Title: Melted
Chapter: 8
Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff
Rating: T
Main Cast:
Lee Taeyong [NCT]
Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]
Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]
Seo Youngho a.k.a Johnny
-oOo-
You were the shadow to my light
Did you feel us?
Another star
You fade away
Afraid our aim is out of sight
Wanna see us
Alight
(Alan Walker – Faded)
-oOo-
"Ya hadirin sekalian, terima kasih telah datang di pestaku. Aku ingin memperkenalkan pada kalian, inilah calon istriku, Lee Taeyong!"
Seketika seisi ruangan hening.
"Jadi kutegaskan sekali lagi pada kalian yang bertanya padaku, dan secara resmi wanita ini yang akan menjadi pendamping hidupku," Johnny benar-benar mantap mengatakannya.
Mata Taeyong membulat. Ia terdiam—terlalu kaget dengan ucapan Johnny. Sementara Jaehyun menggenggam gelasnya dengan erat—penuh amarah. Ia tidak menyadari bahwa Ten sedang berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan Johnny dan Taeyong yang sama-sama tampak tegang, namun pada detik berikutnya pandangannya teralih pada Jaehyun yang tampaknya bisa menghancurkan gelas wine-nya saat itu juga.
Demi Tuhan, Ten bisa merasakan kecemburuan Jaehyun pada Taeyong—karena sangat jelas kentara sekali.
Dan demi Tuhan, ia merasakan dirinya cemburu atas reaksi Jaehyun.
Ia mengeratkan gendongannya pada Micha, menarik nafas dalam-dalam lalu matanya berkeliaran liar kesana-kemari—seakan mencari seseorang. "Ahjumma," sebuah suara kecil mengagetkannya. Ten menoleh. Myunghee.
"I-iya?"
"Kenapa suasananya menjadi menyeramkan," tanyanya polos. Ten mau tidak mau menorehkan senyum palsu, ia mengusak rambut Myunghee tanpa menjawab pertanyaan bocah itu. Ia kembali mencari seseorang dan akhirnya ia menemukan seseorang itu.
"Ah, Yoomi-ssi," panggil Ten pada wanita yang ia cari. Yang merasa bernama Yoomi langsung menghampiri.
"Iya, nyonya?"
"Tolong gendong Micha dan aku titip Myunghee, aku mau ke kamar kecil," ujar Ten lalu menyerahkan Micha pada baby-sitter mudanya itu. Dalam hitungan detik, ia menghilang tanpa disadari siapapun.
Termasuk, Jaehyun.
-oOo-
Ten terdiam sambil mencelupkan kakinya di dalam kolam renang belakang rumahnya. Ia menghela nafas berat. Persetan dengan pesta yang belum selesai, ia hanya ingin menenangkan dirinya.
Selama ini, ia cukup bersabar untuk menerima kenyataan bahwa Jaehyun masih mencintai Taeyong. Ia berusaha untuk mengetuk pintu hati Jaehyun yang tertutup. Namun sepertinya, inilah puncak rasa lelahnya. Dengan sangat jelas, ia melihat bahwa suaminya itu cemburu atas pernyataan Johnny.
Perlahan air mata menetes. Ia terlalu lelah. Cukup, ia merasa sangat sakit. Selama hampir empat tahun ini, ia berjuang sendirian. Selalu saja, Taeyong. Taeyong. Ia iri. Ia cemburu. Ia ingin sekali menjadi seorang Taeyong yang mendapatkan banyak kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
"YA!" tiba-tiba sebuah suara melengking mengagetkannya. Ten mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke sekitarnya. Sepertinya pesta sudah berakhir, karena yang ia dengar hanya suara lengkingan tadi. Penasaran, ia bangkit dari duduknya—tanpa peduli dengan dress-nya yang sedikit basah—dan berlari menuju sumber suara. Langkahnya terhenti saat ia melihat Taeyong dan Johnny sedang berdiri di taman samping rumah itu—dengan Taeyong yang membara. Ten berinisiatif untuk bersembunyi di balik pilar—mencoba menguping apa yang akan mereka bicarakan.
"Kenapa?"
"Kenapa!? Kau tanya kenapa!? Apa-apaan kau mengakuiku sebagai calon istrimu!? Apa lagi yang kau inginkan dariku hah!?" Taeyong menatap Johnny penuh amarah dengan suara yang sangat melengking.
"Aku hanya harus melakukannya."
"Harus!? Dengan cara ini!? Seperti ini!? Kau tahu, baru saja aku bisa mempercayaimu dan kau malah seperti ini! Asal kau tahu saja aku bercerita padamu bukan berarti kita punya hubungan khusus!"
"Aku tahu itu…"
"Lalu apa yang bisa kau jelaskan untuk ini!? Apa kau tidak puas setelah mengataiku sebagai jalang dan sekarang dengan seenaknya kau mengakui sebagai calon istrimu!? Apa kau pikir aku ini benar-benar murahan sehingga kau bisa seenaknya saja memutuskan sesuatu atas diriku tanpa persetujuanku!? Kau pikir aku ini apa!?"
"Dengarkan aku! Aku melakukan semua ini, karena aku tidak ingin Jaehyun mendekatimu lagi! Aku tidak ingin kau kembali bersamanya, kau menjadi miliknya lagi, lalu kau menyakiti Ten! Aku hanya berusaha menghin—"
PLAK!
"Setelah aku menceritakan semua kebenaran yang ada, kau masih menganggapku kalau aku ini wanita rendahan yang berusaha untuk menyakiti adikmu!? Tidak. Kau. Salah. Johnny. Seo," air mata mengalir di pipi mulusnya. "Setelah, semuanya. Termasuk janjimu… kau masih tidak percaya padaku?"
"Bukan itu," Johnny merasakan panas di pipinya akibat tamparan Taeyong. "Aku… aku menyukaimu."
"Tidak," suara Taeyong melemah. "Aku benar-benar salah mempercayaimu."
"Taeyong-ah…"
"Jangan sentuh aku lagi! Bukankah di matamu aku hanyalah wanita murahan?" Taeyong mengusap pipinya kasar dan berjalan cepat meninggalkan Johnny. Johnny menggeram dan menendang apapun yang ada di sekitarnya. Emosi benar-benar menyelimutinya.
-oOo-
Jaehyun mendesah pelan saat di akhir pesta ulang tahun Johnny, ia kehilangan Ten. Yoomi berkata bahwa Ten hanya ke kamar kecil namun setelah ia mencarinya di setiap sudut dalam rumah itu, ia gagal menemukan Ten.
"Kau pikir aku ini apa!?" samar-samar Jaehyun mendengar suara teriakan Taeyong. Ia langsung menghampiri taman samping rumahnya dan menemukan Taeyong sedang beradu mulut dengan Johnny. Matanya membulat saat ia mendengarkan percakapan itu dan ketika Taeyong berlalu, Jaehyun mengejarnya.
"Taeyong nuna!" Jaehyun berlari dan meraih tangan Taeyong. Taeyong berusaha melepaskan genggaman tangan Jaehyun, namun genggaman itu terlalu kuat.
"Mworago?"
"Kau tidak boleh pulang sendirian. Kumohon jangan pulang dalam keadaan seperti ini."
"Urusi dirimu saja, Jaehyunnie. Apa hakmu untuk mengatur seorang mantan kekasih?" Taeyong berkata sinis. "Ten membutuhkanmu, dan aku tidak seharusnya mengijinkanmu untuk kembali ke dalam hidupku."
"Nuna, aku mohon jangan seperti ini."
"Seharusnya dari awal aku menghindarimu. Semuanya terasa sangat rumit. Kau tidak tahu betapa perihnya saat kau meninggalkanku, lalu kembali, dan membuatku menjadi seperti ini," Taeyong masih berusaha melepaskan genggaman Jaehyun. Perlahan genggaman Jaehyun melemah.
"Aku tahu, aku terlalu brengsek untuk semua ini, nuna."
"Kau tahu, aku memang masih mencintaimu dan aku sangat menyesal."
"Aku tahu, dan aku pun begitu."
"Aku butuh waktu untuk semua ini," bertepatan dengan kalimat terakhirnya, Taeyong berlalu. Jaehyun menghela nafas, dunia seolah terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.
BUGH!
Jaehyun merasakan seseorang menarik kerah bajunya secara tiba-tiba dan menghantamnya. Ia tahu. Itu Johnny. Jaehyun tersenyum sinis. Ia bangkit, dan balik meninju wajah mulus Johnny.
"Beraninya kau!" Johnny berteriak dan kembali meraih kerah Jaehyun untuk menghajarnya.
"Apa!? Kau yang terlalu ikut campur dalam urusanku!" Jaehyun balas berteriak dan juga meraih kerah Johnny dan tanpa basa-basi langsung menghajar Johnny tanpa ampun. Johnny tidak tinggal diam, ia juga membalas hantaman Jaehyun sampai yang dihantam merasakan darah mengalir dari hidungnya.
"Kau yang terlalu brengsek!"
"Kau yang terlalu jauh mencampuri urusanku dan Taeyong! Kau tidak tahu apa-apa! Bangsat!"
"Tidak tahu apa-apa!?" mata Johnny menatap Jaehyun nyalang. Ia memberikan jeda dalam serangannya untuk berbicara pada Jaehyun. "Kau pikir aku tidak tahu bagaimana kau putus dengan Taeyong!? Kau pikir aku tidak tahu kalau MYUNGHEE ADALAH ANAK KANDUNGMU DENGAN TAEYONG!?"
Jaehyun terdiam. Ia kaget saat Johnny membeberkan fakta yang tidak pernah ia ceritakan selama ini pada siapapun.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau meninggalkannya saat ia hamil!? Kau pikir ak—"
"Kau terlalu banyak bicara!" Jaehyun segera memotong ucapan Johnny dan menyerang Johnny sampai darah benar-benar mengalir deras di wajahnya. "Apa kau pikir saat aku meninggalkannya aku tidak merasakan sakit!? Apa kau pikir saat aku tahu kalau ia hamil aku tidak sedih!? KAU PIKIR APA AKU BAIK-BAIK SAJA SAAT AKU DIHARUSKAN MENGAMBIL LANGKAH UNTUK MENIKAHI TEN DEMI MENYELAMATKANNYA DARI PAMAN BRENGSEKMU ITU!?"
"…."
"Semua orang tersakiti. Salahkan keadaan, aku tahu aku bersalah. Tapi kau tahu konsekuensinya kalau aku tidak menikahi Ten," Jaehyun menggeram. "Apa kau tega melihatnya mengemis di jalanan? Tidak, John. Kau harus tahu, aku benar-benar tidak baik-baik saja saat aku harus memutuskan…"
"…."
"Apakah aku harus meraih kebahagiaanku sendiri bersama Taeyong dan Myunghee."
"…."
"Atau aku harus menyelamatkan banyak orang. Termasuk keluarga Chittaphon dan keluarga Jung, keluargaku sendiri."
Johnny terdiam. Ia tahu, semuanya terluka disini.
Terutama Ten yang kehilangan kata-kata saat mengetahui fakta yang baru saja ia dengar. Sebelum semuanya sadar, Ten sudah menghilang dengan Peugeot hitamnya.
-oOo-
Ten nekat menyetir mobilnya sendirian berkeliling Seoul dengan kecepatan tinggi. Persetan dengan fakta bahwa ia tidak terlalu bisa menyetir mobil ataupun kecelakaan lalu lintas, ia terlalu shock dengan kenyataan yang harus ia terima saat ini.
Myunghee adalah anak kandung Jaehyun dan Taeyong.
Ia pikir, Taeyong telah menikah sebelumnya dan memiliki seorang anak. Ia salah. Ia tidak pernah tahu kalau Myunghee adalah anak kandung dari Jaehyun. Ia menggigit bibirnya, menangis keras tanpa mempedulikan make-up yang luntur. Pikirannya benar-benar kacau.
Ia ingin menumpahkan segalanya pada seseorang yang ia percaya, seperti Johnny atau Jaehyun mungkin, tapi saat ini ia terlalu marah dengan kedua pria yang selama ini terlalu banyak menyimpan rahasia padanya. Ia merasa dikhianati.
Air mata terus lolos dari matanya yang cantik. Pikirannya sangat kacau. Ia tidak peduli dengan klakson yang ditujukan padanya, ia hanya menyetir dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan yang ia rasa menghalangi jalannya, dan berbelok dengan tajam. Ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri atau bagaimana. Ia hanya berpikir bagaimana caranya ia menerima kenyataan yang sangat pahit itu.
Entah apa yang ada di pikiran wanita cantik itu hinggga akhirnya ia memutuskan utnuk menghentikan mobilnya di depan rumah Taeyong. Dilihatnya rumah itu. Kecil dan tampak sangat sepi. Ten mengusak matanya dengan kasar, memperhatikan rumah itu.
Ia menggenggam setirnya. Taeyong merupakan sosok sempurna di matanya. Sosok seorang kakak perempuan yang selama ini ia cari. Yang bisa ia percaya. Seseorang yang selalu mendengarkannya dengan sabar, walaupun ia sendiri menyimpan rasa sakitnya. Ia menggigit bibirnya entah untuk yang keberapa kalinya—terlalu bingung untuk memutuskan apakah ia harus mengunjungi rumah kecil itu atau tidak. Terlalu banyak hal yang tersimpan dalam pikirannya.
Ada rasa cemburu, bersalah, marah, iba, dan terluka dalam dirinya.
Air mata yang tercampur eyeliner kembali lolos, dan kali ini benar-benar merusak make-up-nya. Ia lelah, ia tidak mengerti. Sampai akhirnya ia menelungkupkan wajahnya pada setir mobil dan tertidur.
-oOo-
Taeyong memasuki rumahnya dengan wajah sembab. Ia tidak peduli dengan make-up mahal yang telah disapukan oleh Key dan Seulgi, ia tidak peduli dengan keadaannya yang kusut, ia tidak peduli segalanya. Kenyataan bahwa Johnny berhasil membuatnya malu di depan umum, dengan seenak jidatnya mendeklarasikan bahwa ia adalah calon istri Johnny, benar-benar membuatnya emosi. Apalagi, alasan yang dituturkan Johnny benar-benar membuatnya muak.
Aku menyukaimu.
Satu kalimat itu terngiang di kepala Taeyong. Taeyong tidak peduli Johnny itu seenaknya sendiri atau bagaimana tetapi menurutnya ini sudah keterlaluan. Sudah cukup Jaehyun yang mempermainkan perasaannya.
Jadi tolong, seseorang sadarkan Johnny.
Taeyong tidak suka cara Johnny mendeklarasikannya. Membuatnya tampak seperti wanita yang lemah dan perlu dikasihani. Membuatnya tampak seperti wanita murahan yang harus dipenjarakan agar tidak lepas.
Tidak, Taeyong bukan wanita seperti itu.
Ada tangisan di kamar itu sampai akhirnya melemah dan hilang dengan sendirinya.
-oOo-
Taeyong terbangun dengan kepala super pening dan wajah berat. Ia duduk sejenak di atas kasur sambil memijit kepalanya. Ia berusaha mencerna apa yang telah terjadi, sampai akhirnya ia teringat sesuatu.
"Omo! Myunghee!" Taeyong gelagapan saat teringat anaknya. Ia langsung bangkit dari kasurnya dan memanggil-manggil Myunghee. Sayangnya, Myunghee tidak ada di seluruh rumahnya dan ia memijit kepalanya lagi. "Pasti ia masih di rumah Ten."
Dengan nafas berat ia memutuskan untuk membersihkan diri dan berharap ia bisa lebih segar dari sebelumnya. Setelah mandi, ia menyempatkan diri dulu untuk membersihkan rumahnya. Sebenarnya ia sangat malas untuk kembali ke rumah keluarga Jung itu tapi apa boleh buat. Myunghee ada disana karena ia terbakar emosi sampai lupa bahwa Myunghee juga berada disana. Dengan langkah berat, Taeyong keluar dari rumahnya dan bersiap menuju rumah keluarga Jung.
Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Ia mengernyit. Ia mengenal mobil itu. Mobil milik keluarga Jung. Ia berpikir tidak perlu repot-repot menjemput Myunghee karena pasti keluarga itu mengantar Myunghee pulang. Tanpa buang waktu, ia menghampiri mobil itu. Namun alangkah terkejutnya ia saat menemukan seorang wanita di dalam mobil itu. Keadaannya tampak berantakan.
"Ten! Ten! Apa itu kau!?" dengan panik Taeyong mengetuk-ngetuk kaca mobil itu. Wanita itu sepertinya benar-benar tertidur atau entah bagaimana menyebutnya, yang jelas ia tidak menyahut. Taeyong terus mengetuk pintu mobil itu sampai sang pemilik perlahan bangkit dan menampilkan wajah horrornya.
Bedak luntur, eyeliner mencair dan membentuk beberapa garis air mata, lipstick pudar… keadaannya benar-benar kacau. Ditambah rambut berantakan dan wajah pucat. Ten membuka kunci mobil itu tapi tidak membuka pintunya. Taeyong berinisiatif membuka pintu mobil itu.
"Ten! Astaga ap—ya!" Taeyong semakin panik saat Ten menatapnya seperti orang mabuk dan tiba-tiba ambruk ke tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha membopong Ten menuju kamarnya. Hal yang ia lakukan setelah menidurkan Ten di kamarnya adalah membersihkan kaki dan wajah wanita itu, lalu mengganti pakaiannya dan mengecek suhu tubuhnya, dan terakhir pergi ke dapur untuk membuatkan bubur untuknya. Untungnya Ten tidak terserang demam, tetapi Taeyong tahu Ten pasti menangis semalaman dan pastinya wanita itu mengalami pusing hebat di kepalanya.
Taeyong menyiapkan air putih, susu hangat, dan bubur untuk wanita yang lebih muda darinya itu di atas nampan dan kembali ke kamarnya. Dilihatnya Ten sudah duduk di atas kasurnya dengan wajah sayunya. Wajahnya itu jauh lebih parah daripada wajahnya saat ini.
"Ten," panggil Taeyong lalu menaruh nampannya di atas nakas. "Kau sudah nyaman dengan posisi dudukmu? Aku akan menyuapimu bubur hangat."
Yang ditanya tidak menjawab. Justru ia menunduk dan bergumam pelan, "Eonni, jeongmal mianhae."
"A-apa?"
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku. Kumohon, maafkan aku," gumamnya berulang kali sambil menggenggam tangannya sendiri. Setitik airmata kembali lolos dari netranya. "Kumohon, maafkan aku."
"Ten kau kenapa?" Taeyomg sedikit panik. Tiba-tiba Ten memegang tangan Taeyong lalu menatap Taeyong dengan tatapan paling menyedihkan. "Ten…"
"Kumohon maafkan aku. Maafkan aku."
"Ten!"
"Maafkan aku, eonni… Ma—" kalimat Ten terputus saat Taeyong memeluknya. Tangis Ten benar-benar pecah, ia memeluk Taeyong erat—menumpahkan segala perasaannya yang campur aduk pada wanita Lee itu. "Maafkan aku eonni… Aku minta maaf."
"Ten," Taeyong mengusap punggung Ten lembut. "Tenangkan dirimu. Kau tak perlu minta maaf padaku."
"Aku harus," balas Ten. "Aku harus, kumohon maafkan aku."
"Ten, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padamu. Kumohon, tenanglah," Taeyong agak menekan suaranya—terdengar sedikit frustasi dan khawatir. "Aku memaafkanmu. Selalu memaafkanmu, jadi kumohon berhentilah menangis dan tenangkan dirimu. Kau bisa semakin lemas kalau begini."
"H-hiks," akhirnya tangisan Ten mereda. Taeyong belum melepaskan pelukannya, ia masih mengelus punggung Ten dengan lembut. Setelah dirasanya Ten benar-benar tenang, ia baru melepaskan pelukannya dan menyandarkan Ten ke tempatnya semula.
"Nah, kau pasti pusing kan? Kau harus makan," kata Taeyong lalu mengambil mangkuk bubur hangatnya dan menyuapkan isinya sedikit demi sedikit pada Ten. Ten menatap Taeyong sambil memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Hening. Tak ada suara selain sendok dan mangkuk bubur itu.
"Aku, minta maaf," Ten memecah keheningan. "Aku…"
"Y-ya?"
"Aku tidak tahu kalau…" Ten menundukkan kepalanya lagi. "Bahwa Jaehyun meninggalkanmu saat kau mengandung Myunghee."
Taeyong terdiam. Ia menatap Ten lekat-lekat.
"L-lalu?"
"A-aku benar-benar m-merasa b-bersalah," Ten tergagap. Ia menelan ludahnya dengan sulit sambil menunduk. "J-jika aku tahu saat itu eonni h-hamil… a-aku tidak akan menerimanya."
"Semuanya sudah terjadi, kan."
"Ya," Ten terdiam agak lama lalu menatap Taeyong. "A-aku belum pernah menceritakan h-hal ini pada siapapun… a-alasan Jaehyun… menikahiku."
"Uhm?"
"Ya… ini semua karena…" Ten agak bergetar, "adik ayahku."
Ten mulai bercerita.
-FLASHBACK ON-
"Senang bekerjasama dengan anda," lalu Nickhun memutus sambungan teleponnya.
"Bagaimana, pak?"
"Ya, Perusahaan milik Jung itu bersedia untuk merger dengan perusahaan kita," ucap Nickhun di hadapan seluruh dewan komisaris perusahaannya. "Dengan begini, bisnis kita bisa maju di Korea Selatan. Dan, bisnis mereka juga bisa merambah ke Thailand."
"Wah! Selamat!"
"Memang tidak salah kalau perusahaan ini dipegang oleh anda, pak!"
"Semoga saja perusahaan ini bisa menjadi sebuah perusahaan terkuat."
"Anda memang benar-benar pengusaha yang sesungguhnya!"
Pujian demi pujian dilontarkan pada Nickhun. Semua bersuka cita.
Kecuali satu orang.
Chansung Leechaiyapornkul.
Ia menatap kakaknya itu dengan geram. Ia tidak suka dengan kesuksesan kakaknya.
"Lihat saja, akulah yang akan menyingkirkanmu dan memimpin perusahaan ini!"
"Ayah, kapan akan berangkat? Kenapa aku tidak diajak?" Ten cemberut. Nickhun mengelus surai Ten dengan lembut.
"Ayah dan ibu akan pergi besok. Ini bukan untuk liburan. Ayah harus ke Seoul untuk menemui ayah teman kecilmu itu," ujar Nickhun.
"Ayah Jaehyun?"
"Iya."
"Jadi apa ada kabar baik?"
"Ya, Jaehyun bersedia untuk merger perusahaan dengan ayah. Dengan begini, perusahaan ayah dan perusahaannya akan saling menguntungkan. Dan tentu saja, kau, sebagai satu-satunya pewaris…" Nickhun tersenyum. "akan lebih mudah mengendalikan perusahaan ini nantinya. Kau bisa belajar pada Jaehyun."
"Wow! Such a good news! Ah, ayah bilang, Jaehyun? Menyetujuinya?"
"Jadi anak ayah yang paling cantik ini tidak tahu kalau temannya sudah menjadi pemimpin perusahaannya?"
"Ya… mana aku tahu. Ah, bawakan aku oleh-oleh!"
"Baiklah, ayah akan membawakanmu oleh-oleh. Ingat, belajarlah. Bersiaplah untuk menjadi pemimpin perusahaan keluarga kita," kata Nickhun. "Ayah hanya akan mengurus perjanjian merger ini. Setelahnya, kau yang harus berusaha untuk memajukannya. Ayah percaya padamu."
"Aye-aye! Aku berjanji aku akan membuatnya menjadi lebih baik!"
"Kau akan membiarkan kakakmu itu, Chansung-ah?"
"Bodoh! Tentu saja tidak! Hahahaha."
"Jadi apa rencanamu?"
"Aku akan membuatnya tidak kembali ke Bangkok. Tidak sekarang. Tidak besok. Dan, tidak selamanya!"
"Apa semua sudah siap?" tanya Nickhun pada salah satu teknisi jet pribadinya.
"Sudah, pak. Setengah jam lagi, kita siap untuk ke Seoul."
"Baiklah," Nickhun mempercayakan semuanya pada pekerjanya. Sambil menunggu, ia mengecek ulang berkas-berkas yang akan ia bawa ke Seoul.
Sepertinya merupakan sebuah kesalahan fatal ketika Nickhun tidak mengawasi pegawainya. Karena satu dari delapan orang sudah menyiapkan "sesuatu" pada mesin jet pribadi Nickhun. Pegawai itu tersenyum licik saat semuanya berjalan sesuai rencana. Testing sebelum keberangkatan, pengecekan, dan hal lainnya sangat sempurna. Siap untuk diterbangkan.
Tidak ada yang sadar bahwa "sesuatu" itu adalah awal petaka bagi keluarga Leechaiyapornkul.
"Ada apa?" tanya Nickhun pada Victoria. Victoria berkedip kaget—tersadar dari lamunan.
"T-tidak. Aku… merindukan Ten."
"Sayang, kau ini kenapa? Ten baik-baik saja. Hari ini kau sangat aneh, bahkan kau memeluk Ten dengan sangat erat dan berpesan sangat banyak padanya seolah ini adalah hari terakhirmu bertemu dengannya," Nickhun menghela nafas sambil mengusap surai Victoria. "Kita ke Seoul hanya tiga hari, setelahnya kita akan bertemu dengan Ten lagi."
"Uhm," Victoria bergumam lalu memandang suaminya itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Sedari keberangkat, firasat buruk terus menghantuinya.
DUG!
Tiba-tiba pesawat terguncang. Victoria langsung panik sementara Nickhun berusaha untuk menenangkannya. "Ada apa ini!?" teriak Nickhun.
"Darurat! Mesin pesawat ini mati!" teriak sang pilot. Victoria menelan ludah kasar begitu pula dengan Nickhun.
"Apa!?"
"Mesinnya pak… mesinnya mati! Kita harus segera menyelamatkan diri!" sang pilot berinisiatif untuk membuka pintu darurat. Sayang, pintunya macet. Victoria berteriak panik sambil menangis. Sementara Nickhun berusaha membobol pintu darurat itu.
"Cepatlah! Ya Tuhan kumohon… selamatkan kami…"
"Sial! Pintunya macet!"
"Nickhun cepatlah!"
"Pintunya sama sekali tidak bisa dibuka!"
"Ten… Ten… ayah dan ibu menyayangimu…"
Sayangnya sebelum mereka semua sempat menyelamatkan diri, pesawat itu sudah tenggelam di laut lepas.
"AYAH! IBU!" Ten terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan mimpi buruk. Keringat membanjirinya. Nafasnya menderu, ia bahkan hampir menangis. Ia menatap jam dindingnya. Pukul 23.25.
Di detik berikutnya, ponselnya berdering. Ten mengernyitkan dahinya heran. Dilihatnya layar ponselnya dan tertera nama Paman Chansung disana. Ia segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Aku ada berita duka untukmu," nada suara Chansung dibuat bersedih. "Ayahmu… pesawat ayahmu hilang."
"Paman pasti becanda."
"Tidak," suaranya semakin menjadi sedih. "Barusan saja operator mengatakan kalau mereka kehilangan sinyal pesawat ayahmu itu. Terakhir, mereka hanya menemukan sinyal di Laut China."
"T-tidak," Ten bergetar. "Paman becanda."
"Tidak, nak. Apa kau pikir paman ini tega bermain-main dengan kematian?"
"T-tidak…"
"Mereka akan mengabarimu secepatnya nak. Berdoalah yang banyak," lalu sambungan terputus begitu saja. Ten menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar hebat.
Sementara Chansung mengangkat satu alisnya dan tertawa bahagia. "Ya nak. Berdoalah saja agar orangtuamu diterima di sisi Tuhan. Setelah itu, aku akan mendapatkan hak asuhmu dan perusahaan itu akan menjadi milikku. Hahahahahaha."
Seluruh anggota dewan komisaris perusahaan milik keluarga Leechaiyapornkul itu menatap Chansung tajam. Mereka semua sudah mendengar berita tentang kecelakaan Nickhun yang akan mengurus masalah merger perusahaan itu dengan perusahaan milik keluarga Jung. Semua orang tahu kalau Chansung sangat terobsesi menjadi pimpinan salah satu perusahaan terbesar di Thailand itu dan mereka tahu betapa bejatnya adik Nickhun itu.
"Jadi…" Zico membuka suara. "Satu-satunya pewaris perusahaan ini adalah Ten. Sementara kita tahu bahwa kemampuan manajemen Ten terhadap perusahaan ini masih sangat kurang."
"Ya," jawab beberapa anggota dewan yang lain. "Lalu bagaimana?"
"Ten akan kuasuh, kalian semua tahu itu," Chansung angkat bicara. "Jadi, aku bisa membantunya untuk memanajemen perusahaan ini."
"Bukannya aku tidak percaya padamu," balas Zico sambil menatap Chansung sinis. "Aku yakin kau yang membunuh Nickhun agar hak asuh Ten jatuh di tanganmu. Aku yakin kau yang menyuruh salah satu teknisi untuk menaruh bom di dalam mesin jet itu."
"Oh. Apa buktinya?" tanya Chansung dengan santainya. "Kalian tidak memiliki bukti bahwa aku bersalah. Semua itu kecelakaan teknis. Untuk apa aku membunuh kakakku sendiri? Aku rasa aku tidak perlu melakukannya."
"Ya, kau terlalu pintar untuk menghapus jejakmu sendiri."
"Hahahaha, tuduh saja aku sepuas kalian. Toh kalian tahu sendiri polisi membebaskanku dari tuduhan pembunuhan, kan? Bahkan semua teknisi juga dinytakan tidak bersalah dan telah diputuskan bahwa kecelakaan itu adalah kesalahan teknis karena mesin yang terbakar."
"Berhentilah berdebat," Seungri memotong perdebatan Zico dan Chansung yang memanas. Zico langsung diam sementara Chansung menatap tidak suka. "Kita akan memikirkan jalan keluarnya."
"Memikirkan? Sudah sangat jelas kalau hak asuh Ten akan berada di tanganku. Kalian akan mengurus gadis itu untuk diasuh keluarga Seo? Keluarga Seo tidak memiliki hak untuk mengasuh Ten," jawab Chansung dengan sedikit emosi. "Kalian semua memang benar-benar tidak berguna."
Chansung keluar dari ruangan itu. Semua anggota dewan tetap pada tempatnya.
"Jadi, bagaimana? Aku tidak mau uangku terbuang sia-sia bila perusahaan ini jatuh ke tangan Chansung," ujar Zico sambil menyilangkan tangannya. "Dan apa katanya tadi? Keluarga Seo?"
"Ya, keluarga Seo, keluarga dari Victoria," jawab Seungri. "Kita jelas tidak bisa mengalihkan hak asuh Ten pada keluarga Seo karena apabila itu terjadi, maka Ten akan resmi menjadi anggota keluarga Seo sementara perusahaan ini akan jatuh ke tangan Chansung. Keluarga Seo tidak memiliki hak atas perusahaan ini karena mereka tidak memiliki bagian dalam perusahaan ini. Mereka memiliki perusahaan mereka sendiri."
"Lalu?"
"Satu-satunya cara, adalah membiarkan Ten hidup sendiri dan itu akan memperburuk keadaan. Atau… ia menjadi anak pihak keluarga Jung."
"Sama saja, itu juga tidak bisa dilakukan," ujar Changmin. "Kalau Ten menjadi anak keluarga Jung, maka perusahaan tetap harus dipindah tangankan pada Chansung, karena Ten akan resmi menjadi anggota keluarga Jung dan satu-satunya yang masih bertahan di dalam pihak Leechaiyapornkul hanyalah Chansung. Keluarga Jung hanya me-merger perusahaan ini. Semua prosedur dan kegiatan perusahaan kembali ke pemimpin masing-masing dari kedua pihak. Jadi, tetap saja ia tidak punya hak untuk mendapatkan perusahaan ini, kecuali Nickhun sebelumnya telah membuat perjanjian secara resmi."
"Jadi bagaimana keputusannya?" tanya Zico agak frustasi. "Kalau salah satu dari kita maju untuk menggantikan Nickhun itu juga melanggar peraturan karena Nickhun masih memiliki satu pewaris yang hidup dan sah."
"Caranya…" Changmin menatap rekan-rekannya. "Pernikahan politik. Kita menikahkan anak keluarga Jung dengan Ten. Jadi, Ten akan tetap memegang perusahaan itu dan menjalankannya bersama anak dari Jung itu. Kalau begitu, tidak dipermasalahkan bagi anak keluarga Jung untuk me-manage perusahaan karena ia menikahi Ten."
"Jadi, seperti pernikahan dua kerajaan? Pernikahan dua petinggi berbeda negara?"
"Ya begitulah."
"Hahhhh."
"Kelihatannya, hanya itu satu-satunya cara."
"Appa memanggilku?" Jaehyun menghampiri Tuan Jung dengan wajah yang sangat penasaran. Ia sudah mendengar soal kematian orangtua Ten, dan ia pikir ayahnya akan membicarakan soal perusahaan.
"Ne. Sini, duduklah," Tuan Jung menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. "Aku mau berbicara. Serius."
"Ne, appa."
"Appa tidak tahu harus memulai darimana," Tuan Jung tampak kebingungan sementara Jaehyun menunggu dengan sabar. "Kau, sudah berusia 23 tahun, kan?"
"Nde. Lalu kenapa?"
"Menikahlah dengan Ten."
"Mwo!?"
"Menikahlah dengan Ten."
"Hah?" Jaehyun benar-benar hampir saja meloncat dari tempatnya. Ia berusaha mencari kebohongan di wajah ayahnya tapi sia-sia. Ayahnya serius. "Appa… serius?"
"Tentu saja. Menurutmu aku becanda?"
"Tapi appa, aku sudah memiliki pacar!"
"Aku tahu, sekarang dengarkan aku," wajah Tuan Jung menyiratkan sesuatu yang tidak biasa. "Ten membutuhkanmu. Bukan hanya Ten, tetapi juga appa dan komisaris perusahaan lainnya. Para staff, semuanya. Kami membutuhkanmu."
"Untuk apa!? Aniya! Aku tidak mau menikahi Ten!"
"Hahhh," rasa lelah tersirat dari wajah Tuan Jung. "Setelah kematian orangtua Ten, perusahaan pasti jatuh ke tangannya. Tapi kau tahu kan Ten belum mengenal perusahaan dengan baik. Kau juga pasti tahu soal Chansung yang diduga membunuh orangtua Ten demi mendapatkan perusahaan itu. Kalau hak asuh Ten jatuh pada kelurga ibunya, maka perusahaan itu otomatis diserahkan pada Chansung karena keluarga ibunya tidak memiliki andil dalam perusahan itu. Sementara kalau ia diasuh oleh Chansung, maka perusahaannya akan dikendalikan oleh Chansung. Ten bisa saja dicoret dari keluarga itu setelah Chansung mendapatkan harta Nickhun."
"Lalu? Angkat saja ia jadi nunaku!"
"Tidak bisa, karena kita seperti keluarga Seo. Ten secara otomatis akan menjadi anakku yang itu berarti ia tidak memiliki hak untuk diwariskan. Kita tidak memiliki andil dalam perusahaan itu, kita hanya menggabungkan. Kita tidak memiliki hak waris untuk perusahaan itu dan otomatis, tetap saja jatuh ke tangan Chansung."
"…."
"Satu-satunya cara hanya menikah. Dengan begitu, secara sah pihak sini dan sana tidak menyalahi aturan untuk tetap membuat Ten sebagai ahli waris karena dia dihitung memiliki keluarga baru, bukan menjadi anggota keluarga kita. Appa tidak ingin memaksamu, sebenarnya. Karena pernikahan dilakukan sekali seumur hidup. Tetapi…" Tuan Jung menggantungkan kalimatnya.
"Ya?"
"Kau akan menghadapi Chansung sebagai partner kerjamu dan kita bisa mati di tangannya," Tuan Jung menghela nafas. "Aku tahu ini sangat berat karena kau benar-benar mencintai kekasihmu yang cantik itu. Tetapi… apa kau tega melihat teman masa kecilmu itu menjadi gelandangan di jalan? Apa kau mau kita jatuh miskin karena Chansung? Apa kau rela para dewan dan staff yang mempercayai kita terkena dampaknya juga?"
"Tentu saja… tidak."
"Maka dari itu, pikirkanlah," ujar Tuan Jung sambil menepuk kepala Jaehyun. "Aku tahu ini sangat berat. Kalau bisa, appa juga mau menikahi Ten, hahaha. Tetapi, itu juga menyalahi aturan. Bisa-bisa eomma-mu minta cerai dari appa."
Candaan ayahnya benar-benar tidak berefek pada Jaehyun. Jaehyun menatap ayahnya lama dengan wajah tertekuk.
"Ya… aku akan… memikirkannya."
"Demi perusahaan, para staff, appa, dan terutama kau, Jaehyun-ah."
"Aku sudah memikirkannya," ujar Jaehyun saat menemui ayahnya di kantor. Tampangnya begitu kusut. Sepertinya ia benar-benar terbebani soal hal ini. Selama dua minggu ia tidak bisa tidur dan makan dengan baik.
"Ya?" Tuan Jung melihat kegusaran di wajah anaknya. Ia menghela nafas. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk memaksa Jaehyun.
"Aku… bersedia menikahi Ten."
"Kau serius? Appa tidak memaksamu, nak," terlihat dari raut wajahnya bahwa Tuan Jung benar-benar kaget dengan keputusan yang diambil oleh Jaehyun.
"Aku serius."
"Appa tekankan sekali lagi, appa tidak memak—"
"Aku sudah bulat dengan keputusanku, appa. Hidup orang banyak ada di tanganku," Jaehyun menghela nafas panjang. "Kalau aku tidak menikahi Ten, bukan hanya dia yang akan jadi gelandangan. Tapi, kita juga."
"Ya," Tuan Jung menarik nafas dalam-dalam lalu menatap putra kesayangannya itu. "Kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu ini?"
"Semoga…" Jaehyun menghela nafas. "Aku… awalnya tidak yakin. Tetapi aku rasa, aku memang harus melakukannya. Demi appa dan para staff, aku rela melakukannya."
"Nak," Tuan Jung tersenyum bangga tapi juga miris. Tangannya menepuk-nepuk bahu lebar anaknya. "Aku bangga padamu. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengambil keputusan sebesar ini."
"Ya, demi keluarga kita."
Tanpa dibawah paksaan, Jaehyun bersedia meninggalkan Taeyong untuk menikahi Ten.
-FLASHBACK END-
"Ya, dan setelahnya… aku sempat ketergantungan pada obat-obatan karena aku tidak bisa tidur dengan lelap semenjak orangtuaku meninggal," ungkap Ten sambil tersenyum sangat tipis. "Hari-hari terasa bagai neraka. Apalagi Jaehyun saat itu sempat tidak mengajakku berbicara selama dua bulan."
"Dua bulan?"
"Ya, dua bulan. Aku berfikir untuk mengakhiri hidupku saja. Rasanya, dengan kehadiran Jaehyun hidupku terasa makin berat. Tapi aku terlalu sadar itu akan menambah masalah. Aku rasa, aku harus tetap hidup apapun yang terjadi demi menyelamatkan keluargaku sendiri dari keserakahan pamanku itu."
"…"
"Ia benar-benar pendiam saat itu. Pergi ke kantor sangat pagi dan pulang sangat malam, seolah ia enggan bertemu denganku. Bahkan, aku baru tidur sekamar dengannya ketika memasuki bulan ketujuh. Ia mulai bisa menerima keadaan bahwa istrinya adalah aku. Bukan kekasih yang sangat ia cintai. Ya, walaupun ia masih belum bicara banyak padaku."
"L-lalu?"
"Ya, sampai pada sebuah titik dimana aku jatuh sakit. Hahaha, aku ingat dia sangat khawatir dan akhirnya ia merawatku. Membuat bubur, dan menyuapinya… sepertimu," Ten tertawa miris. "Benar-benar seperti eonni. Ia mengomel dan disitulah aku merasa ia benar-benar ada. Kami berbicara cukup banyak utnuk pertama kalinya, dan akhirnya kami tidur sekamar."
"Tujuh bulan setelah pernikahan kalian?"
"Ya. Ia sempat depresi selama lima bulan, lalu dua bulannya merupakan masa transisinya. Selama itu ia tidur terpisah dariku. Hahaha, kau tahu tidak, aku dan dia sama-sama mengkonsumsi obat namun ia harus menjalani terapi. Ia benar-benar seperti mayat hidup saat itu."
"Terapi? Separah itu?"
"Ya, separah itu," Ten menatap Taeyong dengan tatapan miris. "Terlalu banyak beban yang ia pikul saat itu. Aku masih ingat saat ia mati-matian melindungiku dari pamanku itu. Pamanku kalap saat mendengar pernikahanku dan menyerangku di acara pernikahan tapi Jaehyun melindungiku. Hahaha."
"Separah itu? Lalu dimana pamanmu sekarang?"
"Ia… sudah meninggal. Polisi memenjarakannya di hari pernikahanku, ia frustasi, lalu bunuh diri di sel," jawab Ten. Tak terasa, bubur yang ada di mangkuk habis. Ten merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. "Eonni, terima kasih kau telah merawatku."
"Kita teman, bukan? Kau tak perlu mengatakan itu."
"Aku benar-benar…" Ten menggigit bibir bawahnya. "Kau melakukan banyak hal untukku. Terima kasih. Aku sayang padamu, eonni."
-TBC-
Hai!
Sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya atas fanfict ini.
Mungkin banyak yang gasuka gitu ya, karena pairnya.
Kemaren aku ada nemu yang review "sebaiknya di kasih warning untuk crack pair". Nah makasih banget ya sayangku uda ngingetin… Aku udah pasang warning juga kok. Yah agak telat sih yah, maaf banget /bow/.
Nah jadi author mau klarifikasi, kalau awalnya FF ini emang cast-nya cuma JaeTenYong. Serius, sampai akhirnya ada satu temen yang bilang "kamu kalo bikinnya lempeng gni nggak ada emosi, ya nggak greget. Aneh juga, ya masa ada orang di dunia ini udah disakitin masih aja pasrah nggak ngelawan nggak apa gitu. Masa orang nggak punya emosi. Tambahin satu pemain lagi biar nggak bosenin, biar ada konflik."
Dan, author ngikutin saran temen itu tadi. Jadi, jujur author juga agak menyesali pemilihan karakternya disini. Tapi karena uda setengah jalan, jadi ya… ya… mau gimana lagi. Hehehe.
Jadi, sekali lagi author minta maaf ya /deep bow/
Nah, makasih buat yang uda review sama kasih saran. Itu bener-bener penyemangat banget buat saya.
Now, mind to RnR (again)?
-with love, Lianatta.
