Author: Cocoa2795
Rating: T to M
Genre: BoysLove, Romance, Humor, etc.
Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. This story is belongs to me.
Omake
.
.
.
"BISAKAH KAU BERHENTI DAN DENGARKAN AKU?!"
Sasuke memejamkan kedua matanya, telinganya yang berdegung membuatnya merasa pening. Manik hitam malam itu menatap sosok pemuda pirang yang menatapnya nyalang.
Genggaman tangan itu ditepisnya. Naruto mencoba mengatur nafasnya sekaligus menenangkan pikirannya yang acak kadut. Salahkan senpai yang berdiri dan menatapnya tanpa rasa bersalah.
Akibat perkataannya yang tiba-tiba dan tidak masuk akal itu, Naruto tidak tahu harus terharu atau malah membawa senpai-nya itu ke rumah sakit jiwa terdekat.
"Kau mau menemui baa-chan dan meminta restunya? Apa kau gila?!" untuk kesekian kalinya, Naruto mempertanyakan kewarasan seorang Uchiha Sasuke.
"Bukannya kau takut kalau aku hanya main-main denganmu?" Sasuke tersenyum miring begitu melihat Naruto sedikit tersentak. Pemuda dengan rambut hitam itu menghampiri Naruto, lalu menarik dagu pemuda itu agar kedua mata mereka saling bertemu. "Karena itulah, aku ingin meminta restu. Agar kau tidak merasa cemas menunggu kepastian dariku."
Pemuda itu berdecih dan menepis pelan tangan Sasuke, "Aku bukan gadis yang akan galau menunggu kepastian."
"Benarkah?"
Sudut pelipis Naruto serasa berkedut melihat senyum Sasuke. Dengan tiba-tiba Naruto menendang tulang kaki Sasuke dan melenggang pergi. Ketua Osis Konoha Gakuen itu meringis pelan sebelum senyum kembali ia ukir di wajahnya.
Meski agak tertatih, Sasuke berhasil mengejar Naruto. Pemuda itu lalu berlutut dengan satu kaki di depan Naruto. Akibat ulahnya bukan hanya membuat junior-nya itu terkejut, para pejalan kaki yang ada di sana menatap mereka penasaran.
"O-oi oi, a-apa yang kau lakukan?"
"Jadi, maukah kamu ikut untuk meminta restu?"
Keheningan yang melanda untuk sesaat, siapa yang menyangka akan terasa horor bagi seorang Uchiha Sasuke. Jantung pemuda itu berdetak cukup cepat, rasa takut juga melanda dirinya. Meski pemuda pirang itu mengaku juga menyukai dirinya, tetap saja hatinya tidak tenang sampai ia benar-benar yakin kalau Naruto adalah miliknya.
Bletak!
Sasuke mengerjap beberapa kali, ketika ia mendapati pukulan yang kedua. Barulah Sasuke mengaduh pelan dan menatap Naruto tidak mengerti. Naruto menarik tangan Sasuke agar pemuda itu segera berdiri dari posisinya.
"Berhentilah bertingkah bodoh, ketua idiot!"
Melihat Naruto yang bahkan tidak mau melihat wajahnya, Sasuke hanya bisa menghela nafas pasrah. Mungkin, pemuda itu masih butuh waktu, dan Sasuke harus belajar untuk bersabar. Namun ketika manik hitamnya mendapati plang nama bertuliskan 'Uzumaki' Ketua Osis Konoha itu mengerjap beberapa kali.
"Ke-kenapa kau malah bengong?"
Kepala Sasuke memutar secara otomatis dan tanpa sadar ia mengecup bibir kenyal itu saat melihat wajah merah Naruto. Pemuda pirang itu memekik tertahan dan langsung memukul kepala Sasuke spontan.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!"
"Ah! maaf tidak sengaja..."
"Te-Tem-uh..."
Baiklah, mungkin ini memang pilihan yang salah. Tidak seharusnya dia terlena dengan tatapan serius yang laki-laki itu berikan. Bagaimanapun Uchiha Sasuke hanyalah laki-laki mesum dan mereka baru kenal tidak lama ini.
Menyetujui perkataannya dan meminta restu, Naruto yakin ini bukanlah pilihan yang tepat. Pemuda pirang itu segera memutar badan Sasuke dan berusaha mendorong senpai-nya itu.
"Benar saja, ini bukanlah keputusan yang tepat. Lebih baik kau pulang senpai!"
"Eh? Tung— kau serius Naruto?!"
"Tentu saja, lagi pula aku yakin, baa-chan tidak akan menerima kita!"
Naruto hampir saja terjungkal karena Sasuke tiba-tiba berbalik. Ketua Osis Konoha mencengkram salah satu tangan Naruto dan menatap pemuda itu tajam.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu, sementara kita belum bertemu dengan nenek mu."
"I-itu..."
Melihat Naruto yang tidak bisa berkata apa-apa membuat Sasuke membulatkan tekadnya. Memang seharusnya dia mengambil keputusan, dan terlebih dia memang bukanlah tipe penyabar.
"Ayo masuk."
"Eh? Tunggu dulu!"
Naruto berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Sasuke. Namun siapa yang menyangka tenaga ketua bodoh itu cukup kuat untuk menyeretnya sampai di depan pintu. Sasuke memutar kepalanya, menatap wajah Naruto yang sudah memucat dan keringat dingin.
"Kalau pun nanti beliau tidak menerima kita. Aku tinggal berusaha keras untuk membuatnya menerima kita."
Naruto mendengus pelan mendengarnya, "Memang kau pikir mudah meyakinkan nenek."
"kita lihat saja."
...
Tsunade menekuk kedua alisnya, saat ia tengah menyiapkan makan malam untuk cucu kesayangannya. Suara bel terdengar dan ketika ia membuka pintu, dua sosok anak sekolah dengan tatapan serius dan gugup ia dapatkan. Dan kini, mereka bertiga tengah duduk di ruang tamu.
Naruto menaruh tiga cangkir teh di atas meja dengan tatapan gelisah. Sejak tadi maniknya sibuk melirik Sasuke dan Tsunade secara bergantian. Sementara Naruto tengah dilanda gugup, Sasuke hanya duduk dengan tenang.
"Selamat sore, Tsunade-san. Perkenalkan saya Uchiha Sasuke, Ketua Osis Konoha Gakuen."
Mendengar penuturan Sasuke, manik coklat Tsunade melebar. Senyum lebar seketika menghiasi wajah wanita cantik itu.
"Oh, ada perlu apa Uchiha-san datang kemari? apa anak ini melakukan sesuatu?" tanya Tsunade sembari memukul punggung Naruto yang duduk di sebelahnya.
"Ah, tidak. kedatangan saya kemari hanya untuk menyapa saja."
"Benarkah?" sekali lagi Tsunade menyerengit. "Tapi kenapa saya merasa ada hal yang ingin kalian berdua sampaikan?"
Naruto sukses merinding mendengar perkataan Tsunade. Raut wajah pemuda pirang itu sudah seputih kertas dengan keringat dingin membanjiri wajahnya.
'Da-dasar penyihir!'
Tsunade mendelik sebal ke arah Naruto, "kau pasti mengataiku penyihir lagi, Naruto!"
"Ti-tidak, tentu saja tidak-dattebayo ahahaha..."
Sasuke tersenyum tipis melihat kedua kepala pirang di depannya. Pemuda bermarga Uchiha itu lalu berdehem pelan, guna menarik perhatian dua orang di depannya. Sasuke mulai mengeluarkan senyum andalannya yang bahkan membuat Naruto melebarkan manik birunya.
"Wah, tidak hanya cantik, Tsunade-san juga rupanya orang yang cepat tanggap." Sasuke berujar dengan suara lembut.
Tsunade yang memang senang disanjung, terutama oleh pemuda tampan macam Sasuke langsung tersipu malu.
"Hahaha terima kasih, kau juga anak yang sangat tampan. Dan ku dengar dari ibu-ibu, kau itu sangat bisa diandalkan."
Naruto hanya bisa berdiam diri melihat kedua orang di depannya saling melempar sanjungan. Entah mengapa Naruto berada di dunia yang berbeda dengan mereka berdua. Seakan dia hanyalah bocah dan kedua orang itu berada di dunia orang dewasa.
"Jadi ada perlu apa, sampai kau datang kemari Uchiha-san?"
"Sebelumnya, tolong panggil saya Sasuke saja. Anggaplah saya sebagai cucu anda sendiri."
Tsunade kembali tertawa, "Oh, aku pasti akan jadi orang paling bahagia karena memiliki cucu sepertimu."
Sasuke memiringkan senyumnya begitu mendengar perkataan Tsunade. Pemuda bermanik hitam itu lalu membenarkan posisi duduknya lalu menatap wanita itu dengan serius.
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya benar-benar menjadi cucu anda?"
Tsunade yang menyadari perubahan aura dan suara Sasuke, menatap pemuda itu meminta penjelasan. Sasuke tersenyum lembut, lalu ia menurunkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya kemari hari ini untuk meminta restu. Izinkan saya untuk menikahi Uzumaki Naruto begitu kami lulus sekolah."
Tsunade mengerjapkan matanya, "Eh?" lalu detik berikutnya melebarkan matanya dengan mulut menganga lebar.
"APA?!"
Naruto meringis pelan mendengar suara Tsunade yang terkejut bukan main. Wanita cantik itu menatap cucunya lalu laki-laki di depannya. Terus seperti itu sebelum ia menatap Naruto yang tersenyum kikuk ke arahnya.
"ka-ka-kalian serius?" Tsunade yang berhasil mendapatkan suaranya lagi, bertanya ragu-ragu.
Namun begitu melihat kedua pemuda itu mengangguk bersamaan. Tsunade hanya menghela nafas pendek dan memijat keningnya.
"Ba-Baa-chan?"
"Apa?"
"A-apa... pendapatmu?"
Tsunade menatap lurus sepasang manik biru di depannya. Wanita cantik itu tersenyum tipis, "Kalau itu memang keputusanmu, aku akan mendukung kalian."
Kali ini giliran Naruto yang membulatkan matanya, "Baa-chan serius? Dia laki-laki, loh, bukan perempuan!" ujar Naruto hampir berteriak."Kalaupun kami menikah, kami tidak mungkin bisa memiliki anak. Kami tidak akan punya keturunan untuk meneruskan rumah sakit Ayah dan Ibu."
Bletak!
"Aduh, sakit baa-chan. Kenapa kau memukul kepalaku?!"
"Kau masih memikirkan hal itu? sudah aku bilang kau tidak perlu memusingkan hal itu, cucu bodoh!"
"Tentu saja aku memikirkannya, karena rumah sakit itu peninggalan mereka."
Wanita yang sudah berumur itu berdecak sebal, "kalau begitu kenapa kau tidak menikah saja dengan perempuan?!"
Sasuke yang sejak tadi diam mendengarkan tersontak kaget. Namun belum sempat ia mengucapkan protes. Naruto sudah mendahuluinya.
"TIDAK BISA!" Naruto memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. "I-itu karena aku sudah terlanjur menyukainya!"
Mendengar jawaban jujur Naruto, membuat Sasuke merasa hari ini adalah hari yang paling bahagia baginya. Sementara itu Tsunade tersenyum geli dengan tingkah Naruto.
"kalau begitu apa lagi yang harus kau pusingkan." Sebelum Naruto kembali membuka mulutnya Tsunade memotongnya terlebih dahulu. "Untuk masalah pewaris rumah sakit, kau tenang saja karena aku berencana untuk membuatnya secepat mungkin."
Baiklah, itu kalimat sangat ambigu. Naruto dan Sasuke saling tukar pandang dan memiringan kepala mereka.
"Membuat? Bukannya seharusnya kalimat yang lebih tepat itu 'mencari', benarkan?"
Tsunade tersenyum penuh misteri.
...
Naruto menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Langkahnya pendek-pendek dan lebih terlihat menyeret kedua kakinya ketimbang melangkah. Sasuke yang berada di sampingnya hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu Naruto.
"Aku tidak menyangka akan mendengar kabar besar seperti itu."
"Kenapa? Bukankah jadi impas, karena kita juga memberi kabar besar."
Pemuda pirang mendengus pelan, "Tetap saja, aku tidak menyangka kalau baa-chan berniat menikah lagi."
Anak bungsu keluarga Uchiha itu tersenyum tipis, ia melangkah mendekat dan mendorong tubuh Naruto pelan menuju dinding. Pemuda pirang itu mencoba mendorong Sasuke dan menutup mulut laki-laki yang lebih tua darinya itu.
"Bi-bisakah kau tidak melakukan hal aneh di tempat umum seperti ini?" Naruto mengedarkan atensinya, berharap jalanan yang mereka lalui sedang sepi.
Sasuke melepaskan tangan Naruto dari mulutnya sebelum mengecup singkat pipi pemuda pirang itu. Wajah Naruto yang berubah merah seperti buah tomat, membuat Sasuke semakin tersenyum lebar.
"Kau manis, jadi jangan salahkan aku ingin mencium mu." Tanpa menunggu respon dari Naruto, pemuda itu mulai melumat bibir kenyal itu dengan intens.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat Naruto merasakan tubuhnya memanas dan mulai mendesah pelan. Kedua lidah itu saling bertemu dan bertukar ludah hingga Sasuke melepaskan ciuman panas itu.
Namun tidak sampai disitu, Sasuke mulai menarik kerah seragam sekolah Naruto. Ia mencium tengkuk pemuda pirang itu. Nafas panas dari Sasuke yang menerpa leher Naruto membuat pemuda pirang itu merinding. Suara kecupan terdengar dan saat Sasuke mencoba meninggalkan jejak di leher Naruto.
Pemuda pirang itu mendesah pelan, dan mulai meremas rambut hitam Sasuke. Sementara bibirnya sibuk meninggalkan jejak, kedua tangan Sasuke mulai meraba perut datar Naruto yang terlindungi seragam sekolahnya. Ketika tangan kekar itu mulai menggerayangi bagian celananya, Naruto kembali pada kesadarannya.
"Uwa, baik berhenti sampai sini!"
Sasuke menatap pemuda pirang itu kesal dan berdecak sebal. Tidak mau membuat Naruto kembali marah padanya, Sasuke mundur dan kembali berjalan.
"Lebih baik kau pulang, sebelum aku tidak bisa menahan diriku lagi."
Tidak mendapati jawaban dari Naruto, pemuda itu memutuskan untuk melangkah pergi dengan perasaan berat. Bagaimanapun dia masih ingin bersama pemuda pirang itu. Namun belum sampai beberapa langkah, sebuah tarikan dari belakang menghentikannya.
Sasuke memutar kepalanya dan mendapati Naruto menarik ujung kemeja sekolahnya. Dengan wajah tertunduk dan merah, Naruto berujar terbata-bata.
"A-aku... belum melakukannya."
"Melakukan apa?"
"Me-meminta restu keluargamu!"
...
Itachi tersenyum ramah pada sosok pemuda pirang yang duduk di sebelah adiknya. Sarada yang berada di pangkuannya tengah asyik bermain boneka. Duda satu anak itu bisa dibilang tengah gembira melihat adiknya membawa seorang teman ke rumah.
"Aku tidak menyangka kalau Sasuke akhirnya mengajak temannya untuk main kemari."
Naruto yang sejak tadi mencoba meredakan rasa gugupnya, sedikit tersentak mendengar suara Itachi. Pemuda manis itu tertawa gugup dan berujar dengan terbata-bata.
"Be-benarkah? Ahaha... sa-saya ju-juga kaget."
"Anak ini sejak dulu tidak pernah mengajak siapapun untuk bermain kemari. Sebagai kakak tentu saja aku merasa cemas, takut dia tidak punya teman dengan sifatnya yang cuek seperti ini."
Naruto tertawa pelan, 'Kau tidak tahu saja bagaimana sifat adikmu di sekolah, Uchiha-san!' pemuda pirang itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi apa kau akan menginap hari ini, Naruto?" tanya Uchiha yang membuat Naruto membulatkan matanya.
"Ah, benar juga. Bagaimana kalau kau menginap hari ini, Naruto?"
Pemuda pirang itu menatap Sasuke dan Itachi bergantian. Terlihat jelas wajahnya memucat, terutama saat melihat seringaian ketua Osis. Naruto segera menggeleng kuat-kuat. Tidak, dia masih ingin hidup jadi terima kasih banyak.
"Aahahaha... ti-tidak, mungkin lain waktu. Saya ke-kemari karena ada ya-yang ingin saya bicarakan dengan Uchiha-san, hehehe."
Itachi memiringkan kepalanya, "Dengan ku?"
Pemuda itu mengangguk berulang kali, untuk kesekian kalinya Naruto menelan ludah gugup. Diam-diam Sasuke yang berada disampingnya mencoba menahan tawa.
"Sa-saya ke-kemari i-ingin..." oh, sial. Naruto benar-benar mati kutu dan tidak tahu harus mengatakan apa. "I-itu...Sa-saya i—ingin mi-minta..."
"Kau baik-baik saja Naruto?" Itachi menatapnya penuh khawatir.
"Uh..." Naruto melirik Sasuke yang berada di sampingnya. Memasang wajah memelas dan berharap ketua osis itu menolongnya.
Sasuke yang mengerti dengan tatapan Naruto tersenyum tipis. Pemuda itu mengangguk mengerti, membuat Naruto menghela nafas lega. Sasuke segera membenarkan posisi duduknya dan tanpa peringatan. Adik dari Uchiha Itachi itu mencium bibir Naruto, dalam dan intens.
"Eh?"
Sasuke menarik dagu Naruto, guna untuk memperdalam ciuman mereka. Kecupan demi kecupan pemuda itu berikan. Naruto yang tersadar segera memukul punggung Sasuke, mencoba untuk melepaskan diri dari ciuman maut ketua iblis itu.
Setelah kehabisan nafas barulah Sasuke melepaskan ciumannya. Pemuda itu menyeringai dan menjilat bibir atasnya dengan senyum jahil. Naruto yang kehabisan nafas sudah memerah dan siap meledak, mengeluarkan amarahnya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!"
"Hanya membantumu."
"Tapi bukan begini caranya, seharusnya kau membantuku memberitahu kakakmu kalau kita mau minta restu darinya!"
"Terlalu merepotkan, lebih baik menunjukkannya langsung."
Naruto kehabisan kata-kata, tingkah laku senpai-nya itu benar-benar absrud. Tidak bisakah dia lihat kalau kakaknya pasti akan sangat terkejut. Naruto segera mengalihkan atensinya pada duda beranak satu itu.
"Uchiha... san."
Oh tidak, Naruto menatap miris sosok Itachi yang terlihat kehilangan nyawanya. Meski duda itu seakan siap pingsan, namun lelaki itu masih sempat menutup kedua mata anaknya. Sikap yang patut Naruto acungkan jempolnya.
Sasuke tersenyum miring, pemuda itu lalu merangkul pundak Naruto dan mengecup pipinya sekilas. "Seperti yang kau lihat Aniki, kami berpacaran dan kami ingin meminta restu darimu untuk menikah setelah lulus sekolah."
Mohon maaf untuk saat ini kinerja otak Uchiha Itachi mengalami maintence.
...
15 Tahun kemudian...
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Naruto yang baru saja selesai mandi, menghampiri Sasuke yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu di ruang tamu. Pemuda pirang itu duduk di samping Sasuke dan melihat kertas yang tengah diisi Sasuke.
"Aku sedang mengisi dokumen pernikahan kita."
Pemuda pirang itu mengangguk tanda mengerti. Meski sudah berjalan dua bulan pernikahan mereka, dikarenakan kesibukan keduanya. Mereka belum sempat mengisi dokumen penting mereka.
Naruto meraih kertas itu dan membacanya sebelum maniknya melebar, "Kau yakin mengganti nama mu menjadi Uzumaki Sasuke?"
"Yakin, kenapa tidak? aku sudah pernah mengatakannya bukan?" Sasuke melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Naruto. "Kalau aku siap mengganti namaku demi kau."
"Tapi—"
"—Uzumaki Sasuke, tidak terdengar buruk." Sasuke berujar, memotong perkataan Naruto. Pemuda itu tersenyum hangat dan mengecup singkat bibir Naruto. "Meski sudah ada Menma yang menjadi penerus, aku sudah berjanji untuk berganti nama jika aku bisa memilikimu."
Wajah Naruto seketika memerah mendengar pengakuan Sasuke. Dirinya merasa tersanjung dengan perlakukan pemuda itu. Melihat pemuda pirang itu menunduk dengan wajah memerah, membuat Sasuke tersenyum simpul.
"Ah!" Naruto tersentak kaget saat tiba-tiba Sasuke menggigit lehernya pelan.
Laki-laki itu menjilat lalu mengesap dan meninggalkan jejak merah di leher jenjang Naruto. Pemuda itu mendesah pelan dan tubuhnya bergetar. Sasuke semakin melebarkan senyumnya, dan pemuda itu lalu merebahkan punggung Naruto di atas sofa.
"Kau tahu, meski aku menjadi 'Uzumaki' aku tetaplah yang di atas."
Naruto tertawa tanpa suara mendengar kata-kata Sasuke. Pemuda itu memang tidak pernah mau mengalah dan selalu seenaknya.
"Hm... a-ah! Sa-Sasu...ke..." desahan kembali terdengar saat jemari lentik Sasuke mulai meremas puting Naruto.
"Naru..."
Kedua bibir itu kembali bertemu, saling melumat satu sama lain. Naruto melepaskan ciuman panas itu dan tersenyum hangat.
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti, kau itu selalu menjadi seme, puas?"
Sasuke tersenyum penuh kemenangan, "Kalau begitu kau harus menurut. Jadi, siap mulai ronde pertama?"
"Oh, ayolah!"
Tanpa menunggu waktu lagi, Sasuke segera beranjak dan menggendong Naruto dengan ala bride style dan membawanya menuju lantai dua dimana kamar mereka berdua berada.
.
.
.
THE END
AN/ haloha~ bertemu lagi dengan saya di OMAKE The devil kaichou. Sebenarnya omake ini sudah ingin saya buat tahun lalu, Cuma yah belum ada feel buat ngelanjutin hahahah. Peace broh~
Omake ini aku buat untuk menceritakan tentang bagaimana kedua pasangan ini meminta restu. Juga... mengenai beberapa hal yang sempet ditanyakan para reader. Salah satunya mengenai kenapa malah Sasuke yang berganti nama dan bukannya Naruto.
Hohoho laki-laki sejati itu berpegang teguh dengan kata-katanya. Sasuke udah pernah bilang kalau dia siap untuk berganti nama menjadi Uzumaki dengan si pirang manis.
Dan seperti yang Sasuke katakan pada Naruto. Dia teteplah yang di atas, the seme bray xD
Trus maaf kalo alur berasa ngebut, sengaja biar gak terlalu panjang. Entar yang ada omake malah dua chapter kan berabe. Kuat emang nunggu update selanjutnya yang pasti lama?
Makasih buat kalian yang sudah baca fanfik ini, dan untuk para fujoshi di luar sana. Terutama SN lovers, ada kabar gembira buat kalian. Apa itu? saya lagi in proses cerita SN baru dan mungkin genre ini bakal jadi yaoi hard core? Entahlah, berharap saja saya kuat bikinnya. Hati ini masih inosen kakak...
Fanfik mendatang, seperti biasa bakal dikit chapternya. Mungkin hanya 3 chapter atau lebih dikit. Saya gak mau banyak-banyak chapter, takut gak selesai seperti yang lama2. Terus mungkin masih agak lama rilisnya, kenapa? Saya mau bikin 2 chapter dulu, jadi setidaknya bisa update seminggu sekali.
Semoga fanfik mendatang kalian nantikan yah... dan mendapat respon baik dari kalian. Salam hangat dari Coco, babay~
