Title: Melted

Chapter: 5

Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff

Rating: T

Main Cast:

Lee Taeyong [NCT]

Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]

Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]

Seo Youngho a.k.a Johnny

-oOo-

I just heard you found the one, you been looking

You been looking for

I wish I would have known that wasn't me

Cause even after all this time

I still wonder

Why I can't move on

Just the way you did so easily

(Charlie Puth ft. Selena Gomez – We Don't Talk Anymore)

-oOo-

"Oppa?" Ten membuka pintu kamar tamu—yang kini menjadi kamar Johnny—setelah mengetuknya. Ia bisa melihat Johnny yang sepertinya sedang bermalas-malasan di atas kasurnya.

"Ne?"

"Bisakah aku meminta tolong padamu? Beberapa barang di dapur habis, dan aku tidak bisa meninggalkan Micha. Tadinya aku ingin minta tolong pada Jaehyun tapi ia bilang akan pulang terlambat hari ini karena ada pertemuan penting jadi… hehehehe bolehkah aku meminta tolong padamu? Untuk berbelanja?"

"Tentu saja," Johnny langsung bangkit dari kasurnya. "Berikan aku list belanjaannya, aku akan membelikannya."

"Oke siap! Kau memang kakak terbaik!" Ten mengecup pipi Johnny lalu segera pergi untuk menuliskan list belanjaan. Johnny terkekeh, itu adalah kebiasaan yang sangat ia rindukan. Setelah berpakaian rapi dan menerima catatan dari Ten, ia segera bergegas menuju sebuah supermarket yang disarankan oleh Ten—letaknya di dekat sebuah play-group.

Saat ia selesai dengan acara belanjanya, matanya menangkap sebuah postur wanita yang tidak asing baginya. Ia melihat si pemilik postur itu tengah berdiri di depan play-group seperti sedang menunggu seseorang. Johnny penasaran. Ia buru-buru keluar dari supermarket dan mencoba memperhatikan orang itu dengan jarak lebih dekat.

Ia yakin penglihatannya tidak salah.

Itu Lee Taeyong.

Sedang apa Taeyong di sana? Johnny penasaran. Sejenak ia tertarik dalam pesona wanita itu. Bagaimana tidak, siang itu Taeyong menguncir rambutnya dengan model ekor kuda dengan rapi serta mengenakan crop-tee putih dengan coat merah dan celana jeans biru. Ia hampir tidak percaya bahwa wanita itu memiliki usia yang sama dengannya, apalagi dengan style seperti itu.

Johnny mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak berpindah dari tempatnya. Ia tetap memperhatikan sampai ada satu hal yang membuatnya kaget setengah mati.

"EOMMA!" seorang anak kecil berlari menuju Taeyong dan Taeyong segera menggendongnya. Suara mereka lumayan keras dan Johnny bisa mendengarnya—meskipun tidak terlalu jelas.

"Hahahaha, kau ini."

"Ah, eomma cantik… Myunghee ingin makan rapokki hari ini, boleh?"

"Tentu saja, khajja kita makan, kau pasti sangat lapar."

Johnny ternganga. Ia… ia yakin ia tidak salah dengar. Ditambah dengan adegan yang tampak jelas mempertontonkan kemesraan ibu dan anak, Johnny yakin syaraf-syarafnya masih bekerja dengan sangat baik.

"Mwoya? Eomma?" Johnny bergumam.

Ia bisa mendengar kalau anak tadi benar-benar memanggil Taeyong dengan sebutan eomma.

"Taeyong… apa itu anak Taeyong?" Johnny kembali bergumam. Pikirannya serasa penuh. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Otaknya panas, ia memproses sebuah pertanyaan yang mengganjal di dalam dirinya.

Apakah bocah itu anak dari Taeyong?

-oOo-

"Eomma, kapan kita berkunjung ke rumah Jung ahjussi lagi? Aku kangen sama Micha," tanya Myunghee saat melahap rapokkinya. Taeyong hanya terdiam dan tersenyum tipis. Sejujurnya, ia ingin menghindari kontak dulu dengan keluarga Jung itu, tetapi sepertinya Myunghee tidak bisa—tentu karena bocah itu tidak tahu masalah eomma -nya.

Tiba-tiba saja ponsel Taeyong berdering. Taeyong bisa membaca tulisan "Ten is calling" di layarnya. Itu Ten. Bukan Jaehyun. Bukan juga Johnny. Jadi, tidak ada salahnya untuk menerima panggilan dari Ten.

"Yoboseyo?"

"Yoboseyo. Ah eonni, apakah aku mengganggumu?"

"Ani. Ada apa, Ten?"

"Uhm begini, aku ingin memesan brownies padamu. Kau pasti tahu kan, brownies favoritku. Kolega Jaehyun besok akan berkunjung dan setidaknya aku butuh tiga kotak brownies untuk mereka. Aku akan mengambilnya besok."

"Oh, mau kau ambil jam berapa?"

"Sekitar pukul sembilan. Bisa, kan?"

"Tentu saja bisa."

"Yeay! Terima kasih eonni, kau terbaik! Ah, sepertinya Micha mengompol, aku harus mengganti popoknya dulu."

"Hahahaha kau ini, sudah sana cepat ganti dulu."

"Hehehehe sekali lagi terima kasih eonni! Bye, semoga harimu menyenangkan!"

"Hahahaha iya Ten, kau juga. Bye," lalu Taeyong memutus sambungan teleponnya.

"Eomma apa itu telepon dari Jung ahjumma?" tanya Myunghee dengan wajah penasarannya yang menggemaskan. Taeyong mengangguk dan tersenyum.

"Nah Myunghee, Jung ahjumma bilang akan membeli kue dari eomma," kata Taeyong dengan mata berbinar. "Jadi, siap untuk membuat kue nanti malam?"

"Yeay! Tentu saja! Aku pasti akan membantu eomma!" seru Myunghee. "Khajja eomma! Kita juga harus berbelanja bahan-bahannya kan?" Myunghee benar-benar bersemangat kalau Taeyong sudah bilang akan membuat kue bersama.

Taeyong tertawa kecil, lalu segera menghabiskan makanannya untuk membeli bahan-bahan untuk membuat brownies bersama Myunghee.

-oOo-

Johnny menggeliat untuk menyamankan posisi tubuhnya di atas kasurnya. Matanya memang menatap layar televisi yang ada di kamar itu, tetapi tidak dengan otaknya. Ia menghela nafas. Ada hal yang benar-benar mengganggu pikirannya saat ini.

Eomma

Johnny benar-benar yakin telinganya tidak mengalami gangguan. Ia bisa mendengar dengan jelas meskipun jaraknya agak jauh. Anak kecil yang ia lihat di depan play-group memanggil Taeyong dengan sebutan eomma. Johnny mulai bertanya-tanya, apakah anak itu benar-benar anak Taeyong?

Kalau memang iya, apa benar… Jaehyun adalah ayah dari anak itu?

Hal yang sangat disayangkan oleh Johnny karena ia tidak sempat melihat wajah anak itu dengan jelas. Ia hanya melihat dari kejauhan, itupun terhalang oleh matanya yang secara otomatis terfokus pada wanita muda yang ia benci saat ini.

Lee Taeyong.

Johnny memeluk gulingnya, berusaha menyamankan posisinya lagi. Ia teringat soal insiden bentak-membentaknya di dalam mobil malam itu. Dengan kurang ajarnya, ia mengatakan bahwa Taeyong adalah wanita jalang.

Kini ia mulai berpikir—lagi.

Apa—lagi—yang ia tidak ketahui?

Ia butuh jawaban. Secepatnya. Atau ia bisa gila dalam asumsinya sendiri.

-oOo-

"Oppa, kau bisa kan menolongku mengambil pesanan di Fiore Bakery? Tempatnya tidak jauh dari sini kok," kata Ten sambil memberikan beberapa lembar uang dan catatan kecil pada Johnny. "Maafkan aku kalau merepotkanmu, tapi aku benar-benar tidak bisa keluar rumah karena harus menyiapkan beberapa hal untuk kedatangan kolegamu dan Jaehyun nanti."

"Tidak masalah, toh ini juga untuk kepentinganku," kata Johnny sambil mengusak rambut Ten. "Baiklah aku berangkat ya."

"Hati-hati," ujar Ten sambil tersenyum lebar lalu membiarkan Johnny pergi mengambil pesanannya. Setelah Johnny pergi, Ten benar-benar disibukkan untuk menyiapkan beberapa hal di rumahnya bersama pembantu kepercayaannya.

Johnny sendiri menyetir mobilnya dengan agak lambat. Matanya memperhatikan sekeliling jalan untuk menemukan tujuannya. Setelah berkutat di jalanan, ia berhenti tepat di depan toko kecil bernuansa coklat muda dengan aneka bunga yang menghiasi toko itu. Ia membaca papan toko itu dua kali untuk benar-benar memastikan bahwa ia tidak salah tujuan. Setelah yakin dengan tulisan Fiore Bakery yang terpampang dengan jelas, ia masuk ke dalam toko itu.

Ia berpikir kalau tempat itu kecil namun terlihat begitu classy dan menarik. Sepertinya si pemilik toko memang menyukai desain yang simple tetapi berkelas. Tak hanya tertarik karena desain tempatnya, Johnny juga tertarik karena bau kue yang begitu menggoda. Ia berasumsi pastilah si pemilik toko adalah orang kaya karena pelanggannya lumayan banyak—seperti yang ia lihat saat ini. Jelas, omset yang ia peroleh pasti banyak.

Namun omset, desain toko, bau harum… semuanya langsung sirna dari otak Johnny begitu ia bergerak mendekati kasir. Jaraknya dengan kasir itu begitu dekat. Ia tidak mungkin salah lihat.

"Iya silahkan ada ya—" kasir itu langsung terdiam kaget begitu melihat Johnny di hadapannya. Sebenarnya tidak hanya kasir itu, tetapi Johnny juga demikian. Tiba-tiba Johnny teringat sesuatu.

Aku… pemilik sebuah toko roti.

Dan Johnny kembali berasumsi kalau toko ini pastilah milik wanita itu. Wanita yang pernah ia sakiti oleh mulut kurang ajarnya. Siapa lagi kalau bukan…

Lee Taeyong.

"A-aku mau mengambil pesanan Ten," ucap Johnny setelah ia bangkit dari rasa terkejutnya. Taeyong mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah merasa nyawanya kembali berkumpul, ia langsung mengambilkan pesanan Ten dan menyerahkannya pada Johnny. Tatapannya benar-benar dingin, seolah mampu membekukan siapapun yang ada di hadapannya. "Aku kemarin melihatmu bersama seorang anak kecil di depan play-group."

"Lalu?" tanya Taeyong dingin. Jangan lupakan soal kemarahan Taeyong. Sangat wajar kalau ia masih marah setelah insiden itu, kan?

"Apa bocah itu anakmu?"

"Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Taeyong dingin.

"Dengan… Jaehyun?"

"Ya," Johnny tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar jawaban Taeyong yang begitu tegas—dan dingin. Ia memandangi Taeyong dengan tatapan tidak percaya dan… penyesalan. "Totalnya 13.000 won."

"Ini, ambil saja kembaliannya," kata Johnny lalu buru-buru keluar dari toko itu. Ia masih terkejut dan tak bisa menerima satu fakta baru yang ia ketahui.

Bahwa anak yang ia lihat itu benar anak Taeyong dan Jaehyun.

-oOo-

Taeyong terdiam cukup lama di atas mejanya—mendiamkan minuman cokelat favoritnya. Matanya menerawang keluar tokonya. Ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Tentu saja pasti ditebak. Itu Johnny Seo, kakak sepupu Ten. Taeyong mendesah pelan.

Ia tidak tahu kalau hidupnya harus masuk lagi ke dalam sebuah babak lain yang sama rumitnya. Ia tidak tahu kalau Johnny akan menanyakan soal anaknya. Seperti yang pernah Taeyong katakan, memang benar kalau pemuda Seo itu tidak tahu apa-apa.

Bahkan pemuda itu tidak tahu kalau ia sudah memiliki seorang anak.

Taeyong sedikit menyesal dengan semua ini. Jika ia tahu semuanya akan seperti ini, lebih baik ia bertindak jahat saja. Semisal… melarang Myunghee bertemu dengan ayahnya? Tetapi Taeyong tidak bisa melakukan itu. Myunghee menyukai Jaehyun, dan tidak hanya Jaehyun tapi juga keluarganya. Ten juga bersikap baik padanya.

Taeyong memijit kepalanya pelan. Ia tidak tahu harus bagaimana.

-oOo-

Ten sibuk dengan ponselnya saat memasak di dapur. Bagaimana tidak, terhitung sudah 45 menit ia berkutat di dapur, sendirian, mencoba untuk berdamai dengan berbagai macam masakan dan sebuah buku resep. Tetapi tetap saja ada hal yang gagal untuk ia pahami.

Ten bernafas lega saat sebuah suara tersambung lewat ponselnya. "Yoboseyo?"

"Yoboseyo eonni, aku butuh bantuanmu. Hiks."

"E-eh? Ada apa Ten?"

"Jadi begini, aku sudah… uhm… kira-kira sudah berapa lama ya aku menjadi lumut di dapur? Ah ya, jadi aku bingung har—"

"Hahahahaha jadi kau sedang memasak? Dan kau bingung dengan masakanmu? Kesul—ya! Myunghee!"

Secara refleks Ten menjauhkan teleponnya dari telinganya. Ia menggeleng pelan lalu tertawa kecil membayangkan Taeyong yang berteriak karena ulah Myunghee. Tiba-tiba pikirannya menjadi cerah.

"Ya eonni! Bagaimana kalau kau ke rumah saja? Aku yakin Myunghee pasti merindukan Micha, karena Micha juga beberapa hari ini selalu menyebut nama Myunghee…. Ah! Aku juga punya beberapa es krim yang enak, lal—"

"Bilang saja kau memintaku ke rumahmu untuk membantumu memasak."

"Aku sayang eonni cantik~ Chu~"

"Hahhh kau ini tidak ada bedanya dengan Myunghee. Baiklah, aku akan ke sana sekarang, tunggu aku."

"Yeay! Eonni terbaik! Aku cinta padamu~ Nan gidaryo~ Hati-hati di jalan sayangku~ Chu~" lalu Ten memutus sambungan teleponnya dengan cengiran jahilnya. Sepertinya batinnya terkoneksi dengan Myunghee yang di sana sedang merengek meminta bertemu dengan Micha.

Tak lama kemudian, Taeyong datang bersama Myunghee. Myunghee yang mendapatkan sinyal untuk bermain bersama Micha langsung pergi ke kamar Micha. Micha tertawa melihat kehadiran Myunghee dan sudah sangat bisa ditebak, mereka bermain bersama.

"Hai eonni," Ten tersenyum centil membuat Taeyong memutar bolamatanya. Namun ia berganti mendelik kaget saat melihat bahan masakan Ten yang lumayan banyak.

"Kau mau memasak apa? Sebanyak ini?"

"Untuk makan besar malam ini. Hehehe, jadi eonni mau kan membantuku? Nanti kita makan malam bersama saja."

"Aigooo, pantas saja kau butuh bantuanku. Nah sekarang mari kita mulai dari… uhm.. darimana ya?" Taeyong menyentuh bahan makanan itu satu per satu. "Ah! Ayo kita membuat makanan utama dulu."

"Aye-aye! Jadi aku harus apa?"

"Kau cuci dulu sayurannya," perintah Taeyong lalu mengambil buku resep yang tergeletak manis di dapur itu. "Uhm, ini bagus. Kurasa mudah. Kau sudah membaca resep ini kan?"

"Ya memang mudah, tetapi… aku tidak tahu bagaimana caranya," Ten cengengesan. Taeyong menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil lalu mulai berkutat dengan daging. Mereka berdua sepertinya asyik dengan dunia mereka sampai-sampai tidak sadar bahwa ada dua lelaki yang masuk ke rumah itu.

"Ah, Jaehyunnie! Johnny oppa!" Ten langsung menghampiri lelaki yang baru saja masuk itu setelah mendengar suaranya—meninggalkan Taeyong yang sibuk dengan adonannya. Ya, yang masuk bukan maling melainkan Johnny dan Jaehyun. Jaehyun tersenyum sementara Johnny celingukan.

"Kau sedang apa?" tanya Johnny penasaran saat melihat Ten dengan rambut kuncir kudanya dan apron pinknya.

"Memasak."

"Sejak kapan adikku bisa memasak?"

"Ya oppa! Kau menyebalkan sekali! Jaehyunnie, marahi dia!"

"Mana bisa aku memarahi kakakmu kalau yang ia ucapkan memang benar?"

"Kalian sama saja menyebalkannya," Ten langsung ngeloyor ke dapur untuk menemui Taeyong yang masih mengaduk adonan puding mangga. "Jaehyun pulang. Maaf ya aku meninggalkanmu sendirian."

"Tidak masalah, lagipula kau meninggalkanku di dapur, bukan di tengah hutan, hahahaha," Taeyong tertawa. Ten meringis, lalu matanya menangkap Johnny yang melangkah menuju dapur. "Ah eonni! Aku sampai lupa menceritakan sesuatu! Kau tahu tidak, oppa-ku berkunjung kemari! Ah ya aku akan kenalkan ia padamu."

"Hmmm?" Taeyong mendelik tidak paham. Sepertinya ia terlalu berkonsentrasi dengan masakannya sampai tidak bisa menangkap kalimat sederhana yang keluar dari mulut Ten. Ten langsung menarik Johnny yang berjalan pelan ke dapur. "Oppa! Perkenalkan, ini eonniku, Taeyong."

"T-Taeyong?" Johnny mengerjapkan mata saat ia bertemu dengan Taeyong. Yang membuatnya kaget adalah, Taeyong berada di rumah adiknya dan memanggil Taeyong dengan sebutan eonni. Itu berarti selama ini adiknya dekat dengan mantan pacar suaminya. Taeyong secara refleks menghentikan aktifitasnya sejenak, tetapi dengan cueknya ia melanjutkan memasaknya.

"Ya, Johnny-ssi."

"Eh? Kalian sudah saling mengenal?"

"Hmm, kami pernah bertemu saat aku mengambil pesananmu Ten."

"Wah kabar baik! Semoga kalian bisa berteman baik ya," Ten tersenyum jahil ke arah Johnny dan Taeyong. Taeyong hanya tersenyum tipis—sepertinya ia masih enggan memaafkan Johnny dan mulutnya yang beracun. Berbeda dengan Taeyong, Johnny malah tersenyum jahil.

"Tenang saja, kami pasti akan berteman baik," Johnny menekan kata berteman baik pada kalimatnya. Ia melirik Taeyong yang menampilkan wajah datarnya. Ia melihat ada cookies di sebelah Taeyong. Dengan sengaja, ia melingkarkan tangannya di bahu Taeyong dari belakang untuk mengambil cookies itu. Taeyong langsung menatap Johnny tajam. "Apa?"

"Apa kau tidak bisa berjalan dan mengambil cookies-nya?"

"Terlalu malas. Lagipula tanganku panjang dan masih bisa meraih cookies itu," dan Johnny sekali lagi melakukan hal itu, membuat Taeyong kesal. Namun apa daya, ia hanya bisa memendam karena ada Ten di sana—dengan cengirannya.

"Oppa, jangan menggoda Taeyong eonni."

"Aku tidak menggodanya."

"Tapi kau modus."

"Terserah apa katamu," Johnny menggedikkan bahunya. Dengan seenaknya sendiri, ia malah meletakkan dagunya di bahu Taeyong—membuat pipi mereka saling menempel. Taeyong merasakan suhu tubuhnya meningkat, dan jantungnya… eh? Taeyong yakin ia tidak memiliki kelainan jantung, tapi saat ini jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. "Taeyongie."

"Hmmm?"

"Itu apa?"

"Puding mangga."

"Buatlah lebih banyak, aku suka puding mangga."

"Pudingnya sudah habis kumasak," Taeyong memutar bola matanya malas. Ten langsung mencondongkan wajahnya.

"Yah, mau tidak mau oppa harus membelinya… mau ya?" Ten mengerjapkan matanya dengan imut—berharap Johnny mau membelikannya. Johnnye sudah sangat hafal dengan perilaku adiknya itu, ia hanya mengangguk.

"Sebentar lagi ya," kata Johnny sambil melirik Taeyong. Ia bisa merasakan pipinya terasa begitu hangat karena suhu tubuh Taeyong. Ia sengaja melingkarkan tangan di pinggang Taeyong untuk menumpukan tangannya di meja. Ten yang melihat oppa-nya penuh akan modus hanya bisa menggeleng pelan.

Tepat saat itu, Jaehyun juga masuk ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Ia hampir saja berlari dan menarik Johnny lalu memukul wajah pria itu kalau saja ia tidak ingat bahwa Taeyong bukanlah istrinya. Ia mendesah kasar lalu mengambil minuman.

"Kalian seperti pasangan suami-istri yang baru saja menikah," sindir Jaehyun sinis. Mengetahui reaksi Jaehyun yang seperti itu, Johnny mengeluarkan seringai liciknya.

"Memangnya yang boleh bermesraan hanya kau dan Ten?"

"Ya, tetapi tidak dengan orang yang baru kau kenal juga," Jaehyun langsung pergi begitu saja. Taeyong diam saja. Ia tidak tahu harus bagaimana, jadi ia tetap melanjutkan memasaknya. Sedangkan Ten ikut terdiam, merasakan atmosfir yang kurang menyenangkan sejenak. Namun, Tuhan memang menyayangi Ten. Tiba- tiba Myunghee berteriak.

"Jung ahjumma! Micha mengompol!" pekik Myunghee. Taeyong refleks berhenti sejenak, sementara Ten langsung berlari ke kamar Micha untuk menggantikan celana Micha. Johnny terdiam, masih merasakan hangatnya pipi Taeyong.

Begitu Ten menghilang, Taeyong langsung menyikut perut Johnny cukup keras—terbukti dari Johhny yang langsung mengaduh kesakitan. Ia membalikan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Johhnny. Wajahnya begitu dingin, tatapannya menusuk ke dalam mata Johnny. Johnny gelagapan.

"Apa maumu? Kau pikir kau bisa seenaknya saja menyentuhku? Aku bisa saja menusukmu sekarang juga dengan pisau, hanya saja aku masih ingat ada Ten di sini," ujar Taeyong dingin. Johnny terdiam agak lama.

"Mauku?"

"Ya."

"Tidak ada."

"Kalau begitu bisakah kau berhenti mengganggu wanita jalang ini? Aku sibuk," Taeyong membalikkan tubuhnya. Entah mengapa, hati Johnny mencelos saat Taeyong menekankan kata wanita jalang dengan konteks dirinya sendiri. Perasaan bersalah menyerangnya, namun ia masih enggan untuk meminta maaf atas perbuatan laknatnya.

Hening.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Johnny memperhatikan Taeyong dari belakang. Bayangan akan istri di masa depan terlintas di benak Johnny. Taeyong benar-benar menawan. Rambut tergelung rapi dengan tusuk rambut dan apron biru benar-benar menambah pesona seorang ibu rumah tangga yang ada di hadapannya itu. Johnny tersenyum tipis.

Iseng, ia menarik tusuk rambut itu dan tergerailah rambut panjang Taeyong. Taeyong langsung menoleh dengan wajah yang sangat garang. "Ya! Apa maumu!? Pergi kau dari hadapanku!"

"Ya pergi kau dari hadapanku," Johnny menirukan gaya Taeyong—membuat Taeyong semakin jengkel. "Ya ya, tapi kau terlihat cantik tanpa gelungan rambut ahjumma-mu itu."

"Aku tidak butuh pujianmu."

"Aku hanya berpendapat."

"Terserah," Taeyong sepertinya benar-benar jengkel. Ia langsung terdiam dengan aura hitam menyelimutinya. Johnny bergidik—ia bisa merasakan aura itu.

"Oppa, mau beli pudingnya kapan?"

"Oh ya, aku akan membelinya," Johnny menghembuskan nafas lega lalu melirik Taeyong yang sama sekali tidak meliriknya. "Aku pergi dulu."

"Hati-hati."

"Pergi yang jauh sekalian," Taeyong keceplosan berkata seperti itu dengan dingin. Ten menoleh dan memiringkan kepalanya. Setelah Johnny menghilang dari hadapan dua ibu-ibu muda itu, Ten mendekati Taeyong.

"Dia melakukan apa padamu, eonn?"

"Hanya menarik tusuk rambutku."

"Maafkan ia ya, ia memang suka seenaknya sendiri pada orang."

"Bukan masalah, Ten."

"Aku benar-benar minta maaf ya eonni, kalau ia keterlaluan katakan saja padaku. Aku akan memarahinya," Ten benar-benar merasa tidak enak karena ia bisa merasakan aura hitam dari Taeyong juga. Taeyong menoleh dan mendapati wajah Ten yang kurang nyaman. Perlahan aura hitamnya menghilang.

"Santai saja, Ten. Maaf membuatmu tidak nyaman," kata Taeyong berusaha menghilangkan perasaan kesalnya. Ten meringis, lalu mencium pipi Taeyong.

"Aku sayang eonni… kau tahu tidak sih? Aku tidak punya kakak perempuan dan aku benar-benar menganggapmu kakak perempuanku sendiri, jadi kalau Johnny oppa nakal, kau bisa bilang padaku. Arra?"

"Ya," Taeyong mengulas sebuah senyum manis. Ya, senyum manis.

Sayangnya Ten tidak tahu, bahwa Johnny pernah menyakiti Taeyong lebih dari sekedar menarik tusuk rambutnya.

-oOo-

Johnny menjauhi Ten dan Taeyong yang berkutat di dapur. Ia menghembuskan nafas leganya karena Ten menolong dirinya. Ia berterima kasih pada Ten yang telah menghindarkan dirinya dari aura gelap Taeyong.

Ia sempat berpapasan dengan Jaehyun yang sibuk menonton televisi. Jaehyun melirik Johnny yang melewatinya. Tak ada niatan bagi Jaehyun untuk menyapa Johnny. "Menonton televisi?" Johnny berbasa-basi.

"Ya begitulah. Kau sendiri? Sudah selesai bermesraan dengan teman lamaku?"

"Hmm…" Johnny hanya menggunggam. Perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada seorang anak laki-laki yang berada di kamar Micha. Ia mendekati kamar itu. Kini ia bisa melihat dengan jelas seperti apa sosok anak itu. Benar-benar perpaduan yang sempurna seperti Jaehyun dan Taeyong.

Merasa diperhatikan, Myunghee menoleh. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dengan polos. Johnny tersenyum dan mendekati Myunghee. "Hai."

"Uhm hai," balas Myunghee. Ia melirik Micha yang tertawa karena mainannya lalu melihat Johnny. "Uhm…"

"Siapa namamu?"

"Myunghee. Lee Myunghee."

"Oh nama yang bagus," Johnny tersenyum lalu mengelus kepala bocah itu. "Aku Seo Youngho, kau bisa memanggilku Johnny. Uncle John. Aku kakak sepupu Jung ahjumma. Senang berkenalan denganmu."

"Uncle? Apa itu?"

"Ahjussi. Itu Bahasa Inggris."

"Ah nde, Uncle John," Myunghee meringis lucu. Johnny mengambil sebuah mainan yang ada di sana, dan ia ikut bermain bersama Myunghee dan Micha, sampai Micha terlihat menguap beberapa kali. "Uncle, sepertinya Micha mengantuk."

"Hahaha uncle tahu," Johnny bergerak untuk memindahkan Micha ke kasurnya dan menunggu anak itu sampai benar-benar tidur. "Hei, Myunghee."

"Ya?"

"Mau es krim tidak?"

"Eh? Tentu saja!"

"Kalau begitu temani uncle ke supermarket, dan kau bisa dapatkan es krimmu."

"Yeay! Aku siap!"

"Nah, khajja," Johnny langsung membawa anak itu keluar dari kamar Micha. Ia sempat melihat Jaehyun sendirian bermain PSP-nya. Johnny hanya menggedikkan bahu tidak peduli, ia langsung membawa Myunghee ke supermarket terdekat.

"Uncle suka puding rasa apa?"

"Hmmm, apa saja. Hanya saja Jung ahjumma membuat puding mangga jadi kita beli puding mangga saja."

"Ah, itu puding kesukaanku!"

"Jinjja? Wow, kita memiliki kesukaan yang sama, kid!"

"Hehehehe," Myunghee menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sejujurnya ia tidak paham dengan arti kata kid. "Ah uncle, karena kau sudah mendapatkan puding, apa aku boleh mendapatkan es krimku?"

"Sure," Johnny mengacak rambut Myunghee yang lagi-lagi bingung dengan kosakata Johnny. Oh, Johnny sepertinya lupa kalau bocah itu belum bisa berbahasa Inggris. Tetapi Myunghee tidak ambil pusing, karena Johnny menuntunnya untuk mengambil es krim. "Kau suka rasa apa?"

"Cokelat! Vanilla! Strawberry! Green-tea! Ah aku suka es krim apa saja," jawab Myunghee polos. Johnny hanya terkekeh kecil dan mengambil empat buah es krim dengan rasa yang disebutkan oleh Myunghee. "Empat?"

"Ya, untukmu semua," Johnny terkekeh lalu membayar belanjaan di kasir. Secara tidak sadar Myunghee langsung memekik senang dan mengikuti Johnny dari belakang. "Terima kasih, uncle!"

"Sama-sama, nah sekarang ayo kita pulang," Johnny menggandeng Myunghee. Myunghee secara tiba-tiba memperhatikan Johnny. "Hmmm?"

"Uncle tinggi sekali. Tangan uncle lebih besar dari tangan Jung ahjussi."

"Tentu saja, karena uncle ini kakaknya Jung ahjussi."

"Apa aku bisa tinggi seperti uncle?"

"Kalau kau rajin minum susu kurasa kau bisa setinggi uncle."

"Hmmm," Myunghee menggumam. Tiba-tiba Johnny mengangkat Myunghee dan mendudukkan anak itu di bahunya. Secara refleks anak itu memeluk kepala Johnny. "Y-ya! Uncle aku takut jatuh!"

"Kau aman kalau aku yang menggendongmu. Kalau bersama Jung ahjumma dalam keadaan begini, baru kau boleh panik," ceplos Johnny. Myunghee menyamankan posisinya, ia merasa takjub saat melihat sekitarnya.

"Wah, aku melihat benda di sekitarku jadi tampak pendek," kata Myunghee membuat Johnny terkekeh lagi. "Aku ingin tinggi seperti uncle."

"Kalau begitu rajinlah meminum susu."

"Myunghee suka susu kok! Eomma setiap hari membuatkanku susu!"

"Hahaha, eomma perhatian padamu ya?"

"Iya, dia baiiiiiiiik sekali. Eomma juga cantik sekali. Eomma bilang eomma sangat menyayangiku. Eomma kadang cerewet tapi aku suka dekat-dekat dengan eomma. Eomma juga suka membuat cookies! Rasanya enak," celoteh Myunghee. Johnny mendengarkan celotehan Myunghee dengan seksama.

"Lalu?"

"Eomma juga suka mengajakku jalan-jalan, membelikanku baju dan mainan…. Pokoknya eomma itu sangat baik. Tapi kadang…"

"Hmmm?"

"Aku sering melihat eomma diam saja. Lalu saat kuajak bicara eomma seperti kaget. Aku pernah melihat eomma sedih, dan aku ikut sedih," Myunghee cemberut. "Aku tidak suka melihat eomma sedih. Apalagi marah. Itu akan membuatku menangis."

"Kau sangat sayang pada eomma ya?"

"Tentu saja! Eomma itu terbaik!" Myunghee mengacungkan dua jempol di udara. Johnny tersenyum miris. Ia teringat perlakuannya terhadap Taeyong. Johnny mendesah pelan, ia tahu ia salah.

Dan, ia menyesal telah bersikap kasar pada ibu dari Myunghee itu.

-oOo-

"Myunghee! Astaga di mana anak itu!?" Taeyong panik setengah mati saat ia tahu Myunghee tidak ada di rumah keluarga Jung itu. Ten menggaruk kepalanya. Ia juga bingung.

"Johnny oppa! Astaga dia kemana," Ten memijat pangkal hidungnya.

Hening.

Kedua ibu muda itu menepuk dahinya bersamaan.

"PASTI JOHNNY MEMBAWA MYUNGHEE PERGI!" ujar mereka bersamaan. Jaehyun mendengar itu semua. Ia mendengus kesal.

"Tenang saja, ia takkan menyakiti anakmu itu," kata Jaehyun pada akhirnya. Ten bernafas lega—tahu kalau yang membawa pergi Myunghee adalah Johnny, ia tak perlu khawatir. Sementara Taeyong hanya terdiam.

Untuk apa Johnny membawa anaknya?

"Kami pulaaaaaaaang," dengan wajah tanpa dosa, Johnny memasuki rumah itu. Myunghee tersenyum polos. Ten, Taeyong, dan Jaehyun menatap mereka—tepatnya Johnny—dengan tatapan menusuk.

"Myunghee!" Taeyong secara refleks mengeluarkan nada tinggi. Senyum Myunghee langsung luntur. Ia mengguncangkan tubuhnya sendiri, memberi sinyal untuk turun dari bahu pria Seo itu. Johnny paham, ia langsung menurunkan Myunghee. Myunghee sendiri segera berlari ke arah Taeyong dan memeluk kaki wanita itu.

"Eomma, jangan marahi aku dan uncle. Tadi uncle memintaku untuk menemaninya ke supermarket dan uncle membelikanku empat buah eskrim. Jadi eomma jangan marah ya? Eomma cantik… maafkan aku ya?"

"Hahhhh," Taeyong menghela nafas lalu menggendong Myunghee. Jika sudah seperti itu, dirinya bisa apa? Ia merutuki betapa lemahnya ia pada aegyo Myunghee.

"Baiklah eomma maafkan."

"Bagaimana dengan uncle?" tanya Myunghee. Taeyong menatap ke arah Johnny yang sedang mengaduh kesakitan karena dihujani dengan pukulan bantal oleh Ten—tentu saja karena ia membawa Myunghee tanpa ijin.

"Oppa! Seenak jidatmu saja membawa Myunghee pergi! Kalau ada apa-apa dengannya di jalan bagaimana hah!?" Ten memekik. Myunghee melihatnya juga. Ia minta turun dari gendongan eomma-nya dan menghambur ke arah Ten.

"Jung ahjumma."

"Eh?"

"Cantik~ Ahjumma cantik~ Maafkan aku dan uncle yang sudah membuat ahjumma khawatir, ya? Ahjumma cantik… Myunghee minta maaf," dan Myunghee mengeluarkan jurusnya. Ten menatap Myunghee yang memeluknya lalu melirik Taeyong. Sepertinya mereka sama—sama-sama lemah terhadap aegyo Myunghee.

"Y-ya baiklah ahjumma maafkan."

"Kalau uncle?"

"Maafkan aku ya ahjumma," Johnny mengimitasi gaya Myunghee. Ten dan Taeyong berpandangan. Detik berikutnya dua buah bantal sukses menimpuk Johnny.

"Kau pikir itu imut!? Justru itu menjijikkan!" pekik keduanya bersamaan.

Oh, apakabar dengan Jaehyun?

Tidak ada yang sadar bahwa Jaehyun sudah mengasingkan diri ke kamar Micha.

-oOo-

"Taeyong eonni, ini sudah sangat malam, bagaimana kalau kau menginap di sini saja?" tawar Ten setelah acara makan malam itu berakhir. Taeyong tersenyum dan menggeleng.

"Aku sangat berterima kasih atas tawaranmu tapi aku harus pulang. Besok Myunghee harus pergi ke play-group dan aku harus menyiapkan beberapa barang bawaannya," tolak Taeyong. Ia merasa tidak nyaman kalau harus menginap di sana apalagi ada dua manusia yang membuatnya tidak nyaman. Ten mengangguk paham.

"Tapi aku sungguh khawatir."

"Aku akan mengabarimu kalau sudah sampai di rumah, kau tenang saja."

"Biar aku yang mengantarnya pulang," tiba-tiba Johnny sudah berada di belakang mereka. "Paling tidak aku harus memastikan teman adikku ini selamat sampai di rumahnya."

"Itu sungguh tidak per—"

"Ide yang bagus. Tolong oppa antarkan eonni pulang, ya."

"…" Taeyong terdiam. Ia mendesah pelan—sangat pelan sampai tidak ada yang sadar bahwa ia menghela nafasnya.

"Baiklah eonni, kau hati-hati ya? Aku tinggal ke dalam dulu," pamit Ten lalu masuk ke dalam rumahnya. Kini tinggallah Johnny dan Taeyong di luar.

"Ayo kuan—"

"Aku bisa pulang sendiri," kata Taeyong dingin. "Kau tak perlu melakukannya."

"Keras kepala sekali," cibir Johnny.

"Terserah," Taeyong sudah siap untuk menuju mobilnya saat Johnny memegang bahunnya dan menariknya. Taeyong secarara refleks langsung mengeratkan gendongannya pada Myunghee yang tertidur. Ia mendengus kasar. "Apa kau tidak bisa untuk membiarkanku pergi!?"

"Tidak," jawab Johnny. "Aku ingin mengantarmu pulang."

"Kurasa kau tidak perlu melakukannya," sebuah suara lain menginterupsi mereka. Keduanya menoleh bersamaan. "Taeyong bisa pulang sendiri."

"Apa kau setega itu membiarkan teman lamamu pulang sendirian malam-malam, Jaehyun-ah?"

"Tidak, tetapi aku rasa kau membuatnya tidak nyaman."

"Apa pedulimu? Oh apa kau peduli pada Taeyong karena ia mantan pacar kesayanganmu? Atau karena kau masih menyukai wanita ini?"

-TBC-

HUAAAAA!

Maafkan aku kalau updatenya lama, kemaren sempet nggak mood T^T

Nah aku memutuskan sebagai gantinya aku bikin agak panjang nih /? Hehehehehe

Makasih ya buat yang udah review, maaf aku tidak bisa membalasnya T^T

Nah, now, mind to review? ^^

Terima kasih~

-with love, Lianatta.