Title: Melted

Chapter: 7

Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff

Rating: T

Main Cast:

Lee Taeyong [NCT]

Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]

Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]

Seo Youngho a.k.a Johnny

-oOo-

I'm burning inside, riddled with holes

Your hairstyle, your waistline, up to your legs

Overlap with that girl, I'm caught in your booby trap (oops!)

I know I'm selfish, but I miss you

(Missing You – Winner Vers.)

-oOo-

"Apa yang terjadi di antara kau dan Jaehyun?"

Johnny terdiam mendapati pertanyaan bodoh itu. Satu hal memang yang selama ini ia tutupi di hadapan Ten—dan beruntungnya Jaehyun mau membantu menutupinya—yaitu fakta kalau ia tidak menyukai Jaehyun. Ya atau lebih tepatnya perasaan Jaehyun.

"Tidak ada," akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Johnny. Ia mendesah kecil. "Percaya pada oppa, semua baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada kami."

"Entahlah tetapi…" Ten menggantungkan ucapannya sebelum kembali melanjutkan, "aku hanya merasakan ada sesuatu di antara kalian. Kalian tampak seperti berperang dingin. Apa ini ada hubungannya dengan Taeyong?"

Johnny memutar otaknya dengan keras—berusaha mencari jawaban terbaik atas pertanyaan itu. Ten menatap Johnny penuh tuntutan untuk segera menjawab. "Tidak. Hanya perasaanmu saja. Aku dan Jaehyun sudah sangat lama tidak bertemu jadi kami… hanya sedikit canggung."

"Uhm," Ten bergumam pelan. Sepertinya wanita itu tidak bisa mempercayai ucapan Johnny. "Baiklah, kali ini aku percaya padamu."

-oOo-

"Uncle!" Myunghee berlari kecil ke arah Johnny. Johnny tersenyum dan langsung menangkap tubuh mungil Myunghee.

"Hey kid!"

"Ya! Ada apa kemari?"

"Tentu saja menjemputmu! Kau lapar? Ayo kita makan!" tanpa mengulangi kesalahannya lagi—yaitu membawa pulang Myunghee tanpa melapor—ia membawa Myunghee menuju sebuah restoran Thailand favoritnya. "Apa kau pernah kemari dengan ibumu?"

"Belum pernah."

"Nah, aku akan pesankan Tom Yum untukmu. Itu sangat enak," kata Johnny. Karena Myunghee tidak paham, maka ia menurut saja. Setelah makan, Johnny mengajak Myunghee bermain sebentar ke sebuah game-center. Setelah sadar sudah pukul tiga sore, Johnny memutuskan untuk mengantar Myunghee pulang.

Selama perjalanan Myunghee banyak bercerita soal sekolahnya. Ia menjadi lebih terbuka setelah cukup lama kenal dengan Johnny. "Begitu uncle."

"Jadi kau tadi hampir memukul temanmu karena dia tidak mengembalikan pensilmu?"

"Iya."

"Benar-benar lucu," Johnny geleng-geleng. "Oh, hari ini uncle ingin mengajak ibumu jalan-jalan berdua."

"Tanpa aku?" Myunghee cemberut. Johnny mengusap kepala Myunghee sayang.

"Uncle ada sedikit urusan dengan ibumu. Jadi, boleh? Bukankah uncle juga sudah mengajakmu bermain hari ini?"

"Uhm... ya baiklah."

"Hahaha good boy," Johnny tersenyum penuh kemenangan. "Nah karena eomma tidak ada di rumah hari sampai jam makan malam, lalu pada siapa uncle harus memulangkanmu?"

"Biasanya eomma akan menitipkanku ke rumah Bibi Shim."

"Bibi Shim?"

"Iya tetangga kami."

"Oh. Jadi uncle harus mengantarmu ke rumah Bibi Shim?"

"Tentu saja!"

"Ah ya baiklah," sesuai instruksi, Johnny mengantarkan Myunghee ke rumah Bibi Shim. Johnny agak canggung karena bertamu ke rumah orang asing. Saat Bibi Shim menyambutnya, Johnny bisa menilai bahwa Bibi Shim bukanlah orang yang galak. "Ah, permisi. Bisakah aku menitipkan Myunghee?"

"Oh tentu saja. Kalau saya boleh tahu, anda siapa?"

"Saya Johnny. Dan… saya mau menitipkan Myunghee sampai jam makan malam. Maaf kalau merepotkan."

"Ah! Tentu saja tidak, aku malah senang karena bisa makan bersama anak manis ini," Bibi Shim mencubit pipi Myunghee gemas.

"Ah kalau begitu terima kasih," Johnny membungkuk dan segera menghilang dari pandangan mereka. Setelah Johnny pergi, Bibi Shim langsung bertanya dengan jahilnya pada Myunghee.

"Pemuda tadi tampan sekali."

"Tentu saja! Paman itu memang sangat keren!"

"Heyo, apa dia calon ayah barumu?" Bibi Shim menyenggol tubuh Myunghee. Myunghee terkikik geli, lalu menutupi wajahnya yang memerah. Otomatis, Bibi Shim ikut terkikik geli melihat reaksi Myunghee yang menggemaskan.

"Hihihi, aku tidak tahu, bi. Yang jelas, aku pasti senang dia jadi ayahku!"

-oOo-

Taeyong sudah menutup tokonya saat Johnny datang menghampirinya. Taeyong menatap Johnny heran. "Ada apa? Tokoku sudah tutup."

"Aku tahu. Aku… ingin mengajakmu ke café sebentar. Hanya berdua."

"Berdua?"

"Iya, berdua."

"Maaf aku sepertinya tidak bisa karena Myung—"

"Aku sudah menitipkannya pada Bibi Shim jadi kau tidak perlu khawatir," potong Johnny. Taeyong menghela nafas berat. "Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."

"Apa kita tidak bisa membicarakannya disini? Atau lain waktu?"

"Tidak," tanpa persetujuan, Johnny menarik tangan Taeyong untuk masuk ke dalam mobilnya. Taeyong ingin berontak, namun ia tahu itu percuma jadi ia memilih untuk diam saja. Setelahnya, Johnny membawa wanita 29 tahun itu ke Garten Café.

"Untuk apa kau mengajakku kemari?"

"Aku rasa tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk berbicara denganmu," kata Johnny. Setelah memesan, ia menatap Taeyong lekat-lekat. "Kau pasti ingat, pertemuan awal kita disini kan?"

"Ya," Taeyong kembali jengah saat mengingat bagaimana dirinya dulu bertemu dengan Johnny.

"Aku, minta maaf," kata Johnny. "Aku benar-benar emosi. Aku tahu sudah bersikap sangat kasar padamu. Padahal aku tidak tahu kalau kau bahkan… sudah memiliki anak."

"Tidak masalah," ujar Taeyong lalu perhatiannya terpotong karena pelayan yang mengantar pesanan mereka. Taeyong langsung memegang sedotan minumannya. Sebuah kebiasaan ketika sedang canggung.

"Ya… jadi yang ingin kubicarakan disini adalah… tolong… tolong buat aku mengerti."

"Apa maksudmu?"

"Ceritakan padaku semuanya, semuanya tentang kau dan Jaehyun."

"A-apa?"

"Ya, semuanya…"

"T-tapi aku tidak bisa," Taeyong menggigit bibir bawahnya sementara tangannya meremas gelas cokelat hangatnya. Johnny menghela nafas.

"Kenapa?"

"Itu sangat menyakitkan. Aku ingin… menghapusnya."

"Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu mengingat itu semua, hanya saja aku benar-benar harus tahu kebenarannya atau aku bisa-bisa memandangmu jelek seumur hidupku," Johnny mulai frustasi. Wajahnya menyiratkan rasa gusar yang terbaca oleh Taeyong. Taeyong menunduk.

"I-itu… menyakitkan."

"Percayalah padaku," Johnny mulai menggenggam tangan Taeyong—menyalurkan sebuah kehangatan yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Taeyong. Secara refleks Taeyong ikut menggenggam tangan Johnny. "Ceritakan semuanya padaku, aku berjanji setelah ini aku tidak akan men- judge dirimu seperti yang kulakukan tempo hari. AKu berjanji aku akan membantumu menghapusnya. Ini demi dirimu, Jaehyun, dan juga Ten. Terutama Ten, ia harus tahu kebenarannya."

"Baiklah," Taeyong menghela nafas panjang lalu menggenggam tangan Johnny erat. "Aku adalah kekasih Jaehyun—dulu. Rasanya sangat manis saat ia selalu bersamaku. Ia benar-benar baik, bahkan ia pernah merelakan dirinya kehujanan malam-malam hanya untuk memberikan kejutan ulang tahun. Hahahahaha itu lucu bukan?"

"Sampai suatu hari setelah dia lulus, kami memutuskan untuk membeli sebuah apartemen dan tinggal bersama. Ia sudah bekerja, tentu saja kau tahu itu kan? Ia pewaris sebuah perusahaan. Ia… ia sering berkhayal untuk bisa segera menikahiku lalu memiliki anak yang lucu…" Taeyong tersenyum pahit. Johnny mengeratkan genggamannya.

"Lalu?" Johnny semakin penasaran sementara Taeyong menghirup nafas dalam-dalam.

"Ya, kau tahu kan apabila sepasang kekasih hidup bersama, pasti mereka melakukan banyak hal yang kadang melewati batasan. Seperti aku dan Jaehyun, suatu hari kami melakukannya… dalam keadaan sadar. Aku memang marah pada diriku sendiri karena sudah melakukannya dengan Jaehyun sebelum aku menikah tapi semua sudah terjadi dan aku rasa tidak ada gunanya aku menyesal."

"Saat itulah Jaehyun berjanji padaku akan menikahiku. Aku percaya padanya karena ia tidak pernah berbohong padaku. Tetapi kali itu, aku salah. Saat itu… saat aku pulang bekerja… ia… secara tiba-tiba membawa koper dan keluar dari apartemen. Padahal baru saja aku akan mengatakan padanya bahwa aku… hamil. Ia berkata bahwa orangtua teman masa kecilnya meninggal karena kecelakaan dan ia harus menikahi perempuan itu. Aku… hanya bisa menangis," Taeyong buru-buru menghapus airmatanya yang keluar begitu saja. Johnny terdiam—terlalu kaget dengan cerita Taeyong.

"M-maafkan Ten…"

"Aku tidak tahu alasan pastinya apa, jujur saja aku sedikit menyesal karena tidak membiarkannya untuk menjelaskan semuanya padaku," Taeyong tersenyum getir. "Sejak saat itu aku mulai membuang segala benda yang menjadi kenangan kami berdua. Foto, pakaian, bahkan beberapa perabotan… aku memutuskan untuk menjual apartemen itu dan membeli sebuah rumah kecil yang kini aku tempati bersama Myunghee. Aku tidak pernah berpikir untuk menggugurkan Myunghee atau bagaimana karena satu-satunya hal yang aku miliki saat itu hanyalah Myunghee. Aku bersyukur ia tumbuh dengan baik, dan aku cukup berbangga bisa membesarkan Myunghee sejauh ini sendirian."

"Aku benar-benar minta maaf," Johnny membuka mulutnya tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Aku benar-benar tidak tahu… lalu kau tidak berusaha… meraihnya kembali?"

"Aku cukup sadar sebagai wanita yang pernah merasakan perih ditinggalkan oleh orang yang sangat disayang, dan aku tidak ingin Ten merasakan hal yang sama denganku," ujar Taeyong mengerjapkan matanya beberapa kali—berusaha agar airmatanya tidak tumpah. "Aku cukup waras untuk tidak merusak kehidupan rumah tangga orang lain. Aku pernah mendapatkan luka dan aku tidak ingin orang yang berada bersama Jaehyun merasakan luka yang sama denganku."

Johnny terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Taeyong yang ia anggap merusak pernikahan adiknya, justru malah sebaliknya. Taeyong menunduk. Airmata lolos begitu saja dari matanya dan terjatuh di lantai.

Grep.

Johnny membawa Taeyong ke dalam pelukannya, memeluk kepala wanita itu, berusaha meredam suara tangis wanita itu. Hatinya ikut merasakan perih saat merasakan airmata Taeyong menembus ke kulitnya. "Maafkan aku… aku benar-benar menyesal pernah membentakmu."

"Aku… aku benar-benar mencintainya saat ia meninggalkanku, hiks… aku ingin menahannya tapi aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk menahannya."

"Kau sudah melakukan semuanya dengan baik… kumohon maafkan aku dan Ten."

"Aku, hiks, benar-benar sudah memaafkan kalian. Tapi maafkan aku yang masih menyimpan perasaan padanya. Maaf, aku menangis."

"Menangislah, aku siap untuk menyembunyikan tangisanmu disini," Johnny membelai surai Taeyong lembut. Taeyong menangis semakin menjadi—namun ia juga berusaha meredam suara tangisnya sampai hanya Johnny yang mendengarnya.

Johnny benar-benar merasa bersalah.

-oOo-

Suasana di dalam mobil itu benar-benar hening. Taeyong hanya terdiam memandangi pemandangan Seoul di malam hari itu. Pikirannya entah sedang berjalan kemana sampai Johnny tiba-tiba berhenti. "Eh? Ada apa?"

"Kita sudah sampai," kata Johnny. "Kau melamun?"

"U-uhm tidak…"

"Kau berbohong. Kau jelas-jelas melamun."

"Y-ya…" Taeyong menundukkan kepalanya. Johnny mendekati tubuh Taeyong dan membawanya ke dalam pelukannya. "M-maaf…"

"Seharusnya aku yang berkata begitu," Johnny bersuara sangat pelan. Ia menatap Taeyong dalam kegelapan di dalam mobilnya. Wanita itu memang sangat cantik namun guratan lelah terlukis di wajahnya. Johnny mendekati wajah wanita itu. "Kau percaya padaku kan? Aku tidak akan menganggapmu yang macam-macam, dan aku akan membantumu menghapus kenangan itu dari dirimu… kau percaya padaku kan?"

"Aku… aku berusaha percaya padamu."

"Kalau begitu… ijinkan aku menghapus kenangannya darimu," selesai dengan perkataanya, Johnny mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyong. Taeyong bisa merasakan betapa hangatnya nafas Johnny sampai bibir mereka bersentuhan, saling memberi kehangatan, sampai akhirnya saling menuntut. Hisapan kecil, saling melumat… Taeyong menumpahkan segala emosinya dalam ciuman itu dan Johnny bisa merasakannya. Johnny membiarkan Taeyong bermain dengan bibirnya, membiarkan Taeyong menuntut dirinya untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam permainan mereka, membiarkan Taeyong membagi kelelahannya pada dirinya.

Tangan nakal Johnny mulai bergerak menyentuh pinggang ramping Taeyong lalu naik ke punggungnya, hingga ia hampir menyentuh area pribadi di bagian dada Taeyong. Keduanya langsung tersadar dan keadaan menjadi hening.

"Maafkan aku… aku terlalu hanyut," ujar Johnny dengan wajah yang sama merahnya dengan Taeyong. Nafas mereka saling memburu, Taeyong tersenyum tipis.

"Ya… ayo kita jemput Myunghee," Taeyong langsung turun diikuti dengan Johnny. Mereka langsung berjalan ke rumah Bibi Shim. "Permisi."

"Ya? Ah Taeyongie… Myunghee sudah tidur," kata Bibi Shim lalu mengantar Johnny dan Taeyong ke tempat Myunghee tidur. Taeyong akan menggendongnya saat Johnny menahannya.

"Biar aku saja," Johnny menggendong Myunghee dengan sangat hati-hati lalu pamit pada Bibi Shim. Mereka berjalan ke rumah Taeyong dalam diam. Begitu sampai di rumah, Taeyong langsung menyuruh Johnny untuk menaruh Myunghee di kamarnya. Mereka berdua sama-sama terdiam melihat Myunghee yang tidur dengan polosnya.

"Dia sangat polos ketika tidur. Dia… benar-benar menyayangimu."

"Begitulah."

"Sangat lucu melihatnya tidur," lalu hening. Johnny hanya menatap Myunghee yang tertidur dengan pulas.

"Terima kasih," tiba-tiba Taeyong berujar. "Terima kasih atas segalanya."

"Kau tidak perlu mengatakannya," Johnny tersenyum—sangat tulus. Taeyong—dengan wajah lelahnya—ikut tersenyum, membuat Johnny merasakan pedih di hatinya. Entah siapa yang memulai, namun keduanya mulai mendekat dan bibir itu kembali berpagutan. Bermain, saling menumpahkan emosi, saling menuntut…

Johnny membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Kali ini lebih bebas dan dekat karena tidak ada penghalang seperti di dalam mobil Johnny. Sementara tangan Taeyong bermain di kerah baju Johnny. Ia meremas kerah baju itu—seolah menumpahkan segala rasa lelahnya yang ia pendam selama ini. Ia melumat bibir Johnny dengan rakus, menyiratkan bahwa ia butuh… ia butuh seseorang untuk menghapuskan lukanya.

Johnny melepaskan ciumannya saat mereka berdua sadar butuh oksigen. Taeyong menunduk, menyeka matanya yang sembab. Johnny mengusap mata Taeyong dengan ibu jarinya.

"Kau perlu istirahat. Tidurlah. Jangan pikirkan hal itu lagi. Aku berjanji aku tidak akan merusak kepercayaanmu padaku," Johnny mengecup kening Taeyong dengan lembut lalu ia berpamitan untuk pulang.

Taeyong menatap mobil Johnny yang menjauh. Ia memegang dadanya. Untuk pertama kalinya, setelah Jaehyun pergi, ia merasakan ada sesuatu yang hangat disana.

-oOo-

"Bagaimana menurutmu?" tanya Johnny pada Myunghee. Hari ini Johnny mengajak Myunghee untuk hunting pakaian dalam rangka mempersiapkan pesta ulang tahunnya yang ke-30. Myunghee sangat senang, karena ia diberikan kesempatan untuk memilih—meskipun bukan untuk dirinya.

"Ah uncle tampak sangat gagah!" Myunghee mengacungkan dua jempolnya saat melihat Johnny dengan jas warna burgundy-nya. "Warnanya bagus! Ada enam kancing, dan aku suka!"

"Uncle memang gagah," kata Johnny narsis. "Nah kid, sekarang giliranmu untuk memilih baju."

Tanpa diperintah dua kali, Myunghee langsung bergegas memilih beberapa model jas untuk dirinya. "Uncle apa yang ini bagus?"

"Ah itu kurang."

"Kalau yang ini?"

"Kau tampak benar-benar seperti bocah."

"Bagaimana kalau yang ini?"

"Ah aku rasa kau lebih pantas memakai yang ini," Johnny menyerahkan sebuah jas berwarna cream dengan satu kerah coklat tua. Myunghee menatap jas itu.

"Uncle tapi ini…"

"Kenapa? Kau tidak suka?"

"Bukan, ini kan jas yang aku tawarkan di pilihan kedua tadi."

Johnny sweatdrop. Ia merutuki kebodohannya. "Ya, maaf uncle tidak memperhatikannya."

"Hahaha uncle lucu sekali," lalu Myunghee memakai pakaian pilihan Johnny itu. "Aku suka! Aku suka!"

"Ya sangat cocok denganmu. Nah sekarang ayo kita ke kasir lalu kita makan siang bersama dan menemui ibumu untuk memesan kue!"

"Aye-aye captain!" sejak mengenal Johnny, Myunghee mengenal Bahasa Inggris lebih dalam lagi meskipun ia hanya bisa mengucapkannya sepatah-dua patah kata. Setelah ke kasir, mereka bergegas untuk makan lalu pergi ke Fiore Bakery.

Johnny bisa melihat Taeyong yang tersenyum pada pelanggannya, melayani dengan cekatan, dan dari sanalah ia melihat sebuah aura keibuan yang ia cari. Membantu pelanggan memilihkan kue ataupun dengan sabar menunggu pemesan memilih pesanannya.

"Taeyong-ah," panggil Johnny. Taeyong mengalihkan perhatiannya ke Johnny dan memberikan sinyal 'tunggu-sebentar-ya'. Setelah selesai dengan satu pelanggannya itu, Taeyong beralih ke Johnny. Myunghee? Ia langsung menyusup ke dapur untuk bermain bersama beberapa pegawai ibunya itu.

"Iya?" tanya Taeyong agak canggung. Ia teringat soal ciumannya semalam dan rasanya sangat canggung berada di dekat Johnny.

"Aku ingin memesan cake dan dessert padamu untuk ulang tahunku tiga hari mendatang," kata Johnny—terdengar dari nadanya ia juga agak canggung. "Bisakah?"

"Tiga hari lagi…" Taeyong buru-buru membuka bukunya dan membaca beberapa list di dalam buku itu. "Ah tentu saja aku bisa."

"Baiklah berikan aku…" Johnny menjeda kalimatnya. "Yang terbaik."

"Ya," Taeyong menatap Johnny. Johnny balas menatapnya.

Hati mereka berlomba untuk berdetak kencang.

-oOo-

Taeyong mengecek kembali kuenya sebelum ia mempercayakan pegawainya untuk mengantarnya ke rumah Ten. Dalam hati, ia sangat gugup. Memang Ten bilang bahwa pesta untuk Johnny sangat sederhana. Tapi sederhana bagi Taeyong dan Ten memang berbeda.

Setelahnya, Taeyong mengacak-acak isi lemarinya. Ia cemberut. Tidak ada gaun yang indah. Tidak ada gaun yang menurutnya cocok. Jujur saja ia bukanlah wanita feminim yang hobi mengoleksi high-heels ataupun ratusan dress. Ia lebih suka memakai sesuatu yang membuatnya nyaman. Di saat seperti ini, ia sangat membutuhkan Myunghee untuk memilihkannya baju, hanya saja Myunghee saat ini sudah berada di rumah Ten—sepulang sekolah, ia memang dijemput oleh Jaehyun dan langsung bergegas ke rumah pria Jung itu. Sambil menghela nafas, ia mengambil sebuah kemeja dan rok ketat selutut. Ya, pakaian seadanya, yang penting menurutnya pantas dikenakan.

Ting tong!

"Ish, siapa sih," sambil menggerutu Taeyong berlari membuka pintu. Alangkah kagetnya ia saat ada dua orang wanita dengan dua buah koper berdiri di depan rumahnya. "Y-ya?"

"Ini benar rumah Nyonya Lee Taeyong, kan?"

"Iya. Saya Taeyong."

"Ah, bagus! Perkenalkan, aku Key," si wanita asing itu memperkenalkan dirinya. Taeyong tersenyum canggung—merasa bingung dan agak… minder. Wanita bernama Key itu tampak benar-benar cantik, fashionable, dan fresh. "Dan ini adikku, Seulgi."

"Halo, nyonya," wanita yang diperkenalkan bernama Seulgi itu membungkukkan badannya. "Kami berdua kemari untuk me-make-over penampilanmu untuk acara nanti malam."

"E-eh? T-tapi aku—"

"Tenang saja, nyonya. Keluarga Jung itu adalah pelanggan setia kami, percayalah pada kami. Kami akan membuatmu cantik di pesta istimewa itu," potong Key yang bisa membaca kepanikan dari wajah Taeyong. "Dan masalah bayaran, tenang saja. Keluarga Jung itu juga memasukkanmu ke dalam list kok."

"Oh begitu…"

"Iya, nyonya."

"Baiklah, silahkan masuk," Taeyong menyuruh kedua tamunya itu untuk masuk. Setelahnya, Key langsung membuka kedua koper yang berbeda ukuran itu. Ada satu koper khusus berisi gaun dan sepatu, dan yang lebih kecil berisikan peralatan make-up.

"Nah, sekarang yang harus kau lakukan adalah mengganti pakaianmu dengan gaun ini," Seulgi menyerahkan sebuah dress dengan panjang di atas lutut bertali silang di punggung berwarna ungu tua. Taeyong menatap gaun berbahan silk itu dan segera memakainya. Key dan Seulgi dibuat takjub karena dress itu begitu cocok membalut tubuh Taeyong.

"Fabulous! Perfect!" puji Key lalu menyuruh Taeyong duduk menghadap kaca yang sudah Key siapkan. "Oke, sekarang make-up!"

Key sangat cekatan dalam urusan memoles wajah, sehingga tak sampai 45 menit, ia sudah selesai dengan polesan wajah. Bibir merah, mata yang tajam namun tetap natural, tulang hidung yang tegas… Key dan Seulgi benar-benar berpikir bahwa yang di hadapan mereka ini bukanlah manusia tetapi dewi yang tersesat di bumi.

"Bagus sekali! Nah sekarang sentuhan terakhir, hair-styling!" seru Seulgi langsung bekerja cekatan untuk men-styling rambut hitam Taeyong. Ia sengaja menyanggul rambut Taeyong dengan rapi untuk memamerkan tengkuk indah Taeyong. Namun ia juga menyisakan rambut Taeyong di bagian depan agar terjuntai begitu saja untuk memberikannya kesan anggun. Dengan pemanis berupa high heels warna senada serta kalung dan anting-anting emas putih penampilan Taeyong bisa dikatakan perfect.

"Wah! Benar-benar cantik dan anggun!" puji Key tulus. "Nah, sekarang kau sudah siap datang, kan? Khajja!"

-oOo-

Myunghee yang tengah duduk di bahu Johnny tampak sibuk bermain dengan Micha yang berada di gendongan Jaehyun. Anak itu merasa excited mengingat hari ini ia didandani setampan mungkin oleh Key dan Seulgi serta memakai jas pilihan Johnny yang membuatnya tampak gagah. Beberapa kali ia bertanya pada Johnny apakah ia tampak keren dan tentu saja Johnny menjawabnya dengan "iya".

"Ahjussi, kapan eomma datang?"

"Sabar ya, setelah ini ia datang," ujar Jaehyun dan Myunghee mengangguk. Semua yang hadir saat itu benar-benar keren di matanya. Jaehyun dengan jas navy blue dan dalam kemeja hitam polkadot putih dan Johnny dengan jas burgundy dan kaus hitam. Sangat keren di mata bocah berusia empat tahun itu. Tak lama setelahnya, Taeyong masuk ke ruangan itu—dengan Seulgi dan Key di belakangnya yang langsung bergabung dengan tamu lainnya.

Taeyong langsung menjadi pusat perhatian.

Tidak terkecuali Johnny dan Jaehyun yang juga melihat wanita itu.

Taeyong benar-benar tampak menawan.

"Ah, akhirnya datang juga," Ten memberikan sebuah tepukan pelan di bahu Taeyong—membuat Taeyong berjengit agak kaget. Taeyong melihat Ten tersenyum tulus padanya. "Kau sangat cantik malam ini. Berarti kerja Seulgi dan Key tidak sia-sia."

"Ah, aku benar-benar berterima kasih padamu atas kedua pegawaimu itu," Taeyong tersenyum agak canggung. "Aku benar-benar berterima kasih. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa."

"Hahaha, bukankah kita ini teman? Sudah sepantasnya aku memberikan hal seperti ini padamu," kata Ten lalu menuntun Taeyong untuk bergabung bersama Johnny dan Jaehyun. Jaehyun hampir saja tak berkedip sementara Johnny berusaha keras untuk menutupi rasa kagumnya atas sosok cantik itu.

"Eomma! Neomu yeppeo!" Myunghee berseru sambil mengancungkan dua jempolnya. "Eomma benar-benar seperti seorang putri!"

"Like a fallen angel…"

"Like a…. apa uncle?"

"Ah tidak," Johnny mendekati Taeyong dan tersenyum. Sebuah senyuman yang berbeda di mata Ten. Ten tersenyum jahil lalu menyingkir dari Taeyong. "Kau sangat cantik."

"Dan oppa menyukainya!" seru Ten sambil terkikik. Johnny melempar death-glare ke arah Ten.

"Ya!"

"Apa sih, aku juga suka Taeyong eonni kok! Tampak cantik!" kilah Ten. Ten tahu ada sesuatu disana. Johnny tidak akan tersenyum dan menatap seorang wanita seperti itu apabila ia tidak menyimpan perasaan pada orang itu.

"U-uhm…" Taeyong menggaruk tengkuknya. Ia merasa canggung.

"Ten dan Johnny benar, kau memang cantik," tambah Jaehyun dengan senyuman tipis di wajahnya. Taeyong menangkapnya. Jaehyun tampaknya ingin sekali memperkenalkan wanita cantik itu sebagai istrinya, bukan mantannya.

"Kau mau minum?" tanya Johnny langsung menggamit tangan Taeyong. Ten, Jaehyun, dan terutama Taeyong langsung kaget karena Johnny tiba-tiba saja menarik tangannya.

Grep!

"Mau kemana? Kau tidak perlu menggandengnya," Jaehyun secara otomatis menarik tangan Taeyong yang satunya. Johnny menatap Jaehyun dingin.

"Mengambil minum. Memangnya kenapa kalau aku menggandeng tangannya?"

"Kau tidak perlu melakukannya," Jaehyun mendesis. Ten menatap kedua pria di hadapannya itu. Ia mendesah.

"Tuan-tuan, supaya adil bagaimana kalau aku saja yang mengantarkan Taeyong eonni? Kumohon kalau kalian ada masalah, jangan bertengkar di saat seperti ini," Ten berkata dengan nada tegas—sebuah nada yang sangat jarang ia keluarkan. Johnny dan Jaehyun terdiam sementara Taeyong kentara sekali kalau ia tidak nyaman. "Ayo eonni."

"I-iya," Taeyong membuntuti Ten yang melangkah pergi dari Johnny dan Jaehyun. Tangannya secara tiba-tiba meraih tangan Ten. "Maaf aku membu—"

"Tidak masalah. Mereka itu benar-benar membuatmu tidak nyaman," Ten geleng-geleng kepala. "Tapi wajar sih, kau memang sangat cantik malam ini. Lihat saja banyak mata yang memandangmu."

"Tapi kau lebih cantik," balas Taeyong. Ia menatap Ten dan segala kemuliaannya. Silk dress panjang tanpa lengan berwarna baby pink, hiasan rambut berwarna keperakan, perhiasan yang berkilau, serta high-heels yang cantik menghias kakinya. Ten tertawa kecil.

"Perbedaan kita hanya ada di bentuk wajah," kata Ten. "Semua wanita itu cantik, dan mereka cantik dengan cara mereka sendiri. Seperti eonni, eonni cantik dengan cara eonni sendiri yang… keibuan? Seperti itu."

Taeyong terdiam. Ten benar-benar tampak berkilau di matanya.

Saat kedua wanita itu asyik berbincang, tiba-tiba Johnny menghampiri Taeyong dan menarik Taeyong ke tengah ruangan itu. Taeyong menatap Johnny penuh tanya sementara yang ditatap hanya menampilkan wajah yang sangat tenang.

"Ya hadirin sekalian, terima kasih telah datang di pestaku. Aku ingin memperkenalkan pada kalian, inilah calon istriku, Lee Taeyong!"

-TBC-

HAI!

Aku datang dengan ff yang ruwet ini T^T

Maaf ya updatenya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Dan dsni Jaehyun muncul sedikit bgt T^T

Tapi nanti di chap akhir aku usahain bakalan banyak kok Jaehyunnya :')

Makasih buat yang uda review, maaf kalau mengecewakan dan updatenya lamaaaaaaaaaaaaaaaa banget.

Nah, mind to RnR?

-with love, Lianatta.