Title: Melted

Chapter: 4

Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff

Rating: T

Main Cast:

Lee Taeyong [NCT]

Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]

Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]

Fourth cast

-oOo-

Send my love to your new lover

Treat her better

We've gotta let go of all of our ghosts

We both know we ain't kids no more

(Adele – Send My Love To Your New Lover)

-oOo-

"Hai."

"K-kau!?"

"Ya! Tidak sopan sekali kau ini! Panggil aku hyung!"

"Okay, okay. Johnny hyung. Puas?" Jaehyun memutar bola matanya malas. Sejujurnya ia sangat kaget bisa bertemu dengan pria itu—Seo Youngho atau dikenali sebagai Johnny—yang merupakan kakak sepupu dari istrinya, Ten. Dan jujur saja, kehadiran Johnny itu cukup mengganggu acaranya.

"Hahahaha," Johnny tertawa agak sumbang. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik, kau sendiri?"

"Tentu saja aku baik! Ah siapa perempuan ini?"

"Temanku. Teman lama saat SMA."

"Wah, cantiknya, hahahaha. Tak kusangka kau memiliki teman perempuan yang cantik," Johnny sepertinya mencibir Jaehyun. Jaehyun memandang Johnny tidak suka. "Halo nona, aku Johnny. Johnny Seo. Aku teman Jaehyun juga. Aku ini sunbaenya saat ia SD dulu," jelas Johnny lalu mengulurkan tangannya ke arah Taeyong. Taeyong merasa kikuk, namun ia memutuskan menerima uluran tangan Johnny.

"Taeyong," ucap Taeyong kikuk. "Lee Taeyong."

"Nama yang cantik," Johnny tersenyum. "Secantik orangnya."

"E-eh," Taeyong semakin kikuk. Ia memainkan sendoknya di cangkir kosongnya itu dengan gugup.

"Kalau aku boleh tahu, apa pekerjaanmu?"

"Aku… pemilik sebuah toko roti."

"Toko roti? Wah kelihatannya keren!"

"T-terima kasih, tapi hanya toko kecil biasa kok."

"Katakan padaku, apa kau bisa membuat brownies?"

"Tentu saja ia bisa, bodoh! Ia pemilik toko roti mana mungkin ia tidak bisa!?" kali ini Jaehyun yang angkat bicara. Taeyong hanya tersenyum kikuk.

"Tentu saja aku bisa, Johnny-ssi."

"Ah jangan formal begitu, panggil saja aku Johnny. Sekarang ini, kita juga teman, bukan?" Johnny mengerling pada Taeyong saat menekankan kata teman. Taeyong lagi-lagi tersenyum kikuk. Sungguh, ia merasakan aura kurang menyenangkan saat ini namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tetapi dengan kepandaian Johnny untuk berbicara, ia dan Johnny berhasil larut dalam pembicaraan mereka. Sepertinya mereka melupakan satu manusia yang sedari tadi menatap Johnny tidak suka—Jung Jaehyun. Demi apapun, mengapa mereka harus bertemu di sini? Ten memang sudah mengenal Taeyong, tapi tetap saja… kalau dalam keadaan begini?

Dan parahnya, mereka berdua asyik dengan dunia mereka.

Mengacuhkan Jung Jaehyun.

"Ehem," Jaehyun sepertinya "merusak" suasana yang tengah dibangun oleh Johnny dan Taeyong. Tapi dehaman Jaehyun sepertinya tidak terlalu berpengaruh banyak. Karena saat ini, di hadapannya, dengan lembut Johnny memegang jemari Taeyong dan mengusapnya. Taeyong juga tidak menolak. Ia hanya terdiam bingung.

"Ya, Jaehyun-ah?" Johnny mengalihkan atensi pada Jaehyun.

"Kurasa ini sudah terlalu sore. Dan aku rasa Taeyong harus pulang sekarang," kata Jaehyun dengan gusar. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Johnny benar-benar membuatnya tidak nyaman.

"Jadi? Mau pulang sekarang? Bagaimana kalau aku mengantar Taeyong? Aku membawa mobil kok. Aku menyuruh Joshua untuk membawa mobilku saat menjemputku tadi," Johnny bersiap untuk menarik tangan Taeyong. Jaehyun tidak suka. Ia langsung meraih tangan Taeyong.

"Tidak, biar aku saja yang mengantarnya. Dia kan temanku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengantarnya pulang sampai ke rumahnya dan memastikan apakah ia selamat sampai rumah atau tidak."

"Jadi kau tidak percaya padaku? Aku tidak akan menculik temanmu yang cantik ini, Jaehyun-ah."

"Kau baru saja sampai di sini. Aku rasa kau butuh untuk pulang terlebih dulu untuk menaruh barang-barangmu atau sekedar istirahat."

"Aku sudah banyak tidur saat di pesawat tadi, Jaehyun-ah. Kau pikir aku akan menculik temanmu ini?"

"K-kau…"

"Sudahlah, seorang hoobae harus menuruti sunbaenya," kata Johnny sambil menatap Jaehyun agak tajam. Jaehyun mendesah—memutuskan untuk mengalah. Ia kesal dengan situasi ini. Sementara Taeyong sendiri bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka.

"A-aku bisa pulang sendiri," kata Taeyong bersiap untuk meninggalkan mereka tetapi Johnny meraih tangan Taeyong dengan cepat.

"Tidak, aku harus memastikan bahwa teman hoobaeku ini baik-baik saja sampai di rumah. Benar kan, Jaehyun-ah?" Johnny melirik Jaehyun yang sepertinya benar-benar dalam kondisi mood yang buruk.

"Terserah kau saja," kata Jaehyun mengalah. Dengan agak tergesa ia berjalan menuju parkiran. Sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke arah Taeyong yang kebingungan, "Taeyong-ah, hati-hati."

"I-iya Jaehyun-ah."

Dan Jaehyun benar-benar menghilang dari hadapan Johnny dan Taeyong.

-oOo-

Keadaan di dalam Porsche merah itu terasa begitu dingin. Taeyong sangat menyesal mengapa ia harus di antar pulang oleh Johnny. Ya, dia memang manis. Hanya di café. Ya, hanya saat di café. Setelahnya? Menoleh pada Taeyong saja tidak.

"Jadi kau yang bernama Taeyong? Teman dari Jaehyun?" tanya Johnny sinis. Taeyong terdiam sejenak—ragu untuk menjawab. "Kenapa diam saja? Kau punya mulut kan?'

"Ya," jawab Taeyong singkat—dan dingin.

"Kau yakin kau itu teman Jaehyun?"

"Tahu apa kau soal aku dan Jaehyun? Kami memang hanya berteman."

"Kau tak perlu membodohiku, aku tahu kau itu mantan pacar Jaehyun, kan?" kali ini nada bicara Johnny benar-benar sangat ketus. Taeyong terdiam karena kaget. Matanya langsung terfokus lurus pada jalanan yang ia lewati. "Kenapa? Kaget?"

"Ani," Taeyong menjawab dengan sangat singkat. "Dan itu memang benar kalau mantan pacar hobae-mu itu."

"Hmm, lalu ada urusan apa kau dengan dia sampai-sampai bertemu di café?" tanya Johnny membuat Taeyong gusar. Sebenarnya siapa orang ini? Lalu apa masalahnya dengan Taeyong? Bahkan mereka baru saja saling mengenal sekitar satu jam yang lalu.

"Itu bukan urusanmu."

"Tentu itu urusanku! Urusan Jaehyun adalah urusanku juga!" suara Johnny meninggi membuat Taeyong semakin kesal. Apa-apan ini? Memangnya pria Seo itu siapa?

"Sayangnya urusanku adalah urusanku."

"Dan sayangnya segala hal yang menyangkut soal Jaehyun dan Ten adalah urusanku. Termasuk apabila kau ada urusan dengan Jaehyun, itu berarti juga urusanku."

"Aku rasa kau cukup sopan untuk tidak bertanya-tanya lag—"

"Dan aku rasa kau juga cukup sopan untuk tidak mengganggu suami dari adik sepupuku," potong Johnny cepat. Taeyong menelan ludah kasar. Jadi…

"Oh, kau kakaknya Ten?" kata Taeyong dingin—berusaha tidak kaget ataupun tampak peduli pada pria bertubuh tinggi itu. "Aku hanya akan bilang, bahwa pertemuanku dengan Jaehyun tadi bukanlah apa-apa."

"Apa-apa? Bukan apa-apa? Berduan dengan mantan pacar yang sudah beristri itu bukan apa-apa hmm?" Johnny berkata lebih ketus lagi. "Benar-benar wanita murahan. Kau seharusnya bisa kan untuk menolak bertemu dengannya? Kalau Ten tahu, ia pasti akan merasa sakit! Kau ini bodoh atau bagaimana hah!? Kau senang menghancurkan hati Ten begitu!? Kau ingin membalas dendam karena Jaehyun pernah meninggalkanmu hah!?"

JLEB!

Taeyong merasa pusing. Balas dendam? Apa-apaan soal balas dendam? Sedikitpun Taeyong tidak pernah berpikir untuk merebut Jaehyun lagi agar kembali ke pelukannya. Memangnya dia apa? Dia masih punya perasaan untuk itu.

"Aku tidak berniat untuk merebut suami dari adikmu itu, asal kau tahu saja Tuan Seo."

"Lalu? Bertemu berdua di sebuah café tanpa ijin dari Ten? Kau pikir itu apa namanya? Sama saja selingkuh!"

"Kalau kau tidak tahu apa permasalahannya lebih baik kau tutup mulutmu!"

"Aku yakin sampai saat ini kau pasti sering berkencan dengan Jung sialan itu! Mengaku saja! Dasar wanita murahan! Apa kau tidak bisa diam di rumah dan melakukan hal penting selain mengganggu suami orang? Kau itu hanya mantan dari Jung!"

"…" Taeyong terdiam saat Johnny menekankan kata mengganggu. Apakah selama ini belum cukup? Ditinggalkan begitu saja? Berjuang sendirian? Dan apakah itu tetap membuatnya tampak murahan?

Taeyong tak tahu harus berkata apa lagi. Ini menyakitkan.

"Kenapa kau diam saja, wanita jalang? Bahkan saat aku memegang tanganmu di café tadi, kau tidak menolak, hmm? Apakah hidupmu semenyedihkan itu sampai-sampai kau berusaha merebut apa yang telah menjadi milik orang lain? Atau kau ini haus akan belaian?"

"…."

"Apa kau mendekati Jaehyun lagi untuk mendapatkan hartanya? Oh, kau butuh uang? Katakan padaku, berapa banyak yang kau butuhkan?"

"…."

"Aku heran bagaimana bisa Jaehyun begitu mencintai wanita sepertimu! Aku tahu mungkin Ten tidak lebih cantik darimu, tetapi setidaknya ia tidak berusaha merebut milik orang lain bahkan ia memperj—"

PLAK!

Taeyong tidak tahan lagi. Satu tamparan mendarat di pipi Johnny. Dengan keadaan yang semakin panas, Johnny meminggirkan mobilnya. Ia menatap Taeyong nyalang.

"Apa?"

"WANITA MURAHAN! Berani kau menamparku!?" teriak Johnny nyaring. Ia tak peduli dengan Taeyong yang notabene adalah wanita—persetan dengan gender, ia tidak peduli. Tangan Johnny mulai mengepal dan ia bersiap untuk menghantam wajah cantik wanita itu.

"Kau mau memukulku? Silahkan saja! Kau memang benar, Tuan Seo," Taeyong menatap Johnny dengan dingin. "Memang benar aku murahan, perebut suami orang, lalu apalagi yang kau tahu? Hanya itu?"

"…."

"Aku memang butuh uang, tetapi setidaknya aku masih bisa mengusahakan uang meskipun hanya sedikit untuk hidupku."

"…."

"Aku tidak butuh apapun darimu, Tuan Seo. Silahkan kau pukul aku. Aku tidak peduli. Kau memang benar. Aku hanya wanita murahan yang ditinggalkan kekasihnya dan seperti katamu tadi, berusaha merebut milik orang lain," Taeyong menekan kata murahan dalam kalimatnya. Johnny terdiam cukup lama.

"…."

"Kau tidak tahu apa-apa. Terima kasih atas tumpanganmu, aku bisa pulang sendiri," bersamaan dengan berakhirnya kalimat Taeyong, ia langsung turun dari Porsche merah itu. Kaki rampingnya mulai menyusuri jalanan—padahal jarak rumahnya masih 10 km lagi.

Johnny terdiam, lalu mengacak rambutnya frustasi. Ada sedikit perasaan bersalah, tetapi ia tidak peduli dengan itu sekarang. Persetan dengan apapun, ia tidak salah kan, berkata kasar pada seseorang yang telah menyakiti adik sepupunya itu?

Jalanan Seoul yang langitnya mulai gelap masih ramai. Namun, Johnny memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.

-oOo-

Taeyong mengusak wajahnya kasar. Tidak peduli dengan bedaknya yang luntur atau matanya yang sembab. Ia hanya berjalan entah kemana tanpa tujuan. Hatinya begitu sakit saat mendengar makian Johnny tadi. Ia hanya ingin bahagia, tenang. Apa itu salah?

Johnny bahkan baru mengenalnya beberapa menit di café dan ia sudah berani berkata sekasar itu padanya? Benar-benar lelaki kurang ajar, pikir Taeyong. Ia menghela nafas beberapa kali. Johnny Seo. Bahkan lelaki itu tidak tahu apapun soal ia dan Jaehyun di masa lalu.

Sebenarnya siapa yang lebih pantas menangis di sini?

Ia?

Atau Ten?

Air mata sekali lagi membasahi pipi mulusnya. Tidak. Tidak ada yang bisa disalahkan ataupun merasa paling tersakiti di sini. Semuanya merasakan sakit. Taeyong pikir seperti itu.

Taeyong adalah wanita kuat. Ia cukup mandiri untuk mencari uang. Ia bisa membesarkan Myunghee sendirian. Kurang apalagi? Perasaan? Persetan dengan perasaan. Ia masih bisa hidup sampai sekaranga meskipun hatinya penuh akan luka, bukan?

Taeyong bukanlah wanita lemah yang mudah menyerah. Selama ini tanpa bantuan dari Jaehyun, ia masih bisa bertahan hidup, makan, mengurus anak… ia bisa.

Di bawah langit malam Seoul, wanita itu terus berjalan entah kemana sampai kegelapan menelannya.

-oOo-

"Eomma sakit?" Myunghee menempelkan dahi ke pipi Taeyong yang langsung merebahkan diri ke kasur. Taeyong menggeleng dan tersenyum ke arah Myunghee. Tadinya, Myunghee hampir menangis saat melihat keadaan eomma-nya yang acak-acakan saat menjemputnya di rumah Bibi Shim. Myunghee takut kalau ibu kesayangannya itu bertemu penjahat ataupun sakit.

Bocah itu tidak puas dengan jawaban Taeyong. Ia tiduran di samping Taeyong. Mata polosnya menatap Taeyong, memperhatikan tiap inci wajah ibunya.

"Eomma kenapa? Bertemu penjahat? Mata eomma bengkak! Siapa yang jahat pada eomma? Sini aku pukul dia!" Myunghee cemberut lalu menciumi pipi ibunya, Taeyong tertawa pelan.

"Tidak, sayang. Tidak ada yang jahat pada eomma."

"Tapi eomma tampak seperti orang sakit."

"Eomma baik-baik saja, percaya pada eomma. Tidak ada penjahat yang berani pada eomma karena eomma punya pahlawan kecil bernama Lee Myunghee! KKkk~"

"Ah, eomma peluk akuuuuu," akhirnya Myunghee meminta pelukan dari Taeyong. Taeyong memeluk anak satu-satunya itu dengan sayang. Tak lupa ia menghujani anaknya itu dengan beberapa ciuman sayang sampai anaknya terkikik geli. "Myunghee sayang eomma."

"Eomma juga sayang Myunghee."

Taeyong bersyukur, ia masih memiliki Myunghee di dalam hidupnya.

-oOo-

Johnny langsung masuk ke rumah megah itu dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya. Kedatangannya kemari selain untuk bisnis, adalah untuk bertemu dengan adik sepupu kesayangannya itu—sekaligus memastikan apakah Ten baik-baik saja atau tidak. Jadi sangat tidak mungkin kalau ia menyinggung soal pertemuan Jaehyun dan Taeyong saat ini, yang iya, ia bisa menghancurkan mood adiknya.

Ia langsung menampilkan senyum manisnya begitu melihat Ten yang sedang menonton tv di ruang tengah bersama Jaehyun dengan mesranya. Johnny tidak sebodoh itu, meskipun ia tidak menyukai Jaehyun karena Taeyong, ia tahu saat ini Jaehyun memang benar-benar tulus menemani adiknya itu menonton tv.

Tapi, tetap saja Johnny tidak menyukai Jaehyun. Bukan Jaehyun, lebih tepatnya perasaan Jaehyun terhadap Taeyong.

Johnny mendesah pelan. Namun melihat guratan bahagia di wajah Ten, ia ikut senang.

"Johnny oppa!? Astaga sejak kapan kau pulang!?" Ten sangat kaget melihat Johnny yang berdiri diam di belakang sofa. Johnny cengengesan, sementara Jaehyun memasang wajah datar. Ten langsung menghambur ke arah Johnny.

"Sejak tadi siang," kata Johnny sambil tersenyum manis lalu mengacak-acak rambut adiknya itu. "Aku membawakan parsel untukmu dan juga Jaehyun."

"Kenapa tidak bilang kalau mau kemari!? Sialan, pasti Joshua oppa datang kemari untuk meminjam mobil itu untuk menjemputmu, bukan karena mobilnya rusak," Ten cemberut namun ia tidak melepaskan pelukannya dari kakaknya itu. "Apa kabar? Ah kau pasti lelah."

"Ah, tidak juga. Bertemu dengan adikku ini membuat lelahku hilang."

"Tetapi Ten benar, ada baiknya kau beristirahat," kata Jaehyun dengan nada yang sangat datar. Jangan lupakan kekesalan Jaehyun saat di café tadi. Ia masih jengkel pada kakak sepupu istrinya itu. Bahkan, Jaehyun sendiri tidak mengatakan pada Ten kalau ia bertemu dengan Johnny di café.

"Apa kubilang, lebih baik kau beristirahat. Kau sudah makan malam? Atau kau mau kupesankan pizza? Kau bisa memakannya sambil menonton film bersamaku dan Jaehyun."

"Aku sudah makan tentu saja, hahahaha. Hmm, menonton…. Menontonlah berdua saja, aku takut mengganggu momen manis kalian, hahahaha," kata Johnny dengan senyum jahilnya. Ten langsung memukul lengan Johnny. Ia berjalan menjauhi Johnny dan kembali duduk di sebelah Jaehyun sambil cemberut.

"Ya! U-ugh," namun semburat pink menghiasi wajah Ten yang cemberut sementara Jaehyun tertawa kecil dan mengelus surai hitam Ten. Ten langsung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Jaehyun dengan manjanya sementara Johnny menyeringai jahil.

"Wah wah. Jangan begitu," kata Johnny. "Kalian tidak kasihan padaku yang masih single ini? Ten kau terlalu mesra dengan suamimu itu, aku rasa setelah menonton film, kalian akan membuatkan adik untuk Micha."

"Ya oppa! Bisakah kau diam saja!? Berisik sekali!"

"Memang salahku dimana kalau berisik? Bukankan memang kegiatan yang paling menyenangkan untuk sepasang suami-istri itu membuat adik kecil?"

"U-ugh…" wajah Ten semakin memerah. Rasanya ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Ia sangat malu kalau ada orang yang mengungkit hal semacam itu karena pasti bagian mesum dari otaknya akan bekerja dan ia akan membayangkan Jaehyun yang tampak begitu seksi saat bertelanjang dada di hadapannya itu lalu membuatnya mendesah keras karena bagi Ten, Jaehyun itu sangatlah pintar memuaskan istri di ranjang. Sebenarnya hal wajar, tidak ada yang salah kecuali kau membayangkan melakukan hal itu bersama suami orang.

"Hahaha, baiklah aku izin untuk istirahat duluan. Selamat menciptakan lagu baru ya atau mungkin adik baru," dan dengan berakhirnya kalimat Johnny, pria tinggi itu langsung kabur ke kamarnya sebelum ditimpuk bantal lagi oleh Ten.

"Dia menyebalkan sekali. Ugh. Mulutnya itu suka mengeluarkan kata-kata yang seenaknya sendiri," keluh Ten lalu memeluk Jaehyun. Jaehyun tertawa.

"Bukankah ia memang jahil?"

"Tapi tidak begitu juga. Aku kan jadi… u-ugh."

"Mwoya, hmm?"

"A-ani."

"Kau ingin membuat adik untuk Micha hmm?"

"Y-YA JUNG JAEHYUN!"

Tak butuh waktu lama, toh akhirnya sepasang suami istri itu malah masuk ke kamar tidur mereka dan menciptakan suara berisik dengan lagu-lagu aneh dipadu kata-kata senada yang keluar dari mulut Ten—dan Jaehyun juga, tentunya.

-oOo-

Johnny terdiam di atas kasurnya. Matanya memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang lagi saat ia membentak Taeyong tadi.

Johnny memang tahu kalau Taeyong adalah mantan pacar Jaehyun. Ia tahu kalau Taeyong adalah mantan pacar suami adik sepupunya saat ia tak sengaja mendengar percakapan Jaehyun dan Ten setelah beberapa hari mereka menikah.

Tapi, sepertinya ia sendiri tidak menyadari hal fatal, bahwa ia memang tidak tahu apa-apa soal wanita single-parent itu.

Sifat Johnny memang seenaknya sendiri, tetapi ia sendiri sadar kalau ucapannya itu memang sangat kurang ajar. Menyebut Taeyong sebagai wanita murahan? Tidak, Johnny tidak tahu hal yang sesungguhnya, bahkan Johnny tidak tahu kalau adik sepupu kesayangannya itu malah berteman dekat dengan Taeyong.

Yang Johnny inginkan hanyalah kebahagiaan adiknya. Ia sudah menganggap Ten seperti adik kandungnya—begitu pula dengan Ten, karena Ten tidak memiliki kakak dan Johnny adalah anak tunggal—bahkan ia juga menganggap Jaehyun adalah adiknya. Sangat wajar bukan kalau sebagai seorang kakak ia ingin adiknya bahagia? Tetapi saat ia tahu kalau Jaehyun tidak mencintai Ten seperti Ten mencintai Jaehyun, ia kecewa.

Tetapi Johnny tidak bisa terus menerus kecewa pada Jaehyun, toh Jaehyun merelakan perasaannya sendiri untuk adiknya itu. Setidaknya Johnny tidak sebuta itu untuk peduli akan perasaan Jaehyun. Tapi bagaimana pun, ia pikir setelah tiga tahun ini, Jaehyun sudah bisa menghapus perasaannya untuk Taeyong, namun sepertinya ia salah.

Dan saat ia menemukan Jaehyun berada di café bersama Taeyong, sejujurnya ia marah—lebih tepatnya kecewa untuk yang kedua kalinya. Bertemu mantan kekasih di tempat umum seperti itu tidaklah pantas menurut Johnny. Johnny takut kalau Jaehyun nekat bermain di belakang Ten. Adiknya itu bisa bunuh diri kalau tahu Jaehyun senekat itu.

Tapi Johnny tidak menghilangkan fakta bahwa Jaehyun sebenarnya anak baik-baik. Dan ia rasa menyerahkan Ten pada Jaehyun bukanlah pilihan yang salah.

Tapi sekali lagi, ia terbayang-bayang oleh Taeyong.

Wanita berwajah cantik, imut, dan manis di saat bersamaan yang mampu menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Johnny masih normal, ia mengakui kalau Taeyong memanglah sangat menarik. Tetapi rasa benci itu menutupinya. Semenarik apapun Taeyong, di matanya tetap saja wanita itu adalah penghancur kebahagiaan adiknya.

Ups.

Apakah ia pantas menyebut Taeyong sebagai penghancur?

Sepertinya ia lupa lagi dengan fakta ia tidak tahu apa-apa.

Johnny menghela nafas berat. Ia masih teringat soal raut wajah Taeyong yang mendadak kaku, dingin, dan terlalu dipaksakan untuk tegar. Saat ia mengatainya dengan kasar. Dan fakta bahwa wanita itu tidak langsung pulang ke rumahnya. Tahu darimana? Saat berkeliling Seoul, Johnny sempat berpapasan lagi—atau lebih tepatnya setelah itu ia sempat membuntutinya—dengan wanita yang baru saja genap berusia 27 tahun itu. Taeyong yang tampak benar-benar kacau, berjalan sendirian, terkadang duduk di pinggir jalan… lalu membeli minuman dan akhirnya ia berjalan lagi entah kemana.

Hati kecilnya meminta maaf, tapi Johnny memang keras kepala dan tidak mau mengakui kalau perbuatannya itu salah.

"Lee Taeyong," gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya. "Anak? Apa maksudmu? Apa yang tidak aku ketahui?"

-oOo-

"Terima kasih, silahkan datang kembali," Taeyong tersenyum pada pelanggannya yang masih duduk di bangku SMA itu—terlihat dari seragamnya. Anak laki-laki itu tampak kebingungan untuk menentukan cake dengan dekorasi apa yang cocok untuk ulang tahun ibunya, dan Taeyong membantu memilihkan cake dengan nuansa warna pink dan buah-buahan yang tampak feminim untuk ibu-ibu.

"Sama-sama atas bantuannya, aku pasti akan datang lagi, bibi cantik," kata anak itu dengan senyum polosnya dan segera keluar dari toko roti itu dengan ceria sambil membawa cake-nya. Taeyong terkikik geli. Anak SMA itu sudah beberapa kali datang ke tokonya dan sering memanggilnya dengan sebutan "bibi cantik". Taeyong berpikir kalau ia masih duduk di bangku SMA, mungkin ia akan didekati oleh laki-laki itu.

Taeyong menepis pikiran anehnya lalu melihat jam dinding. Pukul 12.00 siang. Saatnya untuk menjemput Myunghee. Taeyong merapikan beberapa perkakas tokonya yang agak berantakan lalu berpamitan pada kepala karyawannya untuk menjemput Myunghee. Setelahnya, ia memacu mobilnya menuju sekolah Myunghee.

Sesampainya di sana, Taeyong bisa melihat kelas Myunghee yang sudah terbuka. Ia tersenyum dan seperti yang sudah ia prediksi, Myunghee langsung menghambur ke arahnya begitu melihat dirinya.

"EOMMA!" pekik Myunghee dan Taeyong segera menggendong anaknya itu. Ia menciumi pipi Myunghee. "Eomma jangan cium aku! Aku bau kecut nanti eomma tidak wangi sepertiku!"

"Hahahaha, kau ini," Taeyong tertawa geli mendengar penuturan anaknya itu. Ia menciumi pipi Myunghee lagi. "Tidak masalah, mau kecut atau tidak, Myunghee tetap anak kesayangan eomma."

"Ah, eomma cantik… Myunghee ingin makan rapokki hari ini, boleh?"

"Tentu saja, khajja kita makan, kau pasti sangat lapar," dan Taeyong membawa Myunghee menuju kedai terdekat yang ada di sekitar sana.

Sepertinya mereka tidak sadar, ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua dari supermarket seberang sekolah Myunghee.

"Mwoya? Eomma?"

-TBC-

HALO!

Saya kembali membawa chapter ini xD

Bagaimana dengan orang keempatnya? Fufufu~

Saya sebenarnya juga bingung sih tapi sudahlah /?

Mohon RnR ya, karena komenan kalian sangat membantu saya untuk bersemangat melanjutkannya :'D

Okay, terima kasih! ^^

-with love, Lianatta.