Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Romance, Humor, Drama.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto.
Warning: Typo, OOC, BL, Slow Up.
.
.
.
Pagi ini, ruang Osis cukup sunyi dengan aura sedikit berat. Semua itu dikarenakan para anggota Osis tengah melakukan rapat yang selalu diadakan setiap bulan di minggu kedua. Di depan layar yang menampilkan grafik balok dengan dua warna. Berdiri laki-laki dengan rambut hitam dan kulit porselin.
"Jadi, klub yang lebih membutuhkan anggaran adalah klub Shogi. Bagaimana menurut anda, Ketua Osis." Shimura Sai melempar atensinya pada laki-laki yang duduk di depannya.
Sakura melirik remaja dengan rambut hitam yang duduk di sampingnya. Kedua alisnya mengerut sebelum sweat drop mengalir pelan di pelipisnya. Sudah sejak tadi, gadis musim semi itu merasa ada yang berbeda dengan Ketua Osis. Tapi dia tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini.
"Kalau begitu berikan saja anggarannya kepada mereka. Kalau perlu lebihkan karena mereka sudah membawa prestasi bagi sekolah kita."
Kata-kata yang pemuda itu lontarkan terdengar tegas dan penuh wibawa. Raut wajahnya datar dan tegas, sekali lihat semua pasti tahu bahwa laki-laki itu tengah serius. Namun, bunga-bunga yang melayang di sekitarnya dengan aura terang itu apa?
Sasuke memiringkan kepalanya, saat ruang rapat mendadak hening. "Ada apa?" sekali lagi, wajah dan suara Sasuke berbanding terbalik dengan aura yang ia pancarkan.
Sai adalah orang yang menjawab pertanyaan polos Ketua Osis Konoha. Dengan senyum tipis yang hampir terlihat palsu itu, Sai mengutarakan apa yang tengah di pikirkan hampir seluruh anggota Osis.
"Sepertinya Ketua sedang dalam suasana baik, apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?"
"Hn..." Sasuke menggunakan tangan kirinya untuk menompang dagu. Tampak berpikir sebelum sudut bibirnya tertarik sedikit. "Bisa kau katakan begitu. Kenapa, apa terlihat jelas?"
"Ya. Dan jujur saja, agak menyeramkan."
"Sai, apa yang kau katakan?!" Sakura berdiri dari duduknya dan melirik sekilas ke arah Sasuke sebelum kembali menatap Sai. "Kita sedang rapat, dan seharusnya kau tidak berkata sekasar itu."
"Kasar? Aku hanya menjawab pertanyaan Ketua. Lagi pula dia menyeramkan karena Sikapnya terlihat imut. Aku hanya menjawab jujur, Wakil Ketua."
Anggota Osis lainnya sukses dibuat sweat drop oleh Sai. Laki-laki itu masih memasang senyum yang sengaja ia buat lugu. Sementara itu Sakura mulai kesal, gadis itu paling tidak suka jika ada yang mengganggu kelancaran rapat. Selain itu, mulut Sai yang kadang lupa disaring semakin membuat tekanan darahnya naik.
"Sudahlah cepat selesaikan presentasimu dan jangan membuang waktu atau kau akan aku hajar boneka porselin!"
Sai menutup kedua telinganya, agar teriakan dalam satu kali tarikan nafas Sakura tidak membuat kedua telinganya tuli mendadak. "Iya iya, aku tahu tenanglah Wakil Ketua."
Sai kembali menatap Sasuke yang sejak tadi hanya diam tanpa minat untuk menghentikan amukan Sakura. Laki-laki itu terlihat sedikit melamun dengan rona merah yang sama-samar dapat Sai lihat. Jujur saja, seharusnya Wakil Ketua juga setuju dengan ucapannya. Ketua Osis terlihat imut, dan itu menyeramkan karena bahkan dirinya yang seorang laki-laki tulen mengakui kalau Sasuke terlihat imut dengan wajahnya yang pura-pura datar tapi senyam senyum dari tadi. Ini yang gila Ketua Osis atau dirinya? Cukup, lupakan masalah itu, tatapan membunuh Sakura lebih menusuk dan mengancam jiwa bagi Sai.
"Jadi klub Shogi akan mendapatkan anggaran—"
Suara bel masuk memotong dengan seenak jidatnya. Sai mendengus, lalu menatap Sasuke yang beranjak dari duduknya dengan gaya stay cool. "Rapat hari ini selesai, dan keputusan seperti yang tadi aku katakan. sekian, bubar."
Seluruh anggota Osis bergerak dengan satu irama, berdiri, membungkuk singkat lalu merapikan meja mereka dan keluar dengan tertib. Sai adalah orang terakhir yang masih berada di ruang kelas, remaja itu merapikan barang-barangnya sebelum menutup pintu ruang Osis. Namun belum sempat ia melangkah pergi, sosok Ketua Osis terlihat tengah berdiri di dekat jendela menarik perhatiannya.
"Ketua?" Sai memiringkan kepalanya, bukankah Ketua adalah orang pertama yang keluar dari ruang Osis, lalu kenapa malah berdiam diri di sana? Penasaran, Sai pun melangkah mendekati jendela dan mencoba mencari objek yang tengah dipandangi laki-laki paling populer di sekolah Konoha Gakuen.
Manik hitamnya menangkap surai kuning yang tertimpa cahaya mentari. Membuatnya tampak berkilau indah dengan dedaunan hijau yang jatuh dan terbawa angin. Untuk sesaat, Sai tertegun. Pemilik rambut kuning dengan dedaunan hijau yang berjatuhan di dekatnya, adalah seorang adik kelas. Laki-laki manis dengan kulit kecoklatan dengan tiga garis halus di kedua pipinya.
Sai menoleh, menatap Sasuke lalu ke arah adik kelasnya. Sudut bibirnya tertarik, membuat lengkungan tipis. Sepertinya adik kelas itulah penyebab Ketua Osis bertingkah aneh.
...
Senyum simpul yang sejak tadi ia tahan, kini tidak mau menurut. Melihat pemuda pirang itu yang tengah tertawa bersama temannya. Sukses membuat Sasuke tidak bisa menahan senyumnya. Ingatan saat kemarin Naruto membalas ciumannya, selalu terbayang. Mungkinkah adik kelasnya, mulai menaruh hati padanya? Jika benar, mati sekarangpun Sasuke tidak masalah. Karena dia bahagia. Melihat Naruto yang semakin dekat dengannya, Sasuke berusaha setengah mati menyembunyikan rasa senangnya.
Saat manik biru laut itu memantulkan sosoknya. Sasuke mulai melambaikan tangannya, memanggilnya dan tersenyum. "Di sini kau rupanya, Naru—"
"—Hei Kiba, aku baru ingat sesuatu jadi aku duluan ya!" tanpa menunggu balasan temannya, Naruto berlari dan melewati Sasuke tanpa menoleh sedikit pun.
"Ada apa dengannya? Oh, Ketua selamat siang." Kiba dan Chouji menyapa Sasuke saat mereka bertemu.
"Hn," Sasuke membalas mereka berdua singkat dan berlalu pergi.
Kiba melirik punggung Sasuke yang mulai menjauh. Pemuda dengan gigi taring yang lebih panjang dari orang kebanyakan itu berbisik pada teman gembulnya. "Perasaanku saja, atau memang tadi Ketua berniat memanggil Naruto?"
Chouji menggelengkan kepalanya, "Entahlah."
...
Sasuke mencoba mengacuhkan sikap Naruto yang seakan menghindarinya. Sekali lagi saat mereka akan berpapasan di lorong, Sasuke memanggil pemuda pirang itu.
"Aduh! Perutku sakit mendadak, kalian duluan saja!"
Dan sekali lagi, laki-laki itu berbalik dan memberikan punggungnya. Membiarkan Sasuke memandang punggung kecil itu yang mulai menghilang dan membawa rasa sepi dalam hatinya.
...
Suigetsu menatap langit cerah tanpa awan sembari menikmati roti melon di tangannya. Helaan nafas berat yang sudah beberapa kali terdengar membuatnya melirik malas. Dari ekor matanya, dapat ia lihat sosok Naruto yang menutup matanya dengan salah satu lengannya. Adik kelasnya itu sejak tadi tidak berhenti menghela nafas lalu kemudian berguling ke kanan dan ke kiri. Seperti cacing kepanasan atau seperti orang yang tengah mencoba memadamkan api di sekujur tubuhnya.
Sudah sejak sejam yang lalu, mereka berdua berada di taman belakang sekolah. Dirinya yang semula akan pulang, tiba-tiba di seret paksa oleh juniornya dan berakhir di sini.
"Senpai, aku harus bagaimana? Rasanya aku mau mati saja."
Suigetsu mendengus, apa ini? dia tidak ingat membuka jasa 'tempat curhat'. Kalaupun dia membuka bisnis, dia akan memilih bisnis yang dapat membuatnya terhibur dan bebas menjahili orang-orang. Bukannya menjadi tempat curhat yang paling-paling isinya tentang kegalauan para remaja labil tentang percintaan.
Suigetsu tertawa tanpa suara lalu menatap Naruto. Pemuda pirang itu kini tengah menatap langit biru dengan tatapan sendu.
"Aku rasa... aku jatuh cinta."
Bingo! benar apa yang Suigetsu tebak. Anak seumuran Naruto pasti mulai puber dan sibuk mencari cara untuk menarik perhatian gadis-gadis. Tapi sayang sekali, dia sama sekali tidak tertarik dengan kisah percintaan dua insan manusia berbeda jenis.
"Lalu apa yang kau bingungkan? Katakan saja langsung dan jaa~ happy ending."
Naruto beranjak duduk dan menatap Suigetsu yang tengah tersenyum tanpa dosa. Sedetik kemudian benjolan hadir di kepala Suigetsu dengan manisnya. Pemuda itu mematung, terkejut, sebelum tersadar bahwa Naruto telah memukul kepalanya. Maniknya menatap tajam ke arah biru laut di depannya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Mudah bagimu mengatakan hal itu, asal kau tahu saja separuh dari masalahku itu karena ulah bodohmu yang mengunciku di gudang, Suigetsu-senpai."
"Kenapa aku lagi? Aku sudah minta maaf, apa kau ini seorang pendendam?"
"Mungkin, karena itu kau harus tanggung jawab!"
Suigetsu memberikan tatapan polosnya. "Memang kau hamil? Jangan bercanda pirang, aku ini straight."
Sekali lagi Naruto memberikan pukulan manis di kepala Suigetsu membuat pemuda itu berteriak kesal. Naruto mendengus sebal, dan dengan tidak sopannya ia menunjuk hidung Suigetsu.
"Siapa yang hamil?! dan karena ulahmu aku jadi belok hiu."
"Hah? aku tidak mengerti maksudmu, otakmu benar-benar belok rupanya."
"Maksudku, Aku jatuh cinta pada laki-laki-ttebayo!"
Keheningan seketika melanda usai Naruto mengeluarkan pengakuan yang tidak pernah Suigetsu kira. Maniknya mengerjap, dua kali sebelum ia merespon. "Oh..."
Beberapa saat kemudian, laki-laki dengan rambut kebiruan itu mulai menggeser pantatnya. Mencoba menjauhi Naruto pelan-pelan, namun adik kelasnya dengan cekatan menarik kemejanya dan menatapnya nyalang.
"Kenapa kau menjauh?" tanya Naruto dengan tatapan tajam.
Suigetsu mulai keringat dingin, "Ti-tidak, hahaha hanya perasaanmu saja pirang."
"Cih, bukan kau yang aku suka, senpai." Naruto melepaskan cengkramannya, lalu membuang muka.
Suigetsu tertawa hambar. Sial, dia tidak pernah memasuki topik seperti ini. Dia bahkan tidak menyangka akan bertemu dengan seorang laki-laki straight yang berubah belok. Apa dia harus merasa lega karena bukan dirinya yang disukai Naruto?
Pemuda itu menghela nafas pendek, bukan waktunya memikirkan masalah itu. Lagi pula sepertinya ini menarik, mendengarkan curhatan seorang Gay. Suigetsu menyeringai tipis. "Lalu apa hubungannya aku dengan masalahmu?"
Sekilas, Naruto meliriknya sebelum kembali menatap hamparan taman bunga di depan mereka. "Kau membuatku hampir kehilangan keperjakaanku. Dan kau membuatku harus berurusan dengan seorang iblis."
Baiklah, Suigetsu tidak menyangka kalau kejahilannya bisa berakibat seperti itu. Tapi tetap saja, seharusnya yang Naruto alami sekarang adalah trauma. Bukan malah jatuh cinta pada laki-laki.
"Lebih baik kau melaporkannya pada polisi, itu sudah termasuk kriminal."
"Dan membiarkannya pergi setelah membuatku jatuh cinta padanya?"
"Kalau begitu nyatakan saja perasaanmu, maka semua beres."
Naruto mendengus pelan, mudah mengatakannya. Tapi dia tidak ingin mengecewakan Tsunade dan kedua orang tuanya. Bagaimanapun Naruto sudah bertekad untuk mampu mengambil alih rumah sakit peninggalan orang tuanya. Dan lagi, perasaan ragu di dalam hatinya membuatnya enggan untuk mengambil langkah itu. Dia takut, Naruto takut jika nanti Sasuke akan meninggalkannya, membuangnya setelah ia memberikan segalanya.
...
Sakura melirik sosok di sebelahnya yang sejak tadi tidak berhenti memainkan pensilnya. Tatapan kosong dengan raut lesu dan suara helaan nafas yang selalu terdengar setiap menitnya. Uchiha Sasuke tengah dilanda kegalauan. Dan Sakura menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. Siapa yang menyangka, sosok Ketua Osis dengan segala prestasi serta terkenal dengan tingkat kesulitannya untuk didekati. Bisa mengalami perasaan galau oleh seseorang, dan Sakura ingin sekali melihat orang yang berhasil membuat Ketua Osis Konoha seperti ini.
Sasuke kembali menghela nafas, mencoba membuang perasaan dongol, kesal, dan sedih juga rindu yang menumpuk dalam hatinya. Siapa yang menyangka, dihindari seharian ini oleh si pirang, membuat Uchiha Sasuke uring-uringan. Manik hitam malamnya melirik langit cerah tanpa awan. Sasuke tertawa tanpa suara, langit seakan mengejeknya dan membuatnya kesal. Ia segera beranjak membuat Sakura menatapnya.
"Aku pulang duluan." Tanpa menunggu jawaban Sakura, laki-laki itu beranjak keluar kelas.
Lorong sekolah sangat sepi, wajar jika mengingat bahwa seluruh murid sudah pulang sejak sejam yang lalu. Sasuke menuruni anak tangga dengan pikiran yang melayang jauh, mengingat wajah seorang laki-laki dengan senyum mentari yang tidak pernah ditujukan untuknya.
Dia tidak mengerti, apa yang salah. Bukankah kemarin pemuda pirang itu memberikan lampu hijau padanya? Sasuke mengerang pelan, masalah ini lebih rumit dari pada rumus matematika. Dia tidak mengerti dengan Naruto, apa yang salah sehingga membuat laki-laki itu malah menjauhinya.
"Oh, ketua?"
Sasuke mengerjapkan matanya, lamunannya buyar saat seorang laki-laki menyapanya. Sasuke mengenali sosok di depannya, laki-laki dengan tiga garis hitam di lengannya. Dia senior yang dulu pernah menjadi korban salah sasaran. Sudut bibirnya sedikit tertarik mengingat bagaimana Naruto panik karena telah menendang bola ke orang yang salah.
"Selamat siang, Suigetsu-senpai." Sasuke menyapa seniornya itu ketika mereka sudah berpapasan.
Suigetsu menampilkan senyum lebarnya, "Kau baru pulang? Sepertinya tugas Osis cukup banyak bulan ini."
"Tidak senpai, kami hanya rapat masalah anggaran klub saja." Suigetsu mengangguk paham mendengarnya. "Lalu, Senpai sendiri kenapa baru pulang sekarang?" Sasuke kembali bersuara, sekedar basa-basi walau sebenarnya niat hati ingin cepat-cepat pulang. Atau paling tidak pergi kerumah sang pujaan hati untuk sekedar melihat mata birunya.
"Oh, ini..." Raut pemuda biru itu sedikit berubah. "Aku diseret paksa oleh Naruto ke taman belakang sekolah."
Ctak!
Sasuke masih menyunggingkan senyum tipisnya, berusaha tidak mempedulikan guratan kecil di pelipisnya. Hei! Jangan salahkan dia memasang topeng seperti Sai. Salahkan hatinya yang tiba-tiba mencelos dan menyulut api cemburu hanya karena kata-kata seniornya.
"Dia menyeretku hanya untuk mendengarkan desahannya selama satu jam penuh!" erang Suigetsu, tanpa menyadari kalimatnya yang ambigu di telinga sang Ketua osis. "Lalu setelah itu dia malah memukulku hanya karena aku tidak menanggapinya dengan serius!"
Oh, Sasuke berharap jika saja mereka tidak sedang berada di halaman sekolah. Mungkin kepalan tangannya sudah melayang dan meninggalkan tanda cinta di wajah Suigetsu.
"Dan setelah memukulku, memarahiku, aku malah ditinggal pingsan olehnya!"
Manik hitam malam itu membulat, dengan cepat ia menatap Suigetsu. "Apa?!"
Suigetsu tersentak pelan, terkejut dengan suara Sasuke yang tiba-tiba meninggi. Pemuda itu mengerjapkan matanya saat sosok Sasuke berubah mengabur, lalu hilang begitu saja. Suigetsu celingukan sebelum menemukan punggung Ketua Osis Konoha yang tengah berlari menuju taman belakang sekolah.
"Ada apa dengan Ketua? Kenapa dia tiba-tiba lari?" Suigetsu mengangkat bahu sebelum melanjutkan langkahnya menuju rumah tercinta. Namun baru tiga langkah, Suigetsu berbalik dengan kedua alis bertautan. "Ketua... tidak salah paham dengan omonganku barusan 'kan?"
...
Sasuke berlari secepat yang ia bisa menuju taman belakang. Jantung yang dia rasa sempat berhenti mendadak, kini berpacu sangat cepat hingga membuat kedua telapak tangannya keringat dingin. Saat langkahnya sampai, maniknya mengedar, mencari sosok rambut kuning secerah kelopak bunga matahari. Dan saat ia menemukannya, menemukan sosok yang ia cari tengah terbaring di bawah pohon rindang. Sasuke melangkah menghampirinya.
"Na-Naruto..." panggil Sasuke pelan, ia duduk di sebelah pemuda pirang itu dan mengusap pipi kenyal dengan tiga garis halus.
"..."
Tidak ada respon, sekali lagi Sasuke memanggilnya dan kali ini menepuk pelan pipi sang pemuda. Laki-laki pirang itu menepis pelan tangan Sasuke, membuat Ketua Osis Konoha menghela nafas lega. Ternyata Naruto tidak pingsan, dia hanya tertidur. Pemuda itu tertidur dengan wajah damai dan menggemaskan di mata Sasuke. Membuat seulas senyum terukir di wajah putih Ketua Osis.
Manik hitamnya menatap lekat-lekat dan menelusuri setiap sudut wajah pemuda pirang. Ia tidak bosan dan seakan semakin terhanyut untuk terus menatap lekat wajah Naruto. Rambutnya yang dibelai pelan angin membuatnya terlihat halus. Bulu mata yang tidak terlalu panjang namun masih cukup lentik. Serta bibirnya yang sedikit merah dan kenyal.
Saat atensinya tertuju pada bibir itu, Sasuke menahan nafas. Ia melirik kanan kiri, berharap tidak ada siapapun di taman ini selain hanya mereka berdua. Khayalan liar mulai merasuk dan memaksanya untuk melakukannya. Sasuke menggeleng, bukankah ia sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi? Ia tidak mau kalau sampai Naruto masih menganggap apa yang ia lakukan hanyalah nafsu seks semata.
Namun, Sasuke menelan ludahnya susah payah. Kenapa rupa laki-laki di depannya ini selalu berhasil menghancurkan pertahanannya dan membuat akal sehatnya seakan tersumbat? Erangan pelan dari pemuda pirang membuat Sasuke sedikit tersentak kaget. Naruto menggaruk pipinya sebentar sebelum tiba-tiba berbalik menghadap Sasuke. Ia bergumam pelan, entah apa yang pemuda itu gumamkan. Namun, saat Naruto kembali mengambil posisi terlentang. Pemuda itu kembali mengingau.
"Sasuke..."
Hembusan angin pelan membawa dedaunan hijau dan membelai lembut surai hitam malam tanpa bintang. Samar-samar degup jantung terdengar, membawa rona merah pekat pada wajah putih bersih milik Uchiha Sasuke. Sontak pemuda itu menutup mulutnya, seakan mencoba menahan pekikan girang yang akan membuatnya terkesan lebai.
Setelah berhasil menahan gejolak bahagia, Sasuke tersenyum tipis. Tertawa pelan lalu mencondongkan tubuhnya. kecupan pelan ia berikan di kening sang pemuda pirang dan berbisik pelan, berharap suaranya akan terbawa kedalam mimpi indah sang pujaan.
"Aku mencintaimu... Naruto."
...
"Huam... astaga, aku ketiduran." Suara serak khas bangun tidur terdengar. Manik biru laut itu mengerjap beberapa kali sebelum bangkit dari tidurnya. Masih setengah sadar, Naruto menggaruk leher belakangnya dan mencoba fokus pada sekitarnya.
"Tidurmu nyenyak?"
"Ya, nyenyak sekali. Aku tidak tidur semalaman jadi...—" Naruto memutar lehernya cepat saat menyadari suara siapa yang tadi bertanya padanya. Manik biru lautnya membulat saat mendapati sosok Ketua Osis Konoha tengah menyandarkan punggungnya pada pohon dan melambaikan tangannya.
Sasuke tersenyum manis dan menghampiri Naruto yang kini sedikit memundurkan badannya. "Sejak kapan kau di sini?" Sasuke hanya membalas pertanyaan pemuda pirang itu dengan senyuman. "Kau tidak berbuat macam-macam saat aku tidur 'kan?"
"Hei! Memang aku akan melakukan hal itu?" Sasuke mengernyit, memasang wajah seakan terluka akan tuduhan Naruto.
"Mungkin saja, saat aku sadar saja kau menyerangku apa lagi saat aku lengah."
"Aku sudah bilang, kalau aku tidak akan melakukannya lagi."
Naruto tertawa pendek dengan nada sinis di dalamnya, "Lalu ciuman kemarin itu apa namanya?" mendapat tatapan intens dari Sasuke membuat pemuda pirang itu berdehem pelan dan memalingkan wajahnya. "Kau tidak menepati kata-katamu dan masih menyerangku."
"Itu salahmu, karena membuatku cemburu."
Naruto kembali menatap Sasuke, dengan raut tidak percaya dan tertawa pendek. "Lalu apa hak-mu untuk memperlakukanku seperti itu hanya karena kau cemburu, Ketua sialan!" pemuda pirang itu tidak habis pikir, apa hak dia untuk melakukan hal itu. Teman bukan, kekasih bukan. Kalaupun dia cemburu seharusnya Sasuke tidak melakukan hal itu.
"Apa aku harus punya alasan lain untuk melakukannya? Tidak cukupkah dengan aku mencintaimu, Naruto?"
Untuk beberapa saat Naruto terdiam, kata-kata Sasuke berhasil membungkamnya. Perasaan cemburu adalah hak Sasuke. Namun bukan berarti dia berhak menciumnya seperti itu.
"Kau bahkan membalasnya, Naruto. Bukankah itu artinya kau juga ada rasa terhadapku?"
Dan lagi, Naruto kembali bungkam oleh perkataan Sasuke. Ia memejamkan matanya, jujur saja alasan kenapa ia mencoba menghindari Sasuke seharian ini adalah perasaannya yang belum siap untuk mengakui hal itu. ia belum siap mengakui kalau dia, Uzumaki Naruto telah jatuh cinta pada Uchiha Sasuke.
Masih tak ada tanggapan dari Naruto. Pemuda itu masih memejamkan matanya dengan kedua alis yang menukik turun, seakan tengah berfikir keras. Entah apa yang membuat pemuda itu bersikeras untuk menolak cinta Sasuke. Mungkinkah tentang masalah garis keturunan, ataukah mewarisi nama keluarga?
"Ini membuatku gila..." Naruto berujar pelan namun masih mampu didengar Sasuke. Remaja pirang itu menatap Sasuke, lurus dan hal itu membuat dua jantung berbeda itu berdegup berirama. "katakan, apa yang bisa aku percayai kalau aku menerima hubungan ini, kau tidak akan meninggalkanku Sasuke."
Anak bungsu Uchiha tidak pernah menyangka akan mendengar perkataan itu. Ia sempat melebarkan matanya sebelum raut wajahnya berubah tegas dan senyum hangat ia ulas.
Dengan nada yang penuh percaya diri dan tegas, Sasuke berujar. "Aku akan pastikan kita akan selalu bersama, karena itu... maukah kau menikah denganku?"
Kali ini giliran Naruto yang membulatkan matanya, "A-A-A-APA?! KAU GILA?!" degup jantung yang semula hanya berdetak pelan kini berpacu dengan darah mendidih dan membuat wajah Naruto merah pekat.
Sasuke tertawa pelan, "Kau yang membuatku gila, Naruto."
Pemuda pirang itu tersentak pelan saat tiba-tiba Sasuke merebahkan punggungnya dan menguncinya dengan kedua lengan laki-laki itu. "A-ap-apa yang mau kau lakukan?"
"Hn... morning kiss?"
"Ini sore bodoh, bukan pagi! Singkirkan badanmu dari atas tubuhku!"
"Hei... kau itu habis bangun tidur, jadi sudah sewajarnya kamu mendapat morning kiss, dobe."
"Tapi bukan dari kau!"
"Kenapa? Apa aku sudah melakukannya dalam mimpimu? Apa karena itu kamu mengingau dan memanggil namaku?"
Rasa-rasanya Naruto ingin menceburkan dirinya kedalam kolam air dingin. Wajahnya yang sudah memanas semakin panas hingga mencapai tahap ia ingin menangis. Sungguh, benarkah ia menginggau dan memanggil nama ketua Osis? Oh, Naruto mengutuk siapapun yang mengirimkan kesialan padanya.
"O-o-oh... Tunggu sebentar!" Naruto berusaha menghentikan Sasuke yang sudah tinggal beberapa inchi lagi dari wajahnya.
Sasuke tersenyum tipis, "Tidak mau." Lalu setelahnya ia mengecup bibir Naruto, membuat pemuda pirang itu tanpa sadar menahan nafas.
Ciuman itu tidak berlangsung lama, hanya sesaat lalu Sasuke melepaskannya. Namun tidak sampai di situ, baru saja Naruto bernafas lega tiba-tiba Sasuke menarik tangannya.
"Mau kemana?" Naruto yang mengikuti langkah Sasuke sedikit kepayahan karena lelaki yang menggandeng tangannya itu berjalan cukup cepat.
Sasuke menoleh dan tersenyum hangat, "Meminta restu, apa lagi?"
"HAH?! tunggu, jadi kau serius?" mereka berhenti dan saling tatap, "Apa kau serius ingin menikah denganku?" Naruto menatap Sasuke dan berujar ragu-ragu.
"Aku serius, sejak dulu. Lalu, bagaimana denganmu Naruto?"
"Eh, a-aku?"
"Apa kau menyukaiku?"
Naruto memalingkan wajahnya, tiba-tiba ditatap seperti itu oleh Sasuke membuat hatinya berdesir pelan. "E-entahlah..."
"Naruto... apa kau menyukaiku?"
"Uh..." apa yang harus ia jawab? Haruskah Naruto mengatakan perasaannya? tapi dia memang telah jatuh hati pada pria di depannya ini.
"Su...ka..."
Sasuke memiringkan kepalanya, "Kau bilang apa?"
"Aku bilang, aku suka bodoh!"
Dan senyum lebar kini Sasuke ulas walau harus mendapat pukulan dilengannya. Namun senyum bahagia terlihat jelas di wajah sang Ketua Osis Konoha.
...
15 tahun kemudian...
"Hei, apa kalian melihat Uzumaki-sensei?" seorang perawat menghampiri meja teman kerjanya. Namun gelengan kepala yang ia dapat. "Astaga, kemana perginya Uzumaki-sensei? Aku bisa dipenggal kepalaku oleh direktur!"
"Kau mencari siapa?" salah seorang dokter magang menghampiri perawat yang panik itu.
"Ah, Deidara-san apa kamu melihat Uzumaki-sensei?"
Deidara tampak berfikir sejenak, "Uzumaki yang mana dulu?"
"Tentu saja yang cucunya Tsunade-sama!"
"Oh... kalau dia, aku tidak lihat. Memang kenapa?"
"Tsunade-sama memintaku untuk memanggilnya. Aduh bagaimana ini?"
"Hahaha, kalau begitu semoga beruntung Suzuna, jaa~"
Suzuna menghela nafas pasrah, tadi saat ia dipanggil Tsunade. Wajah direkturnya itu terlihat kusam dan emosi. Bagaimana nasibnya jika dia tidak menemukan Uzumaki-sensei dan menjadi korban kelinci percobaannya Tsunade? Suzuna bergidik ngeri, ia segera berlari mengelilingi rumah sakit untuk mencari si dokter pirang.
Desahan pelan terdengar dari balik pintu yang terkunci. Dua sosok laki-laki matang tengah saling memadu kasih. Kecupan demi kecupan saling mereka berikan hingga tak jarang saling perang lidah. Naruto mengerang pelan saat leher jenjangnya dikecup dan digigit pelan. Jemarinya yang lentik meremas pelan rambut hitam malam.
"Sa-sasu...-ke... Ah! he-hentikan..."
Laki-laki dengan manik hitam itu menghiraukannya. Tangannya yang bebas kini sibuk membuka resleting celana Naruto. Sementara tangannya yang satu lagi menekan kepala belakang kekasih, untuk memperdalam ciuman mereka. Naruto mengalungkan kedua tangannya pada leher Sasuke, meski ia ingin menghentikan kegiatan mereka, namun ia juga masih menginginkan lebih.
Suara dering ponsel mengalun lembut, cukup nyaring sebenarnya namun sama sekali diacuhkan oleh dua laki-laki di sana. Mereka masih menikmati dunia mereka sendiri, sampai tanpa sengaja Naruto menekan tombol hijau di ponselnya yang terletak di sampingnya.
"UZUMAKI NARUTO, UZUMAKI SASUKE! KE RUANGAN SEKARAAAAAAAANGGGG!"
"Sial!" Naruto mengumpat pelan, segera ia meraih ponselnya dan mendengus pelan. "Aku bahkan tidak mengaktifkan loudspeaker. Bagaimana bisa suara baa-chan sekencang itu?"
Sasuke yang tengah merapikan pakaiannya hanya tertawa kecil, "Bukan hanya suaranya yang kencang, kulitnya masih sama seperti kita sekolah dulu."
"Karena itulah aku bilang kalau dia itu pasti penyihir."
"MAU SAMPAI KAPAN KALIAN BICARA SAJA? CEPAT KE RUANGANKU SEKARANG DUOBAKA!"
Naruto kembali terperanjat kaget, ia segera mendekatkan ponsel pintarnya dan menjawab sambil terburu-buru merapikan bajunya. "I-iya baa-chan, ini aku jalan kok." Setelah itu Naruto mematikan ponselnya, raut wajah kaget masih terlihat di sana. "Aku lupa kalau belum aku matikan, dan serius. Aku tidak mengerti bagaimana Dan—jiji bisa sanggup mendengar suara teriakan baa-chan."
"Itulah kekuatan cinta, dobe."
"Hentikan itu Teme, kau membuatku merinding."
"Hn, tapi memang benar. kau harus bersyukur karena ternyata baa-san ingin menikah lagi, jadi kita bisa menikah tanpa memusingkan pewaris rumah sakit ini."
"Tapi berkat hal itu, aku jadi punya paman yang lebih muda dariku."
Naruto tertawa pelansaat mengingat kelakuan remaja laki-laki yang ia panggil paman itu. Paman yang selalu mengikuti dia dan Sasuke kemana saja, sudah seperti anak ayam dan juga seperti adik mereka.
Sasuke membuka pintu loker dan meraih tangan Naruto. Senyum manis kembali Sasuke ulas saat Naruto membalas genggaman tangannya. "Jadi, kencan sampai kantor Tsunade-baa-san?"
"Tentu!"
.
.
.
Fin~
AN/ finally ending~ buahahaha, maaf ya lama nunggu hehehe. Thanks buat yang sudah ngikutin cerita ini sampai akhir. Semoga endingnya memuaskan ya~ dan jujur, sempet lupa kalau Naru belum pernah ngomong suka sama sekali sama Sasuke. Jadi tadi aku sempat revisi hahahaha *ditempeleng Sasuke*
Thanks buat review kalian, sini kemari, coco bales dulu review kalian hehehe.
Choikim1310: saingan Sasu? Mungkin sifat tsunderenya Naru hahaha.
Shiro-theo21: Awww~ makasih, berarti termasuk sukses bikin kamu baper dong hahaha.
Sasunaru ForEver: Meh~ maafkan daku yang lama update, maklum selain ada kendala sama komputer, perbanyak nonton dulu biar dapet feel-nya :D
versetta: adegan di kedai ramen? Itu memang greget, author ikutan gemes liat mereka.
meriana: kalau aku bikin omake pas Sasuke minta restu sama Tsunade pada setuju enggak ya? Thanks juga udah review~
Guest: Bingo~ dia memang tipe Tsun-tsun hehe
viana ling: buahaha i'm so sorry for made you lumutan. Peace love and gahoul ya~ thanks udah review dan nungguin fik absrud ini.
michhazz: dari dulu itu aku bingung ngedeskripsiin rambutnya shion -_-, coklat pucet atau pirang? Terus untuk kata frustrasi, itu aku pernah baca kalau kata-kata yang bener tuh itu, frustrasi, tapi entahlah hehehe. Thanks untuk info typonya~ makasih pula untuk review kamu~
Sondankh641: etto, Naru sama Sasu itu sama2 anak yatim piatu hehehe.
Light Megami: terjawab sudah rasa penasaranmu nak di chapter ini. hahahaha iyaa, makasih juga udah mau baca ceritaku :D
anita indah.777: saya setuju, tsundere itu memang gemesin hahaha.
unians: iyaa salam kenal juga~
Sekali lagi makasih untuk kalian yang sudah mau memfollow dan favorite cerita absurd ini. sampai ketemu lain waktu dengan cerita lainnya. ^^ *deep bow bareng NaruSasu and the crew of My devil kaichou* Bye-bye~
