Ino meregangkan tubuhnya untuk melepaskan rasa pegal yang sedari tadi dirasakannya akibat duduk dibangku kelas selama kurang lebih dua jam lamanya. Yah, saat ini Ino sedang berada didalam ruangan kelas dan pelajaran matematika yang menyiksa baru saja selesai, dan untungnya lagi bahwa pelajaran itu adalah jam pelajaran terakhir jadi saatnya pulang kerumah. Namun Ino sedikit mendengus kesal dikarenakan cuaca siang ini cukup terik sehingga baru berjalan beberapa langkah saja keringat langsung menetes dilehernya.

Ino segera melangkah keluar kelas Rasa lapar yang diderita Ino membuatnya kurang focus terhadap keadaan sekelilingnya, hingga tanpa sadar Ino mengabaikan dua sahabatnya yang membuntuti langkahnya dari belakang.

"nih tisu, lap tuh keringatmu!" salah seorang dari sahabatnya itu menyamakan langkah dan meyodorkan sebungkus tisu padanya. Ino tersenyum gaje dan langsung meraih bungkusan kecil tisu tersebut "Terima kasih jidat!" gadis yang dipanggilnya jidat itu hanya bisa mendengus seraya membalas "Sama-sama pig!"

"oi Hinata, kau mau langsung pulang atau mau kerumahku saja?" Tanya Ino pada gadis satunya lagi dibelakangnya

"Ji-jika boleh aku mau kerumahmu saja!" Jawab Hinata dengan sedikit rona diwajahnya. "Ara-ara.. mau menemui pangeranmu ya?" goda Sakura sambil menyikut Hinata pelan. Hinata sendiri salah tingkah dibuatnya.

"Ya sudah lagi pula biasanya hari sabtu kakakku cepat pulang kalau tak ada tambahan jam jaga!" Sahut Ino santai, "dan kau jidat bagaimana?" Tanya Ino kemudian pada Sakura.

"Umm.. sebaiknya aku pulang saja deh, lagian aku juga ada kerjaan dirumah!" Jawab Sakura.

"Paling tidur setelah makan!" cerocos Ino

"Urusai!"

Mereka bertiga terus berjalan meninggalkan sekolahan dengan obrolan-obrolan ringan, dan ketika sudah sampai dipertigaan, Ino dan Hinata berjalan terpisah dari Sakura karena memang arah jalan menuju rumah sakura sudah tidak searah lagi. Sakura melambaikan tangan tangan sambil berteriak,"Sampai jumpa besok ya!"

Ino dan Hinata membalas lambaian Sakura "Ya, dan ingat besok kita ketaman hiburan!" Sahut Ino sedikit berteriak pada Sakura yang sudah mulai berjalan menjauh "tentu saja!" balas sakura.

Sebagai catatan Ino, Hinata dan Sakura sudah berencana untuk ketaman hiburan pada hari minggu besok, tentu saja Naruto ikut serta, karena berkat dirinya yang memenangkan tiket emas, sehingga semuanya bisa bersenang-senang besok, tiketnya memang selembar tapi tiket tersebut bisa digunakan sampai 4 orang dan hebatnya lagi tiket emas itupun memungkinkan pemiliknya untuk bermain diwahana apapun yang diinginkan secara gratis. HEBAT KAN?

SKIP

Ino dan Hinata saat ini tengah berada dikamar milik Ino sendiri, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang rencana besok. Ino sendiri tampak antusias memikirkan wahana apa saja yang menurutnya menarik untuk dicoba. Sedangkan Hinata sedikit melirik jam dinding dengan perasaan gelisah. Ternyata naruto tidak cepat pulang hari ini, mungkin dapat jatah jam tambahan dipos jaga. Hinata sedikit kecewa tidak bisa makan siang dengan Naruto dirumah, padahal Hinata begitu sampai dikediaman Namikaze, Hinata dengan semangat langsung menuju dapur dan mempersiapkan bahan-bahan untuk dimasak, Ino sendiri tadi sempat terkagum-kagum melihat kepandaian Hinata dalam hal memasak (berbeda sekali denga dirinya).

Tapi hingga jam tiga pun Naruto belum pulang dan hanya megirimi pesan kepada Ino bahwa ia tak bisa cepat pulang hari ini, tentu saja Hinata jadi kecewa masakannya pun jadi dingin dan Hinata jadi tak selera makan, beruntung ino yang memang sudah kelaparan dari sekolah tadi langsung melahap semuanya dengan garang. Jadi makanan sisa tak terlalu banyak.

Menyadari kegelisahan Hinata, Ino pun ikut melirik jam didinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 05.30 pm. Ino kemudian menghembuskan nafas panjang dan mendekati Hinata yang berdiri didekat jendela "Sudahlah, jika kakakku tak bisa pulang cepat apa boleh buat kan? Sebagai gantinya kau boleh menginap lagi kok malam ini disini!" bujuk Ino sambil tersenyum manis.

Hinata senang mendengarnya "Sungguh?"

"iya, iya.. dengan demikian kau bisa memasak lagi untuk kakakku malam nanti kan?" jawab Ino sedikit malas karena tahu hanya dengan cara itu yang bisa membuat Hinata jadi senang kembali.

Drrtt..ddrtt..drrtt..!

Ino langsung meraih ponselnya diatas kasur setelah melihat lampu lednya meyala menandakan ada panggilan yang masuk. Ino tersenyum dan menunjukkan layar ponselnya pada Hinata karena disana tertera nomor dan nama oni-chan baka yang berarti telepon dari Naruto, Hinata terlihat senang. Ino langsung menekan tombol hijau.

"Hei, kakak kemana saja kenapa baru menelepon sekarang hah?" bukannya menjawab dengan cara biasa Ino malah langsung mengomeli kakakknya ditelepon, itu membuat naruto diseberang sana jadi swetdrop.

"A-ano, maaf yah, tadi aku dapat jatah jam tambahan jaga dan baru selesai sekarang!" jawab Naruto pada akhirnya "Oh ya, Hinata bersamamu?" lanjut Naruto bertanya.

"ya, dia bersamaku sekarang dan dia sudah menunggumu tahu dari tadi dengan khawatir!" Jawab Ino

"ah, begitu yah katakan padanya aku minta maaf sudah membuatnya khawatir!"

"Cih, katakan saja langsung padanya!" Jawab Ino malas dan langsung menyerahkan ponselnya pada Hinata.

"Eh?"

"Ha-halo Na-naruto-kun!" Sapa Hinata setelah menerima ponsel Ino.

"ah, halo Hinata-chan, maaf ya membuatmu menungguku lama!"

"Mmm.. Naruto-kun tidak salah kok, justru aku yang salah karena tak mengatakannya lebih dulu pada naruto-kun!"

Naruto tersenyum "Ya sudah aku segera pulang kok!" Hinata mengangguk "I-Iya!"

Dan panggilan pun diakhiri dengan rona tipis diwajah Hinata, ia sangat senang sekali karena sudah mendengar suara dari sang kekasih yang sangat amat dicintainya. Ino yang melihat ekspresi Hinata hanya bisa geleng-geleng kepala "apa orang yang jatuh cinta itu sampai segitunya?" gumam ino.

30 menit kemudian..

"Tadaima!"

Suara pria dewasa terdengar didepan pintu yang sudah terbuka, Hinata segera turun dari lantai dua untuk meyambut sipemilik suara tersebut dan siapa lagi kalau bukan Naruto sendiri. Hinata tersenyum maliu-malu saat melihat Naruto dengan cengiran rubahnya.

"O-okaeri Naruto-kun!" Jawab Hinata masih dengan ekspresi malu-malunya dan terus menunduk dipikirannya saat ini, ia sudah seperti istri sungguhan yang meyambut suaminya pulang bekerja. Membayangkan hal seperti itu membuat wajahnya merah padam.

"permisi!"

Namun itu tak berlangsung lama karena suara wanita dewasa tiba-tiba saja terdengar dari punggung Naruto, Hinata langsung mendongak menatap wanita dibelakang Naruto, wanita itu memiliki rambut pendek dengan warna ungu mirip warna rambut Hinata dikepalanya terpasang jepitan rambut dengan motif mawar merah. Paras wanita itu sanagat cantik dan tampak dewasa.

Hinata yang semula berekspresi merona langsung berubah total menjadi datar, tangannya terkepal erat "Siapa wanita ini?" batin Hinata.

"yo.. kakak sudah pu-..!" Ino yang baru saja turun dari atas kamarnya tampak terheran-heran melihat wanita disamping kakaknya "…lang yah? Lanjut ino.

"Yah, maaf terlambat dan kenalkan, ini teman kakak namanya Konan ia baru pindah kekota ini!" ungkap Naruto, wanita itupun langsung membungkuk sedikit sambil tersenyum manis "Salam kenal, namaku Konan dan aku berasal dari Suna!" Ino mengangguk kaku, ia sendiri masih bingung mengapa kakaknya sampai mengajaknya datang kerumah mereka, terlebih lagi Ino sudah menyadari dari tadi jika aura Hinata sudah tak secerah tadi.

"ya-yah.. Namaku Namikaze Ino, adik dari Namikaze Naruto salam kenal!"

"Salam kenal Ino-chan!"

"sial ,pakai suffix –chan lagi!" batin Ino.

"Etto.. kalau anda?" Tanya Konan pada Hinata, namun Hinata hanya diam dengan tatapan dingin.

"….."

"Dia Hyuuga Hinata, teman sekelas Ino!" sahut Naruto kemudian, "dan aku tadi bertemu dia dijalan dan sekalian saja mengajak Konan-san kesini agar sewaktu-waktu jika butuh bantuan ia bisa langsung kesini!" lanjut Naruto dengan cengiran tanpa dosanya. Ino menarik nafas pendek dan menghembuskannya kasar "jadi begitu, ya sudah ayo masuk!"

Naruto dan Konan langsung berjalan menuju ruang tamu, sedangkan Ino tak beranjak dari tempatnya berdiri karena sibuk memperhatikan Hinata yang juga tak beranjak dari tempatnya berdiri. Kepala Hinata terus merunduk menyembunyikan wajah datarnya, ia tak bisa terima ada wanita lain yang dengan berani mendekati Naruto, apa lagi jika diperhatikan raut wajah Konan tadi terlihat merona berada didekat Naruto. Membayangkan wajah Konan yang seperti itu membuat Hinata benar-benar marah.

Hinata benar-benar merasa terancam posisinya, dan Hinata merasa jika Konan sebaiknya tak ada.. yah.. sebaiknya tak ada. "Hei, kau tak apa-apa?" Tegur Ino cemas, namun Hinata hanya menoleh pada Ino dan tersenyum tipis "Hmm.. aku tak apa, ayo kita juga harus masuk, kau temani mereka dulu dan aku akan membuatkan teh hangat untuk Konan-san!"

Entah mengapa perasaan Ino jadi gelisah melihat ekpresi Hinata, meski dalam keadaan tersenyum namun mata Hinata tampak kosong, Hinata kemudian berjalan meninggalkan Ino menuju dapur "akan kubuatkan.. akan kubuatkan..!" gumam Hinata dengan nada datar.

Ino pun keruang tamu dan mendudukkan dirinya disofa meski ada perasaan cemas terhadap sesuatu namun Ino tetap bersikap seperti biasanya, ia menyesali sifat kakaknya yang ternyata tak menyadari perubahan sikap Hinata, padahal Ino sudah berkali kali memberikan peringatan untuk Naruto, namun Naruto susah untuk dibilanginnya. Ia hanya bisa berharap tak ada sesuatu yang aneh yang akan terjadi sore ini.

Ino ikut tersenyum dikala mendengar cerita dari Konan seputar pengalamannya waktu baru tiba dikota Konoha, setelah kecopetan ia malah bertemu naruto yang bertugas sebagai polisi. Naruto pun sesekali tertawa jika mendengar sesuatu yang menurutnya lucu, sebenarnya dimata Ino , konan wanita yang baik dan sepertinya ia wanita yang bersifat periang, wajar jika Naruto cepat akrab dengannya ,mengingat sifat Naruto yang juga sama.

Beberapa menit berlalu Hinata pun muncul dari dapur dengan membawa 4 gelas berisi teh hangat dinampan. Obrolan ringan Naruto dan Konan pun terhenti sejenak, Hinata menaruh gelas satu persatu di atas meja sambil terus tersenyum. "Wah, Hinata-chan maaf merepotkan sebaiknya tadi tidak usah dibuatkan!" Ucap Konan. Hinata balas tersenyum dan ikut duduk disofa "Tak apa, silahkan diminum!"

Konan pun mengambil gelas yang diberikan padanya dan hendak meminumnya namun..

Tapp…!

Ino tiba-tiba saja mengehentikan tangan Konan dengan cara memegang pergelangan tangan Konan. Konan bingung begitu juga Naruto "Maaf, sepertinya itu gelasku hehehe!" Ino segera merebut gelas itu dari tangan Konan yang terlihat pasrah saja "sekali lagi aku minta maaf ya Konan-san, aku tak terbiasa minum teh tanpa gelas ini, iya kan kakak?" lanjut Ino menatap Kakaknya.

"aku tidak tau sejak kapan kau punya gelas khusus?" Tanya Naruto bingung. Ino malah bangkit berdiri "Maaf aku kedapur dulu, Konan-san ambil teh yang ini saja ya!" Ino meyodorkan teh digelas lain yang tersedia diatas meja. Konan hanya mengangguk "Ia, tak apa-apa kok!"

Ino sedikit tergesa-gesa menuju dapur sambil membawa gelas berisi teh yang semula disajikan untuk Konan, ia sendiri tak tahu kenapa ia mengambil gelas teh milik Konan. Ia hanya merasakan firasat buruk didalam teh tersebut, dan untuk membuktikannya ia ingin melihat isi teh dalam gelas yang beberapa detik Ino melihat kedalam gelas dan memperhatikannya.

Mata Ino membulat karena terkejut melihat isi gelas tersebut, firasat buruknya terbukti didalamnya bukan hanya sekedar teh, tapi ada sebuah benda tipis terbuat dari besi dan sangat tajam didasar gelas.

"Si-silet?" Ino kali ini benar-benar shock. Ia tak menyangka Hinata akan senekat itu "apa-apaan ini, apa ia berniat membunuh seseorang?" Tanya Ino entah pada siapa.

Ino segera menumpahkan semua isi gelas tersebut dan mengambil silet yang ada disana, dengan tatapan tak percaya Ino terus menatap silet yang ada ditelapak tangannya. Ia benar-benar sulit percaya jika hinata melakukan ini, jika sampai tadi terminum oleh Konan, bukankah akibatnya bisa fatal? Dan yang lebih buruk lagi Konan bisa menelan silet tersebut dan tersedak dihadapan Naruto.

Membayangkan itu saja sudah membuat Ino ketakutan setengah mati, Hinata benar-benar sudah lepas kendali. Hinata sudah berniat membunuh seseorang tanpa memikirkan akibatnya.

Karena terlalu terkejut Ino tak menyadari kedatangan Hinata didekatnya, ia baru meyadari setelah Hinata menimbulkan suara kecil didekat peyimpanan pisau dapur yang tergantung. Untuk kesekian kalinya Ino dibuat terkejut dan ketakutan melihat tingkah Hinata yang meraih salah satu pisau dapur berukuran sedang. Bahkan Hinata sendiri tampak mengabaikan kehadiran Ino disana dan tetap melakukan aktifitasnya.

"O-oi, apa yang kau mau lakukan dengan pisau itu Hinata?" Tanya Ino cemas.

Hinata menoleh kearah Ino dengan wajah tanpa ekspresi dan sorot mata yang kosong, ditangannya kini menggenggam sebuah pisau dapur "Menyingkirkan penghalang!" gumam Hinata dan mulai melangkah keluar menuju ruang tamu tempat dimana Konan dan Naruto berada, namun segera dicegat oleh Ino.

"apa kau sudah gila? Bisa kau bayangkan jika kau melakukan hal yang berbahaya didepan Kakakku hah?, mungkin saja kakakku tak akan mau melihatmu lagi dan membencimu selamanya!" Ucap Ino berharap Hinata mau menghentikan perbuatan nekatnya. Ino meremas pergelangan tangan Hinata "Oi.. Hinata sadarlah!" panggil Ino lagi.

Hinata menoleh kearah ino, tatapan mata Hinata yang semula kosong secara perlahan terlihat kembali sperti biasa, sepertinya ucapan Ino tadi berhasil menyadarkan Hinata "Ta-tapi wanita itu bisa mengambil naruto-kun dariku hiks..!" Hinata mulai menangis.

Memeluk tubuh Hinata, Ino berucap pelan "Kau jangan takut, Kakakku tak akan semudah itu direbut wanita lain!"

Hinata menjatuhkan pisau ditangannya begitu saja diatas lantai dan membalas pelukan Ino dengan isakan "Hiks..ma-maafkan aku, tapi aku benar-benar takut ino..hiks..aku sangat takut!"

Ino terseyum mendengar pengakuan Hinata "hei..hei.. sudah, kau kan pernah bilang kalau kakakku mengatakan jika dia tak akan pernah meninggalkannmu dan tak akan mengabaikanmu kan?" Hinata mengangguk dalam pelukan Ino "Nah, aku juga sudah pernah bilang padamu, kalau kakakku tak akan pernah menarik kata-katanya, ingat?" lanjut Ino dan sekali lagi Ino merasakan Hinata dipelukannya mengangguk.

Ino luar biasa lega bisa kembali meredam amarah Hinata, itulah sebabnya semenjak Hinata berhenti menjadi ketua geng dan berhenti membuat kekacauan dikota, Ino memutuskan akan tetap menganggap Hinata sebagai adiknya. Dan ia sangat merestui jika Hinata dan kakakknya bisa bersama, alasannya? Karena Ino tahu jika hanya Naruto yang bisa dia andalkan, dia adalah kakak yang bodoh namun Ino akui bahwa kakakknya selalu bisa melindungi apa yang disayanginya.

Hinata tak pernah mendapat perhatian dari orang tuanya, maka sebagai gantinya naruto mencurahkan semua rasa sayangnya terhadap Hinata, tentu saja bukan sekedar kasihan, tapi karena didasari oleh cinta yang terus tumbuh diantara keduanya. Yah.. setidaknya itulah yang dipercayai Ino dari Naruto, kakaknya yang bisa diandalkan.

BERSAMBUNG COIIII…!

.

.

.

Free talk : akh… maaf fic ini lama banget upnya T T hehehe ga papa kan..? yang penting dah di up.

Oh ya, gimana nih, soalnya kepribadian Yandere Hinata dichap ini saya coba untuk lebih menonjolkannya lagi, jadi.. berhasil tidaknya itu tergantung penilaian dari teman-teman semua! Hohoho. Kalaumemang sukses aku lanjut, tapi kalau gatot, yah.. mungkin hiatus aja wkwkwkw

.

.

.

Review sahabat :

Naruhina Legends : hmm… bisa jadi sih

Byakugan no hime : ga tau nih, pas mau buka eh.. ga bisa login padahal passwornya dah bener loh

Sederhana : ntar malah ada adegan berbahaya lagi, jadi tunggu aja

Kurotsuhimangetsu : sip aku juga suka karakter seperti itu, makanya bikin ginian.

Yosh… itu saja dulu yah, maaf buat yang ga kejawab reviewnya yah… MAAAAFFFF banget

Sampai jumpa lagi dicahp depan.

arigatou