"Winter Bird"
VKOOK Fanfiction
"Terlambat lagi, Jeon?"
"Apa kau selalu bangun siang hari?"
"Hebat, ini bahkan sudah hampir jam 10"
Dingin bahkan tak bisa menghentikan dirimu memanas.
Uap dalam setiap deru nafasmu, membuat kabut dalam sadarku.
Bahkan dalam kerjapan sekilas yang tak rela kulepas.
Kau merengkuh segala diriku.
ㅡㅡㅡ Lembar kedua catatan harian Jeon Jungkook ㅡㅡㅡ
"Aku menunggumu, maksudku.. hanya untukㅡ terima kasih untuk yang kemarin"
Bukan seperti ini skenarionya. Tapi gemetar ini sungguh sial mengacaukan segalanya.
Aku tak pernah berbicara dengan siapapun secara mata dengan mata semacam ini.
Tatapan yang sederhana namun sanggup membuat diri ini begitu kecil.
"Hm. Sudah terlambat juga untuk ke kelas, ayo pergi.."
Hari ini, sentuhan dari orang asing, menjangkauku untuk yang pertama kalinya. Genggaman telapak tangan Kim Taehyung, merengkuh secara penuh pergelangan tanganku.
Aku rapuh. Panasnya membuat beku dalam diriku melebur.
ㅡ ••• ㅡ
Kim Taehyung adalah seorang berandalan sekolah yang seluruh sudut sekolahan sudah mengetahui bahwa itu bukanlah lagi hal besar yang mengejutkan. Namun kehadirannya tak pernah absen dari buah bibir. Aku tak mengenalnya, bahkan seperti apa sosoknya baru kuketahui tempo hari hanya berpetunjuk dari name tag yang tertera pada baju seragamnya. Tak pernah ada dalam bayanganku bahwa akan ada satu hari seperti ini, dia membawaku pergi, kemanapun ia melangkahkan kaki.
"Buka mulutmu"
Segala hal yang terucap dari bibirnya, hanyalah kalimat ringkas dan tegas. Tak menjelaskan apapun dalam bentuk penuturan panjang. Sedangkan aku hanyalah manusia dengan lidah yang kelu. Maka disampingnya walau penuh ketenangan, seluruh gerak tubuhnya berbicara.
"Permen?"
"Kau tak suka lolipop?"
Gelengan cepat kulayangkan. Menolak uluran tangannya, hendak meraih kembali sebuah permen yang baru saja ia lesakan ke dalam mulutku. Sekali lagi hanya isyarat sebagai pengganti kata. Aku hanya takut gemetar membuatku tergagap, dan itu memalukan. Aku tak ingin terlihat sepayah itu.
"Tak apa, banyak yang bilang memakan permen hanya seperti anak kecilㅡ"
"Tidak, aku suka.."
Saat itu aku baru menyadari bahwa saat memalukan bukanlah situasi dimana kalimatmu tergagap, melainkan saat diluar kendalimu sendiri kau merengek dihadapan orang yang baru saja kau kenal, di usiamu yang sudah bukan kanak-kanak lagi.
Wajahku memanas dan si pelaku hanya memberi gelakan tawa.
Kim Taehyung membawaku kemanapun. Menembus hawa dingin yang bahkan membuat manusia pada umumnya enggan untuk berpergian bertumpu kedua kaki.
Berjalan menyusuri jalanan pemukiman, bermain dan tertawa lepas, berhenti hanya untuk sekedar mengisi kehampaan energi dan menyaksikan hal-hal yang sebelumnya tak pernah kulihat.
Jembatan ini, dengan dikelilingi pepohonan cherry blossom tanpa rimbun dedaunan.
Tak ada yang Taehyung lakukan. Pun juga aku yang hanya sanggup terdiam. Hanya menyaksikan aliran sungai dengan deras tak seberapa.
Sunyi dan hanya riakan air sungai.
"Kau.. bagaimana bisa tahu namaku?"
Ini retorika. Namun seolah ada jawaban lain yang kuharapkan dari pertanyaan yang kulontarkan. Dia memanggilku Jeon dan terkadang Jung. Hanya seperti itu.
Detik bergulir terasa melamban. Terus kuhitung, seberapa memakan banyak waktu hanya untuk menyusun sebuah kalimat jawaban? Atau memang enggan menjawabnya. Aku tahu ini nampak begitu basa-basi. Dan seketika hembusan menyelimuti semakin dingin.
Gerakannya tak terbaca. Bahkan menimbulkan aliran kejutan saat telunjuk Kim Taehyung menekan name tag pada seragam yang kukenakan.
"Aku membacanya.. namamu unik"
Unik bukanlah pujian. Aku tahu itu. Tapi unik itu berbeda. Unik itu lain dan tak biasa. Dan aku senang.
Cukup senang mengetahui setidaknya dalam pikiran Kim Taehyung telah melekat hal unik ini.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Empat dinding membentuk bagian kosong pada setiap sudut.
Menghimpit pusat, dan mencoba kau raih segalanya dalam sesak.
Menyusun apa yang didapati dalam bentuk berurut, mengumpulkan apa yang menyeruak.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Sekali lagi Kim Taehyung dalam keadaan kosong.
Mengendalikan dirinya yang menggigil.
Menelusuri sekali lagi apa yang telah ia lupakan. Sekali lagi, usai menyaksikan kilasan masa lalu yang Jungkook torehkan dalam catatan hariannya.
Dingin yang ia rasa hanya sesaat kali ini. Dadanya menghangat. Sesuatu menyentuh relungnya.
Tak ada rasa rindu yang muncul tanpa beralasan
Sesak yang dia rasa, rindu yang dia rasa, berlari pada Jungkook.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Hanya sebuah jembatan kayu yang kokoh. Dengan masih dibaluri dingin pada permukaannya. Tak mengindahkan rasa, Taehyung hanya ingin disini.
Kali ini dengan sebuah jawaban, ada alasan yang selalu membawanya kemari.
Dirinyalah yang pertama kali membawa Jungkook ke tempat ini, tempat yang kemudian ia ketahui menjadi tempat yang selalu Jungkook datangi tanpa sepengetahuannya, tanpa dirinya ikut serta.
'Saat musim semi, tempat ini akan sangat cantik. Itu yang dikatakan Taehyung. Dan dia akan membawaku kemari. Aku terus menghitung dan berharap hitungan ini akan begitu cepat. Kapan musim semi tiba? '
Pucuk-pucuk dedaunan mulai tak malu menunjukan diri. Tak akan lama akan menjadi hamparan merah jambu. Lalu langit dengan semburat oranye akan menyatu. Hal indah semacam apa yang hendak ia nantikan? Seolah ada semi lain yang dinantikan.
"Apa aku menepati janjiku, Jungkook-ah?"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
- akhir dari bagian ketiga -
Pendek? Iya. Maafkan aku.
Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri membaca sampai dibaris kalimat ini.
Untuk yang follow-favorite-review juga, terima kasih banyak.
Itu semangat buatku.
Mind to review?
Regards,
Pyrhos's
