"Winter Bird"

VKOOK Fanfiction

Aku melihat hijau,

Dibawah kelabu.

Tetap memukau meski dalam payung kelambu.

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

"Kau tampak begitu indah, bagaimana bisa anganku begitu lancang menghapusmu?"

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

Mendung diluar sana. Menyelimuti seluruh kota dalam kelabu. Entah hujan sekedar hanya tertiup angin, atau akankah badai?

Kembali pada hari yang terhapus dari memori, Taehyung tak ingat pernah berada ditempat ini.

Rak-rak tinggi berjajar membentuk sebuah barisan kokoh. Aroma usang, kertas-kertas yang melonjak keluar dari halaman tempatnya melekat. Seluruh buku terjejal menyesakan. Bedebu pada bagian yang hampir menyentuh atap, jauh dari jangkauan manusia.

Bahkan tempat ini gelap, tempat yang seharusnya memiliki pencahayaan mencukupi. Lingkungan baca yang sepertinya menyadari bahwa mata para pelajar enggan melirik, meredupkan diri.

Disudut yang tepat, Taehyung mendudukan dirinya. Meredakan perasaan mual yang menyerangnya.

Yang dia lakukan usai kakinya menjejakan diri di lantai kamarnya adalah membuka lembar selanjutnya catatan Jeon Jungkook dengan antusias menggerogoti.

Namun yang ia dapati adalah tarikan kuat yang menghisapnya setelah sebelumnya pusaran angin menyerang dan memporakporandakan isi kamarnya.

Terhisap ke dalam buku membawanya ke dalam pusaran gelap yang tak seperti biasanya. Begitu kuat dan menjerat. Membuat seluruh isi perutnya ikut berputar.

Taehyung akan menyumpah. Begitu keji jika saja yang ia dapati tak akan sebanding. Namun kini dihadapannya, tak mencapai 10 langkah, punggung kokoh Jungkook berhadapan dengannya.

"Apa yang kau tulis tentang hari ini? Apa aku pernah ke perpustakaan sekolah? Yang benar saja.. Park Jimin mengatakan aku tak pernah mau menjamah ruangan ini"

Dengusan geli meluncur dari Taehyung. Ia meragu. Benar ini akan jadi cerita tentangnya kah?

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

ㅡㅡㅡ catatan ketiga Jeon Jungkook ㅡㅡㅡ

Seperti sebuah firasat, dorongan yang ia berikan begitu kuat. Bahkan saat hari ini kepalaku penuh akan penat.

Terus saja memaksaku untuk datang ke tempat ini. Sejujurnya aku tergoda juga. Melanjutkan membaca sebuah cerita roman disaat hujan tengah memayungi, setidaknya ini terdengar lebih baik daripada mendorong diri menerjang hujan. Rumah masih bisa menunggu, setidaknya hanya sampai hujan mereda.

"Oh, kau disini juga?"

Suara itu, aku hampir tak percaya. Begitu tenang memberi teguran. Namun begitu kuat menyentak dalam keterkejutan. Ini kejutan.

"A-ah- sunbaenim, membaca juga?"

Kim Taehyung, dapat dihitung dengan jari, berapa kali ia menginjakan kaki ke tempat ini. Yang biasanya hanya akan masuk jika dimintai oleh guru untuk mengembalikan buku-buku pelajaran yang selesai digunakan.

Kim Taehyung alergi pada tumpukan buku yang memiliki rasio perbandingan 1:100 antara jumlah gambar dengan jumlah huruf dalam buku. Itu teori dari para murid teladan yang sering diolok oleh seorang Kim Taehyung.

"Aku.. hanya iseng"

Aku bersumpah melihat gelagat salah tingkah dari Kim Taehyung. Sore ini sepi, mungkin dia akan bersyukur pada hal itu karena tak perlu puluhan anak yang akan memulai kasak-kusuk membicarakannya.

"Begitu.."

Aku tak mau sama salah tingkahnya dengan Taehyung. Radius sejauh mungkin, aku hanya berharap dia jauh dari jangkauan mataku.

Satu langkah, dua langkah, aku selalu benci untuk menjadi gugup. Tapi derapan langkah lain itu terus mengekoriku. Tidak bisakah dia berhenti pada pijakannya?

"Ngg kenapa kau mengikutiku?"

Pertanyaan ini terdengar begitu percaya diri. Tak ada hal lain yang berani kuutarakan lagi selain hanya dehaman dalam keheningan saat Taehyung merenggut banyak waktu hanya untuk memikirkan jawaban, atau sebenarnya tidak.

Sialnya aku sudah merutuki diriku sendiri.

"Karena aku hanya tahu dirimu, disini."

"Ini Dare. Aku perlu mendekam disini selama 30 menit."

"Sedangkan aku tak tahu harus apa disini."

'Lalu kau memilih untuk membuat jantung manusia berdebar hingga sanggup meloncat keluar hanya karena kau mengikutinya?'

Jawaban yang secara gamblang dari Kim Taehyung, sejujurnya bagaikan hantaman palu yang merobohkan harapanku.

"Kau bisa duduk disana dan membaca, atau tidur, atau apapun. Kau mengganggu fokusku.."

"Kenapa begitu?"

Jutaan kali aku akan merutuki diriku sendiri. Hanya dalam 30 menit nanti, selama Taehyung masih menjalani permainan tantangan yang konyol ini. Siapa yang memberi Taehyung tantangan seperti ini? Aku akan menyumpahi orang itu.

"Maksudku... suara kakimu berisik"

Aku sudah tak peduli dengan volume suaraku yang menciut. Hanya tak ingin terdengar merengek lagi atau akan lebih parah dari itu.

Namun seolah ucapanku hanya sekedar melewati telinganya tanpa dicerna oleh pikiran Taehyung sama sekali, dia terus saja mengikuti meski langkah yang kuambil selebar mungkin demi membuat jarak dan lenyap.

"Kau suka membaca?"

"Fiksi? Ensiklopedia?"

Seolah tengah bermain kejar-kejaran, Taehyung tetap mengikutikuㅡ

"Atau buku cerita bergambar?"

"Bagaimana pendapatmu mengenai buku yang tebal? setebal buku telepon?"

"Tidak bisakah kau mengambil satu buku dan langsung baca saja ditempat yang sepi?"

ㅡ dan menanyaiku dengan berbagai pertanyaan random. Tanpa satupun berniat kujawab. Bahkan jika boleh jujur, aku tak bisa menangkap segala pertanyaannya.

"Sunbaenim suka membaca? Aku kira kau alergi pada buku.."

Justru berbalik menanyai. Namun sama tak ada jawaban. Taehyung justru hanya diam. Tak ada suara apapun sampai kuberanikan diri menoleh kearahnya. Wajahnya pucat pasi.

"Ada apa denganmu?"

Hanya gelengan kecil yang kudapati saat itu. Rautnya terlihat gusar dan seketika menyalurkan kepanikan yang sama saat langkah begitu cepat itu mendekat padaku.

Nafasku tercekat. Tak berani menghirup udara saat bahu kokoh milik Taehyung menghimpitku pada rak buku. Membuatku beku. Bahkan cengkeraman tanganku hanya sanggup mengerat lebih kuat pada buku yang melekat digenggamanku.

Aku tahu, bertemu mata dengannya hanya akan membawaku mati lemas. Maka yang kulakukan hanya terus menunduk, sedangkan kesadaranku selanjutnya menemukan tingkah laku Taehyung yang cukup aneh saat mengendusi kepalaku.

"Wangi jeruk? Aku suka jeruk.."

Hanya gumaman rendah yang kudengar sebelum kami sama tenggelam dalam ketenangan selama sisa waktu tantangan bodoh yang dijalani oleh Kim Taehyung.

Aku hanya bersyukur 15 menit berlalu tanpa ada yang memergoki kami sedang dalam posisi seperti ini.

"Sejujurnya, aku memang alergi. Aku menahan mual sejak tadi dan aromamu membuatku lebih tenang kk-"

"Maafkan aku, aku pasti membuatmu takut.."

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

Tak ada apapun yang menggerakan pikirannya. Taehyung hanya merasa segala gejolak bertumpu pada rongga dadanya yang sesak.

Kini dalam gelap, matanya tak menemui ujung. Terperangkap dalam kungkungan jeruji imajiner.

Dalam sekat hampa, dirinya menanti.

Dalam sesat, Kim Taehyung meratapi apa yang begitu sulit ia temui.

"Menyukai apa yang kau lihat, Kim Taehyung?"

Gelap kembali hadir. Kini dalam senyuman remeh. Mengolok kekosongan dalam kotak berisi.

Aroma pengap, semakin mengikis dalam rintih.

"Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukan? Kkhh- apa aku sedang berada dalam sebuah skenario cerita roman?"

Tak ada yang akan sanggup melihat. Sebuah sangkalan dan kemuakan yang perlahan menyeruak, namun dalam hati Kim Taehyung, dirinya mengerang memohon pertolongan.

"Kau menganggap segala yang kau lihat hanyalah sebuah delusi? Bukankah kau mencari ingatan tentang Jungkook? Kau lemah dan menyerah.."

"Aku tak bisa mengingatnya, lalu kenapa kau memaksaku?"

"Aku tak memaksamu, Kim Taehyung. Ingat?"

Dan kebisuan menyumbat laring. Menahan segala kata demi kata pendebat.

Sebuah kenyataan, memang, dirinyalah yang bersikeras mengingat Jungkook.

Tenggelam dalam tatapan tegas, Kim Taehyung runtuh. Taehyung memang menyerah dalam kelemahannya.

Semakin dia menyusuri tulisan tangan Jungkook, udara disekitarnya semakin menipis. Semakin mencekik. Semakin mengeruknya menuju mati.

"Apa aku melakukan dosa besar pada Jungkook?"

"Kenapa begitu sakit..."

"Katakan. Apa aku mencintai Jeon Jungkook?"

Dalam gelap, gumaman itu hanya membentuk gaungan.

Tatapan tegas melunak pada ketidakberdayaan. Sebuah keibaan.

Ia mengetahui Taehyung ingin untuk segera ditarik menuju jalan yang sebenarnya. Bagi Kim Taehyung, segala ini justru membuatnya menapaki jalan tak berujung. Menuju sebuah keputusasaan.

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

Waktu berjalan mengarungi malam. Meninggalkan ruam, pada pagi yang memakan temaram.

Terbangun dalam keadaan sama seperti hari sebelumnya. Taehyung, mengarungi hari sewajarnya manusia dalam kasat mata. Namun guncangan terdalam bersembunyi. Tak ada normal selama beberapa hari berlalu ini.

"Kau oke, Taehyung?"

Itu Min Yoongi. Menemaninya menunggui Park Jimin.

Taehyung jelas ingin menjawab yang sebenarnya terjadi. Mengutarakan segala yang menyebabkannya nampak tak berjiwa belakangan ini. Ia tahu teman-temannya menyadari akan hal ini juga.

"Hanya.. sedikit pusing.."

Atap sekolah selalu sepi. Apalagi di jam sibuk belajar dan gerombolan bocah ini membolos. Enggan mengeluarkan banyak energi sekedar untuk melakukan senam pagi, pikirnya.

"Kau memiliki buku itu?"

Kening Taehyung mengerut dalam. Pertanyaan Min Yoongi begitu menggelitik kesadarannya.

"Itu buku yang selalu dibawa anak itu, kan? Jungkook, ya? Bagaimana bisa kau memilikinya? Aku ingat bocah itu bahkan sempat berkelahi karena diganggu temannya dan mengolokinya karena menulis buku harian seperti anak perempuan"

"Kau mengetahui tentang Jungkook? Kalian mengetahuinya tapi tak pernah mengatakan apapun padakuㅡ"

"Taehyung, kau tak ingat apapun dan kondisimu.. kurasa kau belum siap untuk mengingat banyak hal. Jangan salah paham. Lagipula anak itu.. tak pernah muncul bahkan saat kau kritis."

Jeon Jungkook tak pernah muncul bahkan saat dirinya kritis.

Sebuah hal memberi pukulan telak. Pukulan yang menertawakan Taehyung. Dirinya berusaha keras mengingat Jungkook. Jika memang Jeon Jungkook adalah penting, kenapa cerita Min Yoongi berjalan menuju kelokan yang lain?

"Tapi kalian cukup dekat waktu itu. Seseorang yang selalu kau bawa ke perpustakaan padahal kau selalu mengalami ketakutan yang tak masuk akal pada tempat itu kk"

Kekehan yang meluncur dari mulut Min Yoongi, meluncur merendah. Gelakan yang memudar. Menimbulkan denyutan pemicu keingintahuan pada diri Taehyung.

"Kau membawanya kemanapun, Taehyung. Entah kenapa kami senang kau bersamanya."

"Terlepas dari pemikiran banyak orang..."

"Mereka yang menyebut Jeon Jungkook adalah mainan Kim Taehyung."

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

'Yang terjadi adalah sebuah akhir.

Akhir yang bahagia, hanya mitos menghembuskan semilir.'

'Tak ada sempurna itu. Luka akan ada walau goresan kecil memancing tangisanmu.'

'Namun, seberapa berarti itu?'

'Bahkan jika memang aku hanyalah mainan Kim Taehyung, aku tak mau tahu.'

'Yang kutahu, uluran tangannya membebaskanku. Mengiringiku pada apa yang sebelumnya kusebut semu..'

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

"Hyung.."

Lirihan memanggil semacam itu, Min Yoongi tak pernah mendapatinya dari sosok Kim Taehyung. Seorang pembangkang yang merasa persetan pada aturan umur. Berteman baginya adalah tanpa batasan yang memberi jarak. Namun yang terdengar saat ini, memukau seorang Min Yoongiㅡ dan Jimin yang baru saja melesak mendobrak pintuㅡ pun ikut terkesiap.

"Apa aku mencintai Jungkook?"

ㅡㅡㅡakhir dari bagian keempat ㅡㅡㅡㅡ

Aku masih tergolong baru di ffn dan tulis menulis yang seperti ini.

Kemarin ada sedikit masalah pada bagian review yang katanya tak muncul, dan baru kuketahui untuk mode guest ada masuk ke semacam daftar tunggu yang aku tak tau itu untuk apa. Sudah ku benahi. Tapi sebenarnya notifikasi review dari guest malah bisa masuk dan kubaca lewat email. Terima kasih untuk reviewnya.

Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri untuk membaca sampai di baris kalimat ini.

Terima kasih untuk yang sudah follow-favorite-review. Kalian memberikan semangat untuk melanjutkan cerita ini.

Thanks to cypher3001 ; emma ; Fjsick ; bxjkv ; clairinee

Aku takut membicarakan isi fict ini karena takut tanpa sengaja memberi spoiler kk

Kalian senang membaca ini, sudah membuatku bersyukur.

Mind to review?

Regards,

Phyros's