Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Romance, Humor, Drama.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto.
Warning: Typo, OOC, BL, Slow Up.
.
.
.
Helaan nafas kembali terdengar, panjang dan lelah. Naruto kembali menyapu lantai kelas dengan lesu. Tidak ada semangat sama sekali, kepalanya masih dipenuhi dengan kejadian kemarin sore. Kemarin itu, mampu membuat Naruto mengira jantungnya lepas dari tempatnya. Pertanyaan yang Tsunade lemparkan padanya, sungguh tidak baik untuk kesehatannya, terutama setelah ulah iseng dari ketua Iblis, Uchiha Sasuke.
Naruto kembali menghela nafas lelah untuk yang entah keberapa kalinya.
.
.
"jadi, apa hubunganmu dengan laki-laki tadi? Apa dia temanmu?'
Tsunade menatapnya penuh selidik, matanya yang coklat itu selalu sukses membuat Naruto gugup setengah mati. Naruto tersenyum aneh, dia menggaruk tengkuknya sebelum menjawab pelan.
"Bukan, dia itu ketua osis di sekolahku, Tsunade-baa-chan."
"Benarkah? Lalu kenapa kalian berpelukan?"
"A-ah... itu..." Pemuda pirang itu menggigit bibirnya, dia harus menjawab apa? Biasanya kalau sesama laki-laki berpelukan itu alasannya apa? Naruto tertawa gugup saat manik birunya bertemu tatapan menuntut neneknya. "Dia hanya berterima kasih karena tadi aku sudah membantunya di ruang osis."
Tsunade menyipitkan matanya, kurang percaya dengan kata-kata cucu semata wayangnya itu. Risih dengan tatapan yang neneknya berikan, Naruto mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa melihatku seperti itu Baa-chan? Memang hanya perempuan saja yang sering melakukan skinship? Kami, laki-laki juga kadang melakukannya, itu kan tanda kedekatan kami sebagai sahabat—"
"Baiklah baiklah, Baa-chan paham." Tsunade segera memotong kata-kata Naruto, sempat wanita tua itu memutar bola matanya malas. "Kau tidak perlu panjang lebar menjelaskannya, kalau kau sudah bicara, tidak tahu kapan akan berhenti."
Naruto memamerkan senyum lima jarinya, berlari kecil untuk menyusul Tsunade yang sudah berbalik hendak pergi ke dapur. Remaja pirang itu merangkul pundak Tsunade dan mencolek pipi wanita cantik itu.
"Baa-chan memang paling mengerti aku!"
Tsunade menatap Naruto sebelum tertawa kecil, lalu wanita cantik itu mencubit pinggang Naruto. Membuat pemuda pirang itu mengaduh pelan. "Tentu saja, kalau bukan Baa-chan, siapa lagi yang paling mengerti tentangmu?"
Naruto tersenyum geli lalu kembali merangkul Tsunade, "karena itulah, Baa-chan harus sehat terus agar bisa melihatku saat mengambil alih rumah sakit Uzumaki."
"Hei, sudah berapa kali Baa-chan katakan, kau tidak perlu memusingkan hal itu. Aku masih kuat untuk menjalankan rumah sakit yang ayahmu tinggalkan. Lebih baik kamu pikirkan apa yang ingin kau lakukan setelah lulus sekolah nanti."
Tiba-tiba Tsunade menghentikan langkahnya dan menatap Naruto, seakan dia baru teringat sesuatu. "Tapi, kenapa tadi wajahmu memerah? Apa kau demam?" Tsunade menatapnya cemas dan menempelkan punggung tangannya ke kening Naruto.
Naruto menarik tangan Tsunade dan menatapnya gugup, "Aku tidak demam, aku baik-baik saja Baa-chan. Hanya kepanasan, di luar itu sama sekali tidak ada angin, Baa-chan." Pemuda pirang itu lalu mengibaskan tangannya serta menggeleng pelan, seakan benar-benar kegerahan.
"Begitukah? Kalau begitu pergilah ke dapur, tadi Baa-chan membuat es buah."
"Benarkah? Oh, astaga Tsunade-baa-chan memang yang terbaik!" seru Naruto senang dan mulai berjalan menuju dapur.
Tsunade menggelengkan kepalanya, tersenyum geli melihat tingkah cucunya. Wanita yang masih cantik walau umurnya sudah kepala lima itu mengikuti langkah Naruto. "Kau ini Naruto, tapi tadi aku sempat mengira kalau kalian berdua itu memiliki hubungan terlarang."
Dugh!
Gubrak!
"Itte..."
Tsunade mengernyit melihat Naruto yang menabrak meja hias dan terjatuh dengan wajah mencium lantai. Ada apa dengan anak itu? Tsunade segera menghampiri Naruto dan membantunya berdiri. Pemuda pirang itu mengusap hidungnya yang merah dan mengaduh pelan.
"Sial, sakit sekali..." keluhnya.
Tsunade berdecak pelan, "Kau itu masih saja ceroboh, apa kau tidak lihat meja sebesar itu?"
"Bukan salahku, ini salah Baa-chan yang tiba-tiba bicara hal konyol!"
"Hal konyol?"
Pemuda pirang itu meringis pelan saat menyentuh hidungnya sebelum mendelik kesal ke arah neneknya. "Iya, kenapa bisa-bisanya Baa-chan berpikir kalau aku punya hubungan terlarang dengan ketua osis? Aku ini normal, bahkan aku pernah mengajak mantan pacarku untuk bertemu denganmu baa-chan."
"Aish! Itu sudah setahun yang lalu, dan sekarang kau itu tidak punya pacar. Jeda setahun tidak ada yang tahu, siapa tahu ternyata kau malah belok sekarang."
Wajah Naruto seketika berubah pucat dengan matanya yang melebar. Terkejut dan tidak tahu harus bicara apa. Bagaimana mungkin neneknya dengan entengnya berpikiran seperti itu, apa itu artinya neneknya tidak masalah jika dia belok nanti? Naruto menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Astaga... aku rasa aku akan pergi ke taman bermain atau karaoke liburan nanti."
"Kau mau pergi karaoke? Nenek ikut Naruto!" seru Tsunade riang dan segera berlari menyusul cucunya yang sudah pergi meninggalkannya.
.
.
Helaan nafas kembali Naruto keluarkan, pemuda pirang itu menyentuh dada kirinya. Rasanya jantungnya masih tertinggal entah dimana akibat perkataan neneknya. Manik biru lautnya melirik sekitarnya dan melihat hampir seluruh siswa yang piket sudah pulang. Sesaat Naruto menatap sapu di tangannya, dia sama sekali tidak ada niat untuk melanjutkan piket. Jadi lebih baik dia pulang lalu tidur siang untuk menjernihkan pikirannya.
Naruto mengangguk pasti lalu segera merapikan barang-barangnya, setelah meletakan kembali sapu yang ia gunakan. Pemuda pirang itu tersenyum lebar dan melangkah riang. Untunglah hari ini di saat hatinya sedang kesal atau bahasa gaulnya 'bad mood'. Ketua iblis itu tidak muncul di hadapannya hari ini.
Bruk!
"Ah maafkan saya!" Naruto buru-buru membungkuk saat tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Tidak apa-apa, aku yang tidak lihat jalan."
Pemuda pirang itu mengernyit mendengar suara yang tidak asing baginya. Segera Naruto berdiri tegak dan manik biru lautnya membulat. Di depannya kini berdiri sosok kakak kelas yang dulu menguncinya di gudang.
"Kau! Senpai brengsek yang waktu itu!" seru Naruto sembari menunjuk Suigetsu.
Remaja dengan rambut biru yang hampir putih itu tertawa kecil. Dia ingat dengan bocah kuning yang waktu itu ia kerjai. Suigetsu tersenyum lebar, menampilkan giginya yang rata-rata runcing itu.
"Yo, bagaimana pengalamanmu di gudang, bocah kuning? Ah tidak, sepertinya kau tidak bermalam di gudang angker itu, karena esok harinya kau sudah tidak ada di sana." Suigetsu menepuk keras punggung Naruto, dia benar-benar mengacuhkan kalimat kasar Naruto.
"Ha! Terima kasih, akibat ulah isengmu, kau membuatku hampir jadi santapan setan Konoha Gakuen, senpai!"
"Eh? Hahaha benarkah? Aku turut senang kau mendapatkan pengalaman yang menarik." Suigetsu kembali menepuk pundak Naruto keras, "Maaf ya, karena sudah mengerjaimu. Kau tidak dendam denganku, kan?"
Naruto mengepalkan kedua tangannya, geram. Apa tadi katanya? Pengalaman yang menarik dan dia tidak dendam dengan senpai bergigi runcing ini? Naruto meniup poninya kesal, jangan bercanda!
"Kau tidak dengar kata-kataku barusan? Aku hampir kehilangan keperjakaanku karena ulahmu bodoh!"
Kali ini Suigetsu terdiam, maniknya menatap Naruto tak yakin. "Kau... hampir diperkosa? Memang laki-laki bisa diperkosa? Sama hantu pula?"
Oh tuhan, Naruto ingin menggaruk tembok sekarang juga. Kenapa seniornya bisa sebodoh ini? tidak, yang lebih parah, kenapa dia bisa bicara seperti itu? kenapa dia malah membongkar aibnya sendiri? Naruto benar-benar butuh piknik sepertinya.
"Sudah, lupakan saja apa yang sudah kau dengar, senpai." Naruto segera meninggalkan Suigetsu. Dia malas mencari ribut, tekanan darahnya sepertinya naik.
"He-hei tunggu dulu, aku benar-benar minta maaf karena sudah mengunci kamu." Suigetsu segera menarik pundak Naruto dan menatap adik kelasnya, merasa bersalah.
Naruto mengibaskan tangannya, "Sudahlah Senpai, tapi tolong hentikan keisenganmu itu. Kadang niat bercanda bisa mendatangkan musibah."
Suigetsu mengangguk paham, dia tidak akan lagi melakukan keisengan yang berlebihan. "Aku tidak akan melakukannya lagi, jadi sebagai tanda maafku biar aku traktir es krim, bagaimana?"
Naruto terdiam, tampak berpikir sebelum menatap Suigetsu. "Ramen, aku maunya ramen senpai."
"Baiklah, itu tidak masalah!"
Naruto dan Suigetsu lalu melangkah menuju gerbang sekolah. Mereka berdua sibuk mengobrol sampai suara bisik-bisik yang cukup berisik terdengar dan menarik perhatian mereka berdua. Naruto menatap kerumunan siswa laki-laki di depan gerbang sekolah.
Penasaran, Naruto dan Suigetsu berjalan menghampiri kerumunan itu. Dan sekali lagi manik biru lautnya membulat begitu tahu siapa yang dikelilingi siswa Konoha Gakuen.
"Shion-chan?!"
Gadis dengan seragam sekolah Suna Gakuen itu menoleh. Manik lavender gelapnya berbinar saat melihat sosok Naruto. Shion segera berlari ke arah Naruto dan memeluk erat pemuda pirang itu.
"Naruto-kun, aku merindukanmu!" seru gadis dengan rambut coklat muda itu.
Remaja tanggung itu mengerjap sebelum melepaskan pelukan gadis itu. Manik biru lautnya menatap gadis itu heran. Kenapa gadis ini ada di sini? bukankah dia sekolah di Suna dan jarak Sunagakure ke Konoha itu cukup jauh.
"Kenapa kau ada di sini Shion-chan? Apa kau sendirian?"
"Un, sepulang sekolah aku langsung memesan tiket kereta untuk kemari. Apa Naruto-kun terkejut?"
"Ya, aku sangat terkejut."
Senyum Shion semakin merekah mendengarnya. Gadis itu lalu memeluk lengan Naruto dan bergelayut manja. "Apa kau senggang? Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu."
"Uzumaki-san, apa dia pacarmu?" Suigetsu yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua kini tersenyum jahil. Berniat menggoda kedua adik kelasnya ini.
"Bukan, dia mantanku."
Mendengar pernyataan gamblang Naruto, Shion mengerucutkan bibirnya. Sementara itu senyum jahil Suigetsu membeku dan berganti menjadi tawa aneh. Tidak mau membuang waktunya, Shion kembali mengajak Naruto untuk menghabiskan waktu bersama.
"Tapi Shion-chan aku—"
"Kenapa kalian belum pulang?"
Suara dingin dan tegas itu sukses memotong perkataan Naruto. Mereka bertiga menoleh dan mendapati ketua osis Konoha berjalan ke arah mereka. Naruto menelan ludah gugup, kenapa laki-laki itu datang disaat yang tidak tepat? Saat Sasuke sudah berada di depan mereka, pemuda dengan rambut hitam itu kembali mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa kalian belum pulang? Dan kamu siapa? Siswa dari sekolah lain harus melapor terlebih dulu jika ingin memasuki arena sekolah." Sasuke berujar dengan nada datar, namun tatapannya sedikit menyipit begitu melihat lengan Naruto yang dipeluk perempuan asing itu.
"Aku hanya menjemput Naruto-kun, jadi tidak perlu melapor segala kan?" tanya Shion sambil tersenyum manis. Naruto yang berada di sampingnya, memutar bola matanya malas. Sejak dulu, gadis di sampingnya ini selalu bersikap manis di depan laki-laki yang menurutnya tampan.
Naruto melepaskan rangkulan Shion di lengannya dengan lembut. "Maaf, aku tidak bisa karena aku sudah ada janji dengan Suigetsu-senpai."
"Ehhh? Bisa kau tunda kan? Aku sudah jauh-jauh datang dari Suna untuk bertemu denganmu Naruto-kun."
"Tidak bisa, aku tidak enak dengan Suigetsu-senpai."
"Tapi..."
Suigetsu dan Sasuke menatap keduanya dengan ekspresi yang berbeda. Remaja yang setahun lagi akan lulus itu memutuskan untuk melerai kedua adik kelasnya. "Ano... kalau Shion-chan mau, kau boleh ikut dengan kami makan ramen."
Naruto dan Shion sama-sama menoleh, pemuda pirang itu membulatkan matanya, terlihat jelas kalau ia tidak setuju. Sementara itu Shion sudah bersorak girang dan kembali memeluk Naruto. Pemuda pirang itu hanya bisa menghela nafas lelah, kalau sudah begini mau bagaimana lagi.
...
"Lalu, kenapa Ketua ikut dengan kami?" Naruto menatap malas sosok ketua osis yang duduk di sampingnya. Shion dan Suigetsu duduk di depannya dan sedang membaca menu makanan. Sasuke mengangkat bahunya dan menggunakan salah satu tangannya untuk menopang dagu.
"Aku hanya sedang bosan, dan kebetulan lapar."
Pemuda pirang itu mencibir pelan, tidak percaya dengan alasan yang diberikan Sasuke. Shion mengalihkan tatapannya menuju Naruto dan tersenyum ceria.
"Kalau Naruto-kun pasti pesannya ramen asin dengan kaldu ayam, benarkan?"
Shion tertawa kecil saat mendapati anggukan kepala Naruto. Suigetsu yang berada di samping Shion tersenyum jahil.
"Wah, kau masih ingat dengan makanan kesukaan Uzumaki-san?"
"Tentu saja," Shion menatap Naruto dalam dan meraih salah satu tangan Naruto lalu menggenggamnya erat. "Selama setahun ini, hanya Naruto-kun yang aku pikirkan."
Suigetsu bersiul begitu mendengarnya. Shion tersipu malu, sementara itu Naruto memandangnya datar. Namun perlahan wajah remaja pirang itu merona, Suigetsu tersenyum jahil begitu melihatnya.
"Hum... sepertinya bakal ada yang balikan nih."
Shion tersenyum malu, dia semakin mengeratkan genggamannya. Memang kedatangannya ke Konoha adalah untuk meminta Naruto kembali jadian dengannya. Shion tertawa kecil saat Suigetsu semakin menggoda mereka berdua. Mereka berdua sama sekali tidak tahu, kalau penyebab Naruto memerah adalah karena tangan satunya yang berada di bawah meja tengah digenggam seseorang.
Manik biru lautnya melirik Sasuke yang tengah menatap keluar jendela. Seakan tidak perduli dengan obrolan mereka bertiga. Namun tangan pemuda pucat itu tengah menggenggam tangan Naruto, menggenggamnya erat seakan tidak berniat melepaskannya. Naruto menunduk, berusaha menyembunyikan rona merahnya dan berharap suara detak jantungnya tidak terdengar Sasuke.
...
Usai makan bersama, Naruto dan Shion memisahkan diri. Pemuda pirang itu akan mengantar Shion menuju stasiun. Selama perjalanan mereka menuju stasiun, Naruto sama sekali tidak mendengarkan ocehan Shion yang terus mengoceh sambil merangkul lengannya. Pikirannya masih melayang, saat mereka makan di kedai ramen. Selama makan, Sasuke tidak pernah melepaskan genggamannya dan Naruto juga membiarkannya. Pemuda pirang itu bahkan tidak mengerti kenapa dirinya tidak menepis tangan ketua iblis itu.
"Jadi Naruto-kun, bagaimana menurutmu?'
"Eh, apa?"
Shion mengernyit saat tahu kalau Naruto melamun, gadis itu lalu berdiri di depan Naruto dan menggenggam kedua tangan pemuda pirang itu. "Aku tanya, apakah kita bisa rujuk kembali?"
Naruto mengerjapkan matanya, kaget dengan apa yang ia dengar. "Kamu mau kita balikan?" tanya Naruto ragu.
Gadis dengan rambut pirang itu mengangguk cepat dan tersenyum manis. "Aku menyesal karena melepaskan kamu. Ternyata hanya Naruto-kun yang paling memahami aku, dan aku mau... kita bersama lagi."
Naruto menatap kedua manik lavender di depannya. Manik ungu tua yang selalu ia kagumi dan tidak pernah bosan ia tatap. Pemuda pirang itu menghela nafas pelan, sejujurnya masih ada perasaan yang menginginkan Shion kembali. Bagaimanapun Shion adalah cinta pertama dan kekasih pertamanya. Perempuan ceria yang menjadi teman pertamanya di sekolah menengah atas dan perempuan yang ada di sisinya saat kedua orang tuanya meninggal.
Namun separuh hatinya sudah menganggap dia biasa saja, justru ada getaran lain di hatinya. Getaran yang masih membuatnya bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap getaran asing itu.
"Maaf Shion-chan... tapi... aku tidak bisa."
Senyum Shion memudar, tatapannya berubah sayu dan mulai berkaca-kaca. Naruto mengepalkan tangannya, balas menggenggam erat tangan Shion. Melihat gadis itu menangis tetap membuat hatinya terluka, ikut bersedih.
"Apa... kau menyukai orang lain?"
Menyukai orang lain? Saat itu yang Naruto bayangkan adalah sosok Ketua Osis menyebalkan dengan senyum tipis dan tangan yang dingin namun terasa nyaman. Naruto menggelengkan kepalanya, mengenyahkan bayangan Ketua Iblis itu.
"Entahlah... aku tidak tahu. Tapi... mungkin saja."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan isak tangis yang tiba-tiba ingin keluar. Gadis itu tersenyum tipis lalu melepaskan genggaman Naruto dan tersenyum ceria. Senyum yang begitu Naruto kenali dan mampu membuatnya jatuh hati. Namun untuk kali ini, senyum Shion membuat hatinya terasa berat.
"Begitukah? Kalau begitu mau bagaimana lagi. Kalau hatimu sudah mantap, aku jadi iri dengan orang itu, karena aku sangat mengenalmu Naruto-kun."
"Maafkan aku Shion-chan..."
"Sudahlah, kau tidak perlu minta maaf. Justru harusnya aku yang minta maaf, karena sudah menyia-nyiakan kamu." Gadis manis itu tertawa kecil dan dengan tiba-tiba ia mencium Naruto, tepat di bibir pemuda itu, membuat manik biru laut itu melebar. Shion tertawa kecil melihat ekspresi Naruto, gadis itu melangkah mundur dan melambaikan tangannya. "Itu untuk yang terakhir kalinya, sampai nanti Naruto-kun!"
"Tu—Shion-chan!" Naruto menatap punggung kecil yang kini berlari menjauhinya, memasuki stasiun lebih dalam lagi. Pemuda pirang itu masih terdiam di tempatnya walau sosok Shion sudah menghilang.
...
Naruto berjalan lesu menusuri jalan menuju rumahnya. Pikirannya masih melayang pada sosok Shion, melihat gadis itu bersedih membuat hatinya sesak. Tapi, dia juga tidak mungkin menerimanya kembali dengan kondisi hatinya yang tengah terombang ambing.
"Haa... sebenarnya apa yang hatiku inginkan?"
"Kau sudah pulang?"
Naruto menoleh dan terkejut mendapati sosok Sasuke yang bersandar di pagar rumahnya. Mau apa laki-laki ini di depan rumahnya? Naruto mengernyit, tidak mungkin kan kalau laki-laki itu menunggunya.
"Kenapa lama sekali mengantar gadis itu?"
"Memang apa urusannya denganmu?" Naruto mendelik sebal, dia berjalan menuju pagar dan berniat masuk. Namun tangannya ditahan Sasuke, membuat Naruto menghela nafas pelan sebelum menatap sasuke.
"Apa benar, kau menyukai seseorang?"
Naruto menautkan kedua alisnya, sebelum matanya melebar saat menyadari sesuatu. Manik biru lautnya melotot dan wajahnya mulai merona merah.
"Ka-ka-kau menguping pembicaraan kami?"
Sasuke mengangkat bahunya, "Tidak sengaja."
Lagi jawaban pemuda itu membuat Naruto berdecak sebal. Laki-laki ini pasti mengikutinya dan menguping pembicaraannya tadi. "Tidak aku sangka, Ketua Osis Konoha punya hobi jadi stalker." Sindir Naruto dan menatap tajam kakak kelasnya.
"Mau bagaimana lagi, aku cemburu melihat kalian berdua."
Naruto kembali membulatkan matanya, hei! Bagaimana bisa kakak kelasnya ini bicara segamblang itu? tidakkah dia malu, atau mempunyai rasa gengsi sedikit gitu? Naruto mengibaskan wajahnya, kenapa pula udara sore ini jadi panas mendadak. Angin mana angin?!
Sasuke yang sedari tadi memperhatikan Naruto, menyeringai puas. "Jadi, siapa yang kau sukai?"
"Harus aku memberitahumu? Yang jelas itu bukan kau!"
"Kenapa kau keras kepala sekali sih, dobe?"
"Siapa yang kau panggil dobe? Aku ini pintar!"
"Itu panggilan sayangku untukmu, dobe."
"A-ap—" wajah Naruto kini sukses memerah, pemuda itu mundur saat merasa wajah Sasuke semakin mendekat.
"A-apa ya-yang kau la-lakukan?" cicit Naruto saat punggungnya menabrak dinding rumahnya.
Sasuke merapatkan dirinya dan mengunci Naruto dengan kedua tangannya. Salah satu tangannya terarah, mendekati wajah Naruto dan ibu jarinya menyentuh lembut bibir pemuda pirang itu. Jantung Naruto yang sudah berdetak cepat, semakin menggila saat merasakan rasa dingin dari ibu jari Sasuke.
"Siapa yang kau sukai?"
"Yang pasti bukan ka-kamu..."
"Di sini... dia menciummu, benarkan?" Naruto mengalihkan wajahnya, tidak kuat menatap manik hitam yang menatapnya dalam. Sasuke mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan. "Kau sengaja membuatku cemburu?"
"Te-tentu saja ti-tidak!"
Sasuke sedikit menjauhkan dirinya dan mengambil salah satu tangan Naruto yang tadi digenggam Shion. Pemuda itu lalu mengecup lembut telapak tangan Naruto, bibir dingin itu membuat Naruto bergidik. Sasuke kembali menatap Naruto, tatapannya terlihat serius.
"Aku ini pencemburu, kau tahu?" Naruto masih tidak mau menatap Sasuke, wajah pemuda itu sudah merah padam. Dan saat manik birunya menatap mata Sasuke, manik biru lautnya sedikit melebar saat wajah Sasuke begitu dekat dengannya. "Karena itu, boleh aku menghapusnya?"
Naruto tidak paham dengan maksud kata-kata Sasuke. Kinerja otaknya mendadak kusut saat merasakan nafas Sasuke yang menerpa wajahnya. 'Terlalu dekat!' hati Naruto menjerit frustrasi. Naruto memejamkan matanya, spontan saat wajah Sasuke hanya tinggal beberapa senti dari wajahnya.
"Aku mencintaimu, Naruto."
Usai berkata seperti itu, Sasuke mencium lembut bibir Naruto. Sensasi dingin dari bibir Sasuke membuat Naruto sedikit bergidik. Pelan, Sasuke mengecup bibir Naruto, mencoba membuat pemuda pirang itu untuk tidak tegang. Dan kecupan yang lembut itu berhasil membuat pundak Naruto mengendur. Setelahnya, Sasuke membiarkan Naruto melumat bibirnya. Membiarkan pemuda pirang itu mengambil alih dan menikmati kecupan demi kecupan yang Naruto berikan padanya.
.
.
.
To Be Continue...
AN/ terima kasih untuk kalian yang sudah memfav/follow/ dan review cerita ini. Makasih banyak dan maaf lama updatenya hehe. Next, Coco mau balas beberapa review dari teman-teman.
Versetta: Makasih udah mau baca~ hehe maaf nih~ kalau chap kali ini momen mereka berdua sedikit. Tapi semoga puas dengan chapter ini ya~
Choikim1310: etto... maaf enggak ada, kan istrinya itachi dan meninggal. Jadi anggep aja itu OTP kamu yah~ thanks ya udah mau baca.
Guest: well, ini main genrenya komedi, tapi entah kenapa jadi sedikit ngedrama. So~ udah aku tambahin genrenya hehe.
Kuraublackpearl: ide M-pregnya aku simpen dulu ya hehe. Thanks udah mau baca.
Anitaindah777: hehehe makasihhhh udah jatuh hati sama cerita ini *peyuk erat*
Reader: Makasihhh yah begitulah namanya juga cowok straight muehehehe.
Uzumaki 'namikaze' piiu-chan: hehehe makasih ya udah nungguin nih chapter, maaf kalau lama. Dan yah... kadang aku suka bikin komik sendiri. Belajar gitu hehehe.
Light Megami: siaap~ ini aku lanjut kok, makasih ya udah mau baca.
Haru N: hahaha iyaaa gpp, nyantai aja. Hum... untuk M-preg aku masih mikir-mikir, jadi liat endingnya aja ya. Muehehe tenang ini happy end kok~ thanks ya udah mau nunggu dan baca nih cerita.
Guest; eum sebentar lagi dia sadar mungkin? Hehehe... sabar enggak lama lagi kook Naru bakal mantepin hatinya. Cielahh hahahaha. Thanks udah baca~
Michhazz: uh... pertama maafkan aku untuk banyaknya typo yang bertebaran dan makasih karena udah memperbaikinya. Maklum saya juga masih belajar dalam menulis, bahkan kadang malah EYD-nya ngasal -_- terus untuk pertanyaanmu tentang:
Mempedulikan, errr... aku juga kurang tahu mana yang bener *peace*. Lalu untuk yang tersenyu—menyeringai, itu aku sengaja hehe. Dan untuk kalimat menompang... aku baru tahu ternyata kalimat yang bener itu menopang -_- makasih ya udah berbagi ilmu hehehe.
Sampai jumpa chapter depan~
