mengambil sumpitnya "Nah kalau begitu ITADA-..!"
TING..TONG...!
Baru saja Naruto hendak menyumpit nasi kedalam mulutnya, suara bel rumah mereka tiba-tiba menginterupsi "Sepertinya ada yang bertamu?" Tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ino mengangguk.
Naruto segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu"Biar kubuka!"
Cklek!
"O-oyasumi Na-Naruto-kun!"
"Eh, Hinata-chan?" Naruto lumayan kaget melihat kekasihnya sendiri muncul dihadapannya dengan membawa beberapa kotak makanan ditangannya.
"A-ano, a-aku membawakan ma-makanan untuk Ino dan um... untuk Na-naruto-kun!" Cicit Hinata diakhir kalimatnya.
"Ah ya.. ka-kalau begitu ayo masuklah!" ajak Naruto tak kalah kikuk.
"Wah.. Hinata kau memang penyelamat perutku, kakakku malam ini sedang memasak makanan buruk jadi aku kelaparan!" Teriak Ino berlari kearah Hinata dan langsung meraih kotak makanan yang dibawa Hinata tak peduli pada Naruto yang swetdrop masakannya dikatai buruk, padahal Ino sendiri dengan rasa masakannya cukup untuk mengakhiri sejarah peradapan umat manusia dibumi.
Menghiraukan ekspresi Naruto, dengan semangat Ino membawa kotak makanan Hinata menuju meja makan dan langsung membukanya.
"WOOAAA... ini kelihatan enak daging dan kentangnya serasa menggoda, dan kuah karenya hmmm...!" Seru Ino dengan air liur sedikit menetes. Hinata hanya bisa tersipu mendapat pujian dari ino, ia kemudian menatap Naruto disampingnya dengan wajah berseri membuat Naruto salah tingkah.
"Kalau begitu ayo makan bersama, kau pasti juga belum makan!" tebak Naruto Naruto.
Hinata mengangguk karena memang belum sempat makan malam dirumahnya, Hinata melewatkan makan malamnya dengan memasak untuk Naruto dan adiknya setelah itu ia langsung menuju rumah Naruto, jadi intinya, ia belum makan tapi malah membuatkan masakan untuk Naruto dan Ino.
Bukan masalah, karena Hinata memang senang melakukannya dan ini bukan kali pertama Hinata seperti ini, ia akan datang sesering mungkin kerumah Naruto membawakan makanan, dan jika Naruto akan berangkat bertugas, Hinata pasti akan datang dipos jaga tempat Naruto bertugas sambil membawakan bekal makan siang.
"Seharusnya kau tidak perlu seperti ini Hinata-chan, aku jadi merepotkanmu!" Ujar Naruto ditengah kegiatan makan malam mereka, Hinata hanya tersenyum lembut "Tak apa Naruto-kun, aku senang bisa melakukan ini, apa Naruto-kun tak suka dengan masakan yang kubuat ini?"
"Bu-bukan begitu, masakanmu ini sangat enak Hinata-chan hanya saja-..!"
Drrtt...drrtt..ddrrrtt..!
Tiba-tiba saja ponsel Naruto berdering memotong kalimatnya tadi. Naruto segera merogoh saku celananya dan menatap layar ponselnya sebentar dengan alis mengkerut "Nomor baru?"
"Siapa Kak?" tanya Ino penasaran.
"Emm.. entahlah, aku angkat deh!" Naruto langsung menekan tombol hijau "Moshi-moshi?"
"...!"
"Iya, benar saya Naruto! Maaf ini dengan siapa?"
"...!"
"Wanita yang tadi siang? Korban pencopetan? Ah... aku ingat hehehe tak kusangka kau benar-benar meneleponku, aku pikir kau hanya bergurau saat meminta nomer ponselku tadi!" ekpresi bingung Naruto langsung berubah total ketika mengingat identitas lawan bicaranya ditelepon, sementara Hinata yang sempat mendengar kata wanita dari mulut Naruto langsung menatap tajam kearah Naruto (meskipun Naruto tidak sadar). Ino menepuk jidatnya.
Tanpa permisi Naruto bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Hinata dan Ino dimeja makan dan memilih agak menjauh. Hinata semakin kesal, tanpa sadar kedua tangannya meremas sendok dan garpu yang dipegangnya, rahangnya pun mengeras pertanda ia tak terima Naruto menerima telepon dari wanita lain.
Samar-samar suara Naruto pun terdengar .
"Oh begitu, baiklah tapi aku tidak janji ya!"
"...!"
"Mmm... entahlah soalnya aku sibuk dipos jaga, tapi kalau sekedar menunjukkan alamat aku rasa bisa!"
"...!"
"bukan masalah, lagi pula itu juga merupakan tugas seorang polisi membantu masyarakat!"
"...!"
"Yosh.. sampai bertemu besok dipos!"
Penasaran siapa yang menelepon Naruto barusan Ino bertanya "Siapa kak? Keliatannya akrab sekali!"
Naruto kembali bergabung dan duduk dikursi sebelumnya "Tadi siang aku membantu seorang wanita dari pencopetan dan ia meminta nomer ponselku!"
"Lalu kakak memberikannya?" Tanya Ino lagi. "Yah, kukira tadi dia hanya iseng dan tak akan benar-benarmeneleponku!" Jawab Naruto enteng.
"Tapi dia benar-benar menelepon kakak tuh!" Sahut Ino sambil memasukkan nasi kemulutnya "Tapi pertanyaan sebenarnya adalah kenapa dan urusan apa dia menelpon kakak?" lanjutnya penuh selidik.
"Kau ini, seperti detektif saja!" Ucap Naruto geli "Dia bilang sih kalau baru dikota ini dan sedang mencari penginapan, soalnya dia mau bekerja disini karena itulah dia meminta bantuanku untuk menunjukkan jalan dikota ini, sekalian mencarikannya tempat tinggal!" Lanjut Naruto panjang lebar menjawab pertanyaan Ino.
Ino hanya mengangguk mengerti, sekilas ia menatap Hinata yang sedari tadi diam saja.
Menarik nafas pnjang dan menghembuskannya kasar Ino tahu betul dibalik ekspresi diam Hinata, baru saja Ino ingin mengalihkan pembicaraan tapi Hinata keburu buka suara.
"A-ano, namanya siapa Naruto-kun?"
"Eng.. kalau tidak salah namanya Konan, dia kelihatannya seumuran denganku dan berambut pendek!" Jawab Naruto mengingat-ingat kembali wanita yang disebutnya. Hinata hanya menunduk mendengarkan "Memangnya ada apa Hinata-chan?" Tanya Naruto bingung.
"Tidak ada apa-apa Naruto-kun!"
Entah keberapa kalinya Ino menghela nafas panjang melihat dua orang dihadapannya. Yang satu wanita dengan dua kepribadian dan dan satunya lagi laki-laki pirang yang gagal paham.
"Oh ya, setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang Hinata-chan!" Ujar Naruto
"Menurutku lebih baik Hinata malam ini menginap disini saja!" Ino angkat bicara menyampaikan pendapatnya.
"Tapi kan..besok kalian sekolah!"
"Jangan khawatir kakakku yang bodoh, besok itu hari sabtu dan hari sabtu itu adalah hari bebas seragam disekolahku, itu artinya tak masalah jika murid-muridnya berpakaian biasa!" Jawab Ino dengan penjelasan panjang dikali lebar.
"Iya, tapi kan-..!"
"SUDAH JANGAN CEREWET KAK, HINATA BESOK BISA PAKAI BAJUKU!" Teriak Ino kesal dan langsung menarik tangan Hinata agar ikut naik kekamarnya meninggalkan Naruto yang menggigil ketakutan karena diteriaki. Ino berkali kali harus mendengus kesal dengan kakaknya yang menurutnya super telat mikir itu.
Setelah sampai dikamar Ino dan Hinata langsung berbaring diatas kasur yang kebetulan muat untuk dua orang, sejenak tak ada suara namun Ino kemudian angkat bicara tentang hal dimeja makan tadi.
"Hei Hinata, kau sedang tidak berfikir untuk menyerang orang lagi kan?"
"..."
"Dengar ya Hinata, baik aku ataupun kakakku tak ingin melihatmu seperti dulu lagi, kalau kakakku didekati wanita lain, kau cukup diam saja dan mengatakannya padaku, nanti akan kusampaikan pada kakakku, jangan gunakan kekerasan ataupun ancaman pada orang lain. Kakakku juga tak akan semudah itu berpaling pada wanita lain, aku sebenarnya mengerti perasaanmu tadi, tapi jadilah pribadi yang lebih bijaksana lagi dalam hal semacam ini!" Ucap Ino panjang lebar mencoba menasehati Hinata "Bagaimana?" lanjutnya menoleh kearah Hinata namun yang didapatinya hanyalah Hinata yang sudah memejamkan matanya, sepertinya ia sudah tertidur.
Ino tak tahu harus apa lagi, yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha mencegah aksi nekat Hinata jika sewaktu-waktu sisi gelapnya kambuh. Merasa sudah mengantuk Ino mematikan lampu dan terlelap
"Oyasumi!"
Sepuluh menit berlalu dalam kamar Ino tak ada lagi suara kecuali dengkuran halus dari mulut Ino yang menandakan ia sudah tertidur pulas, namun berbeda dengan Hinata.
sejak Ino mematikan lampu Hinata justru membuka matanya dengan tatapan kosong, Hinata meremas selimutnya
'kau salah Ino, kau tak akan pernah mengerti perasaanku!'
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG!
PENGUMUMAN RESMI :
Akun lamaku (retsuya02) entah kenapa ga mau kebuka lagi, jadi sekarang aku pakai akun baru yang ini (retsuya002) hehehe nama akun hanya berubah sedikit kok! Untuk pertanyaan lain (jika ada) silahkan pm saya #smile
Yah..hallooo... mungkin ada yang bertanya, loh fic ini kan? Anu... itu... atau apapun pertanyaan kalian jawabannya nyehehehehe...!
Sayapun heran mengapa tiba-tiba pengen update fic ini, padahal sebelumnya sudah saya umumkan bahwa fic ini kandas tengah jalan, tapi setelah saya baca beberapa komentar di chap sebelumnya (chap 01 di akun lamaku) ternyata ada beberapa yang nuntut untuk dilanjut.
Jadinya sayapun mencoba kembali mengingat-ingat tentang alur yang sudah kurencanakan sebelumnya, dan hasilnya yah... syukurlah masih ingat,
Ada yang bertanya kenapa ceritanya ada unsur YANDERE?
Engg... entahlah, kepikiran aja pengen sedikit mengambil karakter YUNO GASAI (mirai nikki) dan nyentil dikit ke perasaan kesepian milik KUROSAKI MEA (To Love Ru : Darkness 2nd).
Dan sialnya yang kebagian peran itu adalah Hinata :v
Bagi fans HINATA maap yah udah ngerubah karakter malu-malunya dengan seenaknya -_-
Jika penasaran lanjutan ceritanya, mohon reviewnya yah! #smile
Salam ko*ok-koc*k...! ;v
