Title: Melted

Chapter: 2

Genre: Romance/Gender-Switch, drama

Rating: T

Main Cast:

Lee Taeyong [NCT]

Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]

Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]

-oOo-

I give you my destiny

I'm giving you all of me

I want your symphony

Singing in all there I am

To be only yours I pray

(Mandy Moore – Only Hope)

-oOo-

"Uhm," Ten menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. "Apa… Apa kau masih mencintai Taeyong?"

Jaehyun terdiam. Kepalanya serasa dihantam oleh truk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia jujur menjawab kalau hatinya masih tersisa untuk Taeyong? Ataukah ia harus berbohong dengan menjawab bahwa hatinya sepenuhnya milik Ten?

Semenit dan Jaehyun masih terdiam. Ia melepaskan pelukannya dari pinggang Ten. Menatap Ten dengan kebisuan yang memenuhi kamar itu. "T-Ten…"

"Aku butuh jawabanmu," kata Ten membalas tatapan Jaehyun. "Katakan, sejujurnya padaku. Aku… tidak akan marah padamu."

"Aku, tidak tahu," akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Jaehyun. Ia mendesah pelan sebelum kembali melanjutkan, "aku… ya aku memang masih mencintainya tapi sudah terlalu jauh untuk mengejarnya kembali. Aku, kau, dan Taeyong sama-sama bukan remaja labil lagi. Bahkan kita sama-sama sudah memiliki anak. Tidak mungkin aku akan kembali padanya, Ten."

"Lagipula, aku menghargaimu sebagai istriku. Apa aku akan setega itu menceraikan dirimu demi Taeyong? Apa aku juga akan membiarkan kesalahanku di masa lalu kuulangi lagi—meninggalkanmu bersama Micha begitu saja? Kalau iya, berarti perjuanganku dan perjuangannya untuk saling mengikhlaskan sia-sia. Dan perjuanganku untuk bisa memberikanmu ruang di hatiku juga sia-sia," lanjut Jaehyun. Ten menggigit bibir bawahnya. Ia sangat sadar Jaehyun sudah melangkah jauh. Ia juga melakukan perjuangannya. Mengorbankan perasaannya demi Ten.

"J-Jaehyun…" ada airmata yang jatuh di pipi Ten. Dengan sigap Jaehyun menghapusnya.

"Maafkan aku Ten. Selama aku bisa, aku akan mempertahankanmu—dan keluarga kecil kita. Tolong, berikan kesempatan padaku," detik selanjutnya Jaehyun membawa Ten ke dalam pelukannya. Ten membalas pelukan Jaehyun dengan erat—seolah tak ingin Jaehyun pergi darinya.

Setidaknya mereka sama-sama tahu, Ten juga menempati sisi kosong di hati Jaehyun. Dan sama-sama tahu bahwa Jaehyun lebih mementingkan Ten daripada Taeyong.

-oOo-

Suatu pagi, Ten terbangun lebih awal dari biasanya—jika biasanya bangun pukul lima, sekarang ia bangun pukul empat. Perasaannya tidak karuan. Sedari kemarin Micha demam dan itu membuatnya tidak bisa tidur. Namun pagi ini membuatnya panik. Saat ia mengecek keadaan Micha di sampingnya, bayi delapan bulan itu kejang-kejang dengan demam dan mata yang membalik ke atas.

"A-aigo M-Micha," dengan sangat panik Ten langsung menggendong Micha. Ia berusaha mencari obat tetapi ia juga takut salah memberikan obat pada bayinya itu. Kebetulan sekali Jaehyun sedang berada di Jepang, sementara pembantunya pulang. Otaknya berpikir cukup keras.

Akhirnya ia memutuskan untuk menekan sebuah nomor di ponselnya. Ia benar-benar panik. "Y-yoboseyo?"

"Nde, yoboseyo, Ten. Ada apa pagi-pagi sekali menelepon?"

"M-Michan demam dan kejang-kejang, eonni. A-aku tak tahu harus memberikannya apa. Aku takut kalau salah memberikan obat. Air dari keran juga sangat dingin, aku takut memberikannya."

"APA!? MICHA STEP!? A-ah Ten tunggu ya, aku akan segera ke sana. Kau ukur dulu suhu tubuhnya, jangan lupa kau miringkan kepalanya agar ia tidak tersedak muntahnya sendiri. Lalu longgarkan juga bajunya agar ia bisa bernafas dan tidak kepanasan, lalu kau bisa memberikannya air hangat. Aku usahakan kurang dari 10 menit sampai," lalu sambungan telepon terputus. Ten menggigit bibirnya kuat.

"A-ah air hangat," ia segera melakukan perintah lawan bicaranya tadi.

-oOo-

"Hah!? 39 derajat!?" Taeyong membelalakkan matanya begitu melihat suhu badan Micha yang tertera di termometer. "Khajja kita ke dokter sekarang."

Ten mengikuti Taeyong dari belakang. Begitu ditelepon oleh Ten, Taeyong langsung bergegas menuju rumah Ten—bersama Myunghee yang terlelap tentunya. Dan hebatnya Taeyong bisa menempuh perjalanan hanya dalam kurun waktu tujuh menit—sudah bisa kita duga kalau ia ngebut di jalanan. Beruntung Myunghee hari ini tidak ada jadwal ke play-group sehingga Taeyong benar-benar bisa menemani Ten.

Jalanan Seoul sekitar pukul empat masih terbilang sepi. Setidaknya Taeyong bisa menyetir mobilnya agar lebih cepat sampai rumah sakit terdekat. Sepertinya Taeyong tidak sadar kalau Myunghee sudah bangun—atau lebih tepatnya terbangun karena suara tangis Ten yang sangat panik dan bingung. Karena kaget dengan keadaan sekitar, Myunghee ikut menangis.

"Huweeeeee eomma!" pekik Myunghee. Taeyong menghembuskan nafas kasar. Mobilnya penuh dengan suara tangis sekarang.

"Myunghee uljjima! Jangan ikut menangis!" teriak Taeyong masih berkonsentrasi dengan kemudinya sementara Ten semakin panik—dan tentu saja menangis semakin keras—mendengar suara tangisan makhluk imut yang duduk di jok belakang mobil itu.

"Eomma mau kemana!? Kenapa ahjumma menangis!?"

Dan Taeyong hanya bisa pasrah sampai rumah sakit.

-oOo-

Ten terduduk dengan wajah penuh kekhawatiran dan mata sembab di bangku rumah sakit itu begitu Micha mendapatkan pertolongan untuk step. Nafasnya naik turun tidak beraturan. Ia benar-benar sangat khawatir pada anaknya itu. Taeyong yang duduk di sebelah Ten mendesah pelan dan merangkul bahu wanita berhidung mancung itu.

"Ten," panggil Taeyong pelan. "Aku turut berduka. Aku tahu kau pasti sangat khawatir dengan keadaan Micha saat ini. Berdoalah dan percayakan pada dokter. Aku yakin Micha pasti baik-baik saja."

"Ahjumma," Myunghee mengambil inisiatif untuk turun dari bangku dan memeluk pinggang Ten. Ten langsung memangku Myunghee dan Myunghee memeluknya lagi dengan posisi yang lebih nyaman. "Jangan menangis, Micha pasti akan sembuh. Myunghee sayang Micha, Myunghee pasti mendoakan Micha supaya cepat sembuh," lanjutnya lalu menyeka pipi Ten yang basah karena air mata.

Ten tersenyum tipis. Kedua orang yang ada di hadapannya ini benar-benar sangat membantunya di saat seperti ini. "Terima kasih. Aku sayang kalian berdua."

Taeyong memeluk Ten—mencoba menyalurkan kekuatan pada Ten. Taeyong tahu Ten belum pernah menangani hal seperti ini, tidak seperti dirinya yang sudah beberapa kali menunggu Myunghee di rumah sakit karena malaikatnya itu sakit—entah itu demam tinggi, step yang sama dengan Micha, bahkan pernah sekali keracunan.

"Aku juga menyayangimu, Ten. Berdoalah, aku yakin Micha baik-baik saja."

-oOo-

Jaehyun beberapa kali menatap arlojinya dengan tidak sabaran. Sebelum meeting dimulai, ia mendapat telepon dari Ten bahwa Micha mengalami step dan rasanya ia ingin kembali ke Seoul secepatnya. Jujur saja ia sangat khawatir pada Micha dan ingin sekali melihat keadaan buah hatinya itu sekarang.

Begitu rapat pertemuan itu selesai, Jaehyun bergegas kembali ke hotel tempat ia menginap dan membereskan seluruh pakaiannya dengan cepat. Tak lupa ia menyuruh sekretarisnya mencarikan tiket untuk kembali ke Seoul saat ini juga. Ia tidak peduli dengan harga tiket yang mahal atau bagaimana yang penting ia bisa bertemu dengan anaknya.

Sesampainya ia di Seoul, ia tak langsung menuju rumahnya melainkan langsung menuju ke rumah sakit tempat Micha berada sekarang. Ia tak peduli dengan kopernya, tas ranselnya, bahkan pakaiannya yang sangat formal. Di kepalanya hanya ada Jung Micha.

"Ten, bagaimana keadaan Micha?" tanya Jaehyun begitu ia berhasil menemukan Ten—yang tentu saja ditemani Taeyong dan Myunghee.

"Ia masih di dalam, Jae…. Kata dokter besok Micha baru bisa pulang," jelas Ten. Jaehyun membawa Ten ke dalam pelukannya. Ten membenamkan wajahnya di bahu Jaehyun—berusaha menutupi kalau ia menangis.

Taeyong yang melihat adegan itu terdiam. Marah? Tentu saja tidak bisa. Untuk apa dan apa haknya untuk marah? Tidak, Ten adalah istri sah dari Jaehyun dan semua orang tahu itu. Taeyong menghela nafas dan menatap ke pintu kamar Micha.

Lagipula, apabila ia menampakkan sedikit kecemburuannya, ia tahu ia akan memperkeruh keadaan dan membuat Ten semakin sedih. Jadi lebih baik, diam saja, kan?

Myunghee memeluk Taeyong dan menciumi pipi ibunya itu saat melihat wajah Taeyong yang berubah ekspresi sejak kedatangan Jaehyun. Tak lupa membenamkan wajah di ceruk leher ibunya itu. "Eomma, jangan bersedih."

Taeyong sepertinya tidak sadar kalau anaknya ini sangat peka dengan ekspresi wajahnya. Ia sangat peka kalau ekspresi Taeyong bisa saja berubah tiba-tiba.

"Taeyong-ah," Jaehyun menghampiri Taeyong yang melamun sejenak. Taeyong mengerjapkan matanya beberapa kali—berusaha menyatukan arwahnya kembali. "Terima kasih sudah menolong Ten dan Micha."

"Bukan masalah, lagipula mana mungkin aku menolak orang yang butuh bantuan. Aku berdoa untuk Micha, agar ia cepat sembuh," balas Taeyong menampilkan senyumnya—yang agak getir. Jaehyun sepertinya sadar. Ia melirik Ten yang hanya diam memandangi Micha dari luar ruangan.

"Micha…" gumam Ten sambil menggigit bibirnya. Taeyong melirik Ten dan ia kini tahu apa alasan Jaehyun mau menjadi pendamping hidup Ten. Ten itu terlalu rapuh. Ia mudah menangis. Ia butuh seseorang yang bisa melindunginya.

Taeyong terpanggil untuk bangkit dari kursinya dan menghampiri Ten. Ia memeluk wanita yang setahun lebih muda darinya itu. "Ten, berdoalah… Micha akan baik-baik saja."

Ten membenamkan wajahnya ke pundak Taeyong. Taeyong mengerti. Sangat mengerti. Tangannya tergerak untuk mengusap kepala Ten dan berusaha menenangkannya dan meyakinkan Ten bahwa Micha akan baik-baik saja.

Dan ia sangat mengerti, Ten lebih membutuhkan Jaehyun daripada dirinya.

-oOo-

Taeyong menyiapkan beberapa bahan makanan untuk ia olah hari ini. Setelah kejadian Micha yang terserang step, Ten jadi lebih dekat dengan Taeyong. Hari ini Taeyong berkunjung ke rumah Ten untuk membantu Ten memasak sekalian melihat keadaan Micha setelah dua minggu ini.

Taeyong sedang asyik memasak sementara Myunghee berada di kamar Ten dan bermain bersama Micha. Taeyong tersenyum saat mendengar suara tawa Myunghee dan Micha dan juga Ten tentunya. Ia semakin bersemangat untuk memasak hari ini—bahkan ia berencana membuat brownies favorit Ten dan Myunghee sebagai camilan.

"Apa ada yang perlu kubantu?" suara Ten mampu membuat Taeyong sedikit meloncat karena kaget. Ia menoleh. Ten sudah cengengesan tanpa dosa di belakangnya.

"Kau meninggalkan Micha bersama Myunghee? Apa tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa eonni, mereka akur kok ketika main bersama. Lagipula Myunghee juga cukup bisa dipercaya menjaga Micha," jawab Ten tersenyum lebar. "Jadi apa ada yang bisa kubantu?"

"Ah," Taeyong menepuk dahinya. Ia membenahi gelungan rambutnya lalu menyiapkan bahan untuk browniesnya. Tak lupa juga loyang dan mixer serta potongan cherry. "Nah ini, kau tahu aku akan membuat apa?"

"Uhm, cake?" tanya Ten sambil memperhatikan Taeyong mode koki. Sangat cantik, pikir Ten. Taeyong tersenyum.

"Brownies," klarifikasi Taeyong. "Karena aku berada di sini, maka aku akan membuat brownies sesuai seleramu."

"Whoa! Jinjja? Aigo eonni!," Ten langsung menghambur ke arah Taeyong dan memeluk Taeyong erat. Taeyong menggelengkan kepala. Ten memang sangat manja. Dan hari ini tampaknya mood Ten sedang bagus dan bertambah bagus saat mendengar kata brownies. "Nah eonni, jadi katakan padaku apa yang harus aku lakukan?"

"Kau bisa melelehkan mentega kan? Nah tolong kau lelehkan menteganya," kata Taeyong sambil menyerahkan mentega yang sudah ada di mangkuk. "Nah kalau sudah kau bisa mencampurnya dengan dark chocolate."

"Oke!" dengan semangat Ten mengikuti instruksi Taeyong. Ten mulai memanaskan mentega sementara Taeyong menyiapkan bahan lain seperti tepung dan gula halus. Ten sempat melirik Taeyong. Tangan Taeyong sangat cekatan saat ia mengocok telur lalu memasukkan gula dan tepung ke dalamnya. Bahkan Ten saja harus menunggu setiap instruksi dari Taeyong.

Ten tahu sekarang. Taeyong memang benar-benar tipikal istri idaman. Tak hanya cantik, tapi ia juga terampil untuk urusan dapur. Bahkan yang Ten lihat, Taeyong sangatlah rapi dalam memasak—tidak membiarkan barang-barang menumpuk begitu saja; ia pasti menatanya agar lebih mudah dibersihkan setelah selesai memasak.

Ten tahu sekarang kenapa Jaehyun bisa jatuh sangat dalam pada Taeyong. Ia benar-benar sosok keibuan yang sangat perhatian. Ten masih ingat Taeyong sering meneleponnya untuk mengecek keadaan Micha, menolongnya saat ia panik, memberikan beberapa nasihat untuknya, bahkan terkadang Taeyong rela datang ke rumahnya di siang bolong hanya karena rengekan Myunghee yang ingin bertemu dengan Micha—padahal Taeyong benar-benar kelelahan saat itu.

Taeyong benar-benar menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya pada orang sekitar bukan lewat perkataan melainkan lewat perlakuannya, itulah yang ada di pikiran Ten. Menurut Ten sendiri, orang yang menunjukkan kasih sayang lewat sikap lebih jujur daripada lewat perkataan.

Dan sampai saat ini Ten bahkan tidak menyangka ia bisa dekat dengan mantan kekasih suaminya itu. Taeyong bahkan bisa menerima kehadirannya, memberikan perhatian seperti seorang kakak pada adiknya, bahkan juga pada Micha.

Ten bersyukur ia memiliki kesempatan mengenal Taeyong dengan cara yang baik.

-oOo-

"Aku pulang," suara berat Jaehyun langsung tertangkap oleh telinga Ten. Ia langsung menghampiri Jaehyun dengan senyuman manis di wajahnya.

"Bagaimana hari ini? Kau pasti sangat lelah," kata Ten sambil membawakan jas dan tas Jaehyun lalu mencium pipi suaminya itu. Jaehyun tersenyum.

"Lelah, tetapi saat melihatmu lelahku hilang," kata Jaehyun lalu merangkul Ten menuju kamar mereka. Pipi Ten bersemu. Ia tidak pernah bosan dengan perlakuan Jaehyun yang seperti ini.

"Ah! Hari ini aku dan Taeyong eonni membuat brownies," kata Ten bersemangat. Jaehyun menatapnya.

"Ia kemari?"

"Ya, bersama Myunghee. Myunghee merengek ingin bertemu dengan Micha, katanya."

"Hmm," Jaehyun mengangguk. "Lalu mana brownies-nya?"

"Ah!" Ten langsung berlari menuju dapur dan mengambil brownies buatannya—atau lebih tepatnya buatan Taeyong dengan bantuannya—dan menyerahkannya pada Jaehyun. Jaehyun memakan sepotong. "Bagaimana?"

"Aku yakin kalau kau sendiri yang membuatnya takkan seenak itu sayang hahahaha," Jaehyun mengacak rambut Ten. Ten mengerucutkan bibirnya. "Tapi tetap saja ini juga hasil pekerjaanmu kan? Rasanya enak."

"Lain kali aku akan mencoba membuatnya sendiri," kata Ten dengan senyum khasnya. "Tapi kalau gagal jangan ketawain aku."

"Tentu saja tidak," Jaehyun membawa Ten masuk ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia memakan brownies itu. Ia masih hafal dengan ciri khas kue buatan Taeyong—rasa manis cokelat yang bercampur bersama buah. Pikirannya melayang ke masa lalunya dimana Taeyong sering membuatkannya cookies ataupun matcha cake. Matcha cake memang hidup dan mati Jaehyun tapi brownies Taeyong juga menjadi favoritnya selama ini.

Senyum getir terlukis lagi di wajah Jaehyun—tanpa Ten sadari tentu saja. Ia merindukan Taeyong berada di dapur dengan gelungan rambut dan apron hijau motif floral lalu memasak. Ia akan selalu menemani Taeyong—memeluknya dari belakang atau iseng meniup tengkuk Taeyong; kelemahan Taeyong ada pada tengkuknya—di dapur dan tak jarang ia ikut membantu Taeyong memasak.

Ia rindu sosok itu.

-oOo-

Taeyong meregangkan otot-ototnya lalu merebahkan dirinya ke kasur empuknya itu. Matanya memandang langit-langit. Rumahnya terasa begitu dingin dan sepi. Sepintas, terlintas di pikirannya untuk mencari seseorang yang mampu menjaganya seperti Jaehyun yang dulu mampu menjaganya.

Helaan nafas berat terdengar. Bahkan sampai hari ini, ia tidak mampu menghapus bayangan Jaehyun dari dirinya. Taeyong merasa sangat bodoh. Ini sudah lebih dari tiga tahun—bahkan hampir empat tahun—dan ia masih saja terjerat dalam sosok pria bermarga Jung itu.

Taeyong memejamkan matanya. Perasaan bersalah, iri, sakit, dan sedih bercampur jadi satu saat melihat bayangan Ten dalam pejaman matanya. Ia mendesah keras. Apakah selamanya akan terus seperti ini? Tidak. Jelas tidak. Ia sadar ia tidak mungkin terus-terusan seperti ini. Ia harus berjuang lagi untuk melepaskan.

Bukan. Bukan Jaehyun yang mempermainkannya. Tapi ia sendiri yang membiarkan hatinya terjatuh lagi.

-oOo-

Jemari Jaehyun dengan lincahnya menari di atas keyboard laptopnya. Sebenarnya ia cukup lelah berhadapan dengan berkas-berkas perusahaannya itu, tetapi apa boleh buat. Ini memang pekerjaannya, dan mau tidak mau dia harus menyelesaikannya.

Sesekali ia meregangkan otot-ototnya. Saat ia masih duduk di bangku SMA dulu, ia ingat apabila ia lelah mengerjakan tugas, seseorang bermarga Lee akan menghampirinya. Membuatkan cokelat panas—sesekali ada tambahan mint di dalamnya—lalu memijat bahunya, dan menyemangatinya. Jaehyun tersenyum kecil. Lagi-lagi kepalanya penuh dengan Lee Taeyong.

Sepertinya sang CEO Seongjin Group itu terlalu larut dalam lamunannya sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran istrinya yang membawakannya segelas cokelat hangat dengan tambahan mint di dalamnya.

"Melamun apa hmm?" suara Ten memecah keheningan di ruangan itu. Tangan ramping wanita itu memeluk leher suaminya itu dari belakang. Jaehyun terbangun dari nostalgianya.

"Tidak melamun apa-apa, sayang."

"Tetapi kau senyum-senyum sendiri."

"Hahahaha itu karena aku memikirkanmu," Jaehyun menggenggam tangan Ten yang kini pipinya berhiaskan semburat pink. Ten memainkan jemari Jaehyun.

"Gombal," Ten mengusap pipi Jaehyun dengan ibu jarinya. "Minumlah dulu, aku tahu kau pasti lelah. Setelah seharian di kantor, sekarang kau juga harus melanjutkan pekerjaanmu di rumah."

"Gomawo," Jaehyun menoleh ke belakang, menarik tengkuk istrinya itu dengan lembut, lalu mengecup bibirnya. Ten tersenyum lalu Jaehyun meminum cokelat hangatnya. Rasa mint dari cokelatnya lumayan membuatnya segar kembali.

"Kau tahu tidak? Cokelat itu kudapatkan dari Taeyong eonni, katanya minuman sejenis itu bisa menyegarkan pikiran. Aku tadi sudah mencobanya dan ternyata ia benar, jadi kupikir kau pasti akan menyukainya," kata Ten dengan wajah polosnya dan senyum mengembang di wajahnya. Jaehyun hampir tersedak saat ia mendengar "pemberian Taeyong".

"O-oh begitu," buru-buru Jaehyun menetralkan wajahnya kembali. Dia masih ingat minuman favorit kami rupanya, batin Jaehyun. "Terima kasih," gumam Jaehyun pelan lalu ia segera menghabiskan minumannya itu.

"Aku rasa lebih baik kau beristirahat, Jae. Masih ada besok. Wajahmu benar-benar tampak kelelahan," ujar Ten sambil memainkan surai hitam Jaehyun. Jaehyun menghela nafas lalu menyimpan file pekerjaannya.

"Ten," panggil Jaehyun lalu memutar kursinya. Tangannya meraih pinggang istrinya, lalu ia membenamkan wajah ke perut istrinya itu. Ten tertawa kecil lalu mengusap rambut pria Jung itu.

"Hmmm?"

"Aku menyayangimu."

"Aku juga, Jae. Bahkan aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kau tahu," Ten memeluk kepala Jaehyun erat—semakin membenamkan wajah Jaehyun ke perutnya.

"…dan aku, mencintaimu," bisik Jaehyun, namun Ten masih bisa mendengarnya. Ten tersenyum lembut mendengarnya.

Sebenarnya Ten sadar, kata sayang dan cinta yang diucapkan oleh Jaehyun itu maknanya berbeda.

-oOo-

"Dadah Myunghee!" Daehan melambaikan tangan pada Myunghee dengan riang saat ia harus berpisah dengan Myunghee—karena ayahnya telah datang untuk menjemputnya.

"Ne, hati-hati ya Daehan," balas Myunghee yang masih duduk di kursi depan kelasnya. Tak lupa ia juga melambai-lambai pada Daehan. Begitu Daehan mengholang dari pandangannya, Myunghee cemberut.

Ia iri.

Ia ingin diantar sekolah oleh ayahnya.

Ia juga ingin dijemput oleh ayahnya.

Sebenarnya selama ini Myunghee senang-senang saja diantar ataupun dijemput oleh ibunya atau bus sekolah. Tetapi melihat beberapa temannya yang selalu diantar dan dijemput oleh ayah mereka, Myunghee juga ingin merasakan betapa asyiknya dijemput oleh ayahnya, lalu diajak jalan-jalan sebentar, dan ia menceritakan kegiatan sekolahnya hari itu—seperti belajar bernyanyi dan menari bersama.

Myunghee memainkan jarinya sendiri dengan bosan. Ia tidak ingin naik bus sekolah hari ini. Ia ingin dijemput oleh ibunya—atau kalau ada keajaiban, ya ayahnya.

"Myunghee-ya!" sebuah suara yang sangat dikenali Myunghee membubarkan kebosanannya. Mata Myunghee langsung berbinar. Ia berlari menuju sumber suara itu.

"Ahjussi!" seru Myunghee dengan tawa kecilnya. Namun di detik selanjutnya….

"MYUNGHEE!"

-TBC-

HALO!

Saya kembali lagi dengan lanjutan ff ini!

Bagaimana? Maaf ya kalo gejhe dan garing u.u

Okay saya mau balesin review dulu xD eheheheheh

1004jh: hmmm balikan tida yaa… balikan tida yaaa…. *digampar* xD

Ayahana73: aku juga galau sebenernya :'v mau gmna lg tp namanya ugha drama /? Klo beristri dua ntar kayak lagunya si Ahmad Dhani dong, madu 3 .lah xD

GWIYE0PDA: maafkan aku yg membuatnya gantung :'v gak kok dd Jaehyun gak akan punya istri dua tenang saja :D

Saaaa: saya juga salut, dd TY kok bsa tegar .lah

Reta: :'v maunya madu dua tp nnti susah, klo pas satunya mnta anu, satunya jg lagi pgen lah tepar tar Jae .apaanwoey

Nichi: sweet di kasur….. :'v cma peluk" aja itumah belom anuan .gggg hahaha aku usahain ya JaeTennya di chapter selanjutnya banyak xD

Blakcpearl: iyaaaa ini sequelnya :D wah wah kira" Ten tau gak ya itu si Myunghee anaknya Taeyong ama si Jaehyun :'v wkwkwkwk akan ku reveal di chapter" selanjutnya yaaa~

Flutterfloop: aku ndak bisa janji buat ksih satuin JaeYong mianhae T^T tp aku akan berusaha membuat alur mereka ini menyedihkan .g hmmmm Ten tau tidak ya itu… itu… anaknya Jae ama Tae xD wkwkwkwkwkwk anw TY msih cinta kok sma aa Jae, iyalah cinta ga mungkin nggak /? xD

Kiraracchi: hehehehee iya aku aja yg ngetik mumet .lah hmmm ini… ini… JaeTen vs JaeYong /? Masih burem" gmna gtu krn aku sndri msih bingung untuk memutuskan /? Tadinya mau aku bkin Tae yurian ama Ten .gggg

Anw terima kasih untuk yg sudah review ^^

Mind to RnR again? Terima kasih ^^