Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Romance, Humor, Drama.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto.
Warning: Typo, OOC, BL, Slow Up.
.
.
.
'Aku serius mengatakannya, Naruto.'
.
'Hanya kau yang aku inginkan.'
.
'Karena di dunia ini Uzumaki Naruto hanya ada satu!'
.
Tsunade menatap heran cucu semata wayangnya. Remaja tanggung itu sejak tadi hanya melamun di depan makanannya. Padahal hari ini, Tsunade sudah sengaja membuatkan makanan tanpa sayuran hijau. Tapi bukannya semangat makan, Naruto hanya melamun sejak tadi.
"Naruto!" panggil Tsunade, namun remaja pirang itu tetap bergeming. Sekali lagi Tsunade memanggil cucunya, kali ini dengan sedikit pukulan di meja. "NARUTO!"
"Eh, a-apa? Ada apa Tsunade-ba-chan?"
Wanita tua yang masih memiliki kulit kencang dan cantik itu mendengus pelan. "Kalau kau tidak mau makan, lebih baik belajar sana!"
Sadar kalau dia sudah membuat neneknya kesal, Naruto segera memasang cengiran bodohnya. "Hehehe maaf ba-chan, Naru makan kok. Jangan cemberut begitu, nanti cepat tua loh."
"Memang ba-chan belum kelihatan tua?"
Naruto mengangguk cepat, lelaki pirang itu mengacungkan ibu jarinya. "Nenek masih seperti berumur enam puluhan kok!"
Mendengar perkataan Naruto, spontan Tsunade menendang kaki cucunya. Naruto mengaduh pelan, tidak mengerti kenapa neneknya tiba-tiba menendangnya. Tsunade menatap cucunya kesal, "Itu berarti nenek sudah tua, kau lupa umur nenekmu ini masih lima puluh tujuh, huh?!"
Pemuda pirang itu meringis pelan mendapati pelototan dari Neneknya. Mau tua atau muda, sebutan 'nenek' itu bukankah sudah menjelaskannya? "Ba-chan memang sudah Baba, terima saja dengan lapang dada," ujar Naruto datar sebelum ia menutup mulutnya sendiri.
" .To!"
"Aku sudah selesai makan, terima kasih untuk makanannya. Aku belajar dulu nek!" Buru-buru Naruto menyudahi acara makan malamnya. Lelaki pirang itu segera angkat kaki sebelum jitakan maha dasyat dari sang nenek, mencium puncak kepalanya.
"Kembali kau kemari, bocah tengik!"
Pemilik mata biru laut itu memeletkan lidahnya, siapa yang mau menurut jika nyawa taruhannya? Neneknya itu selalu saja marah hanya karena masalah kecil. Tapi berkat itu juga, rumah bertingkat dua ini tidak terasa sepi. Setelah menutup pintu kamarnya, Naruto merebahkan badannya yang terasa letih. Energinya selalu seperti dihisap habis setiap berurusan dengan ketua Uchiha itu. Terutama hari ini, setelah pernyataan yang tidak ia duga itu. Manik biru lautnya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna orange.
'Jatuh cintalah padaku, Naruto.'
Naruto tertawa pendek, mengingat apa yang ketua osis Konoha katakan padanya. Jatuh cinta pada sesama jenis? ayolah, Naruto tahu kalau si bungsu Uchiha itu memang sedikit tidak waras. Tapi siapa sangka otaknya sudah miring setengah. Bagaimana bisa dia tertarik dengan laki-laki? Terlebih dengan dirinya? sekali lagi Naruto tertawa pendek.
"Dia yang bisa melakukan ciuman panas seperti itu seorang gay? Impossible!"
Pemuda pirang itu kini terdiam, wajahnya perlahan berubah merah. Sial, tidak seharusnya ia mengingat tentang ciuman itu. Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia sampai membalas ciuman ketua mesum itu dan hampir membiarkan si pantat ayam memakannya.
"Belum sampai setengah tahun, dan aku sudah tertular ketidak warasan anak-anak Konoha-Gakuen." Naruto memeluk badannya sendiri yang gemeteran.
Naruto beranjak dari kasurnya dan menghampiri meja belajarnya untuk mengambil sebuah foto dengan frame coklat tua. Sebuah foto yang memaparkan seorang laki-laki dengan rambut pirang bersama seorang wanita cantik dengan rambut merah yang lurus dan panjang. Senyum tipis melengkung indah di wajah tan pemuda pirang. Manik birunya menatap lekat-lekat wajah dua orang yang sangat ia rindukan setiap malam.
"Aku pasti... akan mewarisi nama 'Uzumaki', kalian tenang saja, jadi cukup lihat aku di sana."
Naruto meletakkan kembali bingkai tua itu sebelum kembali membaringkan badan dan menutup matanya. Pemuda pirang itu kini merasa pikirannya sudah kembali jernih, tanpa ada pemikiran penuh nista mengenai seorang laki-laki berambut hitam. Sekarang, ia bisa kembali memantapkan hatinya untuk mengejar tujuannya.
...
Itachi memandang adiknya yang tengah bermain dengan anak perempuannya. Sejak sepulang sekolah, Sasuke menjadi lebih diam dan lebih serius dari sebelumnya. Adik laki-laki yang kadang seperti memiliki pribadi ganda itu berubah tenang dengan raut serius. Hal yang sudah lama tidak Itachi lihat semenjak istri dan kedua orang tua mereka meninggal.
"Sasuke, kau baik-baik saja?"
"Hn..."
Itachi mengernyit mendapati gumaman tak jelas Sasuke. Duda muda yang masih berumur tiga puluhan itu segera menghampiri Sasuke. Dua cangkir kopi yang ia buat, ia taruh di atas meja sebelum menatap Sasuke yang masih bermain dengan Sarada kecil.
"Sasuke, satu tambah satu berapa?"
Mendapati pertanyaan absrud dari sang kakak, Sasuke menoleh menatapnya datar. "Nii-san ngelucu?"
"Oh, masih sadar ternyata." Sasuke semakin menatap kakaknya datar. Tanpa mempedulikan tatapan Sasuke, Itachi mengambil salah satu cangkir dan menyeruput kopi hitamnya perlahan. "Ada masalah dengan osis? Tumben sekali wajahmu serius seperti itu."
"Tidak ada," balas Sasuke lalu mengambil cangkir yang lain. Manik hitamnya memperhatikan Sarada yang bermain dengan boneka kelinci. "Hei, nii-san. Apa mewarisi nama keluarga itu sangat penting?"
Lelaki dengan rambut hitam panjang yang ia kuncir rendah itu melirik adiknya sebelum berpikir sejenak. "Menurutku penting," jawab Itachi membuat Sasuke mengalihkan netranya pada kakaknya. Ayah dari satu anak itu tersenyum tipis. "Seperti halnya kau menikah dan mempunyai anak yang akan menjadi penerusmu. Mewarisi nama keluarga, dilakukan agar klan kita tidak menghilang terbawa arus zaman."
Anak bungsu keluarga Uchiha itu menyeruput kopi hitamnya perlahan. Mencoba meresapi setiap kata yang Itachi tuturkan. Jika memang seperti itu, apakah itu artinya dia tidak memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Naruto? Untuk pertama kalinya, Sasuke merasakan perasaan seperti ini, bahkan ia sempat hilang kendali hanya kerena memeluk dan mencium aroma tubuh naruto secara dekat. Apa perasaan ini harus ia relakan? Bagaimanapun dari awal memang sudah aneh, sesama lelaki jatuh cinta? Seperti yang Naruto katakan, hubungan ini bahkan tidak terlihat ujungnya.
"Memang ada apa? Tumben sekali kau menanyakan hal seperti ini, Sasuke?" Itachi kembali menyeruput kopi hitamnya.
"Apa tidak ada cara agar laki-laki bisa hamil seperti wanita pada umumnya?"
Seketika Itachi terbatuk keras, wajahnya yang sudah putih pucat kini lebih pucat lagi. Beberapa kali Itachi memukul dadanya, mencoba meredakan rasa nyeri akibat tersedak. Sudut matanya sudah mengeluarkan air mata, saat manik hitamnya menatap adiknya kaget.
"Ka-kau bicara apa barusan?"
Sasuke menghela nafas berat, diletakannya cangkir kopi yang sudah kosong. Manik hitamnya membalas tatapan kakaknya santai, "Sudah malam, aku tidur duluan, Nii-san."
"O-oi tunggu dulu Sa-Sasuke!"
Tanpa mempedulikan panggilan Itachi, adiknya mengayunkan langkahnya menuju kamarnya. Manik hitam Itachi memperhatikan punggung adiknya yang menghilang dari balik pintu kamar. Itachi benar-benar gagal paham dengan pertanyaan absrud yang adiknya berikan. Sarada yang menyadari ayahnya tengah terkejut dan bingung, segera menghampiri dan menarik-narik ujung celana hitamnya.
Itachi segera menggendong Sarada dan menatap lekat-lekat anak perempuannya. "Sarada, apa pamanmu terlalu banyak belajar?"
Gadis kecil yang masih berusia setahun itu tersenyum tipis sebelum tertawa dan menepuk-nepuk sebelah pipi Itachi. Duda muda itu menghela nafas pendek, mungkin besok dia harus mengambil cuti dan mengajak Sasuke serta Sarada pergi piknik.
...
Naruto menghela napas panjang, hari ini dia benar-benar lelah akibat ujian dadakan yang Kakashi-sensei berikan. Soal matematika, empat puluh soal yang harus diselesaikan dalam waktu enam puluh menit. Pemuda pirang itu tidak yakin bisa menyelesaikannya, hanya separuh yang ia bisa dan sisanya... pensil kayu serta keberuntungan yang melanjutkannya.
"Kepalaku masih pening dengan semua angka dan rumus, ugh..."
"Mau aku obati?"
Langkah Naruto terhenti sebelum menoleh ke arah kanannya. Manik biru lautnya membulat sebelum menatap tajam pada sosok laki-laki yang tengah bersandar pada dinding gerbang sekolah. Remaja dengan rambut hitam itu menghampiri Naruto. Raut wajah datar tanpa senyuman, raut wajah yang ia berikan saat kegiatan MOS dulu.
"A-ada perlu apa?" tanya Naruto, remaja pirang itu bahkan tidak sadar kalau ia mundur beberapa langkah.
Sasuke yang menyadari hal itu tersenyum tipis, "Aku hanya mau mengembalikan ini." ketua Osis Konoha mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah game elektronik yang amat dikenali Naruto.
Manik biru laut itu membulat sempurna, "Game Persona-ku!" serunya lalu segera menyambar game elektronik itu. Namun sayangnya, Sasuke mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan tersenyu—menyeringai.
"Apa yang kau lakukan? katanya mau mengembalikan game-ku?"
"Ada syaratnya."
Sumpah, Naruto ingin meninju wajah tampan di depannya ini. Remaja pirang itu mendengus pelan, manik birunya melotot kesal. "Apa?"
Naruto sedikit memundurkan kepalanya saat Sasuke mendekat. Sebuah ketukan di kening ia dapatkan dari seniornya ini sebelum seringaian pemuda itu makin lebar. Tanpa basa-basi, Sasuke menyambar tangan Naruto dan menggandengnya. Naruto membulatkan matanya, terkejut dengan sikap Sasuke.
"Ikut aku!"
"Kau bisa tunjukkan jalannya tanpa harus menggandengku!" Naruto menyentakkan tangannya. Pemuda pirang itu dapat merasakan bulu kuduknya berdiri. Digandeng laki-laki? Oh tuhan, Naruto sama sekali tidak ingin dicap Gay!
"Tangan, atau tidak ada game persona-mu."
Naruto meringis pelan, kenapa laki-laki ini jadi mengancamnya? Manik biru lautnya memperhatikan tangan Sasuke dan game persona miliknya. Decisan terdengar dan hal itu cukup membuat Sasuke menyeringai puas. Ancamannya berhasil, adik kelasnya kini meraih tangan kanannya dan menggenggamnya. Sekuat hati Sasuke menahan senyum lebarnya, sial, kalau kakaknya atau siapapun dari Klan Uchiha melihatnya. Sasuke yakin mereka akan menatapnya seakan kepalanya tumbuh menjadi dua.
"Kau mau membawaku kemana?"
"Kau akan tahu nanti."
Remaja pirang itu mengerucutkan bibirnya kesal. Kenapa bisa ia bertemu dengan iblis macam ketua osis? Harusnya masa SMA-nya akan menjadi paling membahagiakan, dengan nilai bagus, mendapatkan beasiswa untuk Universitas kedokteran serta memiliki pacar cantik. Kenapa justru sekarang dia bertemu dengan iblis tampan yang menyimpang, dan tidak tanggung-tanggung dirinya yang ditaksir si gay tampan ini. Shit! Kenapa Naruto jadi terus menerus menggunakan kata 'tampan'? dirinya itu jauh lebih tampan!
...
Pemuda pirang itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepulan asap yang membawa aroma makanan yang paling ia sukai. Naruto mengangkat wajahnya, menatap lurus pada sosok Sasuke yang duduk di depannya. Remaja dengan rambut hitam itu sudah sibuk menikmati ramen-nya. Naruto sama sekali tidak mengerti, kenapa seniornya malah membawanya ketempat kedai ramen? Pemuda pirang itu meneguk ludahnya gugup, aroma ramen selalu berhasil membuatnya tergiur. Manik birunya menatap ramen di depannya, apakah ini kebetulan? Tidak hanya ramen, tapi ketua iblis itu bahkan memesankan ramen kesukaannya. Ramen dengan kuah kaldu ayam yang gurih dan asin.
Naruto kembali menatap Sasuke, "Ketua... game-ku baga—"
"Habiskan makananmu."
Hampir saja sumpit di tangan Naruto patah jadi dua. Lelaki itu bahkan tidak menatap Naruto saat memotong perkataannya. Lelaki itu tetap sibuk dengan makanannya seakan dia sudah tidak makan selama berhari-hari. Lelah dengan emosi yang berkecamuk, akhirnya Naruto memilih memakan ramennya. Sasuke melirik sekilas, senyum tipis mengembang di wajahnya. Rasa senang menghampiri dadanya karena rencananya berhasil.
.
.
.
"Haa~ enak sekali~" Naruto mengulas senyum lebarnya setelah menghabiskan ramennya. Remaja pirang itu lalu mengambil teh dan meneguknya.
Sasuke tersenyum tipis melihat senyum lebar Naruto. Akhirnya pemuda itu tersenyum setelah sejak bertemu selalu memasang raut wajah masam. "Suka," ucap Sasuke tanpa sadar.
Naruto sukses tersedak minumannya. Pemuda pirang itu terbatuk cukup keras sebelum menatap Sasuke dengan manik birunya yang melebar. Sasuke menggunakan salah satu tangannya untuk menompang dagunya. Senyum manis kini terulas menawan di wajah tampan Sasuke sebelum manik hitamnya sedikit meredup.
"Maafkan aku," kata-kata yang tidak pernah Naruto sangka akan ia dengar dari seorang Uchiha Sasuke. Pemuda pirang itu hanya bisa mengerjapkan matanya. Sasuke sempat memalingkan wajahnya sebelum menatap Naruto lagi. "Maaf, karena sudah melakukan hal itu padamu."
"Hal itu?" manik Naruto kembali melebar dan wajahnya berubah merah. Ingatan saat Sasuke mencium dan membuat badannya terasa aneh, berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "I-Itu... te-tentu saja kau harus minta maaf! Siapa sangka ketua Osis Konoha ternyata laki-laki mesum!"
"Tapi aku tidak akan minta maaf karena lepas kendali."
Tatapan yang Sasuke berikan begitu tegas dan seakan tidak terbantahkan. Naruto menurunkan wajahnya, tidak berani menatap lebih lama wajah Sasuke. Entah mengapa ia merasa, jika dia terus menatap mata hitam malam itu. Maka perasaan aneh yang sudah lama mengganggunya akan membuatnya seakan terseret masuk ke dalam lubang hitam. Remaja pirang itu akhirnya memalingkan wajahnya, dengan semburat merah di kedua pipinya.
'Kenapa dia bisa berkata tegas seperti itu? apa memang seserius itukah perasaannya terhadapku?' Naruto kembali meneguk minumannya. Wajahnya masih saja terasa panas walau minumannya sudah hampir habis.
"Kau sudah selesai? Tunggulah, aku pergi ke kasir dulu."
"Eh, tu—beritahu aku berapa tagihanku." Naruto segera merogoh saku celananya sebelum Sasuke menghentikannya.
"Biar aku yang bayar."
"Eh tapi!"
"Sudahlah, senyum yang kau berikan itu sudah cukup untukku."
Wajah Naruto seketika berubah merah mendengar perkataan Sasuke. "Si—siapa yang tersenyum untukmu!"
Pemuda dengan rambut hitam itu hanya tersenyum tipis dan meninggalkan Naruto yang masih mencak-mencak. Naruto mengerucutkan bibirnya kesal, bisa-bisanya ketua iblis itu mengatakan hal memalukan seperti itu. Pemuda pirang itu menompang dagu lalu melirik Sasuke dari ekor matanya. Semburat merah muda kembali hadir saat Sasuke melihatnya dan tersenyum tipis.
Buru-buru Naruto mengalihkan wajahnya dan saat detak jantungnya berdetak lebih cepat. 'Oi oi oi! Bisa-bisanya aku berdebar-debar karena seorang laki-laki, jelmaan iblis pula!' Manik biru laut itu menyayu lantaran debaran jantungnya kian menggila dan wajahnya serasa panas. Dan tanpa pemuda pirang itu sadari, sudut bibirnya tertarik membuat seulas senyum tipis.
...
Tap
Tap
Tap
Ketukan dua pasang langkah yang beriringan terdengar walau pemiliknya memasang jarak satu meter antara satu sama lain. Pemuda pirang itu kembali mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan kehadiran seseorang di belakangnya. Manik biru laut itu berusaha tetap fokus pada game di tangannya dan mengabaikan orang itu. Namun tetap saja, punggungnya lama-lama terasa panas dengan tatapan yang laki-laki itu berikan.
"Berhentilah mengikutiku!" ujarnya ketus tanpa melirik sosok Sasuke di belakang.
Pemuda dengan rambut hitam itu tersenyum samar, "Aku tidak mengikutimu, arah rumahku sama denganmu."
"Bohong."
"Tidak percaya? Apa perlu aku mengajakmu ke rumahku?"
"Tidak perlu."
"Benarkah? Apa kau tidak mau melihat rumah masa depanmu?"
Ctak!
Sasuke mengernyit saat tiba-tiba merasa mendengar ada sesuatu yang patah dan langkah pemuda blonde di depannya terhenti. Naruto menolehkan kepalanya dan menatap tajam sosok Sasuke. Sungguh dia tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki di depannya ini. Uchiha Sasuke adalah seorang Ketua Osis Konoha Gakuen, otomatis lelaki di depannya ini pintar dan memiliki pemikiran yang dewasa. Jadi ada apa dengan isi kepalanya yang menurut Naruto sangat tidak waras ini.
Naruto melangkah mendekati Sasuke dan manik biru lautnya menatap lurus sepasang manik hitam di depannya. "Candaan anda sudah sangat keterlaluan, Ketua." Naruto berujar menggunakan bahasa baku untuk menunjukkan bahwa ia serius.
"Harus berapa kali aku katakan kalau aku serius, Uzumaki Naruto." Tidak mau kalah, pemuda Uchiha itu juga memasang ekspresi seriusnya. "Aku menyukaimu, aku mencintai Uzumaki Naruto dan aku menginginkan laki-laki yang berada di depanku saat ini."
Untuk sesaat keheningan melanda mereka berdua sebelum Sasuke kembali berujar. "Apa itu masih kau sebut dengan bercanda?"
"Fakta kau mencintai aku itulah yang aku sebut 'bercanda' ketua. Dimana logika mu? Bagaimana mungkin aku menerimanya!" Sadar dengan suaranya yang naik satu oktaf, Naruto mundur selangkah dan mengatur nafasnya.
Setelah emosinya sedikit reda, pemuda pirang itu tertawa pelan. "Ini gila, belum sampai setengah tahun dan aku mulai gila."
Sasuke menatap pemuda pirang di depannya dalam diam. Sesulit itukah menerima kenyataan kalau dia menyukainya? Sesulit itukah menerima cinta dari seorang laki-laki hanya karena dia juga laki-laki? Tanpa sadar Sasuke menghela nafas pelan.
"Aku tidak memakai logika saat berhadapan denganmu, Naruto." Pemuda pirang itu menoleh menatap Sasuke. "Tapi memakai hati, dan kau cukup memikirkannya dengan hatimu bukan dengan logika mu."
Naruto sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan lembut yang Ketua Osis itu berikan padanya, membuatnya makin terdiam. Perkataan Sasuke yang tidak pernah ia duga itu juga menimbulkan efek yang tidak baik untuk kesehatannya. Pemuda pirang itu segera berbalik dan memainkan game persona-nya. Namun ia sempat bergumam pelan yang masih bisa Sasuke dengar.
"Terserah..."
Walau langit kini tengah mencair senja, namun manik hitam malam itu tidak salah lihat. Saat ia melihat rona merah di pipi Naruto sebelum pemuda itu berbalik. Sasuke tersenyum tipis, ia segera berlari dan menahan pundak Naruto sebelum menariknya ke dalam pelukannya. Dapat ia rasakan badan Naruto menegang tapi ia tidak perduli. Berkali-kali Sasuke menanyakan dalam hati, bagaimana mungkin laki-laki dalam pelukannya ini begitu manis?
"Te-Teme! Lepaskan aku!"
"Untuk sekarang tidak bisa."
"Hah?! apa maksudmu? Kau tidak dengar kata-kataku? Lepas!"
Sasuke menggelengkan kepalanya dan justru semakin mengeratkan pelukannya. Pemuda pirang itu berusaha melepaskan dirinya dan untuk kesekian kalinya, Naruto mengumpat akan perbedaan tinggi badan mereka yang menurutnya tidak adil.
"Lepaskan aku Ketua bodoh! Aku mau pulang!"
Ketua Osis Konoha itu kembali menggelengkan kepalanya sebelum mencium leher Naruto. Membuat pemuda pirang itu memejamkan matanya saat sensasi aneh menggelitik perutnya. "Kita sudah sampai di rumahmu sejak tadi, Naruto."
Bisikan lembut di telinganya membuat Naruto semakin memejamkan matanya. "Ka-karena itu le-lepaskan aku..."
"Aku akan melepaskanmu kalau kau menciumku."
Manik biru laut itu sontak melebar dan menatap Sasuke garang, "Hah?! kau gila?"
"Kalau kau menolak, aku tidak akan melepaskanmu." Usai memberi ancaman, Sasuke kembali mencium leher Naruto. Tidak hanya itu, bahkan ia sengaja membuat kissmark di sana yang hasilnya membuat pemuda dalam pelukannya sempat mendesah pelan.
"He-Henti...kan..."
Naruto benci saat melihat tatapan itu, ia benci melihat manik hitam malam yang menatapnya penuh kasih. Dan lebih benci lagi saat pemuda itu itu memerintahnya.
"Cium aku."
Ya, Naruto membenci pemuda di depannya ini karena begitu seenaknya. Tapi ada yang lebih ia benci, yaitu dirinya yang mau saja menuruti perkataan ketua iblis di depannya ini. Sasuke memejamkan matanya, menikmati bibir hangat itu sebelum melumatnya perlahan. Setelah memberikan kecupan singkat, Sasuke melepaskan pelukannya.
Naruto segera mundur beberapa langkah sembari mengusap bibirnya. Manik biru lautnya menatap tajam yang hanya dibalas tatapan santai dari Sasuke. Bagi si bungsu Uchiha, tatapan tajam itu tak ubahnya seperti tatapan anak kecil yang manis.
"Anak pintar, sekarang masuklah dan saat tidur jangan lupa memimpikan aku."
"Seperti aku akan melakukannya!" desis Naruto lalu segera membuka gerbang rumahnya dan membuka pintu rumahnya. Namun saat akan masuk suara Sasuke menghentikan langkahnya.
"Maaf karena sampai membuatmu mengira, kalau aku hanya menjadikanmu pelampiasan seks-ku." Sasuke mengulas senyum samar saat Naruto tidak berbalik. "Wajar kalau kau mengira kalau aku tidak tulus ataupun bercanda. Tapi, aku serius Naruto dan aku harap kau mengingat hal itu."
Naruto menghela nafas pelan sebelum melirik sekilas, "Apa kau tidak punya malu?' usai mengatakan hal itu Naruto masuk dan menutup pintu.
Sasuke tertawa pelan sebelum berbalik dan melangkah pulang, "Ya, aku memang tidak punya."
.
.
"Dia memang gila!" desis seorang pemuda pirang yang kini tengah duduk bersandar di belakang pintu rumahnya. Wajahnya yang merah merona ia tutupi dengan kedua telapak tangannya, namun meski begitu asap tipis yang menunjukkan bahwa wajahnya memanas masih terlihat.
Naruto mengusap wajahnya kasar sebelum beranjak dan berniat ke kamarnya. Namun sosok Tsunade yang tengah menatapnya serius sembari bersedekap menghentikannya. Tsunade menatap cucunya penuh selidik membuat pemuda pirang itu menelan ludah gugup.
"B-B-Baa-chan?"
"Apa hubunganmu dengan laki-laki yang memelukmu tadi?"
Naruto seakan terlempar dari langit ke-tujuh begitu mendengarnya. Neneknya melihat dirinya tengah berpelukan dengan laki-laki, apa jangan-jangan neneknya juga melihatnya saat berciuman dengan Sasuke. Naruto meringis pelan, memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
.
.
.
To Be Continue...
AN/ ehem... Coco ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin untuk menyambut pertengahan bulan puasa. Jadi para reader terkasih jangan marah saat melihat coco ya hehehe *nyengir kuda* maaf atas keterlambatan yang lebih dari dua bulan ini hahaha *digampar bolak balik* kenapa bisa telat padahal kemarin lancar-lancar aja? Jadi dari chapter 1 sampe 3 itu sebenarnya sudah aku buat dalam bentuk komik. Jadinya pas aku tuangin kedalam tulisan jadi cepet. Nah berhubung cerita ini aku perpanjang gak kayak di komik jadinya aku mesti mikir lagi yang berujung lama update. Jadi mulai sekarang aku kasih warning 'Slow update' hehehehe *nyengir watados*
Terus makasih udah mau follow/fav/ dan ngeriview cerita ini. Bahkan katanya ada yang kangen sama nih fic, dohhh terhura daku. Terus maaf yaaa aku gak bales review kalian semua satu-satu. T_T next time coco usahain bales review kalian semua.
Terus ada juga yang komplen katanya sasuke sama narutonya OOC banget. Ya atuh aku kan udah kasih warning sebelumnya. OOC, TYPOS, dan bahkan sekarang slow update. Jadi damai-damai aja yaa moga kalian bisa mengesampingkan ke OOC-an para chara di sini hehehe. Teruss ada juga yang bilang kok jadi ngedrama padahal ini kan genrenya romance humor. Serius enggak tau kenapa nih cerita bisa jadi drama, terutama Sasuke. Coco sendiri nyadar betapa ngedramanya kata2 sasuke buat naru, jadi karena itu aku tambahin genre drama di sini hahaha. Terus satu lagi, baca fic ini pas udah buka puasa aja ya... biar gak batal muehehehe...
Nahhh sekian dulu AN coco, ketemu lagi di chapter depan ya... yang mungkin agak lama *peace*
