Title: Melted
Chapter: 9
Genre: Romance/Gender-Switch, angst, fluff
Rating: T
Main Cast:
Lee Taeyong [NCT]
Jung Yoon Oh a.k.a Jaehyun [NCT]
Chittaphon Leechaiyapornkul a.k.a Ten [NCT]
Seo Youngho a.k.a Johnny [NCT]
-oOo-
I was born to tell you I love you
And I'm torn to do what I have to
To make you mine
Stay with me tonight
(Secondhand Serenade – Your Call)
-oOo-
Ten memoleskan bedak tipis di wajahnya. Rasanya lebih ringan dari sebelumnya meskipun mata sembab masih menghiasi wajahnya. Ia tersenyum tipis melihat pantulan dirinya di kaca.
"Sudah?" tanya Taeyong tiba-tiba. Ten menoleh dan tersenyum.
"Sudah," jawabnya. Hari ini, ia menggunakan legging hitam dan sweater pink over-sized. Ia merasa lucu menggunakan pakaian sesuai gaya Taeyong itu. Memang lebih nyaman menggunakan pakaian simpel seperti itu daripada high-heels dan dress.
"Ayo, Myunghee pasti sudah menunggu," ujar Taeyong sambil mengisyaratkan Ten untuk mengikutinya. Ten menyerahkan kunci mobilnya pada Taeyong dan mereka segera pergi ke rumah Keluarga Jung.
Taeyong melirik Ten yang tampak terdiam dengan pandangan kosong. Ia menghela nafas. Ia tidak mengerti mengapa semuanya terasa begitu rumit. Entah apa dosa para manusia itu sampai-sampai terjadi hal seperti ini. Ia menggelengkan kepalanya—berusaha berkonsentrasi atau ia bisa-bisa menabrak.
"Kau… baik-baik saja, eonni?" tanya Ten hati-hati. Taeyong hanya mengangguk sambil tersenyum, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ten tersenyum tipis lalu kembali menyamankan posisi duduknya pada jok mobil tersebut. Tidak ada kata yang terucap saat mobil itu melaju. Kedua dara itu hanya diam dengan berbagai pertanyaan muncul di kepala masing-masing.
Begitu sampai di depan rumah Keluarga Jung, Ten dan Taeyong tidak langsung keluar dari mobil itu. Keduanya hanya diam di dalam mobil beberapa saat sebelum Ten menghela nafas berat lalu menatap Taeyong intens.
"Eonni, kau tidak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja, Ten."
"Uhm, ayo kita masuk," Ten segera keluar dari mobil itu disusul dengan Taeyong. Sejujurnya perasaan Ten saat ini benar-benar tidak enak. Entah dapat ilham darimana, ia benar-benar merasakan betapa tersiksanya Taeyong saat memasuki rumah mewah itu. Ia menghela nafas. Eonni sudah bilang ia baik-baik saja kok. Semoga benar begitu, pikirnya.
Hal pertama yang dilihat oleh kedua turunan Hawa itu adalah Jaehyun yang terdiam di ruang tengah dengan televisi yang menyala. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa empuk itu dengan nyaman namun kentara sekali dari wajahnya, ia frustasi.
"Jaehyunnie." Ten memanggil nama pria itu. Yang dipanggil menoleh dan matanya membulat sempurna.
"Ten! Astaga kemana saja kau?!" Jaehyun langsung berdiri dan menghampiri istrinya itu. Ten hanya tersenyum tipis. "Aku panik mencarimu."
"Mian," jawabnya—hampir berbisik. Suaranya tampak benar-benar lemah. Jaehyun membawa gadis berambut hitam itu ke dalam pelukannya. Ten balas memeluk Jaehyun dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Jaehyun.
Taeyong hanya diam melihat pemandangan di hadapannya. Tidak, perasaan cemburu yang selama ini selalu membara di hatinya sirna. Tergantikan oleh perasaan canggung karena masalah kemarin.
Mata Jaehyun menangkap sosok Taeyong yang hanya berdiri dalam diam itu. Jaehyun menutup matanya frustasi lalu menghela nafas berat. "Myunghee di kamar."
"Ya, terima kasih," ujar Taeyong sekenanya. Ekor mata Jaehyun mengikuti langkah gadis itu. Perasaan bersalah kembali menyelimuti pria Jung itu.
Tidak… Aku harus melupakannya. Tidak, aku adalah milik Ten.
Taeyong berjalan dengan pelan menuju kamar Ten. Ia menghela nafas berat. Ia benar-benar pening demi apapun. Wanita Lee itu berhenti tepat di depan kamar Ten. Tidak ada niatan untuk masuk. Ia hanya diam berdiri sembari memandangi anaknya yang tengah asyik dengan Micha dan juga… Johnny Seo.
Sang sumber masalahnya.
Sepertinya Myunghee peka. Ia menoleh ke arah pintu dan matanya langsung berbinar. "Eomma!" anak itu langsung berlari menghampiri Taeyong. Taeyong dengan sigap menggendong anak itu. "Eomma kemana? Aku merindukan eomma! Huhuhuhu."
"M-maafkan eomma," Taeyong menelan ludah kasar. "Semalam eomma ada urusan mendadak, sayang."
"Ah," Myunghee hanya mengucapkan kata itu dan memeluk Taeyong erat. Pipi Taeyong tak luput dari ciuman rindu anaknya. Sementara Taeyong dan Myunghee tampak melepas rindu, Johnny yang menjaga Micha menatap dua figur itu dengan tatapan tak terbaca.
"Taeyongie," Johnny memanggil Taeyong dengan suara kecil. Yang merasa dipanggil menoleh ke sumber suara.
"Ya?"
"Maaf," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Johnny. "Aku tahu aku terlalu seenaknya sendiri."
Taeyong terdiam. Ia menelan ludahnya dengan kasar. "Aku permisi," ia hanya mampu mengucapkan kalimat itu. Terlalu lama berada di rumah Keluarga Jung benar-benar tidak baik untuk kesehatan emosinya saat ini.
Jadi, tanpa mempedulikan tatapan tak terbaca Johnny, pandangan terluka Jaehyun, serta kondisi Ten yang lemah, ia membawa Myunghee untuk pulang bersamanya.
-oOo-
Jaehyun tampak menyelimuti Ten yang kini terserang demam. Ia sudah memberikan obat demam dan juga air putih untuk istrinya itu, dan kini saatnya bagi Ten untuk tidur.
"Kau harus banyak-banyak beristirahat," ucap Jaehyun sambil menempelkan strip penurun demam di kening Ten. "Kalau kau ada pikiran, kumohon singkirkan dulu semua itu."
"Aku mengerti," bisik Ten. Ia menatap Jaehyun cukup lama. Keadaan benar-benar hening. Ten tidak tahan. Ia menghela nafasnya lalu mulai memecah kesunyian. "Jaehyunnie…"
"Ya?"
"Maafkan aku… Aku menyakitimu."
"…"
"Aku… Aku tahu aku telah membuatmu terluka."
"…" tanpa mengucapkan sepatah katapun, Jaehyun langsung memeluk Ten. Ten membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan itu. Jaehyun mencium pelipis Ten sayang.
"Aku… Aku…"
"Ssstt, tenanglah," Jaehyun mengusap kepala Ten dengan lembut. "Kumohon jangan menangis lagi. Matamu benar-benar bisa bengkak parah kalau kau menangis terus."
"…" Ten terdiam dan menahan airmatanya yang entah sudah berapa liter ia keluarkan. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya. "Jae…"
"Ya?"
"Apa kau bersedia mengulangi semuanya dari awal?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu masalah kita terlalu rumit," Ten melepaskan pelukan Jaehyun, "dan aku hanya ingin kita mengulangnya dari awal. Maksudku… ayo kita membangun rumah tangga kita lagi, dari awal. Membuka lembaran baru antara Jaehyun dan Ten. Tanpa ada Taeyong. Apalagi Johnny yang membencimu. Lembaran baru yang akan memulai kisah antara Ten dan Jaehyun yang saling mencintai."
"…" Jaehyun terdiam sesaat. Ia memandangi Ten lekat-lekat.
"Maksudku… Ayo kita lupakan masalah ini. Soal perasaanmu dan masalahmu dengan Johnny. Soal cemburuku pada Taeyong. Aku ingin kehidupan kita lebih baik setelah masalah ini ada."
"Aku…" Jaehyun menatap Ten lekat-lekat lalu menggenggam tangan gadis Thailand itu. "Aku mencintaimu, Ten."
Ten dan Jaehyun sama-sama tersenyum lembut. Jaehyun sudah mantap. Ia sudah melangkah.
Bahwa hatinya hanya dimiliki oleh Chittaphon Leechaiyapornkul, bukan Lee Taeyong.
Dan kini, makna mencintai itu sudah berubah di telinga Ten. Bukan karena sebuah tanggung jawab. Bukan karena status. Ya, Jaehyun benar-benar mencintainya.
-oOo-
Johnny menghentikan laju mobilnya tepat di depan toko roti dengan nuansa floral itu. Ia melangkah masuk dan mendekati sang kasir. Siapa lagi kalau bukan si pemilik toko alias Taeyong.
"Ada ap—Johnny?"
"Aku butuh bicara padamu. Aku bersedia menunggumu sampai pekerjaanmu selesai," nada serius terdengar begitu kental di dalam kalimat pria itu. Taeyong terdiam sejenak lalu menatap jam dinding dan pintu yang tidak menunjukkan tanda-tanda adanya kehadiran pelanggan baru setelah Johnny masuk.
"Kita bisa bicara sekarang," Taeyong berbisik. Rasa tidak nyaman itu muncul. Johnny sadar akan hal itu, namun ia benar-benar butuh untuk berbicara dengan Taeyong. Tanpa meminta persetujuan dari Taeyong, Johnny segera menarik tangan wanita berambut coklat itu tanpa ada niatan memaksa atau menyakitinya. Taeyong segera menarik tangannya. Johnny menghela nafas dan membiarkan Taeyong mengikutinya dari belakang.
Johnny membawa Taeyong ke sebuah taman kota yang belum pernah dikunjungi Taeyong sebelumnya. Johnny memilih spot ternyaman untuk duduk dan setelahnya mereka tenggelam dalam keheningan, membuat Taeyong jengah.
"Jadi? Aku meluangkan waktuku bukan untuk diam-diaman seperti ini."
"Aku minta maaf," Johnny menyahut dengan cepat. "Aku tak bermaksud mempermalukanmu malam itu. Sungguh."
Taeyong diam lalu membuang nafasnya kasar. Ia menunggu Johnny melanjutkan kalimatnya.
"Aku benar-benar menyukaimu."
"…"
"Aku tahu aku datang dalam hidupmu di saat yang sangat tidak tepat dan malah membuat segalanya terasa begitu rumit. Aku kasar padamu? Ya, aku akui itu. Aku merusak kepercayaanmu? Aku juga mengakui itu. Tapi kau harus tahu…"
"…"
"Selama aku menghabiskan waktu denganmu, aku jatuh terlalu dalam padamu."
"…"
"Aku benar-benar menyukaimu, Lee Taeyong."
"…" Taeyong berusaha mencerna apa yang dikatakan pemuda blasteran itu padanya. Ia menundukkan kepalanya sebentar sebelum mendongakkan kepalanya dan menatap Johnny yang sedang menatapnya serius. "Aku hargai itu tapi… Kau tahu kan? Menyembuhkan luka butuh waktu."
"Aku tahu."
"Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri setelah semua ini terjadi."
"Aku juga tahu soal itu."
"Aku benar-benar…" Taeyong menggigit bibirnya, setengah yakin dengan apa yang akan dikatakannya, "aku tidak nyaman dengan semua ini."
Johnny tersenyum pahit. Ia tahu, setelah semua ini Taeyong tidak akan pernah merasa nyaman lagi padanya.
"Setidaknya kau datang padaku dan meminta maaf. Aku benar-benar menghargai itu."
"Terima kasih," Johnny menatap arah lain.
Taeyong tersenyum begitu tipis. "Bisakah kita kembali ke tokoku? Aku rasa aku harus menutupnya sekarang."
-oOo-
Johnny mengganti channel televisi itu dengan acak tanpa ada niatan untuk menontonnya. Ia menghela nafas lalu menyamankan posisi duduknya yang kurang nyaman. Otaknya berputar, ia tidak menyangka semuanya akan seperti ini.
Ten perlahan berjalan mendekati kakak sepupunya itu. Di tangannya ada segelas jus jeruk yang memang ia siapkan untuk Johnny. "Hei."
"Hmmm?"
"Taeyong eonni belum memaafkanmu?"
"Begitulah."
"Uhm," Ten menghela nafas berat lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Taeyong itu keras sekali…"
"Keadaan yang membuatnya jadi seperti itu," Johnny tersenyum miris. "Aku tidak sanggup menghitung berapa banyak dosaku pada wanita itu."
"Kau memberikan luka bahkan melebihi apa yang diberikan Jaehyun padanya," Ten menyahut lalu menatap Johnny. "Temui dia lagi. Aku rasa ia akan memaafkanmu setelah kau mencoba meminta maaf beberapa kali padanya."
"Entahlah. Aku lelah," Johnny tampak frustasi. Bagaimana tidak? Setelah permintaan maaf di taman sore itu, Johnny kembali menemui Taeyong untuk meminta maaf namun tetap saja sikap Taeyong padanya begitu dingin—sangat kentara sang single-parent itu merasa tidak nyaman di dekat Johnny. "Aku menyerah."
"Ya oppa!" Ten langsung menyerang Johnny dengan bantal. "Jangan menyerah begitu saja! Bagaimana pun itu kan kesalahanmu! Kalau kau menyerah begini, kau pikir ia akan suka?! Yang benar saja," Ten memutar bolamatanya.
"Aku tahu."
"Ayolah, berpikir! Kau bisa dapatkan hatinya saat kau mengajak Myunghee bermain! Kau mendapat kepercayaannya!"
"Tapi itu dulu Ten."
"Percaya atau tidak, Taeyong itu hanya emosi," Ten menatap Johnny serius. "Taeyong itu kosong, dan ia butuh pendamping. Kau pikir saja sekuat-kuatnya kami, Kaum Hawa, kami juga bisa berada di titik terendah dimana kami butuh sosok yang bisa men-support kami dan mengerti kami. Hidup sendiri terlalu lama benar-benar bisa membuat hati kami seperti batu."
"Lalu? Apalagi yang harus kulakukan?"
"Tunjukkan padanya kalau kau ini lelaki yang tepat untuk mengisi kekosongannya. Buat ia nyaman seperti dulu. Jangan lakukan kesalahan bodohmu untuk kedua kalinya. Oke, lakukan sekarang atau kau akan menyesal."
-oOo-
"Eomma, berapa lama lagi kita harus berada disini?" Myunghee tampaknya bosan menemani sang ibu yang tengah berbelanja di supermarket itu.
"Sebentar lagi, sayang. Eomma hanya kurang membeli satu bahan makanan lagi kok," Taeyong mengusap kepala Myunghee penuh kasih sayang. Myunghee agak mengerucutkan bibirnya.
"Eomma, bisakah setelah berbelanja kita mampir ke rumah Ten ahjumma? Sudah sangat lama kita tidak pernah kesana," tiba-tiba Myunghee mengatakan keinginannya itu. Tubuh Taeyong menegang. Yang benar saja, ia harus pergi ke rumah itu?
"Ten ahjumma kan sedang sibuk-sibuknya, sayang."
"Tapi aku kangen Micha dan Uncle John," Myunghee menatap Taeyong dengan mata polosnya yang begitu imut. Taeyong menghela nafas. Mata itu tidak berbohong kalau ia merindukan orang-orang di rumah Jung.
"Baiklah, setelah ini kita mampir."
"Yeay! Eomma terbaik!"
-oOo-
"Eonni! Sudah lama tidak berkunjung! Aigooooo si kecil Myunghee, apa kabarmu?" Ten tampak begitu excited dengan kehadiran Taeyong dan Myunghee. Myunghee nyengir lebar lalu memeluk kaki Ten. Dengan gemas, Ten menggendong Myunghee.
"Myunghee baik kok. Ahjumma sendiri? Ah, aku ingin main sama Micha," Myunghee langsung to the point menyatakan alasannya berkunjung. Ten tersenyum lalu menurunkan anak itu—setelah beberapa kali menciumi pipi Myunghee karena gemas—dan membiarkannya berlari ke kamar untuk menemui Micha.
"Eonni?" Ten menyentuh pundak Taeyong, membuat yang disentuh langsung gelagapan. "Kau melamun?"
"T-tidak kok."
"Kau berbohong," Ten menatapnya serius. Taeyong agak merinding karena Ten belum pernah melempar tatapan seserius itu padanya. "Kau ada masalah? Kupikir kau sedang menghadapi sesuatu yang berat."
"T-tidak. Bukan apa-apa," Taeyong hanya tersenyum tipis. Ten meraih tangan Taeyong lalu mengajak wanita itu untuk pergi ke kolam renang yang ada di belakang rumah itu. Taeyong hanya menurut. Saat melewati kamar Ten, ia bisa melihat Myunghee yang tampak asyik dengan Micha dan tentu saja…
Johnny Seo.
"Ya uncle, aku kesepian kalau tidak ada uncle," ujar Myunghee polos. Taeyong yang sempat mendengar hal itu kembali menegang. Jantungnya bergerak liar tidak karuan. Namun ia diam saja dan tetap mengikuti Ten. Ten mengisyaratkan Taeyong untuk duduk di sebelahnya begitu mereka berada di kolam renang itu. Taeyong menurut, ia bahkan juga ikut mencelupkan kakinya ke dalam kolam itu.
"Dingin ya?"
"Begitulah, Ten."
"Ini yang biasa kulakukan untuk merilekskan pikiranku sendiri," Ten tersenyum kecil lalu menatap Taeyong. "Selama ini kau sering membantuku, kan? Kau bilang kita ini… teman kan?"
"Ya, lalu?"
"Kau ada masalah apa?"
"Uhm itu…" Taeyong menunduk seakan ia tidak siap menceritakannya. Namun Ten memegang tangan eonni-nya itu dan menggenggamnya lembut.
"Baiklah kalau tidak ingin menceritakannya sekarang juga tidak apa-apa. Yang penting kau mer—"
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk… merasa nyaman kembali."
"…" Ten terdiam sejenak. Seperti dugaannya, pasti sumber masalah Taeyong adalah Johnny. "Kau hanya perlu memaafkannya dengan tulus. Oke, itu memang sangat tidak mudah dilakukan tapi percayalah, ketika eonni berdamai dengan seseorang dan ikhlas, semuanya akan terasa lebih baik."
"Begitu ya," Taeyong bergumam dengan sangat lirih. Ten tertawa kecil.
"Percayalah eonni, semua akan baik-baik saja kalau kau ikhlas memaafkan."
-oOo-
"Begitu uncle," Myunghee selesai dengan celotehan seputar sekolahnya. Johnny manggut-manggut sambil ikut menonton channel Nickelodeon yang digemari Myunghee. Johnny menyandarkan punggungnya ke sofa, sementara Myunghee yang duduk di pangkuan Johnny menyandarkan diri ke tubuh Johnny. Tiba-tiba keadaan jadi hening.
"Hey kid, sudah lama ya kita tidak bermain bersama," Johnny memecah keheningan. Tangannya bergerak mengusap surai hitam Myunghee.
"Iya uncle. Eomma suka sibuk sih… Myunghee jadi tidak bisa kesini," anak itu membalikkan tubuhnya ke arah Johnny lalu mengerucutkan bibirnya lucu. Johnny sampai gemas melihatnya.
"Ya eomma kan bekerja jadi sibuk."
"Iya, jadinya aku suka kesepian."
"Hmmm?"
"Iya uncle. Kalau eomma bekerja, lalu aku dititipkan ke Bibi Shim, rasanya sepi. Tidak ada Micha, tidak ada uncle. Aku sedih. Rasanya seperti aku hidup sendirian."
"Kan ada Bibi Shim."
"Tapi rasanya beda," Myunghee menatap Johnny. "Uncle itu seperti ayahku sendiri. Aku pasti senang kalau uncle menikah dengan eomma lalu jadi ayahku!"
Johnny terdiam. Ia tersenyum tipis. Kalau bisa aku juga ingin menikahi ibumu itu nak, batinnya.
Taeyong hampir saja menyemburkan jus jeruk yang ia minum saat mendengar penuturan Myunghee—tentu saja Taeyong dengar karena ia berdiri tidak jauh dari ruang tengah itu. Sementara Ten menatap Taeyong.
"Anak kecil itu selalu jujur, benar kan eonni?" celetuk Ten. Taeyong menoleh.
"Iya, mereka selalu jujur."
"Myunghee sudah terbiasa dengan kehadiran oppa."
"Ya…"
"Jadi… apa kau masih kekeuh untuk tidak memaafkan Johnny?"
Taeyong terdiam lalu menatap Ten yang tengah menatapnya penuh tanya. Ia menghela nafas berat. Ia cukup lelah dengan semua ini.
"Hanya waktu yang bisa menjawab, Ten. Jeongmal mian."
-oOo-
"Myunghee? Aku tidak tahu, eonni. Sedari tadi aku di rumah," jawab Ten saat mendapati Taeyong yang dengan panik mampir ke rumahnya menanyakan putra kesayangannya itu. "Mungkin pergi dengan Jaehyun?"
"T-tidak, guru piketnya tadi bilang kalau ia dijemput seorang wanita yang mengaku bibinya. Aku pikir pasti kau yang menjemputnya," Taeyong menjelaskan dengan sangat panik. Bagaimana tidak panik kalau saat ibu muda itu menjemput Myunghee, yang dijemput sudah tidak ada di tempat. Guru piket bilang Myunghee sudah dijemput oleh seorang wanita yang secara otomatis diasumsikan oleh Taeyong sebagai Ten.
"Myunghee tidak akan mungkin mau dijemput orang yang tidak dikenalnya, kan?"
"Tentu saja," Taeyong menggigit bibirnya.
"Apa mungkin tetanggamu?" tanya Ten sambil mengernyitkan dahinya.
"Bibi Shim? Tidak mungkin ia menjemput Myunghee karena wanita itu tidak bisa mengendarai sepeda atau mobil," mata Taeyong berkaca-kaca. "Ah, mungkin Johnny yang menjemputnya? Wanita itu teman kerja Johnny mungkin?"
"Kau becanda? Johnny sudah kembali ke Thailand tiga hari yang lalu," raut wajah Ten semakin tidak karuan. Taeyong langsung terbelalak.
"K-kembali ke Thailand?"
"Iya, kembali ke Thailand."
"A-astaga…" mata Taeyong mulai basah. "Ah ya Tuhan, anakku…"
"Apa aku perlu menelepon pol—" belum selesai Ten berkata, tiba-tiba ponsel Taeyong berbunyi. Ten langsung menatap ponsel itu begitu pula Taeyong. Nomor yang tak dikenal masuk. "Eonni, loudspeaker."
"Y-yoboseyo?"
"EOMMA!" terdengar suara anak kecil yang sangat familiar bagi Taeyong menangis meraung-raung di seberang sana. "EOMMA! AKU MAU PULANG!"
"MYUNGHEE!" secara otomatis Taeyong berteriak panik. "Siapapun dirimu tolong lepaskan anakku."
"Semudah itu?" terdengar suara seorang wanita tertawa di seberang sana. "Kau pikir untuk apa aku menculik anakmu kalau pada akhirnya aku harus melepaskannya sia-sia, bodoh?"
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" suara Taeyong tercekat, terlebih ia mendengar dengan sangat jelas raungan Myunghee yang minta pulang.
"Bawakan aku uang sebanyak 50 juta won, maka aku akan bebaskan anakmu. Anakmu ini tampan, pintar, dan sangat menarik. Sebenarnya aku bisa menjual pada orangtua yang tidak bisa memiliki anak dengan harga lebih, hahaha."
"Kau gila?! Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?!"
"EOMMA! KYAAA LEPASKAN AKU INI SAKIT!" setelah Taeyong menjawab suara Myunghee kembali terdengar. Taeyong yang panik akhirnya langsung mengiyakan permintaan itu.
"B-baik, baik. Aku akan bawakan uang itu. Kemana aku harus membawanya?"
"Sebuah bangunan kosong yang akan menjadi mall di daerah Gangnam. Kau tahu tempat itu kan?"
"I-iya."
"Kau punya waktu satu jam dari sekarang," lalu sambungan telepon itu diputus sepihak. Taeyong hampir pingsan. 50 juta won bukan jumlah kecil. Tubuhnya gemetar dan ia langsung merusut ke lantai. Ten yang melihat itu langsung memeluk Taeyong.
"T-Ten… darimana ak—"
"Tenang saja, biar aku yang urus masalah uangnya," Ten ikut gemetar. "Tenang saja, eonni. Aku yang urus. Sekarang ayo kita segera pergi kesana."
Tanpa buang-buang waktu lagi mereka segera pergi ke tempat yang telah disebutkan. Mata Taeyong berair. Sepanjang perjalanan, Ten sibuk dengan ponselnya—untuk mengurus masalah uang yang akan mereka berikan itu serta menghubungi siapapun yang bisa menolong mereka—sementara Taeyong terus terdiam sembari berdoa di dalam hati.
Entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Jalanan menuju Gangnam begitu padat membuat kemacetan. Ingin rasanya Taeyong menyingkir mobil-mobil jahanam yang menghalangi jalannya itu. 20 menit sudah berlalu. Sementara Taeyong hanya punya waktu satu jam.
"Ayolah jalan!"
"Eonni, kita harus mampir ke bank, untuk mengambil uang itu," Ten berkata sangat pelan. Taeyong semakin lemas saja.
"Arrasseo," Taeyong mulai kehilangan kesabarannya. Dengan sadis, ia langsung membelokkan mobilnya ke sebuah toko terdekat dan memarkir di toko itu dengan asal. "Kita tidak punya waktu, ayo."
Ten menelan ludahnya kasar saat Taeyong memutuskan untuk nekat memarkir mobilnya dan berjalan kaki. "Tapi kan masih jauh."
"Kita tidak punya waktu, ayo," Taeyong membalas perkataan Ten dengan gusar. Ia berlari kecil menuju tujuannya sementara Ten mengikuti Taeyong dari belakang. Taeyong benar. Dengan kemacetan seperti ini, sangat tidak mungkin dalam kurun waktu 40 menit mereka bisa sampai ke tempat tujuannya.
Tapi berlari juga tidak mungkin kan?
Tapi hal itu mungkin saja bagi Taeyong. Karena kekhawatirannya yang begitu mendalam, ia mendapatkan kekuatan berlebih sehingga bisa berlari secepat itu. Ten tertinggal lumayan jauh di belakang Taeyong. Ia berpikir Taeyong benar-benar perkasa.
"E-eonni! Tunggu aku!" nafas Ten tersengal. Ia tidak bisa mengejar Taeyong yang sudah jauh. Ia hampir saja jatuh tersungkur karena lelah berlari. Ia berhenti sejenak lalu dilihatnya ada seorang pengendara sepeda. Tanpa basa-basi ia segera menghampiri pengendara sepeda itu dan memberikan uang sebanyak 50 ribu won. "Untukmu, dan sepeda ini untukku."
"A-apa? B-banyak sekali."
"Sudah cepat berikan sepedamu padaku!"
"I-ini," kata pengendara sepeda itu. Ten langsung mengambil sepeda itu kasar dan mengejar Taeyong yang sudah jauh. Namun ia berhasil mengejar Taeyong.
"Eonni!"
"…" Taeyong melirik Ten yang menaiki sepeda. Ia berhenti sejenak.
"Cepat naik," tanpa disuruh dua kali Taeyong langsung menaiki sepeda itu. Ia berdiri di atas pijakan belakang sepeda itu sementara Ten mengayuhnya dengan sangat cepat. Mereka tidak peduli dengan tatapan orang-orang, yang penting mereka segera sampai ke tempat tujuan. Lama kelamaan, kayuhan Ten mulai menjadi pelan.
"Kakimu sakit?"
"I-iya."
"Sini aku saja yang membawa sepedanya," Taeyong berinisiatif untuk meminta sepeda itu pada Ten dan Ten menurut. Setelah Ten merasa aman berada di belakang, Taeyong langsung mengayuh sepeda itu dengan begitu cepat—melebih Ten tadi.
Sumpah eonni ini tenaganya seperti badak, batin Ten. Taeyong sendiri sudah tidak bisa memikirkan apapun selain Myunghee. Begitu sampai, ia langsung melihat arlojinya. Kurang delapan menit. Ia langsung menatap Ten. "Kau masuk duluan, katakan saja pada mereka kau sudah bawa uangnya. Aku akan menyusul setelah ini."
"Ya," Taeyong langsung berlari masuk ke dalam gedung bangunan yang masih setengah jadi itu tanpa menimbulkan keributan kecuali derap langkahnya. Sesekali ia bersembunyi di balik pilar besar yang ada disana. Ia merasa makin dekat saat melihat sebuah siluet yang ada disana. Ia menelan ludah pelan.
"Hehehe," ia tidak asing dengan suara itu. Suara tawa Myunghee. Mata Taeyong melebar dan seketika ia langsung menghampiri siluet itu.
"MYUNGHEE!" pekiknya. Ia sangat terkejut saat melihat Myunghee yang sepertinya malah asyik bermain dengan sosok yang sangat ia kenali. Bahkan ia tidak menemukan adanya sosok wanita yang meneleponnya tadi.
"Eomma!" Myunghee menoleh ke arah Taeyong dengan senyum innocent khasnya, seolah tak terjadi apa-apa. Sosok yang ia kenali? Malah menatapnya dengan tatapan biasa saja.
"…" jantung Taeyong rasanya berdegup berlipat-lipat kali lebih cepat. Emosi mulai berkumpul dalam dirinya. Ia segera mendekati sosok itu dan…
PLAK!
"KAU PIKIR INI LUCU, JOHNNY SEO?!" teriak Taeyong tepat di wajah Johnny setelah menampar pria itu. Johnny meringis. Ini kedua kalinya Taeyong mendaratkan tangannya di pipinya dan kali ini, rasanya benar-benar sakit.
"Aku tidak bilang kalau ini lelucon."
"Kau membuat permainan seolah-olah Myunghee diculik, KAU PIKIR ITU LUCU?! IYA?!" airmata mulai turun ke pipi Taeyong. "Kau pikir itu lucu saat aku begitu panik melakukan apapun agar tidak terjadi sesuatu pada Myunghee?! KAU PIKIR ITU LUCU SAAT AKU BENAR-BENAR KETAKUTAN JIKA AKU KEHILANGAN ANAKKU?!"
"…" Johnny menatap Taeyong dalam diam lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Dengar, aku tidak bilang kalau ini lelucon. Aku tidak menganggapmu lucu. Aku tidak menganggap ini—"
"Apa maumu?!"
"Aku hanya ingin kau datang, dan memaafkanku."
"Dengan cara seperti ini, KAU PIKIR AKU AKAN MEMAAFKANMU?! Tidak Johnny, KAU HAMPIR MEMBUNUHKU KARENA PERMAINAN KONYOLMU INI!"
"KAU PIKIR SEMUDAH ITU MEMBAWAMU KEMARI?! KALAU AKU MEMINTA KAU DATANG TANPA AKU MEMAINKAN DRAMA INI, APA KAU AKAN DATANG?! AKU TAHU KAU TIDAK AKAN DATANG!" Johnny langsung berteriak frustasi. Matanya memerah. Raut wajahnya sangat jelas menampilkan wajah lelahnya. "Aku hanya ingin membuat semuanya menjadi lebih baik. Kau terus menolakku. Kau terus tidak memaafkanku. Lalu apalagi yang bisa aku lakukan selain ini?"
"…" Taeyong tidak menjawab. Ia membiarkan pipinya basah begitu saja. Ia menatap Johnny dalam-dalam. Ia menelan ludahnya kasar dan tanpa mengucapkan apapun ia langsung menghampiri Myunghee dan menariknya kasar—membuat bocah itu meringis.
"Eomma! Sakit!"
"Pulang sekarang."
"Aku tidak mau eomma sebelum eomma memaafkan uncle."
"ORANGTUAMU ITU SIAPA MYUNGHEE?! Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku?!" Taeyong berteriak frustasi. Myunghee langsung menunduk ketakutan. Air mata mulai meleleh dari mata cantik bocah itu.
"E-eomma…"
"Kubilang pulang sekarang," suara Taeyong menjadi sangat parau, membuat anaknya semakin ketakutan. Myunghee langsung berlari ke arah Johnny. Johnny pun dengan inisiatifnya menggendong Myunghee.
"Kau terlalu keras pada Myunghee."
"Myunghee tahu semua ini kan? Sandiwara ini?"
"Ya, maafkan aku."
"…" emosi benar-benar menyelimuti wanita muda itu. Ia langsung merebut Myunghee dari Johnny sementara Myunghee memeluk Johnny sangat erat. "Myunghee dengarkan eomma!"
"Aku tidak mau ikut eomma! Aku ingin bersama uncle saja! Eomma jahat."
"Taeyong, jangan menarik Myunghee atau kau bisa membuatnya terluka."
"Itu bukan urusanmu, Tuan Seo!"
"Eomma membentakku… Eomma kasar pada uncle… Hiks… Aku… Aku benci eomma kalau begini."
"…" Taeyong terdiam. Kepalanya terasa begitu pening. Ia menatap Myunghee yang masih menangis dan Johnny yang memeluk anaknya dengan lembut. Dada Taeyong sesak.
Bahkan anaknya sendiri mengatakan bahwa ia membenci ibunya sendiri?
Tubuh Taeyong gemetar. Ia langsung jatuh terduduk di atas tanah berselimut semen itu. Tatapannya tiba-tiba kosong.
"Y-ya…"
"Hiks… Eomma mengerikan…" Myunghee kembali berkata di tengah tangisnya. "Uncle sudah minta maaf, kenapa eomma tidak mau memaafkan uncle? Bukankah eomma pemaaf?"
Taeyong hanya terdiam. Pandangannya masih kosong. Tiba-tiba ia merasakan sebuah lengan memeluknya.
"Eo-eonni… Maafkan aku yang juga ikut tahu permainan ini," Ten bersuara. Sangat lirih. Ia tahu Taeyong akan sangat marah tapi ia tidak menyangka bahwa keadaannya akan menjadi seperti ini. "Ia hanya ingin minta maaf pad—"
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti. Apa kalian senang mempermainkan kekhawatiran orang sampai seperti ini?" Taeyong tertawa kecil di sela tangisnya. Ten merasa itu sangat mengerikan. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Aku benar-benar min—"
"Kau punya anak kan, Ten? Bagaimana kalau anakmu tiba-tiba saja diculik dan ternyata itu hanya lelucon?" Taeyong menoleh ke arah Ten. Ten langsung menelan ludahnya. Ia tidak menjawab. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Ten," Johnny memanggil adiknya itu lalu mengisyaratkannya untuk menggendong Myunghee. Ten paham, ia langsung menggendong Myunghee dan membawanya keluar. Setelah dirasanya Myunghee dan Ten pergi, Johnny mendekati Taeyong. "Taeyong-ah. Aku benar-benar minta maaf. Untuk semuanya. Termasuk, kejadian hari ini."
"…" Taeyong diam saja. Ia menatap tanah itu.
"Aku benar-benar hanya ingin membawamu kemari. Aku tahu kau pasti akan marah. Tapi aku tidak tahu kalau…" Johnny tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kau tahu?" Taeyong kini menatap Johnny dengan mata sembabnya. "Kalau kau punya anak dan ia diculik, kau pasti akan sepanik itu. Apalagi, Myunghee hanyalah satu-satunya keluargaku yang selalu ada untukku. Yang aku punya."
"A-aku tahu itu," Johnny semakin mendekatkan dirinya pada Taeyong. Perlahan, tangannya terangkat untuk mengusap surai coklat Taeyong. "Aku… benar-benar minta maaf."
GREP.
Taeyong menoleh saat merasakan dua buah tangan memeluknya dari belakang. Ia menoleh.
"Eo-eomma… Maafkan Myunghee," Myunghee menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Taeyong. "Maaf aku kasar pada eomma…"
"…" Taeyong tak berkata apa-apa melainkan langsung memeluk putra kesayangannya itu. Ia mendekap Myunghee erat dan menciumi pipi Myunghee—membuat anak itu menangis makin tersedu sembari memeluk Taeyong erat.
"Maafkan aku eomma…"
"Eomma selalu memaafkan Myunghee," ujar Taeyong. Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu hingga akhirnya tangis Myunghee mereda. Ia mengusap air matanya lalu menatap eomma-nya bergantian dengan Ten yang berdiri di belakang Taeyong.
"Apa eomma juga mau memaafkan Ten ahjumma?" tanya Myunghee ragu. Taeyong mengikuti arah pandangan Myunghee dan melihat dengan jelas Ten dan segudang rasa bersalahnya.
"Eomma maafkan," dan tepat dengan selesainya perkataan Taeyong, Ten langsung menghambur ke arah Taeyong.
"H-hiks maafkan aku eonni…"
"Aku sudah memaafkanmu Ten," Taeyong mengusap kepala Ten dengan lembut. Ten mengusap airmatanya namun ia tidak melepaskan pelukannya dari Taeyong.
"Kalau uncle, apa eomma bisa memaafkan uncle?" Myunghee kembali bertanya. Kini bocah itu berdiri di sebelah Johnny yang masih berjongkok. "Eomma mau memaafkan uncle?"
"…" Taeyong kehilangan kata-kata. Johnny menatap Taeyong lalu ganti menatap Myunghee yang memeluk lehernya. Taeyong menatap Ten.
"T-Ten…"
"Ikuti kata hatimu, eonni. Pikirkan lagi, maksudku lihatlah… Myunghee butuh sosok seorang ayah dan aku rasa… permintaan Myunghee tidak sulit, kan?"
"A-aku tahu," Taeyong sedikit terbata. Ia menatap Myunghee yang tampak begitu nyaman memeluk leher Johnny begitu pula dengan Johnny yang dengan sigap mendekap anak itu. Pikiran Taeyong sesaat melayang.
Saat Myunghee bilang ia nyaman bersama Johnny.
Saat Myunghee berkata ia senang apabila Johnny menjadi ayahnya.
Saat Myunghee dengan mudahnya percaya pada Johnny.
Dan yang terpenting…
Saat hatinya terasa hangat ketika ia bersama Johnny.
Saat hatinya menghangat karena kecupan yang Johnny berikan padanya.
Saat hatinya terasa aman karena Johnny berusaha melindunginya—dan anaknya tentu saja.
Saat ia merasakan kekosongan hatinya mulai pergi saat Johnny datang ke dalam hidupnya.
"Eomma…"
"Eonni…"
"Aku memaafkanmu, John," akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Taeyong. Johnny menatap Taeyong hampir tidak percaya. Tanpa melepaskan dekapannya pada Myunghee, ia menghampiri Taeyong dan merengkuh wanita itu. Taeyong tidak diam, ia juga memeluk Johnny dan anaknya, tentu saja.
"Gomawo, eomma."
"Terima kasih, Lee Taeyong."
Dan itulah yang Taeyong rasakan, hangat.
Ten tersenyum saat melihat ketiga orang itu lalu mendekati sebuah sosok yang sepertinya bersembunyi untuk melihat kejadian itu. "Terima kasih sudah membantu, Winwin-ah."
"Sama-sama, eonni," gadis bernama Winwin itu tersenyum.
-oOo-
"Uncle!" Myunghee tersenyum lebar saat melihat sosok Johnny yang sudah menantinya di depan gerbang sekolahnya. Johnny tersenyum lalu menangkap Myunghee yang menghambur padanya. Sejak kejadian "penculikan" itu, hubungan Taeyong dengan Johnny mulai membaik. Bahkan kini tugas menjemput Myunghee diserahkan pada Johnny. Tidak ada yang mengerti tentang hubungan keduanya, namun itu cukup mencuri perhatian Bibi Shim yang sudah mulai jarang dititipi Myunghee. Myunghee sendiri sering menceritakan soal keduanya pada Bibi Shim.
"Bagaimana hari ini?"
"Sangat baik!" Myunghee tersenyum lebar. Perhatiannya teralih sedikit saat beberapa temannya menyapanya.
"Oke, agenda kita hari ini?"
"Pulang dan makan siang di rumah!" Myunghee bersemangat.
"Tapi ini belum waktunya makan siang, kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar hari ini?"
"Wah ide bagus! Ayo uncle," Myunghee mengangkat tangannya senang. Tanpa membuang waktu, mereka berdua segera pergi untuk berkeliling Seoul.
-oOo-
Taeyong baru saja selesai dengan segala pekerjaan dapurnya saat jam menunjukkan pukul 12.00. Ia mengusap dahinya lalu membenahi kuncir ekor kudanya itu. Tak lupa ia membenahi kaos junkies marunnya lalu menata makanan yang sudah ia siapkan ke atas meja.
"Guk guk!" Taeyong hampir saja meloncat saat seekor anak anjing tiba-tiba menghampirinya. Di leher puppy itu ada sebuah gulungan kertas yang membuat Taeyong penasaran. Taeyong pun berjongkok lalu mengambil gulungan kertas itu.
Kalau kau membaca ini, artinya kau harus berjalan ke ruang tamu.
Taeyong mengernyit namun ia menuruti kertas itu dan berjalan menuju ruang tamu.
"Guk guk!" kali ini ada seekor puppy dengan bulu putih tampak berputar-putar di ruang tamu dengan seikat mawar di punggungnya. Puppy itu menghampiri Taeyong dengan wajahnya yang lucu. Taeyong menghampiri anak anjing itu dan mengambil bunga itu. Ada kertas yang terselip di bunga itu dan Taeyong terkejut bukan main membaca isinya.
Menikahlah denganku.
Ekspresi wajahnya semakin tak terduga saat ia melihat leher puppy itu lalu mengambil gulungan kertas yang ada di leher anjing itu. Matanya melebar.
Ada sebuah cincin yang terselip di sana.
Buka pintunya dan berikan jawabanmu.
Taeyong yakin ia mengunci pintunya dengan sangat rapat. Namun ia mengetuk jidatnya saat menyadari jendela rumahnya memang bisa dimasuki oleh dua puppy manis tadi. Ia segera membuka pintu dan menemukan seorang pria tinggi dengan seorang anak kecil duduk di bahunya memunggunginya.
"Ekhem."
"Wah anjing-anjing itu pintar ya tepat sasaran mengantar suratnya," pria itu membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum lembut pada Taeyong yang wajahnya tidak karuan.
"Ya! Johnny Seo! Apa-apaan ini?!"
"Berikan jawabanmu sekarang."
"Memang kau bertanya padaku?"
"Hmm?"
"Dasar manja," Taeyong cemberut. "Kalau kau ingin jawaban, kenapa tidak bertanya langsung padaku?!"
"Hmmm jadi kau ingin aku bertanya padamu? Baiklah," pria itu menurunkan Myunghee yang cekikikan melihat ibunya salah tingkah. Johnny berlutut di hadapan Taeyong, lalu menggenggam tangan Taeyong. "Apa kau bersedia menemaniku, dalam suka maupun duka, menjadi istriku, sampai maut memisahkan?" Johnny sepertinya sengaja mengeraskan suaranya. Taeyong langsung salah tingkah.
"J-Johnny…"
"Apa kau bersedia jika namamu berubah menjadi Seo Taeyong?"
"A-aku…" Taeyong sepertinya tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya langsung menghambur pada Johnny dengan airmata membasahi pipinya. "Aku bersedia."
"Lihat itu!" Myunghee memeluk kedua puppy itu. "Sebentar lagi aku akan punya ayah! Yeay aku senang sekali!"
"Aku mencintaimu, Taeyongie."
"Akupun mencintaimu, sangat… Seo Youngho."
-oOo-
"Myunghee ayo cepat pakai bajunya!"
"Kipas angina kecilnya?"
"Gaunnya bawa kemari cepat!"
"Ah, nyonya ingin memakaikan apa pada Micha?"
"Ayo cepat!"
Suasana di rumah itu tampak begitu ramai. Beberapa orang sibuk dengan gaun, tuxedo, bunga, serta perabotan lainnya. Myunghee tidak henti-hentinya menatap dirinya di cermin sambil terus bertanya "aku sudah tampan seperti papa kan" berkali-kali. Ten sibuk mendandani Micha dan dirinya tentu saja. Sementara itu, di sebuah ruangan terpisah, beberapa orang sibuk mendandani sang pengantin wanita. Wajah wanita itu tampak begitu berseri hari itu.
"Wah, kau cantik sekali nona," puji sang make-up artist. Taeyong hanya tersenyum malu-malu. Kedua tangannya saling bertautan.
"A-aku gugup sekali…" ujar Taeyong sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Semua orang yang akan menikah pasti gugup nona karena itu akan menjadi hari terbaik mereka. Tapi santai saja, semua akan berjalan dengan baik kok," ujar sang penata rias sambil memberikan sapuan natural di pipi Taeyong.
"A-ah iya…" Taeyong kembali tersenyum. Guratan kegugupan tampak jelas di wajahnya. Jujur, ia sangat ingin segera bertemu dengan Johnny. Tapi ia sendiri seperti tidak siap jika jantungnya meloncat keluar.
"Nah selesai!" seorang hairstylist selesai dengan tatanan rambut Taeyong. Sempurna sudah penampilan Taeyong. Make-up natural, rambut yang dikepang ala pengantin pada umumnya dengan hiasan bunga kecil di setiap kepangannya, serta gaun putih panjang yang menampilkan bahu mulusnya. Taeyong menghembuskan nafasnya gugup.
"Apa Johnny akan senang?"
"Tentu saja ia akan sangat senang," sebuah jawaban datang dari belakang. Semua yang ada di ruangan itu menoleh. Sang sumber suara mengisyaratkan untuk memberikan ruang sebentar pada mereka berdua sehingga para stylist itu segera keluar dari kamar itu.
"J-Jaehyun?"
"Ya," Jaehyun tersenyum. Terbaca sangat jelas dari senyumannya bahwa pria itu kagum akan kecantikan Taeyong. Turut bahagia, namun juga miris.
Miris karena seharusnya ia yang mempersunting wanita itu.
"Uhm," Taeyong menatap Jaehyun. Jas putih itu membalut tubuh Jaehyun dengan sangat apik.
"Kau cantik," puji Jaehyun sembari mendekati Taeyong. "Sangat cantik."
"Terima kasih," Taeyong tersenyum manis, membuat jantung Jaehyun berdetak lebih cepat. Ingin rasanya ia merengkuh wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.
"Seharusnya aku yang menikahimu," Jaehyun tertawa kecil. Taeyong ikut tertawa, merasakan getir yang sama.
"Tapi kau sudah memilih."
"Dan kau sudah menemukan kebahagiaanmu."
"Begitulah," Taeyong tertawa pelan. Netranya menatap Jaehyun yang semakin dekat dengannya.
"Aku turut bahagia," Jaehyun mengusap surai Taeyong.
"Ya, setelah ini kita akan menjadi besan, kan?"
"Ya, dan mari kita ulangi semuanya dari awal," Jaehyun tersenyum tulus. Perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Taeyong dan…
CTAK!
"Jangan nakal, Jung Jaehyun," Taeyong menyentil dahi Jaehyun yang akan menciumnya. Jaehyun tertawa tanpa suara dan mengusap dahinya.
"Aku mencintaimu. Sejak dulu, sekarang, bahkan di masa depan. Biarkan aku tetap menyimpan perasaan ini padamu."
"Aku…" Taeyong menatap Jaehyun dan tersenyum lagi. Ada air mata yang hampir tumpah ke pipinya. "Aku juga sangat mencintaimu sejak dulu, sekarang, dan di masa depan. Hahaha."
Kedua anak adam itu tertawa dalam hari bahagia. Tanpa berkata apapun, Taeyong menarik tengkuk Jaehyun dan mencium bibir itu dengan lembut. Jaehyun tidak tinggal diam. Ia juga membalas ciuman itu.
Taeyong dan Jaehyun tersenyum. Cinta mereka tidak akan pernah mati, namun mereka sudah sepakat untuk membuka kisah yang baru.
Sebuah rasa cinta lain sebagai seorang kakak dan adik.
-oOo-
Johnny selesai dengan dandannya. Jas putih dengan kerah hitam di satu sisinya dan rambutnya yang sudah ditata rapi namun tetap stylish. Ia menghela nafas beberapa kali. Ia memang orang yang suka seenaknya sendiri tapi untuk hari ini, sangat jelas ia tidak bisa melakukannya. Bermain-main di hari pernikahannya? Oh God, bunuh saja ia kalau sampai ia melakukannya.
"Nervous?" Jaehyun langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Johnny. Johnny menatap Jaehyun lalu menggedikkan bahu.
"Ya, menurutmu?"
"Kau kan suka seenaknya sendiri."
"Jangan bodoh," Johnny menanggapi Jaehyun dengan malas. Begitulah, kedua pria itu sama-sama sering beradu pendapat. Meskipun Johnny sudah meminta maaf pada Jaehyun dan Jaehyun menanggapinya dengan santai, namun tetap saja mereka masih sering beradu mulut.
Percayalah, sebenarnya mereka berdua sangat solid. Adu mulut itu hanyalah guarauan mereka semata.
"Taeyong sangat cantik," Jaehyun tertawa kecil. Johnny langsung menoleh. Johnny belum bertemu Taeyong meskipun mereka berada di rumah yang sama saat ini. Ia ingin melihat Taeyong saat di gereja nanti. Biar surprise, katanya.
"Ya aku tahu dia cantik. Dan aku sangat beruntung memilikinya," Johnny mengangkat satu alisnya. Jujur, ada rasa iri di dalam diri Jaehyun.
"Dia cantik dan menawan. Setidaknya aku pernah memilikinya."
"Tapi kini aku yang menang karena aku yang memilikinya," Johnny tertawa dengan sangat menyebalkan. Jaehyun hanya memutar bolamatanya malas. "Hei."
"Hmm?"
"Bawa ini," Johnny melempar sebuah kotak dengan beludru merah pada Jaehyun. Jaehyun menangkapnya. "Berikan padaku saat pemberkatan nanti."
"Baiklah," Jaehyun hanya mengangkat bahunya sementara Johnny berjalan melewati Jaehyun. Johnny tersenyum tipis sementara Jaehyun hanya menyeringai kecil.
-oOo-
"Eomma ayo," Myunghee menggandeng ibunya untuk memasuki gereja itu. Taeyong menghembuskan nafasnya lalu tersenyum untuk membuat dirinya rileks. Perlahan dengan anggun, ia memasuki gedung itu dan berjalan menuju altar.
Seluruh mata langsung memandangnya. Taeyong tetap tersenyum namun genggamannya mengerat. Myunghee hanya tersenyum jahil melihat ibunya yang hari ini tampak sangat cantik baginya.
Johnny menatap Taeyong dari altar lalu menoleh ke arah Jaehyun. Jaehyun hanya mengangkat satu alisnya—bermaksud menggoda Johnny yang tampak seperti anak muda yang baru mengenal cinta. Senyum lebar benar-benar menghiasi wajah Johnny. Pandangan Taeyong pun langsung terarah pada Johnny yang benar-benar tampan hari itu. Semburat pink menghiasi pipi wanita itu.
"Kau sangat cantik," puji Johnny pada Taeyong. Semburat merah muda itu semakin terlihat jelas di pipi Taeyong.
"Uhm," Myunghee berusaha mengingat-ingat kalimat yang harus ia ucapkan pada Johnny. "Aku serahkan eomma pada uncle!" serunya lucu membuat Johnny dan Jaehyun mau tidak mau tertawa. Setelah "menyerahkan" Taeyong pada Johnny, Myunghee berlari kecil menuju barisan paling depan dimana Ten duduk.
"Baik," sang pendeta memulai untuk janji suci pernikahan kedua mempelai itu. "Untuk Saudara Seo Youngho, apakah saudara mengakui dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saudara bersedia dan mau menerima Lee Taeyong sebagai istri saudara satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudara?"
"Ya, saya bersedia."
"Apakah saudara mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudara berdua hidup?"
"Ya, saya bersedia."
"Apakah saudara bersedia menjaga kesucian perkawinan saudara ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?"
"Ya saya bersedia," Johnny melirik Taeyong yang tampak begitu gugup. Taeyong juga melirik Johnny dan mereka tersenyum.
"Untuk Saudari Lee Taeyong," kini sang pendeta beralih pada Taeyong, "apakah saudari mengakui di hadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saudari bersedia dan mau menerima Seo Youngho sebagai suami saudari satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudari?"
"Ya, saya bersedia."
"Apakah saudari bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Tuhan, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudari berdua hidup?"
"Iya, saya bersedia."
"Apakah saudari bersedia menjaga kesucian perkawinan ini sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?"
"Ya, bersedia."
"Seo Youngho, sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ujar sang pendeta lalu membacakan janji suci yang harus diucapkan Johnny dan Taeyong. Mereka berdua pun mengikutinya lalu sama-sama menghembuskan nafas setengah lega.
Tentu saja, baru setengah.
Jaehyun mengeluarkan kotak beludru yang diserahkan Johnny padanya. Ia membuka kotak itu dan tampaklah dua buah cincin pernikahan di dalamnya.
"Saudara Seo Youngho, masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan Lee Taeyong sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur. Dan Saudari Lee Taeyong, masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan Seo Youngho sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur," ujar sang pendeta. Johnny segera mengambil cincin itu dan memasangkannya pada jari manis Taeyong. Namun saat gilirannya, tangan Taeyong yang gemetar hampir saja menjatuhkan cincin yang ia ambil dari kotak. Jaehyun sebenarnya ingin tertawa namun ia menahannya. Sementara Johnny tertawa kecil melihat Taeyong. "Dengan demikian, dalam nama Tuhan saya sebagai Hamba Tuhan menyatakan dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa Seo Youngho dan Lee Taeyong resmi dan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan."
Tepuk tangan menggema di dalam gedung itu. Tanpa ragu, Johnny langsung mencium bibir manis Taeyong. Taeyong yang masih tidak percaya bahwa hari ini datang membalas ciuman itu. Ia benar-benar bahagia saat ini.
Sementara itu Ten langsung menutup mata Myunghee. "Eh! Nggak boleh liat!" kata Ten sementara Myunghee malah menutup mata Micha yang tengah dipangku oleh Ten. Sementara Jaehyun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu.
"Aku bahagia," Taeyong menyeka airmata harunya. "Di hadapan aku bersumpah, aku sangat bahagia bisa bersamamu, Seo Youngho."
"Bahkan kata-kata tidak akan cukup menggambarkan betapa bahagianya aku bisa bersamamu, Seo Taeyong," Johnny menghapus air mata Taeyong dan mereka segera keluar dari bangunan itu.
"Selamat eonni," Ten menghampiri Taeyong lalu memeluk wanita itu. "Selamat, kau sudah resmi menjadi eonni-ku!"
"Terima kasih Ten," Taeyong membalas ucapan Ten. "Aku sangat berterima kasih karena kau sudah banyak membantuku."
"Papa!" Myunghee berteriak lalu menghambur ke arah Johnny yang dengan sigap menggendong bocah yang hampir berusia lima tahun itu. "Aku bahagia! Akhirnya kau menjadi papaku!"
Taeyong tersenyum melihat Johnny dan Myunghee. Johnny merangkul Taeyong mesra. "Papa juga senang bisa menjadi papanya Myunghee."
Dan, semua yang ada disana bersuka cita.
.
.
.
Jika kau ikhlas, maka kau akan temukan kebahagiaanmu—Ten for Taeyong, 2k17.
-FIN-
HOLA!
Akhirnya aku berhasil menyelesaikan FF ini di sela kegiatan saya yang hectic sekali :'D
Sebagai penebusan, saya sengaja bikin part ending ini panjang. Tapi saya nggak nyangka kalo menghabiskan 44 hal MS. Word….
Padahal saya hanya rencanain bikin paling panjang 28 hal…
Mungkin ada yang mikir "Eh? Winwin siapa?" disini Winwin itu karyawannya Johnny di cabang perusahaan Korea, dan yang telepon Taeyong pas Myunghee diculik ya dia :'3
Terima kasih bagi teman-teman yang sudah bersedia membaca FF ini, saya benar-benar senang karena ada yg mau baca FF ini, apalagi komennya positif :'D
BIG THANKS FOR FADHILAH SUCI SAFITRI YANG SUDAH MEMBANTU SAYA HABIS-HABISAN UNTUK PLOT CERITA INI. SAYANG KAMU :*
Last, mind to RnR?
.
P.S. Ada kemungkinan saya akan membuat spin-off cerita ini, kalau saya sempat ^.^
- with love,
Lianatta.
