Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Romance, Humor.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto.

Warning: Typo, OOC, BL.


Kiba dan Chouji saling pandang sebelum menatap sosok teman mereka yang tengah duduk bersandar dengan wajah pucat. Jam istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu dan mereka sudah berada di salah satu taman sekolah sejak lima menit yang lalu. Naruto, pemuda pirang itu hanya berdiam diri tanpa ada niat untuk membeli makanan. Hell, bergerak sesenti pun sama sekali tidak ia lakukan.

Kiba menarik Chouji untuk menjauh dari Naruto sebelum berbisik dengan sweatdrop mengalir pelan di pelipisnya. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto?"

"Jangan tanya, mana aku tahu! Dia sudah seperti itu sejak pagi tadi." Chouji melirik Naruto sebelum mengusap kedua matanya. Rasa-rasanya tadi ia melihat sebuah asap putih keluar dari mulut temannya itu. Chouji bergidik ngeri temannya itu belum mati, benarkan?

Naruto menghembuskan nafasnya pelan-pelan, tubuhnya terasa lemas. Untuk mengambil nafas saja sulit rasanya untuk dilakukan. Pemuda pirang itu menggerutu pelan, ini semua salah ketua osis dengan rambut model pantat ayam itu. Hal yang semakin membuatnya kehilangan tenaga adalah setiap ia mengingat kejadian kemarin. Bagaimana mungkin ia berciuman dengan laki-laki kerkulit pucat itu?!

Pemilik mata biru itu merinding sambil memeluk badannya dan bergumam pelan, "Apa ini artinya aku homo?" Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menarik rambut pirangnya. "Tidak tidak tidak! demi para dewa ramen, aku ini masih normal!"

Kiba serta Chouji saling lirik, gagal paham dengan sikap teman blonde mereka yang tiba-tiba menjerit dan membuat pernyataan bahwa dia itu masih normal. Kiba menaikkan salah satu alisnya dan menatap Chouji, "Apa sikapnya itu masih dalam kategori normal, Chouji?"

Teman gembulnya tertawa hambar, jelas sekali ia malas menjawabnya. Atau lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. Chouji lebih memilih menikmati chiki keripik kentang dengan rasa mie goreng yang baru saja dijual. Ah... kentang dengan rasa mie goreng, remaja gembul itu sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir para pembisnis. Kentang dan mie goreng, bukankah akan lebih nikmat dan lebih kenyang dengan makan mie goreng dari pada keripik kentang? Sudahlah, Chouji tidak mau ambil pusing, melihat Naruto yang seperti mayat hidup saja sudah membuatnya pening, apa lagi memikirkan enakan mana keripik kentang rasa mie goreng atau mie goreng asli.

Mungkin sekarang para warga lebih memilih keunikan daripada keorisinilan suatu barang. Chouji mangut-mangut, ia teringat kata-kata mamanya. Zaman makin canggih, jadi jangan heran jika semua barang serba palsu. Mereka melakukan itu semata-mata persiapan jika hasil bumi dan sumber daya alam habis. Jadi jangan salahkan para pedagang nakal, mereka hanya membantu masyarakat yang tidak mampu akibat hak mereka diambil dan ditukar dengan sabu-sabu serta narkotika lainnya oleh para penjabat. Chouji mengernyit bingung, sejak kapan pemikirannya jadi ngelantur seperti ini? sudahlah lebih baik mulai sekarang Chouji hanya akan makan masakan bunda.

"Kiba temani aku balik ke kelas, aku lupa bawa bekal nih."

Kiba menatap Chouji kaget, "Tumben lupa bawa bekal, ada apa?"

"Niat awal aku tidak mau bawa, soalnya mama buat bekal penuh sayuran hijau. Dikira anak bontotnya ini kambing kali, makanannya hijau semua."

"Itu namanya kasih sayang ibu, emak kau itu Cuma ingin kamu jadi anak yang sehat. Siapa tahu saat kurban nanti, kau bisa jadi yang paling sehat dan montok."

Chouji mendelik sengit sementara Kiba tertawa terbahak-bahak. Puas menjahili teman gembulnya dan sedikit merinding mendapat tatapan tajam Chouji. Kiba berdehem pelan, berusaha menghilangkan aura sesak dari Chouji. Pemuda dengan gigi taring yang lebih runcing dari kebanyakan orang itu memberikan cengiran lebar dan menggandeng salah satu lengan Chouji.

"M-maa sayuran hijau itu bagus, siapa tahu kau jadi sixpack dan macho!" Chouji masih menatap tajam Kiba, membuat remaja itu tertawa gugup. "Cepatlah kita harus mengambil bekalmu, nanti bibi sedih pas tahu masakannya tidak kita makan!"

"Kita?" Chouji mendengus pelan, "Loe aja kali yang makan."

Kiba kembali sweatdrop melihat Chouji yang meninggalkannya dengan gerutuan yang terus ia lontarkan. Oke, Akimichi Chouji merajuk. Kalau sudah seperti ini, nanti siapa yang akan memberinya tebengan pulang sekolah? jalan kaki? Heol, jarak sekolah dengan rumahnya itu ibarat lagu the cangcutters yang hijrah ke london. Buru-buru Kiba berlari menyusul Chouji yang sudah agak jauh dan melupakan sohibnya satu lagi yang sedang bermuram durja di pojok sana.

Naruto masih setia dengan tampang 'hidup segan matipun tak mau.' Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Kiba dan Chouji meninggalkannya. Maklum saja otaknya masih geser dan nyawanya masih melayang melantah buana di luasnya langit siang ini. Sampai nyawanya ditarik paksa untuk balik kebadannya saat suara seseorang memanggil nama pemilik rambut model pantat ayam yang sejak kemarin jadi bayangan dalam benaknya.

"Sasuke ada apa dengan wajahmu?"

Naruto sama sekali tidak mengerti kenapa badannya tiba-tiba refleks bersembunyi di antara semak-semak. Memangnya dia ini telah melakukan kesalahan apa hingga seperti maling yang takut ketahuan massa? Naruto menyembulkan kepalanya dan mendapati Sasuke bersama dengan seorang remaja laki-laki bermata malas dan rambut bermodel nanas. Dalam hati, ia kembali mempertanyakan kewarasan murid-murid Konoha High School.

Sasuke menyentuh pelan pipi kirinya yang sedikit membengkak dan membiru dari balik perban yang menutupi pipinya. Ketua osis Konoha itu tertawa kecil saat teringat sesuatu sebelum manik hitamnya menangkap sosok Naruto yang tengah bersembunyi. Sungguh, Sasuke tidak bisa menahan seringaian di wajahnya.

"Ah~ ini? aku dipukul anaknya aniki saat berusaha untuk membuka celananya." Naruto yakin jantungnya lepas dari tempatnya. Wajahnya sudah merah padam dan menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. "Padahal aku hanya ingin membantunya mengganti celananya yang basah. Tapi dia malah memukulku dengan botol susunya." Suara Sasuke yang terdengar sedih bercampur kesal membuat Naruto ingin keluar dan kembali meninju wajah Uchiha Sasuke.

"Sekuat apa anaknya Itachi-nii-san sampai bisa membuat pipimu membengkak?" Shikamaru memasang wajah datar yang lebih datar dari biasanya.

"Shikamaru, aku sarankan padamu. Jangan meremehkan anak kecil dan kekuatannya." Pemilik mata malas itu hampir memutar bola matanya saat melihat tampang serius dari temannya itu.

Sementara itu Naruto tengah mengerucutkan bibirnya kesal. Wajahnya masih merah namun sudah tak terlalu seperti tadi. Mungkin salah satu kenapa badannya refleks bersembunyi adalah karena ia sadar dengan kesalahannya. Pipi Sasuke yang bengkak adalah ulahnya yang meninju wajah senpainya itu. Tapi tolonglah jangan menyalahkan dirinya, bagaimanapun itu adalah tindakan membela diri. Jika dia tidak melakukannya, senpai berwajah tampan itu akan benar-benar memakannya!

Naruto dapat merasakan dirinya kembali bergidik ngeri saat teringat kejadian kemarin sore di gudang sekolah.

.

.

.

"Naruto..."

"Hngh..." lagi, tubuh Naruto menegang saat tangan kekar Sasuke mengusap lembut pusar dan daerah bagian bawahnya. Naruto mengerang pelan, ada rasa sesak yang membuatnya frustrasi, entah apa itu tapi ingin rasanya ia bebaskan agar tidak terasa sesak.

"Naruto..." Sasuke kembali memanggilnya, kini pemuda itu juga menatap mata biru laut di depannya. "Jatuh cintalah padaku."

Naruto mengerjapkan matanya, tatapan yang Sasuke berikan seakan menghipnotisnya dan membuatnya tidak bisa mengelak. Kembali bibir mereka berdua bertemu, dan kali ini entah dorongan darimana Naruto membalas lumatan itu dan membiarkan dirinya terhanyut dalam perasaan yang tidak ia pahami.

Suara desahan serta kecupan terdengar memenuhi gudang. Naruto yakin bahwa dirinya masih sadar dan terus menerus mencoba untuk menghentikan lumatan lembut dari senpainya itu. Namun entah mengapa seluruh tenaganya terkuras setiap Sasuke mengecup dan melumat bibirnya.

"Kau basah Naruto," bisikan dari suara rendah Sasuke mampu membuat wajahnya kembali merah. Manik biru laut itu bergetar pelan sementara Sasuke tersenyum lembut. "Kau benar-benar sudah basah."

"Be-berisik! Le-lepaskan aku!" pemuda pirang itu berusaha menjauhkan badan sasuke yang menimpanya. Tapi sialnya, tidak sengaja selangkangannya bergesekan dengan salah satu paha Sasuke yang tengah bertumpu. "A—ah..."

Wajah Naruto berubah pucat, sungguh ia tidak sengaja mengeluarkan suara mengerikan seperti itu barusan. Sasuke yang mendengar desahan Naruto tersenyum kecil, diam-diam tangan kekarnya mulai meremas pelan bagian selangkangan Naruto.

"Hsst... eum...a-ah..." desahan yang Naruto keluarkan seakan menjadi pemicu bagi Sasuke untuk kembali menekan dan meremas pelan milik Naruto. "He-henti...kan... Ke-ketua...Ah!"

"Naruto..."

Sasuke melumat bibir pemuda pirang itu sementara tangannya mulai sibuk membuka resleting celana abu-abu kouhainya. Saat jemari Sasuke menyentuh boxer Naruto, pemilik mata biru itu membulat. Dengan sigap ia berusaha mendorong tubuh Sasuke untuk menjauh darinya.

"Ke-ketua hentikan! Oi... kau dengar ti-Ah! hentikan!"

Setelah mendapatkan kekuatannya lagi, Naruto segera mendorong badan Sasuke dan meninju wajah laki-laki itu. Pemilik mata biru itu sibuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan sementara Sasuke meringis pelan. Setelah nafas Naruto kembali normal, pemuda pirang itu merapikan pakaiannya yang sudah berantakan dan melingkarkan sweater coklat mudanya untuk menutupi celananya yang memang agak basah.

Naruto memandang Sasuke kesal dengan campuran jijik, marah namun juga malu. "Jangan jadikan aku pelampiasan seksmu, brengsek!" usai mengatakan hal itu Naruto segera pergi meninggalkan Sasuke yang termangu di dekat pintu.

.

.

.

"Apa yang sedang kau lakukan di sana Naruto?"

Suara Kiba sontak membuat Naruto tergagap dan berdiri dari tempatnya. Pemuda pirang itu melambaikan kedua tangannya dengan panik, "Ti-ti-tidak ada, aku tidak melakukan apa-apa kok!"

Chouji dan Kiba kembali saling lirik sebelum keduanya mengangkat bahu. Lebih baik tidak usah menanyakannya lebih lanjut. Melihat teman pirang mereka sudah kembali bersuara dan bergerak seperti biasanya, itu sudah lebih dari cukup.

Naruto yang tengah bercanda dan menikmati bekal makan siang Chouji, tidak menyadari tatapan Sasuke yang tertuju ke arahnya. Pemuda dengan rambut hitam itu tersenyum kecil sebelum berlalu bersama Shikamaru.

...

Hari ini Naruto kebagian tugas piket, dan ia tengah membawa kotak sampah untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah yang terletak di belakang sekolah. Sudah lewat seminggu pula sejak insiden terkunci di gudang dan hampir dimakan ketua osis. Dan seharusnya pemuda pirang itu bergembira karena ketua osis itu tidak mengganggu hidupnya selama seminggu ini. Namun sayangnya justru sebaliknya, perasaan aneh yang justru Naruto rasakan.

"Ini benar-benar... aneh!"

Naruto mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi selama seminggu setelah insiden itu. Meski Naruto terkadang berusaha untuk menghindari ketua osis itu, tapi entah bagaimana mereka justru sering bertemu. Entah saat berada di lorong sekolah, di kantin, di perpustakaan, bahkan di toilet. Naruto sampai sempat berfikir jangan-jangan ketua osis Konoha memiliki semacam divice yang diprogram untuk melacak keberadaannya.

Tapi bukan itu yang aneh, well mereka belajar di atap yang sama meski tingkat kelas mereka berbeda. Jadi wajar jika mereka sering berpapasan, karena itulah Naruto membuang jauh-jauh pikiran divice special itu. Hal aneh yang pemuda blonde itu maksudkan adalah, sikap yang Sasuke berikan padanya. Pemuda dengan rambut hitam serta berkulit putih pucat itu mendadak bersikap lembut padanya.

Naruto ingat saat ia tengah membawa empat kardus besar yang tingginya bahkan melewati kepalanya. Sasuke tiba-tiba datang dengan senyum tipis lalu membantunya dengan membawakan tiga kardus sekaligus. Tanpa ada ejekan yang ia lontarkan pada Naruto, mereka berjalan berdampingan dengan tenang.

Tidak hanya itu, saat Naruto mendapatkan luka di kening akibat ia tidak siap menangkap bola basket. Senpai bermata malam itu dengan sigap mengobati lukanya dengan lembut dan sekali lagi tanpa ada ejekan yang ia lontarkan ataupun kejahilan yang biasa ia lakukan.

Bukankah itu aneh? Ketua osis yang sejak Naruto mengikuti MOS selalu mengerjainya, seakan mendadak melakukan genjatan senjata. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Uchiha Sasuke?

"Sasuke-senpai... aku menyukaimu!"

Kotak sampah yang Naruto pegang hampir terlepas dari pegangannya. Buru-buru pemuda pirang itu merapatkan dirinya pada dinding. Jantungnya serasa mau lepas sangking terkejutnya mendengar nama laki-laki yang tengah ia pikirkan. Dengan perlahan, mata biru laut itu berusaha mengintip dari balik dinding dan mendapati seorang siswi dengan rambut pirang yang ia kuncir satu, tengah menunduk di depan sosok Sasuke.

"Pernyataan cinta?" gumam Naruto pelan.

Naruto berdecak pelan, kenapa harus saat ia akan membuang sampah mereka berdua ada di sana? Pemuda blonde itu sama sekali tidak tertarik untuk tahu lebih lanjut, lebih baik dia segera angkat kaki dari sini. Membuang sampah bisa ia lakukan nanti, untuk sekarang ia harus pergi agar tidak dituduh menguping.

"Maaf. Aku... menyukai orang lain."

Jawaban yang Sasuke berikan, sukses membuat langkah pemuda pirang itu berhenti.

Siswi kelas satu yang memiliki rambut panjang itu terdiam untuk beberapa saat. "O-oh.. begitu. Ka-kalau boleh tahu... seperti apa dia senpai?" gadis dengan wajah barbie itu berusaha tersenyum walau tipis.

Sebelah alis Sasuke terangkat, ia tidak mengerti kenapa gadis di depannya menanyakan hal itu. Untuk apa menanyakan orang yang ia sukai? Bukankah hal itu malah membuatnya semakin sedih? Pemikiran perempuan memang tidak mudah ditebak. Atau mungkin perempuan itu termasuk dalam kategori M?

Sasuke menghela nafas pelan, manik hitamnya menatap langit yang cerah di atas sana. Langit biru yang terbentang tanpa ada awan yang menghalangi. Langit yang mengingatkannya pada sepasang mutiara biru.

"Dia itu bodoh."

Yamanaka Ino mengerjapkan matanya, sementara Naruto hampir terjungkal. Pemuda pirang itu merutuki ketua osis dengan kata-katanya yang menyebalkan. Ino masih mematung dan tidak terlalu yakin dengan apa yang ia dengar.

Sasuke mengulas senyum tipis saat mengingat kebodohan Naruto serta senyum cerah yang selalu laki-laki itu berikan. "Meski begitu, bisa dibilang kalau dia adalah sosok yang aku butuhkan." Manik malam itu kini menatap lekat mata Ino. "Dan hanya dia yang aku inginkan."

"Rasanya... aku berada dalam situasi yang gawat." Pemuda pirang itu bergumam pelan, tangan kanannya mencengkram dada kirinya. Ada dentuman di sana, dengan tempo pelan yang berubah menjadi cepat dan seakan menendang hendak keluar. Tidak kuat menahan debaran jantungnya yang menggila, Naruto bersandar dan jatuh terduduk. "Sepertinya... aku sakit parah..."

.

.

.

Sasuke menguap lebar, jemarinya menyisir pelan rambut hitam malamnya. Adik kelas yang menyatakan cintanya telah berlalu sejak tadi. Remaja itu mengayunkan langkahnya menuju kelasnya untuk mengambil tas sebelum melangkah pulang. Namun langkahnya terhenti sebelum berbalik, rasanya tadi ujung matanya menangkap sesuatu yang berwarna kuning terang.

Sebelah alisnya kini terangkat, "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"

Pemilik rambut pirang itu mendongak untuk melihat Sasuke yang tengah memandangnya heran. "Meredakan debaran jantungku." Jawab Naruto polos, selang beberapa detik wajahnya berubah merah. Pemilik tiga garis halus itu sepertinya baru tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

Bungsu Uchiha kini menyernyit sebelum tersenyum tipis. "Kau tahu, menguping itu tidak baik."

"Aku tidak menguping!" elak Naruto sambil berdiri dari duduknya.

"Lalu sedang apa kau di sini?"

Naruto mendengus pelan lalu mengambil kotak sampah dan memperlihatkannya pada Sasuke. "Aku sedang membuang sampah!" pemuda pirang itu mengayunkan langkahnya meninggalkan ketua osis Konoha.

Senyum manis masih terulas di paras Sasuke sementara pemiliknya menghampiri pemuda blonde. Sekuat hati pemilik mata biru itu memasang wajah kesal, berharap Sasuke cepat pergi meninggalkannya. Namun naasnya justru lelaki berkulit putih pucat itu memukul dinding di sebelahnya. Hampir Naruto memutar bola matanya malas, apa yang sedang Sasuke coba lakukan? melakukan kabe-don? Oh ayolah hanya para gadis yang akan histeris dengan perlakukan seperti itu.

Naruto melirik Sasuke yang masih tersenyum di sebelahnya, "Apa?"

"Apa jantungmu kembali berdebar?"

Naruto menatap Sasuke aneh, "Sepertinya kepalamu terbentur ketua." Pemuda pirang itu menunduk untuk melewati lengan Sasuke namun sekali lagi ketua osis itu memukul dinding dan melakukan kabe-don. Naruto berani taruhan, para gadis yang histeris karena perlakuan kabe-don adalah para gadis bodoh yang tidak bisa membedakan, debaran jatuh cinta dengan debaran kaget.

Pemuda pirang itu mendelik kesal, "Teme... kau mau membuatku spot jantung?"

Lelaki raven itu mengedikkan bahunya, "Tidak, aku hanya ingin membuatmu kembali berdebar."

Tidak mau ambil pusing dengan keanehan –melarikan diri sebenarnya— dari Sasuke, Naruto segera mempercepat langkahnya. Namun sekali lagi Sasuke melakukan kabe-don dan menghentikan langkahnya. Naruto menggeram pelan, kesal dengan tingkah ketua osis.

"Sebenarnya kau mau apa?" manik biru lautnya menatap nyalang mata hitam di depannya.

"Aku serius mengatakannya, Naruto." Butuh dua kali kerjapan mata untuk membuat Naruto fokus dan paham kalau pemuda di depannya tidak lagi bercanda. "Hanya kau yang aku inginkan," Sasuke kembali bersuara.

Kali ini Naruto balik memandang Sasuke dengan serius. "Kenapa harus aku? Masih banyak perempuan dan laki-laki di luar sana." Pemilik mata biru itu kini meletakan kotak sampah di sampingnya dan menatap Sasuke. "Kita ini laki-laki, dan jangan katakan kalau itu tidak masalah karena sekarang di beberapa negara telah menerima pernikahan sesama jenis." Perkataan Naruto membuat anak bungsu Uchiha terdiam.

"Aku anak tunggal di keluargaku, ketua. Dan sebagai anak satu-satunya, aku harus mewarisi nama keluargaku. Menjalin suatu hubungan yang bahkan tidak terlihat ujungnya, itu hanyalah membuang waktu dan tenaga." Merasa tidak ada lagi yang harus ia katakan serta Sasuke tampaknya tidak ingin bicara kembali. Naruto mengambil kotak sampah yang telah kosong dan melangkahkan kakinya.

"Karena di dunia ini Uzumaki Naruto hanya ada satu!" Suara lantang dari Sasuke mampu membuat Naruto menghentikan langkahnya.

Pemuda pirang itu berbalik dan membalas tatapan tegas dari Uchiha Sasuke.

"Karena hanya ada satu-satunya, aku tidak bisa menerima perasaanmu, ketua."

.

.

.

To Be Continue...

AN/ Pertama-tama aku mau mengucapkan terimakasih pada mereka yang Favorite/Follow/ dan review dalam fanfic ini. Lalu bergembiralah~ aku gak jadi bikin cerita ini ending di chapter ke-tiga. Entah endingnya di chapter berapa, tapi aku berencana untuk gak buat cerita ini terlalu panjang. Well i'm not good enough with shounen-ai *wink* dan kalaupun ada yang kebablasan dan kewarasan fanfic mulai dipertanyakan (?) anggap saja saya lagi dapat ilham *jedukin pala*

Seperti biasanya, untuk beberapa guest akan aku balas komentar kalian di sini.

Tora-chan: Ranting T yang kadang hampir merembet ke M *kedip2 gatel*

KuroSNL: Hubungan yang melejit sebelum jatuh kembali dari langit *plakk*

Arashilovesn: Selama modusnya bisa dipakai kenapa enggak *nyengir kuda*

Neko-chan: nah... itu dia, belum kepikiran kapan sasuke tahu kalau yang ngunciin naru itu si sui hehe

Guest: Oh gak suka NaruSeme? Well don't worry dude, di sini Naru itu Uke xD

Mikukako: walah salah nama ya? Hehehe sorry *puppy eyes* makasih ya udah baca Miku-chan.

Ima: maaf sudah menghancurkan harapanmu, SasuNaru belom jadian TT_TT

Sampai bertemu di chapter depan sobat~