"Kakura-san !"
"Tidak, Saya. Aku tidak bisa membiarkan ini."
"Kumohon, pikirkan perasaannya. Setidaknya kita masih bisa membicarakannya, bukan ?Aku yakin ini hanya salah paham."
"Apa lagi yang kau ragukan ? Pengakuan mereka bertiga sudah cukup untuk memperkuat dugaanku. Aku harus menyingkirkannya."
"Jangan."
"Kakura-san, setidaknya tunggulah Sei sadar."
"Aku tidak membutuhkannya."
"Kumohon, jangan..."
"Kau tidak bisa menghentikanku, aku tak memiliki seorang putra penyuka sesama sejenis."
"Hentikan.."
"Hiks, anakku maafkan ibu."
"Jangann..."
"Sei maafkan ibu."
"Okaa-sama.."
"Sei.."
"Okaa-sama..."
"Sei."
"Sei."
"Sei."
"Sei !"
"Hah, Okaa-sama ?" Akashi terbangun, terkejut dengan suara khas wanita yang sangat ia kenal. Antara sadar dengan tidak, ia masih merasa nyawanya belum kumpul.
"Kau baik-baik saja ? Wajahmu pucat sayang." Tanya wanita itu khawatir melihat keadaan putra kesayangannya yang wajahnya pucat ditambah dengan cucuran keringat membasahi tubuhnya.
"Apa kau mimpi buruk, sejak tadi kau berbicara 'jangan' ?" Wanita cantik bersurai senada dengan putranya itu menyentuh kening anaknya, memeriksa apa panas tubunya bermasalah.
Yang ditanya hanya terdiam, tak mengatakan apa-apa. Membiarkan ibunya menghapus jejak peluh yang membanjiri tubuhnya. Ia masih mencoba mengingat-ingat apa yang ia mimpikan barusan. Terasa samar, seperti ia melihat kedua orang tuanya bertengkar. Entah kapan dan dimana, seolah-olah pertengkaran itu ada kaitannya dengan dirinya. Padahal yang ia tahu ibunya tak pernah bersikap seperti itu pada ayahnya.
"Aku bermimpi Okaa-sama dan Otou-sama bertengkar." Akashi angkat bicara.
"Bertengkar ? Seperti apa ?'
"Entahlah, aku tak begitu mengingat."
"Kalau begitu jangan paksakan untuk mengingatnya, karna jika kau terlalu berusaha untuk mengingatnya mimpi itu akan semakin pergi darimu."
"..."
"Apa sebaiknya kamu istirahat dulu hari ini ? Apa mau kuantar kedokter ?"
"Tidak perlu, Okaa-sama. Aku baik-baik saja." Akashi menolak halus perkataan ibunya, ia mengerti dari raut wajahnya yang menunjukkan kalau ia khawatir. Tapi ia bukanlah anak kecil yang mudah demam. Ia adalah lelaki dewasa.
"Benarkah ? Kalau begitu segeralah menuju ruang makan, aku telah membuatkan sup tahu kesukaanmu. Kau harus memakannya selagi hangat." Ujarnya sambil beranjak dari ranjang tidur Akashi. Meninggalkan seseorang yang tengah terbaring menyandar sambil melamun.
Ckrekk
Saya menutup pintu kamar Akashi sembari termenung, memikirkan perkataan putranya barusan.
"Aku bermimpi Okaa-sama dan Otou-sama bertengkar."
'Bertengkar ? Bukankah aku jarang sekali bertengkar ?' Ia khawatir, ia memiliki firasat buruk tentang ini. Namun ia berusaha untuk menepis semua anggapan yang makin mewarnai pikirannya. Sejujurnya ia ingin bertanya lebih lanjut mengenai mimpi Akashi barusan, namun ia takut jika firasatnya benar. Ia tak menginginkan hal buruk terjadi lagi, sudah cukup ia saja yang menanggung dosa. Ia tak mau putra semata wayangnya menderita lagi akibat ketidak becusannya menjadi seorang ibu.
Walaupun kita tak bisa bersama lagi tapi ketahuilah,
Aku akan tetap mencintaimu
.
.
The Lost
Kuroko no Basuke
Disclaimer: Kuroko no Basuke Belongs Tadoshi Fujimaki
Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Rate : M (for Save)
WARNING : OOC, Typo dimana-mana, alur/tema acak-acakan(butuh perbaikan), Slash, untuk kamu haters bl saya harap jangan sekali-kali buka ini fic. Hanya untuk usia +18, yang belum cukup umur jangan nekat kalau tak ingin merasakan hal-hal aneh berupa rasa panas dan sebagainya
Genre : AU, Romance, Drama, Hurt
Original Story by
FellyXa
Ini merupakan cerita fiksi biasa, apabila terdapat
Kesamaan Tokoh maupun Cerita itu semua murni kebetulan semata
.
.
.
.
.
.
.
Menuruni anak-anak tangga berlapis batu marmer mewah untuk menuju ruang yang ibunya maksud tadi, berniat untuk menuruti perintah wanita kesayangannya. Walau ia sendiri tidak merasa lapar pagi ini.
"Sei, ayo kemari nak." Sapa ibunya ketika melihat putranya sudah sampai diruang makan.
"Astaga, putraku tampan sekali pagi ini. Aku yakin wanita manapun pasti akan merasa paling beruntung jika bisa berkencan denganmu." Goda ibunya sambil membetulkan letak dasi putranya.
Akashi hanya tersenyum melihat kelakuan ibunya. Ia memak tak banyak bicara, bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia tertawa lepas. Ia merasa setiap kali ia bangun tidur ada yang hilng dari kehidupannya. Buruknya lagi ia tak tahu apa itu. Semua itu membuatnya mencari-cari apakah yang ia rasakan selama ini adalah hal yang ia lupakan atau hanya ilusi semata ? Semuanya berakhir menjadi renungannya setiap hari.
Akashi berusaha mengabaikan hal itu dan menuju kursi di meja makan untuk merasakan masakan ibunya pagi ini, ia duduk tepat disamping kiri ibunya. Ibunya selalu mengambilkan makanan untuknya, karena ibunya tahu jika ia yang mengambil makanannya sendiri itu sama saja dengan memberika porsi makan burung padanya.
"Otou-sama, ohayou gozaimasu." Akashi yang melihat ayahnya sedang menikmati secangkir teh dari ekstrak bunga sambil memeriksa jadwalnya hari ini langsung menyapanya. Hanya sekedar menyapa, karena ibunya sudah berkali-kali mengingatkannya seberapa buruknya lelaki yang berada diseberang sana itu tetaplah ayahnya. Ia hanya basa-basi.
"Ohayou." Balasnya dingin.
"Mou, anata. Letakkan dulu dokumen-dokumenmu itu. Bukankan aku sudah bilang jika dimeja makan jangan mengerjakan apapun selain makan ?" Ibunya sedikit memarahi perilaku ayahnya yang ia rasa memang tidak baik. Walau ia sudah tak lagi memegang Akashi Royal Group, ia masih banyak pertemuan dengan client-client perusahaannya.
Akashi melihat ayahnya menuruti perkataan ibunya. Meletakkan dokumen yang tadi ia baca dan mulai menyantap sarapannya. Akashi juga begitu, tak ingin membuat makanan kesukaannya semakin dingin, ia langsung memakannya.
"Nah begitu, makanlah yang banyak. Aku masih punya beberapa, akan kubawakan untuk makan siangmu dikantor nanti. Tapi jangan lupa untuk menghangatkannya."
"Baik, ibuku." Selalu seperti ini, ibunya adalah yang paling ia sayangi didunia ini-
-mungkin.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ayah ibu."
"Hn."
"Hati-hati sayang, jangan lupa untuk menghangatkan bekalmu. Dan pulanglah sebelum makan malam."
"Baik, okaa-sama." Akashi berkata seraya berjalan meninggalkan ruang makan.
"Lebih baik kau juga bersiap, Saya. Kau juga harus ikut pergi bersamaku." Yang dipanggil langsung menoleh kearah sumber suara.
"Tidak. Aku sudah katakan semalam bukan, bahwa aku tak ikut denganmu hari ini. Aku akan bersama putraku." Balasnya menolak.
"Seijuurou sudah dewasa. Ia tak perlu terlalu kau khawatirkan."
"Dewasa atau tidak ia tetaplah putraku yang harus aku rawat. Kau juga seharusnya seperti itu, Kakura-san."
Sementara itu disana terlihat Akashi pergi menuju garasi mobilnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada diruang makan. Akashi menatap bekal yang barusan ibunya siapkan untuknya. Jika diingat ini adalah kali pertamanya ia membawa bekal kekantor. Karena memang ia tak bisa memasak, ibunya akhir-akhir ini sangat disibukkan dengan kegiatan ayahnya yang sering pergi keluar negeri untuk masalah pekerjaannya.
Ia kembali melirik bekal yang ia pegang, tertarik dengan kain yang membungkusnya. Mengapa ibunya memilihkan kain berwarna biru dengan motif bulat-bulat putih untukknya ? Tidakkah ini terlalu manis ? Dan mengapa pula ia tak protes ? Ia pun tak mengerti, seharusnya ia merasa terganggu dengan motif kain ini. Tapi untuk kali ini ia merasa tak keberatan, karena ia sendiri merasa bahwa warna ini sangat tak asing baginya. Ia merasakan kehangatan yang terpancar dari warna biru laut ini. Mengingatkannya pada seseorang yang ia tak yakin dapat ia temui hari ini.
.
.
.
.
"Ngghh."
"Midorima, bangun. Ini sudah pagi."
"Mmhh."
"Hei, bangunlah. Kau masih berada didalamku."
"Ah, maaf." Midorima langsung bangun, ia yang sejak tadi menindih tubuh wanita dibawahnya ini sekarang beranjak bangun untuk melepaskan sesuatu yang masih tertanam didalam sana.
"Kau sudah bangun, sejak tadi ?"
" Ya, dan kau juga sudah bangun." Midorima melirik kearah pandangan wanita dihadapannya. Benar, tepat dibawah pusarnya sesuatu sudah berdiri dengan tegakknya. Entah sejak kapan, meninggalkan semburat merah muda tipis dikedua belah pipinya. Ia tak tahu akan mengalami ereksi pagi ini. Karna biasanya ia tak tidur setelah bercinta.
"Huh, aku tidak suka blow job. Jadi selesaikan ini dengan cepat." Momoi langsung menyibakkan selimut yang tadi menyelimuti tubuh polosnya, memberi akses untuk pria tampan itu memasukinya kembali.
"Kalau tahu begini, kenapa kau cabut tadi ?" Momoi membawa Midorima pada ciuman panas pagi ini. Menikmati tiap sentuhan dan sensasi yang Midorima berikan untukknya.
"Maaf, aku tak tahu jika aku akan kembali 'bangun' karena melihatmu tanpa pakaian." Midorima membalas ciumannya dengan mengajak lidah wanita manis ini untuk menari.
"Mmhhnn, lakukan dengan mulutmu Midorima."
=o=0=o=0=o=0=o=0=o=0=o=
Akashi memainkan beberapa tumpukan kertas yang ada ditangannya. Sebenarnya ia tak terlalu berminat untuk membaca jika pria manis yang menjadi tangan kanannya itu memaksanya untuk membacanya. Ia tahu jika isi dari berbagai tumpukan kertas itu adalah semacam hasil dari kerja kerasnya belakangan ini.
"Presdir, sebaiknya anda baca dokumen itu. Mungkin isinya sudah dapat ditebak, tapi itu adalah hasil dari kerja kerasmu membangun perusahaan ini." Benar, kan ?
"Aku tahu." Akashi mendengus malas menuruti perkataan Mibuchi. Jika lelaki yang berdiri dihadapannya ini adalah salah satu pelayan pribadi kesayangannya, ia enggan menurutinya.
"Apa rencana dibidang pertambangan itu akan segera presdir laksanakan ?"
"Hn, aku akan segera memulai jika hasil dari lab telah kuterima." Akashi menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop dihadapannya. Ia sedang mengecek perkembangan penelitian tentang lahan pertambangan yang akan ia beli. Ia tak sembarang membeli lahan pertambangan jika tidak ia mengetahui ada tanda-tanda bahan tambang yang ia inginkan
"Jika ini berhasil, proyek ini akan menjadi investasi yang sangat luar biasa."
"Presdir benar." Mibuchi meng'ia-kan perkataan Akashi.
"Apa kau sudah menerima laporan dari perusahaan Toyashi ? Kita seharusnya sudah menerima laba dari perusahaan itu. Ini sudah akhir tahun." Kali ini Akashi memalingkan wajahnya dari benda canggih itu kearah wajah Mibuchi untuk segera meminta jawaban.
"Aku sudah meminta Sana untuk menghubungi perusahaan itu, aku baru memintanya kemarin. Tetapi wanita itu sedang absen hari ini. Mungkin aku akan menanyainya nanti siang." Balas Mibuchi seraya balas menatap wajah Akashi.
"Segera urusi itu. Dan juga wakili aku dalam pertemuan nanti siang."
"Nanti siang ? Maksud anda pertemuan dengan perusahaan dari Amerika itu ?" Mibuchi sedikit memberi penekanan terhadap perkataannya.
"Iya. Katakan pada mereka bahwa aku ada keperluan lain yang lebih penting."
'Keperluan lain yang lebih penting ? Apa lagi yang lebih dari bertemu dengan client penting dari negara besar seperti Amerika ?' Batin Mibuchi.
"Tapi presdir, ini adalah kesempatan bagi Akashi Royal Group untuk memasuki dunia bisnis barat. Kita yang selama ini baru dapat menembus pasar Asia akhirnya dapat menguasai benua lainnya. Apa anda tidak berpikir bahwa ini harus anda yang menghadiri ?"
"Aku tahu. Tapi yang mereka inginkan hanya uang. Mereka tidak membutuhkanku karena mereka hanya membutuhkan kerja sama ini. Aku yang akan mengahadiri rapat besar lusa saat kita sudah sepakat bekerja sama. Aku yang akan memberitahu mereka tentang proyek besarku nanti." Jelas Akashi panjang lebar.
"Kau hanya perlu menyetujui permintaan mereka. Beri yang mereka mau, karna setelah itu kita yang akan menguasai jalan mereka." Akashi mengeluarkan aura licik yang biasa ia keluarkan jika mengalami situasi seperti ini. Akashi tahu jika tujuan mereka adalah menghisap sari dari perusahaannya dan membuangnya jika sudah tak perlu. Jadi Akashi membiarkan itu terjadi karena setelah itu ia yang akan mengambil rumah mereka. Mereka tidak tahu jika sari yang mereka incar itu adalah racun yang berbahaya.
"Baiklah jika itu kehendakmu, tuan. Tapi jika boleh aku ingin tahu keperluan apa yang lebih penting dari pertemuan ini ?" Mibuchi mengambil langkah tengah. Ia tahu jika tuan mudanya sudah memutuskan sesuatu siapapun tidak akan dapat mencegahnya ataupun menolaknya.
"Aku akan menemui teman lama." Akashi beranjak dari kursinya menuju pintu keluar ruangannya setelah sebelumnya mematikan laptop.
"Teman lama ?" Heran Mibuchi.
"Ya. Kuserahkan yang disini padamu, Mibuchi. Hubungi aku jika ada apa-apa." Akashi keluar melalui pintu dan segera menutupnya meninggalkan seseorang yang sedang terpaku karena perkataan tuan mudanya barusan. Ia tak percaya. Hanya karena teman lama ia meninggalkan pertemuan yang akan mengubah masa depan perusahaannya ?
"Apa bangsawan selalu begini ? Kalau memang benar beruntung aku tidak terlahir menjadi bangsawan." Mibuchi, kau tak tahu jika pertemuan ini akan menjadi awal bagi kembalinya sesuatu yang telah kalian sembunyikan-
-ah tidak. Lebih tepatnya yang kalian ingin sembunyikan.
Akashi mengendarai mobil sport mewah senada dengan warna rambutnya dengan kecepatan sedang. Menuju tempat tujuan dimana ia akan bertemu dengan temannya sewaktu ia duduk di sekolah menengah. Temannya itu cukup dekat dengannya karena jika tidak dekat maka ia tak akan melakukan ini.
Sedikit mengingat pesan yang ia terima saat ia berjalan menuju kantor, terbesit rasa penasaran apakah temannya masih sama seperti dulu.
Jika dipikir-pikir, ia tak begitu mengingat masa remajanya dulu. Entah mengapa setiap ia berusaha mengingat kepalanya akan terasa sakit. Itu membuatnya sering dibawa kerumah sakit. Ia juga sering dimarahi oleh ayahnya karena ia memaksa untuk mengingat dan itu melukainya, ibunya berkata bahwa saat kecil ia pernah mengalami kecelakaan sehingga ia mengalami semacam trauma diotaknya. Masalahnya ia sama sekali tak mengingat kalau ia pernah mengalami kecelakaan seperti itu ! Ingatannya hilang ditengah-tengan. Semuanya enggan memberitahunya dengan jelas. Ia merasa ada yang tak beres.
Namun, jika bagian-bagian dari kenangan yang terlupakan olehnya ia temui atau ia lihat, sedikit banyak ia akan merasakan bahwa ia tak asing dengan semua itu. Terasa seperti deja vu.
Sering larut dalam pikiran akan keganjilan-keganjilan yang terpendam membuatnya menjadi pribadi yang tertutup untuk sebagian orang. Selama ini diam-diam ia berusaha mencari alasan mengapa ia tak bisa mengingat sebagian dari masa lalunya. Ia berbohong pada ayahnya perihal ia membangun rumah sakit itu untuk investasi. Buka berarti rumah sakit itu tak bernilai tetapi buka itu tujuannya. Karena ia juga merasa tak asing dengan rumah sakit, panti jompo dan sebagainya. Ia berpikir apa itu ada hubungannya dengan ingatannya yang hilang, ia hanya mencoba untuk mengembalikannya. Sama seperti saat ini. Ia bersedia menemui teman lamanya bukan karena untuk menghilangkan rasa rindu dan semacamnya, ia hanya ingin bertemu dengan teman bangku sekolah mengengahnya. Ia ingin tahu apakah wajahnya sama seperti yang difoto dulu atau sudah berubah.
Foto ? Ya foto. Karena ia lupa dengannya, dan yang ia miliki hanya foto saat mereka masih disekolah menengah. Tentu saja yang dapat ia bayangkan hanyalah gambaran dari foto itu.
Tak sadar ia sudah sampai ditempat yang menjadi pertemuannya dengan teman lamanya. Larut akan kecamuk pikiran sendiri membuatnya bisa menyetir dengan isi pikiran yang entah terbang kemana.
Akashi turun dari mobil mewahnya. Mengunci mobil sport itu dengan kunci otomatis dan berjalan menuju kafeteria. Semilir angin menerpa wajah tampannya. Sinar matahari pagi yang masih lumayan hangat mewarnai lekuk wajahnya. Hidung mancung ditambah wajah tirus berrahang tegas membuat wanita manapun tak dapat tak menoleh kearahnya. Kulit putih porselen yang masih nampak walau tersembunyi dibalik jas mewahnya menambah kesempurnaan putra semata wayang keluarga Akashi itu. Berbagai pujian yang terlontar dari bibir gadis-gadis diluar sana lewat dari telinga Akashi.
"Anno, shitsurei-san."
Akashi menoleh. Ia mendengar seseorang berkata didekatnya. Tepat saat ia hendak membuka pintu kafe, seseorang dengan tinggi setara dengannya berdiri dihadapannya.
"Apa kau Akashi Seijuurou ?" Tanya lelaki bersurai hitam itu.
"Ya, dan kau ?" Akashi balik bertanya.
"Aa benarkah ini ? Astaga aku pikir ada model yang sedang berkunjung kekafe ini. Ternyata dirimu. Ahaha kau sangat berbeda Akashi." Lelaki tampan itu tertawa menunjukkan keterkejutannya melihat Akashi. 'Memang seperti apa aku dulu ?' batinnya.
"Hei ini aku, Nijimura Shuzo. Jangan bilang kau lupa dengan orang yang akan kau temui hari ini." Lelaki itu masih tertawa.
"Aa, kau juga sudah banyak berubah, Nijimura." Akashi berdalih menghilangkan rasa canggungnya dengan orang itu. Bagaimana tidak, ia bahkan tak sedikitpun ingat dengan orang ini !
"Benarkah, apa aku juga menjadi setampan dirimu ? Ahahha, ngomong-ngomong bagaimana dengan kepalamu ? Kuharap kau masih bisa mengingatku saat dulu ya."
Itu dia !
"Apa maksud-"
"Ah bagaimana kalau kita masuk saja, jika disini terus kita akan menghalangi orang lain masuk." Belum Akashi menyelesaikan perkataannya, teman lamanya ini sudah mengajaknhya untuk masuk kedalam kafe.
"Baiklah." Dan Akashi menurutinya.
Sesampainya mereka didalam kafe mereka menduduki tempat yang berdekatan dengan jendela. Saat pertama kali bertemu dengan temannya ini setelah sekian lama, yang dapat ia simpulkan bahwa ia bisa memintai sedikit informasi yang dia ketahui tentang dirinya dulu. Disamping karena dia bukanlah warga sini, ia juga sepertinya tak mengenal ayah. Karena jika ayahnya tahu ia diam-diam menemui seseorang dalam rangka seperti ini mungkin ia bisa dimarahi habis-habisan.
Namun ia tetap harus hatu-hati, karna bisa saja orang ini juga punya maksud lain pada dirinya.
"Silahkan ini menu pesanannya tuan." Seorang pelayan wanita berseragam maid menghampiri mereka dengan membawa buku berisi daftar menu.
"Baiklah, aku akan pesan Mocha dan steak carammel. Kau ingin pesan apa, Akashi ?" Tanya Nijimura sambil memberikan buku menu pada Akashi.
"Apa yang baru di kafe ini ?" Akashi menerima buku menu itu dan membacanya, namun karena ia tak terlalu lapar ia menanyakan sesuatu yang mungkin akan membuatnya tertarik.
"Kami memiliki beberapa modifikasi menu dari yang sudah ada. Seperti cool pizza, sushi donnut, dan ice cream milk shake." Jawab pelayan manis dengan pita dirambut indahnya.
"Milk shakes ? Haha aku sudah lama sekali tak mendengarnya."
"Apa kau menyukainya ?"
"Ah tidak, aku alergi susu."
"Benarkah ?" 'Tunggu, kalau memang ia tak menyukainya mengapa ia mengatakannya sekarang ? Apa ini juga ada hubungannya dengan ingatanku ?' batin Akashi.
"Kalau begitu, aku ingin sushinya."
"Baik. Satu mocha dan carammel steak, sushi donnut. Anda ingin apa sebagai minumannya ?" Tanya pelayan itu setelah mencatat pesanan mereka berdua.
"Air putih saja."
"Baiklah, mohon tunggu sebentar." Kemudian pelayan wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Nijimura. Tadi kau bertanya tentang kepalaku" Akashi menggantungkan perkataannya, berharap Nijimura mengerti dan melanjutkan pertanyaannya yang sempat tertunda tadi.
"Ah benar, kepalamu. Apa sudah baikan ?"
"Um, walau aku masih harus memeriksakannya kedokter." Bohong.
"Benarkah ? Apa separah itu ?"
"Begitulah, aku masih sedikit kesulitan untuk mengingat sesuatu." Akashi memulai aksi kebohongannya. Tak biasanya orang se-perfeksionis Akashi akan berbohong seperti ini.
"Begitu ternyata, aku tak tahu perkembanganmu karena aku harus ikut orang tuaku ke kyoto."
"Tak apa. Kau tahu soal kepalaku ?" Akashi menanyainya dengan hati-hati.
"Sedikit. Aku hanya tahu kau mengalami kecelakaan dan amnesia. Namun kau berhasil mendapatkan ingatanmu setelah diobati oleh ayahnya Midorima." Benarkah ? Ibunya tak pernah memberitahunya soal itu.
"Kau tahu dari mana ?"
"Kise. Ia menceritakannya padaku sambil menangis. Ia sangat takut kau melupakannya."
"Apa ingatamu sudah pulih ?" Tanyanya kembali.
"Sebagian."
"Kalau tak salah aku juga mendengar bahwa ada yang juga mengalami amnesia sama denganmu, namun ia tidak terluka atau apalah itu."
"Siapa ?" Tunggu, penjelasannya makin membuat ia bingung. Apa yang orang tuanya katakan sama sekali berbeda dengan pengakuan lelaki ini.
"Siapa yaa... ahhh aku lupa." Nijimura berusaha mengingat-ingat.
"Lelaki atau perempuan ?"
"Lelaki. Namanya kalau tak salah, Tatsuya-tidak tidak. Kuro-apalah itu."
"Kuroko Tetsuya ?" Balas Akashi ragu.
"Ah iya ! Kuroko Tetsuya, astaga bagaimana aku bisa lupa dengan bocah pendiam yang selalu nempel denganmu itu." Jawabnya diselingi dengan gelak tawa mengingat masa lalu.
Kuroko Tetsuya ? Bukanka itu pasiennya Midorima yang beberapa waktu lalu ia kunjungi ? Apa hubungannya dia dengan Akashi ? Oh, sepertinya ini semakin rumit.
Jika tak salah, saat bertemu dengan lelaki itu dirumah sakit memang ia merasa tak asing dengannya. Ia juga merasakan hal yang sama saat bertemu dengan serpihan-serpihan kenangan yang ia lupakan. Pemuda itu memili wajah yang sangat ia kenali namun ia tak mengerti. Warna matanya, menyiratkan bahwa mereka pernah berhubungan. Saat, ia meronta-ronta padanya ia bahkan tak merasa benci ataupun jijik dengan kelakuannya. Ia bahkan makin ingin merangkulnya.
Waktu berlalu cepat sehingga mereka tak menyadari kalau mereka telah melewatkan banyak waktu untuk berbincang. Obrolan lebih banyak didominasi oleh teman lama Akashi itu. Ia banyak bercerita tentang masa lalu mereka yang membuat Akashi makin yakin bahwa ada yang tidak beres disini. Dimulai dari ia yang dipindahkan sekolahnya sebulan sebelun ujian kelulusan diadakan, sampai berita bahwa Akashi dibawa keluar negeri untuk pengobatannya. Ia sama sekali tak mengingat semua itu.
"Huaahh, aku sangat menyukai steak ini."
"Kau tak menghabiskan makananmu, Akashi ?" Lanjut Nijimura sambil membersihkan sisa-sisa makanan dimulutnya dengan serbet yang tersedia.
"Aku tak begitu lapar." Balas Akashi yang memang tak menghabiskan pesanannya.
"Oh benarkah ?"
"Jadi sekarang kau yang memegang kendali perusahaan keluargamu ?"
"Ya, ayahku memberikanku kendali penuh terhadap perusahaan. Aku juga bebas membuka banyak cabang."
"Kau hebat ya, yang aku dengar dari berita Akashi Royal Group menjadi perusahaan yang paling berpengaruh dalam pasar Asia. Kau hebat bisa mengendalikannya diusiamu yang semuda ini." Tanggap Nijimura kagum.
"Aku hanya melakukan yang aku bisa."
"Nijimura masih kuliah ?" Akashi melanjutkan perkataanya.
"Yaa begitulah, aku masih belum bisa menghasilkan uang." Jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya tak gatal.
Biipp...biiippp...bipppp..
"Ah, ponselku." Nijimura langsung mengangkat ponselnya.
"Benarkah ? Baiklah, aku akan segera kesana." Nijimura terlihat sedang menjawab panggilan seseorang diluar sana melalui ponselnya.
"Kekasih ?" Tebak Akashi.
"Ahahha, benar. Maaf Akashi aku harus pergi karena nenek pacarku mendadak masuk rumah sakit." Sahut Nijimura tak enak hati.
"Tak apa. Terima kasih sudah datang kemari."
"Hei-hei tak perlu kaku begitu, justru aku yang berterima kasih karena kau mau bertemu denganku disela-sela kesibukanmu."
"Tidak juga."
"Kalau begitu ambil ini. Itu adalah alamat rumahku. Jika kau sedang pergi ke kyoto berkunjunglah kerumahku. Walau aku juga memiliki apartemen disekitar sini, tapi rumahku dekat dengan tempat kuliahku." Nijimura memberikan secarik kertas berisi alamat rumahnya.
"Aku mengerti, aku akan berkunjung jika aku kesana."
"Oke, kutunggu ya. Kalau begitu aku perhi dulu." Nijimura menginggalkan Akashi yang masih ingin ditempat itu. Ia melihat punggung Nijimura yang semakin lama semakin menjauh. Ia memikirkan salah-satu perkataannya tentang minuman itu, ia masih heran.
Mungkin memang ia harus mencobanya.
"Permisi. Tolong Vanilla Milk Shakes ice creamnya satu."
.
.
.
.
Tuuut...tuutttt...tuuuuttt...
"Cih, mengapa orang ini sulit sekali dihubungi." Akashi berdecak kesal menatap layar ponselnya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, mohon tinggalkan pesan setelah bunyi-
"Sekarang apa !?"
"Lelaki itu-" Akashi memainkan jari-jari mulusnya dilayar ponsel.
"-Mibuchi, lacak lokasi dimana Midorima Shitoru berada. Sekarang."
Langkah Akashi terhenti tepat didepan pintu ruangan pasien yang ia tuju. Midorima sedang tak ada dirumah sakit hari ini, maka dari itu ia sendiri yang menuju ruangan pasien yang sepekan lalu ia kunjungi. Sambil dengan setia tetap memegang segelas minuman yang ia pesan saat berada dikafeteria tadi, ia membuka pintu elit itu dengan tangan kirinya yang meganggur.
Tepat setelah ia berhasil membuka pintu ruangan itu, ia disugihi pemandangan yang entah mengapa ia rindukan. Pemuda manis bertubuh mungil itu sedang duduk ditepi ranjangnya dengan matanya yang tertuju pada sebuah buku. Ia terlihat sedang membaca buku itu dengan seksama. Jika ia tak mengingat kejadian waktu itu, pemuda yang berada dihadapannya itu terlihat baik-baik saja.
Melangkahkan kaki-kaki jenjangnya dengan perlahan, Akashi hendak mendekati pemuda itu jika tidak sang empunya menoleh menyadari kehadirannya.
Wajah terkejutnya tak dapat ia sembunyikan. Sejujurnya Akashi agak takut jika dia akan kembali mengamuk, namun firasatnya mengalahkan segalanya. Ditambah perkataan Nijimura barusan memperkuat niatnya untuk kembali mengunjunginya.
"Selamat siang, Kuroko Tetsuya." Sapa Akashi sambil mendekati pemuda berkulit pucat itu.
"..." Diam. Kuroko tak berkata apa-apa setelah Akashi menyapanya barusan. Namun terlihat bahwa Kuroko tak menunjukkan tanda-tanda akan memberontak. Itu membuat Akashi sedikit lega dan memberanikan dirinya duduk dihadapan Kuroko.
"Apa aku boleh duduk disini ? Apa yang sedang kau baca-" Akashi mulai berusaha mencairkan suasana. Namun belum Akashi menyelesaikan perkataannya pemuda itu membuka mulut dan mengeluarkan suara yang sama sekali tak ia sangka.
"Milk Shake."
"Ha ?" Akashi menajamkan pendengarannya.
"Milk Shake." Kuroko mengulangi perkataannya tanpa mengalihkan pandangannya pada segelas minuman ditangan kanan Akashi.
"Ini ?" Akashi meyakinkan dirinya sendiri.
"Milk Shake itu... cair." Tunggu, ia dapat berbicara normal !?
"Kau mau ?" Akashi menawarkan segelas Milk Shake itu pada Kuroko dan hebatnya lagi dengan luwes Kuroko menerimanya kemudian langsung meminumnya.
"Apa rasanya ?"
"Enak." Jawab pemuda itu santai.
Sungguh. Akashi sangat tidak menyangka bahwa keputusannya membeli minuman itu akan menjadi awal bagi kedekatannya dengan Kuroko. Ia sama sekali tak mengira bahwa Nijimura berkata begitu karena ada kaitannya dengan Kuroko. Sekarang ia dapat menyimpulkan bahwa memang ada sesuatu antara ia dan pemuda biru manis dihadapannya yang berusaha orang tua mereka sembunyikan. Tapi apa ? Mengapa ini begitu ganjil ?
Tanpa sadar Akashi menikmati pemandangan yang tersaji dihadapannya. Melihat Kuroko meminum milk shake itu entah mengapa membuat hatinya hangat. Terbesit perasaan nyaman yang tak mampu otak jeniusnya jelaskan. Ia juga merasakan bahwa kejadian ini seperti sering ia alami. Sama seperti ia bertemu dengan serpihan-serpihan masa lalunya yang ia jumpai.
Tersenyum melihat aksi Kuroko yang sedikit kesal dengan mainannya yang mulai habis, ia mengerutkan dahinya dan memanyunkan bibir ranumnya. Manis.
"Apa kau menginginkannya lagi ? Aku bisa memberikanmu segelas milk shake jika kau mau." Akashi mengerti perasaan Kuroko. Sedikit menggodanya tatkala melihat gerak-gerik Kuroko yang kekanak-kanakan
"Benarkah ?" Mata pemuda itu terlihat berbinar-binar.
"Yup. Yang masih dingin."
Kuroko menelan ludah membayangkan betapa nikmatnya segelas milk shake yang masih dingin disiang hari. Hari-harinya yang membosankan akan menjadi sedikit menyenangkan jika ditemani minuman kesukaannya itu.
"Bagaimana caranya ?" Kuroko menjawab perkataan Akashi.
"Izinkan aku untuk mengunjungimu setiap hari."
.
.
.
.
.
~To Be Continued~
A / N
Makasih buat kamu-kamu yang udah follow, fav, comment di ig, dan untuk silent readers yang udah mampir dan baca. maaf ga bisa sebutin satu-satu.
Kalau bisa saya minta Review nya ya, walaupun saya juga bakal tetep lanjut meskipun ga ada yang baca :v tapi setidaknya ripiu kamu itu yang buat saya semangat lanjut meski sibuk ngampus.
Maaf kalau ada typo atau apa, soalnya saya barusan salah update :v
sampai jumpa kapan-kapan, maaf kalo ada typo dan kesalahan lainnya saya lagi males ngecek soalnya
Sign, FellyXa
