Title: Melted

Chapter: 3

Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff

Rating: T

Main Cast:

Lee Taeyong [NCT]

Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]

Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]

-oOo-

If this is my last night with you

Hold me like I'm more than just a friend

Give me a memory I can use

Take me by the hand while we do what lovers do

It matters how this ends

Cause what if I never love again?

(Adele – All I Ask)

-oOo-

"MYUNGHEE!"

Jaehyun segera menyambar Myunghee sebelum sebuah mobil menabraknya. Myunghee shock. Mulutnya terbuka lebar. Kalau Jaehyun tidak segera menyambar anak itu, mungkin sekarang anak itu akan berbaring di rumah sakit selama beberapa hari.

"A-ahjussi…"

"Kau baik-baik saja? Lain kali kalau mau berjalan, kau harus melihat sekitarmu terlebih dahulu, atau tunggu ahjussi menghampirimu," kata Jaehyun lalu menggendong Myunghee. Myunghee sudah bersiap menangis, tetapi bocah itu lebih memilih untuk memeluk leher Jaehyun dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Jaehyun.

"Maafkan Myunghee, ahjussi tampan… Myunghee hanya terlalu senang sampai ceroboh. Maafkan Myunghee, ya?" lalu bocah berambut hitam itu menatap Jaehyun dengan puppy-eyes dan wajah memelasnya. Anak ini memang pintar sekali memelas.

"Hah, untung kau baik-baik saja. Lain kali jangan diulangi ya," pesan Jaehyun lalu mengecup pipi anaknya itu. "Nah, sekarang Myunghee mau kemana? Mau pulang atau jalan-jalan?"

"Jalan-jalan! Boleh kan?"

"Tentu saja. Ahjussi lapor dulu ya, mana gurumu?"

"Itu di dalam."

Setelah melapor, Jaehyun segera membawa Myunghee menuju Lotte Park. Jaehyun benar-benar memberikan kebebasan pada Myunghee untuk menaiki wahana apapun yang Myunghee inginkan—kecuali yang cukup ekstrem seperti roller-coaster, contohnya.

"Ahjussi aku mau naik carousel!"

"Ahjussi mau naik Ferris-wheel!"

"Ahjussi bla bla bla…" dan ocehan Myunghee hanya dituruti oleh Jaehyun. Jujur saja Jaehyun merasa sangat senang hari ini. Ia bisa memanjakan anaknya. Dan Myunghee? Tentu, dialah orang yang paling excited di antara mereka.

"Nah, apa kau sudah puas? Ahjussi yakin Myunghee pasti lapar," kata Jaehyun setelah Myunghee puas dan berhenti memintanya membawa ke wahana yang ia inginkan.

"Iya, aku lapar. Aku ingin makan pasta! Apa boleh?" tanya Myunghee sambil mengedipkan matanya dan mencium pipi Jaehyun. Jaehyun tertawa. Ada sebuah getaran ketika Myunghee menciumnya. Ada perasaan hangat yang tentu saja hanya bisa dirasakan oleh seorang ayah pada anaknya.

"Tentu saja! Kenapa tidak, hmm?" kata Jaehyun lalu mencubit pipi Myunghee dan membawa Myunghee ke sebuah food-court terdekat. Setelah memesan makanan, Myunghee mulai berceloteh lagi dengan sangat bahagia dan Jaehyun akan selalu setia mendengarkan celotehan anaknya itu.

"Aku sangat senang hari ini," ujar Myunghee sambil memamerkan deretan gigi putihnya. "Ahjussi tahu tidak? Tadi temanku, Daehan, dijemput oleh ayahnya. Aku iri, aku juga ingin dijemput oleh ayahku."

Jaehyun terdiam sejenak. Ia bahkan hampir tersedak minumannya sendiri. "Lalu?"

"Lalu ahjussi datang! Dan aku sangat senang, pantas saja teman-temanku sangat senang dijemput oleh ayahnya, jadi begini ya rasanya dijemput oleh ayah," celoteh Myunghee tanpa merasa berdosa. Ia hanya mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini. Bukankah anak kecil memang selalu polos?

Jaehyun tersenyum. Dalam hatinya ada beragam perasaan yang bercampur jadi satu—bersalah, senang, menyesal, dan sedih. Jaehyun tahu, Myunghee pasti sangat membutuhkan sosok seorang ayah yang bisa menjaganya. Tangan Jaehyun menyentuh kepala Myunghee yang tersenyum lebar, lalu mengelusnya lembut. Bocah di hadapannya itu terus tersenyum bahagia—merasakan betapa bahagianya memiliki seorang ayah.

Jaehyun menyesal, seharusnya ia bisa menjaga anaknya.

-oOo-

Taeyong kelimpungan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore tapi Myunghee belum juga pulang. Taeyong sudah mengutuk Jaehyun dalam hati. Meskipun anaknya itu dibawa pergi oleh Jaehyun, tentu saja ia tetap merasa khawatir.

Ia takut, anaknya dibawa pergi oleh ayahnya.

Namun Taeyong menepis pikirannya itu. Tidak mungkin Jaehyun akan sejahat itu membawa anaknya kabur lalu mengasuhnya bersama Ten. Memangnya punya hak apa dia? Bukankah yang mengasuh Myunghee sejak kecil adalah dirinya? Lagipula Jaehyun sudah punya Micha. Taeyong menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran jeleknya.

"Eomma aku pulaaaaaaaaang!" seru Myunghee yang langsung disambut oleh Taeyong. Taeyong bisa melihat wajah bahagia dari Myunghee. "Aku membeli cotton candy untuk eomma!"

"A-ah iya Myunghee. Terima kasih ya," kata Taeyong yang langsung menggendong anaknya. Kini pandangan Taeyong tak lagi pada Myunghee, melainkan pada lelaki yang berdiri di belakang Myunghee yang saat ini tersenyum padanya.

"Mian, aku membawanya bermain sampai sore," kata lelaki itu. "Aku rasa dia senang sekali, jadi aku rasa… ya begitulah. Mianhae."

"Gwaenchana, tapi aku pikir lain kali jangan terlalu sore. Beri aku kabar kalau kau membawanya sampai sore," kata Taeyong tegas—sangat kentara kalau ia khawatir.

"Aku tahu. Maafkan aku," kata Jaehyun pelan lalu mengusap kepala Myunghee.

"Eomma, marah? Maafkan Myunghee juceyo~" Myunghee mulai mengeluarkan jurus aegyo andalannya dengan sepenuh hati—berharap itu bisa meredam kekhawatiran Taeyong. Tak lupa bocah itu mendaratkan sebuah ciuman di pipi ibunya. Taeyong menghela nafas. Anaknya itu selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.

"Hahh, kau ini belajar dari siapa sih, eomma maafkan," kata Taeyong lalu mencium pipi Myunghee dengan gemas beberapa kali sampai Myunghee cekikikan geli.

"Kalau Jung ahjussi dimaafkan tidak?"

"Hmm?"

"Taeyong ahjumma, maafkan Jaehyun juceyo~"

"Yak! Kalau kau yang aegyo aku jadi ingin muntah!"

"Jadi, eomma mau menerima maaf Jung ahjussi tidak?"

"Ya… baiklah. Eomma maafkan Jung ahjussi.

"Yeay! Eomma terbaik!" Myunghee menghadiahi beberapa kecupan untuk ibunya lalu ia minta turun dari gendongan Taeyong dan berlari ke dalam rumahnya—meninggalkan Jaehyun dan Taeyong di depan pintu.

"Jadi? Aku dimaafkan?" tanya Jaehyun. Taeyong tertawa kecil.

"Asal kau tidak mengulanginya lagi."

"Aku berjanji, aku takkan mengulanginya lagi, Lee ahjumma," kata Jaehyun dengan sedikit aegyo. Taeyong hanya tersenyum geli melihat tingkah Jaehyun. "Ah aku rasa sudah waktunya aku pulang, Terima kasih, kau bersedia memberikan waktu padaku untuk bermain bersama Myunghee."

"Ya, tentu saja. Terima kasih juga, kau telah membuatnya senang hari ini."

"Kurasa aku memang harus bisa membuatnya senang, nuna," kata Jaehyun sambil menatap Taeyong intens. Mata mereka sempat bertemu namun Taeyong segera memutus kontak mata mereka. "A-ah, baiklah aku pulang. Annyeong, nuna."

Cup!

Jaehyun langsung berlari begitu saja dan melajukan mobilnya dengan cepat setelah mengecup pipi Taeyong.

Sedangkan Taeyong?

Ia hanya membatu sembari memegangi pipinya yang memerah.

-oOo-

"Kau tampak senang sekali hari ini, ada apa?" tanya Ten saat makan malam dengan Jaehyun. Untuk pertama kalinya, Ten akhirnya bisa makan malam dengan tenang karena Micha sedang tidur dengan pulas.

"Uhm tidak ada apa-apa."

"Kau menyembunyikan sesuatu," Ten cemberut. "Wajahmu itu tampak sangat berseri. Katakan padaku, ada apa? Kau baru saja membuat prestasi di kantor, atau apa?"

Jaehyun terdiam cukup lama. Ekspresinya langsung berubah. Ia tak mengeluarkan suara apapun kecuali dentingan garpu dan sendok yang menyentuh piringnya sampai beberapa suap, lalu memandang Ten. Ten tidak sabar. Matanya seolah mengatakan 'ayo-cepat-katakan-padaku'.

"Aku… hanya bermain ke Lotte Park bersama Myunghee tadi. Sudah lama aku tidak bermain kesana," jawab jaehyun pada akhirnya. Hening. Ten tidak langsung merespon. Ia ikut terdiam—sepertinya ia sedang memikirkan harus berkomentar apa.

"Bersama Taeyong juga?"

"Tidak, hanya berdua."

"Eh? Memangnya ada acara apa?"

"Tidak ada acara apapun…. Aku memang sedang ingin bermain, dan entah kenapa aku langsung terpikirkan untuk mengajak Myunghee jalan-jalan. Dia senang sekali. Sepertinya ia sangat jarang pergi ke tempat seperti itu. Ia tampak begitu bersemangat."

"Bahkan orang dewasa juga pasti senang kalau diajak jalan-jalan ke taman bermain seperti itu, Jaehyunnie," Ten tertawa pelan melihat ekspresi wajah Jaehyun bagaikan seorang anak yang tengah bercerita pada ibunya.

"Itu kan kalau kau. Belum tentu ada ahjumma yang—aw! Sakit!"

"Jangan panggil samakan aku dengan ahjumma!" Ten cemberut setelah memukul Jaehyun dengan sendok. Yang dipukul memang mengaduh kesakitan sambil mengusap kepalanya tapi itu hanya sebentar. Yang ia lakukan setelahnya adalah mencium pipi istrinya yang cantik itu.

"Tapi kan kau sudah punya satu anak. Berarti kau sudah ahjumma, karena kenyataannya aku juga sudah menjadi seorang ahjussi," kata Jaehyun sambil tertawa. Ten makin dongkol. Ia makin cemberut. "Sudahlah sayang, kau nanti keriput kalau merajuk."

"Kau menyebalkan," kata Ten lalu menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya. "Sebenarnya aku kasihan pada Myunghee, Jae."

"Hmm?"

"Saat itu aku sedang merapikan baju-baju Micha dan Myunghee sedang bermain dengan Micha. Micha membawa fotomu dan berkata appa lalu Myunghee bertanya 'apakah punya appa itu menyenangkan'. Kau tahu? Aku saja shock mendengarnya. Kasihan sekali Myunghee, aku yakin ia sangat merindukan ayahnya saat ini. Bukan hanya Myunghee, sih, tapi kurasa Taeyong pasti merindukan ayah dari Myunghee," curhat Ten. Jaehyun langsung menelan makanannya susah payah. Ia langsung meminum air mineralnya sampai habis.

"Y-ya begitulah."

Ten hanya tidak tahu, kalau ayah Myunghee adalah sosok pria yang selama ini sudah sah menjadi suaminya.

-oOo-

Jaehyun menatap layar ponselnya dengan ragu. Setelah berkirim pesan, ia malah tidak bisa tidur. Ia tidak bisa membayangkan esok.

Jemarinya seakan terpanggil untuk membuka galeri ponselnya. Dengan lincah, ibu jarinya mengetuk papan kaca itu sampai ia menemukan sebuah potret lamanya dengan wanita itu—siapa lagi kalau bukan ibu dari Lee Myunghee.

Diam-diam ia melirik Ten yang sudah terlelap di sampingnya. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya, namun perasaan itu bertambah beberapa kali lipat saat ia melihat potret yang masih ia simpan dengan manis di ponselnya.

Jaehyun tidak bisa berbohong ia merindukan mantan kekasihnya.

Jaehyun tidak bisa berbohong bahwa senyuman paling indah itu milik mantan pacarnya.

Iia tidak bisa berbohong kalau orang paling cantik yang pernah ia temui itu milik mantannya.

Dan ia tidak bisa berbohong kalau ia masih sangat mencintai separuh nafasnya yang telah pergi.

Jaehyun mendesah pelan sebelum ia menutup galeri ponselnya, lalu membalas sebuah pesan yang ia terima dan memutuskan untuk tidur. Kepalanya benar-benar pening rasanya.

-oOo-

Taeyong memainkan cangkirnya yang berisi cokelat panas. Semalam Jaehyun mengiriminya pesan singkat—meminta mereka agar bertemu di café kesayangan mereka itu—dan Taeyong menyanggupinya. Sebenarnya ia ingin menolak, namun Jaehyun bilang ia ingin membicarakan "sesuatu" dan akhirnya setelah membujuk Myunghee agar mau dititipkan ke rumah bibi Shim, Taeyong langsung bergegas menuju tempat ia duduk dengan canggung saat ini.

Sudah hampir empat tahun lamanya wanita cantik itu tidak duduk di dekat jendela bersama kesayangannya.

Dan hari ini, mereka duduk di sebuah meja. Hanya berdua.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku, hmmm?" tanya Taeyong lalu menyeruput cokelat panasnya perlahan. Jaehyun menghela nafas berat. Ia bingung. Ia tidak tahu harus memulainya darimana.

"Aku hanya merindukanmu, nuna," kata Jaehyun. Taeyong terdiam. "Itu sebabnya aku mengajakmu kemari. Entahlah, aku hanya ingin…"

"Bernostalgia?"

"Mungkin, seperti itu," kata Jaehyun sambil tersenyum pahit. "Bukankah sudah sangat lama kita tidak bertemu lalu berbincang berdua seperti ini?"

"Ya, memang sudah sangat lama sekali," Taeyong menyeruput cokelatnya lagi lalu menatap Jaehyun. Ia ikut tersenyum pahit. Jaehyun memang menarik. Tidak ada yang berubah dari pria berkacamata itu. Ia tetaplah Jaehyun yang ia kenal.

Jaehyun memperhatikan Taeyong. Wanita itu benar-benar tampak awet muda. Bahkan ia terlihat seperti gadis berusia 20 tahun ketimbang 27 tahun dalam balutan kemeja hijau tua dengan vest warna coklat dan miniskirt yang senada dengan kemejanya dipadu dengan stocking hitam panjang. Ah, jangan lupakan jepit rambut berbentuk pita warna merah yang ia kenakan saat ini. Benar-benar tampak seperti anak remaja akhir.

Dan Jaehyun, menyukainya.

Taeyong memang tidak berubah.

Jika dibandingkan dengan Ten, gaya mereka memang sangat berbeda. Ten dengan kesan classy dan glamornya. Taeyong dengan kesan cute dan fresh. Ten dengan high-heels dan Taeyong dengan sneakers. Ten dengan dress dan outer. Taeyong dengan over-sized shirt dan hot-pants. Dan brengseknya, Jaehyun menyukai keduanya.

"Kau masih sama," kata Jaehyun tanpa melepaskan pandangannya pada Taeyong. Taeyong terdiam agak lama.

"Tidak. Pasti ada yang berbeda dariku."

"Tidak."

"Ada. Pasti ada."

"Seperti, perasaanmu?" ujar Jaehyun. Taeyong terdiam—lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa kalau sudah menyangkut perasaan.

Semuanya memang sudah berlalu. Menurut Taeyong, semuanya memang telah berakhir dan seharusnya menjadi berbeda. Tapi… Jaehyun benar. Tidak dengan perasaannya. Masih sama. Masih banyak ruang yang bisa dijelajahi oleh seorang Jung dalam dirinya. Dengan kata lain, terlalu banyak ruang kosong dalam dirinya untuk ditinggali oleh Jungnya.

"Aku tidak tahu," jawab Taeyong setelah terdiam agak lama. "Aku… tidak pernah tahu kalau menyangkut perasaan."

"Apa ada orang lain yang sudah bisa merebut hatimu?"

"Belum. Belum ada?"

"Apa aku masih memiliki kesempatan unt—"

"Jung Yoon Oh, dengarkan aku," Taeyong memotong kalimat Jaehyun dengan nada yang agak tinggi dari sebelumnya. Tidak, ia tidak marah. Ia hanya ingin menegaskan. Jaehyun langsung terdiam. Seseorang yang selama ini selalu memanggilnya "Yoon Oh" hanyalah Taeyong, dan apabila Taeyong sudah menyebut nama aslinya itu, berarti Taeyong benar-benar sedang ingin berbicara serius.

"Ya?"

"Hidup kita sudah berbeda. Kau dan aku, kita, sudah berusia 25 tahun lebih, kau tahu itu kan?" kata Taeyong lalu menyeruput cokelat panasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak akan bilang kalau orang seumuran kita ini dilarang untuk jatuh cinta dengan cinta lamanya. Tapi kumohon, kau pasti tahu maksudku. Kondisi kita sekarang. Sangat tid—"

"Ya, karena aku memiliki Ten juga Micha. Sementara kau memiliki Myunghee," potong Jaehyun cepat. Taeyong menghela nafas berat. "Aku tahu itu, tidak semudah itu untuk melakukannya. Maksudku, ketika dulu kita bisa mengambil sebuah keputusan tanpa memikirkan perasaan orang lain dan kini kita harus mengambil keputusan dengan mereka."

"Kau sudah tahu akan hal itu, lalu kenapa…" Taeyong mendesah frustasi lalu terdiam sejenak. Ia melanjutkan, "Kenapa kau masih berharap kalau kita bisa bersatu lagi?"

"Aku… tidak bisa membiarkanmu hidup sep—"

"Semuanya sudah terlambat, Jung Yoon Oh."

"Kau benar-benar tidak bisa memberiku satu saja kesempatan lagi?"

"Jung Yoon Oh kumohon dengarkan aku," suara Taeyong melemah. "Semua ini, sudah terlambat. Kalau kau ingin kita, seharusnya kau tidak mengambil keputusan untuk menikahi Ten. Aku dan Ten sama-sama perempuan, dan aku tahu rasa sakit yang akan ia rasakan kalau kau nekat kembali padaku."

"Taeyong…"

"Semuanya sudah terlambat, Jaehyun-ah. Apabila kau mencoba kembali padaku dulu, aku masih berpikir untuk menerimamu kembali. Tapi kalau saat ini…" Taeyong menggigit bibir bawahnya. "Luka itu tidak akan sembuh secepat itu. Kalau kau nekat melakukannya, tidak hanya Ten yang sakit, begitu juga denganku. Aku. Aku tidak bilang kalau aku yang paling tersakiti, tapi aku masih tahu diri dan sebenarnya dalam posisi ini yang paling tersakiti adalah Ten."

Jaehyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia tahu ia begitu bodoh. Meminta kesempatan kepada mantannya untuk kembali ke pelukannya. Mustahil. Ia melupakan keluarganya. Tidak, bukan hanya Ten atau Micha, tetapi semua anggota keluarganya.

"Hhhhh," Jaehyun merasakan nyawanya pergi entah kemana. "Katakan padaku dengan jujur. Kau masih mencintaiku, kan?"

Kini giliran Taeyong yang terdiam cukup lama. Ia ragu harus menjawab iya atau tidak.

"Ya, aku memang masih memiliki perasaan itu padamu. Tetapi seperti yang sudah aku bilang. Kita sudah memiliki hidup kita masing-masing. Aku rasa terlalu egois kalau aku mengijinkanmu untuk kembali padaku begitu saja," jelas Taeyong lalu menghabiskan secangkir cokelatnya. "Aku… aku memang masih berharap semuanya seperti dulu, Jaehyun-ah. Tapi, bukankah kita harus bisa menerima kenyataan kalau memang… kita tidak bisa bersatu kan? Kumohon, jangan buat aku menyesal karena telah mengenalmu dan Ten. Jangan buat aku menyesal karena kau dekat dengan Myunghee."

"Aku tahu. Maafkan aku, Lee Taeyong. Aku tahu seribu permintaan maafku tak akan bisa mengampuni dosaku padamu."

"Kalau begitu, jagalah Ten dan Micha dengan baik. Apa yang kau lakukan itu, cukup membuatku terpuruk di tahun-tahun kemarin. Jangan ulangi kesalahanmu yang pernah kau lakukan padaku."

"Aku tahu, maafkan aku. Aku… mencintaimu."

Taeyong menunduk dalam keterdiamannya. Jaehyun meraih tangan Taeyong dan menggenggamnya. Tidak, Taeyong tidak menangis. Taeyong hanya membutuhkan waktu untuk mencerna kalimat Jaehyun tadi.

"Ya, aku juga mencintaimu."

-oOo-

Seorang pria berkacamata hitam berjalan keluar bandara. Jemarinya tak henti memainkan ponsel yang ada di tangannya itu sementara matanya sesekali menyapu sekitarnya—sepertinya ia sedang mencari seseorang. Begitu ia menemukan sosok yang ia cari—yang saat ini melambaikan tangan padanya—senyumnya mengembang begitu saja. Ia segera menghampiri sosok yang menjemputnya itu.

"A-yo! Sssup, man?" sapa pria berkacamata itu sambil memeluk temannya itu. Yang disapa tersenyum lebar.

"Okay as usual, how 'bout you?"

"Just the same. Apa kau benar-benar menjemputku dengan mobilku? Meminjam ke rumah adikku?"

"Tentu saja. Bukannya aku tidak mau memakai mobilku sendiri untuk menjemputmu, hanya saja setelah nanti kita sampai di café aku harus segera pergi ke tempat lain lagi untuk beberapa urusan. Aku takut tidak bisa mengantarmu pulang ke rumah adikmu itu. Kalau aku membawa mobilmu, setelah dari café kau bisa pulang sendiri, kan?"

"Hahahaha, ah khajja kita segera ke café-mu agar kau sendiri cepat menyelesaikan urusanmu," kata si pria berkacamata itu lalu mengikuti pria satu lagi yang menjemputnya. Selama perjalanan menuju café temannya itu, si pria berkacamata itu tak hentinya bercerita bahwa ia begitu merindukan adiknya.

"Adikmu itu cantik," kata temannya. "Sayang sekali dia sudah punya anak. Ya meskipun tidak kelihatan sih kalau ia punya anak."

"Ya begitulah, tetapi asal kau tahu saja, seandainya ia belum memiliki anak ataupun masih perawan sekalipun, aku tidak akan membiarkannya menikah denganmu. Bisa-bisa ia nanti hanya kau jadikan sebagai gulingmu."

"Enak saja, kalau aku sudah menyukai seseorang, aku tak akan sebejat itu untuk menidurinya lalu kutinggalkan begitu saja!"

"Aku tidak percaya, dan aku tidak akan menyerahkan adikku itu padamu! Hahahaha," begitulah pria berkacamata itu tertawa lalu melepaskan kacamatanya dan tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di café yang mereka maksud. "Garten Café, kurasa café ini sudah maju sekarang."

"Begitulah. Toh ini juga berkat bantuanmu. Nah, katakan saja pada mereka bahwa kau temanku dan mereka akan memberikan parselnya padamu. Tenang saja, aku tidak akan memungut biaya apapun. Sudah ya, ini kunci mobilmu dan aku pergi dulu. Bye," kata temannya itu lalu pergi. Namun beberapa langkah, ia menoleh lagi. "Oh ya aku hampir lupa! Katakan saja teman Hong Jisoo, jangan Joshua. Beberapa dari mereka ada yang tidak mengenaliku kalau kau menyebutku Joshua."

"Ne, ne. Arrsseo," kata pria itu lalu memutar bola matanya sementara temannya yang bernama Joshua itu menghilang entah kemana. Begitu pria itu memasuki café itu, ia segera menyebutkan maksud kedatangannya ke sana kepada salah satu pelayan. Senyum tipis tersungging di wajahnya saat membayangkan adiknya yang pastinya akan senang sekali akan kedatangannya hari ini—pria itu memang mengunjungi Korea tanpa menghubungi siapapun kecuali Joshua, itu pun untuk meminta agar ia dijemput di bandara.

Namun raut wajahnya langsung berubah begitu ia melihat sesuatu di dekat jendela. Ia mengernyitkan dahi. Ia mengenali sosok di dekat jendela tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati sosok yang itu.

"Hai," sapa pria itu. Spontan, sepasang sosok itu kaget.

"K-kau!?"

-TBC-

Halo! Kembali lagi dengan saya, Lianatta~

Bagaimana chapter ini?

Well saya sebenarnya juga bingung, dan setelah membaca review dan berdiskusi dengan teman saya, jadi saya memutuskan untuk menambahkan orang keempat di dalamnya. Hohoho :D

Siapakah dia?

Joshua? Oh bukan ya, itu temennya ya? .ggggg

Ya pokoknya orang keempat ini akan saya reveal di chapter selanjutnya xD

Okay terima kasih ya buat yang sudah review di chapter ini seperti nichi, nuperlan, TaoRisJae, GWIYE0PDA, mybestbaetae, blakcpearl, lunch27, dan restiana~

Okay, mind to RnR for this chapter? ^^

Terimakasih ^^

-with love, Lianatta.