Title: Melted
Chapter: 6
Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff
Rating: T
Main Cast:
Lee Taeyong [NCT]
Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]
Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]
Seo Youngho a.k.a Johnny
-oOo-
I found the one, he changed my life
But was it me that changed
And he just happened to come at the right time
I'm supposed to be in love
But I'm numb again
(What Now – Rihanna)
-oOo-
"Apa pedulimu? Oh apa kau peduli pada Taeyong karena ia mantan pacar kesayanganmu? Atau karena kau masih menyukai wanita ini?" Johnny berkata sangat sarkastik. Tangan Jaehyun mengepal. Ia benar-benar muak pada Johnny.
"Kau tidak tahu apa-apa."
"Tentu saja aku tahu."
Taeyong terdiam, ia semakin tidak nyaman.
"Kalian berdua tidak tahu apa-apa," setelahnya Taeyong meninggalkan kedua lelaki itu lalu menjalankan mobilnya. Jaehyun menghela nafas kasar. Ia memandangi Taeyong yang menjauhi rumahnya.
"Cih," Johnny berjalan melewati Jaehyun dengan tatapan sinis. Jaehyun balas menatap Johnny dengan tatapan yang tak kalah sinis. "Kau benar-benar brengsek."
"Kau idiot."
"Kau bajingan."
"Lalu? Apa urusannya denganmu? Orang yang tidak tahu apa-apa sebaiknya diam."
Johnny langsung berjalan menuju kamarnya.
-oOo-
Myunghee cemberut saat duduk di bangku play-group itu. Ia memainkan jemarinya dengan gelisah sambil menatap tanah. Pelajaran telah berakhir sekitar 10 menit yang lalu. Ia bosan menunggu. Ia melirik kanan-kirinya dan tak ada tanda-tanda bahwa teman-temannya masih berada di sana. Bahkan bus sekolah sudah meninggalkan play-group.
"Eomma lama sekali," keluhnya. Beberapa kali ia menatap gerbang sekolahnya itu dan nihil. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang menghampirinya.
"Belum pulang?"
"Ya! Uncle John!"
"Menunggu eomma?"
"Iya, lama sekali," cerita Myunghee pada seseorang yang ia panggil uncle John itu. Johnny meringis lalu menggendong anak itu di bahunya—seperti kemarin.
"Mungkin eomma-mu terjebak macet."
"Tetapi tidak biasanya seperti ini," keluh bocah itu. Kali ini bibirnya semakin mengerucut. "Eomma pasti sudah menungguku di gerbang saat aku pulang. Tapi hari ini eomma bahkan belum menjemputku."
"Hmm," Johnny menggumam. "Hey kid, kau lapar kan?"
"Iya."
"Mau makan tidak?"
"Tentu saja!"
"Kau bisa dapatkan makananmu asal menemaniku berjalan-jalan sebentar, bagaimana? Nanti sekalian uncle antarkan kau pulang."
"Serius!? Tentu saja dengan senang hati, uncle tampan~"
"Baiklah, khajja," Johnny langsung membawa Myunghee menuju mobilnya dan mereka mulai berkeliling Seoul.
Berbeda dengan saat bersama Jaehyun, Myunghee lebih sering menceritakan soal kesukaannya dan bertanya tentang kehidupan Johnny selama di Thailand. Tak hanya itu, Myunghee lebih berani untuk menanyakan kosa kata dalam Bahasa Inggris yang sering Johnny ucapkan padanya.
"Jadi, aku harus apa selain minum susu agar bisa tinggi seperti uncle?" tanya Myunghee polos. Johnny berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Ya, renang kurasa juga bisa menjadi olahraga yang menyenangkan," jawab Johnny sambil berkonsentrasi menyetir.
"Renang? Ah eomma sudah lama tidak mengajakku renang."
"Hmmm," Johnny bergumam. "Kau mau renang?"
"Tentu saja!"
"Hari Minggu aku akan menjemputmu untuk renang pukul 07.00 pagi."
"Jinjja!? Ah tapi uncle belum minta ijin pada eomma."
"Itu urusan mudah," kata Johnny santai. Sepertinya ia lupa kalau ia masuk ke dalam blacklist dari ibu muda itu. "Ah, Myunghee."
"Ne."
"Apa kau hanya tinggal berdua dengan ibumu?"
"Iya. Kami hanya tinggal berdua. Kata eomma, appa sedang pergi jauh," Myunghee menampilkan giginya yang rapi.
"Pergi? Kemana?"
"Molla, eomma hanya bilang appa pergi jauh, jauuuuuuuuuuh sekali. Bahkan aku tidak pernah melihat wajah appa."
"Oh begitu," Johnny terdiam beberapa saat mendengar jawaban Myunghee. Sejenak keadaan mobil menjadi canggung. "Apa kau ingin bertemu dengan appa-mu?"
"Uhm" Myunghee tidak langsung menjawab. Johnny menunggu Myunghee menjawab. "Aku… aku memang merindukan appa, tetapi appa jahat. Bahkan menghubungi kami saja tidak. Jadi… aku pikir akan sangat menyenangkan memiliki appa baru yang perhatian."
Johnny terdiam. Otaknya berputar.
"Perhatian?"
"Iya, seperti membelikan makanan, menelepon, atau menanyakan kegiatanku."
"Memangnya ayahmu tidak melakukan itu?"
"Tidak. Aku tidak pernah berbicara pada appa," Myunghee cemberut sejenak. "Bahkan eomma terkadang menangis diam-diam kalau merindukan appa. Sungguh, aku ingin memukul appa kalau aku bertemu dengannya nanti karena membuat eomma cantikku menangis."
Johnny menyadari satu hal dari apa yang dikatakan oleh anak ini.
Myunghee ingin bertemu dengan appa-nya.
Dan ia sangat sayang pada ibunya.
Dan, Taeyong masih mencintai Jaehyun.
Seketika Johnny terdiam, kehilangan kata-katanya.
-oOo-
Taeyong menghapus airmatanya kasar. Ia terlambat menjemput Myunghee. Tentu saja, hari itu tokonya sangat ramai sehingga ia terlalu sibuk dan sampai lupa kalau ia harus menjemput Myunghee. Lima belas menit. Ia langsung pergi dengan sangat terburu-buru dan sesampainya di sekolah, ia merasa janggal karena sekolah itu tampak kosong.
Saat ia bertanya pada salah satu guru, guru itu tidak tahu dan tidak menerima laporan bahwa Myunghee telah dijemput. Taeyong langsung panik, meskipun pihak sekolah sudah bersedia membantu dan bersiap menelepon polisi dengan kasus anak hilang. Tetapi Taeyong menolaknya dengan sopan. Ia memiliki firasat kalau anaknya itu baik-baik saja jadi ia memutuskan untuk mencarinya terlebih dahulu.
Namun, tetap saja yang namanya orangtua kehilangan anak itu pasti panik, bukan?
Taeyong menangis di sepanjang perjalanannya mencari Myunghee. Ia mengelilingi daerah sekolah itu—ia berpikir kalau Myunghee pulang sendiri, ia tidak akan jauh-jauh dari sekolahnya itu. Tetapi nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk berkeliling Seoul.
Setelah sekitar dua jam berkeliling dan tidak menemukan apapun, ia menghentikan mobilnya di sebuah taman. Ia duduk di salah satu bangku taman itu dan menghela nafas. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang bisa saja menganggapnya gila karena dandannya yang sudah acak-acakan itu.
Tiba-tiba ia menemukan sesosok anak kecil—usianya sekitar tiga tahun setengah bahkan lebih—yang sedang bermain. Dengan mata berbinar, Taeyong menghampiri anak itu dan memeluknya.
"Myunghee?"
"Eoh? Nugu?"
"E-eh? M-maafkan ahjumma," Taeyong buru-buru pergi setelah sadar bahwa anak itu bukanlah Myunghee. Ia menghembuskan nafas kasar. Ia frustasi. "Myunghee… dimana kau…"
"Eomma!" sebuah suara yang sangat ia rindukan menyapanya. Taeyong tahu itu bukan halusinasinya, jadi ia langsung menoleh pada sumber suara. Ia terkejut melihat Myunghee dengan Johnny di sampingnya. Taeyong langsung menghampiri Myunghee.
"Ya Myunghee! Kau ini darimana saja!? Kenapa tidak memunggu eomma di sekolah sampai eomma datang!? Kenapa kau malah pergi tanpa lapor dulu pada gurumu!?" Taeyong langsung berseru sambil memukul Myunghee. Ia sangat khawatir tentu saja. Myunghee menundukkan kepalanya dan menangis. Tidak, tidak ada aegyo dari Myunghee. Myunghee tahu ini masalah serius, dan jika ia ber-aegyo, yang ada eomma-nya akan makin marah padanya.
"H-hiks eomma maafkan aku… Myunghee salah," Myunghee langsung memeluk eomma-nya. "Myunghee minta maaf, hiks."
"Kau tahu eomma sangat khawatir padamu!"
"M-maafkan aku eomma… h-hiks... eomma hiks… s-sakit."
"Taeyong berhentilah memukul anakmu," Johnny melerai pertengkaran itu dan menggendong Myunghee yang menangis. "Ini salahku. Aku tidak meminta ijin padamu ataupun guru yang ada di sekolah."
Taeyong bernafas kasar. Matanya menatap Johnny penuh amarah. "Apa kau tidak tahu kalau aku sangat khawatir pada anakku? Beraninya kau menculik anakku!"
"Aku tidak menculiknya! Aku hanya mengajaknya berjalan-jal—"
"Tanpa ijin dariku!? Kau pikir kau itu siapa!? Kau bahkan bukan ayah dari anakku!"
"Aku benar-benar min—"
"Myunghee, pulang sekarang!" Taeyong berusaha merebut Myunghee dari Johnny. Myunghee mengeratkan pelukan pada Johnny. Ia takut, sangat takut, kalau ibunya sudah benar-benar marah. "Myunghee!"
"Taeyong kau membuatnya takut!" Johnny mulai berbicara dengan nada tinggi. "Ia sudah minta maaf padamu, kenapa kau masih kasar padanya!? Ia takut padamu!"
"Dia bukan anakmu. Ini urusanku!"
"Aku tidak peduli soal dia anakku atau bukan, tapi kau membuatnya takut! Ia sudah meminta maaf, jadi apa kau tidak bisa memaafkannya!? Kau ini ibu macam apa!? Membuat anakmu sendiri ketakutan dan menangis seperti ini!"
"…" Taeyong langsung terdiam. Ia menetralkan nafasnya. Ia menatap Johnny, lalu berganti menatap Myunghee yang masih menangis. Pandangannya mulai melembut, ia mengusap punggung Myunghee. "Sayang…"
"Eomma aku minta maaf! Hiks hiks..."
"Sini," dengan lembut Taeyong mengambil alih Myunghee dari Johnny. Myunghee langsung memeluk Taeyong dengan erat. "Eomma minta maaf sudah memukulmu."
"Hiks hiks. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku percaya Lee Myunghee tidak akan mengingkari janjinya," Taeyong mengusap airmata Myunghee. "Nah sekarang ayo kita pulang, eomma akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Apapun yang kau minta untuk makan malam, eomma akan turuti."
"Aku mau disuapi eomma."
"Baiklah," Taeyong berbalik untuk membawa Myunghee namun sesuatu menyentuh bahunya. Taeyong melirik Johnny.
"Maaf membuatmu khawatir," ujar Johnny. Sangat jarang Johnny meminta maaf pada orang lain. Taeyong menghela nafas panjang.
"Ya," jawab Taeyong singkat dan ia berlalu.
-oOo-
Johnny menghela nafasnya kasar lalu memasuki rumah mewah itu. Entah sudah berapa lama ia tinggal di sana tanpa ada niatan untuk kembali ke Thailand—untuk mengurus perusahaan di bagian sana, tentu saja. Ia merasa cukup nyaman berada di Seoul.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia merasa benar-benar lelah. Begitu memasuki kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu dan menatap langit-langit sembari otaknya berpikir.
Kenapa ia harus peduli pada Taeyong?
Untuk apa ia menanyakan soal ayah pada Myunghee?
Johnny merasa ia mulai kehilangan kewarasannya. Sudah jelas, baginya Taeyong bukanlah wanita yang baik. Tetapi kenapa semakin ke sini ia semakin tertarik pada ibu muda itu? Johnny menghela nafas panjang. Ia hanya peduli karena bersimpati atas kisah hidup ibu muda itu.
Renang? Ah eomma sudah lama tidak mengajakku renang.
Tiba-tiba Johnny teringat kalimat yang keluar dari bibir Myunghee itu. Sejujurnya saat ia berkata Hari Minggu akan menjemput anak itu, itu hanyalah omong kosong belaka. Tetapi ia ingat ekspresi wajah Myunghee.
Jadi, ia memutuskan untuk benar-benar menghabiskan waktu bersama Myunghee di Hari Minggu.
-oOo-
Minggu pagi yang cerah. Tidak biasanya Myunghee bangun pukul 06.00 pagi dan langsung mandi, lalu menyiapkan baju renangnya. Senyum senang menghiasi wajahnya yang polos. Ia sudah membayangkan betapa ia akan bersenang-senang hari ini.
"Myunghee?" Taeyong mengucek matanya dan menatap Myunghee aneh. "Baju renang?"
"Uncle John akan mengajakku renang hari ini!" jawab Myunghee senang. Taeyong langsung mendesah kasar.
"Siapa yang mengijinkan? Eomma tidak memberimu ijin untuk keluar hari ini."
"T-tapi eomma, kata uncle ia akan meminta i—"
"Kau tetap di rumah, Myunghee. Eomma tidak mengijinkan," setelah itu Taeyong pergi ke dapur dan meninggalkan Myunghee di kamarnya. Secara tiba-tiba Myunghee cemberut. Mood baiknya langsung berubah drastis. Ia duduk di pinggir kasur sambil cemberut. Padahal ia sudah sangat bersemangat untuk pergi berenang.
"H-hiks," Myunghee mulai menangis. Taeyong yang berada di dapur membuat sarapan dalam diam. Ia tahu, ia mungkin terlalu keras pada Myunghee tetapi ia masih jengkel karena Johnny kemarin dengan seenak sendiri membawa anaknya pergi, lalu sekarang mengajaknya bermain tanpa meminta ijin pada dirinya terlebih dahulu.
Bukannya ia tidak dengar, telinganya masih berfungsi dengan baik bahkan untuk menangkap suara tangis Myunghee di kamar yang begitu pelan. Ia mendesah pelan. Kalau sudah begini, ia benar-benar tidak tega. Taeyong segera menyelesaikan pekerjaannya di dapur, lalu menghampiri Myunghee.
"Hiks... hiks…"
"Myunghee-ya."
"E-eomma… hiks…"
"Kau benar-benar ingin pergi berenang?"
"I-iya… hiks…"
"Baiklah, eomma akan menemanimu berenang," Taeyong mengusap rambut Myunghee dengan lembut. "Tapi, temani eomma dulu ya ke toko roti, eomma harus memastikan toko buka terlebih dahulu dengan baik."
"Jinjja!? Ah eomma terbaik!" Myunghee langsung meloncat ke arah Taeyong dan menerjang wanita muda itu dengan ciuman di wajahnya. Taeyong terkekeh geli lalu mencium wajah anaknya sebelum ia mandi lalu bersiap. Setelahnya, ia menambahkan beberapa barang penting untuk berenang ke dalam tas Myunghee lalu mereka segera berangkat ke toko roti.
"Selamat pagi, nyonya," sapa salah satu pegawai di sana. Taeyong tersenyum dan membalas sapaannya, sementara Myunghee menampilkan senyum lebarnya yang menggemaskan—membuat para pegawai di sana ingin sekali mencubit pipi gembil Myunghee. Taeyong mengecek beberapa keperluan sebelum tokonya buka, ia juga mengobrol sebentar dengan pegawainya.
"Uncle!" tiba-tiba Taeyong dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang berutubuh tinggi dengan wajah yang sangat dikenalinya. Taeyong berusaha mengabaikan pria itu dan melanjutkan obrolannya dengan pegawainya.
"Hey, kiddo!"
"Uncle mau membeli roti untuk sarapan?"
"Awalnya, sekalian berniat menanyakan letak rumahmu. Kau siap untuk bersenang-senang?"
"Tentu saja!"
"Baiklah," Johnny mengusap kepala Myunghee lalu menghampiri Taeyong. "Taeyong-ah."
"Maaf tapi toko kami belum buka."
"Hmm," Johnny melihat arlojinya. "07.05. Kurasa seharusnya kau sudah membuka toko ini sejak lima menit yang lalu, Nyonya Lee."
"Aku tahu."
"Sebagai owner yang baik, ketepatan waktu itu penting," Johnny melihat-lihat seisi ruangan itu. "Padahal aku akan membeli sarapan di sini."
"Terserah."
"Wow, sebagai owner seharusnya kau bersikap sopan padaku. Bukankah kau ini sudah professional? Aku yakin kau tidak mau rugi hanya karena pelayanananmu yang tidak baik padaku. Aku kemari sebagai pelanggan, bukan Tuan Seo."
"…" Taeyong merasa mati gaya. Apa yang dikatakan Johnny itu benar. Dengan nafas panjang, ia menatap Johnny tegas lalu bergantian pada pegawainya. "Eunsun-ah, tolong layani pria ini."
"Tidak, tidak. Aku mau owner toko ini yang melayaniku langsung."
Taeyong menggeram keasl. Ia menatap Johnny ketus. "Tch, apa yang bisa kubantu?"
"Begitukah caramu melayani orang? Dengan ketus?"
"Apa yang bisa kubantu?"
"Aku mau muffin dan greentea latte. Less sugar, please."
"Wait a minute," Taeyong langsung berlalu begitu saja untuk membuat pesanan Johnny. Johnny menggedikkan bahu lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana bersama Myunghee.
"Uncle, apa eomma boleh ikut bersama kita?"
"Tentu saja, eomma bahkan harus ikut bersama kita."
"Kenapa?"
"Supaya ia tahu uncle tidak akan menculikmu," Johnny tertawa kecil, begitu pula Myunghee. Myunghee lalu mulai menceritakan insiden tadi pagi dengan ekspresi yang menggemaskan. Johnny mendengarkan dengan seksama, jujur saja ia terkesan. Myunghee memang cerewet. Tetapi ia bukanlah tipikal anak nakal yang terlalu banyak maunya. Ia hanya suka bercerita.
"Ini pesananmu," Taeyong menghampiri meja itu dan menyerahkan pesanan Johnny. Johnny menatap pesanannya, lalu ganti menatap Taeyong.
"Terima kasih," Johnny tersenyum tipis. "Sekarang, bersiaplah. Kita akan pergi berenang."
"Aku tidak bilang kau diajak."
"Tetapi aku sudah berjanji pada Myunghee kemarin. Jadi, aku wajib ikut. Tidak ada penolakan," praktis, perkataan Johnny membuat Taeyong dongkol. Tetapi ia hanya bisa menghela nafas saat ia melihat Myunghee yang begitu bersemangat. "Kita akan pergi dengan mobilku."
"Aku keberatan. Kau pergi sendiri. Myunghee dan aku pergi sen—"
"Tidak. Kita akan pergi bersama. Aku janji akan mengembalikanmu kemari sebelum pukul tiga sore tepat."
"Terserah padamu saja," Taeyong memutar bola matanya malas. Merasa mendapat lampu hijau, Johnny langsung menggendong Myunghee menuju mobilnya. Taeyong pamit terlebih dahulu pada pegawainya, lalu mengikuti Johnny di belakang. Johnny membuka pintu depannya.
"Masuklah," ucapnya. "Kau harus duduk di depan."
"Ya," Taeyong masuk ke dalam mobil itu dan menyamankan posisi duduknya di jok depan itu sementara Myunghee langsung duduk dengan mantap di jok belakang. Setelahnya, Johnny langsung mengemudikan mobilnya menuju sebuah water-park. Myunghee yang berada di belakang tak berhenti mengoceh—membuat Johnny tertawa sesekali. Sebenarnya Taeyong ingin tertawa, hanya saja ia masih tenggelam dalam emosinya untuk pergi bersama Johnny. Jadi ia memutuskan untuk diam saja.
Begitu sampai, Johnny langsung membawa Myunghee ke gendongannya. Taeyong tetap diam, namun kali ini berbeda. Ia melihat sesuatu di sana. Myunghee tampak begitu senang pergi bersama Johnny, sementara Johnny kelihatannya tidak keberatan untuk menghabiskan waktu bersama anaknya itu.
Taeyong menelan ludahnya kasar. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Eomma? Ayo temani aku ganti," ucapan Myunghee berhasil membuyarkan pikirannya, ia segera mengerjapkan matanya dengan imut. Kali ini, giliran Johnny yang terdiam melihat keimutan Taeyong—namun dengan cepat ia menyembunyikannya.
"Kenapa harus minta temani eomma? Ada uncle di sini, ayo kita ganti berdua saja. Eomma-mu bisa digoda pria di kamar mandi nanti kalau ikut ganti bersama kita."
"Ya! Jaga ucapanmu Johnny Seo!"
"Aku hanya mengatakan hal yang bisa saja terjadi," Johnny menurunkan Myunghee, lalu beralih mengambil tas ransel dari bahu Taeyong. "Kau ganti saja sendiri di kamar mandi wanita."
"Aku tidak ikut berenang. Aku malas."
"Eomma tidak bisa berenang jadi eomma tidak ikut berenang," tiba-tiba Myunghee membeberkan rahasia Taeyong yang memalukan. Taeyong langsung mendelik sementara tawa Johnny langsung pecah.
"Hahahahaha, jadi kau tidak ikut berenang karena tidak bisa berenang?"
"Diam kau."
"Cepatlah ganti, aku yakin kau akan mati bosan menungguku dan Myunghee berenang."
"Aku tidak membawa baju ganti."
"Eomma bohong, bukankah eomma juga memasukkan baju renang eomma di dalam tas?" lagi-lagi Myunghee dengan polosnya mengatakan sesuatu yang membuat Taeyong jengkel. Johnny menaikkan alisnya heran lalu membuka ransel itu. Ia memang menemukan ada satu set baju renang wanita di dalamnya. Johnny hanya mengambil baju renang yang lebih kecil lalu menyerahkan ransel itu pada Taeyong.
"Cepatlah ganti," dan ia berlalu begitu saja bersama Myunghee. Taeyong menerima tas itu dan juga berlalu dengan kesal.
"Pemaksa. Keras kepala," gerutu Taeyong kesal.
-oOo-
"Uncle ayo ke sebelah sana!" Myunghee memeluk leher Johnny sementara tubuhnya menempel dengan nyaman di punggung telanjang Johnny. Taeyong terdiam, jujur saja ia tidak mau melihat tubuh Johnny yang terekspos begitu saja. Tubuh yang begitu tinggi dengan abs yang terbentuk sempurna di perutnya, Taeyong sejujurnya mengakui kalau bentuk tubuh pria Seo itu memang indah. Justru karena indah, ia tidak mau menatap tubuh itu terlalu lama. Dalam hati ia benar-benar mengumpat pada Johnny dan tubuh atletisnya.
"Aye-aye captain!" Johnny segera berenang ke seberang—meninggalkan Taeyong yang duduk diam di pinggir kolam. Ia menatap Myunghee dan juga Johnny. Betapa bahagianya mereka berdua. Taeyong mulai hanyut dalam pikirannya.
Myunghee benar-benar senang. Ia tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya. Taeyong seperti menemukan sesosok ayah yang sedang bermain dengan anak laki-lakinya.
Namun dengan cepat, Taeyong menepis pikirannya sendiri. Sepertinya ia tidak waras. Apakah semua ini karena abs Johnny makanya ia tidak waras? Bodoh, tentu saja bukan itu alasannya.
Myunghee benar-benar tampak nyaman bersama Johnny. Ia bisa melihat Johnny dan Myunghee yang sibuk bermain air di kejauhan. Tanpa Taeyong sadari, seulas senyuman tulus terukir di wajah cantiknya. Namun senyum itu segera luntur saat Johnny menghampirinya lalu meraih tangannya dengan lembut.
"A-apa?"
"Ayo ke seberang."
"A-aku takut."
"Aku akan memegangimu," dengan pelan Johnny menuntun Taeyong untuk menceburkan diri ke dalam kolam. Taeyong agak gelagapan saat air itu menyentuh dadanya. Ia merasa begitu dingin dan nafasnya agak berat. "Rileks saja, kau akan baik-baik saja. Percaya padaku, jangan takut. Bernafaslah secara normal. Lalu perlahan rendamlah tubuhmu sampai kepala agar kau terbiasa dengan air kolam ini."
"Y-ya," Taeyong melirik Myunghee yang duduk di pinggir kolam dengan senyum mengembang sambil mengatakan 'fighting' dari sana. Taeyong mencoba terbiasa di dalam kolam itu lalu merendam seluruh tubuhnya di dalam kolam—namun ia langsung berdiri dan menarik kepalanya keluar dengan agak panik saat ia merasakan air membasahi kepalanya. Johnny berusaha tidak terpengaruh dengan kepanikan Taeyong. Setelah ia melihat Taeyong mulai terbiasa di dalam kolam, perlahan ia menarik tangan Taeyong maju untuk menyeberang—namun kentara sekali dari wajahnya, Taeyong merasa kurang nyaman.
"Luruskan tubuhmu, kau takkan tenggelam."
"Y-ya," Taeyong mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan kepalanya namun ada perasaan takut di sana sehingga ia menapakkan kakinya lagi ke dasar kolam. Johnny tertawa kecil melihat kelakuan Taeyong yang menurutnya manis.
"Kau ini galak tetapi menghadapi kolam saja takut," ejek Johnny membuat wajah Taeyong memerah. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada hubungannya."
"Tentu saja ada."
"Jelaskan."
"Orang dingin, galak, jutek itu biasanya berani menghadapi apapun."
"Lupakan teori itu. Musnah kau!"
"Yakin? Kalau aku musnah, lalu kau tenggelam bagaimana hmmm?" kalimat Johnny tadi berhasil membuat Taeyong terdiam dan malah mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Johnny. Johnny tertawa kecil.
Tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk membawa Taeyong ke punggungnya. Ia menarik Taeyong mendekat, menaruh lengan kurus itu bahunya, lalu membuat punggungnya sendiri nyaman saat tubuh depan Taeyong menyentuhnya. Ia lelaki normal, jadi ia rasa merupakan hal wajar ketika ia agak merinding merasakan dua buah gundukan lembut menyentuh punggungnya itu.
Taeyong sendiri secara refleks memeluk bahu lebar itu dengan erat dan membiarkan lelaki yang membuatnya jengkel beberapa minggu ini membawanya menuju Myunghee. Di sana, Myunghee tersenyum lebar dan sudah bersiap menghambur ke arah Johnny.
Sejujurnya, ada rasa nyaman yang ia dapat saat ia memeluk lelaki itu.
Taeyong menarik nafas dalam-dalam saat Johnny kini ganti menggendong Myunghee dan mulai bermain air bersama bocah itu. Mereka tampak lebih akrab dari sebelumnya. Saling mencipratkan air, tertawa bersama, dan Taeyong benar-benar yakin akan penglihatannya yang masih sangat bagus—ia bisa melihat dari jarak sangat dekat saat Johnny mengusak rambut Myunghee lembut lalu memberikan kecupan di kening bocah polos itu yang langsung memeluk Johnny sayang.
Dunia Taeyong rasanya berputar. Ia tidak mengerti, ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi.
"Johnny…" tanpa sadar Taeyong menggumam pelan saat Johnny masih memeluk Myunghee. Pria berdarah Thailand-Korea itu menoleh.
"Ya?"
"T-terima kasih…"
"Hmmm," ada senyum tulus di wajah Johnny yang langsung merangkul bahu Taeyong.
Diam-diam, Myunghee tersenyum lebar melihat wajah ibunya itu dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Johnny.
-oOo-
Johnny melangkahkan kakinya ke dalam rumah besar itu dan langsung berjalan menuju dapur. Ia merasa sangat haus dan lelah setelah acara renang tadi—dan jalan-jalan sebentar atas permintaan Myunghee, tentunya. Ia langsung membuka kulkas dan menuangkan jus jambu yang tersedia di kulkas itu.
"Baru pulang?" sebuah suara berat menyapa gendang telinganya. Ia melirik. Jung Jaehyun. Senyum tipis—dan sinis—terbentuk di wajahnya.
"Ya."
"Berkeliling Seoul?"
"Tepatnya menghabiskan waktu bersama Taeyong," Johnny menekankan kata Taeyong dalam kalimatnya. Jaehyun menggeram pelan. "Ada apa dengan ekspresi bodohmu itu?"
"Untuk apa kau pergi bersamanya?"
"Bukan urusanmu."
"Aku perlu memastikan kau tidak menggoda temanku.
"Teman atau mantan kekasih? Kau tidak berhak tahu urusan kami karena kau bukan siapa-siapa dari Lee Taeyong."
"Itu bukan hal yang perlu kujelaskan padamu. Aku hanya perlu mem—"
"Kalau begitu aku juga tidak perlu menjelaskan hal yang tidak ada hubungannya denganmu," Johnny berkata lebih sinis, membuat pria yang lebih pendek itu menggeram marah.
"Jangan coba-coba kau mendekati Taeyong."
"Apa masalahmu? Dia bukan siapa-siapamu!"
"Dia mantanku."
"Kau hanya bagian dari masa lalunya," gigi Johnny gemeretak. "Tetap saja kau bu—"
"Teruslah berkata begitu. Kau benar-benar tidak tahu apa-apa."
"Apa? Kau mengatakan hal itu seolah kau ini berselingkuh dengannya."
"Bajingan, kau berisik."
"Kau yang bajingan, kau akan menyesal setelah ini," Johnny berlalu dari hadapan Jaehyun dengan penuh amarah, sementara Jaehyun meneguk air mineralnya kasar.
-oOo-
"Hey," sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Ten. Ten menoleh lalu tersenyum.
"Hey, oppa."
"Memikirkan apa?"
"Tidak ada."
"Kau bohong," Johnny—si penyapa—menatap Ten serius. Ten mendesah pelan.
"Oppa…" Ten merengek manja lalu memeluk Johnnya dan menyamankan kepalanya di bahu Johnny. "Apa…"
"Hmmm?"
"Apa yang terjadi di antara kau dan Jaehyun?"
-TBC-
HOLA~~~
Aigoooo maafkan author yang lama banget ini updatenya T^T
Ah chapter ini kebanyakan JohnTae ya? Uhuhuhuhu MAAP T^T
Anyway, authornya mulai sibuk KPL, jadinya bisa dipastikan update-an fanfic ini pasti bakalan lama banget
Tapi saya usahakan kalau makin kesini ceritanya pasti saya panjangkan~
Dan mungkin setelah ini, saya akan uodate 2-3 chapter lg lalu tamat~
Heheheheheh
Terima kasih buat yang udah review, maaf kalau saya mgkin ga bisa memnuhi keinginan readers T^T
Nah, terakhir~
Mind to RnR?
-with love, Lianatta.
